Selasa, 14 Juni 2011

part 4

Suatu hari saya mengirimkan sms kepada suami saya: “Dulu kita pernah meminta padaNya pasangan untuk menjadi pendamping hidup kita, lalu Dia memberikannya pada kita. Kita bersyukur kepadaNya, dan kita bahagia. Kemudian Allah berikan ujian pada kita, Dia ingin agar kita tetap mengingatNya dan tidak melupakanNya. Maka bersyukurlah, cinta..Dan marilah kita memilih untuk bahagia...” 

Setiap kita pasti pernah memohon padaNya untuk diberikan pasangan yang sholih. Doa yang kerap dibaca barangkali seperti ini: ‘rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa’. Suami saya berdoa pada Ramadhan tahun lalu agar Ramadhan berikutnya beliau telah memiliki pendamping. Bila kami disampaikan pada Ramadhan tahun ini, maka terkabul-lah doa suami saya tersebut. Saya berdoa pada awal masa kuliah, agar wisuda nanti saya didampingi oleh ibu dan suami saya. Bila kami disampaikan pada momen tersebut, maka di sanalah saya dan suami saya berada. Dalam pembicaraan bersama sepasang pengantin baru dan seorang pemuda single, saya berujar, “Subhanalloh, udah mau Ramadhan aja ya.. Ramadhan taun lalu beliau berdoa supaya Ramadhan taun depan udah punya istri..” saya menunjuk suami. “Dia juga nih..” kata teman saya menunjuk istrinya. “Ente berdoa juga nggak?” tanya saya kepadanya. “Beuh..saya berdoa dari Ramadhan empat tahun yang lalu..” jawab teman saya itu. Kami tertawa puas. Dan sang pemuda single cengar-cengir tidak berkomentar.

Dari buku-buku dan pengalaman banyak orang, saya mengenal hal-hal yang mungkin terjadi dalam rumah tangga. Riak-riak dan duri-duri yang akan muncul. Dan ketika tawaran menikah itu datang, saya memutuskan siap menerima segala konsekuensinya. Lalu Allah berikan jalan kepada kami hingga akad nikah itu pun terjadi.
Kini, setelah berumah tangga, dan menemukan beberapa hal kurang enak yang telah saya bayangkan sebelumnya, saya hanya tersenyum. Berkomentar dalam hati, “Eh..kejadian juga..”. Rasanya malu sama Allah kalo saya sampai mengeluh apa lagi kecewa. Nanti kata Allah, “Lho..’kan dulu kamu minta, sekarang sudah Aku berikan. Kamu juga sudah tahu sendiri konsekuensinya, dan kamu siap menjalaninya..” Duh, malu saya. Maka saya berupaya untuk mengelola perasaan saya, ketika mengenal sifat dan karakter suami saya. Ketika kami dihadapkan dengan beberapa masalah. Ketika kami berbeda pendapat. Ketika kami merencanakan sesuatu. Ketika kami bersama dalam kehidupan kami.

Suatu hari saya pernah merasakan mood saya sangat tidak baik. Saya menunggu suami saya pulang mengajar, berpikir beliau masih membawa motor yang semalam dipinjam dari sahabat suami saya. Saya mau ke kampus, dan malas naik angkot. Ternyata suami saya pulang tanpa motor. Saya semakin bete. Melihat sikap saya yang tidak seperti biasanya, beliau berujar lembut, “Kenapa, Nong..? Biasanya kau menyejukkan hatiku..” Saya tersentak. Astaghfirullah. Iya, kenapa saya ini..? Saya teringat nasihat seorang ummahat kepada saya, “Kalau nanti terjadi sesuatu dalam rumah tanggamu, cepat-cepat evaluasi dirimu. Evaluasi konektivitasmu dengan Allah...” Akhirnya saya kembali mendapat pelajaran untuk senantiasa mengelola perasaan saya agar dapat menjadi penyejuk mata dan hati suami saya. Agar Dia ridha. Agar Dia berkenan memberikan rahmat dan berkahNya kepada kami. Dan untuk itu, saya harus berhubungan baik denganNya. Tenang saja, ‘makan hati’ dalam membina rumah tangga itu nggak rugi koq, insya Allah. Justru akan terjadi KDRT, kemesraan dalam rumah tangga.. hehe..

“Afwan ya..tadi Aa bermuka masam..” Suatu hari, sebuah pesan masuk ke inbox hape saya, dari suami saya. Sebelumnya kami sempat dibuat repot oleh mogoknya kendaraan roda dua kami, padahal baru saja itu motor keluar dari bengkel. Karena saya harus menghadiri suatu agenda, saya meninggalkannya terlebih dahulu. Wajahnya keruh. Sebelum saya pergi, beliau meminta saya untuk mengirimkan sms tausyah. Saya tersenyum membaca sms darinya. Kemudian saya ketik sebuah pesan untuk suami saya, pesan yang saya tulis di awal tulisan ini. Oke, send.

Tiba-tiba sebuah pesan kembali masuk. “Mba, salah kirim ya? Isinya koq tentang pasangan pasangan gitu? Ehm...beda yang udah nikah mah... :D” Hah...??? -________-“

[150611]

part 3


Sejak awal sudah terpatri dalam diri saya bahwa pernikahan itu tidak hanya mawar yang bertebaran, tetapi juga duri yang menusuk-nusuk. Bahwa bahtera ini tidak melulu berlayar di air yang tenang, tapi juga di lautan yang bergelombang. Itu juga merupakan salah satu cara saya mempersiapkan diri. 

Maka setelah darmaga itu saya datangi dan bahtera itu saya layari, tak hentinya saya bersyukur padaNya. Saya pernah membaca sebuah majalah tarbawi edisi yang keberapa saya lupa, yang jelas judulnya: terkadang bukan keadaan yang perlu kita ubah, tapi suasana hati yang perlu kita perbaiki. Yah, kira-kira begitulah judulnya. Dan itu menjadi salah satu cara saya berpartner dengan pasangan  saya dalam sebuah pernikahan. Menikah membuat saya belajar semakin dalam, bagaimana mengelola perasaan. 

“Semuanya telah tertulis dalam lauh mahfuz, tidak akan bergeser waktunya, tidak akan berganti orangnya. Dan yang terpenting adalah, siap dengan segala risiko yang akan terjadi setelah menikah...” itu pesan murobbi saya yang saya camkan betul dalam diri saya. Ya, kesiapan menerima segala risiko. Bahagianya maupun dukanya. Mudahnya maupun susahnya. Risiko-risiko tersebut telah saya ketahui sedikit banyak dari buku-buku yang saya baca serta dari pengalaman banyak keluarga. 

Pemuda yang telah membuat perjanjian agung itu hidup bersama saya dengan segenap cintanya. Sebelum menikah, saya memang berusaha mengenalnya. Tetapi sesungguhnya, pengenalan lebih dalam itu terjadi setelah kami berumah tangga. Hari-hari awal setelah menikah diliputi oleh banyak kejutan. Setiap satu hal dari dirinya yang saya ketahui, maka tertanam pula satu perasaan cinta dalam hati saya. Ya, saya belajar mencintai pasangan saya lewat pengenalan terhadapnya. 

Kemudian saya jadi menyadari bahwa ada mindset yang barangkali perlu dievaluasi. Dalam sebuah pembicaraan parasingle-wati, dan mungkin juga single-wan, muncul komentar “Ah, nggak mau nikah sama temen seangkatan yang kita kenal, apalagi ketua sendiri, atau partner seorganisasi..udah ketauan ‘belangnya’..”maksudnya, sudah tahu gerak-geriknya. Hmm..saya kualat ‘kali ya, karena pernah termasuk menjadi single-wati yang berkomentar seperti itu. Eh, ternyata pemuda yang menjadi suami saya sekarang adalah teman seangkatan yang saya kenal, satu organisasi pula meskipun belum pernah satu tim. Sebenarnya pertimbangan dahulu kenapa tidak mau yang seangkatan adalah karena mereka sudah saya anggap sebagai saudara sendiri (Suami saya komentar setelah membaca paragraf ini, “Ooh..jadi kualat menikah sama saya..? Hmm..” -___-“). Tapi sekali lagi, barangkali takdir memang tengah bicara. Beliau lah yang telah dipersiapkan olehNya untuk saya. Oke, saya nggak kualat. Alhamdulillah.

Nah, evaluasinya adalah, sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar tahu siapa orang yang ada di dekat kita. Teman-teman pria kita, atau teman-teman perempuan kita (bagi anda para pria). Kita baru benar-benar akan mengetahuinya ya setelah bersama-sama dengannya dalam sebuah rumah tangga. Saya jadi teringat sebuah quote dari novel yang pernah saya baca: “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Jadi, bagi rekan-rekan yang baru saja menikah, seperti saya, selamat menikmati kejutan-kejutan dariNya lewat pasangan anda. Kemudian tersenyumlah, dan berbahagialah. Kejutan-kejutan itu akan menyehatkan hati anda, juga hubungan anda, insya Allah. 

Kemudian, tentang mengelola perasaan, saya menikmatinya sebagai tarbiyah dariNya. Mengapa begitu? Mari kita baca kisah selanjutnya.

[150611]

part 2


Anggap saja takdir tengah bicara..dia datang dari langit buatmu..dan pandangan matanya khusus buatmu.. (lagu kasmaran - ebit gad)
Hari-hari ‘manten anyar’ memang luar biasa. Tiba-tiba saja bunga-bunga bermekaran di sekitar saya (lebay..). Sampai hari ke-40 pernikahan saya (tepat pada saat saya menulis tulisan ini), hati ini masih cenat-cenut saat berdekatan dengan suami saya. Seperti ada kupu-kupu menari dalam perut saya. Setiap hari. 

Pelajaran selanjutnya adalah pada saat kami berada di rumah Bekasi, pada suatu siang. Saat suami saya berkata, “Nong...laper...” dengan wajah memelas (oiya, ‘nong’ adalah panggilan saya dari beliau. Artinya: sayang). Saat suami saya berkata begitu, kontan saya langsung histeris (lebay lagi...). “Hah...?? Ya ampuuuunnn... Iya, iya... Afwan yaaa...”
Setelah itu saya tertawa. Ampun dah... dulu waktu masih sendiri memang sudah biasa nggak makan kalo nggak ada makanan. Jadi saya cuek aja. Eh, lupa..ternyata saya sudah bukan single lagi. Ada sesosok pria yang musti saya perhatikan. Sambil nyengir saya bilang ke suami saya, “Sabar ya...kita nunggu abang tukang bakso lewat ya...” Hzzz...kasihan sekali suami saya. Maklum, sepekan setelah menikah kehidupannya masih belum stabil, jadi saya belum sempat masak (alesan..). Sampai pukul lima sore, tidak ada tukang jualan makanan yang lewat. Aneh. Tapi akhirnya lewat lah tukang somay. “Beli somay aja ya...” kata saya. Alhamdulillah, bahagia sekali membuat suami saya terlepas dari penderitaan. Setelah kejadian itu, terpatri dalam diri saya: saya tidak akan pernah lagi membuat suami saya kelaparan! *mengepalkan tangan*

Hari berikutnya kami berazzam untuk tidak beli makanan berat kalau nggak kepepet. Kami harus masak sendiri. Maka pergilah kami belanja. Sayur bayam dan jagung, menu yang akan dibuat. Ini adalah kali pertama saya memasak. Sendiri. Tanpa seorang pun mendampingi. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang amat sangat minim. Jadilah saya sibuk sore itu. Setelah konsultasi dengan ibu saya di telepon, saya memulai momen hebat dalam hidup saya: memasak! Dan jadilah itu sayur bayam, tepat saat suami saya pulang. Sambil mesem-mesem beliau bertanya, “Gimana...? Udah masaknya...?” Saya mengangguk. Lalu beliau mengambil sendok dan mencicip kuahnya. “Kurang ini sedikit. Tambahin ini sedikit...” katanya. Saya nyengir. Siang itu kami makan bersama. Semangkok berdua (soalnya mangkoknya emang cuma punya satu). Melihat saya yang hanya menatapnya makan, beliau berkata, “Kenapa? Ayo makan...enak kok...” Fiuuuhh... Itu adalah sayur bayam terlezat yang pernah saya makan (lagi, lebay...). Bukan lidah saya yang merasakan kelezatannya, tapi hati saya.. :)

Beberapa kali masak duet, saya jadi asisten suami saya. Tapi itu cukup menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri saya. Sampai kemudian saya masak sendiri lagi. Kali ini oreg tempe. Seperti biasa, konsultasi dulu dengan ibunda. Kemudian mulai lah saya masak dengan khusyu’ sambil deg-degan. Terlebih saat masakan jadi, saya masih deg-degan sambil menanti suami saya pulang. Saya buka kulkas. Di dalamnya ada susu beruang. Saya sedikit tenang. Kalo terjadi sesuatu pada suami saya, saya sudah siap dengan sekaleng susu tersebut. Akhirnya suami saya pulang. Saya menatapnya cemas sambil berkata, “Makan...?” Ia tersenyum. “Masak apa hari ini...?” katanya. Saya mendorongnya ke dapur. “Cicip dulu deh...kayaknya rasanya aneh...”. Kemudian ia berkata, “Subhanallah...enak.” Lalu meluncurlah sms dari seorang menantu kepada mertuanya: “Alhamdulillah...istriku pintar masak.” 

Jadi, wahai para pemuda yang sedang mencari pendamping hidup, jangan khawatir bila calon istrimu berujar, “Saya nggak bisa masak.” Karena barangkali ia bukan tidak bisa, tapi tidak biasa. Buktinya, saya yang selama ini nggak pernah masak, ternyata bisa. Karena dipaksa. Yakinlah. Terkadang kita memang perlu memaksa diri kita untuk bisa melakukan suatu hal. Bisa karena biasa, biasa karena dipaksa. Itu adalah mantra sakti.

Melalui tulisan ini, saya juga ingin menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada para sahabat yang telah menghadiahkan kami seperangkat alat masak. Jazakumullah ahsanul jaza. Mampir-mampir lah ke rumah... ;)

[090611]

part 1


bismillaahirrahmaanirrahiim

Tarbiyah madal hayah. Belajar sepanjang hidup. Saat saya menerima pengajuan ‘proposal perjuangan’ dari seorang pemuda dan menyatakan siap untuk berproses dengannya, bukan karena merasa bahwa saya telah expert dan mumpuni dalam hal yang nanti akan saya tuju. Membangun rumah tangga.

Sejak awal kuliah, saya kerap membaca buku-buku bertemakan nikah. Memang pada dasarnya saya senang membaca. Ketika SMA, saya membaca sebuah novel berjudul Diorama Sepasang Albanna. Tidak kurang dari satu bulan buku saya sudah beredar seantero sekolah. Pembahasan kisahnya terdengar dari mulut ke mulut. Jadilah buku saya itu menjadi satu-satunya buku yang paling lecek di antara buku-buku saya yang lain. Sampai di-hecter segala. Novel berisi kisah kehidupan rumah tangga sepasang aktivis dakwah itu cukup fenomenal, terutama di kalangan anak rohis. Sebagai ABG (baca: anak baru ghiroh), saya pun cukup terkesan dengan buku tersebut. Membayangkan sebuah pernikahan yang nanti akan saya jalani. Rumah tangga macam apa yang akan saya arungi. Seperti apa pemuda yang akan mendampingi. 

Kemudian saya pinjamkan buku itu kepada murobbi saya. “Kak, baca deh..Subhanalloh, bukunya bagus!” Teman-teman satu halaqoh pun meng-amini ucapan saya. Pekan berikutnya beliau mengembalikan buku itu. Serentak kami bertanya, “Gimana, mba...???” Lalu beliau menjawab polos, “Menurut saya, biasa aja...” Baiklah, kami hanya bisa mingkem. Selanjutnya saya meminta ibu saya untuk membacanya. Berharap mendapat respon sesuai dengan kesan saya terhadap buku itu. Tapi ternyata Ibu juga menjawab, “Hmm...gimana ya...? Hmm...bagus sih...tapi ada beberapa hal yang seharusnya bukan seperti itu...” Yah...walau bagaimana pun, buku itu tetap fenomenal. Dan memberi saya banyak pelajaran.

Saat kuliah, saya mengurangi membeli novel. Mulai merasa butuh membaca buku-buku non-fiksi, demi menunjang karir saya (halah..). Dan buku-buku bertema pernikahan tidak luput dari sasaran saya. Bukan karena saya berencana menikah saat itu, tapi justru karena saya tidak tahu kapan saya menikah maka saya mulai mempelajari banyak hal sebelumnya. Saya pikir, menikah itu adalah ibadah. Ibadah butuh ilmu. Belajar tentang pernikahan sama seperti mempelajari shalat, puasa, zakat. Dan bicara pernikahan juga sama seperti membicarakan haji, dakwah, atau harokah. Lalu saya heran dengan para sahabat yang risih memperbincangkan masalah pernikahan. Yang enggan berdiskusi masalah pernikahan. Yang tersenyum menggoda ketika melihat saudaranya membaca buku bertema pernikahan. Tanya kenapa...?

Keterlibatan saya dalam sebuah lembaga dakwah kampus memberi saya kesempatan untuk banyak belajar. Saya termasuk ke dalam departemen Bimbingan Remaja dan Anak-anak (saat itu masih berupa BSO, badan semi otonom). Aktivitas saya di sana akhirmya membuat saya membaca buku-buku parenting. Karena menjadi ibu juga butuh ilmu. Dan karena saya tidak tahu kapan saya akan menjadi seorang ibu, maka saya berupaya untuk mempelajari banyak hal sebelumnya. 

Jadi, apakah karena saya telah membaca banyak buku tentang pernikahan dan cara mendidik anak, kemudian saya dikategorikan siap membangun rumah tangga? Tidak juga. Kesiapan saya, adalah kesiapan menerima risiko apapun yang akan terjadi dalam pernikahan. Kesiapan saya, adalah kesiapan belajar lewat peran yang akan saya mainkan selanjutnya. Kesiapan saya, adalah kepasrahan saya dalam doa kepadaNya, memohon petunjuk. 

Namun begitu, ilmu yang saya dapatkan dari buku-buku yang saya baca tersebut secara tak langsung menjadi faktor penting penambah kesiapan dalam diri saya. Dan terbukti bermanfaat ketika bahtera rumah tangga telah saya jalani.

Selanjutnya, apakah mulus-mulus saja? Nantikan kisah selanjutnya.. :)

[080611]