(Musyaffa Abdurrahim dalam Membangun Ruh Baru)
Perang Badar dikenal juga dengan sebutan Al-Furqan, karena:
1. Dengan perang ini menjadi jelaslah siapa pendukung Al-Haq dan siapa pendukung Al-Bathil.
2. Dengan perang ini menjadi jelaslah mana kubu pembela kebenaran dan mana kubu pembela kebatilan.
Hari terjadinya peperangan ini disebut yauma iltiqal jam’an (QS.Al-Anfaal:41), yang bermakna hari bertemunya dua kekuatan, kekuatan syirik dan kekuatan tauhid, kekuatan iman dan kekuatan kufur, kekuatan hizbullah dan kekuatan hizbusy-syaithan.
Perang Badar bukanlah kehendak kaum muslimin. Bahkan, banyak di antara mereka yang pada awalnya merasa tidak siap. Al-Qur’an menggambarkan sikap dan psikologis mereka sebagai berikut: “Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau lepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (QS.Al-Anfaal:5-6).
Pada awalnya, yang diinginkan pasukan Islam adalah sebatas mengahadang kafilah dagang Quraisy yang hanya dilindungi oleh sejumlah kecil pasukan (empat puluh orang pasukan saja). Dalam kalkulasi manusiawi, sangat mudah dan tidak sulit menaklukan kafilah dagang itu. Sebab, waktu itu jumlah pasukan Islam adalah 313 orang.
Terkait dengan hal ini, Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu.” (QS.Al-Anfaal:7).
Dari sisi perekonomian, kafilah dagang inilah yang lebih membawa keuntungan bagi kaum muslimin. Sebab, kafilah Quraisy saat itu hádala yang terbesar, hampir seluruh penduduk Mekah ikut menanamkan sahamnya pada perjalanan dagang itu.
Namun, kehendak Allah SWT berbeda dengan yang diinginkan kaum muslimin. Yang dikehendaki Allah adalah bagaimana agar Al-Haq itu menjadi nyata, dan yang batil itu menjadi jelas kebatilannya.
Terkait dengan hal ini Allah SWT berfirman: “Dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayatNya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (QS.Al-Anfaal:8).
Pada pihak yang berlawanan, keinginan Abu Sufyan, pemimpin kafilah dagang Quraisy, bukanlah terjadinya peperangan. Ia hanya menginginkan agar dagangannya itu bisa selamat sampai di Mekah.
Namun, Abu Jahal –yang betul-betul jahil– mempunyai keinginan lain. Ia dengan arogan, takabur, dan riya’ mengatakan, “Demi Allah! Kita tidak akan kembali sebelum sampai di Badar. Kita akan tinggal di sana selama tiga hari, menyembelih unta, menenggak khamar, dan menikmati nyanyian para biduanita. Akhirnya, seluruh orang Arab mengetahui tentang perjalanan dan perkumpulan kita, sehingga mereka senantiasa takut lepada kita.” (Ibnu Hisyam)
Singkat cerita, berhadapanlah dua kekuatan itu di Badar. Dengan kehendak dan takdir Allah, seluruh personel kaum muslimin telah siap menghadapi apa yang akan terjadi besok.
Pada malam menjelang pertempuran, Rasulullah saw. memohon kepada Allah SWT, dengan sebuah
permohonan yang penuh kepasrahan, ketundukkan, dan kekhusyukan. Beliau terus memanjatkan doa, sampai-sampai selendang (sekarang baju) beliau terjatuh dari pundaknya. Bahkan, Abu Bakar sampai berkata, “Cukup, wahai Rasulullah, cukup wahai Rasulullah.” Dalam doanya itu beliau serahkan kelangsungan umat yang menghamba Allah SWT ini kepadaNya. Beliau berdoa, “Jika sekelompok umat ini binasa, Engkau (ya Allah) tidak akan disembah lagi di bumi.”
Pada sekelompok yang berseberangan, Abu Jahal pun memanjatkan doanya kepada Allah SWT. Ia berkata, “Ya Allah! Dia (maksudnya Nabi Muhammad saw.) telah menyebabkan hubungan persaudaraan (silaturrahim) antarsesama kami terputus, dia telah datang kepada kami dengan sesuatu yang tidak kami kenal, karenanya, hancurkanlah ia esok hari.”
Inilah satu sisi dari perang Badar, di mana pada malam menjelang pertempuran yang furqan itu telah terjadi peperangan lain, yaitu perang doa.
Satu doa dipanjatkan oleh seorang yang tidak pernah berdusta. Seorang yang berpredikat Al-Amin; seseorang yang ‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum harishun ‘alaikum bil mukminiina rauufur-rahim (QS.At-Taubah:128); seseorang yang oleh Allah SWT dinyatakan sebagai ‘ala khuluqin azhim, yaitu Rasulullah saw.
Pada sisi lain, ada doa yang dipanjatkan oleh seseorang yang menghabiskan segala potensinya untuk menghambat dan menghalangi dakwah Allah SWT, yaitu Abu Jahal.
Malam itu telah terjadi perang doa, antara seseorang yang tawadhu (rendah hati), tawakal (penuh kepasrahan kepada Allah), khusyuk (takut yang disertai pengagungan kepada Allah), bercita-cita mulia (yaitu terwujudnya penyembahan kepada Allah), serta tajarrud (totalitas dalam menjalin hubungan dengan Allah) dengan seseorang yang congkak, arogan, riya’, dan bercita-cita kotor (minum khamr, bermain dengan perempuan, sok, dan diktator).
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa Allah SWT berpihak kepada Nabi Muhammad saw. dan tidak berpihak kepada Abu Jahal.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan berpihak kepada seorang hamba yang penuh amanah, selalu berusaha untuk tidak membebani ummatnya, bersemangat dalam mengupayakan kemaslahatan mereka, penuh sayang dan belas kasihan.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan berpihak kepada pemilik akhlak yang agung.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan berpihak kepada kelompok yang penuh kepasrahan kepada Allah SWT, penuh tawakal kepadaNya, bercita-cita mewujudkan upaya ubudiyatul khalqi lillah (penghambaan seluruh makhluk kepada Allah SWT semata).
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan itu berpihak kepada golongan yang pemimpinnya menghabiskan malam harinya untuk menjalin hubungan dengan Allah SWT, berdoa kepadaNya, sampai-sampai bajunya terjatuh tanpa dirasa, sehingga dia diingatkan oleh sahabatnya.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan tidak berpihak kepada golongan yang arogan, riya’, sok, dan diktator.
Al-Qur’an dan sejarah mencatat bahwa kemenangan tidak diberikan kepada golongan yang bercita-cita keji dan munkar.
Saudara-saudara yang dicintai Allah...
Masih banyak ibrah dan pelajaran yang bisa kita gali dari peristiwa Badar, peristiwa yang terjadi 1418 tahun yang lalu. Peristiwa yang kejadiannya diabadikan dalam Al-Qur’an.
Adanya pengabdian dalam Al-Qur’an ini tentunya menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, ibrah yang tersurat ataupun tersirat padanya tidaklah berhenti sebatas peristiwa sejarah, tetapi pasti dan sudah tentu akan senantiasa terulang, sampai kiamat nanti.
Sunnatullah itu pasti terulang, bila berbagai variabel yang melingkupinya pun berulang, sebab tidak ada perubahan pada sunnatullah dan ia sama sekali tidak akan berganti.
Kita harus yakin bahwa kemenagan pasti berpihak kepada para pembela kebenaran, karena hal ini adalah sunnatullah. Akan tetapi, sunnatullah yang melingkupi dan menjelaskan syarat-syarat terwujudnya kemenangan itu harus ada pada para pendukung kebenaran itu. Gali dan renungilah berbagai variabel yang ada pada sunnatullah itu; sunnatullah yang menggoreskan kemenangan gemilang bagi kaum muslimin pada peristiwa Badar! Penuhi seluruh persyaratan-persyaratan yang ada, niscaya sunnatullah itu akan terulang, sehingga kita pun akan melihat kemenangan yang gemilang bagi kejayaan Islam dan kaum muslimin!
Hadanallahu waiyyakum ajma’in, wawaffaqana lima yuhibbuhu wayardhahu, wa-a’nana ‘ala imtitsali dzalika.
Semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada kita seluruhnya, memberikan taufikNya kepada kita untuk menjalani segala hal yang dicintai dan diridhaiNya, dan memberikan pertolongan untuk menjalani itu semua. Aamiin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar