Jumat, 13 Agustus 2010

berita angin

Langit biru bersih tanpa gumpalan awan memulai hari ini. Biasa orang-orang mengatakan hari yang cerah. Matahari tidak terlalu sering menampakkan wajahnya, sehingga suasana tidak terlalu panas. Angin pun ikut serta membuat hawa menjadi sejuk.
“Pagi ini sepertinya ramah sekali…” Bunga terompet berkata.

“Siapa?” tanya rumput tak mengerti.

“Semuanya. Dengar, burung-burung itu asik memainkan macam-macam lagu untuk kita. Kau lihat embun yang menetes di kelopak bungaku? Rasanya sejuk…sekali.”

“Ah, biasa saja. Hal itu kan selalu terjadi pada kita. Sebuah rutinitas. Apanya yang istimewa?” Rumput mencibir.

“Eh, Put. Kamu mestinya bersyukur…” tiba-tiba kupu-kupu yang hinggap di kelopak bunga terompet ikut bicara.

“Kita masih bisa hidup di dunia ini kan karena izin dari Allah. Masih untung kamu nggak dicabut sama Pak Amir buat makan kambing-kambingnya. Kayak temen-temen kamu kemaren.” Kata kupu-kupu sambil menghisap nektar dalam bunga sepatu. Bunga sepatu tersenyum.

Kemudian angin datang. Bunga-bunga selalu senang bila angin datang. Karena ia akan sangat membantu dalam proses penyerbukan bunga. Pohon juga senang. Hmm…sepertinya semua senang. Karena angin yang ramah ini biasanya datang dengan membawa kabar berita atau sekedar bercerita.

“Assalamualaikum, teman-teman…” sapanya lembut. Pohon beringin, bunga terompet, bunga melati, rumput, cacing, kupu-kupu, dan makhluk lain -selain manusia- di taman itu menjawab salam dari angin.

“Ada berita apa hari ini, Ngin?” tanya pohon beringin.

“Berita hangat! Dengarkan. Kisah Malin Kundang terulang lagi…!” kata angin heboh. Semua yang mendengarnya terperanjat. Bisik-bisik terdengar. Ada yang terpekik. Ada yang langsung menangis.

Siapapun tak ada yang tidak tahu kisah Malin Kundang. Anak durhaka yang akhirnya dikutuk menjadi batu oleh ibundanya. Dan apa tadi kata angin? Kisah Malin Kundang terulang kembali?

“Cepat, Ngin! Ceritakan pada kami!” cacing akhirnya bicara.

“Sebuah rumah di komplek sebelah. Seorang pria tergolek lemah di atas ranjangnya…”

“Apa dia sakit? Sakit keras? Lalu apa hubungannya dengan Malin Kundang?” tanya bunga melati tergesa-gesa.

“Sabarlah, Melati…Lebih baik biarkan angin menyelesaikan ceritanya sampai habis.” kata kupu-kupu. Lalu disetujui oleh yang lain.

“Ia sakit parah. Sangat parah. Malaikat pencabut nyawa, malaikat Izrail, sudah menarik ruhnya sampai ke leher. Namun, ruh itu belum bisa dikeluarkan…” beberapa terpekik kecil.

“Pasti rasanya sakit sekali…” gumam rumput.

“Sangat. Sangat sakit. Banyak orang sudah menuntunnya mengucapkan kalam Allah. Tapi malaikat maut itu tetap menahan ruhnya. Dan kalian tahu kenapa?” angin sengaja menghentikan kalimatnya.

“Ia pernah durhaka pada ibunya. Dan ibunya itu belum memaafkannya…” lanjut angin.

“Alqamah…Seperti kisah Alqamah saat zaman Rasulullah saw. …” kata batu. Semua beralih pada batu. Pun angin.

“Kakekku pernah bercerita tentang kisah itu. Kisah Alqamah yang durhaka pada ibunya, lalu tidak bisa menghembuskan nafasnya saat sakratulmaut. Akhirnya para sahabat datang ke rumah sang ibu agar beliau mau memberikan maaf pada Alqamah. Tapi sang ibu tak mau. Hatinya terlalu sakit untuk mampu memberikan maaf pada putra yang telah amat sangat mengecewakannya. Akhirnya Rasul berkata, apabila sang ibu tak mau memaafkan putranya, Alqamah akan dibakar. Agar ia lekas meninggal dan terlepas penderitaannya…”

“Terus, apa yang akhirnya terjadi…?!” tanya bunga terompet.

“Sabar…aku akan lanjutkan. Akhirnya sang ibu pun luluh dan mau memaafkan Alqamah. Ruh Alqamah pun terlepas dari raganya…” batu mengakhiri ceritanya.

“Persis. Seperti itulah yang terjadi pada pria di sebuah rumah komplek sebelah…” kata angin sendu. Semua terdiam. Bunga melati dan bunga terompet menangis. Alam pun seakan turut bersedih.

“Pernah dengar ayat Al Quran seperti ini: ridha Allah tergantung pada ridha orang tua…” ujar pohon.

“Mengapa masih saja ada anak yang berani durhaka pada ibunya…?” tanya bunga melati di tengah isak tangisnya.

“Tidakkah mereka ingat siapa yang melahirkannya dengan susah payah? Merawatnya? Mengasihinya?” ujar bunga terompet.

“Sampai-sampai Rasulullah mengatakan bahwa hormat pada ibu nilainya 3, baru kemudian ayah…” kata cacing.

“Aku tahu kisahnya! Saat sahabat bertanya, ‘siapa yang harus aku hormati?’ lalu Rasul menjawab ‘ibumu’ sahabat kembali bertanya ‘siapa lagi?’ ‘ibumu’ ‘lalu?’ ‘ibumu’ tiga kali Rasul mengatakan ‘ibumu’ kemudian sahabat bertanya lagi ‘lalu siapa lagi, ya, Rasul?’ dan Rasul pun menjawab ‘ayahmu’…” rumput bercerita.

Semua yang berada di sana tersenyum dan mengangguk. Angin telah membawa pelajaran untuk alam. Angin telah membawa hikmah. Angin membawa kisah. Juga bunga terompet, melati, rumput, pohon, cacing, kupu-kupu, dan batu.

Namun, adakah manusia mendengarnya…?

* * * *

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…”


adkhilni_151204

Tidak ada komentar:

Posting Komentar