Jumat, 13 Agustus 2010

namanya Kymmi

Namanya Kymmi. Saksi bisu banyak perjuangan. Tak hanya aku, tapi mungkin juga kau, dia, dan mereka...


Bagi penulis, Kymmi tak hanya sekedar seonggok benda mati, bermesin, dan turut andil mensubsidi polusi. Ia adalah teman seperjuangannya dan banyak memberikan pelajaran untuknya. Masa-masa terakhir aktivitasnya sebagai pelajar berseragam putih-abu dilalui bersama Kymmi. Saat itulah pertama kali Kymmi lahir dalam kehidupannya. Tujuh belas tahun usia penulis, melegalkannya untuk membawa Kymmi ke sekolah. Deru mesinnya masih terdengar ‘merdu’ saat itu.

Kymmi membawa penulis dan sahabatnya setiap pagi. Ada dua kantong plastik besar di sana. Kantong pertama berisi air mineral dalam kemasan botol. Kantong kedua berisi nasi uduk dalam kemasan kertas nasi. Juga sebuah kotak panjang berisi berbagai macam permen. Untuk apalagi kalo bukan di’pasar’kan ke siswa-siswa kelaparan... Begitulah sehari-hari penampilan Kymmi. Badan besar, dengan dua orang di atasnya yang juga besar (heuheu..), plus ‘gembolan-gembolan’ yang juga besar.

Satu tahun. Kymmi menjadi penghuni tempat parkir sekolah setiap paginya. Dan menjadi penghuni sebuah bimbingan belajar pada sore harinya. Berlalu-lalang sepanjang jalan Agus Salim. Ban bocor yang mengantarkannya pada bapak tambal ban yang mendoakan penulis beserta sahabatnya semoga lulus ujian nasional.



Juni 2007. Kymmi dibawa hijrah oleh penulis ke medan juang berikutnya. Kampus IPB Darmaga Bogor.

Sebelum pukul delapan pagi penulis sudah bersiap untuk membawa Kymmi hijrah. Sarapan, multivitamin, jaket tebal. Kali ini ia akan membawanya sendiri. Pertama kali dalam sejarah hidupnya. Lintas kota. Maka meluncurlah ia pada pukul delapan disertai kecemasan dan wejangan bertubi-tubi dari ibundanya. Amboooiii...nikmatnya perjalanan... Lalu lintas yang tidak terlalu ramai, pemandangan gunung kapur di area pabrik semen, hingga penampakan serba hijau yang hadir di depan mata, tanda telah memasuki area kampus... Tepat pukul sepuluh. Mampir sebentar ke perhelatan di area gymnasium sebelum parkir di asrama putri. Ada TPB Extra! Persembahan BEM TPB Angkatan 43, Kabinet Hexagonal. Dari kita, oleh kita, untuk kita...(hehe..piss, bro...sis...)

Dan di sinilah segalanya bermula. Kymmi tak lagi milik penulis. Kymmi menjadi milik umat. Kymmi tak lagi menyimpan kisah haru biru penulis. Tetapi Kymmi juga menjadi saksi gerak dan langkah banyak orang. Dan penulis amat bersyukur akan hal itu.

Setelah perjalanan panjang Bekasi-Bogor, Kymmi pun merasakan liku-liku jalan menuju Puncak. Tempat Wisata Gunung Mas. Bukan untuk berekreasi, tetapi dalam rangka mengajukan proposal sebuah kegiatan. Bergelut dengan kemacetan di sepanjang jalan, dengan tubuh yang besar, bukanlah hal yang mudah. Rem, lepas, tahan...Rem, lepas, tahan...Salip kanan, awas spion, sedikit nyasar, angin malam, namun tetap dalam senyuman, memberi kesan pada dua akhowat angkasa (baca: anggun dan perkasa). Beberapa hari setelahnya, Kymmi pun dibawa lagi menuju perjalanan yang lebih jauh dan mendaki. Kantor Wadi FM, Tapos Bogor. Juga dengan membawa proposal.

Sampai kegiatan itu tiba, Kymmi tetap setia. Islamic Youth Camp 1428 H. Kymmi menjadi sosok yang kerap mobile dengan pengendara yang berganti-ganti. Kymmi menjadi sahabat bagi banyak orang. Membawa dua akhowat angkasa ‘berbadan sehat’ dengan 5 galon kosong, panci, dandang, juga termos nasi. Menderu di sepanjang jalan asrama putra-Cangkurawok-Balio. Hmm...apa kata orang-orang yang melihat, ya?



“Maafkan Emak, ya, Kymmi...” Kasihan Kymmi. Sang pemilik sering lalai memberikan perawatan yang baik terhadapnya. Hingga tak ada oli yang menetes saat akan diganti dengan oli yang baru saking sudah kering dan kelamaan tidak diganti. Hingga ban yang harus diganti karena gundul dan bocor yang menyebabkan dua teman sekelas penulis (sebut saja Ipin dan Pa’de) harus berhujan-hujanan demi mendapatkan ban yang sesuai di kota Bogor. Hingga sekering yang seringkali bermasalah dan menyebabkan Kymmi harus didorong menuju bengkel karena tidak dapat jalan sendiri. Hingga debu tebal yang menempel hingga mengundang komentar, “Nggak dimandiin berapa taun nih...???” >.<



Waktu terus berlalu. Dan selama itu pula lah Kymmi eksis di tengah-tengan aktivitas para mahasiswa yang mengaku aktivis. Bahkan mungkin ke-eksis-annya mengalahkan pemiliknya (heuheu...). Kymmi terjun ke desa, Kymmi melenggang ke Balai Kota, Kymmi mampir ke lokasi beberapa kelompok halaqah. Dibawa oleh banyak pihak. Sampai suatu ketika penulis sedikit takjub. Saat itu Kymmi dibawa penulis yang sedang bersama rombongan kader PK Sejahtera mengantarkan hadiah-hadiah kecil untuk para bayi yang lahir pada tanggal 8 bulan 8 tahun 2008. “Kayaknya saya pernah kenal dengan motor ini...” kata seorang ikhwan yang tidak dikenal penulis. Penulis hanya tersenyum. Beliau kembali berujar, “Soalnya waktu itu motor ini saya pake...Waktu kampanye calon walikota...” Hah...?! Penulis cuma bisa nyengir. Ahh...ya. Waktu itu Kymmi pernah dipinjam –yang penulis sendiri sudah lupa siapa yang meminjamnya– dan penulis tidak dapat ikut serta dalam kampanye tersebut. Dan bersyukur, Kymmi ‘ramah’ pada semua orang.



“Ooh...motornya a**** yang kayak bom-bom car itu...”

“Subhanallah, mbak...ternyata setelah dilihat dari dekat, motornya BESAR juga, ya...”

“Kymmi ngabisin jalan aja...heuheu...”

“Waktu aku bawa motor itu, mungkin orang-orang bingung kali ngeliatnya, ya, Mbak...Itu motor koq bisa jalan sendiri...yang bawanya nggak keliatan...hehehe...”

“Waduh, Kymmi hampir nggak bisa masuk ke dalem rumah, d***...pintunya kekecilan [baca: motornya kegedean]...”

“Sini, Dek...udah Bapak sediakan tempat parkirnya, yang paling luas...”

“Yang punyanya ternyata akhowat toh...? Saya kira ini motor ikhwan...”

^___^

Kymmi...di tempat parkir akhowat masjid Al-Hurriyyah IPB Darmaga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar