Tampilkan postingan dengan label short story_fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label short story_fiction. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Agustus 2010

dalam bayangan

Ta, km k mn? Knp km g jwb tlpn aq? Km k mn? Aq benci bgt sm dia. Aq mau dia mati aj. Ta…
Mataku nanar membaca tulisan di inbox-ku. Perlahan bening air mata terjatuh dari pelupuk mataku. Allah…lindungi ia. Aku mohon…

* * *

SMA-ku tercinta, selamat tinggal. Bukan tak cinta bukan tak suka, bukan pula aku mengkhianatimu, tapi aku nggak mau jadi anak SMA lama-lama. Aku ‘kan mau lulus juga. Usai mengunyah-ngunyah soal SPMB, dan setelah jadi batu nunggu pengumuman, finally…here I am

Universitas impianku hadir di depan mata. Konkrit. Bukan impian lagi. Namaku terdaftar sudah di administrasi. Dan tentunya hari-hari ospek yang melelahkan dan menjengkolkan sudah kulewati. Nggak usahlah aku ceritakan masalah itu. Menuh-menuhin kertas plus lumayan bikin sakit hati.

Kelas yang akan kumasuki masih satu setengah jam lagi. Boleh dong aku tepe-tepe (baca: tebar pesona) sama masjid kampusku. Konon kabarnya, masjid itu pe-we banget.

Love at the first sight. It’s so beautiful. Kakiku melangkah memasukinya. Masuk ke tempat wudhu (buat wudhu dong tentunya) kemudian berusaha khusyu’ dalam dhuha-ku. Sambil menikmati kenyamanan mesjid, kubuka mushaf bersejarahku. Belom sempet baca ta’awudz, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.

“Elo yang kemaren ‘kan?” tanyanya. Aku menatapnya dan berusaha mengingat.

“Masak lupa? Tas kita ketuker…” aku tersenyum, tanda bahwa aku sudah mengingatnya. Jadi inget. Kuceritakan sedikit, ya. Hari sudah sore waktu selesai ospek. Badan lengket plus cuapek yang nggak ketulungan membuatku ingin cepet-cepet pulang. Berhubung semua tas sama -terbuat dari plastik hitam buat sampah- aku mengambil tas yang aku yakin itu milikku, lantas kabur dari kampus untuk pulang ke rumah. Suara perempuan yang berteriak tak kugubris. Sampai akhirnya ada yang menepuk bahuku -persis seperti tadi- kemudian berkata, “Tas gue tuh. Kayaknya lo salah ambil deh…” katanya sambil senyum-senyum. Karena merasa tas itu milikku, aku nggak terima.

“Masak sih…?” aku memeriksa isinya. Kemudian mengangkat kepala, lalu nyengir kuda. Perempuan itu juga melakukan hal yang sama sambil menukar tas yang dipegangnya. Tanpa basi-basi, kami pergi. Tengsin bo…!

“Udah inget ‘kan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.

“Gue Sasa. Nama lo siapa?”

“Arsita Syifani. Panggil aja Sita.” tangan kami terulur berjabat tangan. My first friend! Become best friend…?

* * *

Sasa. Ndut, chubby, lucu, plus ngegemesin. Friendly banget. Kita jadi sering bareng-bareng. Walaupun dia di Fisika dan aku di Biologi, sepertinya jarak tidak bisa memisahkan kita deh.

“Ta, ke Ge-Em yuk…”

“Ya…Sasa. Sori dori mori stroberi nih…aku mau taklim. Mending kamu ikut aja…”

“Nggak banget deh!”

“Lohhh…?? Emang kenapa, Mbak…?”

“Males aja. Abis di sana kan banyak jilbaber-jilbaber gitu. Ntar aku dicuekin lagi, nggak pake jilbab sendiri. Abis mereka kesannya eksklusif gitu, gabungnya sama yang pake jilbab aja.”

“Lah, situ kenapa mau temenan sama saya…?”

“Kenapa, ya…? Abis lo beda sih…”

“Ah, jadi enak…”

“Yah…jadi nyesel ngomong…Ya udah, lo taklim aja dulu. Gue tunggu di perpus, ya…”

“He-eh. Oh iya, Sa, don’t think negative…Daa…assalamualaikum…” aku melambai sambil meninggalkannya. Sasa hanya mengangguk-angguk dan berjalan menuju perpustakaan.

Pengalaman selama SMA bertemu dengan orang-orang yang memberiku banyak pelajaran, baru kutemukan sesorang yang sangat istimewa dalam memberikan pelajaran untukku. Sasa yang konyol, kadang berubah menjadi sosok kritis yang sedang mencari kebenaran hidup.

“Lo yakin Tuhan itu ada?” tanyannya suatu hari.

“Emangnya kita ini diciptain sama siapa?” balasku bertanya.

“Bisa aja ‘kan dengan sendirinya. Dari sel mungkin…”

“Trus sel itu yang nyiptain siapa?”

“Ya…terbentuk dengan sendirinya!”

“Kemaren aku mau ke warung, Sa. Tapi aku males, coz warungnya jauh. Mesti naik kendaraan. Padahal aku nggak punya. Eh, pas nyampe pager, tau-tau di depan mata ada sepeda…”

“Sepeda orang kali…”

“Nggak! Tadinya tuh nggak ada…”

“Ah, nggak mungkin…Jayuz banget sih lo…”

“Hmm…sepeda aja nggak bisa muncul dengan sendirinya. Apalagi manusia…”

Atau mungkin percakapanku dengan Sasa yang lain. Seperti ini.

“Katanya Allah sayang sama kita, kenapa kita malah dikasih cobaan yang berat banget?”

“Ah, masak…?”

“Katanya Allah ngasih cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Tapi pada kenyataannya, cobaan itu malah terlalu berat sampai-sampai dia nggak bisa menghadapinya…”

“Yakin…?”

“Sita…!”

“Hehe..iya, iya…sori. Hmm…mungkin, orang yang dikasih cobaan itu belom maksimal kali, ya, dalam berusaha menyelesaikan ujian yang dikasih. Guru SD aja nggak mungkin ngasih ke anak muridnya pelajaran SMP, apalagi Allah…”

Sasa. Betapa aku menyayangimu atas segala ucapanmu. Betapa banyak pelajaran yang kau berikan untukku. Betapa inginnya aku menemanimu dalam mencari mutiara hidayah di dasar laut hatimu.

* * *

Kantin kampus pukul 10 pagi (masih pagi ‘kan…?).

“Jadi nggak kita ke Bandung?”

“Oh…seminar itu, ya? Nggak tau deh, Sa… Emang kita mau naik apa?”

“Naik mobil lah…masak mau ngesot…”

“Hehe…”

“Dianter bokap lo aja, Ta!”

Aku diam. Tersenyum sedikit. Ternyata Sasa belum tahu.

“Nggak bisa. Terlalu sulit.”

“Uh…pelit!”

“Bapak udah meninggal.” Sasa tersedak. “Waktu aku masih SMP.”

“Kok nggak pernah cerita…?”

“Emangnya dongeng, mesti diceritain…?” aku tertawa. Raut menyesal hadir di wajah Sasa.

“Ya udah sih nggak papa...”

“Lo sedih nggak, Ta?”

“Yee…jangan nanya. Siapa sih yang nggak sedih kehilangan orang yang disayangin…” aku berhenti sebentar untuk meminum es jeruk di hadapanku, “He’s the best man that I ever known. Malah aku punya cita-cita punya suami kayak Bapak. Hihi…nggak salah ‘kan punya cita-cita kayak gitu?”

“Lo sayang sama bokap lo?”

“Yee…nanya lagi…Sayang aku sama Bapak, nggak bisa diungkapkan oleh kata-kata… Tapi ternyata Allah lebih sayang lagi sama Bapak…”

“Kok kita kebalik, ya, Ta…”

“Apanya…?”

“Iya. Gue malah mau bokap gue mati…” Gleg! Bagai tersedak air segalon.

“Sori, bisa diperjelas…?”

“Ya…gitu deh…Udah ah, forget it aja. Nggak penting banget sih!”

“Apanya yang nggak penting…?! Ayo dong, Sa, kenapa kamu ngomong kayak gitu? Istighfar, Sa…nyebut…”

“Nyebut…nyebut…hehe…” lagi serius malah becanda.

“Tapi kamu lahir ‘kan lewat perantara ayah kamu, Sa. Yang biayain sekolah, ngasih makan, sampe kamu subur kayak gini…sandang, papan…bersyukur dikit dong…”

“Yah…susah deh, Ta. Lo nggak bakal ngerti…” Sasa beranjak. Aku mengekor kemudian menjejeri langkahnya.

Sungguh, saat itu aku tidak terima. Betapa mudahnya Sasa berkata seperti itu. Tidak tahukah ia, segunung penyesalan dalam hatiku karena tidak ada lagi kesempatan untuk membalas semua kebaikan Bapak. Jujur, aku marah. Tidakkah ada rasa syukur sedikit saja dalam dirimu, Sa?

* * *

Persahabatanku masih berjalan seperti biasa. Aku mencoba memahami perasaannya yang sulit aku tebak. Mungkin belum saatnya menyinggung masalah tentang ayahnya. Terlalu riskan. Walaupun awan-awan ketidakmengertian masih menyelimuti pikiranku.

Tumben nih, jam segini biasanya Sasa udah dateng. Ah, pasti ketiduran lagi deh dia. Bukannya suuzhan, abisnya dia kebiasaan banget bangun telat. Kalau mau janjian jam delapan, misalnya, dari jam enam kita udah harus miskol-miskolin dia biar bangun. Dari jam lima bahkan. Yah…capek deh!

Otakku memutuskan untuk berjalan dan duduk di bawah pohon rindang dekat kolam. Mabesku dan Sasa.

“Assalamualaikum, Ta…” sebuah suara ghaib menyelusup lewat liang telingaku dan menembus membran timpani ku. Kontan aku langsung nengok. Setan mana nih yang berani ganggu orang pagi-pagi gini?

Dan ketika aku menoleh, aku bengong. Bukan. Bukan setan.

“Orang ngasih salam tuh dijawab, bukan dipelongoin…”

“Subhanallah…Sasa…!!!” aku berhambur memeluk Sasa. Untung nggak kecebur kolam. Nggak akan bersikap seperti itu kalau tidak ada yang berubah pada diri Sasa. Emangnya Sasa kenapa sih?

“Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya gue mutusin berjilbab. Tapi gue malu, Ta, sama temen-temen. Takut diledekin…”

“Ih, siapa juga yang mau ngeledekin kamu. Bosen ‘kali…”

Teringat percakapanku tempo hari dengan Sasa.

“Ngapain sih, Ta, pake jilbab panjang-panjang? Bukannya malah berlebih-lebihan tuh? Katanya Allah nggak suka sama hal yang berlebihan?”

“Ah, itu sih tergantung kenyamanan si pemakai aja. Nggak masalah kan kalo jilbabnya panjang? Namanya juga nutupin aurat. Nutupin pantat. Kata guru agama waktu aku SMA, pantatnya cewek tuh banyak setannya, jadi kudu ditutupin…” Sasa cekikikan.

“Tapi tidak selalu yang jilbabnya panjang trus kemudian jadi lebih sholeh dari yang jilbabnya pendek. Hati orang itu ‘kan cuma Allah yang tahu…” aku melanjutkan.

“Trus kenapa mesti pake jilbab? Islam kok ngekang banget. Begini nggak boleh, begitu nggak boleh. Harus ini, harus itu. Harus pake jilbab, nggak boleh pegangan sama cowok, nggak boleh pacaran. Nggak ngikutin perkembangan zaman. Gimana mau nikah kalo pacaran aja nggak boleh. Kita ‘kan jadi nggak tau kepribadian si cowok itu gimana. Lagian kalo pake jilbab itu bukannya malah bikin perbedaan? Beda sama yang lain. Bikin capek!” Sasa ngomong sampe berbusa, kukira.

“Hanya satu kata. Allah.” Ada getaran hebat ketika aku mengatakan hal itu. Ya. Allah. Allah, kuatkan hamba-Mu.

“Sopo sing bilang Islam itu mengekang? Justru mestinya kamu berterima kasih tuh, udah diselametin sama Islam. Ibarat lemper, nggak bakalan dibeli tuh lemper yang nggak dibungkus! Pasti milihnya lemper yang dibungkus rapi pake daun. Soalnya ‘kan bersih, nggak kena debu. Ibarat barang di toko, semuanya dibungkus rapi. Eksklusif. Nggak sembarangan kesentuh tangan. Ibarat body, gimana coba caranya biar nggak sembarangan disentuh, dipegang, ditowel? Dan siapa bilang nggak boleh pegangan sama cowok? Boleh aja, tapi syaratnya cowok itu kudu nikahin kita dulu, alias jadi suami kita. Hehe… Dan siapa bilang nggak boleh pacaran? Boleh juga. Tapi syaratnya ya itu tadi. Pacaran after married. Lebih aman. Lagian kalo pacaran, belum tentu juga tuh beranjak ke pelaminan. Bayangin deh, Sa, misalnya aja tiga tahun pacaran, udah dipegang-pegang, dipeluk, dibelai, na’udzubillah kalau sampai melakukan ‘begituan’, udah gitu nggak jadi nikah! Si cowok say goodbye. Betapa kasihannya kita, sebagai wanita. Habis manis sepah dibuang. Sorry lah yaw…” Dan sekarang gentian Sasa yang bengong dengerin kata-kataku yang ternyata lebih banyak dari dia.

Ah, Sasa…selamat, ya. Hidayah-Nya telah sampai kepadamu.

“Istiqamah, ya, Sa…”

“Apaan tuh? Nama masjid di mana?”

“Aduh Sasa…!”

“Iya, iya, gue tahu. Tetap pendirian kan? Yah…doain gue aja deh, Ta, mudah-mudahan gue bisa ngejaga hidayah ini…” kata Sasa. Aku mengaminkannya dalam hati.

Sasa tetap seperti yang dulu. Konyol, lucu, dan tetap chubby. Oh ya, masih tetap males diajak taklim. It’s ok, semua butuh proses. Dalam kesehariannya, ia pasti bisa mendapatkan banyak pelajaran. Pun aku.

Labil. Kritis. Tetap menjadi sifat Sasa. Walau sudah berkurang. Untaian doa yang selalu kupanjatkan untuknya. Allah…sirami ia dengan berjuta keindahan-Mu…

* * *

Fiuh…hari yang cukup melelahkan. Setelah kenyang mengunyah-ngunyah soal UAS, kini aku berbaring (baca: tepar) di tempat tidur. Hmm...tapi ini ada semerbak wangi apa, ya? Ups, bulu kudukku sempat berdiri dan istirahat di tempat. Aku mencari sumber wangi itu, and I find it!

Kebiasaan deh. Kubuka resleting tas yang penuh sejarah itu dan kutemukan ‘jimat’ ku dalam keadaan terbuka. Untung baby cologne, kalo minyak nyong-nyong ‘kan berabe!

Sepertinya isi tasku harus segera dikeluarkan. Dompet, HP, novel, komik, tempat pensil, meja, kursi, lemari, komputer, kulkas…eh…kertas apaan nih?

‘Dari seseorang yang membutuhkan saran seorang sahabat’

Kertas lecek and the kumel plus basah itu aku buka perlahan. Tulisannya sedikit kabur, jadi perlu dikejar, ups, maksudnya masih bisa terbaca.

‘Jika ada seseorang yang bertanya, siapakah yang paling kau rindukan pelukannya setiap malam? Siapakah yang paling kau inginkan dekapan hangatnya? Siapakah yang terakhir memelukmu di usia 12 tahun? Maka, jika aku diizinkan menjawab, ia adalah ayahku…

Banyak yang bilang, orang malang itu orang yang merasakan kesusahan, ditimpa bencana, berdiri dalam garis kemiskinan, merakasakan kekerasan, dan berbagai cobaan. Itu semua bohong. Tentu saja hanya bagiku. Bagiku, suatu kemalangan besar itu jika ia melihat sesuatu yang amat berharga baginya tetapi ia tidak dapat merangkulnya. Jangankan merangkul, ia hanya melihatnya seakan ia tidak melihat apa-apa. Padahal ia ingin sekali mengatakan, aku mencintaimu, aku menyayangimu seumur hidupku.

Menurutmu, jika aku memberimu waktu untuk berpikir, siapakah barang berharga yang kumaksud? Jika kau berhasil menjawabnya, maka kau benar-benar mengerti dan memahami apa maksudku dan diriku.

Kini apa kau mengerti menagapa aku begitu membenci ayahku dan terkadang ingin ia menghilang...’

Kulipat kertas itu dengan tangan bergetar. Sesak.

Tiit..tiitt..tiiittt… HP-ku berbunyi. 1 massage received. Dari Sasa.



* * * *

Bekasi, 16 Mei 2005

saat ia mengeong

SMA Afteresempe. Aku menginjakkan kakiku di kelas tercinta. Wuah…masih sepi… Kulirik tangan kiriku. Ya ampun…! Aku nggak pake jam tangan! Lalu lirikan mata aku arahkan ke jam dinding. Masya Allah…nggak ada juga! Bodo ah, mau jam berapa kek sekarang, yang jelas sekarang tuh udah lumayan siang. Aku pikir aku terlambat, taunya di kelas baru ada lima kepala (plus badan tentunya…).
Aku berjalan menuju tempat duduk. Di sana udah ada Isya. Aku terkikik melihatnya sedang menghafal sosiologi. Abis cara ngafalinnya lucu. Matanya merem melek, trus tangannya goyang-goyang, untung kepalanya nggak ikutan geleng-geleng, hi..hi..

“Assalamualaikum, Isya…” sapaku.

“Waalaikumsalam…” jawabnya. Lalu kembali menekuni hafalannya. Aku pun membuka catatan sosiologi dan mulai menghafal.

Teng…! Suara lonceng, klasik terdengar. Jam 06.45. Waktunya imtaq sampe jam 07.00. Petugas imtaq masuk. Kak Faldi.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh…” sapanya. Anak-anak koor menjawab.

“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan berjuta nikmat kepada kita semua, sehingga kita masih bisa merasakan sinar matahari pagi ini dan bisa bertemu, berkumpul, saling menyapa dengan teman-teman. Shalawat serta salam juga sudah seharusnya kita sampaikan kepada Rasulullah saw. karena telah mengenalkan Allah kepada dunia. Imtaq kali ini saya mau ngomongin tentang seekor hewan. Mmm…antum tau kucing?” tanyanya retoris. Bisik-bisik di belakangku terdengar.

“Kucing itu yang buat ngedenger ‘kan?” Kuping kali…

“Bukan, kucing itu kalo sakit kepala.” Itu pusing.

“Ngaco lo…kucing itu nama warna.” Ih, itu mah kuning…

“Eh, gue kasih tau, ya, kucing itu yang bulet-bulet yang ada di baju.” Grrh…

“Heh, bisa diem nggak sih lo berdua? Gue bilangin ya, kucing itu yang mengembik…! Puas lo?!” Isya menegur Ahmad dan Faris yang dari tadi bisik-bisik. Tentunya teguran Isya dengan bisik-bisik juga.

“Nah…itu dia jawabannya… Tuh, denger, Ris, Isya aja tau…” kata Ahmad. Aku terkikik. Isya menggeram kesal.

Kak Faldi meneruskan imtaqnya. Aku tidak begitu jelas mendengarkan. Sibuk ngapalin sosiologi. Abis, dua kali ulangan kena her terus. Sedikit yang aku tangkap, bahwa kucing adalah hewan kesayangan Rasul. Bahkan ada sahabat yang dipanggil Abu Hurairah oleh Rasul, yang artinya Bapak Kucing Kecil. Selebihnya, yang aku ingat adalah faktor-faktor yang menentukan kepribadian, pengertian pembentukan kepribadian menurut Theodore M. Newcomb, contoh pembentukan kepribadian, dan doa supaya ulangan sosiologiku berjalan dengan lancar…

* * *

“Kucingku sakit nih, Fa.” kata Isya. Isya itu suka sama kucing. Ia memelihara 6 ekor kucing di rumahnya. Nggak repot apa, ya?

“Sakit apa?”

“Nggak tau, kemaren dia batuk-batuk sama bersin-bersin gitu deh…”

“Di bawa ke dokter nggak?”

“Nggak ada dokter hewan di deket rumah.”

“Dokter biasa aja…”

“Ih…ngaco!”

“He..he.. Trus gimana dong?”

“Aku kasih Biogesic…”

“Hah…?! Astaghfirullah…kucing kamu kasih Biogesic? Nggak keracunan tuh kucing?”

“Ngg…nggak juga sih…udah biasa kok. Biogesicnya diancurin dulu, dijadiin puyer, baru diminumin…”

“Ya ampun…Isya…”

* * *

Sebelumnya aku tidak begitu peduli dengan hewan yang satu ini. Tapi sekarang aku mulai memikirkan hal-hal tentang hewan ini.

Kemarin aku shalat Ashar di masjid sekolah. Biasalah…ada rapat. Jadi pulangnya sore.

Hijab hijau yang membatasi ikhwan-akhwat terbuka sedikit. Memperlihatkan sesuatu yang agak membuatku berdebar. Wah…jangan mikir yang macem-macem dulu… Bukan ikhwan kok yang aku liat, tapi seekor kucing yang lagi pe-we (posisi wenak) tidur di bawah kursi yang biasa diduduki oleh Pak Burhan kalo lagi ngajar TPA.

Hm…sebenarnya tidak terlalu istimewa, mungkin. Tapi itu membuat aku sedikit tersentak. Subhanallah…apakah kucing itu hewan yang paling diistimewakan? Di samping predikatnya sebagai hewan kesayangan Rasul. Hewan mana yang boleh atau tepatnya dibiarkan untuk memasuki masjid, selain cicak, kecoa, nyamuk, dkk tentunya.

Nggak bermaksud untuk menjelek-jelekkan atau pilih kasih terhadap hewan lain nih… Coba kalau ayam, pasti langsung diusir. Anjing, uh…innalillahi deh… Macan (yang mirip-mirip sama kucing), pasti kitanya yang lari duluan sebelum sempat untuk ngusir.

Bahkan menurut cerita yang pernah aku dengar, Rasul membiarkan seekor kucing yang sedang tidur di atas sajadahnya. Wah…enak banget… Jadi ngiri deh sama tuh kucing…

Itulah…seakan-akan kucing seperti hewan yang terhormat kedudukannya di antara hewan lain.

Beberapa hari ini ada tamu tak diundang masuk ke kelasku. Si ‘Slonong-boy’ itu (eh, boy apa girl, ya…?) suka masuk ke kelas tanpa permisi bahkan assalamualaikum sekalipun. Ya…nggak papa sih, dimaklumin. Kalo dia ngucapin salam mungkin malah justru suasananya jadi horror. Lha wong dia itu kucing!

Masih kecil. Lucu. Bulunya coklat kekuningan. Sedikit kurus, tapi. Dan yang pasti, nggak jelas asal usulnya. Nggak punya KTP sih…jadi susah deh mengidentifikasinya. Pertama kali kelas dikejutkan oleh teriakan histeris Anggi saat pelajaran Geografi. Lagi ulangan pula. So pasti anak-anak pada kaget. Konsentarasinya buyar. Iya lah, pas lagi asyik-asyiknya nyontek and ngebet…

“Ada apa, Anggi? Ada masalah?” tanya Bu Rifa. Anggi menggeleng. Telunjuknya mengarah pada makhluk Allah yang berbulu itu.

Anak-anak memaklumi. Anggi emang phobia sama kucing. Membuat pencinta kucing terheran-heran. Hewan imut gitu kok ditakutin…?

“Lucu, ya, kucingnya…” kataku sambil mengelus-elus kucing itu.

“Nggak ah…jelek. Kurus begitu…” kata Isya. Wah…tumben dia ngejek kucing. Ternyata biarpun pencinta kucing, Isya ini tetep milih-milih juga…

“Awas, Tifa… kucing membawa sporozoa di tubuhnya. Namanya Toksoplasma gondii. Penyakitnya namanya toksoplasmosis. Bisa ngegugurin janin yang dikandung ibu hamil…” kata Anggi sambil bisik-bisik. Mungkin takut kedengeran sama KFC (Kucing Fans Club).

“Tapi aku ‘kan nggak lagi hamil, Nggi…” kataku sambil tersenyum.

“Cuma ngingetin…” kata Anggi masih sambil bisik-bisik.

Lambat laun kami membiarkan anak kucing itu keluar masuk kelas sesukanya. Asal nggak pada jam istirahat aja. Soalnya kita semua lagi pada makan. Apalagi kalo makannya sama ayam, eh, maksudnya lauknya dengan ayam. Wah…bisa saingan sama kucing. Kayak tadi, Halim sama Faris lagi makan. Dengan sigap kucing itu melompat ke kursi, lalu ke atas meja mendekati mereka. Berkali-kali Irfan mencoba mengeluarkan kucing itu, tapi dia balik lagi. Dan dengan tega Halim menunjukkan dasar sepatunya tepat di depan wajah kucing itu. Untung tuh kucing nggak pingsan nyium sepatunya Halim. Tapi akhirnya ia memberikan sepotong daging ayam bagian sayap kepada kucing itu. Faris ngedumel.

“Pilih kasih lo! Tadi gua minta tuh ayam nggak dikasih. Sekarang malah lo kasih sama kucing dengan cuma-cuma…”

“Kalo mau, rebutan gih sana sama tuh kucing. Kalo lo jantan, hadepin sendiri… Sama anak kucing aja ngiri…”

Ngeliat kucing itu, aku jadi inget Sruntul. Dulu, waktu rumahku belum direnovasi, ada seekor kucing yang suka keluar masuk rumah. Masuk lewat pintu depan, keluar lewat halaman belakang. Lucunya, kucing itu ‘cuek beybeh’ kalo masuk rumahku. Karena nggak ngegratak, jadi kami biarin aja. Dikasih nama Sruntul oleh ayah, ya, itu tadi. Ceuk urang Sunda mah, suka nyruntul…

Sekarang udah nggak keliatan lagi. Kata ibu, mungkin akibat rumah direnovasi. Jadi Sruntul keder mau lewat mana dia keluar.

* * *

Hari Rabu. Habis istirahat pertama.

Lonceng tanda istirahat selesai berbunyi 10 second yang lalu. Tapi anak-anak di kelasku sudah siap di tempatnya masing-masing. Buku fisika yang tebelnya 419 halaman ready di atas meja. Menunggu empunya membuka.

Sekarang pelajaran fisika. Pelajaran anggota mafia (Tau ‘kan…? Matematika, fisika, kimia…) ini emang bagaikan hantu. Menakutkan. Ditambah lagi gurunya yang sama sekali nggak mendukung. Maksudnya, udah pelajarannya syerem, yang ngajarinnya juga syerem. Aku sempat berpikir, kayaknya cuma pada saat pelajaran fisika aja deh kelasku bisa menjadi hening. Bahkan, mau menggerakkan badan sedikiiit…aja, nggak berani. Wah…hiperbol, ya?

Pak Wira masuk ke kelas. Anak-anak lebih suka memanggilnya Pe-We (singkatan dari Pak Wira). Beberapa orang menahan napas. Sebenarnya Pak Wira ini baik. Kalau di luar kelas enak diajak ngobrol. Lucu dan santai. Tapi kalau udah masuk kelas, wuih…jangan coba-coba.

Pelajaran berlangsung seperti biasa. Pak Wira berdiri di pintu menunggu muridnya mencatat. Tiba-tiba terdengar sedikit gaduh di belakang. Aku menoleh. Oh…ternyata cuma kucing. Anak-anak kembali tenang. Dengan santai kucing itu melenggok menuju depan kelas. Lalu berjalan menuju pintu. Tanpa disangka tanpa diduga, Pak Wira mengambil kucing itu dan…tuiing…kucing itu mendarat dengan –tidak- selamat di atas rumput. Terdengar pekikan kecil. Ada beberapa juga yang menutup wajahnya.

Aku bengong. Sadis. Pak Wira menendang kucing itu dengan sangat sempurna…! Aku terus beristighfar dalam hati. Sungguh teganya…

Besoknya ada tebak-tebakkan di kelasku.

“Kucing apa yang bisa terbang…?”

“Kucing yang ditendang Pe-We…!!!”

Aku geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Hi..hi..ada-ada aja…

* * *

Ada satu hal yang berhubungan dengan kucing dan mungkin nggak akan pernah aku lupakan.

Kisah ini dimulai saat aku SMP. Kamarku terletak di atas. Di sebelahnya tempat jemuran dan atap rumah tetangga. Aku tahu, di atap rumah tetanggaku itu ada sebuah keluarga bahagia yang terdiri dari seekor ibu kucing dan lima anaknya yang manis-manis dan lucu-lucu. Kalo aku pikir, kayaknya sih ibu kucing itu nggak KB. Soalnya aku perhatiin, tiap bulan pasti ngelahirin anak.

Nah, ceritanya…aku mau mengabadikan keluarga bahagia itu dengan kamera yang aku punya. Pas aku mengendap-endap bak paparazzi, kebetulan banget ibu kucing itu lagi ngasih ASIK (Air Susu Ibu Kucing) sama anak-anaknya. Nggak semuanya sih, soalnya ada beberapa yang main-main.

Aku sempat terkesima juga. Keluarga yang harmonis…

Aku membidikkan kamera dan…JEPRET! Ibu kucing itu nengok, dan…menyeringai! Padahal aku yakin blitznya nggak dinyalain. Ngeliat itu, jantungku berdetak delapan belas kali lebih cepat. Aku segera masuk kamar. Kukunci pintu dan jendela seolah aku adalah buronan yang sedang dikejar dua ratus polisi. Aku beristghfar dalam hati. Kakiku lemas. Kuintip jendela, masya Allah…ibu kucing itu mencariku! Ia celingak-celinguk dengan wajahnya yang penuh amarah dan suara mengeong yang terdengar begitu menyeramkan di telingaku.

Aku menenangkan diri dengan menonton TV. Aku nggak tau, kok ibu kucing itu sebegitu marahnya, ya? Aku salah apa…?

Aku masih mendengar ia mengeong. Kok kayaknya begitu dekat, ya? Aku menajamkan telingaku. Iya, kayaknya ibu kucing itu masih mencariku. Kalo nyari aku buat minta klise fotonya sih nggak papa (siapa tau buat dipajang di rumahnya…), tapi kalo buat menerkamku? Hi…nggak banget deh…

Aduh, gimana nih, suara itu semakin dekat. Aku mengalihkan pandanganku ke teralis jendela dekat kamar mandi. Innalillahi…kepala ibu kucing itu nongol di antara teralis sambil menyeringai! Aku langsung menutup pintu yang membatasi kamarku dengan kamar mandi. Allah…aku benar-benar takut pada saat itu. Aku takut kucing itu melompat dan menerkamku. Kalo kucing marah ‘kan nggak bisa diajak kompromi…

Kubuka pintu itu sedikit. Ia masih di sana…!

“Ibu kucing…maap deh… Tifa ‘kan nggak bermaksud mencelakakan ibu dan anak ibu… Tifa cuma ngambil foto kalian. Tifa nggak bermaksud ngagetin kalian…sungguh! Ibu kucing jangan marah, ya… Tifa minta maaf… Allah…tolong Tifa dong… Ibu kucing jangan nyakar Tifa… Maaf, ya…” aku menatap ibu kucing itu sambil memelas minta dikasihani. Nggak peduli dia ngerti apa nggak. Kemudian aku lari ke bawah. Kututup pintu depan. Takut kalo kucing itu masuk lewat sana.

“Ada apa, sih, De…?” Tanya Tante Ella. Mungkin bingung ngeliat sikapku seperti orang ketakutan. Aku menceritakan kejadiannya kepada Tante Ella. Eh, bukannya kasihan, malah tertawa.

“Makanya…jangan iseng sama kucing…”

“Tifa nggak iseng kok. Cuma ada misunderstanding aja antara aku sama ibu kucing itu…” kataku masih dengan lutut yang gemetar. Tante Ella tertawa. Huh…coba kalo ngalamin sendiri. Dan ketakutan itu berlangsung selama…dua minggu!

Hii…serem nggak sih? Seolah bayangan ibu kucing yang marah itu selalu menghantuiku.

“Udah…kirimin aja pengalaman kamu itu ke produser film. Biar dijadiin film horror. Ceritanya tentang orang yang selalu dikejar-kejar kucing yang menyeramkan, trus kucing itu menemukannya dan menjadikannya korban…” kata ibu sambil tertawa. Ih…nggak lucu deh… Tapi boljug tuh…siapa tau diterima trus dapet honor, he..he.. Sukur-sukur ditawarin jadi pemain. Tapi, uh…no way…!

Satu yang dapat aku ambil dari kejadian itu. Bahwa sosok ibu, entah manusia entah hewan, adalah sama: melindungi buah hatinya. Ibu kucing itu begitu marah melihatku ‘melakukan sesuatu’ kepada mereka. Ia pikir, perbuatanku itu menganggunya dan membahayakan anaknya. Tidak salah memang. Karena itulah ibu. Rasa sayang kepada anaknya membuat ia rela melakukan apa saja dan berkorban demi buah hatinya.

Aku ingat pepatah: sebuas-buasnya harimau, tidak akan memakan anaknya sendiri. Lalu aku pun memikirkan ‘para ibu’ yang tega menggugurkan anaknya, atau lebih parahnya, membunuh. Tidakkah mereka memiliki perasaan? Dapatkah aku menyamainya dengan seekor kucing? Bahkan seharusnya tidak. Karena seekor ibu kucing pun memiliki nurani. Lalu, salahkah aku bila menganggap mereka lebih rendah dari kucing?

Entahlah…yang jelas, sosok kucing sedang menyita perhatianku. Kucing yang selalu merasa bersalah bila dimarahi gara-gara mencuri ikan. Kucing yang selalu manja minta dielus. Kucing yang tidak pernah cidera walau ia melompat dari tingkat tiga. Kucing yang kadang-kadang suka bandel mencuri makanan. Kucing yang suka usil sekaligus bodoh kayak Tom di film khayal Tom & Jerry. Kucing yang nggak pernah muda karena sejak lahir udah tumbuh kumis di hidungnya, he..he..

Dan aku penasaran dengan kisah Abu Hurairah itu. Aku juga penasaran, kenapa kucing mengeong dan takut air, ya…?

* * * *
3 Mei ‘04

Jazakillah bwt irman smansasi, kansas, heavener’s. Tetap semangat…!!!

berita angin

Langit biru bersih tanpa gumpalan awan memulai hari ini. Biasa orang-orang mengatakan hari yang cerah. Matahari tidak terlalu sering menampakkan wajahnya, sehingga suasana tidak terlalu panas. Angin pun ikut serta membuat hawa menjadi sejuk.
“Pagi ini sepertinya ramah sekali…” Bunga terompet berkata.

“Siapa?” tanya rumput tak mengerti.

“Semuanya. Dengar, burung-burung itu asik memainkan macam-macam lagu untuk kita. Kau lihat embun yang menetes di kelopak bungaku? Rasanya sejuk…sekali.”

“Ah, biasa saja. Hal itu kan selalu terjadi pada kita. Sebuah rutinitas. Apanya yang istimewa?” Rumput mencibir.

“Eh, Put. Kamu mestinya bersyukur…” tiba-tiba kupu-kupu yang hinggap di kelopak bunga terompet ikut bicara.

“Kita masih bisa hidup di dunia ini kan karena izin dari Allah. Masih untung kamu nggak dicabut sama Pak Amir buat makan kambing-kambingnya. Kayak temen-temen kamu kemaren.” Kata kupu-kupu sambil menghisap nektar dalam bunga sepatu. Bunga sepatu tersenyum.

Kemudian angin datang. Bunga-bunga selalu senang bila angin datang. Karena ia akan sangat membantu dalam proses penyerbukan bunga. Pohon juga senang. Hmm…sepertinya semua senang. Karena angin yang ramah ini biasanya datang dengan membawa kabar berita atau sekedar bercerita.

“Assalamualaikum, teman-teman…” sapanya lembut. Pohon beringin, bunga terompet, bunga melati, rumput, cacing, kupu-kupu, dan makhluk lain -selain manusia- di taman itu menjawab salam dari angin.

“Ada berita apa hari ini, Ngin?” tanya pohon beringin.

“Berita hangat! Dengarkan. Kisah Malin Kundang terulang lagi…!” kata angin heboh. Semua yang mendengarnya terperanjat. Bisik-bisik terdengar. Ada yang terpekik. Ada yang langsung menangis.

Siapapun tak ada yang tidak tahu kisah Malin Kundang. Anak durhaka yang akhirnya dikutuk menjadi batu oleh ibundanya. Dan apa tadi kata angin? Kisah Malin Kundang terulang kembali?

“Cepat, Ngin! Ceritakan pada kami!” cacing akhirnya bicara.

“Sebuah rumah di komplek sebelah. Seorang pria tergolek lemah di atas ranjangnya…”

“Apa dia sakit? Sakit keras? Lalu apa hubungannya dengan Malin Kundang?” tanya bunga melati tergesa-gesa.

“Sabarlah, Melati…Lebih baik biarkan angin menyelesaikan ceritanya sampai habis.” kata kupu-kupu. Lalu disetujui oleh yang lain.

“Ia sakit parah. Sangat parah. Malaikat pencabut nyawa, malaikat Izrail, sudah menarik ruhnya sampai ke leher. Namun, ruh itu belum bisa dikeluarkan…” beberapa terpekik kecil.

“Pasti rasanya sakit sekali…” gumam rumput.

“Sangat. Sangat sakit. Banyak orang sudah menuntunnya mengucapkan kalam Allah. Tapi malaikat maut itu tetap menahan ruhnya. Dan kalian tahu kenapa?” angin sengaja menghentikan kalimatnya.

“Ia pernah durhaka pada ibunya. Dan ibunya itu belum memaafkannya…” lanjut angin.

“Alqamah…Seperti kisah Alqamah saat zaman Rasulullah saw. …” kata batu. Semua beralih pada batu. Pun angin.

“Kakekku pernah bercerita tentang kisah itu. Kisah Alqamah yang durhaka pada ibunya, lalu tidak bisa menghembuskan nafasnya saat sakratulmaut. Akhirnya para sahabat datang ke rumah sang ibu agar beliau mau memberikan maaf pada Alqamah. Tapi sang ibu tak mau. Hatinya terlalu sakit untuk mampu memberikan maaf pada putra yang telah amat sangat mengecewakannya. Akhirnya Rasul berkata, apabila sang ibu tak mau memaafkan putranya, Alqamah akan dibakar. Agar ia lekas meninggal dan terlepas penderitaannya…”

“Terus, apa yang akhirnya terjadi…?!” tanya bunga terompet.

“Sabar…aku akan lanjutkan. Akhirnya sang ibu pun luluh dan mau memaafkan Alqamah. Ruh Alqamah pun terlepas dari raganya…” batu mengakhiri ceritanya.

“Persis. Seperti itulah yang terjadi pada pria di sebuah rumah komplek sebelah…” kata angin sendu. Semua terdiam. Bunga melati dan bunga terompet menangis. Alam pun seakan turut bersedih.

“Pernah dengar ayat Al Quran seperti ini: ridha Allah tergantung pada ridha orang tua…” ujar pohon.

“Mengapa masih saja ada anak yang berani durhaka pada ibunya…?” tanya bunga melati di tengah isak tangisnya.

“Tidakkah mereka ingat siapa yang melahirkannya dengan susah payah? Merawatnya? Mengasihinya?” ujar bunga terompet.

“Sampai-sampai Rasulullah mengatakan bahwa hormat pada ibu nilainya 3, baru kemudian ayah…” kata cacing.

“Aku tahu kisahnya! Saat sahabat bertanya, ‘siapa yang harus aku hormati?’ lalu Rasul menjawab ‘ibumu’ sahabat kembali bertanya ‘siapa lagi?’ ‘ibumu’ ‘lalu?’ ‘ibumu’ tiga kali Rasul mengatakan ‘ibumu’ kemudian sahabat bertanya lagi ‘lalu siapa lagi, ya, Rasul?’ dan Rasul pun menjawab ‘ayahmu’…” rumput bercerita.

Semua yang berada di sana tersenyum dan mengangguk. Angin telah membawa pelajaran untuk alam. Angin telah membawa hikmah. Angin membawa kisah. Juga bunga terompet, melati, rumput, pohon, cacing, kupu-kupu, dan batu.

Namun, adakah manusia mendengarnya…?

* * * *

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…”


adkhilni_151204