Jumat, 13 Agustus 2010

show di hadapan Allah

(Musyaffa Abdurrahim dalam Membangun Ruh Baru)

Memperlihatkan amal shalih di hadapan manusia (riya’) adalah syirik ashghar (syirik kecil). Dampaknya, amal shalih yang didasari dan ditujukan untuk riya’ ini tidak akan diterima Allah SWT. Repotnya, pada diri dan jiwa manusia ada kecenderungan untuk diperhatikan. Dilihat, dan ditonjolkankepada orang lain, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghazali rahimahullah.

Pertanyaannya, adakah Allah SWT menuntut kita untuk melawan sesuatu yang sebenarnya ada di dalam jiwa kita? Atau lebih konkretnya, mungkinkah Allah SWT melarang kita dari perbuatan riya’, sementara kecenderungan itu ada dan included dengan penciptaan manusia?

Allah SWT Maha Pencipta (Al-Khaliq), Maha Mengetahui (Al-‘Alim), dan juga Maha Bijaksana (Al-Hakiim). Pada saat menciptakan manusia yang included di dalamnya kecenderungan untuk dilihat, dikagumi, dan diceritakan oleh orang lain, Dia pun memberikan jalan keluar yang menjadi tempat tumpahan perasaan itu.

Berkenaan dengan bulan suci Ramadhan, kita diperintahkan untuk memperlihatkan kepada Allah SWT segala hal yang baik dan kita akan dibangga-banggakan Allah SWT di hadapan para malaikat-Nya. Karenanya, kita harus berkompetisi show di hadapan Allah SWT dengan amal-amal shalih kita. Disebutkan dalam sebuah riwayat:


“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan, Allah SWT memberikan kecukupan kepada kalian pada bulan ini. Dia menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa, dan mengabulkan doa. Allah SWT melihat kompetisi kalian dan membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya. Karenanya, tunjukanlah kepada Allah hal-hal yang terbaik dari kalian. Sebab, orang yang sengsara adalah yang terhalang dari rahmat Allah SWT.”

(Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam al mu’jam al kabir, dan di dalamnya ada Muhammad bin Abi Qais, dan saya tidak menemukan siapapun yang menjelaskan biografinya).


Target puasa adalah bertakwa. Bertakwa adalah sebuah kondisi hati yang menjadikan kita sangat berhati-hati dalam menginjakkan kaki, agar tidak menginjak duri (demikian Ubay bin Ka’ab mengilustrasikannya).

Ketakwaan seperti ini akan tumbuh dengan baik pada diri kita, di antaranya saat kita merasakan kehadiran para malaikat petugas-petugas Allah SWT dan merasakan adanya pengawasan (muroqobah) dari-Nya.

Tentunya bukan kita beramal untuk para malaikat, akan tetapi kita tetap beramal untuk Allah SWT dan menempatkan para malaikat itu sebagai petugas-petugas dari Allah SWT, agar mereka melaporkan yang terbaik kepada Allah SWT.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh kebaikan, bulan berkah, bulan tanafus (kompetisi) dalam beramal shalih. Banyak peluang yang terbuka di hadapan kita, tinggal bagaimana kita mendayagunakan peluang-peluang itu dngan sebaik-baiknya.

Satu hal lagi yang paling penting, kita harus senantiasa memohon kepada Allah SWT agar Dia senantiasa melimpahkan taufik, hidayah, dan ‘inayah-Nya kepada kita. Sehingga, kita mampu mengisi Ramadhan tahun ini lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya, aamiin.


Ya Allah, tolonglah saya untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan baik dalam beribadah kepada-Mu. Aamiin.

Demi terpenuhinya perasaan tersebut, Allah SWT mengajarkan beberapa kaidah kepada kita, di antaranya:

1. Kita diajari agar senantiasa merasa bahwa setiap ucapan yang meluncur dari mulut kita (QS.Qaaf: 18) dan segala gerak-gerik kita senantiasa dicatat oleh malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah SWT untuk hal ini (QS.Al-Infithar: 10-12). Karenanya, tunjukanlah kepada para malaikat hal yang baik-baik, agar saat malaikat itu melaporkannya kepada Allah SWT, Dia menjadi ridha kepada kita.

2. Kita diajari, bahwa pada setiap harinya, Allah SWT menurunkan malaikat-malaikat yang bertugas di siang hari, dan malaikat-malaikat yang bertugas di malam hari. Dan yang pernah bertugas, tidak akan turun lagi. Dua shift malaikat ini bertemu pada waktu Ashar dan Shubuh. Tugas mereka adalah melaporkan hamba-hamba Allah dari kalangan manusia kepada-Nya (meskipun Allah SWT telah mengetahui semuanya). Bila manusia-manusia itu didapatinya berada di masjid sedang melakukan shalat berjamaah, maka saat para malaikat itu ditanya oleh Allah, “Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku saat engkau datang dan saat engkau tinggalkan?” Para malaikat itu akan menjawab, “Waktu kami datang, mereka sedang dalam keadaan shalat dan waktu kami tinggalkan, mereka pun sedang dalam keadaan shalat.”

wallaahua'lam bishshawwab..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar