Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2011

suka deh.. :)

Saya lagi baca-baca majalah Ummi, trus ngeliat sebuah puisi di rubrik ‘Permata’. Bagi saya, puisi yang ditulis oleh anak kelas dua madrasah ibtidaiyah (setara dengan es-de) ini hebat sekali. Menceritakan proses terjadinya hujan secara sederhana dengan indah, dan tentu saja puitis. Ini puisinya:

Kisahku
Aku
Setetes air
Samudra rumahku
Bersama ayah, ibu, dan adik
Di suatu senja kutinggal mereka
Karena diajak panas matahari
Kini aku di langit bersama teman-teman
Bingung kemana hendak dituju
Oh ibu...
Aku rindu
Sedih, andai tiada perpisahan
Aku pun menangis lalu jatuh ke bumi
Mereka panggil aku
Hujaan! Hujaaan! Datang
Berhari-hari aku berjalan bersama sungai
Kini...
Aku bertemu ibu, ayah
Dan kakak adikku di samudra
Bahagia...
Karya: Zoelva Nadia; kelas II MI Al-Wathoniyah; Mojoanyar Bareng Jombang Jawa Timur 61474

Nice.. :)


 

Selasa, 09 November 2010

merengkuh yang diberikanNya..apapun..

tak ada yang dapat bumi lakukan
bila langit jalankan kehendaknya
mengelak tak ada gunanya
menjauh percuma saja
ia tahu yang bumi butuhkan
maka rengkuhlah apa yang diberikan
kelak langit akan hadiahkan pelangi
untuk bumi setelah deras berhenti

-bogor, 2 april 2009-

menegur hati

mengapa mengharap permakluman mereka
sedang belum tentu kau dimaklumi-Nya
atas dasar apa kau pinta perhatian mereka
padahal hanya kepada Tuhanmulah segala urusan
mungkinkah bias niatmu?
adakah ikhlas mengalir dalam pembuluh darahmu?
beribu langkahmu hanya menjadi setapak di hadapan Tuhanmu
kumpulan peluh yang menetes darimu hanya berupa buih tak berarti di mata Tuhanmu
dan kau masih meminta dispensasi
dan kau masih mengajukan surat cuti
dan kau masih pertanyakan kompensasi
kemudian berencana pergi dan lari
merasa hanya dirimu seorang yang miliki derita
padahal gerakmu belumlah apa-apa
duhai hati,
kembalilah dari pengembaraanmu mengharap dunia
untuk beralih pada ridha-Nya

-bogor,3 april 2009-

bila...mungkin...

bila hanya hitam dan gelap dalam pandangmu
mungkin memang karena tak ada cahaya memantul di sana
atau mungkin...
syaraf optikmu yang bermasalah

bila kuyub tubuhmu oleh hujan
mungkin memang karena ia turun begitu lebatnya
atau mungkin...
tak kau gunakan jas hujan untuk lindungi diri

bila jatuh dirimu terantuk batu
mungkin memang karena batu itu berada pada tempat yang tidak semestinya
atau mungkin...
terlalu sibuk kau berjalan hingga tak perhatikan bagaimana kaki melangkah

dan bila dakwah ini terasa begitu merepotkan
mungkin memang ada kekhilafan dalam lisan dan tulisan
atau mungkin...
ada yang luruh dalam dirimu
hingga ternyata
kaulah andil dalam kerepotan itu...
 

bogor, 15 mei 2009
 
bila respon-Nya tak terasa olehmu, barangkali Ia sedang menunda sampai pada saat dimana hanya Ia yang tahu…atau…mungkin karena imanmu yang tak lebih dari sebutir debu, bahkan kurang dari itu…hingga sesak tetap mendesak, gelisah makin tak terarah, dan pilu bertambah haru…

dalam pelayaran ini

perahunya belum juga merapat pada darmaga
layarnya belum juga menutup
masih terkembang
tetap berkibar
sauhnya belum juga dilempar
belum tertambat
belum menahan
buih pun belum menghilang
riak belum juga tenang
dan ombak belum juga berhenti menghentak

kita masih berlayar, saudaraku...
belum saatnya berlabuh
belum waktunya menepi
walau terguncang oleh badai
meski terhempas karena gelombang
ada saat di mana burung melintas berkicau
terbit cahaya berkilau
dan semilir yang mendesau

bila koyak sang layar
mari kita perbaiki bersama
bila lubang mengizinkan air penuhi kapal
mari kita sumbat bersama
bila tanda-tanda mercusuar tak terperhatikan oleh sang kapten
mari kita ingatkan ia bersama

jangan lemparkan sekoci untuk tinggalkan kami
kita akan menepi bersama
pada darmaga yang telah kita azzamkan di awal perjalanan kita

-bogor, 16 mei 2009-

Sabtu, 14 Agustus 2010

pada ranting yang mengering

sehelai daun tersisa dari ranting yang mengering
melekat kuat walau lainnya terserak
melambai perlahan karena angin
meneteskan bening air karena hujan
saat musim berlalu, ia pun tetap begitu
sedikit layu dan menguning
tapi tetap di sana

bukan maksud ia untuk bertahan
sesungguhnya ia rindu pada kawan
yang lebih dulu meninggalkan
namun bukan pula ia menyesal
hanya saja, keikhlasan kerap kali diuji
pada titik kelemahan diri

satu hal yang ia paham
Dialah satu-satunya Pemegang kekuasaan
maka tetaplah ia di sana
hingga keputusanNya datang

-bogor, 20 februari 2010-

indah

beginilah jama’ah
ia mengajarkan arkanul bai’ah
ia mencipta ukhuwah
ia menjaga ruhiyah
ia menebarkan hamasah
inilah da’wah

maka ketika kau lelah
jangan buat semakin parah
bangkitlah!
jangan jauhi ikhwah
jangan mundur walau selangkah
memang bukan hal yang mudah

tapi ingatlah
di sana ada pahala melimpah
di sana ada surga yang luar biasa indah
semoga Allah menghujani kita dengan barokah

-bogor, 20 februari 2010-

Jumat, 13 Agustus 2010

yang tak terjawab

ada yang belum terjawab darimu
wahai Fathimah, putri Sang Rosul pilihan
kau membuat Ali terkejut saat kau berkata
ada pria yang kau cintai sebelum pernikahan terjadi
kau membuat Ali tersipu saat kau berkata
"Pria itu adalah dirimu"

ada yang belum terjawab darimu
wahai Fathimah, putri Sang Rosul pilihan
rasa seperti apa yang kau tahan
sebelum akhirnya terhalalkan?
kendali seperti apa yang kau usahakan
hingga akhirnya Allah ridha dengan memberi kesempatan?
berdoakah engkau agar cintamu berbalas?
berharapkah engkau agar ia yang menggenapi separuh nafas?

ah..kisahmu terdengar begitu indah
skenario-Nya yang sempurna
sepersekian bagian dari episode hidupmu yang penuh berkah

ada yang belum terjawab darimu
dan tanya itu akan kusimpan selalu

-bogor, 16 november 2009-

apakah

apakah air mata yang berderai ini
adalah bentuk keputusasaan diri
atau bukti akan kelemahan dan kerapuhan hati

apakah senyum yang bertahta
adalah usaha untuk menutup duka
atau ekspresi pura-pura tanpa makna

apakah kata yang terucap
adalah akumulasi pikiran dalam senyap
atau respon yang sebenarnya tak ingin diungkap

apakah mereka mengerti
atau bahkan memahami
dan menyadari
tentang malam yang sunyi
taman yang sepi
rumah tak berpenghuni
hingga puisi yang tiada berarti

ah..ini hanya puisi saja
tak perlu ada banyak tanya
bila terlihat seperti ungkapan hati seorang manusia
pastilah ia hanya manusia biasa

-bogor, 3 november 2009-

teladan Sang Rasul

meneladani Sang Rasul
saat datang Jibril tawarkan bantuan
dua gunung untuk ditimpakan
membalas pukulan dan hinaan
agar terobati luka Sang Nabi pilihan
namun Baginda hanya menggeleng pelan
menolak dengan senyuman
"akan lahir dari sulbi mereka, generasi yang beriman"

meneladani Sang Rasul
saat sahabat berujar
"apa yang diharapkan dari dua Umar?"
"mereka hanya inginkan kita mati terkapar"
namun Baginda berdoa dengan sabar
dengan bibir yang bergetar
hingga tampillah seorang Umar
dengan iman menumpas kaum kuffar

meneladani Sang Rasul
berdakwah dengan visi
bahkan terhadap mereka yang menyakiti
berharap kebaikan sepenuh hati
dan yakinlah, janji Allah adalah pasti
bila tidak hari ini, mungkin nanti...


-bogor, 30 Oktober 2009-

"Dan Allah lebih mengetahui tentang musuh-musuhmu. Cukuplah Allah menjadi pelindung dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu)." [QS. An-Nisaa' : 45]

karena rapuh

Bersujud debu dalam kelembaban malam
Melirik purnama dengan dzikir panjangnya
Dalam pada apa ia dapat berucap
Bilamana sunyi menjadi raja
Membungkam sayup dan menjadikannya papa
Biar angin menerbangkan dirinya
Biar hujan menghempaskannya
Dia hanya ingin bercengkrama dengan kesadarannya
Akan kerapuhan diri
Akan kelemahan hati
Pada sujud panjangnya

-bogor, 14 Januari 2008-

dalam laju kereta

Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Tak bisa kuhentikan lajunya saat ia tinggalkan setiap stasiun
Tak dapat pula ku meloncat keluar
Saat decit rodanya beradu dengan rel yang panjang membentang

Dahulu pernah kita tumpangi sebuah kereta
Yang berhenti pada stasiun abu-abu
Penuhi gerbongnya dengan tawa dan sedu sedan
Kadang terpesona oleh gerak dan kata
Kadang tergugu karena keliru
Kita tumpangi kereta itu bersama
Sampai terhenti pada stasiun berikutnya
Dan kita harus berpisah

Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Sejak langkahku memasukinya di stasiun itu
Lalu kehilangan bayangmu
Tapi keretamu pun datang
Kau akan masuk ke dalamnya, bukan?
Kau tak akan terdiam lama di perhentian itu, benar?
Naiklah, Kawan
Dan kita akan bertatap kembali pada akhir segala kereta berhenti

Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Aku, kau, dia, mereka
Kita hanya penumpang
Tak dapat kita hentikan lajunya
Tak mampu kita berlari mendahuluinya
Tertinggal bila tak segera menaikinya
Tapi jangan kau pergi menjauhinya, Kawan
Meski kereta kita sekarang tak seperti kereta kita dahulu
Pada stasiun abu-abu
Karena kita akan bertatap kembali pada akhir segala kereta berhenti

Aku hanya penumpang dalam kereta ini, Kawan
Jika kau merasa aku meninggalkanmu
Maafkan aku
Maafkan aku
Maafkan aku…


-bogor, 11 November 2008-

yang satu dan yang lain

yang satu tertatih-tatih
yang lain menghentak-hentak
yang satu meratap-ratap
yang lain membuncah semangat
yang satu tertinggal
yang lain mengejar
yang satu sarat kekecewaan
yang lain menepuk bahu memberi perhatian
yang satu selalu ragu
yang lain penuh harapan baru
yang satu cukup sampai di sini saja
yang lain esok akan kujelang

yang satu dan yang lain
adalah dua sisi dalam diri
berputar dalam segala situasi
hanya Dia Yang Maha Pembolak-balik hati


-bogor, 24 Oktober 2009-

inginku

Aku ingin mencintainya setelah mencintai-Mu

Agar dekapku padanya tak melukai-Mu
Agar sandaranku padanya tak melepaskan-Mu
Agar kebersamaanku dengannya tak merampas hak-Mu
Agar Kau tersenyum saat kami tersenyum
Agar Kau mendelik saat kami membalik

Maka jauh sebelum aku mencintainya
Aku akan mencintai-Mu
Dalam penantianku
Sampai terlabuh cintaku
Tanpa mengkhianati-Mu

-bogor, 7 November 2008-

bukankah

Bukankah Ia ciptakan angin untuk jadikan gelombang

Timbulkan arus agar tak tergenang

Semburatkan cahaya agar benderang

Bukankah Ia telah pastikan detak dalam dinding jiwa

Nafas untuk setiap hela

Air mata sebab sesak yang mendesak

Lantas mengapa kau ragu

Bahwa tak ada lagi mampu

Kendalikan gemuruh yang mengusik langkahmu

Padahal Ia tak pernah lelap

Meski kau lelah menatap



-bogor, 21 Desember 2008-

harap

Harapku bertemu pada sebuah titik


Akumulasi dari segala lembar dan langkah

Tatap dan dengar untuk sebuah gerak

Agar ucap miliki dasar

Berlabuh pada apa yang seharusnya

Menjadi tempat berlabuh

Bersama pualam yang menjelma menjadi permata

Setelah gelombangnya diarungi

Saat kapalnya menepi

Tak ada detik untuk kembali



-bogor, 7 November 2008-

cinta pertama

Cari namamu dalam kamus cintaku

Maka akan kau temukan dalam setiap halaman buku

Tanya padaku tentang koleksi memori dalam ruang pikirku

Maka akan kuputarkan rekaman kehidupanku saat bersamamu



Masaku denganmu tak berjalan seiring waktu

Senja itu membawamu pergi dari sisiku

Tak ada kendali yang mampu menahanmu

Bahkan tetes air yang jatuh dari mata mereka yang mencintaimu



Datanglah ke kantor pos di tempatmu

Dan tanyalah pada bidadari bermata biru

Adakah kiriman untukmu

Sebuah paket dariku

Berupa doa dan kumpulan rindu

Kutitipkan juga surat pada Tuhanku

Untuk mengizinkanmu menungguku pada sebuah pintu

Kan kubawa serta Ibu kepadamu

Ia yang mencintaimu dan bertahan dalam kesetiaannya padamu



Wahai waktu

Aku tidak memintamu mengembalikanku pada masa itu

Hanya saja

Beri aku kesempatan untuk selalu memenuhi jiwaku dengan keshalehan

Agar aku tak malu bila bertemu cintaku

Agar Ia tak ragu mengumpulkanku bersama cintaku

Dalam surga bertelaga biru



-bogor, 23 November 2007-
ayah..cinta pertamaku.. ^^