Senin, 29 November 2010

senandung untuk anak-ku

..kaum perempuan muslimah di zaman kenabian tidak mendidik anak-anak mereka menjadi penakut dan pengecut. mereka tidak dinyanyikan nasyid 'nina bobo' agar terlelap dalam tidur, tetapi banyak dinyanyikan senandung para mujahid, untaian ayat-ayat dalam al-anfal, dan surat-surat perjuangan lainnya. kaum perempuan tidak menahan anak-anak mereka tinggal di rumah agar aman dan tidak mendapatkan risiko akibat perjuangan. justru mereka menyemangati para puteranya agar melakukan perlawanan kezaliman..

[dikutip dari buku fiqih politik perempuan karya cahyadi takariawan.. semoga kita banyak belajar dari para shohabiyah.. Khansa', Asma' binti Abu Bakar, Ummu Sulaim, dll..]

ingatkan saya nanti ya.. saya gak mw nyanyiin anak saya lagu 'nina bobo'.. >_<

Selasa, 09 November 2010

karena kau tidak harus mengatakan semuanya

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Tulisan di bawah ini merupakan salah satu tulisan M.Anis Matta dalam bukunya ‘Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga’, kumpulan tulisan Kolom Ayah di majalah Ummi. Isinya memang berkisah masalah rumah tangga, tapi saya rasa ini cukup penting dan relevan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari (bagi yang belum berumah tangga); dalam berorganisasi, dalam berukhuwah, dalam berda’wah.

Semoga bermanfaat… ^^

Karena Kau Tidak Harus Mengatakan Semuanya
Oleh: M. Anis Matta

Pria itu mungkin tidak pernah menyangka bahwa gangguan dalam hubungan keluarganya justru akan datang dari keterusterangannya. Tapi seorang konsultan keluarga di New York, DR.Norma Lankstar, menceritakan pengalamannya menghadapi berbagai macam klien selama lebih dari sepuluh tahun.

Pria yang ia ceritakan itu adalah seorang akademisi yang menduduki posisi sangat prestisius di sebuah perguruan tinggi Amerika. Cerita kasusnya seperti ini; Ia menikah dengan teman kuliahnya yang cerdas, dewasa, dan penuh pengertian. Untuk alasan-alasan inilah mereka Bergua bersepakat untuk saling berterus terang dan tidak boleh menyembunyikan secuil pun dari rahasia dan masalah pribadi mereka. Dengan sikap proaktif ia mulai menceritakan masa lalunya. Misalnya, cerita tentang masa-masa pertumbuhnnya di tengah keluarga yang kurang harmonis. Ayahnya adalah seorang suami yang dominan dan cenderung otoriter. Sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang lemah.

Cerita itu rupanya terekam dengan baik dalam benak istrinya. Beberapa waktu setelah perkawinan berlalu, mulailah pertengkaran-pertengkaran kecil meriak dalam hubungan mereka. Hanya inilah masalahnya. Setiap kali mereka konflik, istrinya selalu mengatakan begini; “Kamu persis sama dengan ayahmu, kamu benar-benar mewarisi sifatnya yang suka menguasai orang lain.”

Perlahan-lahan kalimat itu mulai melukai perasaannya. Setiap kali istrinya mengucapkan kalimat itu, setiap itu ia selalu merasa terluka dan tertohok. Ia hanya bisa menyadari pada akhirnya; “Semestinya ia tidak perlu berterus terang sampai sejauh itu.”

Agaknya ini memang bukan sekedar kasus perseorangan. DR.Kinneth dari Pusat Seni dan Ilmu Komunikasi Kemanusiaan di Amerika Serikat juga memperkuat hal itu dari hasil penelitiannya. Penelitian yang dilakukan atas 184 pasangan suami istri dan berlangsung selama setahun penuh menunjukkan bahwa keterusterangan mutlak itu tidak sesuai dengan hampir semua pasangan suami istri itu.

DR.Kinneth juga mengingatkan bahwa semua keterusterangan yang terkait dengan perasaan-perasaan yang temporal dan cenderung berubah-ubah akan sangat berbahaya. Karena perasaan-perasaan itu cepat berubah sehingga keterusterangan tentang itu juga akan merugikan. Pernyataan ini tidak bermaksud menjadikan masing-masing pasangan itu menjadi introvert dan tiba-tiba diam membisu. Yang dimaksud adalah bahwa masing-masing harus realistis melihat situasi. Sebab, sekarang rasanya tidak mungkin membebankan semua perasaan kita kepada pasangan kita. Untuk itu kita perlu membedakan antara amarah dan keterusterangan.

Mengatakan sesuatu yang bukan perasaan Anda, itulah kebohongan. Tapi inilah jenis kebohongan yang dibolehkan dalam Islam sejak lebih dari 14 abad yang lalu. Simaklah sabda Rasulullah saw. berikut ini:
“Dari Ummu Kaltsum binti Uqbah, ia berkata; “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah saw. membolehkan kebohongan sedikitpun juga, melainkan hanya dalam tiga perlara; seseorang berbohong untuk tujuan melakukan ishlah (perbaikan atau perdamaian), seseorang yang berbohong dalam peperangan, dan seorang pria yang berbohong pada istrinya dan seorang wanita yang berbohong pada suaminya.” (HR.Muslim)

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab juga pernah terjadi kasus yang unik. Seorang lelaki pada masa itu sering memaksa istri-istrinya untuk meminta cerai karena permintaan istri itu mengharuskan mereka membayar kembali mahar yang pernah diberikan suami. Dan ini jelas suatu kezhaliman. Lelaki itu bernama Ibnu Abi Zur’ah Al-Duali.

Cerita itu segera saja berkembang jadi gosip besar di kalangan wanita. Tapi, ternyata Ibnu Abi Zur’ah tidak suka dengan konsep itu. Akhirnya suatu saat ia mengajak Abdullah bin Al-Arqam ke rumahnya. Kemudian ia memanggil istrinya dan bertanya kepadanya; “Atas nama Allah aku bertanya kepadamu, apakah engkau membenciku?” Istrinya menjawab; “Jangan memaksaku bersumpah atas nama Allah.” Tapi Ibnu Abi Zur’ah tetap memaksa istrinya untuk menjawab dengan sumpah. Akhirnya istrinya menjawab juga; “Ya, benar. Aku membencimu.”

Kemudian Ibnu Abi Zur’ah datang menghadap Umar bin Khattab dan mengatakan; “Kalian para wanita memperbincangkan diriku yang suka menzhalimi wanita. Maka tanyakanlah hal itu kepada Abdullah bin Al-Arqam.” Ketika Ibnul Arqam ditanya tentang hal itu, ia pun menceritakan masalah yang sebenarnya. Maka Umar pun memanggil istri Abu Zur’ah yang kemudian benar-benar datang bersama pamannya.

Kepada istri Ibnu Abi Zur’ah, Umar bertanya; “Apakah benar engkau mengatakan bahwa engkau membenci suamimu?” Wanita itu menjawab, “Akulah orang pertama yang bertaubat dan kembali lepada perintah Allah. Tapi dia yang memaksaku bersumpah atas nama Allah hingga aku jadi riskan berbohong. Apakah aku boleh berbohong wahai Amirul Mukminin?” Maka Umar menjawab, “Ya, berbohonglah! Dan jika seseorang di antara kalian (para istri) tidak menyukai salah seorang dari kami (para suami), janganlah ia mengatakan itu (terus terang) kepadanya. Sebab, keluarga yang paling minimum adalah yang dibangun di atas dasar cinta, akan tetapi manusia tetap saling berhubungan dengan dasar Islam dan hubungan kekeluargaan.”

Persoalan ini memang jadi sedikit rumit. Bayangkan bahwa Anda harus mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak Anda rasakan. Tapi sesungguhnya Islam ingin mengajarkan lepada kita tentang prioritas-prioritas kehidupan. Bahwa keutuhan keluarga tetaplah lebih utama dan lebih penting dari sekedar melegakan hati dengan melepas semua perasaannya jadi kata.

Maka ketika kita merasakan sesuatu yang rasanya kurang enak untuk diperdengarkan, seperti rasa jengkel, mangkel dan semacamnya, itulah saatnya kita perlu belajar basa-basi. Yaitu belajar tersenyum ria saat marah, belajar bermesraan saat dongkol, belajar menyatakan cinta saat benci, belajar memeluk saat kita ingin memukul, belajar mencium saat kita ingin membentak.

Kelihatannya itu merupakan pelajaran yang agak sulit. Karena yang kita pelajari sesungguhnya adalah bagaimana memutar balik perasaan, mencegahnya di tenggorokan agar ia tidak sampai jadi kata, atau merubah rona wajah, atau merubah warna mata. Tapi, hasilnya jelas akan lebih enak. Dan enaknya biasanya berjangka panjang.

Kalau ada seni bergaul yang paling rumit dalam kehidupan keluarga, mungkin inilah babnya. Tapi, bab ini dalam buku kehidupan adalah juga yang paling penting. Karena langit kehidupan tak selalu cerah. Karena kenyataan hidup tak selalu manis. Tapi, kita tetap punya peluang untuk memanipulasinya; kalau bukan dalam kenyataan yang sebenarnya, minimal dalam situasi jiwa kita. Dan ini akan membantu kita meringankan beban hidup. Sebab, tentulah sayang dalam basa-basi masih lebih baik dari cerai beneran.

Wallaahua’lam bishshawwab

merengkuh yang diberikanNya..apapun..

tak ada yang dapat bumi lakukan
bila langit jalankan kehendaknya
mengelak tak ada gunanya
menjauh percuma saja
ia tahu yang bumi butuhkan
maka rengkuhlah apa yang diberikan
kelak langit akan hadiahkan pelangi
untuk bumi setelah deras berhenti

-bogor, 2 april 2009-

menegur hati

mengapa mengharap permakluman mereka
sedang belum tentu kau dimaklumi-Nya
atas dasar apa kau pinta perhatian mereka
padahal hanya kepada Tuhanmulah segala urusan
mungkinkah bias niatmu?
adakah ikhlas mengalir dalam pembuluh darahmu?
beribu langkahmu hanya menjadi setapak di hadapan Tuhanmu
kumpulan peluh yang menetes darimu hanya berupa buih tak berarti di mata Tuhanmu
dan kau masih meminta dispensasi
dan kau masih mengajukan surat cuti
dan kau masih pertanyakan kompensasi
kemudian berencana pergi dan lari
merasa hanya dirimu seorang yang miliki derita
padahal gerakmu belumlah apa-apa
duhai hati,
kembalilah dari pengembaraanmu mengharap dunia
untuk beralih pada ridha-Nya

-bogor,3 april 2009-

bila...mungkin...

bila hanya hitam dan gelap dalam pandangmu
mungkin memang karena tak ada cahaya memantul di sana
atau mungkin...
syaraf optikmu yang bermasalah

bila kuyub tubuhmu oleh hujan
mungkin memang karena ia turun begitu lebatnya
atau mungkin...
tak kau gunakan jas hujan untuk lindungi diri

bila jatuh dirimu terantuk batu
mungkin memang karena batu itu berada pada tempat yang tidak semestinya
atau mungkin...
terlalu sibuk kau berjalan hingga tak perhatikan bagaimana kaki melangkah

dan bila dakwah ini terasa begitu merepotkan
mungkin memang ada kekhilafan dalam lisan dan tulisan
atau mungkin...
ada yang luruh dalam dirimu
hingga ternyata
kaulah andil dalam kerepotan itu...
 

bogor, 15 mei 2009
 
bila respon-Nya tak terasa olehmu, barangkali Ia sedang menunda sampai pada saat dimana hanya Ia yang tahu…atau…mungkin karena imanmu yang tak lebih dari sebutir debu, bahkan kurang dari itu…hingga sesak tetap mendesak, gelisah makin tak terarah, dan pilu bertambah haru…

dalam pelayaran ini

perahunya belum juga merapat pada darmaga
layarnya belum juga menutup
masih terkembang
tetap berkibar
sauhnya belum juga dilempar
belum tertambat
belum menahan
buih pun belum menghilang
riak belum juga tenang
dan ombak belum juga berhenti menghentak

kita masih berlayar, saudaraku...
belum saatnya berlabuh
belum waktunya menepi
walau terguncang oleh badai
meski terhempas karena gelombang
ada saat di mana burung melintas berkicau
terbit cahaya berkilau
dan semilir yang mendesau

bila koyak sang layar
mari kita perbaiki bersama
bila lubang mengizinkan air penuhi kapal
mari kita sumbat bersama
bila tanda-tanda mercusuar tak terperhatikan oleh sang kapten
mari kita ingatkan ia bersama

jangan lemparkan sekoci untuk tinggalkan kami
kita akan menepi bersama
pada darmaga yang telah kita azzamkan di awal perjalanan kita

-bogor, 16 mei 2009-

Senin, 08 November 2010

menjadi shodiq setiap saat

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang benar, menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)

Dalam buku Tazkiyatun Nafs, Ustadz Sa’id Hawa menggambarkan pada kita proses untuk menjadi orang yang shodiq, orang yang benar. Prosesnya ada empat:

1. Shidqun Niyah
Artinya benar dalam niat. Benar dalam semburat pertama hasrat hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menepis syak dan riya’. Benar dalam menghapus sum’ah dan ‘ujub. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.

2. Shidqul ‘Azm
Artinya benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya. Benar dalam memancang target-target diri. Benar dalam pekik semangat. Benar dalam menemukan motivasi setiap kali. Benar dalam mengaktivasi potensi diri. Benar dalam memikirkan langkah-langkah pasti. Benar dalam memantapkan jiwa.

3. Shidqul Iltizam
Artinya benar dalam komitmen. Benar dalam menetapi rencana-rencana. Benar dalam melanggengkan semangat dan tekad. Benar dalam memegang teguh nilai-nilai. Benar dalam memaksa diri. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam menghadapi tantangan dan ancaman. Benar dalam mengistiqomahkan dzikir, fikir, dan ikhtiyar.

4. Shidqul ‘Amaal
Artinya benar dalam proses kerja. Benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak pagar-pagar Ilahi. Benar dalam cara. Benar dalam metode. Benar dalam langkah-langkah yang ditempuh. Benar dalam profesionalisme dan ihsannya amal. Benar dalam tiap gerak anggota badan.


Jikalau Ash Shidq berarti kebenaran, kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia.

[dikutip dari buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim karya Salim A. Fillah -- kalo kata beliau sih, "Nah, mari kita coba refleksikan proses menjadi orang benar ini dalam proses menuju pernikahan. Insyaallah dengan demikian keberkahan itu semakin mendekat." ^^]

watawaashowbil haq watawaashowbish shobr...semoga bermanfaat..

you are what you think

sebuah resume dari buku "Dialog Peradaban" M.Anis Matta dan Ary Ginanjar

---

Pikiran merupakan ruang pertama dari semua kenyataan hidup yang kita saksikan. Lintasan pikiran adalah akar dari semua tindakan, perilaku, kebiasaan, dan karakter. Dari lintasan pikiran itu kemudian berkembang menjadi memori, lalu ide atau gagasan, atau pikiran. Pikiran menukik jauh ke dalam wilayah emosi kemudian membentuk keyakinan. Keyakinan berlanjut menjadi kemauan kemudian berkembang menjadi tekad. Seketika itu pula pikiran memperoleh energi agar tekad tersebut terwujud dalam kenyataan. Tekad menjalar ke seluruh tubuh dan melahirkan tindakan. Bila tindakan dilakukan berulang-ulang, maka terbentuklah kebiaasaan. Dan bilakebiasaan itu berlangsung lama, jadilah karakter.

Anis Matta berkata bahwa kualitas pikiran akan membentuk kualitas kepribadian kita dan kualitas kepribadian akan membentuk kualitas hidup kita. Jadi, perbaikan kualitas kepribadian harus dimulai dengan menata ulang atau merekonstruksi pemikiran. Pertama, mendeteksi pikiran kita. Yang kita lakukan adalah mengalihkan dan menggantikan lintasan pikiran yang buruk dan menggantinya dengan yang baik. Kita harus dapat menjamin bahwa semua yang kita pikirkan dapat dipertanggungjawabkan, yaitu dengan mengontrol semua informasi melalui pancaindera, khususnya penglihatan dan pendengaran.

Langkah kedua ialah menjadikan diri kita manusia berpengetahuan. Pengetahuan kita harus disusun dalam struktur yang benar. Tingkat pertama adalah pengetahuan identitas, untuk membentuk dan membangun identitas kepribadian. Tingkat kedua adalah pengetahuan kemanusiaan, untuk membangun hubungan sosial kemanusiaan. Tingkat terakhir adalah pengetahuan spesialisasi, untuk mengembangkan basis profesi kita atau mata pencaharian kita.

Kita harus mengembangkan kemampuan berpikir. Yang kita butuhkan adalah kemampuan berpikir hirarkis. Empat pikiran hirarkis itu adalah daya serap (memahami dan mencerna sesuatu), daya analisis (mengurai sesuatu menjadi satuan kecil serta maemahami detilnya), daya konstruksi (membangun, mengintegrasi, menyatukan, dan menghubungkan bagian-bagian yang terpisah menjadi satu terkorelasi secara utuh), dan daya cipta (melahirkan pikiran-pikiran baru yang murni atau disebut pula genuine).

Selain berpikir hirarkis, terdapat pula kemampuan berpikir dimensional, yaitu kemampuan berpikir pada dua dimensi secara simetris. Pertama, kemampuan berpikir makro-mikro, yaitu kemampuan berpikir pada skala yang berbedam yang lebih luas bersifat makro dan yang lebih spesifik bersifat mikro. Kedua, berpikir strategis-taktis, yaitu kemampuan berpikir dalam dua kualitas yang berbeda.

Terdapat dua cara untuk melakukan proses penataan ulang cara kita berpikir secara lebih sistematis dan efisien. Pertama, menjaga kejernihan langit pikiran kita. Kita harus membiasakan diri untuk memikirkan apa yang yang kita pikirkan, mengapa kita memikirkannya, dan bagaimana seharusnya kita memikirkannya. Dengan tidak menoleransi semua pikiran yang melintas untuk singgah ke dalam pikiran, maka kita akan memperoleh kekuatan kepribadian yang sangat dahsyat. Dan kekuatan kepribadian pertama kali bersal dari sana: pengendalian diri.

Kedua, membangun tradisi ilmiah. Tradisi ilmiah yang kokoh ditandai oleh banyak ciri. Pertama, berbicara atau bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan. Kedua, tidak bersikap apriori dan tidak memberikan penilaian terhadap segala sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik dan akurat. Ketiga, selalu membandingkan pendapatnya dengan pendapat kedua dan ketiga sebelum menyimpulkan atau mengambil keputusan. Keempat, mendengar lebih banyak daripada berbicara. Kelima, gemar membaca dan secara sadar menyediakan waktu khusus untuk itu. Keenam, lebih banyak diam dan menikmati saat-saat perenungan dalam kesendirian. Ketujuh, selalau mendekati permasalahan secara komprehensif, integral, objektif, dan proporsional. Kedelapan, gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana dan ide-ide, tapi tidak suka berdebat kusir. Kesembilan, berorientasi pada kebenaran dalam diskusi dan bukan pada kemenangan. Kesepuluh, berusaha mempertahankan sikap dingin dalam bereaksi terhadap sesuatu dan tidak bersikap emosional dan meledak-ledak. Kesebelas, berpikir secara sistematis dan berbicara secara teratur. Keduabelas, tidak pernah merasa berilmu secara permanen dan karenanya selalu ingin belajar. Ketigabelas, menyenangi hal-hal baru dan menikmati tantangan serta perubahan. Keempatbelas, Rendah hati dan bersedia menerima kesalahan. Kelimabelas, lapang dada dan toleran dalam perbedaan. Keenambelas, memikirkan ulang gagasannya sendiri atau gagasan orang lain dan senantiasa menguji kebenaran. Ketujuhbelas, selalu melahirkan gagasan-gagasan baru secara produktif.

Tradisi ilmiah selanjutnya dibentuk oleh susunan pengetahuan yang benar. Kemudian dibentuk pula oleh sistematika pembelajaran yang benar. Dan membaca adalah instrumen utamanya.

Ary Ginanjar Agustian menuturkan hal yang terkait dengan membaca ini. Adalah Archimedes. Seorang ilmuwan terdahulu yang namanya kerap terpampang pada buku-buku pelajaran ilmu pengetahuan alam di sekolah-sekolah. Seorang raja Sisilia memerintahkannya untuk mengukur volume dari mahkota emas milik Sang Raja. Archimedes berusaha mencari jawabannya dengan segala upaya namun tak jua ia dapatkan jawabannya.

Ketika ia sedang berendam sambil merenungi tugasnya, air di dalam bath tub-nya tumpah ketika ia bergerak. Setelah mengamati kembali dengan lebih seksama, dapatlah jawaban dari tugas yang diberikan Sang Raja. Kemudian munculah sebuah hukum yang masyarakat menyebutnya ‘Hukum Archimedes’.

Kisah di atas merupakan salah satu contoh asal-muasal ilmu pengetahuan dan peradaban manusia yang dimulai dengan kata “Iqra’” atau bacalah. Archimedes telah “membaca” air yang tumpah kemudian ia menelaah, meneliti, dan mempelajari dengan sungguh-sungguh. Akhirnya ia berhasil “melihat” salah satu “ketentuan Tuhan” yaitu “Hukum Archimedes”.

Maka apa yang terjadi pada Rasulullah saw. pun bukan sekadar kisah pengantar mengaji saja. Ketika uzlahnya di Gua Hira, turunlah wahyu Allah untuk pertama kalinya. Jibril berkata, “Iqra’” (bacalah). “Ma aqra’?” tanya Nabi. Tapi Jibril tidak menjawab. Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut “Bismi Rabbika”, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.

Perintah untuk “membaca” adalah langsung diturunkan Tuhan. Membaca adalah awal mula suatu ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan keberhasilan manusia. Namun, setelah membaca kita diminta untuk kembali dan menyadari semua itu sebagai ciptaan Tuhan. Bahwa segala sesuatu atau kebenaran semuanya milik Allah. Ketika kita berdecak-decak kagum dan mengangguk-angguk, seyogyanya kita mengangguk kepada Allah SWT, bukan kepada sang penulis itu. Maka bacaan itu pun akan memperkokoh keimanan kita.

Keinginan untuk belajar akan menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan. Keinginan untuk menguasai ilmu pengetahuan tanpa berpegang kepada Allah hanya menghasilkan sebuah kesia-siaan. Akan tetapi, IQ dan EQ tidak cukup untuk mengantarkan manusia pada kebahagiaan hakiki. Harus ada dalam kepribadian manusia nilai spiritual atau apa yang disebut kecerdasan spiritual (SQ). IQ penting agar manusia dapat memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi efisiensi dan efektivitas. EQ juga penting dalam membangun hubungan antarmanusia dan juga berperan dalam meningkatkan kinerja. Namun, tanpa SQ yang mengandung nilai-nilai kebenaran, maka keberhasilan itu hanyalah keberhasilan semu.

Sinergi kecerdasan. Begitulah Anis Matta menyebut IQ, EQ, dan SQ. Pekerjaan-pekerjaan besar yang mempertemukan seorang pahlawan mukmin sejati dengan takdir kepahlawanannya selalu melibatkan seluruh instrumen kepribadian sang pahlawan ketika ia sedang melakoni pekerjaan tersebut. Keseluruhan instrumen kepribadian sang pahlawan adalah sebuah sinergi kecerdasan. Sumber kecerdasan itu –akal, jiwa, dan ruh– memberinya energi untuk bekerja. Sinergi kecerdasan itu juga yang memberikan kekuatan lain kepada para pahlawan mukmin sejati , kekuatan keseimbangan.

Para pahlawan mukmin sejati mempunyai tingkat keseimbangan optimum, dimana kekuatan fisik, akal, emosi, dan ruh sama mencapai tingkat tertinggi, dan pada ketinggian itulah mereka mengalami sinergi.

Itulah yang membuat efeknya merupakan ledakan yang dahsyat; ledakan kecerdasan, ledakan karya. Ledakan itu hanya terjadi pada potongan-potongan masa tertentu dari usia kita. Itulah yang disebut momentum, dimana kecerdasan kita mengalami saat-saat sinergi yang optimum dan ledakannya mengeluarkan muntahan karya yang genuine. Maka saat itulah kisah kepahlawanan ditorehkan dalam sejarah keabadian.

Bogor, 3 April 2008

Sumber:
Matta, M. Anis dan Ary Ginanjar. 2006. Dialog Peradaban. Jakarta: Fitrah Rabbani.

rindu kami


“Philosopher, orator, apostle, legislator, warrior, conqueror of ideas, restorer of rational dogmas, of a cult without images, the founder of twenty terrestrial empires and of one spiritual empire, that is Muhammad. As regards all the standards by which Human Greatness may be measured, we may well ask, Is There Any Man Greater Than He?” (Lamartine, Histoire De La Turquie, Paris, 1854, Vol. II, pp 276-277)

Hari itu seorang hamba dengan segala kekuatannya berdiri di tengah-tengah kesuaraman Madinah seraya berkata, “Sesungguhnya, ada beberapa orang munafik yang mengira Rosulullah saw. telah wafat, padahal sesungguhnya Rosulullah saw. itu tidak akan mati. Dia hanya pergi kepada Tuhannya, seperti yang pernah dilakukan Musa bin Imran. Musa meninggalkan kaumnya selama empat puluh malam, kemudian kembali lagi kepada mereka setelah dikatakan orang bahwa ia telah mati. Demi Allah, Rosulullah saw. pasti akan kembali lagi seperti yang dilakukan Musa, lalu dia pasti akan memotong kedua tangan dan kaki orang-orang yang telah mengira bahwa Rosulullah saw. telah mati.” Ada amarah dalam intonasinya, ada sesak di setiap nafasnya, ada kesedihan yang tak terungkap jauh di kedalaman hatinya. Umar Ibnul Khaththab tak kuasa kendalikan dirinya. Bahkan ketika Abu Bakar menghampirinya dan berkata, “Tenanglah kamu, hai Umar, diamlah.” Namun, Umar tidak peduli.

Abu Bakar pun meninggalkannya dan menghadapkan wajahnya di depan orang banyak. Ia lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata, “Barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah tetap hidup, takkan pernah mati.” Ia pun membacakan ayat (QS. Ali Imran: 144), “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rosul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rosul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Maka tersungkurlah Umar pada kedua kakinya. Kembali menjejak bumi dan tersadar bahwa kekasih Allah yang juga dicintainya itu telah kembali pada-Nya dan tak akan pernah kembali padanya.

Dan kini telah berabad lamanya Sang Rosul menghadap-Nya. Namun, namanya hampir memenuhi isi bumi, shalawat kepadanya dikumandangkan dari waktu ke waktu, riwayat hidupnya ditulis dan dibahas sepanjang sejarah. Muslim maupun non-Muslim.

Rindu sekali kami denganmu, ya Rosul…

bogor, 14 oktober 2008

Allaahu ghayyatunaa

bismillaahirrahmaanirrahiim...

When you give with your right hand don’t let even your left hand know the good thing that you did (Snada: Just Giving Once)

Teringat akan sebuah nasyid yang dibawakan oleh Snada. Syairnya berisi tentang sebuah keikhlasan dalam beramal. Ikhlas. Butuh enam huruf saja untuk menjadi sebuah kata sakti landasan seorang hamba dalam beraktivitas. Haruskah kita melakukan hal-hal yang diusahakan oleh seorang pemuda dalam film Kiamat Sudah Dekat untuk mendapatkan ilmu ikhlas demi mendapatkan pujaan hatinya? Mungkin saja. Kalau pemuda ‘rocker’ dalam film itu saja mau berusaha mendapatkan ilmu ikhlas, apatah lagi kita sebagai da’i, yang tentu saja melakukannya demi ‘mengambil hati’ Sang Penguasa Alam.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162)

Adalah ikrar yang kerap kita lafalkan dalam -minimal- 5 waktu shalat kita. Maka segala yang kita lakukan tentulah harus berujung pada Allah SWT. Bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya lurus kepada Allah saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, “Bismillahirrahmanirrahiim, ya Allah semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan”. Lisannya yang bening senantiasa memuji Allah atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada Allah.

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal. Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak. Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna berkata, bagi seorang da’i makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian si da’i menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan.(www.dakwatuna.com)

Bila seorang hamba menginginkan sesuatu yang lain melalui ibadahnya, maka disini perlu dirinci lagi berdasarkan klasifikasi-klasifikasi berikut :

1. Dia memang ingin bertaqarrub kepada selain Allah di dalam ibadahnya ini dan mendapatkan pujian semua makhluk atas perbuatannya tersebut. Maka, ini menggugurkan amalan dan termasuk syirik.

2. Dia bermaksud melalui ibadahnya untuk meraih tujuan duaniawi seperti kepemimpinan, kehormatan dan harta, bukan untuk tujuan bertaqarrub kepada Allah ; maka amalan orang seperti ini akan gugur dan tidak dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Perbedaan antara klasifikasi kedua ini dan pertama ; Bahwa dalam klasifikasi pertama, orang tadi bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah. Sedangkan pada klasifikasi ini, dia tidak bermaksud agar dirinya di puji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah bahkan dia malah tidak peduli atas pujian orang terhadapn dirinya.

3. Dia bermaksud untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, disamping tujuan duniawi yang merupakan konsekuensi logis dari adanya ibadah tersebut, seperti dia memiliki niat dari thaharah yang dilakukannya –disamping niat beribadah kepada Allah- untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran yang menempel padanya ; dia berhaji –disamping niat beibadah kepada Allah- untuk menyaksikan lokasi-lokasi syi’ar haji (Al-Masya’ir) dan bertemu para jama’ah haji ; maka hal ini akan mengurangi pahala ikhlas akan tetapi jika yang lebih dominan adalah niat beribadahnya, berarti pahala lengkap yang seharusnya diraih akan terlewatkan. Meskipun demikian, hal ini tidak berpengaruh bila pada akhirnya melakukan dosa.
[www.almanhaj.or.id]

Dari Amirul mukminin, Umar bin khathab “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yangditujunya”. (Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits.)

Bicara ikhlas, maka kita akan menemukan empat huruf lagi. Niat. Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Maka ketahuilah ikhwah, bahwa syarat utama diterimanya ibadah ada 2: Niat yang ikhlas dan pelaksanaannya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi SAW. (www.mii.fmipa.ugm.ac.id)

Hadits ini memang muncul karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais. Padahal hijrah pada masa itu adalah ibadah yang sangat besar pahalanya. Maka hadist ini menunjukkan orang yang tidak ikhlas dalam ibadahnya, dalam perbuatan baiknya, dalam amal-amalnya maka ia tidak akan mendapatkan pahala darinya. Maka hendaknya setiap orang memperhatikan kembali hatinya, dan mempertanyakan kembali keikhlasannya dalam beribadah.
Bila ikhlas memiliki kedekatan dengan niat, maka ada pula yang ‘bermusuhan’ dengan ikhlas, yaitu riya.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisaa: 142)

Riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad). (www.dakwatuna.com)

Keikhlasan pun memiliki beberapa indikasi dan tanda-tanda yang nampak dalam kehidupan dan perilaku pemiliknya. Juga nampak dalam pandangannya terhadap dirinya dan pandangannya terhadap orang lain. Indikasi-indikasi tersebut antara lain:

1. Khawatir terhadap ketenaran serta keharuman nama atas dirinya dan agamanya, terutama bila ia termasuk orang-orang yang berprestasi. Ia meyakini bahwa Allah menerima amal berdasarkan niat yang tersimpan dalam batin, tidak dengan penampilan. Ia juga meyakini, bahwa meskipun ketenaran seseorang telah tersebar ke seluruh penjuru, namun tiada seorang pun yang dapat menolongnya dari siksa Allah, bila ia tidak mengikhlaskan niat untuk-Nya.

2. Orang yang ikhlas selalu menuduh dirinya teledor dalam menunaikan hak-hak Allah, dan teledor dalam melaksanakan berbagai kewa-jiban. Hatinya tidak dirasuki oleh perasaan ghurur (tertipu) dan terkagum dengan diri sendiri, bahkan ia selalu takut kalau kesalahan-kesalahannya tidak diampuni, dan kebajikan-kebajikannya tidak diterima oleh Allah swt.

3. Orang ikhlas lebih mencintai amal yang tersembunyi daripada amal yang diliputi oleh hiruk pikuk publikasi dan gaung ketenaran.

4. Amalnya saat menjadi pemimpin dan saat menjadi anggota tidak berbeda, selama keduanya masih dalam rangka memberikan pelayanan pada dakwah. Hatinya tidak dirasuki penyakit suka tampil, selalu ingin di depan, dan ambisi kepemimpinan, bahkan orang yang ikhlas lebih mengutamakan menjadi anggota biasa, karena khawatir tidak dapat menunaikan kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab kepemimpinannya. Dengan kata lain, orang ikhlas tidak menginginkan dan tidak meminta jabatan untuk dirinya, tetapi bila diberi amanah, ia menerimanya dengan penuh tanggungjawab dan memohon pertolongan kepada Allah untuk melaksanakan sebagaimana mestinya.

5. Tidak menggubris keridhaan manusia, bila di balik itu terdapat kemurkaan Allah swt. Sebab tabiat manusia sangat berbeda-beda. Demikian juga cara berpikirnya, kecenderungannya, dan tujuan-tujuannya. Karena itu, upaya untuk mendapat keridhaan mereka semua, adalah batas yang tidak mungkin dapat dicapai, dan keinginan yang tidak mungkin dapat diraih. Orang yang ikhlas tidak akan disibukkan dengan hal-hal seperti itu, karenanya ia tenang dan tenteram.

6. Kecintaan dan kemarahannya, pemberian dan keengganannya untuk memberi serta keridhaan dan kemurkaannya adalah karena Allah dan agamanya, bukan karena kepentingan pribadi atau
kemaslahatan diri sendiri.

7. Orang yang ikhlas tidak akan menjadi malas, jenuh, atau berputus asa karena panjangnya jalan yang akan dilalui, lamanya waktu memanen buah dari amal, terlambatnya keberhasilan, banyaknya beban amal, dan sulitnya berinteraksi dengan manusia yang beragam cita rasa dan kecenderungan. Sebab ia beramal tidak hanya untuk mencari keberhasilan, atau mencari kemenangan saja. Akan tetapi, ia beramal untuk mendapatkan keridhaan Allah dan karena menjalankan perintah-Nya.

8. Bergembira dengan munculnya orang-orang yang berprestasi di dalam barisan dakwah, yang dapat mengibarkan bendera dakwah serta berpartisipasi dalam perjuangan.
(www.pks-anz.org)


Maka, bergeraklah! Dan teriakkan: Allahu ghayyatuna…!!!

Wallahu a’lam bishshawwab

Sumber:
http://www.mii.fmipa.ugm.ac.id/new/?p=227
http://www.dakwatuna.com/2008/tiga-ciri-orang-ikhlas/
http://kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=128
http://www.dakwatuna.com/2007/berjuang-dengan-ikhlas/
http://www.almanhaj.or.id/content/2158/slash/0
http://www.pks-anz.org/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=931&mode=thread&order=0&thold=0

Bogor, 9 Mei 2008

karena setiap nada dan baitnya penuh kenangan

bismillaahirrahmaanirrahiim

masih lekat dalam ingatan penulis...beberapa tahun yang lalu. saat menjejak langkah pada sebuah ruang kompleks bernama KAMPUS. saat tulisan besar yang terpampang di depan sebuah bangunan "ASRAMA PUTRI MAHASISWA TPB IPB" (bener nggak ya, tulisannya begitu..? hhe..) terbaca oleh penulis dengan degup yang tak terkendali. kemudian mengalunlah lagu di bawah ini..

masih lekat dalam ingatan penulis...beberapa tahun yang lalu. saat warna perjuangan mulai terpoles dalam hidupnya. saat HEKSAGONAL menjadi bentuk bagi BEM TPB 43. saat AGRARIS menjadi wadah bagi penerimaan mahasiswa baru angkatan 44. kemudian mengalunlah lagu di bawah ini..

---

bila engkau bercita-cita
meraih masa depan gemilang
tempa diri dengan seksama
kerja keras sangat dipentingkan

bila tubuh bersimbah keringat
hati harus tegar dan lapang
pantang lelah dan keluh kesah
gunakan tekad terus berjuang

bila kesulitan menghadang
hadapai dengan senyuman
ibadah dan doa dimantapkan
hanya Allah tumpuan harapan

bila sukses telah diraih
jaga diri tetap rendah hati
sujudlah untuk mensyukuri
karena semua nikmat illahi

harus tegar...! harus kuat...! insya Allah...!

---

lalu. kemudian. akhirnya..setelah semua yang telah terjadi pada setiap episode hidup penulis, dan pada bagian yang akan datang, lagu ini..tentu akan tetap mengalun..

wallaahua'lam bishshawwab

:: bogor, 14 februari 2010 ::