Sosok pria istimewa itu tak pernah pamrih melimpahkan cinta, perhatian, dan kesetiaannya.
Sosok pria istimewa itu terlalu istimewa untuk digantikan oleh siapapun…
Pertama kali menghirup oksigen dunia pada tanggal 3 Oktober 1959. Seperti layaknya anak desa, sebagian harinya dicurahkan untuk kambing-kambing tercinta. Lounge in the saung sambil memerhatikan dan menikmati suara kereta yang melintas. Pun merupakan suatu kebanggaan tersendiri ketika beliau turut membantu prosesi kelahiran salah satu kambingnya.
Lalu, akhirnya, kemudian.
Tanpa menduduki bangku perkuliahan setelah SLTA, beliau bekerja pada sebuah perusahaan milik Jepang yang terletak di kawasan industri Cakung, Jakarta Timur. Dan di sanalah beliau bertemu dengan wanita yang tak kalah istimewanya. Witing tresno jalaran soko kulino (eh, bener gak ya tulisannya…?). Begitu pepatah mengatakannya. Intensitas pertemuan yang tak bisa dikatakan jarang pun menanamkan simpati dan akhirnya menumbuhkan cinta pada keduanya. Dengan pedekate yang patut diacungkan jempol, pria istimewa itu berhasil merebut hati bukan hanya wanita istimewa itu, tetapi juga orang tua serta saudara-saudaranya.
Kedewasaan dan kerendahan hati pria itu lah yang membuat sang wanita akhirnya mencium khidmat punggung tangan sang pria setelah saksi berkata “Sah…!!” pada 9 Agustus 1987.
Bersama dengan ibunda tercinta, pria istimewa itu hidup dengan wanita yang telah menjadi muhrimnya di rumah BTN yang telah dibelinya. Tidak besar, tidak mewah, tapi lebih dari cukup untuk membangun sebuah keluarga yang insya Allah sakinah mawaddah warahmah.
Buah cinta yang mereka tumbuhkan dipetik pada 7 Mei 1988. Tangisnya membawa bahagia dan syukur tak terkira bagi sepasang insan istemewa itu. Adkhilni Utami, tercetaklah nama itu di akte kelahiran. ^^
Bapak. Begitulah seorang Adkhilni Utami memanggil pria istimewa itu.Bapak bukan pahlawan nasional Indonesia, tapi Bapak mampu menjadi pahlawan dalam rumah kecil kami. Bapak bukan Ki Hajar Dewantara, tapi Bapak adalah guru dalam taman pendidikan keluarga kami. Bapak bukan pemeran Extravaganza, tapi Bapak mampu membentuk senyum dan tawa pada wajah kami. Bapak bukan Josh Groban yang selalu mendendangkan lagu-lagu cinta, tapi kami tak pernah ragu akan ketulusan kasih yang ia limpahkan…
Masih sangat lekat dalam ingatan hari-hariku bersamanya.
Nonton bulu tangkis dan piala dunia di TV dengan semangat ’45 yang kami punya. (Nonton cuma bertiga, ramenya berasa sekelurahan…).
Dibonceng naik sepeda mengitari Duren Jaya, Wisma Jaya, kemudian transit di penjual bubur ayam Proyek.
“Bapak bawa uang nggak?” tanyaku setelah bubur di mangkok tinggal separuh.
“Waduh…bawa nggak, ya?”
“Ya…gimana sih…? Kalo Bapak nggak bawa uang gimana…?”
“Hmm…tami ditinggal dulu di sini, Bapak pulang ambil uang…”
Aku diam. Jantungku berdegup tak karuan. Membayangkan aku dijadikan jaminan buat tukang bubur. Tapi akhirnya, dengan senyuman khas di bibir, Bapak mengeluarkan lembaran-lembaran yang aku tahu pasti itu adalah uang…!!!
Atau ketika aku diminta untuk mencabut rambut-rambut putih di kepalanya.
“Satu uban seribu, ya, Pak…”
“Iya…iya…”
Atau ketika sebuah suara, “Ad…jam enam…!!!” Kalau mata ini belum terbuka juga, maka suara langkah-langkah menaiki tangga mampu membuatku segera melompat dari tempat tidur kemudian menuju kamar mandi. Bahkan bekal makanku disiapkan sendiri olehnya. Bahkan kadang tangan itu yang menyuapiku pagi-pagi di saat aku sibuk menyiapakan buku, memakai sepatu, dan menunggu jemputan.
Atau ketika membantuku mengerjakan PR sambil tak bosan mengatakan “Ya toh…?” di setiap akhir penjelasannya.
Atau kumis di atas bibirnya yang kerap digosok-gosokkan ke tanganku sementara aku menjerit-jerit kegelian.
Atau ketika aku selalu balapan untuk sampai ke rumah setiap pulang tarawih.
Atau ketika Bapak terlihat sangat gagah dan tampan dengan jasnya saat harus pergi ditugaskan ke luar. Kemudian pulang dengan dorayaki sekotak. (Ya, ampun…ternyata dorayaki-nya Doraemon lebih manis dari ubi Cilembu…!!)
Atau ketika kali pertama aku melihat pria istimewa itu menangis. Menangis saat ibunda tercintanya, nenekku, harus pergi mendahuluinya.
Atau ketika aku mendorongnya di atas kursi roda untuk yang terakhir kalinya…
Januari 2003.
“Ut, Ibu di rumah sakit…Nggak ada apa-apa kok, cuma nganter Bapak berobat…”
Tapi mereka tidak pulang malam itu.
“Bapak harus dirawat kata dokter…Tapi tenang aja, Bapak nggak papa…Tami ke sininya besok aja, ya…” kata ibuku.
Saat besoknya aku ke rumah sakit bersama sahabatku, keadaannya ternyata jauh dari kata ‘nggak papa’. Berada dalam kondisi tidak sadarkan diri, dengan jarum infus yang menusuk kulitnya, Bapak terbaring sangat lemah tak berdaya. Dalam sejarah hidupku, Bapak tidak pernah sakit separah ini. Bahkan sampai detik itu pun aku tidak tahu apa penyakit yang dideritanya.
Sehari…dua hari…kondisi Bapak membaik. Tertawa, dan membuat orang tertawa. Lahap, ketika suapan bubur masuk ke mulutnya.
Namun, tidak sampai dua hari kondisinya tidak berangsur menjadi baik. Sebaliknya, hanya erangan dari mulutnya. Tak pernah menyadari kehadiranku dan orang-orang di sekelilingnya. Hepatitis B. Begitu katanya.
1 minggu…2 minggu…tak ada perubahan. Sampai akhirnya beliau mampu untuk duduk. Mampu untuk bicara, menyunggingkan senyum, bahkan mengangkat jempol tangannya ketika aku membawakan air dingin yang dimintanya.Senyumku mengembang. Bapak sembuh.
23 Februari 2003.
“Ut, Bapak…”
Yang kuingat, saat itu, sekelilingku menjadi gelap, terdengar orang di sekelilingku menangis, terdengar orang di sekelilingku berkata, “Sabar, ya, Ut…”
Aku masih tidak mengerti. Aku seperti linglung. Apa benar? Apa benar? Apa benar?
Aku mencintainya. Sangat. Tapi Dia lebih mencintainya. Apa dayaku ketika Dia harus mengambil kembali sesuatu yang dititipkan-Nya? Tak ada.
Sungguh. Aku merelakannya. Aku hanya rindu. Teramat merindukannya…
Segunung penyesalan karena tidak bisa membalas semua yang telah diberikannya…
Hanya doa…
Saudaraku, jangan kehilangan kesempatan…
Selama kau masih bersamanya…
Sungguh, sesal itu selalu di akhir…
^_^
26 Juni 2006

Tidak ada komentar:
Posting Komentar