Jumat, 13 Agustus 2010

karena hidup adalah proses menunggu

Bismillaahirrahmaanirrahiim..


Beberapa orang mengisi pertanyaan “Hal apakah yang tidak anda sukai?” dengan jawaban, “Menunggu…”. Yow-i…betapa menjengkelkannya menunggu seseorang saat berjanji bertemu jam sekian tapi orang yang ditunggu baru datang beberapa jam kemudian, apalagi nunggunya di tengah hutan. Tapi berapa banyak pula kegiatan yang menuntut kita harus menunggu. Memancing, misalnya. Atau apa lagi? Creambath di salon? Nonton bola?

Ternyata…hidup ini pun merupakan proses menunggu. Saat kita dilahirkan, orang tua kita menunggu kita untuk bisa merangkak, berjalan, berbicara. Ketika di sekolah dasar, kita menunggu untuk sampai pada sekolah lanjutan dan menengah. Sudah di sekolah menengah, kita menunggu lagi untuk menikmati masa-masa kuliah di perguruan tinggi. Mantep jadi mahasiswa, menunggu saatnya diwisuda. Lulus dengan titel sarjana, menunggu punya usaha, baik usaha riil yang mendatangkan maisyah (penghasilan) maupun usaha mendatangkan ‘aisyah’ alias membina rumah tangga. Lengkap punya suami (atau istri), menunggu punya buah hati. Sempurna dengan kelahiran sang bayi, kembali menunggunya merangkak, berjalan, berbicara, remaja, dewasa…begitu seterusnya…life cycle.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebaikan dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS.Al-‘Ashr: 1-3)

Dan di sinilah kita berada. Menunggu. Yang jadi pertanyaan, seperti apa kita menunggu? Statis-kah? Dinamis-kah? Dan untuk apa kita menunggu? Di mana akhir dari segala penantian kita?

Apa…yang…kita…tunggu…?

Pada akhirnya, perjumpaan denganNya lah yang kita nantikan. Kita rindukan. Tentu dengan modal yang kita usahakan dapat ‘merebut’ rahmatNya. Modal yang seharusnya kita kumpulkan selama proses menunggu ini, di tengah segala penantian terhadap hal yang lain. Sehingga, yang ada hanyalah orientasi Dia, bukan lainnya.

Yoookkk…kita bersabar…Sabar terhadap kesabaran…

“Ya Allah…aku tidak meminta apa yang bukan hak-ku…aku pun tidak meminta apa yang tidak Engkau tetapkan untukku…aku hanya memohon kesabaran serta keikhlasan atas apa yang menjadi keputusanMu dan apa yang Engkau tetapkan untukku…”

Barangkali, hidup dengan apa-apa yang dicintaiNya membuat kita tidak bosan menunggu. Seperti pemancing tak bosan menunggu karena pemandangan indah di sekelilingnya. Barangkali, selalu mengingatNya membuat kita tidak menyerah untuk menunggu. Barangkali, kesabaran dan keikhlasan membuat kita tidak selalu menggerutu dengan Dia yang kita tunggu. Barangkali, penantian kita akan berakhir indah bila iman tidak berada di bawah…

Wallaahua’alam bishshawwab



-bogor, 2 februari 2010-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar