Jumat, 13 Agustus 2010

namanya Akutsu Maya

Namanya Akutsu Maya. Garis wajahnya keras. Dingin. Matanya tajam. Pakaiannya selalu hitam dengan kerah tinggi. Langkahnya lurus. Tak..tok..tak..tok..begitu kalau ia sudah berjalan di koridor sekolah. Tiba-tiba suasana menjadi suram. Mencekam.

Hampir seluruh siswa kelas 6 sekolah dasar itu tidak menyukainya. Metode mengajarnya tak serupa dengan guru yang lain. Ia akan memisahkan siswa yang nilai ujiannya tidak baik dengan menempatkannya di tengah ruangan; memimpin ketika pelajaran akan dimulai, kemudian membersihkan kamar mandi atau merapikan kelas saat jam pelajaran usai. Hampir tak tampak senyum pada wajahnya. Kalaupun ada, senyum dengan penuh kesinisan.

Ia tahu di mana muridnya berada, apa yang mereka lakukan, bahkan yang mereka pikirkan. Latar belakang, karakter, psikologi setiap murid di kelas itu ia pahami dengan sangat baik. Rapi dalam file pribadi yang disimpannya. Segala gerak, ucapan, dan caranya berbuat mengaduk-aduk emosi anak didiknya. Tak ada yang menyukainya. Dari murid yang paling bodoh hingga sang juara, rekan guru, bahkan sang pemimpin sekolah. Tak ada yang memahami jalan pikiran Maya serta caranya mendidik siswa kelas 6 tersebut. Dan Maya bertahan dengan caranya.

Queen’s Classroom. Sebuah dorama Jepang. Tentang Akutsu Maya, seorang guru. Tentang siswa-siswi kelas 6 yang akan melanjutkan episode kehidupan mereka di sekolah menengah. Tentang sebuah kelas. Tentang proses belajar mengajar. Tentang transfer of value, tak hanya knowledge. Tentang kehidupan. Tentang cinta.

Akutsu Maya bukan hanya sekedar menjadi seorang wali kelas. Ia tahu murid-muridnya berada di tingkat terakhir pendidikan pertama. Murid-muridnya sedang berada dalam fase peralihan seorang murid sekolah dasar menjadi sekolah menengah, peralihan dari seorang anak menjadi ‘sedikit’ dewasa, ABG. Dan yang ia lakukan adalah ‘menyiapkan’ kematangan emosional mereka, bukan hanya kesempurnaan nilai demi kelulusan semata. Maka ia ciptakan berbagai situasi yang melibatkan segala emosi dan pikiran murid-murid tanpa mereka sadari bahwa sebenarnya mereka sedang belajar. Ia skenariokan semuanya, tentu dengan segala pertimbangan, dengan fakta, dengan data. Sampai akhirnya terbentuklah kekuatan mental dalam diri para murid. Mereka semua lulus dengan sempurna, menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan Akutsu Maya tetap menjadi seorang guru. Selamanya begitu.

Penulis merekomendasikan ‘sinetron’ ini untuk ditonton. Apa yang dilakukan Akutsu Maya tak hanya ‘merepotkan’ komponen sekolah dalam cerita itu, tetapi juga mengusik emosi dan pikiran kita sebagai penonton. Metode pendidikan yang Maya lakukan bisa saja menginspirasi rekan-rekan yang bergelut dalam bidang yang sama dengannya walaupun tak mutlak sama seperti itu. Hanya saja, tujuan serta perencanaan matang yang dilakukannya patut diteladani. Karena mendidik anak-anak, dalam hal ini murid-murid, tidak bisa improvisasi, harus ada perencanaan serta target yang jelas. By data, by fact. Maya memiliki seluruh berkas murid-muridnya; biodata, latar belakang, karakter, permasalahan, dan sebagainya. Ia bahkan mengetahui asal-usul seorang murid yang ditinggal oleh ibu kandungnya dan akhirnya berhasil mempertemukan murid itu dengan ibunya saat acara wisuda dilaksanakan. Maya tak peduli semua orang membencinya. Karena ia tahu apa yang dilakukan adalah yang terbaik untuk murid-muridnya. Ketulusan dan rasa cinta terhadap murid-muridnya ia tunjukkan dengan ‘kebengisannya’. Ini menarik. Sosok Akutsu Maya diceritakan dengan kesan penuh misterius dalam drama ini.

Hmm…nggak kebayang, ya…? Penasaran…? Ahhh…tinggal ditonton aja… ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar