Jumat, 13 Agustus 2010

dalam bayangan

Ta, km k mn? Knp km g jwb tlpn aq? Km k mn? Aq benci bgt sm dia. Aq mau dia mati aj. Ta…
Mataku nanar membaca tulisan di inbox-ku. Perlahan bening air mata terjatuh dari pelupuk mataku. Allah…lindungi ia. Aku mohon…

* * *

SMA-ku tercinta, selamat tinggal. Bukan tak cinta bukan tak suka, bukan pula aku mengkhianatimu, tapi aku nggak mau jadi anak SMA lama-lama. Aku ‘kan mau lulus juga. Usai mengunyah-ngunyah soal SPMB, dan setelah jadi batu nunggu pengumuman, finally…here I am

Universitas impianku hadir di depan mata. Konkrit. Bukan impian lagi. Namaku terdaftar sudah di administrasi. Dan tentunya hari-hari ospek yang melelahkan dan menjengkolkan sudah kulewati. Nggak usahlah aku ceritakan masalah itu. Menuh-menuhin kertas plus lumayan bikin sakit hati.

Kelas yang akan kumasuki masih satu setengah jam lagi. Boleh dong aku tepe-tepe (baca: tebar pesona) sama masjid kampusku. Konon kabarnya, masjid itu pe-we banget.

Love at the first sight. It’s so beautiful. Kakiku melangkah memasukinya. Masuk ke tempat wudhu (buat wudhu dong tentunya) kemudian berusaha khusyu’ dalam dhuha-ku. Sambil menikmati kenyamanan mesjid, kubuka mushaf bersejarahku. Belom sempet baca ta’awudz, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.

“Elo yang kemaren ‘kan?” tanyanya. Aku menatapnya dan berusaha mengingat.

“Masak lupa? Tas kita ketuker…” aku tersenyum, tanda bahwa aku sudah mengingatnya. Jadi inget. Kuceritakan sedikit, ya. Hari sudah sore waktu selesai ospek. Badan lengket plus cuapek yang nggak ketulungan membuatku ingin cepet-cepet pulang. Berhubung semua tas sama -terbuat dari plastik hitam buat sampah- aku mengambil tas yang aku yakin itu milikku, lantas kabur dari kampus untuk pulang ke rumah. Suara perempuan yang berteriak tak kugubris. Sampai akhirnya ada yang menepuk bahuku -persis seperti tadi- kemudian berkata, “Tas gue tuh. Kayaknya lo salah ambil deh…” katanya sambil senyum-senyum. Karena merasa tas itu milikku, aku nggak terima.

“Masak sih…?” aku memeriksa isinya. Kemudian mengangkat kepala, lalu nyengir kuda. Perempuan itu juga melakukan hal yang sama sambil menukar tas yang dipegangnya. Tanpa basi-basi, kami pergi. Tengsin bo…!

“Udah inget ‘kan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.

“Gue Sasa. Nama lo siapa?”

“Arsita Syifani. Panggil aja Sita.” tangan kami terulur berjabat tangan. My first friend! Become best friend…?

* * *

Sasa. Ndut, chubby, lucu, plus ngegemesin. Friendly banget. Kita jadi sering bareng-bareng. Walaupun dia di Fisika dan aku di Biologi, sepertinya jarak tidak bisa memisahkan kita deh.

“Ta, ke Ge-Em yuk…”

“Ya…Sasa. Sori dori mori stroberi nih…aku mau taklim. Mending kamu ikut aja…”

“Nggak banget deh!”

“Lohhh…?? Emang kenapa, Mbak…?”

“Males aja. Abis di sana kan banyak jilbaber-jilbaber gitu. Ntar aku dicuekin lagi, nggak pake jilbab sendiri. Abis mereka kesannya eksklusif gitu, gabungnya sama yang pake jilbab aja.”

“Lah, situ kenapa mau temenan sama saya…?”

“Kenapa, ya…? Abis lo beda sih…”

“Ah, jadi enak…”

“Yah…jadi nyesel ngomong…Ya udah, lo taklim aja dulu. Gue tunggu di perpus, ya…”

“He-eh. Oh iya, Sa, don’t think negative…Daa…assalamualaikum…” aku melambai sambil meninggalkannya. Sasa hanya mengangguk-angguk dan berjalan menuju perpustakaan.

Pengalaman selama SMA bertemu dengan orang-orang yang memberiku banyak pelajaran, baru kutemukan sesorang yang sangat istimewa dalam memberikan pelajaran untukku. Sasa yang konyol, kadang berubah menjadi sosok kritis yang sedang mencari kebenaran hidup.

“Lo yakin Tuhan itu ada?” tanyannya suatu hari.

“Emangnya kita ini diciptain sama siapa?” balasku bertanya.

“Bisa aja ‘kan dengan sendirinya. Dari sel mungkin…”

“Trus sel itu yang nyiptain siapa?”

“Ya…terbentuk dengan sendirinya!”

“Kemaren aku mau ke warung, Sa. Tapi aku males, coz warungnya jauh. Mesti naik kendaraan. Padahal aku nggak punya. Eh, pas nyampe pager, tau-tau di depan mata ada sepeda…”

“Sepeda orang kali…”

“Nggak! Tadinya tuh nggak ada…”

“Ah, nggak mungkin…Jayuz banget sih lo…”

“Hmm…sepeda aja nggak bisa muncul dengan sendirinya. Apalagi manusia…”

Atau mungkin percakapanku dengan Sasa yang lain. Seperti ini.

“Katanya Allah sayang sama kita, kenapa kita malah dikasih cobaan yang berat banget?”

“Ah, masak…?”

“Katanya Allah ngasih cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Tapi pada kenyataannya, cobaan itu malah terlalu berat sampai-sampai dia nggak bisa menghadapinya…”

“Yakin…?”

“Sita…!”

“Hehe..iya, iya…sori. Hmm…mungkin, orang yang dikasih cobaan itu belom maksimal kali, ya, dalam berusaha menyelesaikan ujian yang dikasih. Guru SD aja nggak mungkin ngasih ke anak muridnya pelajaran SMP, apalagi Allah…”

Sasa. Betapa aku menyayangimu atas segala ucapanmu. Betapa banyak pelajaran yang kau berikan untukku. Betapa inginnya aku menemanimu dalam mencari mutiara hidayah di dasar laut hatimu.

* * *

Kantin kampus pukul 10 pagi (masih pagi ‘kan…?).

“Jadi nggak kita ke Bandung?”

“Oh…seminar itu, ya? Nggak tau deh, Sa… Emang kita mau naik apa?”

“Naik mobil lah…masak mau ngesot…”

“Hehe…”

“Dianter bokap lo aja, Ta!”

Aku diam. Tersenyum sedikit. Ternyata Sasa belum tahu.

“Nggak bisa. Terlalu sulit.”

“Uh…pelit!”

“Bapak udah meninggal.” Sasa tersedak. “Waktu aku masih SMP.”

“Kok nggak pernah cerita…?”

“Emangnya dongeng, mesti diceritain…?” aku tertawa. Raut menyesal hadir di wajah Sasa.

“Ya udah sih nggak papa...”

“Lo sedih nggak, Ta?”

“Yee…jangan nanya. Siapa sih yang nggak sedih kehilangan orang yang disayangin…” aku berhenti sebentar untuk meminum es jeruk di hadapanku, “He’s the best man that I ever known. Malah aku punya cita-cita punya suami kayak Bapak. Hihi…nggak salah ‘kan punya cita-cita kayak gitu?”

“Lo sayang sama bokap lo?”

“Yee…nanya lagi…Sayang aku sama Bapak, nggak bisa diungkapkan oleh kata-kata… Tapi ternyata Allah lebih sayang lagi sama Bapak…”

“Kok kita kebalik, ya, Ta…”

“Apanya…?”

“Iya. Gue malah mau bokap gue mati…” Gleg! Bagai tersedak air segalon.

“Sori, bisa diperjelas…?”

“Ya…gitu deh…Udah ah, forget it aja. Nggak penting banget sih!”

“Apanya yang nggak penting…?! Ayo dong, Sa, kenapa kamu ngomong kayak gitu? Istighfar, Sa…nyebut…”

“Nyebut…nyebut…hehe…” lagi serius malah becanda.

“Tapi kamu lahir ‘kan lewat perantara ayah kamu, Sa. Yang biayain sekolah, ngasih makan, sampe kamu subur kayak gini…sandang, papan…bersyukur dikit dong…”

“Yah…susah deh, Ta. Lo nggak bakal ngerti…” Sasa beranjak. Aku mengekor kemudian menjejeri langkahnya.

Sungguh, saat itu aku tidak terima. Betapa mudahnya Sasa berkata seperti itu. Tidak tahukah ia, segunung penyesalan dalam hatiku karena tidak ada lagi kesempatan untuk membalas semua kebaikan Bapak. Jujur, aku marah. Tidakkah ada rasa syukur sedikit saja dalam dirimu, Sa?

* * *

Persahabatanku masih berjalan seperti biasa. Aku mencoba memahami perasaannya yang sulit aku tebak. Mungkin belum saatnya menyinggung masalah tentang ayahnya. Terlalu riskan. Walaupun awan-awan ketidakmengertian masih menyelimuti pikiranku.

Tumben nih, jam segini biasanya Sasa udah dateng. Ah, pasti ketiduran lagi deh dia. Bukannya suuzhan, abisnya dia kebiasaan banget bangun telat. Kalau mau janjian jam delapan, misalnya, dari jam enam kita udah harus miskol-miskolin dia biar bangun. Dari jam lima bahkan. Yah…capek deh!

Otakku memutuskan untuk berjalan dan duduk di bawah pohon rindang dekat kolam. Mabesku dan Sasa.

“Assalamualaikum, Ta…” sebuah suara ghaib menyelusup lewat liang telingaku dan menembus membran timpani ku. Kontan aku langsung nengok. Setan mana nih yang berani ganggu orang pagi-pagi gini?

Dan ketika aku menoleh, aku bengong. Bukan. Bukan setan.

“Orang ngasih salam tuh dijawab, bukan dipelongoin…”

“Subhanallah…Sasa…!!!” aku berhambur memeluk Sasa. Untung nggak kecebur kolam. Nggak akan bersikap seperti itu kalau tidak ada yang berubah pada diri Sasa. Emangnya Sasa kenapa sih?

“Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya gue mutusin berjilbab. Tapi gue malu, Ta, sama temen-temen. Takut diledekin…”

“Ih, siapa juga yang mau ngeledekin kamu. Bosen ‘kali…”

Teringat percakapanku tempo hari dengan Sasa.

“Ngapain sih, Ta, pake jilbab panjang-panjang? Bukannya malah berlebih-lebihan tuh? Katanya Allah nggak suka sama hal yang berlebihan?”

“Ah, itu sih tergantung kenyamanan si pemakai aja. Nggak masalah kan kalo jilbabnya panjang? Namanya juga nutupin aurat. Nutupin pantat. Kata guru agama waktu aku SMA, pantatnya cewek tuh banyak setannya, jadi kudu ditutupin…” Sasa cekikikan.

“Tapi tidak selalu yang jilbabnya panjang trus kemudian jadi lebih sholeh dari yang jilbabnya pendek. Hati orang itu ‘kan cuma Allah yang tahu…” aku melanjutkan.

“Trus kenapa mesti pake jilbab? Islam kok ngekang banget. Begini nggak boleh, begitu nggak boleh. Harus ini, harus itu. Harus pake jilbab, nggak boleh pegangan sama cowok, nggak boleh pacaran. Nggak ngikutin perkembangan zaman. Gimana mau nikah kalo pacaran aja nggak boleh. Kita ‘kan jadi nggak tau kepribadian si cowok itu gimana. Lagian kalo pake jilbab itu bukannya malah bikin perbedaan? Beda sama yang lain. Bikin capek!” Sasa ngomong sampe berbusa, kukira.

“Hanya satu kata. Allah.” Ada getaran hebat ketika aku mengatakan hal itu. Ya. Allah. Allah, kuatkan hamba-Mu.

“Sopo sing bilang Islam itu mengekang? Justru mestinya kamu berterima kasih tuh, udah diselametin sama Islam. Ibarat lemper, nggak bakalan dibeli tuh lemper yang nggak dibungkus! Pasti milihnya lemper yang dibungkus rapi pake daun. Soalnya ‘kan bersih, nggak kena debu. Ibarat barang di toko, semuanya dibungkus rapi. Eksklusif. Nggak sembarangan kesentuh tangan. Ibarat body, gimana coba caranya biar nggak sembarangan disentuh, dipegang, ditowel? Dan siapa bilang nggak boleh pegangan sama cowok? Boleh aja, tapi syaratnya cowok itu kudu nikahin kita dulu, alias jadi suami kita. Hehe… Dan siapa bilang nggak boleh pacaran? Boleh juga. Tapi syaratnya ya itu tadi. Pacaran after married. Lebih aman. Lagian kalo pacaran, belum tentu juga tuh beranjak ke pelaminan. Bayangin deh, Sa, misalnya aja tiga tahun pacaran, udah dipegang-pegang, dipeluk, dibelai, na’udzubillah kalau sampai melakukan ‘begituan’, udah gitu nggak jadi nikah! Si cowok say goodbye. Betapa kasihannya kita, sebagai wanita. Habis manis sepah dibuang. Sorry lah yaw…” Dan sekarang gentian Sasa yang bengong dengerin kata-kataku yang ternyata lebih banyak dari dia.

Ah, Sasa…selamat, ya. Hidayah-Nya telah sampai kepadamu.

“Istiqamah, ya, Sa…”

“Apaan tuh? Nama masjid di mana?”

“Aduh Sasa…!”

“Iya, iya, gue tahu. Tetap pendirian kan? Yah…doain gue aja deh, Ta, mudah-mudahan gue bisa ngejaga hidayah ini…” kata Sasa. Aku mengaminkannya dalam hati.

Sasa tetap seperti yang dulu. Konyol, lucu, dan tetap chubby. Oh ya, masih tetap males diajak taklim. It’s ok, semua butuh proses. Dalam kesehariannya, ia pasti bisa mendapatkan banyak pelajaran. Pun aku.

Labil. Kritis. Tetap menjadi sifat Sasa. Walau sudah berkurang. Untaian doa yang selalu kupanjatkan untuknya. Allah…sirami ia dengan berjuta keindahan-Mu…

* * *

Fiuh…hari yang cukup melelahkan. Setelah kenyang mengunyah-ngunyah soal UAS, kini aku berbaring (baca: tepar) di tempat tidur. Hmm...tapi ini ada semerbak wangi apa, ya? Ups, bulu kudukku sempat berdiri dan istirahat di tempat. Aku mencari sumber wangi itu, and I find it!

Kebiasaan deh. Kubuka resleting tas yang penuh sejarah itu dan kutemukan ‘jimat’ ku dalam keadaan terbuka. Untung baby cologne, kalo minyak nyong-nyong ‘kan berabe!

Sepertinya isi tasku harus segera dikeluarkan. Dompet, HP, novel, komik, tempat pensil, meja, kursi, lemari, komputer, kulkas…eh…kertas apaan nih?

‘Dari seseorang yang membutuhkan saran seorang sahabat’

Kertas lecek and the kumel plus basah itu aku buka perlahan. Tulisannya sedikit kabur, jadi perlu dikejar, ups, maksudnya masih bisa terbaca.

‘Jika ada seseorang yang bertanya, siapakah yang paling kau rindukan pelukannya setiap malam? Siapakah yang paling kau inginkan dekapan hangatnya? Siapakah yang terakhir memelukmu di usia 12 tahun? Maka, jika aku diizinkan menjawab, ia adalah ayahku…

Banyak yang bilang, orang malang itu orang yang merasakan kesusahan, ditimpa bencana, berdiri dalam garis kemiskinan, merakasakan kekerasan, dan berbagai cobaan. Itu semua bohong. Tentu saja hanya bagiku. Bagiku, suatu kemalangan besar itu jika ia melihat sesuatu yang amat berharga baginya tetapi ia tidak dapat merangkulnya. Jangankan merangkul, ia hanya melihatnya seakan ia tidak melihat apa-apa. Padahal ia ingin sekali mengatakan, aku mencintaimu, aku menyayangimu seumur hidupku.

Menurutmu, jika aku memberimu waktu untuk berpikir, siapakah barang berharga yang kumaksud? Jika kau berhasil menjawabnya, maka kau benar-benar mengerti dan memahami apa maksudku dan diriku.

Kini apa kau mengerti menagapa aku begitu membenci ayahku dan terkadang ingin ia menghilang...’

Kulipat kertas itu dengan tangan bergetar. Sesak.

Tiit..tiitt..tiiittt… HP-ku berbunyi. 1 massage received. Dari Sasa.



* * * *

Bekasi, 16 Mei 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar