Jumat, 13 Agustus 2010

punya siapa?

bismillaahirrahmaanirrahiim..


Kami biasa memanggilnya “Mang Aep…”. Mang Aep –semoga Allah melimpahkan hidayah dan karunia kepadanya– merupakan salah seorang pegawai Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Seluruh civitas akademika FKH IPB mengenalnya. Bagaimana tidak, Mang Aep adalah ‘kuncen’, atau juru kunci FKH IPB. Mau pake ruang kelas, pinjem peralatan, meja, kursi, dan sebagainya, pasti harus menghubungi beliau.

Oke, kita tidak akan membicarakan biografi Mang Aep, sebenarnya. Tapi kita akan menjadikan Mang Aep sebuah analogi terhadap hidup kita. Hmm…

Mang Aep seorang yang sederhana. Loyal pada pekerjaannya. Sebagai juru kunci, ‘kekuasaan’ terhadap kepemilikan ruang kuliah ada padanya. Mang Aep punya ruangan tersendiri di salah satu ruang kuliah. Mang Aep dapat menggunakan fasilitas apapun di kelas. Ada piano, maka Mang Aep bebas memainkannya. Ada komputer, maka Mang Aep bebas bermain game yang terdapat di sana. Ada AC, Mang Aep bebas ‘ngademin’ diri dengannya. Tapi ia menyadari bahwa semua yang ia ‘genggam’ bukan miliknya. Ia memahami, bahwa tugas dan tanggung jawabnya di sana adalah memastikan bahwa semua berada dalam kondisi yang baik, rapi, bersih, dan berfungsi. Kalo nggak, wah…Mang Aep pasti bisa kena tegur sama yang punya. Kalau ada penambahan fasilitas, CPU dan LCD misalnya, Mang Aep akan merawatnya karena itu artinya amanahnya bertambah. Dan kalaupun ada yang diambil, AC misalnya, Mang Aep tidak akan menolak kemudian bermuram durja. Ia tidak akan khawatir kalau-kalau fasilitas yang selama ini dinikmatinya akan diambil (kecuali ‘terambil’ kali ya…alias kemalingan…). Wong semua bukan miliknya.

Ya…semua bukan miliknya. Mang Aep hanya dititipin sama Pak Dekan, untuk merawat dan menjaga sarana dan prasarana dengan baik. Dan ia menjalankannya dengan penuh tanggung jawab. Mang Aep senantiasa menempatkan dirinya sebagai orang yang bermanfaat untuk sesama (aamiin…)

Aah…itulah miniatur hidup kita. Tidak ada satu pun di dunia ini yang menjadi milik kita. Semua punya Allah! Jangankan rumah, motor, atau laptop. Bahkan hidung, mulut, jantung, dan paru-paru kita. Jangankan teman, istri, atau suami. Bahkan bapak, ibu, anak, dan saudara-saudara kita. Bukan milik kita!

Semua…hanya…titipan…

Boleh saja kita menikmati itu semua. Tapi bersyukur adalah peraturannya. Qona’ah adalah adabnya. Bahwa kesemuanya memiliki hak atas diri kita. Tuntutan dari Sang Pemilik. Contoh kecil, mulut kita punya hak untuk selalu berkata baik (QS.Al-Hujurat: 11), mata kita punya hak untuk gadhul bashar (QS.An-Nuur: 31), terlebih lagi terhadap sesama manusia.

Sebagai Sang Pemilik, tentu mudah saja bagiNya mengambil apa yang menjadi milikNya. Dan kita jangan coba-coba menahannya. Wew…bukan apa-apa. Kita nggak punya daya dan kekuatan sama sekali!

Karena…bukan…kita…pemiliknya…

Semua milik Allah dan akan kembali pada Allah… Innaalillaahi wa innaailaihi raaji’uun

So, sepertinya kita nggak punya alasan untuk sombong. Betul apa benar? (^_^) Yang jadi masalah adalah apakah kita menjaga segala titipanNya itu dengan baik atau tidak. Memanfaatkannya sesuai keinginanNya atau tidak. Mengoperasikannya dengan cara yang ditunjukkanNya atau tidak. Mengelolanya dengan SOP dariNya atau tidak. Karena bisa saja, kita ‘dipecat’ secara tidak hormat oleh Sang Pemilik karena lalai dalam menjaga titipanNya. Na’udzubillaah…tsumma na’udzubillaah

Okelah kalau begitu…Mari kita berusaha kembali merapikan niat. Bersiap-siap. Bahwa yang selama ini kita pikir adalah milik kita, ternyata hanya titipan. Sehingga ketika sudah waktunya untuk diambil, semoga senyum tetap terukir, “Innaalillaahi wa innaailaihi raaji’uun…Udah diambil sama yang punya…”. Belajar sholih. Bahwa kita sedang mengelola segala titipanNya sesuai aturanNya. Sehingga ketika evaluasi tiba, semoga tidak terlontar dari mulut kita, “Kalau saja kami dulu begini…kalau saja kami dulu tidak begitu…” sambil menyesal dan meratap. Karena ternyata, ruh dan jiwa ini juga titipanNya…

Allaahummaghfirlii

Then, it’s all about keeping His own…about our responsibilities…about our rights and duties…



Penulis mengucakan terima kasih kepada Mang Aep atas dedikasinya untuk FKH IPB dan telah menjadi sumber inspirasi penulis dalam tulisan ini. Viva Mang Aep! (Lho…?!) hehehehe… ^^

Wallaahua’lam bishshawaab

-bogor, 20 januari 2010-

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS.At-Taubah: 24)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar