Dari mana harus memulai mimpi itu…meletakkan batu pertama di pundak…akankah menjadi bagian dari perjuangan yang sarat akan pengorbanan itu… -al akh-
Bermula dari kepindahan seorang tetangga depan rumah. Penawaran akan sebuah tugas menggantikan perannya sebagai guru TPA. Tak butuh menit-menit panjang untuk mengangguk setuju. Kalimat “Ya, saya bersedia.” terlontar segera. Dan jadilah hari-hari senja dipenuhi oleh suara, tawa, tangis, tingkah, dan polah bocah-bocah berbagai usia.
Tak banyak ilmu yang dimiliki saat itu. Hanya bermodal a-ba-ta-tsa serta dasar-dasar tajwid semata. Jangankan psikologi anak, microteaching saja buta. Tapi apa mau dikata. Rasakan sendiri cinta yang telah disemai! Dari tangis dan tawa sang anak hingga tangis dan tawa sang kakak memenuhi setiap sudut petak rumah sederhana selama kurang lebih 3 kali lamanya bumi berevolusi.
Tak lupa tugasku setiap hari
Sholat yang wajib ada lima waktu
Shubuh, zhuhur, ashar, maghrib dan isya
Tak mungkin aku lupa slama-lamanya
Aku anak muslim anak didik yang sholeh
Ikhlas menerima didikan bertuhan
Budi luhur, sopan, anak didik yang sholeh
Bakti pada Allah dan ibu bapakku…
Apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Adakah bakti pada Allah, Rasul, dan ibu bapak terpatri di hati mereka? Al-Qur’an sempurna sebagai panduan mereka? Berbuat baik pada saudara dan teman-teman menjadi keseharian mereka?
Ra’sun kepala, sya’run rambut, jabhatun dahi, hajibun alis, ‘ainun mata…
Lembar-lembar ribuan yang orang tua mereka keluarkan terganti sudah dengan buku-buku cerita dan kisah, film berwarna, serta buku dan pena. Ah, apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Kosakata arab sederhana pun belum tuntas tersampaikan. Shirah nabi, shahabat, thabi’in, dan thabi’at belum selesai dikisahkan.
“Teteeehhhh…!!!”
Malam itu mereka berlari menghampiri siswi SMA yang masih berjalan di ujung gang, masih lengkap dengan seragam putih-abu nya dan ransel di gendongannya. Tangan-tangan kecil itu berebut mencium tangannya. Mereka tak pernah tahu, sejumput demi sejumput harapan tertanam di hati gadis itu. Harapan akan sebuah generasi yang mencintai-Nya dan Ia mencintai mereka.
Apa yang bisa aku lakukan, ketika episode berlanjut dan drama kehidupan selama tiga tahun itu harus ditinggalkan.
“Teteh ke mana, Bu?”
“Teteh lagi sekolah…di Bogor.”
“Jauh amat sekolahnya, Bu…”
“Iya…”
Senja itu masih ramai. Dalam kelelahannya, Ibu menggantikan posisiku.
“Diah pinter…ngajinya udah mau Al-Qur’an…Indri juga makin lancar baca Al-Qur’an nya. Kalo Jaya masih suka nggak mau denger kalo Ibu bilangin…”
Bagaimana bicaranya, Bu? Akhlaknya? Shalatnya?
“Jaya kabur…habis dimarahin di rumahnya setelah ketauan nonton film gak bener. Katanya sih ke tempat ibunya di Pelabuhan Ratu. Tapi sampe sekarang belum ketemu…”
Rabbana…apa dayaku akan hal itu…? Anak itu memang berbeda sejak semula. Usianya melebihi anak lainnya. Akhlaknya membuat pusing kepala. Khas anak yang miskin kasih sayang orang tua. Tinggal bersama saudara, sementara ibu pergi bersama adik-adiknya. Ayah, meninggal dunia.
Suatu hari Ibu berkata padanya, “Jay, di surga nanti, Rasulullah dan anak yatim jaraknya seperti telunjuk dan jari tengah ini…Jaya harus jadi anak sholeh kalau mau seperti itu…” Dan anak itu mengangguk. Tangan ini terulur membelai kepalanya.
Rabbana…kutinggalkan ia sebelum kokoh jiwanya…
Ampuni hamba, Rabb…
Bogor, 4 September 2009/ 14 Ramadhan 1430 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar