bismillaahirrahmaanirrahiim..
Harus bermula dari mana. Ketika hati diliputi aneka rasa. Saat ingatan mengembara pada bagian-bagian tak bernama. Namun, semuanya telah terhimpun pasti pada dinding jiwa. Belum. Belum selesai kisah bercerita. Belum tuntas gerak, langkah, dan kata. Barangkali ini sebuah mula. Atau mungkin perjalanan ini tampak tak nyata?
Satu persatu wajah-wajah itu hadir. Dalam nuansa yang berbeda-beda. Pada lingkaran luas yang mereka namakan ‘dakwah ilallah’. Maka berderaklah kereta kencana dengan kuda bersais pemuda.
“Dewasa itu pilihan. Dakwah itu kewajiban. Maka komitmen untuk berjuang di jalan dakwah adalah pilihan orang-orang dewasa!”
Kembali pada wajah-wajah itu. Ini tentang mereka. Tentang mata yang sedikit terpejam, tentang langkah yang mantap terarah, tentang hati dengan seribu puisi. Ini tentang mereka.
Aku memang bersama mereka. Ikut melangkah bersamanya. Turut dalam diskusi-diskusi panjangnya. Namun lebih sering mengamatinya. Berharap atasnya. Menitikkan air mata dan menyunggingkan senyum untuknya. Aku bukanlah siapa-siapa.
Ini tentang mereka. Meneguhkan hati untuk sebuah perniagaan tak berusia. Jual beli terbayar surga. Hanya kepada Rabb-nya. Tasbih dalam setiap helaan nafas. Takbir untuk jiwa yang menghentak-hentak. Tahmid akan tangis dan tawa yang berwarna.
[Kelak, bila kumiliki putra sebagai penyejuk mata dan hatiku, kawan...kuharap dan kubayangkan ia seperti kalian...Bergerak seperti kalian. Berjalan, melihat, menafsir. Setangguh dan seteguh kalian. Tegakkan dien-Nya, sebarkan asma-Nya, menapaki jejak Rasul-Nya...Seperti kalian...]
Ini tentang mereka. Mereka bukan tak miliki cela. Mereka tidak pula lepas dari derita. Aku, dia, dan mereka. Hanya berharap keridhoan-Nya dalam kesalahan-kesalahan pada jama’ah ini, dalam kekhilafan-kekhilafan dan kekeruhan-kekeruhan yang terjadi. Ampunan dan rahmat-Nya. Itu saja.
[Kelak, bila kumiliki putra sebagai penyejuk mata dan hatiku, kawan...Akan kukisahkan tentang kalian kepadanya...Kukisahkan tentang saksi-saksi bisu perjuangan kalian. Tentang jiwa-jiwa perindu surga. Tentang pelangi setelah deras hujan melanda hati. Tentang hati-hati yang terpaut walau tak tatap muka...]
Mereka bicara tentang perjuangan. Bahwa pilihan mereka adalah hidup mulia atau mati syahid pada akhirnya. Bahwa mereka adalah da’i sebelum menjadi apapun. Bahwa jawaban mereka adalah “Nahnhu anshaarallaah…!” ketika ditanya “Man anshaari ilallaah?”
Mereka bicara tentang al-fahmu, al-ikhlas, al-amal, dan rukun lainnya. Mereka rindukan Islam sebagai ustadziyatul ‘alam seraya bergerak demi mencapainya. Mereka siapkan khilafah islamiyah dengan proses-proses yang tak hanya mengeluarkan keringat tapi juga darah dan air mata.
Mereka berlari sampai-sampai aku tak mampu mengejarnya, bahkan menjejeri langkahnya. Tapi aku bangga dan bersyukur dapat berada pada jalan yang dilaluinya.
[Kelak, bila kumiliki putra sebagai penyejuk mata dan hatiku, kawan... Aku ingin ia berada pada garis terdepan dalam perjuangan yang usianya bahkan lebih panjang dari usia orang-orang yang bergerak di dalamnya. Ia tidak akan terus tertinggal dari saudara-saudaranya. Ia akan berlari dengan caranya, sambil kibarkan panji-panjiNya. Ia akan punya cara untuk mengejar bila ia tertinggal. Ia akan punya cara untuk bersabar dan akan memompa semangat saudara di belakangnya bila ia lebih dulu di depan. Ia akan miliki dan tempati pos-pos pengisi bahan bakar keimanan bila ia mulai lelah berlari. Seperti kalian…]
Mereka bicara tentang persaudaraan. Tentang ukhuwah. Tentang husnuzhan. Tentang itsar. Tentang banyak memberi dan sedikit menerima. Tentang empati ketika melihat lelah letih di wajah saudaranya. Tentang bahagia dan jabat mesra saat karunia melimpah pada saudaranya.
Doa rabithah yang tak pernah kering dari lidah dalam setiap doanya menjadi penguat ikatan mereka.
Semua karena cintanya pada Allah. Maka lingkaran-lingkaran itu hanya melebar. Meluas. Tak terputus.
Barangkali imanku tak lebih dari setitik debu, bahkan kurang dari itu bila aku masih terbata dalam persatuan hati ini.
[Kelak, bila kumiliki putra sebagai penyejuk mata dan hatiku, kawan... Ia tak akan sepi dalam keramaian. Ia akan amalkan sunnah Rasulnya untuk memuliakan saudaranya. Ia tak akan segan korbankan harta dan jiwanya bersama saudara-saudaranya kerena cintanya pada Allah dan Rasul-Nya. Seperti kalian...]
Mereka bicara tentang cinta. Cinta yang akan dilandaskan hanya karena Allah semata, kepada temannya di bumi dan di surga. Teman yang menemani perjuangannya di jalan dakwah, di rumahnya, di madrasah dalam keluarganya.
Ya, mereka bicara tentang pernikahan. Tentang sabitnya yang entah kapan menjadi purnama. Tentang tulang rusuk yang masih disembunyikan-Nya. Tentang pangeran berkuda yang masih ditahan oleh-Nya.
Sebagian menganggap bunga-bunga impian itu hanya akan menjadikannya melankolis. Mendayu. Biru. Penurunan militansi yang sebelumnya menggelora dan menderu. Maka jatuhlah hatinya pada rindu bernuansa merah jambu.
Sebagian yang lain melihatnya sebagai baju besi, kuda perang, dan busur panah. Bahwa itu adalah ladang amal di mana mereka berjihad dan berdakwah di dalamnya. Mengamalkan ayat-ayatNya serta kata-kata RasulNya yang hanya dapat dilakukan oleh sepasang insan yang dengan ridha menerima ‘mitsaqon gholizho’. Melakukan regenerasi dengan mendidik jundi-jundi sebagai penerus perjuangan sang Rasul. Maka bersujudlah mereka dalam malam-malamnya.
“Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wazurriyyatinaa qurrota a’yun waj’alna lilmuttaqiina imaamaan...”
Orang suci menjaga kesuciannya dengan pernikahan, menjaga pernikahannya dengan kesucian... –Salim A.Fillah–
[Kelak, bila kumiliki putra sebagai penyejuk mata dan hatiku, kawan... Kupastikan ia menjadi ‘produk berkualitas’ ladang jihad itu... Itu saja.]
Di mana Ia simpan rahasia-Nya. Hingga makhluk-Nya tak dapat menerka dan mengira semua yang terjadi, telah terjadi, dan akan terjadi. Semua akan indah pada saat-Nya, pada waktu-Nya, dan dengan cara-Nya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar