Bismillaahirrahmaanirrahiim
“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” [Harper Lee dalam To Kill a Mockingbird]
Kalimat itu memberi kesan tersendiri dalam hati saya. To Kill a Mockingbird adalah sebuah novel yang mengisahkan seorang anak perempuan berusia sebelas tahun yang tinggal bersama kakak dan ayahnya. Pada lingkungan tempat tinggalnya, ada sebuah rumah yang menurut anak-anak di sana dihuni oleh seorang yang mengalami kelainan jiwa serta menyeramkan, walaupun mereka tidak pernah secara langsung berhadapan dengan orang tersebut. Namun, pada akhir kisah ini, ‘seseorang’ itu justru memberikan pertolongan pada anak perempuan tersebut dan kakaknya dalam sebuah upaya percobaan pembunuhan. ‘Seseorang’ yang mereka anggap jahat, menakutkan, dan berbahaya. Atticus, ayah mereka, menyampaikan kalimat di atas kepada putrinya, sehingga anak perempuan itu menyadari bahwa ia tidak seharusnya berpikiran buruk terhadap apa yang tidak ia ketahui dengan pasti. Bahasa kerennya sih, ‘nggak boleh suuzhan’…
Dan mengapa saya begitu terkesan, adalah karena saya menemukan beberapa permasalahan yang terjadi dalam kehidupan saya, yang membuat saya ingin menyampaikan: “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”
Barangkali memang sudah fitrahnya manusia melihat segala sesuatu dimulai dari sudut pandangnya. Hingga akhirnya terkadang penyikapan suatu masalah tidak berdasarkan fakta dan data tetapi hanya berdasarkan perasaan.
Berapa banyak saudara kita yang terzhalimi akibat ke-sok tau-an kita. Berapa banyak saudara kita yang terusik akibat prasangka-prasangka kita. Berapa banyak saudara kita yang tersakiti akibat penghakiman kita. Berapa banyak hati terluka, lantaran kita kurang sabar dalam melihat dan menyelesaikan persoalan. Kurang tepat dalam memilih langkah awal pencapaian solusi. Atau lupa untuk menyentuhnya terlebih dulu dengan hati.
Indah sekali persaudaraan bila diliputi semangat saling mengingatkan. Saling menjaga. Atas dasar cinta pada-Nya. Maka janganlah kita mengikis keindahan itu dengan rasa keingintahuan yang berlebihan atas apa yang berada dalam hati saudara kita. Karena kita tidak lebih berhak dari siapapun untuk menjustifikasi mereka dengan minimnya kepahaman dan informasi yang kita miliki. Dan tentang sebuah rasa yang mungkin ada dalam hati-hati mereka, cukuplah ia dan Rabbnya. Karena kita pun tidak lebih berhak dari siapapun untuk menjadi seorang yang paling mengetahui isi hatinya.
…ukhuwah adalah sebuah proses belajar dan saling memahami, melihat kekurangan sebagai fitrah manusia, memaknai kelebihan dalam bentuk kesyukuran…ia menjadi telaga kautsar dalam nasihat al-‘ashr…ia menjadi tsiqah yang menentramkan…ia adalah ta’awun yang mendahului tanpa diduga, tanpa diminta… [al-akh]
Wallaahua’alam bishshawwab
Bogor, 5 Maret 2010
Adkhilni Utami –yang masih terbata dalam mengeja hakikat kehidupan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar