Selasa, 19 Juli 2011

part 6

Rasanya baru dua bulan yang lalu beliau mengucapkan perjanjian agung itu. Emang baru dua bulan sih. Hampir tiga bulan tepatnya. Pada suatu waktu saya bertemu seorang kawan. “Weeesss...penganten baru...gimana rasanya, Dil?” katanya. Saya jawab, “Wahhh...bahagia sekali, Mas...”. Trus dia bilang lagi, “Paling cuma tiga bulan...hahahaha...”. Dasar! Kawan saya melanjutkan lagi, “Kata temen-temenku yang udah nikah, nikah itu enaknya cuma tiga bulan. Setelah itu, akan ada banyak masalah... Siap-siap aja...” Saya manyun. Nggak mau disamain sama temen-temennya kawan saya itu. Saya paham betul, akan selalu ada masalah selama mengarungi bahtera rumah tangga. Tapi saya nggak mau, kebahagiaan itu cuma mampir tiga bulan. “Liatin aja...akan kubuktikan setelah tiga bulan nanti.. :P” kata saya kepada kawan saya akhirnya.

Dua bulan 19 hari. Suatu ketika kami berbeda pendapat. Lebih lama dari yang sudah-sudah, sehari semalam. Plegmatisnya saya umpetin dan saya sematkan melankolis pada diri saya saat itu. Ketika malamnya suami saya membawa makanan, saya pura-pura tidur. Selain karena lagi sebel, saya pengen sekali-kali tidur lebih dulu dari suami saya. Hasilnya? Saya kelaparan! Nah, rugi banget ‘kan..? Akhirnya saya menyesal. Mulai belajar kembali untuk mendamaikan perasaan. Alhamdulillah, masalah selesai. Tapi saya tetap bilang sama suami saya, “Pokoknya, suatu saat aku harus tidur lebih dulu daripada Aa. Cepat atau lambat, aku akan melakukannya! :P”

Subhanallah. Konflik (yang terselesaikan) ternyata salah satu seni menumbuhkan cinta. Asal jangan dibuat-buat aja. Minimal itulah hikmahnya. Guru kami, Ust. Asep pun berkata saat memberi taujih pada hari pernikahan kami, “Karena menikah itu ibadah, ya pasti ada aja masalah. Tapi di situlah tarbiyahnya..”. Ahh..usia pelayaran kami masih sangat muda. Jarak tempuhnya pun masih pendek. Masih perlu banyak belajar pada orang tua-orang tua kami. Satu hal yang pasti, cinta memang kata kerja, kata Ust. Anis Matta. Memang perlu diupayakan. Kalaupun tiba-tiba ia tumbuh sendiri tanpa kerja keras, itu anugerah. Wajib disyukuri.

Suatu hari suami saya berkata, “Nong, besok-besok kalo Aa pulang, disambut yang baik, ya.. Pake jilbab dan baju yang rapi. Mau pergi ngaji aja rapi, masa ketemu suaminya nggak...”. Saya nyengir sambil ngangguk. Ini gara-gara saya ketiduran abis maghrib, trus pas beliau pulang ke rumah saya sambut dengan mukena lengkap masih saya kenakan. Mata sipit karena bangun tidur (itu juga bangun karena denger suara klakson motor). Untung nggak ada bercak-bercak di wajah.

Kemarin suami saya berpesan kembali saat bertemu di kampus, “Jangan lupa, nanti malem yang rapi ya..” Saya berpikir keras. Kira-kira saya musti berpenampilan kayak gimana? Pake batik? Aduh. “Yaudah, aku pulangnya bareng Aa aja...” Suami saya manyun. Sepanjang jalan pulang, saya berpikir. Trus ketawa-ketawa sendiri, setelah memikirkan rencana kostum yang akan saya kenakan. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengenakan daster yang biasa saya pakai (dasternya layak kok, kayak gamis), tapi berjilbab rapi layaknya hendak keluar rumah. Cengar-cengir sendiri. Sambil berandai setelah itu beliau mengajak makan kepiting di warung seafood (ngarep..). Kemudian beliau pulang. Lalu terpesona (‘kaliii...). Backsoundnya lagu Rhoma Irama, ‘diii balik kerudung...’ (:P) “Subhanallah..alhamdulillah..meskipun pake daster..” Saya mingkem denger statement terakhirnya. Tapi saya bahagia. Apalagi setelah melihat bungkusan plastik yang dibawanya. Kepiting asam manis! “Enaknya kalo makan kepiting begini rame-rame...” kata beliau dengan kaki kepiting di tangannya. “Iya...biar seru ya, A...” kata saya sambil nyongkel daging dalam cangkang. “Iya...biar bisa patungan juga bayarnya...” Dasar! :))

Ahh...ya. Memang perlu diupayakan. Menyemai benihnya. Memberi nutrisinya. Menyiraminya. Memang tidak mudah. Tapi tetap saja, indah. Sebulan. Tiga bulan. Setahun. Selamanya. Insyaallah.
[190711]

Setulus hati menyampaikan kepada para 'assabiqunal awwalun' dalam pelayaran bahtera rumah tangga: baarakallaahulakum.. :)

part 5

Suatu hari, ba’da shubuh, kami kembali diingatkan oleh sebuah taujih dari sebuah buku taujihat pekanan kader PKS. Temanya mengenai Fiqih Zuhud dan Qana’ah. Saya akan membaginya untuk rekan-rekan semua. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah untuk mengamalkannya.
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Akhi wa ukhti fillah...
Kehidupan dunia itu bersifat sementara. Dunia bukan tempat tinggal yang abadi. Allah SWT dan Rasul-Nya telah banyak memberikan informasi kepada kita tentang hakikat dunia. Allah SWT berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadiid: 20)
Akhi wa ukhti fillah...
Kehidupan dunia yang sementara ini, harus kita jadikan sebagai bekal untuk menuju kehidupan yang kekal nan abadi, yaitu kehidupan akhirat. Karena dunia adalah jembatan menuju akhirat. Allah SWT berfirman, “Dan carilah dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu kebahagiaan akhirat, namun jangan kamu lupakan bagianmu di dunia...” (Al-Qashash: 77). Dunia adalah mazra’ah (lahan amal) yang kita akan temukan hasilnya kelak. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az-Zalzalah: 7-8).
Oleh karenanya, kita sebagai kader partai dakwah harus mampu membangun amal unggulan dan amal kebaikan di dunia sebagai bekal untuk akhirat kita. Membangun citra diri seorang kader dakwah dengan meningkatkan kekuatan spiritual pada semua marhalah “amal” yang telah dijabarkan Asy-Syahid dalam Majmuu’ah Rasaa’il. Salah satu kekuatan spiritual yang harus dimiliki seorang qiyadah (pemimpin) dan kader dakwah ini, khususnya di mihwar mu’assasi adalah sifat zuhud dan qana’ah.
Akhi wa ukhti fillah...
Rasulullah saw. telah bersabda: Dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idy, ia berkata, “Seseorang telah mendatangi Nabi saw. seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amalan yang sekiranya aku mengerjakannya, maka Allah dan manusia mencintaiku.’ Lalu Rasulullah saw. bersabda, ‘Zuhudlah kamu pada dunia, niscaya Allah akan mencintaimu; dan zuhudlah pada apa yang dimiliki manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)
Akhi wa ukhti fillah...
Kenapa akhlak zuhud dan qana’ah harus difokuskan dan ditekankan pada mihwar mu’assasi ini? Karena kita sadar betul bahwa di saat dakwah memasuki mihwar ini, peluang-peluang kebaikan dan kemudahan sangat terbuka bagi kita. Pintu-pintu dunia terbuka luas di depan kita. Dan di sisi lain, gesekan-gesekan kepentingan antarkader mulai terasa. Syahwat duniawi mulai tak terbendung merasuki jiwa kita. Hal ini belum pernah kita temukan dan kita rasakan pada mihwar-mihwar sebelumnya. Karena memang sebelumnya belum pernah ada jabatan publik dan jabatan politik yang sangat menggiurkan semua manusia. Sebelumnya rahim dakwah memang belum pernah melahirkan mujahid siyasi (dai politikus) yang sekaligus menjadi entrepreneur muda.
Akhi fillah...
Coba kita renungkan sejenak kondisi saudara-saudara kita yang berebut dan bermusuhan di partai-partai mereka. Tidakkah semua disebabkan faktor dunia ini?
Akhi wa ukhti fillah...
Rasulullah saw. sejak awal mengingatkan para sahabatnya –di mana mereka adalah generasi terbaik umat ini– tentang fitnah kenikmatan dan kelapangan dunia. Tentunya, agar jiwa para sahabat tidak terfitnah dengan dunia dan mampu mengendalikannya sebagai sarana meraih kehidupan akhirat. Beliau saw. bersabda: Dari Atha’ bin Yasar, dia mendengar Abu Said Al-Khudri r.a. bercerita bahwa Nabi saw. pada suatu hari duduk di atas mimbar dan kami duduk di sekelilingnya. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya di antara yang paling aku takutkan atas kalian sepeninggalku adalah terbukanya kenikmatan dunia dan perhiasannya atas kalian...” (HR. Bukhari)
“Maka demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian tetapi dihamparkannya dunia sebagaimana yang dialami orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba meraihnya sebagaimana mereka dan juga akan dihancurkannya sebagaimana mereka.” (HR. Bukhari)
Akhi wa ukhti fillah...
Zuhud bukan berarti harus meninggalkan dunia. Zuhud juga bukan berarti kita tidak diperbolehkan ikut serta dalam panggung politik, meraih jabatan, dan jauh dari dunia usaha. Akan tetapi, yang dimaksud dengan hakikat zuhud adalah penguasaan dunia tanpa harus mengganggu jiwa. Dunia boleh di genggaman kita, tapi tidak boleh melekat dalam hati kita.
Akhi fillah...
Apapun yang kita miliki dari kekayaan yang diberikan Allah, bila kita gunakan dan kita belanjakan untuk membangun amal kebaikan dan amal unggulan dalam bingkai ukhrawi kita, maka hal ini juga termasuk zuhud.
Akhi wa ukhti fillah...
Banyak sahabat dan tabiin yang memiliki harta dan kekayaan yang melimpah ruah. Akan tetapi, mereka termasuk orang-orang yang paling zuhud pada masanya. Dari kalangan sahabat lahir tokoh zuhud seperti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, dan Sa’ad bin Abi Waqash. Dari kalangan tabiin muncul tokoh yang paling zuhud seperti Abdullah bin Mubarak, Sufyan Ats-Tsauri, dan Al-Laits bin Said, bahkan beliau berkata, “Sekiranya kita tidak memiliki harta, maka mereka akan menjadikan kita seperti telapak meja.”
Akhi wa ukhti fillah...
Tidak masalah bila di kalangan kader dakwah pada mihwar muassasi dan mihwar-mihwar selanjutnya banyak yang memiliki harta dan kekayaan yang dihasilkan dari jabatan-jabatan publik, partnership strategic (Rabthul ‘Aam), dan amal usaha halal yang lain. Hanya saja, mereka harus lebih semangat memberikan kontribusi maaliyah-nya kepada dakwah, selain memenuhi kewajiban yang telah disepakati.
Zuhudnya seorang kader adalah apabila ia senantiasa berlomba-lomba dalam jihad siyasi dengan segala yang dimiliki. Apalagi rezeki dan kekayaan yang diberikan Allah SWT kepada kita, salah satu pintunya adalah dakwah ini.
Allah SWT berfirman:
“Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah: 41)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujuraat: 15)
Rasulullah saw. bersabda:
“Sebaik-baik harta adalah harta yang baik di tangan orang yang saleh.” (HR. Imam Ahmad dari sahabat Amr bin Al-Ash)
Akhi wa ukhti fillah...
Coba kita renungkan pernyataan para salafusaleh tentang zuhud yang dikutip Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziah berikut ini: Aku mendengar Syaikhul Islam, Ibnu Taimiah, semoga Allah menyucikan ruhnya, berkata, “Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat.”
Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Zuhud pada dunia adalah pendek angan-angan, bukan memakan makanan biasa dan memakai pakaian kasar.”
Imam Al-Junaid Al-Baghdadi berkata, “Zuhud itu seperti yang dijelaskan dalam firman Allah, ‘Kami jelaskan yang demikian itu supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Al-Hadiid: 23)’. Maka, orang yang zuhud adalah orang yang tidak terlalu gembira terhadap dunia yang ada dan tidak bersedih terhadap yang hilang.”
Akhi wa ukhti fillah...
Dengan semangat zuhud yang kita lakukan, akan melahirkan soliditas internal yang kuat, harmonisasi sosial, keterpautan hati masyarakat dengan kita, selain terbentuknya kekuatan spritual di sisi Allah.
Akhi wa ukhti fillah...
Selain sifat zuhud ini, setiap kita juga harus memiliki sifat qana’ah. Qana’ah berarti ridha dengan jatah atau bagian, menerima sesuatu yang terjadi dan yang telah ditetapkan Allah, baik yang berkaitan dengan rezeki, jabatan, dan musibah. Qana’ah sangat urgen dimiliki oleh kader pada era mihwar muassasi dan mihwar selanjutnya. Karena qana’ah merupakan benteng jiwa yang mampu menahan arus dan gelombang frustasi, futur, lemah, dan tak berdaya di saat harapan dan keinginan jiwa tak tercapai. Seperti harapan besar kita dalam memenangkan Pemilu.
Akhi wa ukhti fillah...
Manifestasi sifat qana’ah dalam diri kader adalah penerimaan dan keridhaan atas kekalahan dan kemenangan setelah melakukan seluruh usaha dan perjuangan. Inilah yang dimaksud dengan qana’ah rabbaniah yang termaktub dalam hadits “radhiitu billaahi rabban” (aku ridha Allah sebagai Rabb). Menerima dengan penuh keikhlasan atas semua yang terjadi. Allah SWT berfirman:
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Al-Hadiid: 22-23)
Akhi wa ukhti fillah...
Qana’ah dalam bingkai gerakan dakwah kita juga berarti penerimaan atas keputusan dan kebijakan yang telah diambil dan ditetapkan oleh Qiyadah Tandzimiah kita. Inilah yang disebut dengan qana’ah fikriyah. Qana’ah ini sangat penting dalam menguatkan soliditas kader, menjaga amal jama’i, dan mengokohkan barisan dakwah.
Dan qana’ah juga berarti hilangnya rasa iri dan dengki terhadap kondisi saudara kita yang lain. Mungkin ada saudara kita yang telah mendapatkan amanah jabatan, baik yang di legislatif maupun di eksekutif. Ada yang memiliki kekayaan yang melimpah dari hasil kemitraan, partnership, dan pengembangan usaha halal lainnya. Maka sebagai kader, kita perlu membersihkan hati dari sifat ghill (iri/ dengki). Tidak usah berkomentar dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, seperti, “Sama-sama anggota DPR kok beda-beda rezekinya.” Bahkan yang urgen, kita melakukan autokritik terhadap diri kita tentang kelemahan dan ketidakberdayaan diri. Inilah inti doa yang diajarkan Allah kepada kita:
“Dan orang-orang yang datang sesuadah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (Al-Hasyr: 10)
Akhi wa ukhti fillah...
Semoga sifat zuhud dan qana’ah ini senantiasa inheren dan mengkristal dalam jiwa kita sebagai kader partai dakwah. Agar kita bisa istiqamah dalam berdakwah, bersatu di bawah panji-panji harakah, dan bersama merealisasikan cita-cita besar kita, yaitu ustaadziyatul ‘aalam.
Wallaahu a’lam bish-shawaab.
Begitulah isi taujih yang dibacakan oleh suami saya. Saya termenung. Menatap wajahnya. Ada sebening air menetes dari matanya.
[240611]

Minggu, 10 Juli 2011

suka deh.. :)

Saya lagi baca-baca majalah Ummi, trus ngeliat sebuah puisi di rubrik ‘Permata’. Bagi saya, puisi yang ditulis oleh anak kelas dua madrasah ibtidaiyah (setara dengan es-de) ini hebat sekali. Menceritakan proses terjadinya hujan secara sederhana dengan indah, dan tentu saja puitis. Ini puisinya:

Kisahku
Aku
Setetes air
Samudra rumahku
Bersama ayah, ibu, dan adik
Di suatu senja kutinggal mereka
Karena diajak panas matahari
Kini aku di langit bersama teman-teman
Bingung kemana hendak dituju
Oh ibu...
Aku rindu
Sedih, andai tiada perpisahan
Aku pun menangis lalu jatuh ke bumi
Mereka panggil aku
Hujaan! Hujaaan! Datang
Berhari-hari aku berjalan bersama sungai
Kini...
Aku bertemu ibu, ayah
Dan kakak adikku di samudra
Bahagia...
Karya: Zoelva Nadia; kelas II MI Al-Wathoniyah; Mojoanyar Bareng Jombang Jawa Timur 61474

Nice.. :)


 

Kamis, 07 Juli 2011

#4

..Kadang takdir Allah terlalu rumit dicerna dalam basis data dan fakta logika manusia. Tapi menjadi lebih mudah diterima dalam basis iman seoran hamba. Memang benar ketika dikatakan bahwa kekuatan seorang hamba ketika dia memasrahkan semua urusan pada Rabb-nya. Maka jika takdir adalah kehendak-Nya, biarkan kita hanyut dalam skenario-Nya. Semoga muara dari tiap aliran takdir-Nya membawa pada samudra keridhaan-Nya..



Selasa, 05 Juli 2011

alhur membina..

Saya baru mendengar nama Al-Hurriyyah pertama kali sejak menginjakkan kaki di tanah Institut Pertanian Bogor, Darmaga. Pada saat penerimaan mahasiswa baru saya berkesempatan untuk menunaikan sholat zuhur di sana. Merasakan lembutnya lantai marmer masjid untuk yang pertama kali. Di sela-sela perasaan yang membuncah, terselip haru dalam tanya. Di tempat ini kah akan saya miliki cerita...?
Awalnya saya mengisi beberapa kolom UKM di form pendaftaran. Nyatanya tak satu pun UKM tersebut saya ikuti. Terbiasa mengikuti organisasi di sekolah menengah, rasanya pasti akan berbeda bila di kampus saya hanya kuliah tanpa beraktifitas di luar itu. Suatu ketika saya berbincang dengan seorang senior, kakak pendamping saya saat ospek. Beliau berkisah tentang kegiatan yang diikutinya di kampus. Sebuah lembaga semi otonom DKM Al-Hurriyyah bernama Birena, bimbingan remaja dan anak-anak. Mendengar ceritanya, saya teringat TPA yang dulu ada di rumah. Selama tiga tahun saya mengajar anak-anak sekitar komplek perumahan di rumah saya setiap ba’da maghrib. Dan sumringah lah wajah saya saat mendengar kegiatan yang diceritakan senior saya tersebut. Esoknya saya mendaftar, wawancara, kemudian dipersilakan untuk magang di sana. Maka setiap hari Ahad pagi langkah kaki saya tegap menuju Aula Masjid Al-Hurriyyah di mana kegiatan itu berlangsung.
Beberapa saat kemudian, dibuka pendaftaran pengurus BEM TPB. Barangkali memang sudah di-renstra olehNya sehingga saya tergerak untuk mendaftar. Dan masuklah saya dalam kepengurusan menjadi sekretaris 1 BEM TPB angkatan 43. Aktifitas saya di lembaga ini, ternyata tak menghalangi saya untuk rajin mampir di Al-Hurriyyah. Beberapa pelatihan keorganisasian saya ikuti di Al-Hurriyyah. Melepas penat karena banyaknya rapat, saya ke Al-Hurriyyah. Berjumpa kawan seperjuangan, seringkali di Al-Hurriyyah.
Selepas tingkat satu, saya mulai fokus di Birena. Saya tidak banyak mengenal pengurus Al-Hurriyyah. Birena yang saat itu menjadi lembaga semi otonom praktis tidak bergabung secara langsung dengan kepengurusan LDK Al-Hurriyyah. Baru tahun 2009 Birena dijadikan departemen di bawah LDK Al-Hurriyyah, tidak lagi menjadi LSO. Dan pada tahun 2010 saya diminta untuk membantu mengkoordinasikan Departemen Birena dengan LDK Al-Hurriyyah.
Al-Hurriyyah mengikat saya tak hanya dengan struktur keorganisasian, namun lebih dari itu. Ia benar-benar mengikat saya dengan banyak ikatan yang lembut. Secara fisik, Al-Hurriyyah membuat saya betah berlama-lama di sana. Kesejukannya, kenyamanannya, serta ketenangannya membuat saya tak jarang terlelap di sana (hehe..). Apalagi semenjak tingkat dua saya tinggal di rumah tante yang rumahnya jauh dari kampus. Maka Al-Hurriyyah menjadi tempat persinggahan di saat waktu kosong saya, selain pada jam-jam sholat fardhu. Ruang-ruang di balik mihrabnya menjadi tempat kami memusyawarahkan berbagai persoalan. Sudut-sudutnya menjadi tempat bagi saya menimba ilmu dalam sebuah halaqah. Hamparan sajadahnya menjadi tempat bagi saya untuk bermunajat padaNya, menumpahkan air mata kegalauan hati saya, dan menggumamkan doa-doa untuk banyak hal dalam hidup saya. Tembok-temboknya menjadi tempat saya bersandar sambil membaca diktat atau hand out kuliah. Bahkan jalan setapaknya membuat saya banyak berdzikir karena seringnya saya terjatuh dari motor di sana. Ah, Al-Hurriyyah mengikat saya dengan saudara-saudara saya dalam iman, dalam ikatan bernama ukhuwah islamiyah. Ikatan yang membuat saya selalu terpesona.
Hingga akhirnya, Al-Hurriyyah pun menjadi sarana tak langsung bertemunya saya dengannya, seorang pemuda yang akhirnya menjadi teman hidup saya. Seorang pemuda sederhana yang bersamanya saya percayakan masa depan saya. Saya tidak terlalu mengenal pemuda itu sebelumnya. Saya hanya tahu bahwa beliau merupakan ketua DPQ (Departemen Pengajaran Qur’an) LDK Al-Hurriyyah pada tahun 2009 serta koordinator asisten PAI (Pendidikan Agama Islam) IPB dan staff PSDM LDK Al-Hurriyyah pada tahun 2010. Saya hanya tahu beliau satu angkatan dengan saya dan memiliki kemampuan yang sangat baik dalam membaca dan melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Saya hanya tahu beliau tinggal di asrama Al-Hurriyyah sebagai marboth dan kerap menjadi muadzin atau imam shalat tarawih. Saya hanya tahu beliau membuka sebuah usaha kuliner, martabak mini, bersama tiga sahabat saya. Ya, saya mengenalnya selama ini sebagai saudara seperjuangan di kampus, yang walaupun tidak pernah bersama dalam satu tim, tetapi kami memperjuangkan hal yang sama. Kampus madani.
Pada Februari 2011, pemuda itu meminang saya. Selang tiga bulan setelah khitbah, 2 pekan setelah ia pulang dari PKL di Kalimantan, kami melangsungkan akad pernikahan pada tanggal 1 Mei 2011. Dan masya Allah, setelah itu pun, hari-hari kami dipenuhi banyak cerita, dari Al-Hurriyyah. Ya, ternyata kami belum bisa lepas dari Al-Hurriyyah. Tak ingin lepas, tepatnya. Hati kami, terpaut di Al-Hurriyyah.
Ah...sekiranya saya tak ‘terikat’ dengan Al-Hurriyyah, kira-kira di mana Allah pertemukan saya dengan jodoh saya...? J