diambil dari buku "Dalam Dekapan Ukhuwah", Salim A.Fillah
bismillaahirrahmaanirrahiim..
Dia seorang dokter. Myriam Horsten namanya. Bertahun-tahun dia tekuni bidang khusus kesehatan jantung. Dan bertahun-tahun pula dia harus sering berduka menyaksikan pasiennya kehilangan nyawa. Tapi ada yang menarik perhatiannya di situ; daya tahan terhadap serangan jantung ternyata tidak berhubungan langsung dengan pola makan, gaya hidup, dan bahkan tingkat tekanan ketika mereka menghadapi persoalan dalam kehidupan bermasyarakat.
Aneh. Justru orang-orang yang lebih lemah daya tahan jantungnya ini adalah orang-orang yang tinggal menyendiri dengan tenteram, jarang menghadapi persoalan pelik kehidupan, dan mereka menjalani hari-harinya dalam kemapanan, nyaris tanpa gejolak dan tantangan. Ritme kehidupan mereka linear datar.
Rasa penasarannya dia kejar dengan sebuah penelitian. Bersama para koleganya dari Karolinska Institute,
Stockholm, Swedia, dia mengukur dan merekam detak jantung 300 orang wanita sehat selama 24 jam. Demikian dilakukan berulang-ulang secara periodik, selama bertahun-tahun. Penelitian juga dilakukan terhadap teman-teman para wanita ini, sekaligus diusahakan untuk memperoleh gambaran tentang seberapa tinggi tingkat kemarahan dan depresi mereka.
Horsten dan timnya tertarik pada apa yang disebutnya sebagai 'variabilitas detak jantung'. Ini adalah suatu tolak ukur untuk mengetahui perubahan detak jantung yang terjadi selama periode seharian penuh. Hasil penelitian bertahun-tahun itu awalnya mengejutkan; orang yang sehat dan berjantung kuat justru adalah mereka yang memiliki rentang variabilitas detak jantung yang tinggi. Bankan rentang itu sangat lebar. Artinya, detak jantung mereka sangat variatif.
Sangat jelas tergambar, bahwa orang-orang yang aktif dan banyak terhubung dengan sesama manusia dalam sehari mengalami berbagai macam guncangan emosi; mereka tertawa, bersemangat, bergairah, tapi juga marah. Mereka frustasi, berelaksasi, bersedih, tegang, tersenyum, takut, cemas, optimis, tercerahkan. Kesemua hal yang sangat emosional dan dipicu dari hubungan-hubungan dengan sesama ini mempengaruhi berbagai hormon, utamanya adrenalin yang turut serta mengatur ritme kerja jantung.
Bukankah dengan demikian justru jantung bekerja keras? Ya. Dan jika ia bekerja keras, maka jadilah ia mudah sakit?
Justru sebaliknya.
"Jantung dalam kondisi semacam itu," kata Myriam Horsten, "Adalah jantung yang berolahraga. Jantung ini menjadi terlatih dan kuat. Jantung ini adalah jantung yang sangat sehat." Dan sebaliknya, jantung orang yang kehidupannya datar-datar saja, tenteram-tenteram, dan lebih-lebih sangat kurang interaksi sosialnya memiliki variabilitas detak yang sangan kecil. Akibatnya, jantung mereka menjadi jantung yang lemah terhadap suatu serangan.
Jadi bagaimana caranya menguatkan jantung kita? "Gampang," kata Myriam Horsten. "Perbanyaklah hubungan dengan sesama, perkaya getar-getar emosi bersama mereka, lakukan hal-hal yang variatif dalam kehidupan, dan cobalah tantangan-tantangan baru!" Jadi benar, selain meluaskan rizki, silaturahim memanjangkan umur bahkan dalam maknanya yang paling lugas.
---
subhaanalloh sekali, bukan...??
jadi, sekali lagi, adhil sampaikan kepada ikhwahfillah rahimakumullah...kawan-kawan semua...jaazakumullaah ahsanul jazaa...haturnuhun, terima kasiiiihhh...karena telah berkontribusi dalam menyehatkan jantung saya, insyaallaah.. ^_______^
Sabtu, 28 Agustus 2010
Rabu, 18 Agustus 2010
"semoga selalu dalam dekapan ukhuwah, ukh!"
alhamdulillaah..akhirnya..setelah penantian cukup panjang..sampai juga kirimannya..
sebuah buku: Dalam Dekapan Ukhuwah, karya ust. Salim A. Fillah..
"Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya di sini, dalam dekapan ukhuwah"
ya, ukhuwah itu..masyaallah..sampai speechless saya, bagaimana mengungkapkannya..
seperti yang ust. Salim tuliskan di buku: "semoga selalu dalam dekapan ukhuwah, ukh.." aamiin..semoga ya Alloh..
betapa tak ingin terlepas dari lingkaran cahaya ini... ^_^
sebuah buku: Dalam Dekapan Ukhuwah, karya ust. Salim A. Fillah..
"Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya di sini, dalam dekapan ukhuwah"
ya, ukhuwah itu..masyaallah..sampai speechless saya, bagaimana mengungkapkannya..
seperti yang ust. Salim tuliskan di buku: "semoga selalu dalam dekapan ukhuwah, ukh.." aamiin..semoga ya Alloh..
betapa tak ingin terlepas dari lingkaran cahaya ini... ^_^
Senin, 16 Agustus 2010
do'a Pemuda Kahfi
sebagaimana Pemuda Kahfi itu berdo'a: "Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (Al-Kahfi: 10); maka begitu pulalah do'a saya kepadaNya...
ya, dalam sebuah urusan yang menghampiri saya beberapa hari terakhir ini, betapa saya sangat mengharapkan petunjukNya. dan malam ini, membaca terjemah surat Al-Kahfi...subhanalloh...
"...sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri..." (Al-Kahfi: 13-14)
terngiang seorang ustadzah berkata, "urusan ini memang hanya urusan anti denganNya...semuanya tergantung anti, tergantung konektivitas anti denganNya..." ya, sedekat apakah saya denganNya...???
ya Rabb...dengan iman yang barangkali tak seberapa ini, hamba mohonkan petunjukMu dan keteguhan hati dariMu...sebagaimana Kau berikan pada para Pemuda Kahfi itu...
ya, dalam sebuah urusan yang menghampiri saya beberapa hari terakhir ini, betapa saya sangat mengharapkan petunjukNya. dan malam ini, membaca terjemah surat Al-Kahfi...subhanalloh...
"...sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri..." (Al-Kahfi: 13-14)
terngiang seorang ustadzah berkata, "urusan ini memang hanya urusan anti denganNya...semuanya tergantung anti, tergantung konektivitas anti denganNya..." ya, sedekat apakah saya denganNya...???
ya Rabb...dengan iman yang barangkali tak seberapa ini, hamba mohonkan petunjukMu dan keteguhan hati dariMu...sebagaimana Kau berikan pada para Pemuda Kahfi itu...
Minggu, 15 Agustus 2010
ngabuburit ala gue
kalo orang mah ngabuburit ke mesjid (hmm..berapa persen nih yang kayak gini..?), kalo saya ke kandang mencit... ngambil satu tube kecil hormon gonadotropin (PMSG atau hCG) di lab >> pergi ke lab hewan coba >> ambil kandang mencit >> masukin hormon ke spoit >> buka tutup kandang >> nyomot ekor mencit >> handling mencit >> akhirnya, njussssss...sebanyak 0,1 ml hormon masuk secara intraperitoneal ke dalam tubuh mencit (biasanya ada 4 ekor mencit yang diperlakukan seperti demikian dalam satu hari)...
abis itu, tujuh puluh dua jam kemudian, mencit-mencit itu akan sukses di-dislokasi dan dibedah untuk kemudian diambil uterus-oviduk-ovarium nya...
ya Alloh...terimalah amal ibadah Romadhon hamba...aamiin... (-_____-)"
abis itu, tujuh puluh dua jam kemudian, mencit-mencit itu akan sukses di-dislokasi dan dibedah untuk kemudian diambil uterus-oviduk-ovarium nya...
ya Alloh...terimalah amal ibadah Romadhon hamba...aamiin... (-_____-)"
Sabtu, 14 Agustus 2010
lir ilir
bismillaahirrahmaanirrahiim..
masyaallah..saya baru tahu lho..
[tulisan ini diambil dari tulisan seorang sahabat]
--
Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Bocah angon-bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro...
Dodot iro-dodot iro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo
Ayo bangun (dari tidur), tanam-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau terlihat bagaikan pengantin baru
Wahai penggembala, ambillah buah blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang telah koyak sisihkanlah
Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung sedang terang bulan, mumpung sedang banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
---
Saudaraku,
Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Ayo bangun (dari tidur), tanam-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau terlihat bagaikan pengantin baru
Hijau adalah warna perlambang agama Islam yang saat itu kemunculannya bagaikan pengantin baru dan sangat menarik hati. Hijau juga berarti pertumbuhan dan kemudaan.
Bocah angon-bocah angon
Wahai penggembala
Sya'ir ini ditujukan kepada kita, manusia. Penggambaran di sana diwakili oleh bocah angon (penggembala) . Mengapa penggembala? Mereka menggembalakan binatang ternak (yang umumnya bukan milik sendiri, kepunyaan majikannya) dari pagi sampai sore. Ya, waktu yang hanya sebentar tak sampai larut malam. Mereka menjaga benar milik majikannya, jangan sampai hilang atau berkurang.
Begitu pula kita, hidup di dunia ini hanya sebentar dan ibarat mampir bersinggah untuk sebuah perjalanan panjang ke alam akhirat sebagaimana Rasulullah telah sabdakan: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” [HR. Bukhari, shahih]. Yang kita lakukan di dunia ini hanyalah mencari bekal untuk hidup di masa yang kekal nanti. Laksana penggembala, alangkah baiknya bila kita menjaga hak-hak pemilik kita (yakni Alloh Subhaanahu wa ta'ala) dengan sebaik-baiknya. Bila mereka (penggembala) dengan matanya mengawasi tindak tanduk binatang gembalaan agar tidak hilang, tidak makan rumput yang bukan hak miliknya; demikian juga sebaiknya kita. Hendaknya kita berhati-hati dari segala yang dilarang Alloh sehingga tak terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan.
“Sesungguhnya perkara yang halal telah jelas, dan perkara yang haram pun telah jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang meragukan, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari perkara yang syubhat, maka ia telah menjaga keselamatan agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti ia telah terjerumus dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat daerah terlarang sehingga hewan-hewan itu nyaris merumput di dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja memilliki daerah terlarang. Ketahuilah, bahwa daerah terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. [HR. Bukhari dan Muslim, shahih]
penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
ambillah buah blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah
Manusia diminta mengambil buah blimbing. Bila kita perhatikan, buah blimbing umumnya memiliki sisi buah sebanyak lima. Lima menandakan rukun Islam (syahadat, sholat, zakat, shaum (puasa), dan haji). Meskipun licin, terasa berat untuk melaksanakan rukun Islam tersebut tetaplah jalani dengan keikhlasan dan kesungguhan.
kanggo mbasuh dodot iro
untuk mencuci pakaian
Air perasan blimbing jaman dahulu biasa digunakan ibu-ibu untuk mencuci pakaian yang kotornya berlebihan. Dalam ilmu kimia, kita mengetahui bahwa blimbing mengandung asam. Asam adalah pelarut yang baik untuk menghilangkan kotoran (subhaanaLlah, sebuah kearifan lokal yang cerdas).
Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa. Bagi masyarakat Jawa, agama ibarat pakaian atau perhiasan.
Bila direnungkan lebih dalam, iman adalah tubuh manusia sendiri. Tubuh akan terlindungi manakala ada pakaian yang menyelimuti. Pakaian iman yang dimaksud adalah ketakwaan. “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang baik” [QS.An Nisa' :26]. Ketakwaan lah yang menghantarkan manusia ikhlas mengerjakan yang diperintah Alloh sekaligus berusaha meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh-Nya. Selain itu, kita juga perlu berhias diri dengan akhlak dan kepribadian yang bagus (Islami) sehingga sempurnalah tubuh ini.
Dodot iro-dodot iro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Pakaian-pakaian yang telah koyak sisihkanlah
Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
Bila akhlak kita belum sempurna, sholat kita masih kurang khusyu', maka cukupkanlah dengan melakukan hal-hal yang sunah. Kita perlu menjahit (memperbaiki) akhlak, mendirikan sholat sunnah untuk menambal kekhusyuan sholat fardhu. Dalam ber-Islam, hendaknya kita menyeluruh. Jika ada yang belum dilaksanakan, usahakan untuk ditunaikan. Menambal (menjahit) dengan amal-amal shalih (shodaqoh, infak), maupun membenahi diri dengan ilmu-ilmu dinul Islam lurus.
Semua yang diuraikan di atas, merupakan bekal untuk sebo (menghadap) saat kematian menjemput (sore).
Sungguh, tiadalah yang kita siapkan, pertaruhkan, dan perjuangkan di dunia ini selain menjadi bekal untuk menghadap Ilahi Robbi. Bila kita kembali dengan bekal sedikit, niscaya kerugian yang akan didapat. Lalu, dipenghujung tulisan ini mari renungkan keberadaan kita, diri kita, dan amal-amal kita. Sudah cukupkah sebagai bekal menghadap-Nya nanti? Sudah siapkah dengan amal yang terkumpul saat ini?
Bila belum, ayo bersegera menunaikan perintah Alloh dan hiasi dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Persempitlah jalan syetan mengganggu diri kita dengan berbuat sekehendak yang menciptakan manusia, yakni Alloh. Jangan sampai, diri kita menyesal dengan sedikitnya ibadah dan amal kebaikan seraya berkata: “Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.” [Qs. Al Fajr: 24]
wallaahua'lam bishshawwab
masyaallah..saya baru tahu lho..
[tulisan ini diambil dari tulisan seorang sahabat]
--
Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Bocah angon-bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro...
Dodot iro-dodot iro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo
Ayo bangun (dari tidur), tanam-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau terlihat bagaikan pengantin baru
Wahai penggembala, ambillah buah blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang telah koyak sisihkanlah
Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung sedang terang bulan, mumpung sedang banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
---
Saudaraku,
Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Ayo bangun (dari tidur), tanam-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau terlihat bagaikan pengantin baru
Hijau adalah warna perlambang agama Islam yang saat itu kemunculannya bagaikan pengantin baru dan sangat menarik hati. Hijau juga berarti pertumbuhan dan kemudaan.
Bocah angon-bocah angon
Wahai penggembala
Sya'ir ini ditujukan kepada kita, manusia. Penggambaran di sana diwakili oleh bocah angon (penggembala) . Mengapa penggembala? Mereka menggembalakan binatang ternak (yang umumnya bukan milik sendiri, kepunyaan majikannya) dari pagi sampai sore. Ya, waktu yang hanya sebentar tak sampai larut malam. Mereka menjaga benar milik majikannya, jangan sampai hilang atau berkurang.
Begitu pula kita, hidup di dunia ini hanya sebentar dan ibarat mampir bersinggah untuk sebuah perjalanan panjang ke alam akhirat sebagaimana Rasulullah telah sabdakan: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” [HR. Bukhari, shahih]. Yang kita lakukan di dunia ini hanyalah mencari bekal untuk hidup di masa yang kekal nanti. Laksana penggembala, alangkah baiknya bila kita menjaga hak-hak pemilik kita (yakni Alloh Subhaanahu wa ta'ala) dengan sebaik-baiknya. Bila mereka (penggembala) dengan matanya mengawasi tindak tanduk binatang gembalaan agar tidak hilang, tidak makan rumput yang bukan hak miliknya; demikian juga sebaiknya kita. Hendaknya kita berhati-hati dari segala yang dilarang Alloh sehingga tak terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan.
“Sesungguhnya perkara yang halal telah jelas, dan perkara yang haram pun telah jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang meragukan, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari perkara yang syubhat, maka ia telah menjaga keselamatan agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti ia telah terjerumus dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat daerah terlarang sehingga hewan-hewan itu nyaris merumput di dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja memilliki daerah terlarang. Ketahuilah, bahwa daerah terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. [HR. Bukhari dan Muslim, shahih]
penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
ambillah buah blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah
Manusia diminta mengambil buah blimbing. Bila kita perhatikan, buah blimbing umumnya memiliki sisi buah sebanyak lima. Lima menandakan rukun Islam (syahadat, sholat, zakat, shaum (puasa), dan haji). Meskipun licin, terasa berat untuk melaksanakan rukun Islam tersebut tetaplah jalani dengan keikhlasan dan kesungguhan.
kanggo mbasuh dodot iro
untuk mencuci pakaian
Air perasan blimbing jaman dahulu biasa digunakan ibu-ibu untuk mencuci pakaian yang kotornya berlebihan. Dalam ilmu kimia, kita mengetahui bahwa blimbing mengandung asam. Asam adalah pelarut yang baik untuk menghilangkan kotoran (subhaanaLlah, sebuah kearifan lokal yang cerdas).
Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa. Bagi masyarakat Jawa, agama ibarat pakaian atau perhiasan.
Bila direnungkan lebih dalam, iman adalah tubuh manusia sendiri. Tubuh akan terlindungi manakala ada pakaian yang menyelimuti. Pakaian iman yang dimaksud adalah ketakwaan. “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang baik” [QS.An Nisa' :26]. Ketakwaan lah yang menghantarkan manusia ikhlas mengerjakan yang diperintah Alloh sekaligus berusaha meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh-Nya. Selain itu, kita juga perlu berhias diri dengan akhlak dan kepribadian yang bagus (Islami) sehingga sempurnalah tubuh ini.
Dodot iro-dodot iro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Pakaian-pakaian yang telah koyak sisihkanlah
Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
Bila akhlak kita belum sempurna, sholat kita masih kurang khusyu', maka cukupkanlah dengan melakukan hal-hal yang sunah. Kita perlu menjahit (memperbaiki) akhlak, mendirikan sholat sunnah untuk menambal kekhusyuan sholat fardhu. Dalam ber-Islam, hendaknya kita menyeluruh. Jika ada yang belum dilaksanakan, usahakan untuk ditunaikan. Menambal (menjahit) dengan amal-amal shalih (shodaqoh, infak), maupun membenahi diri dengan ilmu-ilmu dinul Islam lurus.
Semua yang diuraikan di atas, merupakan bekal untuk sebo (menghadap) saat kematian menjemput (sore).
Sungguh, tiadalah yang kita siapkan, pertaruhkan, dan perjuangkan di dunia ini selain menjadi bekal untuk menghadap Ilahi Robbi. Bila kita kembali dengan bekal sedikit, niscaya kerugian yang akan didapat. Lalu, dipenghujung tulisan ini mari renungkan keberadaan kita, diri kita, dan amal-amal kita. Sudah cukupkah sebagai bekal menghadap-Nya nanti? Sudah siapkah dengan amal yang terkumpul saat ini?
Bila belum, ayo bersegera menunaikan perintah Alloh dan hiasi dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Persempitlah jalan syetan mengganggu diri kita dengan berbuat sekehendak yang menciptakan manusia, yakni Alloh. Jangan sampai, diri kita menyesal dengan sedikitnya ibadah dan amal kebaikan seraya berkata: “Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.” [Qs. Al Fajr: 24]
wallaahua'lam bishshawwab
episode mimpi-2
Agustus 2006. Institut Pertanian Bogor. Di sanalah episode kembali bermula. Babak lain dalam pentas kehidupanku. Belum juga kukenal jauh amal jama’i, qiyadah dan jundi, apalagi intima’ jama’i. Sebelum para perantara pemberi amanah itu datang mengampiri, kutemukan kembali dunia itu.
Bimbingan Remaja dan Anak-Anak LDK DKM Al-Hurriyyah. Ke sanalah langkah kaki berjalan. Wawancara. Diterima magang. Menyepakati surat perjanjian. Ahad tak pulang? Bismillah…tawakal saja.
Rabbii…anak-anak ini sangat banyak dibanding waktu itu…!
Biru, bi’ah, outbond, rihlah, dauroh, pesantren kilat, farming, fun cooking, Islamic Youth Camp…
Setahun…dua tahun…tiga tahun…
Apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Aku bukan pembina yang rajin. Ahadku tidak selalu berada di sana. Surat peringatan pernah terlayangkan untukku. Adik-adik kerap bertanya padaku, “Ke mana aja, Mbak…? Koq baru keliatan lagi…?” Ingin menangis rasanya.
“Beruntunglah teman-teman karena masih memiliki pilihan. Banyak orang tidak tahu apa yang harus dikerjakannya, sementara teman-teman pusing memilih agenda-agenda amal sholih yang harus dihadiri. Dan kalian adalah pejuang tangguh! Mengorbankan segala sesuatunya untuk berada di sini setiap pekan…”
Ah…aku tidak setangguh itu, Kak…Bagaimana aku harus memilih datang pada agenda tarbawi dan datang ke aula Al-Hurriyyah, yang keduanya sama-sama hanya sepekan sekali…Bagaimana menahan diri untuk tidak mengikuti seminar-seminar menggiurkan dengan segala fasilitasnya…Bagaimana mengomunikasikan pada ibunda saat rindu memuncak namun hanya dapat tersalurkan lewat suara pada alat komunikasi saja…
Tapi inilah pilihan. Secara sadar. Ada konsekuensi. Ada resiko. Dan tarbiyah dari-Nya mengalir deras dalam setiap pilihan. Hulu ke hilir...
Bimbingan Remaja dan Anak-Anak LDK DKM Al-Hurriyyah. Ke sanalah langkah kaki berjalan. Wawancara. Diterima magang. Menyepakati surat perjanjian. Ahad tak pulang? Bismillah…tawakal saja.
Rabbii…anak-anak ini sangat banyak dibanding waktu itu…!
Biru, bi’ah, outbond, rihlah, dauroh, pesantren kilat, farming, fun cooking, Islamic Youth Camp…
Setahun…dua tahun…tiga tahun…
Apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Aku bukan pembina yang rajin. Ahadku tidak selalu berada di sana. Surat peringatan pernah terlayangkan untukku. Adik-adik kerap bertanya padaku, “Ke mana aja, Mbak…? Koq baru keliatan lagi…?” Ingin menangis rasanya.
“Beruntunglah teman-teman karena masih memiliki pilihan. Banyak orang tidak tahu apa yang harus dikerjakannya, sementara teman-teman pusing memilih agenda-agenda amal sholih yang harus dihadiri. Dan kalian adalah pejuang tangguh! Mengorbankan segala sesuatunya untuk berada di sini setiap pekan…”
Ah…aku tidak setangguh itu, Kak…Bagaimana aku harus memilih datang pada agenda tarbawi dan datang ke aula Al-Hurriyyah, yang keduanya sama-sama hanya sepekan sekali…Bagaimana menahan diri untuk tidak mengikuti seminar-seminar menggiurkan dengan segala fasilitasnya…Bagaimana mengomunikasikan pada ibunda saat rindu memuncak namun hanya dapat tersalurkan lewat suara pada alat komunikasi saja…
Tapi inilah pilihan. Secara sadar. Ada konsekuensi. Ada resiko. Dan tarbiyah dari-Nya mengalir deras dalam setiap pilihan. Hulu ke hilir...
episode mimpi-1
Dari mana harus memulai mimpi itu…meletakkan batu pertama di pundak…akankah menjadi bagian dari perjuangan yang sarat akan pengorbanan itu… -al akh-
Bermula dari kepindahan seorang tetangga depan rumah. Penawaran akan sebuah tugas menggantikan perannya sebagai guru TPA. Tak butuh menit-menit panjang untuk mengangguk setuju. Kalimat “Ya, saya bersedia.” terlontar segera. Dan jadilah hari-hari senja dipenuhi oleh suara, tawa, tangis, tingkah, dan polah bocah-bocah berbagai usia.
Tak banyak ilmu yang dimiliki saat itu. Hanya bermodal a-ba-ta-tsa serta dasar-dasar tajwid semata. Jangankan psikologi anak, microteaching saja buta. Tapi apa mau dikata. Rasakan sendiri cinta yang telah disemai! Dari tangis dan tawa sang anak hingga tangis dan tawa sang kakak memenuhi setiap sudut petak rumah sederhana selama kurang lebih 3 kali lamanya bumi berevolusi.
Tak lupa tugasku setiap hari
Sholat yang wajib ada lima waktu
Shubuh, zhuhur, ashar, maghrib dan isya
Tak mungkin aku lupa slama-lamanya
Aku anak muslim anak didik yang sholeh
Ikhlas menerima didikan bertuhan
Budi luhur, sopan, anak didik yang sholeh
Bakti pada Allah dan ibu bapakku…
Apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Adakah bakti pada Allah, Rasul, dan ibu bapak terpatri di hati mereka? Al-Qur’an sempurna sebagai panduan mereka? Berbuat baik pada saudara dan teman-teman menjadi keseharian mereka?
Ra’sun kepala, sya’run rambut, jabhatun dahi, hajibun alis, ‘ainun mata…
Lembar-lembar ribuan yang orang tua mereka keluarkan terganti sudah dengan buku-buku cerita dan kisah, film berwarna, serta buku dan pena. Ah, apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Kosakata arab sederhana pun belum tuntas tersampaikan. Shirah nabi, shahabat, thabi’in, dan thabi’at belum selesai dikisahkan.
“Teteeehhhh…!!!”
Malam itu mereka berlari menghampiri siswi SMA yang masih berjalan di ujung gang, masih lengkap dengan seragam putih-abu nya dan ransel di gendongannya. Tangan-tangan kecil itu berebut mencium tangannya. Mereka tak pernah tahu, sejumput demi sejumput harapan tertanam di hati gadis itu. Harapan akan sebuah generasi yang mencintai-Nya dan Ia mencintai mereka.
Apa yang bisa aku lakukan, ketika episode berlanjut dan drama kehidupan selama tiga tahun itu harus ditinggalkan.
“Teteh ke mana, Bu?”
“Teteh lagi sekolah…di Bogor.”
“Jauh amat sekolahnya, Bu…”
“Iya…”
Senja itu masih ramai. Dalam kelelahannya, Ibu menggantikan posisiku.
“Diah pinter…ngajinya udah mau Al-Qur’an…Indri juga makin lancar baca Al-Qur’an nya. Kalo Jaya masih suka nggak mau denger kalo Ibu bilangin…”
Bagaimana bicaranya, Bu? Akhlaknya? Shalatnya?
“Jaya kabur…habis dimarahin di rumahnya setelah ketauan nonton film gak bener. Katanya sih ke tempat ibunya di Pelabuhan Ratu. Tapi sampe sekarang belum ketemu…”
Rabbana…apa dayaku akan hal itu…? Anak itu memang berbeda sejak semula. Usianya melebihi anak lainnya. Akhlaknya membuat pusing kepala. Khas anak yang miskin kasih sayang orang tua. Tinggal bersama saudara, sementara ibu pergi bersama adik-adiknya. Ayah, meninggal dunia.
Suatu hari Ibu berkata padanya, “Jay, di surga nanti, Rasulullah dan anak yatim jaraknya seperti telunjuk dan jari tengah ini…Jaya harus jadi anak sholeh kalau mau seperti itu…” Dan anak itu mengangguk. Tangan ini terulur membelai kepalanya.
Rabbana…kutinggalkan ia sebelum kokoh jiwanya…
Ampuni hamba, Rabb…
Bogor, 4 September 2009/ 14 Ramadhan 1430 H
Bermula dari kepindahan seorang tetangga depan rumah. Penawaran akan sebuah tugas menggantikan perannya sebagai guru TPA. Tak butuh menit-menit panjang untuk mengangguk setuju. Kalimat “Ya, saya bersedia.” terlontar segera. Dan jadilah hari-hari senja dipenuhi oleh suara, tawa, tangis, tingkah, dan polah bocah-bocah berbagai usia.
Tak banyak ilmu yang dimiliki saat itu. Hanya bermodal a-ba-ta-tsa serta dasar-dasar tajwid semata. Jangankan psikologi anak, microteaching saja buta. Tapi apa mau dikata. Rasakan sendiri cinta yang telah disemai! Dari tangis dan tawa sang anak hingga tangis dan tawa sang kakak memenuhi setiap sudut petak rumah sederhana selama kurang lebih 3 kali lamanya bumi berevolusi.
Tak lupa tugasku setiap hari
Sholat yang wajib ada lima waktu
Shubuh, zhuhur, ashar, maghrib dan isya
Tak mungkin aku lupa slama-lamanya
Aku anak muslim anak didik yang sholeh
Ikhlas menerima didikan bertuhan
Budi luhur, sopan, anak didik yang sholeh
Bakti pada Allah dan ibu bapakku…
Apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Adakah bakti pada Allah, Rasul, dan ibu bapak terpatri di hati mereka? Al-Qur’an sempurna sebagai panduan mereka? Berbuat baik pada saudara dan teman-teman menjadi keseharian mereka?
Ra’sun kepala, sya’run rambut, jabhatun dahi, hajibun alis, ‘ainun mata…
Lembar-lembar ribuan yang orang tua mereka keluarkan terganti sudah dengan buku-buku cerita dan kisah, film berwarna, serta buku dan pena. Ah, apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Kosakata arab sederhana pun belum tuntas tersampaikan. Shirah nabi, shahabat, thabi’in, dan thabi’at belum selesai dikisahkan.
“Teteeehhhh…!!!”
Malam itu mereka berlari menghampiri siswi SMA yang masih berjalan di ujung gang, masih lengkap dengan seragam putih-abu nya dan ransel di gendongannya. Tangan-tangan kecil itu berebut mencium tangannya. Mereka tak pernah tahu, sejumput demi sejumput harapan tertanam di hati gadis itu. Harapan akan sebuah generasi yang mencintai-Nya dan Ia mencintai mereka.
Apa yang bisa aku lakukan, ketika episode berlanjut dan drama kehidupan selama tiga tahun itu harus ditinggalkan.
“Teteh ke mana, Bu?”
“Teteh lagi sekolah…di Bogor.”
“Jauh amat sekolahnya, Bu…”
“Iya…”
Senja itu masih ramai. Dalam kelelahannya, Ibu menggantikan posisiku.
“Diah pinter…ngajinya udah mau Al-Qur’an…Indri juga makin lancar baca Al-Qur’an nya. Kalo Jaya masih suka nggak mau denger kalo Ibu bilangin…”
Bagaimana bicaranya, Bu? Akhlaknya? Shalatnya?
“Jaya kabur…habis dimarahin di rumahnya setelah ketauan nonton film gak bener. Katanya sih ke tempat ibunya di Pelabuhan Ratu. Tapi sampe sekarang belum ketemu…”
Rabbana…apa dayaku akan hal itu…? Anak itu memang berbeda sejak semula. Usianya melebihi anak lainnya. Akhlaknya membuat pusing kepala. Khas anak yang miskin kasih sayang orang tua. Tinggal bersama saudara, sementara ibu pergi bersama adik-adiknya. Ayah, meninggal dunia.
Suatu hari Ibu berkata padanya, “Jay, di surga nanti, Rasulullah dan anak yatim jaraknya seperti telunjuk dan jari tengah ini…Jaya harus jadi anak sholeh kalau mau seperti itu…” Dan anak itu mengangguk. Tangan ini terulur membelai kepalanya.
Rabbana…kutinggalkan ia sebelum kokoh jiwanya…
Ampuni hamba, Rabb…
Bogor, 4 September 2009/ 14 Ramadhan 1430 H
pada ranting yang mengering
sehelai daun tersisa dari ranting yang mengering
melekat kuat walau lainnya terserak
melambai perlahan karena angin
meneteskan bening air karena hujan
saat musim berlalu, ia pun tetap begitu
sedikit layu dan menguning
tapi tetap di sana
bukan maksud ia untuk bertahan
sesungguhnya ia rindu pada kawan
yang lebih dulu meninggalkan
namun bukan pula ia menyesal
hanya saja, keikhlasan kerap kali diuji
pada titik kelemahan diri
satu hal yang ia paham
Dialah satu-satunya Pemegang kekuasaan
maka tetaplah ia di sana
hingga keputusanNya datang
-bogor, 20 februari 2010-
melekat kuat walau lainnya terserak
melambai perlahan karena angin
meneteskan bening air karena hujan
saat musim berlalu, ia pun tetap begitu
sedikit layu dan menguning
tapi tetap di sana
bukan maksud ia untuk bertahan
sesungguhnya ia rindu pada kawan
yang lebih dulu meninggalkan
namun bukan pula ia menyesal
hanya saja, keikhlasan kerap kali diuji
pada titik kelemahan diri
satu hal yang ia paham
Dialah satu-satunya Pemegang kekuasaan
maka tetaplah ia di sana
hingga keputusanNya datang
-bogor, 20 februari 2010-
indah
beginilah jama’ah
ia mengajarkan arkanul bai’ah
ia mencipta ukhuwah
ia menjaga ruhiyah
ia menebarkan hamasah
inilah da’wah
maka ketika kau lelah
jangan buat semakin parah
bangkitlah!
jangan jauhi ikhwah
jangan mundur walau selangkah
memang bukan hal yang mudah
tapi ingatlah
di sana ada pahala melimpah
di sana ada surga yang luar biasa indah
semoga Allah menghujani kita dengan barokah
-bogor, 20 februari 2010-
ia mengajarkan arkanul bai’ah
ia mencipta ukhuwah
ia menjaga ruhiyah
ia menebarkan hamasah
inilah da’wah
maka ketika kau lelah
jangan buat semakin parah
bangkitlah!
jangan jauhi ikhwah
jangan mundur walau selangkah
memang bukan hal yang mudah
tapi ingatlah
di sana ada pahala melimpah
di sana ada surga yang luar biasa indah
semoga Allah menghujani kita dengan barokah
-bogor, 20 februari 2010-
labing..oh labing..
"misteri wanita penunggu lab"
ahh..yaa..beberapa hari yang lalu sepupu tercinta saya mengajukan sebuah "judul film" yang katanya akan ia produksi.. (-____-)" terinspirasi oleh saya katanya..
hmm..sebenarnya, ini adalah aktivitas yang kerap saya lakukan di penghujung studi S1 saya..NGE-LAB..atau, seperti istilah yang saya dapatkan dari seorang sahabat: LABING..
subhanalloh..ternyata, udah lama juga ya penelitiannya belom selesai-selesai.. ("_ _)
bukan..saya bukannya mengeluh.. saya begitu menikmatinya (insyaalloh) koq.. banyak hal yang saya dapatkan dari aktivitas penelitian tugas akhir ini.. belajar baaaaannnnyyyaaaaaakkkkk hal.. belajar hidup..
apa sajakah itu..???
oke, nantikan kisah penuh hikmahnya di posting-an selanjutnya.. ^^v
ahh..yaa..beberapa hari yang lalu sepupu tercinta saya mengajukan sebuah "judul film" yang katanya akan ia produksi.. (-____-)" terinspirasi oleh saya katanya..
hmm..sebenarnya, ini adalah aktivitas yang kerap saya lakukan di penghujung studi S1 saya..NGE-LAB..atau, seperti istilah yang saya dapatkan dari seorang sahabat: LABING..
subhanalloh..ternyata, udah lama juga ya penelitiannya belom selesai-selesai.. ("_ _)
bukan..saya bukannya mengeluh.. saya begitu menikmatinya (insyaalloh) koq.. banyak hal yang saya dapatkan dari aktivitas penelitian tugas akhir ini.. belajar baaaaannnnyyyaaaaaakkkkk hal.. belajar hidup..
apa sajakah itu..???
oke, nantikan kisah penuh hikmahnya di posting-an selanjutnya.. ^^v
save our masjid
masjid Al-Hurriyyah kampus IPB Darmaga
bismillaahirrahmaanirrahiim
---
lihatlah sebuah masjid jauh di tengah kampus
makin lama makin jelas bentuk kubahnya
itulah masjid Al-Hurriyyah tercinta
menaranya menjulang jauh ke udara...!
---
bait di atas merupakan salah satu lagu andalan yang kerap dinyanyikan oleh adik-adik Birena Al-Hurriyyah. nadanya seperti lagu 'kapal api' yang dikenal penulis sejak taman kanak-kanak.
kalau yang sering dinyanyiin aktivisnya,seperti ini:
---
bangkitlah engkau para mujahid
marilah kita makmurkan masjid
raihlah ridha Illahi
di masjid Al-Hurriyyah
ayolah para aktivis masjid
lapangkan hati kita yang sempit
di masjid Al-Hurriyyah
masjid kita tercinta
Al-Hurriyyah..Al-Hurriyyah..
kau berdiri kokoh di sana
Al-hurriyyah..Al-Hurriyyah..
raih kemuliaan hakiki
Al-hurriyyah..Al-Hurriyyah..
kau berdiri kokoh di sana
Al-hurriyyah..Al-Hurriyyah..
bangun, bangkit, bergerak bersama Islam
gapai kemenangan
---
kita ketahui bersama, aktivitas yang Rasulullah lakukan pertama kali ketika langkahnya berpijak pertama kali di bumi Madinah. membangun masjid. membangun masjid sebagai lembaga sosial dengan fungsi sebagai wadah pembinaan. karena beliau tahu betul, bahwa masjid merupakan sarana mengokohkan da'wah. mengokohkan ummat. membangun masjid adalah kaidah membangun masyarakat dan negara. landasan utama.
maka terjadilah transformasi ilmu di sana. terdengarlah diskusi-diskusi dalam majlis penuh barakah. terlaksanalah negosiasi-negosiasi yang menentukan kemenangan da'wah. pertemuan-pertemuan antar kabilah. di masjid.
jika ingin mengukur kesuksesan da'wah, lihatlah..berapa banyak orang yang shalat berjama'ah di masjid. berapa banyak masjid yang tak hanya megah berdiri, tetapi juga hidup aktivitas di dalamnya. teroptimalkan fungsinya.
dan akhirnya, tanyakanlah pada diri, yang mengaku seorang da'i. seberapa terpaut kah hati kita kepada masjid. karena di manapun aktivitas da'wah kita dikerjakan, apapun titel yang diberikan..kita adalah 'anak masjid'..dibangun dan dikokohkan dari masjid..
..save our masjid..keep our heart and our soul..
wallaahua'lam bishshawwab
tere naina
sejak seorang sahabat mengirimkan lagu ini, saya terus menyenandungkannya..(haduh..). dan karena saya kagak ngarti nih, akhirnya saya sibuk googling untuk mendapatkan translate-nya.. fiuuhh.. 'kan bahaya kalo nyanyi nggak tau artinya.. (padahal yang dinyanyiin cuma judulnya doang..heuheu..)
TERE NAINA
Music: Shankar Ehsaan Loy
Singer: Shafqat Amanat Ali
Lyrics: Niranjan Iyengar
Tere naina, tere naina, tere naina re – 4
Your eyes…..
Nainon ki chaal hai, makhmali haal hai
Eyes have a velvet touch
Neechi palkon se badle samaa
From beneath lashes they can change the world
Naina sharamaye jo, ya ke bhar aaye jo
When eyes are shy or fill with tears
Tham ke ruk jaaye dono jahaan
The worlds come to a standstill
Rab ki nemat hai teri nigaahein
Eyes are God’s gift to you
Jisme basti hai uski duayein
Wherein reside His blessings
Aise naino ki baaton mein koi kyun na aaye
Who can resist the power of eyes such as yours
Ho Tere naina, tere naina, tere naina re – 2
Your eyes….
Ho Aise naino ki baaton mein koi kyun na aaye
Who can resist the power of eyes such as yours
Ho Tere naina, tere naina, tere naina re – 2 times
Your eyes……
Aahat khwabon ki, chahat dhadkan ki
A treasure of dreams, desires of the heart
Unke kadmon ke hai ye nishaan
These are what eyes hold in their depths
Chahe kuch na boloon, chahe raaz na kholoon
I don’t have to speak nor reveal any secret
Ye samajte hai meri zubaan
They understand every unspoken word
Mujhpe barsi jo teri nigaahein
When your eyes rained down on me
Meri saanson ne badli adaayein
My breath changed its beat
Hoo Aise naino ki baaton mein koi kyun na aaye
Who can resist the power of eyes such as yours
Ho Tere naina, tere naina, tere naina re – 2
Your eyes….
Aise naino ki baaton mein koi kyun na aaye
Who can resist the power of eyes such as yours
Ho Tere naina, tere naina, tere naina re – 2
Your eyes…..
Tere naina, raahein saja de
Your eyes light up my paths
Tere naina, doori mita de
Your eyes draw me closer to you
Tere naina, dhadkan ko badha de
Your eyes make my heart beat faster
Tere naina, palkon mein samaa le
Your eyes hold me in them
Wallah
Oh Lord
Zakham pe marham, tere naina
Your eyes are like balm on a wound
Phool pe shabman, tere naina
Your eyes are like dew on a flower
Jag bhoole bhoole, tere naina
Your eyes make me forget the world
Dil choo le choo le, tere naina
Your eyes touch my heart
Tere nainon ke aage toh taaren bhi sharamaye ..
Even the stars are ashamed when compared to your eyes
Pa ni sa re sa ni dha pa
Ni dha pa ma ga re sa
Tere naina, tere naina
Your eyes…..
Nainon ki chaal hai, makhmali haal hai
Eyes have a velvet touch
Neechi palkon se badle samaa
From beneath lashes they can change the world
Rab ki nemat hai teri nigaahein
Eyes are God’s gift to you
Jisme basti hai uski duayein
Wherein reside His blessings
Aise naino ki baaton mein koi kyun na aaye
Who can resist the power of eyes such as yours
Ho Tere naina, tere naina, tere naina re – 4
Your eyes….
---
eh, tau 'kan ini lagu film apaan..?? yak..benar sekali.. My Name is Khan...
TERE NAINA
Music: Shankar Ehsaan Loy
Singer: Shafqat Amanat Ali
Lyrics: Niranjan Iyengar
Tere naina, tere naina, tere naina re – 4
Your eyes…..
Nainon ki chaal hai, makhmali haal hai
Eyes have a velvet touch
Neechi palkon se badle samaa
From beneath lashes they can change the world
Naina sharamaye jo, ya ke bhar aaye jo
When eyes are shy or fill with tears
Tham ke ruk jaaye dono jahaan
The worlds come to a standstill
Rab ki nemat hai teri nigaahein
Eyes are God’s gift to you
Jisme basti hai uski duayein
Wherein reside His blessings
Aise naino ki baaton mein koi kyun na aaye
Who can resist the power of eyes such as yours
Ho Tere naina, tere naina, tere naina re – 2
Your eyes….
Ho Aise naino ki baaton mein koi kyun na aaye
Who can resist the power of eyes such as yours
Ho Tere naina, tere naina, tere naina re – 2 times
Your eyes……
Aahat khwabon ki, chahat dhadkan ki
A treasure of dreams, desires of the heart
Unke kadmon ke hai ye nishaan
These are what eyes hold in their depths
Chahe kuch na boloon, chahe raaz na kholoon
I don’t have to speak nor reveal any secret
Ye samajte hai meri zubaan
They understand every unspoken word
Mujhpe barsi jo teri nigaahein
When your eyes rained down on me
Meri saanson ne badli adaayein
My breath changed its beat
Hoo Aise naino ki baaton mein koi kyun na aaye
Who can resist the power of eyes such as yours
Ho Tere naina, tere naina, tere naina re – 2
Your eyes….
Aise naino ki baaton mein koi kyun na aaye
Who can resist the power of eyes such as yours
Ho Tere naina, tere naina, tere naina re – 2
Your eyes…..
Tere naina, raahein saja de
Your eyes light up my paths
Tere naina, doori mita de
Your eyes draw me closer to you
Tere naina, dhadkan ko badha de
Your eyes make my heart beat faster
Tere naina, palkon mein samaa le
Your eyes hold me in them
Wallah
Oh Lord
Zakham pe marham, tere naina
Your eyes are like balm on a wound
Phool pe shabman, tere naina
Your eyes are like dew on a flower
Jag bhoole bhoole, tere naina
Your eyes make me forget the world
Dil choo le choo le, tere naina
Your eyes touch my heart
Tere nainon ke aage toh taaren bhi sharamaye ..
Even the stars are ashamed when compared to your eyes
Pa ni sa re sa ni dha pa
Ni dha pa ma ga re sa
Tere naina, tere naina
Your eyes…..
Nainon ki chaal hai, makhmali haal hai
Eyes have a velvet touch
Neechi palkon se badle samaa
From beneath lashes they can change the world
Rab ki nemat hai teri nigaahein
Eyes are God’s gift to you
Jisme basti hai uski duayein
Wherein reside His blessings
Aise naino ki baaton mein koi kyun na aaye
Who can resist the power of eyes such as yours
Ho Tere naina, tere naina, tere naina re – 4
Your eyes….
---
eh, tau 'kan ini lagu film apaan..?? yak..benar sekali.. My Name is Khan...
zuhud
Zuhud III
oleh: Suara Persaudaraan
Inilah dia kuda beroda dua
Kuda tunggangan tercanggih milik kita
Karena itu adalah hakekatnya amanah
Yang dititipkan oleh Allah
Rasulullah t’lah mengajarkan kita
Dengan bersyukur terhadap harta dunia
Qona’ah dengan s’gala pemberiannya
Istiqomah napak tilasi jalan surga
Agar tiada tergelincir dalam lembah nista
Hanya karena harta yang bukan milik kita
Letakkanlah di tangan agar siap ditinggalkan
Tiada menjadi beban dalam kehidupan
---
like this banget dah sama nasyid yang satu ini.. hmm..zuhud.. kata seorang ustadz, zuhud itu memang urusan hati..
oleh: Suara Persaudaraan
Inilah dia kuda beroda dua
Kuda tunggangan tercanggih milik kita
Memburu waktu alternatif yang ada
Sebuah kendaraan motor roda dua
Buatan pabrik dua windu dulu kala
Meskipun demikian kami mensyukurinya
Nikmat dan karunia yang Allah berikanKarena itu adalah hakekatnya amanah
Yang dititipkan oleh Allah
Rasulullah t’lah mengajarkan kita
Dengan bersyukur terhadap harta dunia
Qona’ah dengan s’gala pemberiannya
Istiqomah napak tilasi jalan surga
Agar tiada tergelincir dalam lembah nista
Hanya karena harta yang bukan milik kita
Letakkanlah di tangan agar siap ditinggalkan
Tiada menjadi beban dalam kehidupan
---
like this banget dah sama nasyid yang satu ini.. hmm..zuhud.. kata seorang ustadz, zuhud itu memang urusan hati..
Jumat, 13 Agustus 2010
pengorbananmu..apa..?
bismillaahirrahmaanirrahiim...
beberapa hari yang lalu, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel saya..dari sang guru spiritual (baca: murobbi)..
"kadang saya suka bertanya pada diri sendiri..bagian dari hidup saya yang mana yang layak saya sebut pengorbanan..?
kata orang air mata kesedihan adalah bentuk pengorbanan, saya lantas bertanya: atas sebab apa selama ini air mata saya mengalir..? pernahkan dia mengalir karena kesedihan akan kondisi umat, atau sedih karena masalah pribadi..?
ketika orang menyebut kelelahan adalah pengorbanan di jalan da'wah, saya lantas bertanya: lebih banyak karena apa keringat saya bercucuran..? benarkah karena da'wah, atau lebih banyak karena agenda pribadi..?
ketika orang bilang dana adalah pengorbanan, saya jadi menghitung berapa dana yang sudah diinfaq-kan..? atau pernahkah saya harus mengencangkan ikat pinggang agar bisa infaq..?
kata orang pengorbanan bisa juga waktu kita..ah, malu saya untuk menghitung berapa jam setiap hari atau mungkin pekan yang diberikan untuk da'wah..
katanya pengorbanan yang dituntut dalam da'wah ini adalah seluruh hidup kita..tapi berapa persen hidup saya untuk da'wah..?"
ahh..itu..sangat..menohok..bukan..???
allaahummaghfirlanaa..
beberapa hari yang lalu, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel saya..dari sang guru spiritual (baca: murobbi)..
"kadang saya suka bertanya pada diri sendiri..bagian dari hidup saya yang mana yang layak saya sebut pengorbanan..?
kata orang air mata kesedihan adalah bentuk pengorbanan, saya lantas bertanya: atas sebab apa selama ini air mata saya mengalir..? pernahkan dia mengalir karena kesedihan akan kondisi umat, atau sedih karena masalah pribadi..?
ketika orang menyebut kelelahan adalah pengorbanan di jalan da'wah, saya lantas bertanya: lebih banyak karena apa keringat saya bercucuran..? benarkah karena da'wah, atau lebih banyak karena agenda pribadi..?
ketika orang bilang dana adalah pengorbanan, saya jadi menghitung berapa dana yang sudah diinfaq-kan..? atau pernahkah saya harus mengencangkan ikat pinggang agar bisa infaq..?
kata orang pengorbanan bisa juga waktu kita..ah, malu saya untuk menghitung berapa jam setiap hari atau mungkin pekan yang diberikan untuk da'wah..
katanya pengorbanan yang dituntut dalam da'wah ini adalah seluruh hidup kita..tapi berapa persen hidup saya untuk da'wah..?"
ahh..itu..sangat..menohok..bukan..???
allaahummaghfirlanaa..
yang tak terjawab
ada yang belum terjawab darimu
wahai Fathimah, putri Sang Rosul pilihan
kau membuat Ali terkejut saat kau berkata
ada pria yang kau cintai sebelum pernikahan terjadi
kau membuat Ali tersipu saat kau berkata
"Pria itu adalah dirimu"
ada yang belum terjawab darimu
wahai Fathimah, putri Sang Rosul pilihan
rasa seperti apa yang kau tahan
sebelum akhirnya terhalalkan?
kendali seperti apa yang kau usahakan
hingga akhirnya Allah ridha dengan memberi kesempatan?
berdoakah engkau agar cintamu berbalas?
berharapkah engkau agar ia yang menggenapi separuh nafas?
ah..kisahmu terdengar begitu indah
skenario-Nya yang sempurna
sepersekian bagian dari episode hidupmu yang penuh berkah
ada yang belum terjawab darimu
dan tanya itu akan kusimpan selalu
-bogor, 16 november 2009-
wahai Fathimah, putri Sang Rosul pilihan
kau membuat Ali terkejut saat kau berkata
ada pria yang kau cintai sebelum pernikahan terjadi
kau membuat Ali tersipu saat kau berkata
"Pria itu adalah dirimu"
ada yang belum terjawab darimu
wahai Fathimah, putri Sang Rosul pilihan
rasa seperti apa yang kau tahan
sebelum akhirnya terhalalkan?
kendali seperti apa yang kau usahakan
hingga akhirnya Allah ridha dengan memberi kesempatan?
berdoakah engkau agar cintamu berbalas?
berharapkah engkau agar ia yang menggenapi separuh nafas?
ah..kisahmu terdengar begitu indah
skenario-Nya yang sempurna
sepersekian bagian dari episode hidupmu yang penuh berkah
ada yang belum terjawab darimu
dan tanya itu akan kusimpan selalu
-bogor, 16 november 2009-
apakah
apakah air mata yang berderai ini
adalah bentuk keputusasaan diri
atau bukti akan kelemahan dan kerapuhan hati
apakah senyum yang bertahta
adalah usaha untuk menutup duka
atau ekspresi pura-pura tanpa makna
apakah kata yang terucap
adalah akumulasi pikiran dalam senyap
atau respon yang sebenarnya tak ingin diungkap
apakah mereka mengerti
atau bahkan memahami
dan menyadari
tentang malam yang sunyi
taman yang sepi
rumah tak berpenghuni
hingga puisi yang tiada berarti
ah..ini hanya puisi saja
tak perlu ada banyak tanya
bila terlihat seperti ungkapan hati seorang manusia
pastilah ia hanya manusia biasa
-bogor, 3 november 2009-
adalah bentuk keputusasaan diri
atau bukti akan kelemahan dan kerapuhan hati
apakah senyum yang bertahta
adalah usaha untuk menutup duka
atau ekspresi pura-pura tanpa makna
apakah kata yang terucap
adalah akumulasi pikiran dalam senyap
atau respon yang sebenarnya tak ingin diungkap
apakah mereka mengerti
atau bahkan memahami
dan menyadari
tentang malam yang sunyi
taman yang sepi
rumah tak berpenghuni
hingga puisi yang tiada berarti
ah..ini hanya puisi saja
tak perlu ada banyak tanya
bila terlihat seperti ungkapan hati seorang manusia
pastilah ia hanya manusia biasa
-bogor, 3 november 2009-
dalam bayangan
Ta, km k mn? Knp km g jwb tlpn aq? Km k mn? Aq benci bgt sm dia. Aq mau dia mati aj. Ta…
Mataku nanar membaca tulisan di inbox-ku. Perlahan bening air mata terjatuh dari pelupuk mataku. Allah…lindungi ia. Aku mohon…
* * *
SMA-ku tercinta, selamat tinggal. Bukan tak cinta bukan tak suka, bukan pula aku mengkhianatimu, tapi aku nggak mau jadi anak SMA lama-lama. Aku ‘kan mau lulus juga. Usai mengunyah-ngunyah soal SPMB, dan setelah jadi batu nunggu pengumuman, finally…here I am…
Universitas impianku hadir di depan mata. Konkrit. Bukan impian lagi. Namaku terdaftar sudah di administrasi. Dan tentunya hari-hari ospek yang melelahkan dan menjengkolkan sudah kulewati. Nggak usahlah aku ceritakan masalah itu. Menuh-menuhin kertas plus lumayan bikin sakit hati.
Kelas yang akan kumasuki masih satu setengah jam lagi. Boleh dong aku tepe-tepe (baca: tebar pesona) sama masjid kampusku. Konon kabarnya, masjid itu pe-we banget.
Love at the first sight. It’s so beautiful. Kakiku melangkah memasukinya. Masuk ke tempat wudhu (buat wudhu dong tentunya) kemudian berusaha khusyu’ dalam dhuha-ku. Sambil menikmati kenyamanan mesjid, kubuka mushaf bersejarahku. Belom sempet baca ta’awudz, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.
“Elo yang kemaren ‘kan?” tanyanya. Aku menatapnya dan berusaha mengingat.
“Masak lupa? Tas kita ketuker…” aku tersenyum, tanda bahwa aku sudah mengingatnya. Jadi inget. Kuceritakan sedikit, ya. Hari sudah sore waktu selesai ospek. Badan lengket plus cuapek yang nggak ketulungan membuatku ingin cepet-cepet pulang. Berhubung semua tas sama -terbuat dari plastik hitam buat sampah- aku mengambil tas yang aku yakin itu milikku, lantas kabur dari kampus untuk pulang ke rumah. Suara perempuan yang berteriak tak kugubris. Sampai akhirnya ada yang menepuk bahuku -persis seperti tadi- kemudian berkata, “Tas gue tuh. Kayaknya lo salah ambil deh…” katanya sambil senyum-senyum. Karena merasa tas itu milikku, aku nggak terima.
“Masak sih…?” aku memeriksa isinya. Kemudian mengangkat kepala, lalu nyengir kuda. Perempuan itu juga melakukan hal yang sama sambil menukar tas yang dipegangnya. Tanpa basi-basi, kami pergi. Tengsin bo…!
“Udah inget ‘kan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.
“Gue Sasa. Nama lo siapa?”
“Arsita Syifani. Panggil aja Sita.” tangan kami terulur berjabat tangan. My first friend! Become best friend…?
* * *
Sasa. Ndut, chubby, lucu, plus ngegemesin. Friendly banget. Kita jadi sering bareng-bareng. Walaupun dia di Fisika dan aku di Biologi, sepertinya jarak tidak bisa memisahkan kita deh.
“Ta, ke Ge-Em yuk…”
“Ya…Sasa. Sori dori mori stroberi nih…aku mau taklim. Mending kamu ikut aja…”
“Nggak banget deh!”
“Lohhh…?? Emang kenapa, Mbak…?”
“Males aja. Abis di sana kan banyak jilbaber-jilbaber gitu. Ntar aku dicuekin lagi, nggak pake jilbab sendiri. Abis mereka kesannya eksklusif gitu, gabungnya sama yang pake jilbab aja.”
“Lah, situ kenapa mau temenan sama saya…?”
“Kenapa, ya…? Abis lo beda sih…”
“Ah, jadi enak…”
“Yah…jadi nyesel ngomong…Ya udah, lo taklim aja dulu. Gue tunggu di perpus, ya…”
“He-eh. Oh iya, Sa, don’t think negative…Daa…assalamualaikum…” aku melambai sambil meninggalkannya. Sasa hanya mengangguk-angguk dan berjalan menuju perpustakaan.
Pengalaman selama SMA bertemu dengan orang-orang yang memberiku banyak pelajaran, baru kutemukan sesorang yang sangat istimewa dalam memberikan pelajaran untukku. Sasa yang konyol, kadang berubah menjadi sosok kritis yang sedang mencari kebenaran hidup.
“Lo yakin Tuhan itu ada?” tanyannya suatu hari.
“Emangnya kita ini diciptain sama siapa?” balasku bertanya.
“Bisa aja ‘kan dengan sendirinya. Dari sel mungkin…”
“Trus sel itu yang nyiptain siapa?”
“Ya…terbentuk dengan sendirinya!”
“Kemaren aku mau ke warung, Sa. Tapi aku males, coz warungnya jauh. Mesti naik kendaraan. Padahal aku nggak punya. Eh, pas nyampe pager, tau-tau di depan mata ada sepeda…”
“Sepeda orang kali…”
“Nggak! Tadinya tuh nggak ada…”
“Ah, nggak mungkin…Jayuz banget sih lo…”
“Hmm…sepeda aja nggak bisa muncul dengan sendirinya. Apalagi manusia…”
Atau mungkin percakapanku dengan Sasa yang lain. Seperti ini.
“Katanya Allah sayang sama kita, kenapa kita malah dikasih cobaan yang berat banget?”
“Ah, masak…?”
“Katanya Allah ngasih cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Tapi pada kenyataannya, cobaan itu malah terlalu berat sampai-sampai dia nggak bisa menghadapinya…”
“Yakin…?”
“Sita…!”
“Hehe..iya, iya…sori. Hmm…mungkin, orang yang dikasih cobaan itu belom maksimal kali, ya, dalam berusaha menyelesaikan ujian yang dikasih. Guru SD aja nggak mungkin ngasih ke anak muridnya pelajaran SMP, apalagi Allah…”
Sasa. Betapa aku menyayangimu atas segala ucapanmu. Betapa banyak pelajaran yang kau berikan untukku. Betapa inginnya aku menemanimu dalam mencari mutiara hidayah di dasar laut hatimu.
* * *
Kantin kampus pukul 10 pagi (masih pagi ‘kan…?).
“Jadi nggak kita ke Bandung?”
“Oh…seminar itu, ya? Nggak tau deh, Sa… Emang kita mau naik apa?”
“Naik mobil lah…masak mau ngesot…”
“Hehe…”
“Dianter bokap lo aja, Ta!”
Aku diam. Tersenyum sedikit. Ternyata Sasa belum tahu.
“Nggak bisa. Terlalu sulit.”
“Uh…pelit!”
“Bapak udah meninggal.” Sasa tersedak. “Waktu aku masih SMP.”
“Kok nggak pernah cerita…?”
“Emangnya dongeng, mesti diceritain…?” aku tertawa. Raut menyesal hadir di wajah Sasa.
“Ya udah sih nggak papa...”
“Lo sedih nggak, Ta?”
“Yee…jangan nanya. Siapa sih yang nggak sedih kehilangan orang yang disayangin…” aku berhenti sebentar untuk meminum es jeruk di hadapanku, “He’s the best man that I ever known. Malah aku punya cita-cita punya suami kayak Bapak. Hihi…nggak salah ‘kan punya cita-cita kayak gitu?”
“Lo sayang sama bokap lo?”
“Yee…nanya lagi…Sayang aku sama Bapak, nggak bisa diungkapkan oleh kata-kata… Tapi ternyata Allah lebih sayang lagi sama Bapak…”
“Kok kita kebalik, ya, Ta…”
“Apanya…?”
“Iya. Gue malah mau bokap gue mati…” Gleg! Bagai tersedak air segalon.
“Sori, bisa diperjelas…?”
“Ya…gitu deh…Udah ah, forget it aja. Nggak penting banget sih!”
“Apanya yang nggak penting…?! Ayo dong, Sa, kenapa kamu ngomong kayak gitu? Istighfar, Sa…nyebut…”
“Nyebut…nyebut…hehe…” lagi serius malah becanda.
“Tapi kamu lahir ‘kan lewat perantara ayah kamu, Sa. Yang biayain sekolah, ngasih makan, sampe kamu subur kayak gini…sandang, papan…bersyukur dikit dong…”
“Yah…susah deh, Ta. Lo nggak bakal ngerti…” Sasa beranjak. Aku mengekor kemudian menjejeri langkahnya.
Sungguh, saat itu aku tidak terima. Betapa mudahnya Sasa berkata seperti itu. Tidak tahukah ia, segunung penyesalan dalam hatiku karena tidak ada lagi kesempatan untuk membalas semua kebaikan Bapak. Jujur, aku marah. Tidakkah ada rasa syukur sedikit saja dalam dirimu, Sa?
* * *
Persahabatanku masih berjalan seperti biasa. Aku mencoba memahami perasaannya yang sulit aku tebak. Mungkin belum saatnya menyinggung masalah tentang ayahnya. Terlalu riskan. Walaupun awan-awan ketidakmengertian masih menyelimuti pikiranku.
Tumben nih, jam segini biasanya Sasa udah dateng. Ah, pasti ketiduran lagi deh dia. Bukannya suuzhan, abisnya dia kebiasaan banget bangun telat. Kalau mau janjian jam delapan, misalnya, dari jam enam kita udah harus miskol-miskolin dia biar bangun. Dari jam lima bahkan. Yah…capek deh!
Otakku memutuskan untuk berjalan dan duduk di bawah pohon rindang dekat kolam. Mabesku dan Sasa.
“Assalamualaikum, Ta…” sebuah suara ghaib menyelusup lewat liang telingaku dan menembus membran timpani ku. Kontan aku langsung nengok. Setan mana nih yang berani ganggu orang pagi-pagi gini?
Dan ketika aku menoleh, aku bengong. Bukan. Bukan setan.
“Orang ngasih salam tuh dijawab, bukan dipelongoin…”
“Subhanallah…Sasa…!!!” aku berhambur memeluk Sasa. Untung nggak kecebur kolam. Nggak akan bersikap seperti itu kalau tidak ada yang berubah pada diri Sasa. Emangnya Sasa kenapa sih?
“Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya gue mutusin berjilbab. Tapi gue malu, Ta, sama temen-temen. Takut diledekin…”
“Ih, siapa juga yang mau ngeledekin kamu. Bosen ‘kali…”
Teringat percakapanku tempo hari dengan Sasa.
“Ngapain sih, Ta, pake jilbab panjang-panjang? Bukannya malah berlebih-lebihan tuh? Katanya Allah nggak suka sama hal yang berlebihan?”
“Ah, itu sih tergantung kenyamanan si pemakai aja. Nggak masalah kan kalo jilbabnya panjang? Namanya juga nutupin aurat. Nutupin pantat. Kata guru agama waktu aku SMA, pantatnya cewek tuh banyak setannya, jadi kudu ditutupin…” Sasa cekikikan.
“Tapi tidak selalu yang jilbabnya panjang trus kemudian jadi lebih sholeh dari yang jilbabnya pendek. Hati orang itu ‘kan cuma Allah yang tahu…” aku melanjutkan.
“Trus kenapa mesti pake jilbab? Islam kok ngekang banget. Begini nggak boleh, begitu nggak boleh. Harus ini, harus itu. Harus pake jilbab, nggak boleh pegangan sama cowok, nggak boleh pacaran. Nggak ngikutin perkembangan zaman. Gimana mau nikah kalo pacaran aja nggak boleh. Kita ‘kan jadi nggak tau kepribadian si cowok itu gimana. Lagian kalo pake jilbab itu bukannya malah bikin perbedaan? Beda sama yang lain. Bikin capek!” Sasa ngomong sampe berbusa, kukira.
“Hanya satu kata. Allah.” Ada getaran hebat ketika aku mengatakan hal itu. Ya. Allah. Allah, kuatkan hamba-Mu.
“Sopo sing bilang Islam itu mengekang? Justru mestinya kamu berterima kasih tuh, udah diselametin sama Islam. Ibarat lemper, nggak bakalan dibeli tuh lemper yang nggak dibungkus! Pasti milihnya lemper yang dibungkus rapi pake daun. Soalnya ‘kan bersih, nggak kena debu. Ibarat barang di toko, semuanya dibungkus rapi. Eksklusif. Nggak sembarangan kesentuh tangan. Ibarat body, gimana coba caranya biar nggak sembarangan disentuh, dipegang, ditowel? Dan siapa bilang nggak boleh pegangan sama cowok? Boleh aja, tapi syaratnya cowok itu kudu nikahin kita dulu, alias jadi suami kita. Hehe… Dan siapa bilang nggak boleh pacaran? Boleh juga. Tapi syaratnya ya itu tadi. Pacaran after married. Lebih aman. Lagian kalo pacaran, belum tentu juga tuh beranjak ke pelaminan. Bayangin deh, Sa, misalnya aja tiga tahun pacaran, udah dipegang-pegang, dipeluk, dibelai, na’udzubillah kalau sampai melakukan ‘begituan’, udah gitu nggak jadi nikah! Si cowok say goodbye. Betapa kasihannya kita, sebagai wanita. Habis manis sepah dibuang. Sorry lah yaw…” Dan sekarang gentian Sasa yang bengong dengerin kata-kataku yang ternyata lebih banyak dari dia.
Ah, Sasa…selamat, ya. Hidayah-Nya telah sampai kepadamu.
“Istiqamah, ya, Sa…”
“Apaan tuh? Nama masjid di mana?”
“Aduh Sasa…!”
“Iya, iya, gue tahu. Tetap pendirian kan? Yah…doain gue aja deh, Ta, mudah-mudahan gue bisa ngejaga hidayah ini…” kata Sasa. Aku mengaminkannya dalam hati.
Sasa tetap seperti yang dulu. Konyol, lucu, dan tetap chubby. Oh ya, masih tetap males diajak taklim. It’s ok, semua butuh proses. Dalam kesehariannya, ia pasti bisa mendapatkan banyak pelajaran. Pun aku.
Labil. Kritis. Tetap menjadi sifat Sasa. Walau sudah berkurang. Untaian doa yang selalu kupanjatkan untuknya. Allah…sirami ia dengan berjuta keindahan-Mu…
* * *
Fiuh…hari yang cukup melelahkan. Setelah kenyang mengunyah-ngunyah soal UAS, kini aku berbaring (baca: tepar) di tempat tidur. Hmm...tapi ini ada semerbak wangi apa, ya? Ups, bulu kudukku sempat berdiri dan istirahat di tempat. Aku mencari sumber wangi itu, and I find it!
Kebiasaan deh. Kubuka resleting tas yang penuh sejarah itu dan kutemukan ‘jimat’ ku dalam keadaan terbuka. Untung baby cologne, kalo minyak nyong-nyong ‘kan berabe!
Sepertinya isi tasku harus segera dikeluarkan. Dompet, HP, novel, komik, tempat pensil, meja, kursi, lemari, komputer, kulkas…eh…kertas apaan nih?
‘Dari seseorang yang membutuhkan saran seorang sahabat’
Kertas lecek and the kumel plus basah itu aku buka perlahan. Tulisannya sedikit kabur, jadi perlu dikejar, ups, maksudnya masih bisa terbaca.
‘Jika ada seseorang yang bertanya, siapakah yang paling kau rindukan pelukannya setiap malam? Siapakah yang paling kau inginkan dekapan hangatnya? Siapakah yang terakhir memelukmu di usia 12 tahun? Maka, jika aku diizinkan menjawab, ia adalah ayahku…
Banyak yang bilang, orang malang itu orang yang merasakan kesusahan, ditimpa bencana, berdiri dalam garis kemiskinan, merakasakan kekerasan, dan berbagai cobaan. Itu semua bohong. Tentu saja hanya bagiku. Bagiku, suatu kemalangan besar itu jika ia melihat sesuatu yang amat berharga baginya tetapi ia tidak dapat merangkulnya. Jangankan merangkul, ia hanya melihatnya seakan ia tidak melihat apa-apa. Padahal ia ingin sekali mengatakan, aku mencintaimu, aku menyayangimu seumur hidupku.
Menurutmu, jika aku memberimu waktu untuk berpikir, siapakah barang berharga yang kumaksud? Jika kau berhasil menjawabnya, maka kau benar-benar mengerti dan memahami apa maksudku dan diriku.
Kini apa kau mengerti menagapa aku begitu membenci ayahku dan terkadang ingin ia menghilang...’
Kulipat kertas itu dengan tangan bergetar. Sesak.
Tiit..tiitt..tiiittt… HP-ku berbunyi. 1 massage received. Dari Sasa.
* * * *
Bekasi, 16 Mei 2005
Mataku nanar membaca tulisan di inbox-ku. Perlahan bening air mata terjatuh dari pelupuk mataku. Allah…lindungi ia. Aku mohon…
* * *
SMA-ku tercinta, selamat tinggal. Bukan tak cinta bukan tak suka, bukan pula aku mengkhianatimu, tapi aku nggak mau jadi anak SMA lama-lama. Aku ‘kan mau lulus juga. Usai mengunyah-ngunyah soal SPMB, dan setelah jadi batu nunggu pengumuman, finally…here I am…
Universitas impianku hadir di depan mata. Konkrit. Bukan impian lagi. Namaku terdaftar sudah di administrasi. Dan tentunya hari-hari ospek yang melelahkan dan menjengkolkan sudah kulewati. Nggak usahlah aku ceritakan masalah itu. Menuh-menuhin kertas plus lumayan bikin sakit hati.
Kelas yang akan kumasuki masih satu setengah jam lagi. Boleh dong aku tepe-tepe (baca: tebar pesona) sama masjid kampusku. Konon kabarnya, masjid itu pe-we banget.
Love at the first sight. It’s so beautiful. Kakiku melangkah memasukinya. Masuk ke tempat wudhu (buat wudhu dong tentunya) kemudian berusaha khusyu’ dalam dhuha-ku. Sambil menikmati kenyamanan mesjid, kubuka mushaf bersejarahku. Belom sempet baca ta’awudz, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.
“Elo yang kemaren ‘kan?” tanyanya. Aku menatapnya dan berusaha mengingat.
“Masak lupa? Tas kita ketuker…” aku tersenyum, tanda bahwa aku sudah mengingatnya. Jadi inget. Kuceritakan sedikit, ya. Hari sudah sore waktu selesai ospek. Badan lengket plus cuapek yang nggak ketulungan membuatku ingin cepet-cepet pulang. Berhubung semua tas sama -terbuat dari plastik hitam buat sampah- aku mengambil tas yang aku yakin itu milikku, lantas kabur dari kampus untuk pulang ke rumah. Suara perempuan yang berteriak tak kugubris. Sampai akhirnya ada yang menepuk bahuku -persis seperti tadi- kemudian berkata, “Tas gue tuh. Kayaknya lo salah ambil deh…” katanya sambil senyum-senyum. Karena merasa tas itu milikku, aku nggak terima.
“Masak sih…?” aku memeriksa isinya. Kemudian mengangkat kepala, lalu nyengir kuda. Perempuan itu juga melakukan hal yang sama sambil menukar tas yang dipegangnya. Tanpa basi-basi, kami pergi. Tengsin bo…!
“Udah inget ‘kan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.
“Gue Sasa. Nama lo siapa?”
“Arsita Syifani. Panggil aja Sita.” tangan kami terulur berjabat tangan. My first friend! Become best friend…?
* * *
Sasa. Ndut, chubby, lucu, plus ngegemesin. Friendly banget. Kita jadi sering bareng-bareng. Walaupun dia di Fisika dan aku di Biologi, sepertinya jarak tidak bisa memisahkan kita deh.
“Ta, ke Ge-Em yuk…”
“Ya…Sasa. Sori dori mori stroberi nih…aku mau taklim. Mending kamu ikut aja…”
“Nggak banget deh!”
“Lohhh…?? Emang kenapa, Mbak…?”
“Males aja. Abis di sana kan banyak jilbaber-jilbaber gitu. Ntar aku dicuekin lagi, nggak pake jilbab sendiri. Abis mereka kesannya eksklusif gitu, gabungnya sama yang pake jilbab aja.”
“Lah, situ kenapa mau temenan sama saya…?”
“Kenapa, ya…? Abis lo beda sih…”
“Ah, jadi enak…”
“Yah…jadi nyesel ngomong…Ya udah, lo taklim aja dulu. Gue tunggu di perpus, ya…”
“He-eh. Oh iya, Sa, don’t think negative…Daa…assalamualaikum…” aku melambai sambil meninggalkannya. Sasa hanya mengangguk-angguk dan berjalan menuju perpustakaan.
Pengalaman selama SMA bertemu dengan orang-orang yang memberiku banyak pelajaran, baru kutemukan sesorang yang sangat istimewa dalam memberikan pelajaran untukku. Sasa yang konyol, kadang berubah menjadi sosok kritis yang sedang mencari kebenaran hidup.
“Lo yakin Tuhan itu ada?” tanyannya suatu hari.
“Emangnya kita ini diciptain sama siapa?” balasku bertanya.
“Bisa aja ‘kan dengan sendirinya. Dari sel mungkin…”
“Trus sel itu yang nyiptain siapa?”
“Ya…terbentuk dengan sendirinya!”
“Kemaren aku mau ke warung, Sa. Tapi aku males, coz warungnya jauh. Mesti naik kendaraan. Padahal aku nggak punya. Eh, pas nyampe pager, tau-tau di depan mata ada sepeda…”
“Sepeda orang kali…”
“Nggak! Tadinya tuh nggak ada…”
“Ah, nggak mungkin…Jayuz banget sih lo…”
“Hmm…sepeda aja nggak bisa muncul dengan sendirinya. Apalagi manusia…”
Atau mungkin percakapanku dengan Sasa yang lain. Seperti ini.
“Katanya Allah sayang sama kita, kenapa kita malah dikasih cobaan yang berat banget?”
“Ah, masak…?”
“Katanya Allah ngasih cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Tapi pada kenyataannya, cobaan itu malah terlalu berat sampai-sampai dia nggak bisa menghadapinya…”
“Yakin…?”
“Sita…!”
“Hehe..iya, iya…sori. Hmm…mungkin, orang yang dikasih cobaan itu belom maksimal kali, ya, dalam berusaha menyelesaikan ujian yang dikasih. Guru SD aja nggak mungkin ngasih ke anak muridnya pelajaran SMP, apalagi Allah…”
Sasa. Betapa aku menyayangimu atas segala ucapanmu. Betapa banyak pelajaran yang kau berikan untukku. Betapa inginnya aku menemanimu dalam mencari mutiara hidayah di dasar laut hatimu.
* * *
Kantin kampus pukul 10 pagi (masih pagi ‘kan…?).
“Jadi nggak kita ke Bandung?”
“Oh…seminar itu, ya? Nggak tau deh, Sa… Emang kita mau naik apa?”
“Naik mobil lah…masak mau ngesot…”
“Hehe…”
“Dianter bokap lo aja, Ta!”
Aku diam. Tersenyum sedikit. Ternyata Sasa belum tahu.
“Nggak bisa. Terlalu sulit.”
“Uh…pelit!”
“Bapak udah meninggal.” Sasa tersedak. “Waktu aku masih SMP.”
“Kok nggak pernah cerita…?”
“Emangnya dongeng, mesti diceritain…?” aku tertawa. Raut menyesal hadir di wajah Sasa.
“Ya udah sih nggak papa...”
“Lo sedih nggak, Ta?”
“Yee…jangan nanya. Siapa sih yang nggak sedih kehilangan orang yang disayangin…” aku berhenti sebentar untuk meminum es jeruk di hadapanku, “He’s the best man that I ever known. Malah aku punya cita-cita punya suami kayak Bapak. Hihi…nggak salah ‘kan punya cita-cita kayak gitu?”
“Lo sayang sama bokap lo?”
“Yee…nanya lagi…Sayang aku sama Bapak, nggak bisa diungkapkan oleh kata-kata… Tapi ternyata Allah lebih sayang lagi sama Bapak…”
“Kok kita kebalik, ya, Ta…”
“Apanya…?”
“Iya. Gue malah mau bokap gue mati…” Gleg! Bagai tersedak air segalon.
“Sori, bisa diperjelas…?”
“Ya…gitu deh…Udah ah, forget it aja. Nggak penting banget sih!”
“Apanya yang nggak penting…?! Ayo dong, Sa, kenapa kamu ngomong kayak gitu? Istighfar, Sa…nyebut…”
“Nyebut…nyebut…hehe…” lagi serius malah becanda.
“Tapi kamu lahir ‘kan lewat perantara ayah kamu, Sa. Yang biayain sekolah, ngasih makan, sampe kamu subur kayak gini…sandang, papan…bersyukur dikit dong…”
“Yah…susah deh, Ta. Lo nggak bakal ngerti…” Sasa beranjak. Aku mengekor kemudian menjejeri langkahnya.
Sungguh, saat itu aku tidak terima. Betapa mudahnya Sasa berkata seperti itu. Tidak tahukah ia, segunung penyesalan dalam hatiku karena tidak ada lagi kesempatan untuk membalas semua kebaikan Bapak. Jujur, aku marah. Tidakkah ada rasa syukur sedikit saja dalam dirimu, Sa?
* * *
Persahabatanku masih berjalan seperti biasa. Aku mencoba memahami perasaannya yang sulit aku tebak. Mungkin belum saatnya menyinggung masalah tentang ayahnya. Terlalu riskan. Walaupun awan-awan ketidakmengertian masih menyelimuti pikiranku.
Tumben nih, jam segini biasanya Sasa udah dateng. Ah, pasti ketiduran lagi deh dia. Bukannya suuzhan, abisnya dia kebiasaan banget bangun telat. Kalau mau janjian jam delapan, misalnya, dari jam enam kita udah harus miskol-miskolin dia biar bangun. Dari jam lima bahkan. Yah…capek deh!
Otakku memutuskan untuk berjalan dan duduk di bawah pohon rindang dekat kolam. Mabesku dan Sasa.
“Assalamualaikum, Ta…” sebuah suara ghaib menyelusup lewat liang telingaku dan menembus membran timpani ku. Kontan aku langsung nengok. Setan mana nih yang berani ganggu orang pagi-pagi gini?
Dan ketika aku menoleh, aku bengong. Bukan. Bukan setan.
“Orang ngasih salam tuh dijawab, bukan dipelongoin…”
“Subhanallah…Sasa…!!!” aku berhambur memeluk Sasa. Untung nggak kecebur kolam. Nggak akan bersikap seperti itu kalau tidak ada yang berubah pada diri Sasa. Emangnya Sasa kenapa sih?
“Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya gue mutusin berjilbab. Tapi gue malu, Ta, sama temen-temen. Takut diledekin…”
“Ih, siapa juga yang mau ngeledekin kamu. Bosen ‘kali…”
Teringat percakapanku tempo hari dengan Sasa.
“Ngapain sih, Ta, pake jilbab panjang-panjang? Bukannya malah berlebih-lebihan tuh? Katanya Allah nggak suka sama hal yang berlebihan?”
“Ah, itu sih tergantung kenyamanan si pemakai aja. Nggak masalah kan kalo jilbabnya panjang? Namanya juga nutupin aurat. Nutupin pantat. Kata guru agama waktu aku SMA, pantatnya cewek tuh banyak setannya, jadi kudu ditutupin…” Sasa cekikikan.
“Tapi tidak selalu yang jilbabnya panjang trus kemudian jadi lebih sholeh dari yang jilbabnya pendek. Hati orang itu ‘kan cuma Allah yang tahu…” aku melanjutkan.
“Trus kenapa mesti pake jilbab? Islam kok ngekang banget. Begini nggak boleh, begitu nggak boleh. Harus ini, harus itu. Harus pake jilbab, nggak boleh pegangan sama cowok, nggak boleh pacaran. Nggak ngikutin perkembangan zaman. Gimana mau nikah kalo pacaran aja nggak boleh. Kita ‘kan jadi nggak tau kepribadian si cowok itu gimana. Lagian kalo pake jilbab itu bukannya malah bikin perbedaan? Beda sama yang lain. Bikin capek!” Sasa ngomong sampe berbusa, kukira.
“Hanya satu kata. Allah.” Ada getaran hebat ketika aku mengatakan hal itu. Ya. Allah. Allah, kuatkan hamba-Mu.
“Sopo sing bilang Islam itu mengekang? Justru mestinya kamu berterima kasih tuh, udah diselametin sama Islam. Ibarat lemper, nggak bakalan dibeli tuh lemper yang nggak dibungkus! Pasti milihnya lemper yang dibungkus rapi pake daun. Soalnya ‘kan bersih, nggak kena debu. Ibarat barang di toko, semuanya dibungkus rapi. Eksklusif. Nggak sembarangan kesentuh tangan. Ibarat body, gimana coba caranya biar nggak sembarangan disentuh, dipegang, ditowel? Dan siapa bilang nggak boleh pegangan sama cowok? Boleh aja, tapi syaratnya cowok itu kudu nikahin kita dulu, alias jadi suami kita. Hehe… Dan siapa bilang nggak boleh pacaran? Boleh juga. Tapi syaratnya ya itu tadi. Pacaran after married. Lebih aman. Lagian kalo pacaran, belum tentu juga tuh beranjak ke pelaminan. Bayangin deh, Sa, misalnya aja tiga tahun pacaran, udah dipegang-pegang, dipeluk, dibelai, na’udzubillah kalau sampai melakukan ‘begituan’, udah gitu nggak jadi nikah! Si cowok say goodbye. Betapa kasihannya kita, sebagai wanita. Habis manis sepah dibuang. Sorry lah yaw…” Dan sekarang gentian Sasa yang bengong dengerin kata-kataku yang ternyata lebih banyak dari dia.
Ah, Sasa…selamat, ya. Hidayah-Nya telah sampai kepadamu.
“Istiqamah, ya, Sa…”
“Apaan tuh? Nama masjid di mana?”
“Aduh Sasa…!”
“Iya, iya, gue tahu. Tetap pendirian kan? Yah…doain gue aja deh, Ta, mudah-mudahan gue bisa ngejaga hidayah ini…” kata Sasa. Aku mengaminkannya dalam hati.
Sasa tetap seperti yang dulu. Konyol, lucu, dan tetap chubby. Oh ya, masih tetap males diajak taklim. It’s ok, semua butuh proses. Dalam kesehariannya, ia pasti bisa mendapatkan banyak pelajaran. Pun aku.
Labil. Kritis. Tetap menjadi sifat Sasa. Walau sudah berkurang. Untaian doa yang selalu kupanjatkan untuknya. Allah…sirami ia dengan berjuta keindahan-Mu…
* * *
Fiuh…hari yang cukup melelahkan. Setelah kenyang mengunyah-ngunyah soal UAS, kini aku berbaring (baca: tepar) di tempat tidur. Hmm...tapi ini ada semerbak wangi apa, ya? Ups, bulu kudukku sempat berdiri dan istirahat di tempat. Aku mencari sumber wangi itu, and I find it!
Kebiasaan deh. Kubuka resleting tas yang penuh sejarah itu dan kutemukan ‘jimat’ ku dalam keadaan terbuka. Untung baby cologne, kalo minyak nyong-nyong ‘kan berabe!
Sepertinya isi tasku harus segera dikeluarkan. Dompet, HP, novel, komik, tempat pensil, meja, kursi, lemari, komputer, kulkas…eh…kertas apaan nih?
‘Dari seseorang yang membutuhkan saran seorang sahabat’
Kertas lecek and the kumel plus basah itu aku buka perlahan. Tulisannya sedikit kabur, jadi perlu dikejar, ups, maksudnya masih bisa terbaca.
‘Jika ada seseorang yang bertanya, siapakah yang paling kau rindukan pelukannya setiap malam? Siapakah yang paling kau inginkan dekapan hangatnya? Siapakah yang terakhir memelukmu di usia 12 tahun? Maka, jika aku diizinkan menjawab, ia adalah ayahku…
Banyak yang bilang, orang malang itu orang yang merasakan kesusahan, ditimpa bencana, berdiri dalam garis kemiskinan, merakasakan kekerasan, dan berbagai cobaan. Itu semua bohong. Tentu saja hanya bagiku. Bagiku, suatu kemalangan besar itu jika ia melihat sesuatu yang amat berharga baginya tetapi ia tidak dapat merangkulnya. Jangankan merangkul, ia hanya melihatnya seakan ia tidak melihat apa-apa. Padahal ia ingin sekali mengatakan, aku mencintaimu, aku menyayangimu seumur hidupku.
Menurutmu, jika aku memberimu waktu untuk berpikir, siapakah barang berharga yang kumaksud? Jika kau berhasil menjawabnya, maka kau benar-benar mengerti dan memahami apa maksudku dan diriku.
Kini apa kau mengerti menagapa aku begitu membenci ayahku dan terkadang ingin ia menghilang...’
Kulipat kertas itu dengan tangan bergetar. Sesak.
Tiit..tiitt..tiiittt… HP-ku berbunyi. 1 massage received. Dari Sasa.
* * * *
Bekasi, 16 Mei 2005
saat ia mengeong
SMA Afteresempe. Aku menginjakkan kakiku di kelas tercinta. Wuah…masih sepi… Kulirik tangan kiriku. Ya ampun…! Aku nggak pake jam tangan! Lalu lirikan mata aku arahkan ke jam dinding. Masya Allah…nggak ada juga! Bodo ah, mau jam berapa kek sekarang, yang jelas sekarang tuh udah lumayan siang. Aku pikir aku terlambat, taunya di kelas baru ada lima kepala (plus badan tentunya…).
Aku berjalan menuju tempat duduk. Di sana udah ada Isya. Aku terkikik melihatnya sedang menghafal sosiologi. Abis cara ngafalinnya lucu. Matanya merem melek, trus tangannya goyang-goyang, untung kepalanya nggak ikutan geleng-geleng, hi..hi..
“Assalamualaikum, Isya…” sapaku.
“Waalaikumsalam…” jawabnya. Lalu kembali menekuni hafalannya. Aku pun membuka catatan sosiologi dan mulai menghafal.
Teng…! Suara lonceng, klasik terdengar. Jam 06.45. Waktunya imtaq sampe jam 07.00. Petugas imtaq masuk. Kak Faldi.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh…” sapanya. Anak-anak koor menjawab.
“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan berjuta nikmat kepada kita semua, sehingga kita masih bisa merasakan sinar matahari pagi ini dan bisa bertemu, berkumpul, saling menyapa dengan teman-teman. Shalawat serta salam juga sudah seharusnya kita sampaikan kepada Rasulullah saw. karena telah mengenalkan Allah kepada dunia. Imtaq kali ini saya mau ngomongin tentang seekor hewan. Mmm…antum tau kucing?” tanyanya retoris. Bisik-bisik di belakangku terdengar.
“Kucing itu yang buat ngedenger ‘kan?” Kuping kali…
“Bukan, kucing itu kalo sakit kepala.” Itu pusing.
“Ngaco lo…kucing itu nama warna.” Ih, itu mah kuning…
“Eh, gue kasih tau, ya, kucing itu yang bulet-bulet yang ada di baju.” Grrh…
“Heh, bisa diem nggak sih lo berdua? Gue bilangin ya, kucing itu yang mengembik…! Puas lo?!” Isya menegur Ahmad dan Faris yang dari tadi bisik-bisik. Tentunya teguran Isya dengan bisik-bisik juga.
“Nah…itu dia jawabannya… Tuh, denger, Ris, Isya aja tau…” kata Ahmad. Aku terkikik. Isya menggeram kesal.
Kak Faldi meneruskan imtaqnya. Aku tidak begitu jelas mendengarkan. Sibuk ngapalin sosiologi. Abis, dua kali ulangan kena her terus. Sedikit yang aku tangkap, bahwa kucing adalah hewan kesayangan Rasul. Bahkan ada sahabat yang dipanggil Abu Hurairah oleh Rasul, yang artinya Bapak Kucing Kecil. Selebihnya, yang aku ingat adalah faktor-faktor yang menentukan kepribadian, pengertian pembentukan kepribadian menurut Theodore M. Newcomb, contoh pembentukan kepribadian, dan doa supaya ulangan sosiologiku berjalan dengan lancar…
* * *
“Kucingku sakit nih, Fa.” kata Isya. Isya itu suka sama kucing. Ia memelihara 6 ekor kucing di rumahnya. Nggak repot apa, ya?
“Sakit apa?”
“Nggak tau, kemaren dia batuk-batuk sama bersin-bersin gitu deh…”
“Di bawa ke dokter nggak?”
“Nggak ada dokter hewan di deket rumah.”
“Dokter biasa aja…”
“Ih…ngaco!”
“He..he.. Trus gimana dong?”
“Aku kasih Biogesic…”
“Hah…?! Astaghfirullah…kucing kamu kasih Biogesic? Nggak keracunan tuh kucing?”
“Ngg…nggak juga sih…udah biasa kok. Biogesicnya diancurin dulu, dijadiin puyer, baru diminumin…”
“Ya ampun…Isya…”
* * *
Sebelumnya aku tidak begitu peduli dengan hewan yang satu ini. Tapi sekarang aku mulai memikirkan hal-hal tentang hewan ini.
Kemarin aku shalat Ashar di masjid sekolah. Biasalah…ada rapat. Jadi pulangnya sore.
Hijab hijau yang membatasi ikhwan-akhwat terbuka sedikit. Memperlihatkan sesuatu yang agak membuatku berdebar. Wah…jangan mikir yang macem-macem dulu… Bukan ikhwan kok yang aku liat, tapi seekor kucing yang lagi pe-we (posisi wenak) tidur di bawah kursi yang biasa diduduki oleh Pak Burhan kalo lagi ngajar TPA.
Hm…sebenarnya tidak terlalu istimewa, mungkin. Tapi itu membuat aku sedikit tersentak. Subhanallah…apakah kucing itu hewan yang paling diistimewakan? Di samping predikatnya sebagai hewan kesayangan Rasul. Hewan mana yang boleh atau tepatnya dibiarkan untuk memasuki masjid, selain cicak, kecoa, nyamuk, dkk tentunya.
Nggak bermaksud untuk menjelek-jelekkan atau pilih kasih terhadap hewan lain nih… Coba kalau ayam, pasti langsung diusir. Anjing, uh…innalillahi deh… Macan (yang mirip-mirip sama kucing), pasti kitanya yang lari duluan sebelum sempat untuk ngusir.
Bahkan menurut cerita yang pernah aku dengar, Rasul membiarkan seekor kucing yang sedang tidur di atas sajadahnya. Wah…enak banget… Jadi ngiri deh sama tuh kucing…
Itulah…seakan-akan kucing seperti hewan yang terhormat kedudukannya di antara hewan lain.
Beberapa hari ini ada tamu tak diundang masuk ke kelasku. Si ‘Slonong-boy’ itu (eh, boy apa girl, ya…?) suka masuk ke kelas tanpa permisi bahkan assalamualaikum sekalipun. Ya…nggak papa sih, dimaklumin. Kalo dia ngucapin salam mungkin malah justru suasananya jadi horror. Lha wong dia itu kucing!
Masih kecil. Lucu. Bulunya coklat kekuningan. Sedikit kurus, tapi. Dan yang pasti, nggak jelas asal usulnya. Nggak punya KTP sih…jadi susah deh mengidentifikasinya. Pertama kali kelas dikejutkan oleh teriakan histeris Anggi saat pelajaran Geografi. Lagi ulangan pula. So pasti anak-anak pada kaget. Konsentarasinya buyar. Iya lah, pas lagi asyik-asyiknya nyontek and ngebet…
“Ada apa, Anggi? Ada masalah?” tanya Bu Rifa. Anggi menggeleng. Telunjuknya mengarah pada makhluk Allah yang berbulu itu.
Anak-anak memaklumi. Anggi emang phobia sama kucing. Membuat pencinta kucing terheran-heran. Hewan imut gitu kok ditakutin…?
“Lucu, ya, kucingnya…” kataku sambil mengelus-elus kucing itu.
“Nggak ah…jelek. Kurus begitu…” kata Isya. Wah…tumben dia ngejek kucing. Ternyata biarpun pencinta kucing, Isya ini tetep milih-milih juga…
“Awas, Tifa… kucing membawa sporozoa di tubuhnya. Namanya Toksoplasma gondii. Penyakitnya namanya toksoplasmosis. Bisa ngegugurin janin yang dikandung ibu hamil…” kata Anggi sambil bisik-bisik. Mungkin takut kedengeran sama KFC (Kucing Fans Club).
“Tapi aku ‘kan nggak lagi hamil, Nggi…” kataku sambil tersenyum.
“Cuma ngingetin…” kata Anggi masih sambil bisik-bisik.
Lambat laun kami membiarkan anak kucing itu keluar masuk kelas sesukanya. Asal nggak pada jam istirahat aja. Soalnya kita semua lagi pada makan. Apalagi kalo makannya sama ayam, eh, maksudnya lauknya dengan ayam. Wah…bisa saingan sama kucing. Kayak tadi, Halim sama Faris lagi makan. Dengan sigap kucing itu melompat ke kursi, lalu ke atas meja mendekati mereka. Berkali-kali Irfan mencoba mengeluarkan kucing itu, tapi dia balik lagi. Dan dengan tega Halim menunjukkan dasar sepatunya tepat di depan wajah kucing itu. Untung tuh kucing nggak pingsan nyium sepatunya Halim. Tapi akhirnya ia memberikan sepotong daging ayam bagian sayap kepada kucing itu. Faris ngedumel.
“Pilih kasih lo! Tadi gua minta tuh ayam nggak dikasih. Sekarang malah lo kasih sama kucing dengan cuma-cuma…”
“Kalo mau, rebutan gih sana sama tuh kucing. Kalo lo jantan, hadepin sendiri… Sama anak kucing aja ngiri…”
Ngeliat kucing itu, aku jadi inget Sruntul. Dulu, waktu rumahku belum direnovasi, ada seekor kucing yang suka keluar masuk rumah. Masuk lewat pintu depan, keluar lewat halaman belakang. Lucunya, kucing itu ‘cuek beybeh’ kalo masuk rumahku. Karena nggak ngegratak, jadi kami biarin aja. Dikasih nama Sruntul oleh ayah, ya, itu tadi. Ceuk urang Sunda mah, suka nyruntul…
Sekarang udah nggak keliatan lagi. Kata ibu, mungkin akibat rumah direnovasi. Jadi Sruntul keder mau lewat mana dia keluar.
* * *
Hari Rabu. Habis istirahat pertama.
Lonceng tanda istirahat selesai berbunyi 10 second yang lalu. Tapi anak-anak di kelasku sudah siap di tempatnya masing-masing. Buku fisika yang tebelnya 419 halaman ready di atas meja. Menunggu empunya membuka.
Sekarang pelajaran fisika. Pelajaran anggota mafia (Tau ‘kan…? Matematika, fisika, kimia…) ini emang bagaikan hantu. Menakutkan. Ditambah lagi gurunya yang sama sekali nggak mendukung. Maksudnya, udah pelajarannya syerem, yang ngajarinnya juga syerem. Aku sempat berpikir, kayaknya cuma pada saat pelajaran fisika aja deh kelasku bisa menjadi hening. Bahkan, mau menggerakkan badan sedikiiit…aja, nggak berani. Wah…hiperbol, ya?
Pak Wira masuk ke kelas. Anak-anak lebih suka memanggilnya Pe-We (singkatan dari Pak Wira). Beberapa orang menahan napas. Sebenarnya Pak Wira ini baik. Kalau di luar kelas enak diajak ngobrol. Lucu dan santai. Tapi kalau udah masuk kelas, wuih…jangan coba-coba.
Pelajaran berlangsung seperti biasa. Pak Wira berdiri di pintu menunggu muridnya mencatat. Tiba-tiba terdengar sedikit gaduh di belakang. Aku menoleh. Oh…ternyata cuma kucing. Anak-anak kembali tenang. Dengan santai kucing itu melenggok menuju depan kelas. Lalu berjalan menuju pintu. Tanpa disangka tanpa diduga, Pak Wira mengambil kucing itu dan…tuiing…kucing itu mendarat dengan –tidak- selamat di atas rumput. Terdengar pekikan kecil. Ada beberapa juga yang menutup wajahnya.
Aku bengong. Sadis. Pak Wira menendang kucing itu dengan sangat sempurna…! Aku terus beristighfar dalam hati. Sungguh teganya…
Besoknya ada tebak-tebakkan di kelasku.
“Kucing apa yang bisa terbang…?”
“Kucing yang ditendang Pe-We…!!!”
Aku geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Hi..hi..ada-ada aja…
* * *
Ada satu hal yang berhubungan dengan kucing dan mungkin nggak akan pernah aku lupakan.
Kisah ini dimulai saat aku SMP. Kamarku terletak di atas. Di sebelahnya tempat jemuran dan atap rumah tetangga. Aku tahu, di atap rumah tetanggaku itu ada sebuah keluarga bahagia yang terdiri dari seekor ibu kucing dan lima anaknya yang manis-manis dan lucu-lucu. Kalo aku pikir, kayaknya sih ibu kucing itu nggak KB. Soalnya aku perhatiin, tiap bulan pasti ngelahirin anak.
Nah, ceritanya…aku mau mengabadikan keluarga bahagia itu dengan kamera yang aku punya. Pas aku mengendap-endap bak paparazzi, kebetulan banget ibu kucing itu lagi ngasih ASIK (Air Susu Ibu Kucing) sama anak-anaknya. Nggak semuanya sih, soalnya ada beberapa yang main-main.
Aku sempat terkesima juga. Keluarga yang harmonis…
Aku membidikkan kamera dan…JEPRET! Ibu kucing itu nengok, dan…menyeringai! Padahal aku yakin blitznya nggak dinyalain. Ngeliat itu, jantungku berdetak delapan belas kali lebih cepat. Aku segera masuk kamar. Kukunci pintu dan jendela seolah aku adalah buronan yang sedang dikejar dua ratus polisi. Aku beristghfar dalam hati. Kakiku lemas. Kuintip jendela, masya Allah…ibu kucing itu mencariku! Ia celingak-celinguk dengan wajahnya yang penuh amarah dan suara mengeong yang terdengar begitu menyeramkan di telingaku.
Aku menenangkan diri dengan menonton TV. Aku nggak tau, kok ibu kucing itu sebegitu marahnya, ya? Aku salah apa…?
Aku masih mendengar ia mengeong. Kok kayaknya begitu dekat, ya? Aku menajamkan telingaku. Iya, kayaknya ibu kucing itu masih mencariku. Kalo nyari aku buat minta klise fotonya sih nggak papa (siapa tau buat dipajang di rumahnya…), tapi kalo buat menerkamku? Hi…nggak banget deh…
Aduh, gimana nih, suara itu semakin dekat. Aku mengalihkan pandanganku ke teralis jendela dekat kamar mandi. Innalillahi…kepala ibu kucing itu nongol di antara teralis sambil menyeringai! Aku langsung menutup pintu yang membatasi kamarku dengan kamar mandi. Allah…aku benar-benar takut pada saat itu. Aku takut kucing itu melompat dan menerkamku. Kalo kucing marah ‘kan nggak bisa diajak kompromi…
Kubuka pintu itu sedikit. Ia masih di sana…!
“Ibu kucing…maap deh… Tifa ‘kan nggak bermaksud mencelakakan ibu dan anak ibu… Tifa cuma ngambil foto kalian. Tifa nggak bermaksud ngagetin kalian…sungguh! Ibu kucing jangan marah, ya… Tifa minta maaf… Allah…tolong Tifa dong… Ibu kucing jangan nyakar Tifa… Maaf, ya…” aku menatap ibu kucing itu sambil memelas minta dikasihani. Nggak peduli dia ngerti apa nggak. Kemudian aku lari ke bawah. Kututup pintu depan. Takut kalo kucing itu masuk lewat sana.
“Ada apa, sih, De…?” Tanya Tante Ella. Mungkin bingung ngeliat sikapku seperti orang ketakutan. Aku menceritakan kejadiannya kepada Tante Ella. Eh, bukannya kasihan, malah tertawa.
“Makanya…jangan iseng sama kucing…”
“Tifa nggak iseng kok. Cuma ada misunderstanding aja antara aku sama ibu kucing itu…” kataku masih dengan lutut yang gemetar. Tante Ella tertawa. Huh…coba kalo ngalamin sendiri. Dan ketakutan itu berlangsung selama…dua minggu!
Hii…serem nggak sih? Seolah bayangan ibu kucing yang marah itu selalu menghantuiku.
“Udah…kirimin aja pengalaman kamu itu ke produser film. Biar dijadiin film horror. Ceritanya tentang orang yang selalu dikejar-kejar kucing yang menyeramkan, trus kucing itu menemukannya dan menjadikannya korban…” kata ibu sambil tertawa. Ih…nggak lucu deh… Tapi boljug tuh…siapa tau diterima trus dapet honor, he..he.. Sukur-sukur ditawarin jadi pemain. Tapi, uh…no way…!
Satu yang dapat aku ambil dari kejadian itu. Bahwa sosok ibu, entah manusia entah hewan, adalah sama: melindungi buah hatinya. Ibu kucing itu begitu marah melihatku ‘melakukan sesuatu’ kepada mereka. Ia pikir, perbuatanku itu menganggunya dan membahayakan anaknya. Tidak salah memang. Karena itulah ibu. Rasa sayang kepada anaknya membuat ia rela melakukan apa saja dan berkorban demi buah hatinya.
Aku ingat pepatah: sebuas-buasnya harimau, tidak akan memakan anaknya sendiri. Lalu aku pun memikirkan ‘para ibu’ yang tega menggugurkan anaknya, atau lebih parahnya, membunuh. Tidakkah mereka memiliki perasaan? Dapatkah aku menyamainya dengan seekor kucing? Bahkan seharusnya tidak. Karena seekor ibu kucing pun memiliki nurani. Lalu, salahkah aku bila menganggap mereka lebih rendah dari kucing?
Entahlah…yang jelas, sosok kucing sedang menyita perhatianku. Kucing yang selalu merasa bersalah bila dimarahi gara-gara mencuri ikan. Kucing yang selalu manja minta dielus. Kucing yang tidak pernah cidera walau ia melompat dari tingkat tiga. Kucing yang kadang-kadang suka bandel mencuri makanan. Kucing yang suka usil sekaligus bodoh kayak Tom di film khayal Tom & Jerry. Kucing yang nggak pernah muda karena sejak lahir udah tumbuh kumis di hidungnya, he..he..
Dan aku penasaran dengan kisah Abu Hurairah itu. Aku juga penasaran, kenapa kucing mengeong dan takut air, ya…?
* * * *
3 Mei ‘04
Jazakillah bwt irman smansasi, kansas, heavener’s. Tetap semangat…!!!
Aku berjalan menuju tempat duduk. Di sana udah ada Isya. Aku terkikik melihatnya sedang menghafal sosiologi. Abis cara ngafalinnya lucu. Matanya merem melek, trus tangannya goyang-goyang, untung kepalanya nggak ikutan geleng-geleng, hi..hi..
“Assalamualaikum, Isya…” sapaku.
“Waalaikumsalam…” jawabnya. Lalu kembali menekuni hafalannya. Aku pun membuka catatan sosiologi dan mulai menghafal.
Teng…! Suara lonceng, klasik terdengar. Jam 06.45. Waktunya imtaq sampe jam 07.00. Petugas imtaq masuk. Kak Faldi.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh…” sapanya. Anak-anak koor menjawab.
“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan berjuta nikmat kepada kita semua, sehingga kita masih bisa merasakan sinar matahari pagi ini dan bisa bertemu, berkumpul, saling menyapa dengan teman-teman. Shalawat serta salam juga sudah seharusnya kita sampaikan kepada Rasulullah saw. karena telah mengenalkan Allah kepada dunia. Imtaq kali ini saya mau ngomongin tentang seekor hewan. Mmm…antum tau kucing?” tanyanya retoris. Bisik-bisik di belakangku terdengar.
“Kucing itu yang buat ngedenger ‘kan?” Kuping kali…
“Bukan, kucing itu kalo sakit kepala.” Itu pusing.
“Ngaco lo…kucing itu nama warna.” Ih, itu mah kuning…
“Eh, gue kasih tau, ya, kucing itu yang bulet-bulet yang ada di baju.” Grrh…
“Heh, bisa diem nggak sih lo berdua? Gue bilangin ya, kucing itu yang mengembik…! Puas lo?!” Isya menegur Ahmad dan Faris yang dari tadi bisik-bisik. Tentunya teguran Isya dengan bisik-bisik juga.
“Nah…itu dia jawabannya… Tuh, denger, Ris, Isya aja tau…” kata Ahmad. Aku terkikik. Isya menggeram kesal.
Kak Faldi meneruskan imtaqnya. Aku tidak begitu jelas mendengarkan. Sibuk ngapalin sosiologi. Abis, dua kali ulangan kena her terus. Sedikit yang aku tangkap, bahwa kucing adalah hewan kesayangan Rasul. Bahkan ada sahabat yang dipanggil Abu Hurairah oleh Rasul, yang artinya Bapak Kucing Kecil. Selebihnya, yang aku ingat adalah faktor-faktor yang menentukan kepribadian, pengertian pembentukan kepribadian menurut Theodore M. Newcomb, contoh pembentukan kepribadian, dan doa supaya ulangan sosiologiku berjalan dengan lancar…
* * *
“Kucingku sakit nih, Fa.” kata Isya. Isya itu suka sama kucing. Ia memelihara 6 ekor kucing di rumahnya. Nggak repot apa, ya?
“Sakit apa?”
“Nggak tau, kemaren dia batuk-batuk sama bersin-bersin gitu deh…”
“Di bawa ke dokter nggak?”
“Nggak ada dokter hewan di deket rumah.”
“Dokter biasa aja…”
“Ih…ngaco!”
“He..he.. Trus gimana dong?”
“Aku kasih Biogesic…”
“Hah…?! Astaghfirullah…kucing kamu kasih Biogesic? Nggak keracunan tuh kucing?”
“Ngg…nggak juga sih…udah biasa kok. Biogesicnya diancurin dulu, dijadiin puyer, baru diminumin…”
“Ya ampun…Isya…”
* * *
Sebelumnya aku tidak begitu peduli dengan hewan yang satu ini. Tapi sekarang aku mulai memikirkan hal-hal tentang hewan ini.
Kemarin aku shalat Ashar di masjid sekolah. Biasalah…ada rapat. Jadi pulangnya sore.
Hijab hijau yang membatasi ikhwan-akhwat terbuka sedikit. Memperlihatkan sesuatu yang agak membuatku berdebar. Wah…jangan mikir yang macem-macem dulu… Bukan ikhwan kok yang aku liat, tapi seekor kucing yang lagi pe-we (posisi wenak) tidur di bawah kursi yang biasa diduduki oleh Pak Burhan kalo lagi ngajar TPA.
Hm…sebenarnya tidak terlalu istimewa, mungkin. Tapi itu membuat aku sedikit tersentak. Subhanallah…apakah kucing itu hewan yang paling diistimewakan? Di samping predikatnya sebagai hewan kesayangan Rasul. Hewan mana yang boleh atau tepatnya dibiarkan untuk memasuki masjid, selain cicak, kecoa, nyamuk, dkk tentunya.
Nggak bermaksud untuk menjelek-jelekkan atau pilih kasih terhadap hewan lain nih… Coba kalau ayam, pasti langsung diusir. Anjing, uh…innalillahi deh… Macan (yang mirip-mirip sama kucing), pasti kitanya yang lari duluan sebelum sempat untuk ngusir.
Bahkan menurut cerita yang pernah aku dengar, Rasul membiarkan seekor kucing yang sedang tidur di atas sajadahnya. Wah…enak banget… Jadi ngiri deh sama tuh kucing…
Itulah…seakan-akan kucing seperti hewan yang terhormat kedudukannya di antara hewan lain.
Beberapa hari ini ada tamu tak diundang masuk ke kelasku. Si ‘Slonong-boy’ itu (eh, boy apa girl, ya…?) suka masuk ke kelas tanpa permisi bahkan assalamualaikum sekalipun. Ya…nggak papa sih, dimaklumin. Kalo dia ngucapin salam mungkin malah justru suasananya jadi horror. Lha wong dia itu kucing!
Masih kecil. Lucu. Bulunya coklat kekuningan. Sedikit kurus, tapi. Dan yang pasti, nggak jelas asal usulnya. Nggak punya KTP sih…jadi susah deh mengidentifikasinya. Pertama kali kelas dikejutkan oleh teriakan histeris Anggi saat pelajaran Geografi. Lagi ulangan pula. So pasti anak-anak pada kaget. Konsentarasinya buyar. Iya lah, pas lagi asyik-asyiknya nyontek and ngebet…
“Ada apa, Anggi? Ada masalah?” tanya Bu Rifa. Anggi menggeleng. Telunjuknya mengarah pada makhluk Allah yang berbulu itu.
Anak-anak memaklumi. Anggi emang phobia sama kucing. Membuat pencinta kucing terheran-heran. Hewan imut gitu kok ditakutin…?
“Lucu, ya, kucingnya…” kataku sambil mengelus-elus kucing itu.
“Nggak ah…jelek. Kurus begitu…” kata Isya. Wah…tumben dia ngejek kucing. Ternyata biarpun pencinta kucing, Isya ini tetep milih-milih juga…
“Awas, Tifa… kucing membawa sporozoa di tubuhnya. Namanya Toksoplasma gondii. Penyakitnya namanya toksoplasmosis. Bisa ngegugurin janin yang dikandung ibu hamil…” kata Anggi sambil bisik-bisik. Mungkin takut kedengeran sama KFC (Kucing Fans Club).
“Tapi aku ‘kan nggak lagi hamil, Nggi…” kataku sambil tersenyum.
“Cuma ngingetin…” kata Anggi masih sambil bisik-bisik.
Lambat laun kami membiarkan anak kucing itu keluar masuk kelas sesukanya. Asal nggak pada jam istirahat aja. Soalnya kita semua lagi pada makan. Apalagi kalo makannya sama ayam, eh, maksudnya lauknya dengan ayam. Wah…bisa saingan sama kucing. Kayak tadi, Halim sama Faris lagi makan. Dengan sigap kucing itu melompat ke kursi, lalu ke atas meja mendekati mereka. Berkali-kali Irfan mencoba mengeluarkan kucing itu, tapi dia balik lagi. Dan dengan tega Halim menunjukkan dasar sepatunya tepat di depan wajah kucing itu. Untung tuh kucing nggak pingsan nyium sepatunya Halim. Tapi akhirnya ia memberikan sepotong daging ayam bagian sayap kepada kucing itu. Faris ngedumel.
“Pilih kasih lo! Tadi gua minta tuh ayam nggak dikasih. Sekarang malah lo kasih sama kucing dengan cuma-cuma…”
“Kalo mau, rebutan gih sana sama tuh kucing. Kalo lo jantan, hadepin sendiri… Sama anak kucing aja ngiri…”
Ngeliat kucing itu, aku jadi inget Sruntul. Dulu, waktu rumahku belum direnovasi, ada seekor kucing yang suka keluar masuk rumah. Masuk lewat pintu depan, keluar lewat halaman belakang. Lucunya, kucing itu ‘cuek beybeh’ kalo masuk rumahku. Karena nggak ngegratak, jadi kami biarin aja. Dikasih nama Sruntul oleh ayah, ya, itu tadi. Ceuk urang Sunda mah, suka nyruntul…
Sekarang udah nggak keliatan lagi. Kata ibu, mungkin akibat rumah direnovasi. Jadi Sruntul keder mau lewat mana dia keluar.
* * *
Hari Rabu. Habis istirahat pertama.
Lonceng tanda istirahat selesai berbunyi 10 second yang lalu. Tapi anak-anak di kelasku sudah siap di tempatnya masing-masing. Buku fisika yang tebelnya 419 halaman ready di atas meja. Menunggu empunya membuka.
Sekarang pelajaran fisika. Pelajaran anggota mafia (Tau ‘kan…? Matematika, fisika, kimia…) ini emang bagaikan hantu. Menakutkan. Ditambah lagi gurunya yang sama sekali nggak mendukung. Maksudnya, udah pelajarannya syerem, yang ngajarinnya juga syerem. Aku sempat berpikir, kayaknya cuma pada saat pelajaran fisika aja deh kelasku bisa menjadi hening. Bahkan, mau menggerakkan badan sedikiiit…aja, nggak berani. Wah…hiperbol, ya?
Pak Wira masuk ke kelas. Anak-anak lebih suka memanggilnya Pe-We (singkatan dari Pak Wira). Beberapa orang menahan napas. Sebenarnya Pak Wira ini baik. Kalau di luar kelas enak diajak ngobrol. Lucu dan santai. Tapi kalau udah masuk kelas, wuih…jangan coba-coba.
Pelajaran berlangsung seperti biasa. Pak Wira berdiri di pintu menunggu muridnya mencatat. Tiba-tiba terdengar sedikit gaduh di belakang. Aku menoleh. Oh…ternyata cuma kucing. Anak-anak kembali tenang. Dengan santai kucing itu melenggok menuju depan kelas. Lalu berjalan menuju pintu. Tanpa disangka tanpa diduga, Pak Wira mengambil kucing itu dan…tuiing…kucing itu mendarat dengan –tidak- selamat di atas rumput. Terdengar pekikan kecil. Ada beberapa juga yang menutup wajahnya.
Aku bengong. Sadis. Pak Wira menendang kucing itu dengan sangat sempurna…! Aku terus beristighfar dalam hati. Sungguh teganya…
Besoknya ada tebak-tebakkan di kelasku.
“Kucing apa yang bisa terbang…?”
“Kucing yang ditendang Pe-We…!!!”
Aku geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Hi..hi..ada-ada aja…
* * *
Ada satu hal yang berhubungan dengan kucing dan mungkin nggak akan pernah aku lupakan.
Kisah ini dimulai saat aku SMP. Kamarku terletak di atas. Di sebelahnya tempat jemuran dan atap rumah tetangga. Aku tahu, di atap rumah tetanggaku itu ada sebuah keluarga bahagia yang terdiri dari seekor ibu kucing dan lima anaknya yang manis-manis dan lucu-lucu. Kalo aku pikir, kayaknya sih ibu kucing itu nggak KB. Soalnya aku perhatiin, tiap bulan pasti ngelahirin anak.
Nah, ceritanya…aku mau mengabadikan keluarga bahagia itu dengan kamera yang aku punya. Pas aku mengendap-endap bak paparazzi, kebetulan banget ibu kucing itu lagi ngasih ASIK (Air Susu Ibu Kucing) sama anak-anaknya. Nggak semuanya sih, soalnya ada beberapa yang main-main.
Aku sempat terkesima juga. Keluarga yang harmonis…
Aku membidikkan kamera dan…JEPRET! Ibu kucing itu nengok, dan…menyeringai! Padahal aku yakin blitznya nggak dinyalain. Ngeliat itu, jantungku berdetak delapan belas kali lebih cepat. Aku segera masuk kamar. Kukunci pintu dan jendela seolah aku adalah buronan yang sedang dikejar dua ratus polisi. Aku beristghfar dalam hati. Kakiku lemas. Kuintip jendela, masya Allah…ibu kucing itu mencariku! Ia celingak-celinguk dengan wajahnya yang penuh amarah dan suara mengeong yang terdengar begitu menyeramkan di telingaku.
Aku menenangkan diri dengan menonton TV. Aku nggak tau, kok ibu kucing itu sebegitu marahnya, ya? Aku salah apa…?
Aku masih mendengar ia mengeong. Kok kayaknya begitu dekat, ya? Aku menajamkan telingaku. Iya, kayaknya ibu kucing itu masih mencariku. Kalo nyari aku buat minta klise fotonya sih nggak papa (siapa tau buat dipajang di rumahnya…), tapi kalo buat menerkamku? Hi…nggak banget deh…
Aduh, gimana nih, suara itu semakin dekat. Aku mengalihkan pandanganku ke teralis jendela dekat kamar mandi. Innalillahi…kepala ibu kucing itu nongol di antara teralis sambil menyeringai! Aku langsung menutup pintu yang membatasi kamarku dengan kamar mandi. Allah…aku benar-benar takut pada saat itu. Aku takut kucing itu melompat dan menerkamku. Kalo kucing marah ‘kan nggak bisa diajak kompromi…
Kubuka pintu itu sedikit. Ia masih di sana…!
“Ibu kucing…maap deh… Tifa ‘kan nggak bermaksud mencelakakan ibu dan anak ibu… Tifa cuma ngambil foto kalian. Tifa nggak bermaksud ngagetin kalian…sungguh! Ibu kucing jangan marah, ya… Tifa minta maaf… Allah…tolong Tifa dong… Ibu kucing jangan nyakar Tifa… Maaf, ya…” aku menatap ibu kucing itu sambil memelas minta dikasihani. Nggak peduli dia ngerti apa nggak. Kemudian aku lari ke bawah. Kututup pintu depan. Takut kalo kucing itu masuk lewat sana.
“Ada apa, sih, De…?” Tanya Tante Ella. Mungkin bingung ngeliat sikapku seperti orang ketakutan. Aku menceritakan kejadiannya kepada Tante Ella. Eh, bukannya kasihan, malah tertawa.
“Makanya…jangan iseng sama kucing…”
“Tifa nggak iseng kok. Cuma ada misunderstanding aja antara aku sama ibu kucing itu…” kataku masih dengan lutut yang gemetar. Tante Ella tertawa. Huh…coba kalo ngalamin sendiri. Dan ketakutan itu berlangsung selama…dua minggu!
Hii…serem nggak sih? Seolah bayangan ibu kucing yang marah itu selalu menghantuiku.
“Udah…kirimin aja pengalaman kamu itu ke produser film. Biar dijadiin film horror. Ceritanya tentang orang yang selalu dikejar-kejar kucing yang menyeramkan, trus kucing itu menemukannya dan menjadikannya korban…” kata ibu sambil tertawa. Ih…nggak lucu deh… Tapi boljug tuh…siapa tau diterima trus dapet honor, he..he.. Sukur-sukur ditawarin jadi pemain. Tapi, uh…no way…!
Satu yang dapat aku ambil dari kejadian itu. Bahwa sosok ibu, entah manusia entah hewan, adalah sama: melindungi buah hatinya. Ibu kucing itu begitu marah melihatku ‘melakukan sesuatu’ kepada mereka. Ia pikir, perbuatanku itu menganggunya dan membahayakan anaknya. Tidak salah memang. Karena itulah ibu. Rasa sayang kepada anaknya membuat ia rela melakukan apa saja dan berkorban demi buah hatinya.
Aku ingat pepatah: sebuas-buasnya harimau, tidak akan memakan anaknya sendiri. Lalu aku pun memikirkan ‘para ibu’ yang tega menggugurkan anaknya, atau lebih parahnya, membunuh. Tidakkah mereka memiliki perasaan? Dapatkah aku menyamainya dengan seekor kucing? Bahkan seharusnya tidak. Karena seekor ibu kucing pun memiliki nurani. Lalu, salahkah aku bila menganggap mereka lebih rendah dari kucing?
Entahlah…yang jelas, sosok kucing sedang menyita perhatianku. Kucing yang selalu merasa bersalah bila dimarahi gara-gara mencuri ikan. Kucing yang selalu manja minta dielus. Kucing yang tidak pernah cidera walau ia melompat dari tingkat tiga. Kucing yang kadang-kadang suka bandel mencuri makanan. Kucing yang suka usil sekaligus bodoh kayak Tom di film khayal Tom & Jerry. Kucing yang nggak pernah muda karena sejak lahir udah tumbuh kumis di hidungnya, he..he..
Dan aku penasaran dengan kisah Abu Hurairah itu. Aku juga penasaran, kenapa kucing mengeong dan takut air, ya…?
* * * *
3 Mei ‘04
Jazakillah bwt irman smansasi, kansas, heavener’s. Tetap semangat…!!!
berita angin
Langit biru bersih tanpa gumpalan awan memulai hari ini. Biasa orang-orang mengatakan hari yang cerah. Matahari tidak terlalu sering menampakkan wajahnya, sehingga suasana tidak terlalu panas. Angin pun ikut serta membuat hawa menjadi sejuk.
“Pagi ini sepertinya ramah sekali…” Bunga terompet berkata.
“Siapa?” tanya rumput tak mengerti.
“Semuanya. Dengar, burung-burung itu asik memainkan macam-macam lagu untuk kita. Kau lihat embun yang menetes di kelopak bungaku? Rasanya sejuk…sekali.”
“Ah, biasa saja. Hal itu kan selalu terjadi pada kita. Sebuah rutinitas. Apanya yang istimewa?” Rumput mencibir.
“Eh, Put. Kamu mestinya bersyukur…” tiba-tiba kupu-kupu yang hinggap di kelopak bunga terompet ikut bicara.
“Kita masih bisa hidup di dunia ini kan karena izin dari Allah. Masih untung kamu nggak dicabut sama Pak Amir buat makan kambing-kambingnya. Kayak temen-temen kamu kemaren.” Kata kupu-kupu sambil menghisap nektar dalam bunga sepatu. Bunga sepatu tersenyum.
Kemudian angin datang. Bunga-bunga selalu senang bila angin datang. Karena ia akan sangat membantu dalam proses penyerbukan bunga. Pohon juga senang. Hmm…sepertinya semua senang. Karena angin yang ramah ini biasanya datang dengan membawa kabar berita atau sekedar bercerita.
“Assalamualaikum, teman-teman…” sapanya lembut. Pohon beringin, bunga terompet, bunga melati, rumput, cacing, kupu-kupu, dan makhluk lain -selain manusia- di taman itu menjawab salam dari angin.
“Ada berita apa hari ini, Ngin?” tanya pohon beringin.
“Berita hangat! Dengarkan. Kisah Malin Kundang terulang lagi…!” kata angin heboh. Semua yang mendengarnya terperanjat. Bisik-bisik terdengar. Ada yang terpekik. Ada yang langsung menangis.
Siapapun tak ada yang tidak tahu kisah Malin Kundang. Anak durhaka yang akhirnya dikutuk menjadi batu oleh ibundanya. Dan apa tadi kata angin? Kisah Malin Kundang terulang kembali?
“Cepat, Ngin! Ceritakan pada kami!” cacing akhirnya bicara.
“Sebuah rumah di komplek sebelah. Seorang pria tergolek lemah di atas ranjangnya…”
“Apa dia sakit? Sakit keras? Lalu apa hubungannya dengan Malin Kundang?” tanya bunga melati tergesa-gesa.
“Sabarlah, Melati…Lebih baik biarkan angin menyelesaikan ceritanya sampai habis.” kata kupu-kupu. Lalu disetujui oleh yang lain.
“Ia sakit parah. Sangat parah. Malaikat pencabut nyawa, malaikat Izrail, sudah menarik ruhnya sampai ke leher. Namun, ruh itu belum bisa dikeluarkan…” beberapa terpekik kecil.
“Pasti rasanya sakit sekali…” gumam rumput.
“Sangat. Sangat sakit. Banyak orang sudah menuntunnya mengucapkan kalam Allah. Tapi malaikat maut itu tetap menahan ruhnya. Dan kalian tahu kenapa?” angin sengaja menghentikan kalimatnya.
“Ia pernah durhaka pada ibunya. Dan ibunya itu belum memaafkannya…” lanjut angin.
“Alqamah…Seperti kisah Alqamah saat zaman Rasulullah saw. …” kata batu. Semua beralih pada batu. Pun angin.
“Kakekku pernah bercerita tentang kisah itu. Kisah Alqamah yang durhaka pada ibunya, lalu tidak bisa menghembuskan nafasnya saat sakratulmaut. Akhirnya para sahabat datang ke rumah sang ibu agar beliau mau memberikan maaf pada Alqamah. Tapi sang ibu tak mau. Hatinya terlalu sakit untuk mampu memberikan maaf pada putra yang telah amat sangat mengecewakannya. Akhirnya Rasul berkata, apabila sang ibu tak mau memaafkan putranya, Alqamah akan dibakar. Agar ia lekas meninggal dan terlepas penderitaannya…”
“Terus, apa yang akhirnya terjadi…?!” tanya bunga terompet.
“Sabar…aku akan lanjutkan. Akhirnya sang ibu pun luluh dan mau memaafkan Alqamah. Ruh Alqamah pun terlepas dari raganya…” batu mengakhiri ceritanya.
“Persis. Seperti itulah yang terjadi pada pria di sebuah rumah komplek sebelah…” kata angin sendu. Semua terdiam. Bunga melati dan bunga terompet menangis. Alam pun seakan turut bersedih.
“Pernah dengar ayat Al Quran seperti ini: ridha Allah tergantung pada ridha orang tua…” ujar pohon.
“Mengapa masih saja ada anak yang berani durhaka pada ibunya…?” tanya bunga melati di tengah isak tangisnya.
“Tidakkah mereka ingat siapa yang melahirkannya dengan susah payah? Merawatnya? Mengasihinya?” ujar bunga terompet.
“Sampai-sampai Rasulullah mengatakan bahwa hormat pada ibu nilainya 3, baru kemudian ayah…” kata cacing.
“Aku tahu kisahnya! Saat sahabat bertanya, ‘siapa yang harus aku hormati?’ lalu Rasul menjawab ‘ibumu’ sahabat kembali bertanya ‘siapa lagi?’ ‘ibumu’ ‘lalu?’ ‘ibumu’ tiga kali Rasul mengatakan ‘ibumu’ kemudian sahabat bertanya lagi ‘lalu siapa lagi, ya, Rasul?’ dan Rasul pun menjawab ‘ayahmu’…” rumput bercerita.
Semua yang berada di sana tersenyum dan mengangguk. Angin telah membawa pelajaran untuk alam. Angin telah membawa hikmah. Angin membawa kisah. Juga bunga terompet, melati, rumput, pohon, cacing, kupu-kupu, dan batu.
Namun, adakah manusia mendengarnya…?
* * * *
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…”
adkhilni_151204
“Pagi ini sepertinya ramah sekali…” Bunga terompet berkata.
“Siapa?” tanya rumput tak mengerti.
“Semuanya. Dengar, burung-burung itu asik memainkan macam-macam lagu untuk kita. Kau lihat embun yang menetes di kelopak bungaku? Rasanya sejuk…sekali.”
“Ah, biasa saja. Hal itu kan selalu terjadi pada kita. Sebuah rutinitas. Apanya yang istimewa?” Rumput mencibir.
“Eh, Put. Kamu mestinya bersyukur…” tiba-tiba kupu-kupu yang hinggap di kelopak bunga terompet ikut bicara.
“Kita masih bisa hidup di dunia ini kan karena izin dari Allah. Masih untung kamu nggak dicabut sama Pak Amir buat makan kambing-kambingnya. Kayak temen-temen kamu kemaren.” Kata kupu-kupu sambil menghisap nektar dalam bunga sepatu. Bunga sepatu tersenyum.
Kemudian angin datang. Bunga-bunga selalu senang bila angin datang. Karena ia akan sangat membantu dalam proses penyerbukan bunga. Pohon juga senang. Hmm…sepertinya semua senang. Karena angin yang ramah ini biasanya datang dengan membawa kabar berita atau sekedar bercerita.
“Assalamualaikum, teman-teman…” sapanya lembut. Pohon beringin, bunga terompet, bunga melati, rumput, cacing, kupu-kupu, dan makhluk lain -selain manusia- di taman itu menjawab salam dari angin.
“Ada berita apa hari ini, Ngin?” tanya pohon beringin.
“Berita hangat! Dengarkan. Kisah Malin Kundang terulang lagi…!” kata angin heboh. Semua yang mendengarnya terperanjat. Bisik-bisik terdengar. Ada yang terpekik. Ada yang langsung menangis.
Siapapun tak ada yang tidak tahu kisah Malin Kundang. Anak durhaka yang akhirnya dikutuk menjadi batu oleh ibundanya. Dan apa tadi kata angin? Kisah Malin Kundang terulang kembali?
“Cepat, Ngin! Ceritakan pada kami!” cacing akhirnya bicara.
“Sebuah rumah di komplek sebelah. Seorang pria tergolek lemah di atas ranjangnya…”
“Apa dia sakit? Sakit keras? Lalu apa hubungannya dengan Malin Kundang?” tanya bunga melati tergesa-gesa.
“Sabarlah, Melati…Lebih baik biarkan angin menyelesaikan ceritanya sampai habis.” kata kupu-kupu. Lalu disetujui oleh yang lain.
“Ia sakit parah. Sangat parah. Malaikat pencabut nyawa, malaikat Izrail, sudah menarik ruhnya sampai ke leher. Namun, ruh itu belum bisa dikeluarkan…” beberapa terpekik kecil.
“Pasti rasanya sakit sekali…” gumam rumput.
“Sangat. Sangat sakit. Banyak orang sudah menuntunnya mengucapkan kalam Allah. Tapi malaikat maut itu tetap menahan ruhnya. Dan kalian tahu kenapa?” angin sengaja menghentikan kalimatnya.
“Ia pernah durhaka pada ibunya. Dan ibunya itu belum memaafkannya…” lanjut angin.
“Alqamah…Seperti kisah Alqamah saat zaman Rasulullah saw. …” kata batu. Semua beralih pada batu. Pun angin.
“Kakekku pernah bercerita tentang kisah itu. Kisah Alqamah yang durhaka pada ibunya, lalu tidak bisa menghembuskan nafasnya saat sakratulmaut. Akhirnya para sahabat datang ke rumah sang ibu agar beliau mau memberikan maaf pada Alqamah. Tapi sang ibu tak mau. Hatinya terlalu sakit untuk mampu memberikan maaf pada putra yang telah amat sangat mengecewakannya. Akhirnya Rasul berkata, apabila sang ibu tak mau memaafkan putranya, Alqamah akan dibakar. Agar ia lekas meninggal dan terlepas penderitaannya…”
“Terus, apa yang akhirnya terjadi…?!” tanya bunga terompet.
“Sabar…aku akan lanjutkan. Akhirnya sang ibu pun luluh dan mau memaafkan Alqamah. Ruh Alqamah pun terlepas dari raganya…” batu mengakhiri ceritanya.
“Persis. Seperti itulah yang terjadi pada pria di sebuah rumah komplek sebelah…” kata angin sendu. Semua terdiam. Bunga melati dan bunga terompet menangis. Alam pun seakan turut bersedih.
“Pernah dengar ayat Al Quran seperti ini: ridha Allah tergantung pada ridha orang tua…” ujar pohon.
“Mengapa masih saja ada anak yang berani durhaka pada ibunya…?” tanya bunga melati di tengah isak tangisnya.
“Tidakkah mereka ingat siapa yang melahirkannya dengan susah payah? Merawatnya? Mengasihinya?” ujar bunga terompet.
“Sampai-sampai Rasulullah mengatakan bahwa hormat pada ibu nilainya 3, baru kemudian ayah…” kata cacing.
“Aku tahu kisahnya! Saat sahabat bertanya, ‘siapa yang harus aku hormati?’ lalu Rasul menjawab ‘ibumu’ sahabat kembali bertanya ‘siapa lagi?’ ‘ibumu’ ‘lalu?’ ‘ibumu’ tiga kali Rasul mengatakan ‘ibumu’ kemudian sahabat bertanya lagi ‘lalu siapa lagi, ya, Rasul?’ dan Rasul pun menjawab ‘ayahmu’…” rumput bercerita.
Semua yang berada di sana tersenyum dan mengangguk. Angin telah membawa pelajaran untuk alam. Angin telah membawa hikmah. Angin membawa kisah. Juga bunga terompet, melati, rumput, pohon, cacing, kupu-kupu, dan batu.
Namun, adakah manusia mendengarnya…?
* * * *
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…”
adkhilni_151204
cinta pertama..
Sosok pria istimewa itu menemaniku selama kurang lebih 15 tahun. Memenuhi hari-hariku dengan cintanya. Menabur perhatian dan kasih sayang. Namun, tak jarang pula membumbuinya dengan teguran dan peringatan.
Sosok pria istimewa itu tak pernah pamrih melimpahkan cinta, perhatian, dan kesetiaannya.
Sosok pria istimewa itu terlalu istimewa untuk digantikan oleh siapapun…
Pertama kali menghirup oksigen dunia pada tanggal 3 Oktober 1959. Seperti layaknya anak desa, sebagian harinya dicurahkan untuk kambing-kambing tercinta. Lounge in the saung sambil memerhatikan dan menikmati suara kereta yang melintas. Pun merupakan suatu kebanggaan tersendiri ketika beliau turut membantu prosesi kelahiran salah satu kambingnya.
Lalu, akhirnya, kemudian.
Tanpa menduduki bangku perkuliahan setelah SLTA, beliau bekerja pada sebuah perusahaan milik Jepang yang terletak di kawasan industri Cakung, Jakarta Timur. Dan di sanalah beliau bertemu dengan wanita yang tak kalah istimewanya. Witing tresno jalaran soko kulino (eh, bener gak ya tulisannya…?). Begitu pepatah mengatakannya. Intensitas pertemuan yang tak bisa dikatakan jarang pun menanamkan simpati dan akhirnya menumbuhkan cinta pada keduanya. Dengan pedekate yang patut diacungkan jempol, pria istimewa itu berhasil merebut hati bukan hanya wanita istimewa itu, tetapi juga orang tua serta saudara-saudaranya.
Kedewasaan dan kerendahan hati pria itu lah yang membuat sang wanita akhirnya mencium khidmat punggung tangan sang pria setelah saksi berkata “Sah…!!” pada 9 Agustus 1987.
Bersama dengan ibunda tercinta, pria istimewa itu hidup dengan wanita yang telah menjadi muhrimnya di rumah BTN yang telah dibelinya. Tidak besar, tidak mewah, tapi lebih dari cukup untuk membangun sebuah keluarga yang insya Allah sakinah mawaddah warahmah.
Buah cinta yang mereka tumbuhkan dipetik pada 7 Mei 1988. Tangisnya membawa bahagia dan syukur tak terkira bagi sepasang insan istemewa itu. Adkhilni Utami, tercetaklah nama itu di akte kelahiran. ^^
Bapak. Begitulah seorang Adkhilni Utami memanggil pria istimewa itu.
Bapak bukan pahlawan nasional Indonesia, tapi Bapak mampu menjadi pahlawan dalam rumah kecil kami. Bapak bukan Ki Hajar Dewantara, tapi Bapak adalah guru dalam taman pendidikan keluarga kami. Bapak bukan pemeran Extravaganza, tapi Bapak mampu membentuk senyum dan tawa pada wajah kami. Bapak bukan Josh Groban yang selalu mendendangkan lagu-lagu cinta, tapi kami tak pernah ragu akan ketulusan kasih yang ia limpahkan…
Masih sangat lekat dalam ingatan hari-hariku bersamanya.
Nonton bulu tangkis dan piala dunia di TV dengan semangat ’45 yang kami punya. (Nonton cuma bertiga, ramenya berasa sekelurahan…).
Dibonceng naik sepeda mengitari Duren Jaya, Wisma Jaya, kemudian transit di penjual bubur ayam Proyek.
“Bapak bawa uang nggak?” tanyaku setelah bubur di mangkok tinggal separuh.
“Waduh…bawa nggak, ya?”
“Ya…gimana sih…? Kalo Bapak nggak bawa uang gimana…?”
“Hmm…tami ditinggal dulu di sini, Bapak pulang ambil uang…”
Aku diam. Jantungku berdegup tak karuan. Membayangkan aku dijadikan jaminan buat tukang bubur. Tapi akhirnya, dengan senyuman khas di bibir, Bapak mengeluarkan lembaran-lembaran yang aku tahu pasti itu adalah uang…!!!
Atau ketika aku diminta untuk mencabut rambut-rambut putih di kepalanya.
“Satu uban seribu, ya, Pak…”
“Iya…iya…”
Atau ketika sebuah suara, “Ad…jam enam…!!!” Kalau mata ini belum terbuka juga, maka suara langkah-langkah menaiki tangga mampu membuatku segera melompat dari tempat tidur kemudian menuju kamar mandi. Bahkan bekal makanku disiapkan sendiri olehnya. Bahkan kadang tangan itu yang menyuapiku pagi-pagi di saat aku sibuk menyiapakan buku, memakai sepatu, dan menunggu jemputan.
Atau ketika membantuku mengerjakan PR sambil tak bosan mengatakan “Ya toh…?” di setiap akhir penjelasannya.
Atau kumis di atas bibirnya yang kerap digosok-gosokkan ke tanganku sementara aku menjerit-jerit kegelian.
Atau ketika aku selalu balapan untuk sampai ke rumah setiap pulang tarawih.
Atau ketika Bapak terlihat sangat gagah dan tampan dengan jasnya saat harus pergi ditugaskan ke luar. Kemudian pulang dengan dorayaki sekotak. (Ya, ampun…ternyata dorayaki-nya Doraemon lebih manis dari ubi Cilembu…!!)
Atau ketika kali pertama aku melihat pria istimewa itu menangis. Menangis saat ibunda tercintanya, nenekku, harus pergi mendahuluinya.
Atau ketika aku mendorongnya di atas kursi roda untuk yang terakhir kalinya…
Januari 2003.
“Ut, Ibu di rumah sakit…Nggak ada apa-apa kok, cuma nganter Bapak berobat…”
Tapi mereka tidak pulang malam itu.
“Bapak harus dirawat kata dokter…Tapi tenang aja, Bapak nggak papa…Tami ke sininya besok aja, ya…” kata ibuku.
Saat besoknya aku ke rumah sakit bersama sahabatku, keadaannya ternyata jauh dari kata ‘nggak papa’. Berada dalam kondisi tidak sadarkan diri, dengan jarum infus yang menusuk kulitnya, Bapak terbaring sangat lemah tak berdaya. Dalam sejarah hidupku, Bapak tidak pernah sakit separah ini. Bahkan sampai detik itu pun aku tidak tahu apa penyakit yang dideritanya.
Sehari…dua hari…kondisi Bapak membaik. Tertawa, dan membuat orang tertawa. Lahap, ketika suapan bubur masuk ke mulutnya.
Namun, tidak sampai dua hari kondisinya tidak berangsur menjadi baik. Sebaliknya, hanya erangan dari mulutnya. Tak pernah menyadari kehadiranku dan orang-orang di sekelilingnya. Hepatitis B. Begitu katanya.
1 minggu…2 minggu…tak ada perubahan. Sampai akhirnya beliau mampu untuk duduk. Mampu untuk bicara, menyunggingkan senyum, bahkan mengangkat jempol tangannya ketika aku membawakan air dingin yang dimintanya.
Bahagia tak terkira saat mendorongnya di atas kursi roda. Mengitari koridor rumah sakit, berhenti sesaat di bawah hembusan dingin AC, membalas sapaan perawat-perawat yang tersenyum pada kami. Sambil sesekali Bapak berkata, “Jangan cepet-cepet dong, Ad…”
Senyumku mengembang. Bapak sembuh.
23 Februari 2003.
“Ut, Bapak…”
Yang kuingat, saat itu, sekelilingku menjadi gelap, terdengar orang di sekelilingku menangis, terdengar orang di sekelilingku berkata, “Sabar, ya, Ut…”
Aku masih tidak mengerti. Aku seperti linglung. Apa benar? Apa benar? Apa benar?
Aku mencintainya. Sangat. Tapi Dia lebih mencintainya. Apa dayaku ketika Dia harus mengambil kembali sesuatu yang dititipkan-Nya? Tak ada.
Sungguh. Aku merelakannya. Aku hanya rindu. Teramat merindukannya…
Segunung penyesalan karena tidak bisa membalas semua yang telah diberikannya…
Hanya doa…
Saudaraku, jangan kehilangan kesempatan…
Selama kau masih bersamanya…
Sungguh, sesal itu selalu di akhir…
^_^
26 Juni 2006
Sosok pria istimewa itu tak pernah pamrih melimpahkan cinta, perhatian, dan kesetiaannya.
Sosok pria istimewa itu terlalu istimewa untuk digantikan oleh siapapun…
Pertama kali menghirup oksigen dunia pada tanggal 3 Oktober 1959. Seperti layaknya anak desa, sebagian harinya dicurahkan untuk kambing-kambing tercinta. Lounge in the saung sambil memerhatikan dan menikmati suara kereta yang melintas. Pun merupakan suatu kebanggaan tersendiri ketika beliau turut membantu prosesi kelahiran salah satu kambingnya.
Lalu, akhirnya, kemudian.
Tanpa menduduki bangku perkuliahan setelah SLTA, beliau bekerja pada sebuah perusahaan milik Jepang yang terletak di kawasan industri Cakung, Jakarta Timur. Dan di sanalah beliau bertemu dengan wanita yang tak kalah istimewanya. Witing tresno jalaran soko kulino (eh, bener gak ya tulisannya…?). Begitu pepatah mengatakannya. Intensitas pertemuan yang tak bisa dikatakan jarang pun menanamkan simpati dan akhirnya menumbuhkan cinta pada keduanya. Dengan pedekate yang patut diacungkan jempol, pria istimewa itu berhasil merebut hati bukan hanya wanita istimewa itu, tetapi juga orang tua serta saudara-saudaranya.
Kedewasaan dan kerendahan hati pria itu lah yang membuat sang wanita akhirnya mencium khidmat punggung tangan sang pria setelah saksi berkata “Sah…!!” pada 9 Agustus 1987.
Bersama dengan ibunda tercinta, pria istimewa itu hidup dengan wanita yang telah menjadi muhrimnya di rumah BTN yang telah dibelinya. Tidak besar, tidak mewah, tapi lebih dari cukup untuk membangun sebuah keluarga yang insya Allah sakinah mawaddah warahmah.
Buah cinta yang mereka tumbuhkan dipetik pada 7 Mei 1988. Tangisnya membawa bahagia dan syukur tak terkira bagi sepasang insan istemewa itu. Adkhilni Utami, tercetaklah nama itu di akte kelahiran. ^^
Bapak. Begitulah seorang Adkhilni Utami memanggil pria istimewa itu.Bapak bukan pahlawan nasional Indonesia, tapi Bapak mampu menjadi pahlawan dalam rumah kecil kami. Bapak bukan Ki Hajar Dewantara, tapi Bapak adalah guru dalam taman pendidikan keluarga kami. Bapak bukan pemeran Extravaganza, tapi Bapak mampu membentuk senyum dan tawa pada wajah kami. Bapak bukan Josh Groban yang selalu mendendangkan lagu-lagu cinta, tapi kami tak pernah ragu akan ketulusan kasih yang ia limpahkan…
Masih sangat lekat dalam ingatan hari-hariku bersamanya.
Nonton bulu tangkis dan piala dunia di TV dengan semangat ’45 yang kami punya. (Nonton cuma bertiga, ramenya berasa sekelurahan…).
Dibonceng naik sepeda mengitari Duren Jaya, Wisma Jaya, kemudian transit di penjual bubur ayam Proyek.
“Bapak bawa uang nggak?” tanyaku setelah bubur di mangkok tinggal separuh.
“Waduh…bawa nggak, ya?”
“Ya…gimana sih…? Kalo Bapak nggak bawa uang gimana…?”
“Hmm…tami ditinggal dulu di sini, Bapak pulang ambil uang…”
Aku diam. Jantungku berdegup tak karuan. Membayangkan aku dijadikan jaminan buat tukang bubur. Tapi akhirnya, dengan senyuman khas di bibir, Bapak mengeluarkan lembaran-lembaran yang aku tahu pasti itu adalah uang…!!!
Atau ketika aku diminta untuk mencabut rambut-rambut putih di kepalanya.
“Satu uban seribu, ya, Pak…”
“Iya…iya…”
Atau ketika sebuah suara, “Ad…jam enam…!!!” Kalau mata ini belum terbuka juga, maka suara langkah-langkah menaiki tangga mampu membuatku segera melompat dari tempat tidur kemudian menuju kamar mandi. Bahkan bekal makanku disiapkan sendiri olehnya. Bahkan kadang tangan itu yang menyuapiku pagi-pagi di saat aku sibuk menyiapakan buku, memakai sepatu, dan menunggu jemputan.
Atau ketika membantuku mengerjakan PR sambil tak bosan mengatakan “Ya toh…?” di setiap akhir penjelasannya.
Atau kumis di atas bibirnya yang kerap digosok-gosokkan ke tanganku sementara aku menjerit-jerit kegelian.
Atau ketika aku selalu balapan untuk sampai ke rumah setiap pulang tarawih.
Atau ketika Bapak terlihat sangat gagah dan tampan dengan jasnya saat harus pergi ditugaskan ke luar. Kemudian pulang dengan dorayaki sekotak. (Ya, ampun…ternyata dorayaki-nya Doraemon lebih manis dari ubi Cilembu…!!)
Atau ketika kali pertama aku melihat pria istimewa itu menangis. Menangis saat ibunda tercintanya, nenekku, harus pergi mendahuluinya.
Atau ketika aku mendorongnya di atas kursi roda untuk yang terakhir kalinya…
Januari 2003.
“Ut, Ibu di rumah sakit…Nggak ada apa-apa kok, cuma nganter Bapak berobat…”
Tapi mereka tidak pulang malam itu.
“Bapak harus dirawat kata dokter…Tapi tenang aja, Bapak nggak papa…Tami ke sininya besok aja, ya…” kata ibuku.
Saat besoknya aku ke rumah sakit bersama sahabatku, keadaannya ternyata jauh dari kata ‘nggak papa’. Berada dalam kondisi tidak sadarkan diri, dengan jarum infus yang menusuk kulitnya, Bapak terbaring sangat lemah tak berdaya. Dalam sejarah hidupku, Bapak tidak pernah sakit separah ini. Bahkan sampai detik itu pun aku tidak tahu apa penyakit yang dideritanya.
Sehari…dua hari…kondisi Bapak membaik. Tertawa, dan membuat orang tertawa. Lahap, ketika suapan bubur masuk ke mulutnya.
Namun, tidak sampai dua hari kondisinya tidak berangsur menjadi baik. Sebaliknya, hanya erangan dari mulutnya. Tak pernah menyadari kehadiranku dan orang-orang di sekelilingnya. Hepatitis B. Begitu katanya.
1 minggu…2 minggu…tak ada perubahan. Sampai akhirnya beliau mampu untuk duduk. Mampu untuk bicara, menyunggingkan senyum, bahkan mengangkat jempol tangannya ketika aku membawakan air dingin yang dimintanya.Senyumku mengembang. Bapak sembuh.
23 Februari 2003.
“Ut, Bapak…”
Yang kuingat, saat itu, sekelilingku menjadi gelap, terdengar orang di sekelilingku menangis, terdengar orang di sekelilingku berkata, “Sabar, ya, Ut…”
Aku masih tidak mengerti. Aku seperti linglung. Apa benar? Apa benar? Apa benar?
Aku mencintainya. Sangat. Tapi Dia lebih mencintainya. Apa dayaku ketika Dia harus mengambil kembali sesuatu yang dititipkan-Nya? Tak ada.
Sungguh. Aku merelakannya. Aku hanya rindu. Teramat merindukannya…
Segunung penyesalan karena tidak bisa membalas semua yang telah diberikannya…
Hanya doa…
Saudaraku, jangan kehilangan kesempatan…
Selama kau masih bersamanya…
Sungguh, sesal itu selalu di akhir…
^_^
26 Juni 2006
memang seperti itulah da'wah
oleh Ustadz Rahmat Abdullah
Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai..
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. . Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari..
Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah. Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari.
Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah.
Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan”, hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.
Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, "Ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang…"
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai..
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. . Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari..
Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah. Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari.
Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah.
Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan”, hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.
Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, "Ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang…"
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
perang doa
(Musyaffa Abdurrahim dalam Membangun Ruh Baru)
Perang Badar dikenal juga dengan sebutan Al-Furqan, karena:
1. Dengan perang ini menjadi jelaslah siapa pendukung Al-Haq dan siapa pendukung Al-Bathil.
2. Dengan perang ini menjadi jelaslah mana kubu pembela kebenaran dan mana kubu pembela kebatilan.
Hari terjadinya peperangan ini disebut yauma iltiqal jam’an (QS.Al-Anfaal:41), yang bermakna hari bertemunya dua kekuatan, kekuatan syirik dan kekuatan tauhid, kekuatan iman dan kekuatan kufur, kekuatan hizbullah dan kekuatan hizbusy-syaithan.
Perang Badar bukanlah kehendak kaum muslimin. Bahkan, banyak di antara mereka yang pada awalnya merasa tidak siap. Al-Qur’an menggambarkan sikap dan psikologis mereka sebagai berikut: “Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau lepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (QS.Al-Anfaal:5-6).
Pada awalnya, yang diinginkan pasukan Islam adalah sebatas mengahadang kafilah dagang Quraisy yang hanya dilindungi oleh sejumlah kecil pasukan (empat puluh orang pasukan saja). Dalam kalkulasi manusiawi, sangat mudah dan tidak sulit menaklukan kafilah dagang itu. Sebab, waktu itu jumlah pasukan Islam adalah 313 orang.
Terkait dengan hal ini, Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu.” (QS.Al-Anfaal:7).
Dari sisi perekonomian, kafilah dagang inilah yang lebih membawa keuntungan bagi kaum muslimin. Sebab, kafilah Quraisy saat itu hádala yang terbesar, hampir seluruh penduduk Mekah ikut menanamkan sahamnya pada perjalanan dagang itu.
Namun, kehendak Allah SWT berbeda dengan yang diinginkan kaum muslimin. Yang dikehendaki Allah adalah bagaimana agar Al-Haq itu menjadi nyata, dan yang batil itu menjadi jelas kebatilannya.
Terkait dengan hal ini Allah SWT berfirman: “Dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayatNya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (QS.Al-Anfaal:8).
Pada pihak yang berlawanan, keinginan Abu Sufyan, pemimpin kafilah dagang Quraisy, bukanlah terjadinya peperangan. Ia hanya menginginkan agar dagangannya itu bisa selamat sampai di Mekah.
Namun, Abu Jahal –yang betul-betul jahil– mempunyai keinginan lain. Ia dengan arogan, takabur, dan riya’ mengatakan, “Demi Allah! Kita tidak akan kembali sebelum sampai di Badar. Kita akan tinggal di sana selama tiga hari, menyembelih unta, menenggak khamar, dan menikmati nyanyian para biduanita. Akhirnya, seluruh orang Arab mengetahui tentang perjalanan dan perkumpulan kita, sehingga mereka senantiasa takut lepada kita.” (Ibnu Hisyam)
Singkat cerita, berhadapanlah dua kekuatan itu di Badar. Dengan kehendak dan takdir Allah, seluruh personel kaum muslimin telah siap menghadapi apa yang akan terjadi besok.
Pada malam menjelang pertempuran, Rasulullah saw. memohon kepada Allah SWT, dengan sebuah
permohonan yang penuh kepasrahan, ketundukkan, dan kekhusyukan. Beliau terus memanjatkan doa, sampai-sampai selendang (sekarang baju) beliau terjatuh dari pundaknya. Bahkan, Abu Bakar sampai berkata, “Cukup, wahai Rasulullah, cukup wahai Rasulullah.” Dalam doanya itu beliau serahkan kelangsungan umat yang menghamba Allah SWT ini kepadaNya. Beliau berdoa, “Jika sekelompok umat ini binasa, Engkau (ya Allah) tidak akan disembah lagi di bumi.”
Pada sekelompok yang berseberangan, Abu Jahal pun memanjatkan doanya kepada Allah SWT. Ia berkata, “Ya Allah! Dia (maksudnya Nabi Muhammad saw.) telah menyebabkan hubungan persaudaraan (silaturrahim) antarsesama kami terputus, dia telah datang kepada kami dengan sesuatu yang tidak kami kenal, karenanya, hancurkanlah ia esok hari.”
Inilah satu sisi dari perang Badar, di mana pada malam menjelang pertempuran yang furqan itu telah terjadi peperangan lain, yaitu perang doa.
Satu doa dipanjatkan oleh seorang yang tidak pernah berdusta. Seorang yang berpredikat Al-Amin; seseorang yang ‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum harishun ‘alaikum bil mukminiina rauufur-rahim (QS.At-Taubah:128); seseorang yang oleh Allah SWT dinyatakan sebagai ‘ala khuluqin azhim, yaitu Rasulullah saw.
Pada sisi lain, ada doa yang dipanjatkan oleh seseorang yang menghabiskan segala potensinya untuk menghambat dan menghalangi dakwah Allah SWT, yaitu Abu Jahal.
Malam itu telah terjadi perang doa, antara seseorang yang tawadhu (rendah hati), tawakal (penuh kepasrahan kepada Allah), khusyuk (takut yang disertai pengagungan kepada Allah), bercita-cita mulia (yaitu terwujudnya penyembahan kepada Allah), serta tajarrud (totalitas dalam menjalin hubungan dengan Allah) dengan seseorang yang congkak, arogan, riya’, dan bercita-cita kotor (minum khamr, bermain dengan perempuan, sok, dan diktator).
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa Allah SWT berpihak kepada Nabi Muhammad saw. dan tidak berpihak kepada Abu Jahal.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan berpihak kepada seorang hamba yang penuh amanah, selalu berusaha untuk tidak membebani ummatnya, bersemangat dalam mengupayakan kemaslahatan mereka, penuh sayang dan belas kasihan.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan berpihak kepada pemilik akhlak yang agung.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan berpihak kepada kelompok yang penuh kepasrahan kepada Allah SWT, penuh tawakal kepadaNya, bercita-cita mewujudkan upaya ubudiyatul khalqi lillah (penghambaan seluruh makhluk kepada Allah SWT semata).
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan itu berpihak kepada golongan yang pemimpinnya menghabiskan malam harinya untuk menjalin hubungan dengan Allah SWT, berdoa kepadaNya, sampai-sampai bajunya terjatuh tanpa dirasa, sehingga dia diingatkan oleh sahabatnya.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan tidak berpihak kepada golongan yang arogan, riya’, sok, dan diktator.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan tidak diberikan kepada golongan yang bercita-cita keji dan munkar.
Saudara-saudara yang dicintai Allah...
Masih banyak ibrah dan pelajaran yang bisa kita gali dari peristiwa Badar, peristiwa yang terjadi 1418 tahun yang lalu. Peristiwa yang kejadiannya diabadikan dalam Al-Qur’an.
Adanya pengabdian dalam Al-Qur’an ini tentunya menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, ibrah yang tersurat ataupun tersirat padanya tidaklah berhenti sebatas peristiwa sejarah, tetapi pasti dan sudah tentu akan senantiasa terulang, sampai kiamat nanti.
Sunnatullah itu pasti terulang, bila berbagai variabel yang melingkupinya pun berulang, sebab tidak ada perubahan pada sunnatullah dan ia sama sekali tidak akan berganti.
Kita harus yakin bahwa kemenagan pasti berpihak kepada para pembela kebenaran, karena hal ini adalah sunnatullah. Akan tetapi, sunnatullah yang melingkupi dan menjelaskan syarat-syarat terwujudnya kemenangan itu harus ada pada para pendukung kebenaran itu. Gali dan renungilah berbagai variabel yang ada pada sunnatullah itu; sunnatullah yang menggoreskan kemenangan gemilang bagi kaum muslimin pada peristiwa Badar! Penuhi seluruh persyaratan-persyaratan yang ada, niscaya sunnatullah itu akan terulang, sehingga kita pun akan melihat kemenangan yang gemilang bagi kejayaan Islam dan kaum muslimin!
Hadanallahu waiyyakum ajma’in, wawaffaqana lima yuhibbuhu wayardhahu, wa-a’nana ‘ala imtitsali dzalika.
Semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada kita seluruhnya, memberikan taufikNya kepada kita untuk menjalani segala hal yang dicintai dan diridhaiNya, dan memberikan pertolongan untuk menjalani itu semua. Aamiin...
Perang Badar dikenal juga dengan sebutan Al-Furqan, karena:
1. Dengan perang ini menjadi jelaslah siapa pendukung Al-Haq dan siapa pendukung Al-Bathil.
2. Dengan perang ini menjadi jelaslah mana kubu pembela kebenaran dan mana kubu pembela kebatilan.
Hari terjadinya peperangan ini disebut yauma iltiqal jam’an (QS.Al-Anfaal:41), yang bermakna hari bertemunya dua kekuatan, kekuatan syirik dan kekuatan tauhid, kekuatan iman dan kekuatan kufur, kekuatan hizbullah dan kekuatan hizbusy-syaithan.
Perang Badar bukanlah kehendak kaum muslimin. Bahkan, banyak di antara mereka yang pada awalnya merasa tidak siap. Al-Qur’an menggambarkan sikap dan psikologis mereka sebagai berikut: “Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau lepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (QS.Al-Anfaal:5-6).
Pada awalnya, yang diinginkan pasukan Islam adalah sebatas mengahadang kafilah dagang Quraisy yang hanya dilindungi oleh sejumlah kecil pasukan (empat puluh orang pasukan saja). Dalam kalkulasi manusiawi, sangat mudah dan tidak sulit menaklukan kafilah dagang itu. Sebab, waktu itu jumlah pasukan Islam adalah 313 orang.
Terkait dengan hal ini, Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu.” (QS.Al-Anfaal:7).
Dari sisi perekonomian, kafilah dagang inilah yang lebih membawa keuntungan bagi kaum muslimin. Sebab, kafilah Quraisy saat itu hádala yang terbesar, hampir seluruh penduduk Mekah ikut menanamkan sahamnya pada perjalanan dagang itu.
Namun, kehendak Allah SWT berbeda dengan yang diinginkan kaum muslimin. Yang dikehendaki Allah adalah bagaimana agar Al-Haq itu menjadi nyata, dan yang batil itu menjadi jelas kebatilannya.
Terkait dengan hal ini Allah SWT berfirman: “Dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayatNya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (QS.Al-Anfaal:8).
Pada pihak yang berlawanan, keinginan Abu Sufyan, pemimpin kafilah dagang Quraisy, bukanlah terjadinya peperangan. Ia hanya menginginkan agar dagangannya itu bisa selamat sampai di Mekah.
Namun, Abu Jahal –yang betul-betul jahil– mempunyai keinginan lain. Ia dengan arogan, takabur, dan riya’ mengatakan, “Demi Allah! Kita tidak akan kembali sebelum sampai di Badar. Kita akan tinggal di sana selama tiga hari, menyembelih unta, menenggak khamar, dan menikmati nyanyian para biduanita. Akhirnya, seluruh orang Arab mengetahui tentang perjalanan dan perkumpulan kita, sehingga mereka senantiasa takut lepada kita.” (Ibnu Hisyam)
Singkat cerita, berhadapanlah dua kekuatan itu di Badar. Dengan kehendak dan takdir Allah, seluruh personel kaum muslimin telah siap menghadapi apa yang akan terjadi besok.
Pada malam menjelang pertempuran, Rasulullah saw. memohon kepada Allah SWT, dengan sebuah
permohonan yang penuh kepasrahan, ketundukkan, dan kekhusyukan. Beliau terus memanjatkan doa, sampai-sampai selendang (sekarang baju) beliau terjatuh dari pundaknya. Bahkan, Abu Bakar sampai berkata, “Cukup, wahai Rasulullah, cukup wahai Rasulullah.” Dalam doanya itu beliau serahkan kelangsungan umat yang menghamba Allah SWT ini kepadaNya. Beliau berdoa, “Jika sekelompok umat ini binasa, Engkau (ya Allah) tidak akan disembah lagi di bumi.”
Pada sekelompok yang berseberangan, Abu Jahal pun memanjatkan doanya kepada Allah SWT. Ia berkata, “Ya Allah! Dia (maksudnya Nabi Muhammad saw.) telah menyebabkan hubungan persaudaraan (silaturrahim) antarsesama kami terputus, dia telah datang kepada kami dengan sesuatu yang tidak kami kenal, karenanya, hancurkanlah ia esok hari.”
Inilah satu sisi dari perang Badar, di mana pada malam menjelang pertempuran yang furqan itu telah terjadi peperangan lain, yaitu perang doa.
Satu doa dipanjatkan oleh seorang yang tidak pernah berdusta. Seorang yang berpredikat Al-Amin; seseorang yang ‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum harishun ‘alaikum bil mukminiina rauufur-rahim (QS.At-Taubah:128); seseorang yang oleh Allah SWT dinyatakan sebagai ‘ala khuluqin azhim, yaitu Rasulullah saw.
Pada sisi lain, ada doa yang dipanjatkan oleh seseorang yang menghabiskan segala potensinya untuk menghambat dan menghalangi dakwah Allah SWT, yaitu Abu Jahal.
Malam itu telah terjadi perang doa, antara seseorang yang tawadhu (rendah hati), tawakal (penuh kepasrahan kepada Allah), khusyuk (takut yang disertai pengagungan kepada Allah), bercita-cita mulia (yaitu terwujudnya penyembahan kepada Allah), serta tajarrud (totalitas dalam menjalin hubungan dengan Allah) dengan seseorang yang congkak, arogan, riya’, dan bercita-cita kotor (minum khamr, bermain dengan perempuan, sok, dan diktator).
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa Allah SWT berpihak kepada Nabi Muhammad saw. dan tidak berpihak kepada Abu Jahal.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan berpihak kepada seorang hamba yang penuh amanah, selalu berusaha untuk tidak membebani ummatnya, bersemangat dalam mengupayakan kemaslahatan mereka, penuh sayang dan belas kasihan.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan berpihak kepada pemilik akhlak yang agung.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan berpihak kepada kelompok yang penuh kepasrahan kepada Allah SWT, penuh tawakal kepadaNya, bercita-cita mewujudkan upaya ubudiyatul khalqi lillah (penghambaan seluruh makhluk kepada Allah SWT semata).
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan itu berpihak kepada golongan yang pemimpinnya menghabiskan malam harinya untuk menjalin hubungan dengan Allah SWT, berdoa kepadaNya, sampai-sampai bajunya terjatuh tanpa dirasa, sehingga dia diingatkan oleh sahabatnya.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan tidak berpihak kepada golongan yang arogan, riya’, sok, dan diktator.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan tidak diberikan kepada golongan yang bercita-cita keji dan munkar.
Saudara-saudara yang dicintai Allah...
Masih banyak ibrah dan pelajaran yang bisa kita gali dari peristiwa Badar, peristiwa yang terjadi 1418 tahun yang lalu. Peristiwa yang kejadiannya diabadikan dalam Al-Qur’an.
Adanya pengabdian dalam Al-Qur’an ini tentunya menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, ibrah yang tersurat ataupun tersirat padanya tidaklah berhenti sebatas peristiwa sejarah, tetapi pasti dan sudah tentu akan senantiasa terulang, sampai kiamat nanti.
Sunnatullah itu pasti terulang, bila berbagai variabel yang melingkupinya pun berulang, sebab tidak ada perubahan pada sunnatullah dan ia sama sekali tidak akan berganti.
Kita harus yakin bahwa kemenagan pasti berpihak kepada para pembela kebenaran, karena hal ini adalah sunnatullah. Akan tetapi, sunnatullah yang melingkupi dan menjelaskan syarat-syarat terwujudnya kemenangan itu harus ada pada para pendukung kebenaran itu. Gali dan renungilah berbagai variabel yang ada pada sunnatullah itu; sunnatullah yang menggoreskan kemenangan gemilang bagi kaum muslimin pada peristiwa Badar! Penuhi seluruh persyaratan-persyaratan yang ada, niscaya sunnatullah itu akan terulang, sehingga kita pun akan melihat kemenangan yang gemilang bagi kejayaan Islam dan kaum muslimin!
Hadanallahu waiyyakum ajma’in, wawaffaqana lima yuhibbuhu wayardhahu, wa-a’nana ‘ala imtitsali dzalika.
Semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada kita seluruhnya, memberikan taufikNya kepada kita untuk menjalani segala hal yang dicintai dan diridhaiNya, dan memberikan pertolongan untuk menjalani itu semua. Aamiin...
teladan Sang Rasul
meneladani Sang Rasul
saat datang Jibril tawarkan bantuan
dua gunung untuk ditimpakan
membalas pukulan dan hinaan
agar terobati luka Sang Nabi pilihan
namun Baginda hanya menggeleng pelan
menolak dengan senyuman
"akan lahir dari sulbi mereka, generasi yang beriman"
meneladani Sang Rasul
saat sahabat berujar
"apa yang diharapkan dari dua Umar?"
"mereka hanya inginkan kita mati terkapar"
namun Baginda berdoa dengan sabar
dengan bibir yang bergetar
hingga tampillah seorang Umar
dengan iman menumpas kaum kuffar
meneladani Sang Rasul
berdakwah dengan visi
bahkan terhadap mereka yang menyakiti
berharap kebaikan sepenuh hati
dan yakinlah, janji Allah adalah pasti
bila tidak hari ini, mungkin nanti...
-bogor, 30 Oktober 2009-
"Dan Allah lebih mengetahui tentang musuh-musuhmu. Cukuplah Allah menjadi pelindung dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu)." [QS. An-Nisaa' : 45]
saat datang Jibril tawarkan bantuan
dua gunung untuk ditimpakan
membalas pukulan dan hinaan
agar terobati luka Sang Nabi pilihan
namun Baginda hanya menggeleng pelan
menolak dengan senyuman
"akan lahir dari sulbi mereka, generasi yang beriman"
meneladani Sang Rasul
saat sahabat berujar
"apa yang diharapkan dari dua Umar?"
"mereka hanya inginkan kita mati terkapar"
namun Baginda berdoa dengan sabar
dengan bibir yang bergetar
hingga tampillah seorang Umar
dengan iman menumpas kaum kuffar
meneladani Sang Rasul
berdakwah dengan visi
bahkan terhadap mereka yang menyakiti
berharap kebaikan sepenuh hati
dan yakinlah, janji Allah adalah pasti
bila tidak hari ini, mungkin nanti...
-bogor, 30 Oktober 2009-
"Dan Allah lebih mengetahui tentang musuh-musuhmu. Cukuplah Allah menjadi pelindung dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu)." [QS. An-Nisaa' : 45]
karatagan pahlawan
bismillaahirrahmaanirrahiim
satu lagi..! untaian 'nasihat karuhun'.. yang insyaallah sarat makna..
bahwa kemenangan tak akan diraih kecuali dengan pengorbanan..bahwa keberhasilan perjuangan dilahirkan dari sebuah ketegaran dan keteguhan..
bahwa…Allahu ghayatuna (Allah tujuan kami), ar-rasulu qudwatuna (rasul teladan kami), al-qur’anu syir’atuna (al-qur’an syariat kami), al-jihadu sabiluna (jihad jalan kami), asy-syahadatu umniyatuna (mati syahid cita-cita tertinggi kami)…
subhaanaka allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
wallaahua’lam bishshawwab
---
-Karatagan Pahlawan-
Teu honcewang... sumoreang
Tekadna Pahlawan Bangsa
Cadu mundur... pantang mulang
Mun maksud tacan laksana...
Berjuang keur lemah cai...
Lali rabi... tur tegang pati...
Taya basa... menta pamulang tarima
Iklas... rido... keur korban merdeka
#translate:
Tidak kuatir... tidak cemas...
Tekadnya Pahlawan Bangsa...
Tidak akan mundur... tidak akan pulang/ kembali
Jika tujuan/ maksud belum terlaksana...
Berjuang untuk tanah air...
Lupa isteri... dan berani mati...
Tak ada kata... 'minta balasan'
Ikhlas... ridho... menjadi korban/gugur dalam kemerdekaan
---
“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) kanji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.” [At-Taubah: 111]
Allaahuakbar…! Merdeka…! Merdeka…! Merdeka…! (^o^)//
satu lagi..! untaian 'nasihat karuhun'.. yang insyaallah sarat makna..
bahwa kemenangan tak akan diraih kecuali dengan pengorbanan..bahwa keberhasilan perjuangan dilahirkan dari sebuah ketegaran dan keteguhan..
bahwa…Allahu ghayatuna (Allah tujuan kami), ar-rasulu qudwatuna (rasul teladan kami), al-qur’anu syir’atuna (al-qur’an syariat kami), al-jihadu sabiluna (jihad jalan kami), asy-syahadatu umniyatuna (mati syahid cita-cita tertinggi kami)…
subhaanaka allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
wallaahua’lam bishshawwab
---
-Karatagan Pahlawan-
Teu honcewang... sumoreang
Tekadna Pahlawan Bangsa
Cadu mundur... pantang mulang
Mun maksud tacan laksana...
Berjuang keur lemah cai...
Lali rabi... tur tegang pati...
Taya basa... menta pamulang tarima
Iklas... rido... keur korban merdeka
#translate:
Tidak kuatir... tidak cemas...
Tekadnya Pahlawan Bangsa...
Tidak akan mundur... tidak akan pulang/ kembali
Jika tujuan/ maksud belum terlaksana...
Berjuang untuk tanah air...
Lupa isteri... dan berani mati...
Tak ada kata... 'minta balasan'
Ikhlas... ridho... menjadi korban/gugur dalam kemerdekaan
---
“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) kanji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.” [At-Taubah: 111]
Allaahuakbar…! Merdeka…! Merdeka…! Merdeka…! (^o^)//
jangan banyak prasangka
Bismillaahirrahmaanirrahiim
“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” [Harper Lee dalam To Kill a Mockingbird]
Kalimat itu memberi kesan tersendiri dalam hati saya. To Kill a Mockingbird adalah sebuah novel yang mengisahkan seorang anak perempuan berusia sebelas tahun yang tinggal bersama kakak dan ayahnya. Pada lingkungan tempat tinggalnya, ada sebuah rumah yang menurut anak-anak di sana dihuni oleh seorang yang mengalami kelainan jiwa serta menyeramkan, walaupun mereka tidak pernah secara langsung berhadapan dengan orang tersebut. Namun, pada akhir kisah ini, ‘seseorang’ itu justru memberikan pertolongan pada anak perempuan tersebut dan kakaknya dalam sebuah upaya percobaan pembunuhan. ‘Seseorang’ yang mereka anggap jahat, menakutkan, dan berbahaya. Atticus, ayah mereka, menyampaikan kalimat di atas kepada putrinya, sehingga anak perempuan itu menyadari bahwa ia tidak seharusnya berpikiran buruk terhadap apa yang tidak ia ketahui dengan pasti. Bahasa kerennya sih, ‘nggak boleh suuzhan’…
Dan mengapa saya begitu terkesan, adalah karena saya menemukan beberapa permasalahan yang terjadi dalam kehidupan saya, yang membuat saya ingin menyampaikan: “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”
Barangkali memang sudah fitrahnya manusia melihat segala sesuatu dimulai dari sudut pandangnya. Hingga akhirnya terkadang penyikapan suatu masalah tidak berdasarkan fakta dan data tetapi hanya berdasarkan perasaan.
Berapa banyak saudara kita yang terzhalimi akibat ke-sok tau-an kita. Berapa banyak saudara kita yang terusik akibat prasangka-prasangka kita. Berapa banyak saudara kita yang tersakiti akibat penghakiman kita. Berapa banyak hati terluka, lantaran kita kurang sabar dalam melihat dan menyelesaikan persoalan. Kurang tepat dalam memilih langkah awal pencapaian solusi. Atau lupa untuk menyentuhnya terlebih dulu dengan hati.
Indah sekali persaudaraan bila diliputi semangat saling mengingatkan. Saling menjaga. Atas dasar cinta pada-Nya. Maka janganlah kita mengikis keindahan itu dengan rasa keingintahuan yang berlebihan atas apa yang berada dalam hati saudara kita. Karena kita tidak lebih berhak dari siapapun untuk menjustifikasi mereka dengan minimnya kepahaman dan informasi yang kita miliki. Dan tentang sebuah rasa yang mungkin ada dalam hati-hati mereka, cukuplah ia dan Rabbnya. Karena kita pun tidak lebih berhak dari siapapun untuk menjadi seorang yang paling mengetahui isi hatinya.
…ukhuwah adalah sebuah proses belajar dan saling memahami, melihat kekurangan sebagai fitrah manusia, memaknai kelebihan dalam bentuk kesyukuran…ia menjadi telaga kautsar dalam nasihat al-‘ashr…ia menjadi tsiqah yang menentramkan…ia adalah ta’awun yang mendahului tanpa diduga, tanpa diminta… [al-akh]
Wallaahua’alam bishshawwab
Bogor, 5 Maret 2010
Adkhilni Utami –yang masih terbata dalam mengeja hakikat kehidupan
“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” [Harper Lee dalam To Kill a Mockingbird]
Kalimat itu memberi kesan tersendiri dalam hati saya. To Kill a Mockingbird adalah sebuah novel yang mengisahkan seorang anak perempuan berusia sebelas tahun yang tinggal bersama kakak dan ayahnya. Pada lingkungan tempat tinggalnya, ada sebuah rumah yang menurut anak-anak di sana dihuni oleh seorang yang mengalami kelainan jiwa serta menyeramkan, walaupun mereka tidak pernah secara langsung berhadapan dengan orang tersebut. Namun, pada akhir kisah ini, ‘seseorang’ itu justru memberikan pertolongan pada anak perempuan tersebut dan kakaknya dalam sebuah upaya percobaan pembunuhan. ‘Seseorang’ yang mereka anggap jahat, menakutkan, dan berbahaya. Atticus, ayah mereka, menyampaikan kalimat di atas kepada putrinya, sehingga anak perempuan itu menyadari bahwa ia tidak seharusnya berpikiran buruk terhadap apa yang tidak ia ketahui dengan pasti. Bahasa kerennya sih, ‘nggak boleh suuzhan’…
Dan mengapa saya begitu terkesan, adalah karena saya menemukan beberapa permasalahan yang terjadi dalam kehidupan saya, yang membuat saya ingin menyampaikan: “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”
Barangkali memang sudah fitrahnya manusia melihat segala sesuatu dimulai dari sudut pandangnya. Hingga akhirnya terkadang penyikapan suatu masalah tidak berdasarkan fakta dan data tetapi hanya berdasarkan perasaan.
Berapa banyak saudara kita yang terzhalimi akibat ke-sok tau-an kita. Berapa banyak saudara kita yang terusik akibat prasangka-prasangka kita. Berapa banyak saudara kita yang tersakiti akibat penghakiman kita. Berapa banyak hati terluka, lantaran kita kurang sabar dalam melihat dan menyelesaikan persoalan. Kurang tepat dalam memilih langkah awal pencapaian solusi. Atau lupa untuk menyentuhnya terlebih dulu dengan hati.
Indah sekali persaudaraan bila diliputi semangat saling mengingatkan. Saling menjaga. Atas dasar cinta pada-Nya. Maka janganlah kita mengikis keindahan itu dengan rasa keingintahuan yang berlebihan atas apa yang berada dalam hati saudara kita. Karena kita tidak lebih berhak dari siapapun untuk menjustifikasi mereka dengan minimnya kepahaman dan informasi yang kita miliki. Dan tentang sebuah rasa yang mungkin ada dalam hati-hati mereka, cukuplah ia dan Rabbnya. Karena kita pun tidak lebih berhak dari siapapun untuk menjadi seorang yang paling mengetahui isi hatinya.
…ukhuwah adalah sebuah proses belajar dan saling memahami, melihat kekurangan sebagai fitrah manusia, memaknai kelebihan dalam bentuk kesyukuran…ia menjadi telaga kautsar dalam nasihat al-‘ashr…ia menjadi tsiqah yang menentramkan…ia adalah ta’awun yang mendahului tanpa diduga, tanpa diminta… [al-akh]
Wallaahua’alam bishshawwab
Bogor, 5 Maret 2010
Adkhilni Utami –yang masih terbata dalam mengeja hakikat kehidupan
karena rapuh
Bersujud debu dalam kelembaban malam
Melirik purnama dengan dzikir panjangnya
Dalam pada apa ia dapat berucap
Bilamana sunyi menjadi raja
Membungkam sayup dan menjadikannya papa
Biar angin menerbangkan dirinya
Biar hujan menghempaskannya
Dia hanya ingin bercengkrama dengan kesadarannya
Akan kerapuhan diri
Akan kelemahan hati
Pada sujud panjangnya
-bogor, 14 Januari 2008-
Melirik purnama dengan dzikir panjangnya
Dalam pada apa ia dapat berucap
Bilamana sunyi menjadi raja
Membungkam sayup dan menjadikannya papa
Biar angin menerbangkan dirinya
Biar hujan menghempaskannya
Dia hanya ingin bercengkrama dengan kesadarannya
Akan kerapuhan diri
Akan kelemahan hati
Pada sujud panjangnya
-bogor, 14 Januari 2008-
dalam laju kereta
Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Tak bisa kuhentikan lajunya saat ia tinggalkan setiap stasiun
Tak dapat pula ku meloncat keluar
Saat decit rodanya beradu dengan rel yang panjang membentang
Dahulu pernah kita tumpangi sebuah kereta
Yang berhenti pada stasiun abu-abu
Penuhi gerbongnya dengan tawa dan sedu sedan
Kadang terpesona oleh gerak dan kata
Kadang tergugu karena keliru
Kita tumpangi kereta itu bersama
Sampai terhenti pada stasiun berikutnya
Dan kita harus berpisah
Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Sejak langkahku memasukinya di stasiun itu
Lalu kehilangan bayangmu
Tapi keretamu pun datang
Kau akan masuk ke dalamnya, bukan?
Kau tak akan terdiam lama di perhentian itu, benar?
Naiklah, Kawan
Dan kita akan bertatap kembali pada akhir segala kereta berhenti
Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Aku, kau, dia, mereka
Kita hanya penumpang
Tak dapat kita hentikan lajunya
Tak mampu kita berlari mendahuluinya
Tertinggal bila tak segera menaikinya
Tapi jangan kau pergi menjauhinya, Kawan
Meski kereta kita sekarang tak seperti kereta kita dahulu
Pada stasiun abu-abu
Karena kita akan bertatap kembali pada akhir segala kereta berhenti
Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Jika kau merasa aku meninggalkanmu
Maafkan aku
Maafkan aku
Maafkan aku…
-bogor, 11 November 2008-
Tak bisa kuhentikan lajunya saat ia tinggalkan setiap stasiun
Tak dapat pula ku meloncat keluar
Saat decit rodanya beradu dengan rel yang panjang membentang
Dahulu pernah kita tumpangi sebuah kereta
Yang berhenti pada stasiun abu-abu
Penuhi gerbongnya dengan tawa dan sedu sedan
Kadang terpesona oleh gerak dan kata
Kadang tergugu karena keliru
Kita tumpangi kereta itu bersama
Sampai terhenti pada stasiun berikutnya
Dan kita harus berpisah
Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Sejak langkahku memasukinya di stasiun itu
Lalu kehilangan bayangmu
Tapi keretamu pun datang
Kau akan masuk ke dalamnya, bukan?
Kau tak akan terdiam lama di perhentian itu, benar?
Naiklah, Kawan
Dan kita akan bertatap kembali pada akhir segala kereta berhenti
Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Aku, kau, dia, mereka
Kita hanya penumpang
Tak dapat kita hentikan lajunya
Tak mampu kita berlari mendahuluinya
Tertinggal bila tak segera menaikinya
Tapi jangan kau pergi menjauhinya, Kawan
Meski kereta kita sekarang tak seperti kereta kita dahulu
Pada stasiun abu-abu
Karena kita akan bertatap kembali pada akhir segala kereta berhenti
Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Jika kau merasa aku meninggalkanmu
Maafkan aku
Maafkan aku
Maafkan aku…
-bogor, 11 November 2008-
yang satu dan yang lain
yang satu tertatih-tatih
yang lain menghentak-hentak
yang satu meratap-ratap
yang lain membuncah semangat
yang satu tertinggal
yang lain mengejar
yang satu sarat kekecewaan
yang lain menepuk bahu memberi perhatian
yang satu selalu ragu
yang lain penuh harapan baru
yang satu cukup sampai di sini saja
yang lain esok akan kujelang
yang satu dan yang lain
adalah dua sisi dalam diri
berputar dalam segala situasi
hanya Dia Yang Maha Pembolak-balik hati
-bogor, 24 Oktober 2009-
yang lain menghentak-hentak
yang satu meratap-ratap
yang lain membuncah semangat
yang satu tertinggal
yang lain mengejar
yang satu sarat kekecewaan
yang lain menepuk bahu memberi perhatian
yang satu selalu ragu
yang lain penuh harapan baru
yang satu cukup sampai di sini saja
yang lain esok akan kujelang
yang satu dan yang lain
adalah dua sisi dalam diri
berputar dalam segala situasi
hanya Dia Yang Maha Pembolak-balik hati
-bogor, 24 Oktober 2009-
show di hadapan Allah
(Musyaffa Abdurrahim dalam Membangun Ruh Baru)
Memperlihatkan amal shalih di hadapan manusia (riya’) adalah syirik ashghar (syirik kecil). Dampaknya, amal shalih yang didasari dan ditujukan untuk riya’ ini tidak akan diterima Allah SWT. Repotnya, pada diri dan jiwa manusia ada kecenderungan untuk diperhatikan. Dilihat, dan ditonjolkankepada orang lain, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghazali rahimahullah.
Pertanyaannya, adakah Allah SWT menuntut kita untuk melawan sesuatu yang sebenarnya ada di dalam jiwa kita? Atau lebih konkretnya, mungkinkah Allah SWT melarang kita dari perbuatan riya’, sementara kecenderungan itu ada dan included dengan penciptaan manusia?
Allah SWT Maha Pencipta (Al-Khaliq), Maha Mengetahui (Al-‘Alim), dan juga Maha Bijaksana (Al-Hakiim). Pada saat menciptakan manusia yang included di dalamnya kecenderungan untuk dilihat, dikagumi, dan diceritakan oleh orang lain, Dia pun memberikan jalan keluar yang menjadi tempat tumpahan perasaan itu.
Berkenaan dengan bulan suci Ramadhan, kita diperintahkan untuk memperlihatkan kepada Allah SWT segala hal yang baik dan kita akan dibangga-banggakan Allah SWT di hadapan para malaikat-Nya. Karenanya, kita harus berkompetisi show di hadapan Allah SWT dengan amal-amal shalih kita. Disebutkan dalam sebuah riwayat:
“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan, Allah SWT memberikan kecukupan kepada kalian pada bulan ini. Dia menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa, dan mengabulkan doa. Allah SWT melihat kompetisi kalian dan membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya. Karenanya, tunjukanlah kepada Allah hal-hal yang terbaik dari kalian. Sebab, orang yang sengsara adalah yang terhalang dari rahmat Allah SWT.”
(Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam al mu’jam al kabir, dan di dalamnya ada Muhammad bin Abi Qais, dan saya tidak menemukan siapapun yang menjelaskan biografinya).
Target puasa adalah bertakwa. Bertakwa adalah sebuah kondisi hati yang menjadikan kita sangat berhati-hati dalam menginjakkan kaki, agar tidak menginjak duri (demikian Ubay bin Ka’ab mengilustrasikannya).
Ketakwaan seperti ini akan tumbuh dengan baik pada diri kita, di antaranya saat kita merasakan kehadiran para malaikat petugas-petugas Allah SWT dan merasakan adanya pengawasan (muroqobah) dari-Nya.
Tentunya bukan kita beramal untuk para malaikat, akan tetapi kita tetap beramal untuk Allah SWT dan menempatkan para malaikat itu sebagai petugas-petugas dari Allah SWT, agar mereka melaporkan yang terbaik kepada Allah SWT.
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh kebaikan, bulan berkah, bulan tanafus (kompetisi) dalam beramal shalih. Banyak peluang yang terbuka di hadapan kita, tinggal bagaimana kita mendayagunakan peluang-peluang itu dngan sebaik-baiknya.
Satu hal lagi yang paling penting, kita harus senantiasa memohon kepada Allah SWT agar Dia senantiasa melimpahkan taufik, hidayah, dan ‘inayah-Nya kepada kita. Sehingga, kita mampu mengisi Ramadhan tahun ini lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya, aamiin.
Ya Allah, tolonglah saya untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan baik dalam beribadah kepada-Mu. Aamiin.
Demi terpenuhinya perasaan tersebut, Allah SWT mengajarkan beberapa kaidah kepada kita, di antaranya:
1. Kita diajari agar senantiasa merasa bahwa setiap ucapan yang meluncur dari mulut kita (QS.Qaaf: 18) dan segala gerak-gerik kita senantiasa dicatat oleh malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah SWT untuk hal ini (QS.Al-Infithar: 10-12). Karenanya, tunjukanlah kepada para malaikat hal yang baik-baik, agar saat malaikat itu melaporkannya kepada Allah SWT, Dia menjadi ridha kepada kita.
2. Kita diajari, bahwa pada setiap harinya, Allah SWT menurunkan malaikat-malaikat yang bertugas di siang hari, dan malaikat-malaikat yang bertugas di malam hari. Dan yang pernah bertugas, tidak akan turun lagi. Dua shift malaikat ini bertemu pada waktu Ashar dan Shubuh. Tugas mereka adalah melaporkan hamba-hamba Allah dari kalangan manusia kepada-Nya (meskipun Allah SWT telah mengetahui semuanya). Bila manusia-manusia itu didapatinya berada di masjid sedang melakukan shalat berjamaah, maka saat para malaikat itu ditanya oleh Allah, “Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku saat engkau datang dan saat engkau tinggalkan?” Para malaikat itu akan menjawab, “Waktu kami datang, mereka sedang dalam keadaan shalat dan waktu kami tinggalkan, mereka pun sedang dalam keadaan shalat.”
wallaahua'lam bishshawwab..
Memperlihatkan amal shalih di hadapan manusia (riya’) adalah syirik ashghar (syirik kecil). Dampaknya, amal shalih yang didasari dan ditujukan untuk riya’ ini tidak akan diterima Allah SWT. Repotnya, pada diri dan jiwa manusia ada kecenderungan untuk diperhatikan. Dilihat, dan ditonjolkankepada orang lain, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghazali rahimahullah.
Pertanyaannya, adakah Allah SWT menuntut kita untuk melawan sesuatu yang sebenarnya ada di dalam jiwa kita? Atau lebih konkretnya, mungkinkah Allah SWT melarang kita dari perbuatan riya’, sementara kecenderungan itu ada dan included dengan penciptaan manusia?
Allah SWT Maha Pencipta (Al-Khaliq), Maha Mengetahui (Al-‘Alim), dan juga Maha Bijaksana (Al-Hakiim). Pada saat menciptakan manusia yang included di dalamnya kecenderungan untuk dilihat, dikagumi, dan diceritakan oleh orang lain, Dia pun memberikan jalan keluar yang menjadi tempat tumpahan perasaan itu.
Berkenaan dengan bulan suci Ramadhan, kita diperintahkan untuk memperlihatkan kepada Allah SWT segala hal yang baik dan kita akan dibangga-banggakan Allah SWT di hadapan para malaikat-Nya. Karenanya, kita harus berkompetisi show di hadapan Allah SWT dengan amal-amal shalih kita. Disebutkan dalam sebuah riwayat:
“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan, Allah SWT memberikan kecukupan kepada kalian pada bulan ini. Dia menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa, dan mengabulkan doa. Allah SWT melihat kompetisi kalian dan membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya. Karenanya, tunjukanlah kepada Allah hal-hal yang terbaik dari kalian. Sebab, orang yang sengsara adalah yang terhalang dari rahmat Allah SWT.”
(Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam al mu’jam al kabir, dan di dalamnya ada Muhammad bin Abi Qais, dan saya tidak menemukan siapapun yang menjelaskan biografinya).
Target puasa adalah bertakwa. Bertakwa adalah sebuah kondisi hati yang menjadikan kita sangat berhati-hati dalam menginjakkan kaki, agar tidak menginjak duri (demikian Ubay bin Ka’ab mengilustrasikannya).
Ketakwaan seperti ini akan tumbuh dengan baik pada diri kita, di antaranya saat kita merasakan kehadiran para malaikat petugas-petugas Allah SWT dan merasakan adanya pengawasan (muroqobah) dari-Nya.
Tentunya bukan kita beramal untuk para malaikat, akan tetapi kita tetap beramal untuk Allah SWT dan menempatkan para malaikat itu sebagai petugas-petugas dari Allah SWT, agar mereka melaporkan yang terbaik kepada Allah SWT.
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh kebaikan, bulan berkah, bulan tanafus (kompetisi) dalam beramal shalih. Banyak peluang yang terbuka di hadapan kita, tinggal bagaimana kita mendayagunakan peluang-peluang itu dngan sebaik-baiknya.
Satu hal lagi yang paling penting, kita harus senantiasa memohon kepada Allah SWT agar Dia senantiasa melimpahkan taufik, hidayah, dan ‘inayah-Nya kepada kita. Sehingga, kita mampu mengisi Ramadhan tahun ini lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya, aamiin.
Ya Allah, tolonglah saya untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan baik dalam beribadah kepada-Mu. Aamiin.
Demi terpenuhinya perasaan tersebut, Allah SWT mengajarkan beberapa kaidah kepada kita, di antaranya:
1. Kita diajari agar senantiasa merasa bahwa setiap ucapan yang meluncur dari mulut kita (QS.Qaaf: 18) dan segala gerak-gerik kita senantiasa dicatat oleh malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah SWT untuk hal ini (QS.Al-Infithar: 10-12). Karenanya, tunjukanlah kepada para malaikat hal yang baik-baik, agar saat malaikat itu melaporkannya kepada Allah SWT, Dia menjadi ridha kepada kita.
2. Kita diajari, bahwa pada setiap harinya, Allah SWT menurunkan malaikat-malaikat yang bertugas di siang hari, dan malaikat-malaikat yang bertugas di malam hari. Dan yang pernah bertugas, tidak akan turun lagi. Dua shift malaikat ini bertemu pada waktu Ashar dan Shubuh. Tugas mereka adalah melaporkan hamba-hamba Allah dari kalangan manusia kepada-Nya (meskipun Allah SWT telah mengetahui semuanya). Bila manusia-manusia itu didapatinya berada di masjid sedang melakukan shalat berjamaah, maka saat para malaikat itu ditanya oleh Allah, “Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku saat engkau datang dan saat engkau tinggalkan?” Para malaikat itu akan menjawab, “Waktu kami datang, mereka sedang dalam keadaan shalat dan waktu kami tinggalkan, mereka pun sedang dalam keadaan shalat.”
wallaahua'lam bishshawwab..
Langganan:
Postingan (Atom)




