Senin, 27 Desember 2010

spirit bismillah..!

sumber: buku "New Quantum Tarbiyah" yang ditulis oleh Solikhin Abu 'Izzuddin

saya percaya, semua bermula dari membaca. iqra' bismirabbikalladzii khalaq..bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. membaca dengan kesadaran. membaca tanpa menyebut nama Allah: sekuler. menyebut nama Tuhan tanpa membaca: apatis.

bismillah adalah spirit. pintu segala kebaikan. jendela keberkahan. gerbang kesuksesan. jalan kebahagiaan. gapura hidayah. spirit penggugah agar jiwa terus melangkah.

bismillah adalah visi. bersih dalam pengawasan Allah. peduli terhadap sesama. profesional dalam kinerja.

bismillah adalah mu'aahadah, agar janji terpatri di hati setiap detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, tahun, dan abad.

bismillah adalah murooqobah, merasakan kehadiran Allah begitu dekat, mengawasi, mengiringi, mendampingi, menunjuki, dan meneguhkan pijakan kaki. "jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal." (ali imraan: 160).

bismillah adalah mujaahadah. bersungguh-sungguh, tanpa mengeluh, pantang berkesah, dan senang berjuang. "barangsiapa yang bersungguh-sungguh di jalan Kami sungguh benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami." (al ankabuut: 69).

bismillah adalah musyaarathah. syarat diterima sebuah amal, kinerja, perbuatan kalau dipenuhi rukunnya. pertama, bismillah niat karena Allah, ikhlas mengharap ridhaNya. kedua, benar caranya, sesuai tuntunan, prosedur, aturan, syariat, dan manhaj.

bismillah adalah doa. doa adalah cita-cita. doa adalah harapan. doa adalah kekuatan. doa adalah pengarah langkah. doa adalah keyakinan yang menggerakkan. doa adalah kepasrahan atas ketakberdayaan. doa adalah pengakuan kelemahan di depan Allah Pemilik segala kesempurnaan. bismillah adalah doa bukan sekedar doa. bismillah adalah kekuatan. bertumpu pada tauhid, keyakinan, ats-tsiqoh billah. keyakinan ini membuat jiwa orang beriman selalu optimis menapaki kehidupan, istiqomah. laa yukallifullahu nafsan illaa wus'ahaa...

Rabu, 22 Desember 2010

penuturan seorang istri

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah; Tuhan yang memiliki segala keindahan dan kesempuranaan hakiki, yang telah menghamparkan cinta dan kasih sayang di antara para kekasih.
Menikah... Sepertinya indah dan penuh bunga-bunga harapan. Memulai hidup berdua dengan seseorang yang (akan) kita cintai sepenuh hati, membingkai ibadah dalam sebuah rumah tangga... Ah, betapa keindahan yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. Siapapun akan segera membayangkan kebahagiaan begitu berpikir tentang pernikahan dan rumah tangga. Demikian pula saya.
Tetapi, menikah juga menyiratkan segurat kekhawatiran. Mungkinkah ada seseorang yang ‘tepat’ bagi saya? Bukan hanya tepat dalam pandangan fisik dan duniawi, tetapi tepat dalam semangat dan cita-cita untuk senantiasa produktif berkarya bagi umat. Meski samar dan tersembunyi, dalam lubuk hati tetaplah ada kegelisahan dan pergolakan.
Perasaan demikian tentulah menghinggapi setiap gadis, sebelum akhirnya ia ‘sekadar’ menganggukkan kepala atas proposal pembentukan organisasi kecil bernama rumah tangga. Mengingat separuh agama akan dipertaruhkan dalam ikatan itu, menikah benar-benar keputusan besar yang akan mengubah hidup seseorang. Jika Anda seorang perempuan, Anda harus rela membuka ruang intervensi yang mengganggu ‘kemerdekaan’ Anda selama ini. Sebab, tiba-tiba ada seseorang yang berhak untuk menanyakan ke mana Anda akan pergi. Bahkan, ia bukan saja bertanya, tapi juga menyuruh atau melarang. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang berhak tahu tentang segala sesuatu tentang diri Anda; luar dalam, hingga ke emosi dan perasaan Anda. Sepertinya agak seram, ya...
Oleh karena itu, saya serius menimbang-nimbang, saat merasa telah siap menikah. Siapakah lelaki calon suami saya kelak? Dari kalangan manakah saya akan memberikan hak dan kepercayaan itu? Dunia macam apa yang telah, sedang, dan akan dilalui calon suami saya? Sebenarnya, saya belum memiliki ‘daftar’ calon suami, kendati usia telah mencapai angka 23 waktu itu.
Sungguh, saya menginginkan, bertemu calon suami dalam rentang sajadah yang indah; di jalan dakwah...
Malam demi malam saya bermunajat kepada Allah, sekiranya Ia menakdirkan harapan-harapan menjadi kenyataan. Berpuasa Senin Kamis, juga puasa Daud biasa saya lakukan sejak masa sekolah menengah sampai kuliah untuk menjernihkan bashirah mata hati dari kilau dunia dan bujuk rayunya. Semoga saja Allah mengabulkannya berupa kemantapan hati pada saat bersua dengan seorang yang tepat bagi saya. Alhamdulillah, jawaban itu datang juga. Ketika itu, setengah tidak percaya saya mengiyakan untuk menerima seorang pemuda sederhana dengan mimpi-mimpi ‘besarnya’ (yang belum diceritakan pada saya waktu itu).
Sungguh, ketika datang ke rumah orang tua saya pertama kali pada tahun 1991 untuk melamar saya, beliau hanyalah seorang pemuda bertubuh kurus dan belum menyelesaikan kuliah. Beliau hanya mengenakan kaus T-shirt dan bersandal jepit. Ia datang seorang diri menemui orang tua saya dan sangat percaya diri meminang saya. Beliau tampak polos sekali. Hal yang kelihatan darinya hanyalah semangat juang yang tinggi, keikhlasan untuk melakukan kebaikan, dan kesederhanaan dalam penampilan.
Saya bisa memberikan kepercayaan kepada beliau untuk menjadi pemimpin dalam hidup saya, karena saya meyakini keikhlasan dan kesungguhannya. Bukan karena kekayaan, harta, atau kedudukan duniawi yang beliau bawa, tetapi semangat memperbaiki diri dan umat, juga keyakinan diri yang terpancar kuat dari berbagai kegiatan yang dilakukannya. Saya pun merasa tenang dengan kebaikan dirinya.
Pembaca terhormat, pernikahan adalah sebuah fase dalam kehidupan manusia. Pernikahan bukanlah terminal akhir, bahkan ia menjadi awal bagi sebuah proses perubahan. Artinya, janganlah Anda berharap akan menemukan seseorang dengan segala sifat kesempurnaan sesuai idealitas yang Anda bangun. Bahkan, jika Anda agak lambat mendapat pencerahan, proses inqilab (perubahan, pembalikan) menuju kebaikan, bisa saja dimulai setelah beberapa waktu pernikahan berjalan. Tak ada kata terlambat. Hanya saja jika salah pilih, proses itu akan berjalan lambat, stagnan, atau bahkan bergeser dari arah kebaikan.
Saya ingin menegaskan ini untuk mengingatkan Anda yang bersikap perfect dan menginginkan kesempurnaan calon pasangan. Seorang gadis (akhawat) Muslimah datang berkonsultasi kepada saya, setelah belasan lelaki melamarnya, dan tak satu pun yang sesuai kriteria harapannya. Saya pun memberikan nasihat dengan cerita masa lalu saya.
“Jangan bayangkan Pak Cah (panggilan akrab suami saya, Cahyadi Takariawan) tahun 1991 ketika melamar saya, adalah Pak Cah yang Anda lihat sekarang ini, dengan segala kelebihan dan kematangannya. Dulu, beliau hanyalah seorang pemuda yang bersemangat untuk berbuat kebaikan dengan segala kesederhanaan dan keluguannya. Kemudian kami bersama-sama saling membangun dan mengisi, membentuk sifat kesuamian atau keistrian dan kebapakan atau keibuan, mematangkan konsep dan pemikiran, mengasah ketrampilan dan mencoba mengaplikasikannya, serta bereksperimen tentang pola yang tepat dalam saling memotivasi dan seterusnya, dan seterusnya... Hingga kini, kami masih saja saling belajar, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan.”
Anda jangan hanya ingin ‘terima jadi’ bahwa seorang ikhwan yang ideal atau akhawat yang sempurna akan datang kepada Anda dan memenuhi segala kriteria yang Anda harapkan. Tetapi, Anda harus rela dan berani untuk bersama-sama membangun pribadi yang diharapkan. Selain itu, tidak hanya menerima kelebihannya, tapi juga kekurangan yang pasti ada padanya, sebagaimana juga ada pada Anda. Hal yang penting, Anda harus mantap bahwa ia yang terpilih adalah seseorang yang memiliki visi dan misi yang sama. Kalau toh belum, minimal memiliki itikad baik untuk membangun visi tersebut. Ummu Salamah adalah contoh perempuan unggul yang membuka ruang pencerahan bagi calon suaminya, Abu Thalhah. Sejarah pun mencatat bahwa Abu Thalhah yang tadinya belum Islam akhirnya menjadi seorang mujahid dakwah.
Modal utama untuk menjadi dinamisator perubahan pada pasangan adalah keyakinan diri, kesiapan untuk berubah, karakter yang kuat, dan keteladanan. Selain itu, ditambah dengan keterampilan mengomunikasikan ide (yang ini pun bisa saling dilatihkan kemudian). Apabila ada kesiapan dalam diri Anda untuk memberi dan menerima, saling berlomba dalam menunaikan kebajikan, dan siap berubah menuju tuntutan ideal maka Anda telah memiliki semua persyaratan untuk membangun rumah tangga yang harmonis.
Tentang penulis, alhamdulillah, Allah mengirimnya untuk saya. Saya tak ingin berlebihan mengungkapkan, hanya saja beliau memang menjadi inspirasi dan motivasi untuk berlomba dalam kebaikan dan membuat saya merasa menjadi istri yang istimewa di sisinya dari waktu ke waktu. Saya ingin senantiasa menemani beliau dalam langkah perjuangan yang tengah beliau tempuh, sejak mengenalnya hingga sekarang ini. Beliau adalah suami yang istimewa di mata saya. []

Sebuah pengantar yang ditulis oleh Ida Nur Laila, istri penulis (Cahyadi Takariawan) dalam buku Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah. Ia lahir di Yogyakarta, 19 Desember 1967. Menyelesaikan kuliah di Fakultas Farmasi UGM dan kini menjadi apoteker. Dalam kegiatan dakwah, ia mengelola beberapa Majelis Taklim. Bersama suami, sekarang mengelola Jogja Family Center (JFC).

Selasa, 21 Desember 2010

golden standard

bismillaahirrahmaanirrahiim...
Hari ini saya mengikuti sebuah seminar yang diadakan oleh Agrianita IPB (ibu-ibu dharma wanita-nya IPB). Seminar dalam rangka menyambut hari ibu ini bertajuk “Golden Standard of Infant Feeding” atau bahasa keren-nya “Makanan Bayi Berstandar Emas”. Langkah awal membangun generasi bangsa sehat, cerdas, dan berkarakter. Hmmm...
Nah, saya coba sedikit bagi-bagi ilmu yang saya dapatkan dari dr. Utami Roesli, Sp.A., MBA.CIMI, IBCLC. ini ya...Beliau adalah ketua umum Sentra Laktasi Indonesia sekaligus ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI. Ilmu yang luar biasa bermanfaat untuk saya (dan mudah-mudahan untuk anda juga).
Oiya, seminar ini diawali oleh penampilan anak-anak playgroup dan TK Agriananda. Terharu rasanya melihat mereka bernyanyi (lipsing) ‘Lagu untuk Mama’. Terharu...dan membuat saya ingin sekali menjadi seorang ibu...! >_<
Baiklah..mari kita mulai dari slide pertama yang menjelaskan apa saja standar emas makanan bayi itu. Menurut WHA No. 55.25 thn 2002 yaitu: 1. Inisiasi Menyusu Dini (IMD), 2. ASI eksklusif selama 6 bulan, 3. Makanan Pendamping ASI (MPASI) setelah 6 bulan, 4. ASI diteruskan sampai 2 tahun atau lebih.
Sampai sini ada pertanyaan...? (lho...belom ya...?) hehe...
 Standar emas makanan bayi ini akan tercapai bila pemberian ASI dan MPASI dilakukan dengan benar. Proses menyusui harus dimulai secepatnya segera lahir, kemudian selama 6 bulan diberikan kepada bayi secara eksklusif tanpa makanan pendamping. Ternyata, ASI ini diminumkan kepada bayi sesuai keinginan sang bayi, bukan pada jam yang kita jadwalkan. Tepat pada usia 6 bulan, mulai diberikan makanan pendamping. Ingat! Makanan yang diberikan bukan makanan pabrik. Makanan ini adalah makanan keluarga, atau dibuat sendiri, namanya bubur ASI. Sedikit beras ditumbuk kemudian diberi ASI.
Nah...bagian ini yang menarik: Inisiasi Menyusu Dini. Segera setelah lahir, bayi ditengkurapkan di dada ibu. Kulit bayi melekat pada kulit ibu minimal 1 jam atau sampai menyusu awal selesai. Subhanalloh...ternyata, kulit ibu memiliki kemampuan sebagai thermoregulator-thermosynchrony atau dapat menyesuaikan suhunya dengan suhu yang dibutuhkan bayi. Jadi jangan khawatir sang bayi kedinginan selama 1 jam itu, karena setiap penurunan beberapa derajat suhu bayi akan diikuti dengan kenaikan beberapa derajat suhu tubuh ibu. “Tubuh ibu merupakan ‘inkubator’ utama bagi sang bayi.” Begitu kurang lebih kata dr. Utami (wiiihh..namanya kayak nama saya..hhe..).
Bayi yang diletakkan segera di dada ibu akan merayap sendiri mencari payudara sang ibu. Kakinya akan menekan-nekan perut ibu untuk bergerak maju, tepat di atas rahim. Hal ini akan mencegah perdarahan pada sang ibu. Kemudian sang bayi akan menjilat-jilat kulit ibunya. Hal ini menyebabkan bayi akan menelan bakteri ‘baik’ dari kulit ibu lalu akan berkoloni dalam usus bayi menjadi probiotik! Subhanalloh...
Jangan tunggu lama untuk meletakkan bayi di atas dada sang ibu. Karena yang akan terjadi adalah, bayi akan kesulitan merayap menemukan payudara, aktivitasnya menurun, ia tidak akan bergerak menghampiri payudara ibunya. Ini terjadi pada bayi yang ketika baru lahir ditimbang terlebih dahulu baru diletakkan di dada sang ibu. Jadi, harus segera!
Sang bayi juga seolah-olah tahu kapan ASI akan siap dikeluarkan dari payudara sang ibu sehingga ia akan sedikit menghentak-hentakan kepalanya di dada sang ibu kemudian mengulum puting payudara ibu untuk merangsang hormong oksitosin dikeluarkan. Hormon oksitosin inilah yang akan menginisiasi dikeluarkannya susu. Menurut Pak Edmond dan kawan-kawan dari Department for International Evelopment UK Pediatrics tahun 2006, memberi kesempatan bayi menyusu segera setelah lahir dapat menurunkan 22% mortalitas atau tingkat kematian bayi.
Detik-detik keberadaan bayi di dada ibu juga dapat memperkuat jalinan kasih sayang antara ibu, bayi, dan ayah sebab bayi dalam keadaan siaga pada 1-2 jam pertama. Ayah dapat meng-adzan-kan dan mendoakan sang bayi pada momen tersebut. Membisikan kalamullah di telinga sang bayi. Penanaman spiritual quotion sejak dini.
Awas aja nih kalo suami saya nanti gak mau nemenin saat saya melahirkan... >_<
Selain itu, ibu dan bayi harus dirawat dalam satu kamar dan selalu dalam jangkauan ibu. Kalo dipisahkan selama katakanlah 6 jam saja, hormon stress pada bayi akan meningkat 2 kali lipat. Jadi kalo ada orang pilek yang menjenguk, ibu tinggal bilang aja ke orang tersebut untuk menjaga jarak dengan bayinya. Kalo tempatnya dipisah ‘kan ibu jadi nggak bisa mantau bayinya, benar..?
Oiya, peran ayah dalam keberhasilan menyusui sangat besar. Penelitian pada 115 ribu ibu yang tahu tentang ASI dan menyusui menyebutkan bahwa keberhasilan menyusui  sebanyak 98,1 % pada kelompok ayah yang tahu ASI dan 26,9 % pada ayah yang tak mengerti. Michigan States University juga merekomendasikan pendidikan ASI bagi ayah dan keluarga di antenatal care (perawatan setelah melahirkan). Soo..let’s prepare to become a breastfeeding father, bro..!
Tak hanya baik untuk bayi, ibu yang memberi makanan bayi berstandar emas pun akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Perdarahan pasca melahirkan dan anemia akan berkurang, juga angka kematian, kanker payudara, kanker indung telur (ovarium) dan rahim, serta risiko maternal diabetes. Selain itu, akan mengurangi osteoporosis, risiko Rheumatoid Arthritis, risiko overweight, serta mempercepat bentuk rahim kembali ke keadaan sebelum hamil juga mempercepat kembalinya hubungan suami istri seperti sebelum hamil.
Satu hal lagi, komposisi ASI akan berbeda pada setiap wanita meski mereka melahirkan pada detik yang bersamaan. Mengapa? Karena komposisi ASI tergantung pada kemampuan usus sang bayi untuk menyerap. Maka dari itu, ASI bersifat spesifik spesies. “Coba bayangkan, energi yang dibutuhkan bayi kalo kita memberinya susu bukan dari ibunya karena ususnya tak dapat menerima. Kasihan ‘kan..?!” begitulah kira-kira kata dr. Utami. (bukan saya lho..hehe..)
Allaahuakbar...Allah-lah Yang Mahakuasa atas semua hal itu...
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (Ar-Rahmaan: 13)
“...dari payudaranya dihisap oleh bayinya, setiap tegukan dan hisapan mendapat satu pahala.” (HR. Thabrani dan Ibnu Asakir)
“Jika berjaga sepanjang malam karena melayani bayinya, ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang memerdekakan tujuh puluh budak di jalan Allah.” (HR. Thabrani dan Ibnu Asakir)
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Maka hendaknya mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An-Nisaa: 9)
“Anak itu titipan Alloh...titipan Alloh...! Jangan sampai kita menzholiminya... Jangan sia-siakan 1 jam itu...” (dr. Utami Roesli)
Jadi, pastikanlah bahwa rumah sakit atau tempat para calon ibu melahirkan memiliki prosedur golden standard of infant feeding tersebut...
Semoga kita dapat lebih banyak belajar untuk generasi yang lebih baik... :)
wallaahua’lam bishshawwab...

*Selamat Hari Ibu... :)  

Sabtu, 18 Desember 2010

#3

..Kalau dalam pendidikan anak, ketika anak menjelang hampir tidur..maka disarankan untuk membisikkan kalimat-kalimat untuk mengisi memori alam bawah sadar.. “mas izza, besok sholih ya, rajin sekolah, ngaji, dll..” Dan yang dicontohkan Rasul pun bahwa waktu-waktu menjelang tidur direkomendasikan untuk banyak berdzikir, mengisi rencana-rencana baik untuk esok hari..makanya isi waktu menjelang tidur dengan ritual-ritual yang baik..rencana-rencana besar amal sholih untuk esok hari..selamat istirahat..

#2

..sahabat, mungkin tidak semua orang bisa melakukan kebaikan-kebaikan yang lingkupnya besar..tapi semua orang bisa melakukan kebaikan-kebaikan kecil dengan bingkai kecintaan yang besar terhadap kebaikan tersebut sehingga akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang besar.. sahabat, mari isi tiap detik hidup kita dengan kebaikan walau sekecil apapun agar bisa berubah menjadi kebaikan yang besar..

#1

..denganMu ada kelezatan, meski hidup terasa pahit, kuharapkan ridhaMu..meski seluruh manusia marah, kuharapkan hubunganku denganMu tetap harmonis..meski hubunganku dengan seluruh alam berantakan, bila cintaMu kudapatkan, semua akan terasa ringan..sebab semua yang di atas tanah adalah tanah belaka..


peran politik muslimah

bismillaahirrahmaanirrahiim...
tulisan di bawah ini saya ambil dari Bersama Dakwah. semoga bermanfaat.. :)
---

Mukadimah

Sebelum bicara lebih jauh, sebaiknya kita cari tahu dahulu apa itu As-Siyasah Asy-Syar'iyyah dalam Islam. Sebab, pemahaman terhadap suatu objek berdampak langsung terhadap penyikapan apa pun yang terkait dengan objek tersebut. Pemahaman yang lurus dan utuh, akan membawa sikap yang parsial dan bengkok pula. Sebab, bayangan hanya akan mengikuti benda aslinya.
Secara bahasa (lughatan), As-Siyasah berasal dari kata ساس yang artinya mengatur, memimpin, dan memerintah. (Saasa al Qauma) : mengatur, memimpin dan memerintah kaum itu. (Assaa-is) : pengatur, pemimpin, manajer, administrator. Sedangkan (As-Siyaasah) artinya: administrasi, manajemen.
Dikatakan (Saasa Ar Ra'iyah yasuusuha siyasatan): mengatur rakyat dengan siyasah (politik). Dikatakan pula (Saasa wa siisa ‘alaih): mendidik dan dididik.
Jadi, dari sisi bahasa, makna politik adalah berputar pada mengatur, mengurus, memerintah, memimpin, dan mendidik. Seluruhnya adalah makna positif dan mulia.
Makna secara syariat (syar’an), telah didefinisikan secara brilian oleh Imam Ibnu Aqil Al Hanbali Rahimahullah, sebagaimana telah dikutip oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah sebagai berikut:
As-Siyasah (politik) adalah aktifitas yang memang melahirkan maslahat bagi manusia dan menjauhkannya dari kerusakan (Al fasad), walaupun belum diatur oleh Rasulullah SAW dan wahyu Allah pun belum membicarakannya. Jika yang Anda maksud “politik harus sesuai syariat” adalah politik tidak boleh bertentangan dengan nash syariat, maka itu benar. Tetapi jika yang dimaksud adalah politik harus selalu sesuai dengan teks syariat maka itu keliru dan bertentangan dengan yang dilakukan para shahabat.para khulafaur rasyidin telah banyak melakukan kebijaksanaan sendiri yang tidak ditentang oleh para shahabat nabi lainnya, baik kebijakan dalam peperangan atau penentuan jenis hukuman. Pembakaran mushaf (selain utsmani, ed) yang dilakukan oleh Ustman semata-mata pertimbangan akal demi tercapainya maslahat. Demikian pula Ali bin Abi Thalib yang membakar orang zindiq di Akhadid. Umar bin Khattab juga pernah mengasingkan Nashr bin Hajjaj.”
Lalu Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah mengomentari:
Aku (Ibnul Qayyim) berkata: Inilah tema yang membuat tergelincirnya langkah manusia, tersesatnya pemahaman, dan menghasilkan pemikiran sempit dan perdebatan yang sengit…”
Dalam kitabnya yang lain, Al ‘Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah juga berkata:
Maka, tidaklah dikatakan, sesungguhnya politik yang adil itu betentangan dengan yang dibicarakan syariat, justru politik yang adil itu bersesuaian dengan syariat, bahkan dia adalah bagian dari elemen-elemen syariat itu sendiri. Kami menamakannya dengan politik karena mengikuti istilah yang mereka buat. Padahal itu adalah keadilan Allah dan RasulNya yang ditampakkan tanda-tandanya melalui politik.”

Apa yang diulas Imam Ibnul Qayyim ini adalah benar, sebab Rasulullah SAW telah bersabda:
Adalah Bani Israil, dahulu mereka disiyasahkan oleh para nabi.”
Maka, politik yang adil merupakan perilaku para nabi terhadap umatnya terdahulu. Dengan kata lain politik adalah salah satu warisan para nabi.
Imam An-Nawawi rahimahullah mengomentari hadits ini, katanya:
Yaitu: mereka (para nabi) mengurus urusan mereka (bani Israil) sebagaimana yang dilakukan para pemimpin (umara’) dan penguasa terhadap rakyat. As siyasah adalah melaksanakan sesuatu dengan apa-apa yang membawa maslahat.”
Al-hafidz Ibnu Hajar rahimahullah memberikan syarah (penjelasan) sebagai berikut:
Dalam hadits ini terdapat isyarat, bahwa adanya keharusan bagi rakyat untuk memiliki pemimpin yang akan mengurus urusan mereka dan membawa mereka kepada jalan kebaikan, dan menyelamatkan or yang dizalimi dari pelaku kezaliman.”
Demikianlah hakikat As-Siyasah Asy-Syar'iyyah yang dipaparkan oleh para ulama kredibel berdasarkan pemahamannya terhadap kesucian syariat Islam. Politik –pada dasarnya- adalah mulia, penuh keadilan, memiliki maslahat, mengurangi mafsadat, jauh dari kekotoran hawa nafsu dunia; intrik, menghalalkan segala cara, tipu menipu, dan saling sikut. Dengan kata lain, politik merupakan salah satu bentuk amal shalih bagi manusia, baik laki-laki atau perempuan. Namun, penyikapan dan penilaian manusia terhadap politik telah berubah seiring perubahan realita politik itu sendiri, setelah diracuni oleh pemikiran Nicolo Machiaveli, yakni tubarrirul wasilah (menghalalkan segala cara). Politik hari ini telah jauh dari dasar-dasar syariat, melainkan berkiblat kepada politik kezaliman yang dikembangkan oleh para tiran. Hingga akhirnya seorang reformis seperti Syaikh Muhammad Abduh berkata: aku berlindung kepada Allah dari politik, politikus, kajian politik dan membicarakan politik.
Demikianlah kabut yang telah menutupi wajah politik sejak berabad-abad lamanya hingga hari ini. Tetapi, realita lebih tept disebut sebuah kejahatan yang berdiri sendiri atau ‘penumpang gelap’ dalam dunia politik.
Ruang Lingkup Politik
Politik hari ini telah mengalami penyempitan medan amalnya, yakni seputar pada kepemimpinan, kekuasaan, pemerintahan, kebijakan negara, dan perundang-undangan. Inilah gambaran politik yang langsung ada di kepala kita, baik kaum terpelajar atau orang awam. Bicara politik tidak akan jauh dari itu semua. Hal itu benar jika dikatakan sebagai bagian dari politik saja. Sebab As-Siyasah Asy-Syar'iyyah –yang di dalamnya terdapat keadilan Allah dan rasul-Nya- tidak mungkin hanya dirasakan dan berada di ruang lingkup yang terbatas dan dilakoni oleh segelintir manusia. Tentu, hal itu jauh dari ruh ajaran Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Politik –dengan segala makna dasarnya; mengatur, mendidik, menguasai, mengurus, dan memimpin- sangat jelas dia juga ada pada zona kehidupan manusia yang lain, bahkan da dalam rumah tangga, politik ada dalam dunia pendidikan, politik ada dalam dunia ekonomi, politik ada dalam kehidupan bertetangga, dan tentunya ada pula dalam dunia dakwah. Bahkan esensi dakwah adalah juga politik, sebab keduanya sama-sama upaya untuk mengatur, mendidik, mengurus, dan menguasai manusia dengan aturan-aturan Allah ta’ala.

Muslimah Berpolitik
Setelah kita mengetahui kedudukan politik dalam Islam, bahwa dia juga merupakan ladang untuk beramal shalih. Maka, ladang ini merupakan ladang semua hamba Allah Ta’ala. Kewajiban beramal shalih tidaklah dibebankan untuk orang per orang saja tetapi semuanya. Tugas membenahi masyarakat, memperbaiki kehidupan, bukan hanya tugas laki-laki.
Allah ta’ala berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [التوبة/71]
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-taubah : 71)
Pembebanan syariat atas laki-laki dan perempuan adalah sama, kecuali memang hal-hal tertentu yang dikhusukan bagi kaum perempuan (seperti haid, sitihadhah, nifas, persalinan, penyusuan, dan warisan). Keudanya adalah sama-sama hamba Allah Ta’ala yang dituntut untuk mengabdi kepada Allah Ta’ala, amar ma’ruf nahi munkar, dan memakmurkan dunia. Keduanya pun dituntut untuk kerjasama sesuai firman-Nya: “sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.”
Kita melihat sendiri, tidaklah laki-laki munafiq menyerang Islam melainkan pasti di samping mereka ada perempuan munafiq yang mendukung mereka. Tidaklah laki-laki kafir menyerang Islam melainkan pasti di sampingnya perempuan kafir juga menyokong mereka. Tidaklah laki-laki sekuler menyerang agama, melainkan berdiri di sampingnya pula perempuan sekuler. Hal ini dengan jelas disebutkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ [التوبة/67]
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. At-taubah : 67)
Dalam ayat lainnya:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ [الأنفال/73]
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal : 73)
Maka, tuntutan saling menolong dalam kebaikan antara laki-laki dan perempuan, termasuk yang ada pada dunia politik, merupkan tuntutan syariat yang sangat jelas dan realistis.

Peran Muslimah Pada Masa Awal Islam
Pada masa-masa terbaik Islam, justru menempatkan peran serta muslimah yang sangat penting.
Suara pertama yang mendukung dan membenarkan kenabiannya adalah suara wanita yakni Khadijah binti Khuwailid.
Syuhada pertama dalam Islam adalah seorang wanita, yakni Sumayyah, ibu Ammar bin Yasir, yang dibunuh oleh Abu Jahal karena mempertahankan keislamannya.
Ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shidiq RA bersembunyi di gua (Jabal Tsur), Asma binti Abu Bakar-lah yang bolak-balik membawakan makanan untuk mereka berdua, padahal kondisinya sedang hamil.
Ketika perang Uhud, Ummu Salith adalah wanita yang paling sibuk membawakan tempat air untuk pasukan Islam, sebagaimana yang diceritakan Umar bin Khattab. Ummu Salith juga pernah berbai’at kepada Rasulullah SAW.
Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya membuat enam bab tentang peran muslimah dalam peperangan yang dilakukan kaum laki-laki.
1. Bab Ghazwil Mar’ah fi Bahr (Peperangan kaum wanita di lautan)
2. Bab Hamli Ar-rajuli Imra’atahu fi Ghazwi duna ba’dhi Nisa'ihi (Laki-laki membawa istri dalam peperangan tanpa membawa istri lainnya)
3. Bab Ghazwin Nisa’ wa Qitalihinna ma’a Ar-Rijal (Peperangan wanita dan peperangan mereka bersama laki-laki)
4. Bab Hamli Nisa’ Al-Qiraba ilan Nas fil Ghazwi (Wanita membawa tempat minum kepada manusia dalam peperangan)
5. Bab Mudawatin Nisa’ Al-Jarha fil Ghazwi (Pengobatan wanita untuk yang terluka dalam peperangan)
6. Bab Raddin Nisa’ Al-Jarha wa Qatla ilal Madinah (Wanita memulangkan pasukan terluka dan terbunuh ke Madinah)
Selain Ummu Salith, kaum muslimah juga ikut berbai’at kepada Rasulullah SAW, seperti Ummu ‘Athiyah, Umaimah binti Ruqaiqah, dan kaum wanita Anshar. Sebagaimana yang diceritakan secara shahih oleh Imam An-Nasai.
Masih banyak lagi peran muslimah pada masa awal seperti peran ketika hijrah ke Habasyah, peran dalam pendidikan, dan lainnya. Semuanya menunjukkan bahwa Islam menempatkan keduanya seimbang saling mengisi dan bekerjasama secara normal.

Syubhat dan Jawabannya
Ada beberapa syubhat (keraguan) yang dilontarkan oleh sebagian orang untuk mencegah wanita keluar rumah dan mengambil hak-haknya secara syar'i. apalagi berpolitik dan berperan di parlemen, itu lebih haram lagi menurut mereka.
Syubhat pertama: Wanita diperintah untuk tinggal di rumah
Mereka berdalil dengan ayat:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ [الأحزاب/33]
dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” (QS. Al-Ahzab : 33)
Ayat ini dijadikan alasan agar para muslimah tidak ke mana-mana, hanya di rumah saja. Pemahaman tersebut tertolak, karena lima hal:
Pertama, ayat tersebut khusus bagi para istri Rasulullah SAW sebagaimana tertera dalam ayat sebelumnya:
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ [الأحزاب/32]
Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain,..” (QS. Al-Ahzab : 32).
Meneladani istri nabi adalah keharusan, tetapi tidak berarti mencegah para wanita selain mereka untuk keluar rumah dalam rangka mengambil hak-haknya yang syar'i seperti menuntut ilmu, mengajar kaum wanita lain, berobat, berdakwah, ke pasar, mengunjungi famili dan orang tua, menjenguk orang sakit, dan lainnya. Taruhlah, ayat ini juga berlaku bagi semua wanita beriman, tapi itu –sekali lagi- bukan alasan untuk mencegah mereka untuk melakukan aktifitas syar'i yang perlu mereka lakukan.
Kedua, para shahabiyah adalah kaum wanita yang paling bertaqwa kepada Allah Ta’ala, paling tahu adab, paling paham agama, dan paling meneladani istri nabi, dibanding wanita zaman ini. Namun demikian, mereka tetap ikut berjuang bersama laki-laki sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas, mereka mendatangi majlis ilmu bahkan nabi punya pertemuan di hari tertentu untuk mengajarkan mereka, mereka ikut berbai’at kepada Rasullullah SAW, dan aktifitas lainnya yang membutuhkan mereka harus keluar rumah bahkan berinteraksi dengan laki-laki. Para shahabiyah yang memiliki keahlian mengobati ketika berperang, tentu keahlian tersebut tidak datang dengan sendirinya melainkan mereka harus mencari ilmunya. Untuk zaman ini, para wanita harus belajar di fakultas kedokteran, apalagi keberadaan dokter muslimah sangat dibutuhkan untuk mengobati atau mengurus wanita muslimah yang ingin melahirkan.
Ketiga, Aisyah RA, wanita yang paling faqih pada zamannya juga keluar rumah bahkan memimpin pasukan ketika konflik dengan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal (unta). Beliau memimpin pasukan dari Madinah ke Bashrah, dan para shahabat nabi pun ada yang ikut rombongannya, dua orang diantaranya adalah shahabat yang tergolong dijamin masuk surga dan seorang lagi termasuk enam ahli syura yaitu Thalhah dan Az Zubair. Walau, akhirnya Aisyah menyesali ijtihadnya untuk menuntut kematian Utsman bin Affan kepada Ali bin Abi Thalib hingga pertumpahan darah sesama muslim. Aisyah (bersama ayahnya) pun pernah menjenguk Bilal bin Rabah ketika sakit (HR. Bukhari), oleh karena itu Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bolehnya wanita menjenguk laki-laki selama aman dari fitnah, dan beliau membuat bab tersendiri untuk masalah ini. Aisyah juga pernah nonton pertunjukan orang Habasyah ketika Idul Fitri bersama Rasulullah SAW. Kisah ini masyhur.
Empat, keluarnya para wanita kafir, munafiq, dan sekuler, menuntut keluar pula para muslimah untuk melawan mereka, menahan pemikiran jahat mereka, dan membendung akhlak kotor mereka. Tidak cukup melawan mereka di dalam rumah sambil mematikan acara televisi yang buruk, atau menidurkan anak bercerita shahabat nabi, itu semua baik dan penting, namun tidak cukup. Fenomena penolakan RUU APP yang dilakukan oleh kaum wanita kafir (yakni kristen), munafiq, dan sekuler, semakin membuktikan betapa pentingnya kaum wanita muslimah mendampingi kaum laki-laki untuk melawan mereka secara umum.
Kelima, melarang wanita keluar rumah adalah benar hanya pada kondisi tertentu, yakni ketika mereka dihukum karena kekejian (zina) yang mereka lakukan. Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ [النساء/14]
Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji [275], hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya” (QS. An-Nisa’ : 14)

Syubhat kedua: Wanita bukan Pemimpin laki-laki
Mereka menganggap wanita yang menjadi anggota parlemen telah menjadi pemimpin bagi laki-laki. Pernyataan ini tertolak karena dua hal:
Pertama, anggota dewan bukanlah pemimpin, bukan presiden, bukan perdana menteri, bukan pula kepala daerah, atau definisi apa pun yang bermakna pemimpin. Anggota dewan, sesuai dengan namanya, adalah wakil rakyat dari masing-masing daerah. Oleh karena itu parlemen dikenal dengan istilah Majlis An-Niyabah (Majelis perwakilan), bukan Majlis Imamah (majlis kepemimpinan). Mereka adalah pengawas pemerintah dan legislator (perumus undang-undang).
Dalam Islam, fungsi pengawasan bisa diartikan dengan penegak amar ma’ruf nahi munkar dan pemberi nasihat, maka di sinilah letak pentingnya keberadaan para dai dan daiyah di sana. Telah masyhur kisah seorang wanita yang menasihati Khalifah Umar dalam hal pemberian mahar, dan kisah ini sanadnya dikatakan bagus oleh Imam Ibnu Katsir. Nabi SAW pun pernah mendapat masukan dari Ummu Salamah pada saat perjanjian Hudaibiyah dan langsung diterapkan Nabi SAW. Intinya wanita berhak memberikan masukan, nasihat, amar ma’ruf nahi mukar kepada pemimpin, baik dia sebagai rakyat biasa, apalagi sebagai anggota dewan yang memang itulah tugasnya.
Sebagai fungsi legislator, tugas mereka bukan mencipta hukum dan undang-undang, sebab itu hanyalah hak Allah Ta’ala semata. Namun, yang mereka lakukan adalah merumuskan hukum dan undang-undang yang belum ada nashnya, atau masih nash umum yang masih membutuhkan perincian. Tugas ini (ijtihad/legislasi) bukanlah kekhususan buat laki-laki, melainkan untuk setiap muslim yang memiliki kecakapan. Ummul Mukminin Aisyah RA merupakanwanita mujtahid dan mufti di zamannya. Para shahabat nabi sering meminta penjelasan dalam berbagai hal kepadanya. Hal ini telah dihimpun oleh Imam Az-Zakrsayi dalam kitab Al-ijabah li istidrakati Aisyah ‘alash Shahabah, lalu diringkas oleh Imam As-Suyuthi dalam Ainul Ishabah. Memang, dalam sejarah masa lalu amat jarang wanita yang menjadi ahli ijtihad, namun saat ini banyak muslimah yang memiliki kecakapan seperti laki-laki, bahkan melebihinya.

Syubhat ketiga: Sad Adz-Dzara'i (Pencegahan) Agar Wanita Terhindar dari Fitnah
Ini adalah alasan selanjutnya. Mencegah diri dari potensi fitnah adalah baik dan mulia. Namun, berlebihan dalam pencegahan adalah sama halnya dengan sikap tanpa pencegahan, yaitu sama-sama menghilangkan maslahat, lalu lahirlah mudharat. Atau, bebas dari mudharat kecil dan pribadi, namun mengorbankan maslahat besar dan umum. Melarang wanita keluar rumah untuk ikut pemilu, atau kiprah politik lainnya dengan pelarangan itu maka hilanglah setengah (bahkan lebih) kekuatan (suara) umat Islam, atau hilang potensi kebaikan, hingga akhirnya kekalahan dan kelemahan dialami umat Islam. Maka, itulah fitnah yang sesungguhnya! Takut dengan fitnah pribadi yang akan dialami seorang wanita (alasan ‘fitnah’ ini pun masih bisa diperdebatkan), akhirnya mengorbankan kemaslahatan yang lebih besar dan jelas. Ini adalah penempatan sad adz dzarai (pencegahan) yang tidak pas. Tindakan ini memang harus diterapkan jika memang benar-benar terjadi fitnah yang jelas, bisa menghilangkan kemudharatan dan mendapatkan maslahat.
Kita memiliki kaidah akhafu dharurain (memilih kerusakan yang lebih ringan diantara dua kerusakan). Inilah jalan yang kita tempuh jika berhadapan dengan kondisi seperti ini. Terjadinya fitnah karena keluarnya wanita adalah sebuah mudharat, namun kekalahan umat Islam atau kekalahan kekuatan kebaikan, karena suara wanita tidak diizinkan keluar, maka mudharat yang lebih besar lagi dan berkepanjangan. Selanjutnya, ini semua membutuhkan kejelian dan analisa yang mendalam.

Peringatan
Kiprah muslimah dalam dunia sosial dan politik bukanlah kiprah tanpa syarat dan catatan. Ada beberapa patokan syar'i yang tidak boleh ditinggalkannya. Semua ini demi kebaikan muslimah itu sendiri, dan menjadikan apa yang dilakukannya adalah benar-benar amal shalih yang diterima Allah SWT.
1. Aktifitas politik, khususnya parlemen hanya untuk wanita yang benar-benar layak, pantas, punya waktu luang, dan sedang tidak ada tugas domestik (kerumahtanggan) yang sangat sulit jika ditinggalkan, seperti menyusui, dan memiliki anak-anak yang masih butuh perhatian kasih sayang, dan pendidikannya. Memaksakan kehendak dalam hal ini, sama juga mengorbankan masa depan mereka, bahkan masa depan sepenggal generasi manusia, dan khianat terhadap amanah (sebab anak adalah amanah). Maka, tidak semua wanita dibenarkan untuk menjadi anggota parlemen, namun mereka masih bisa berkiprah pada kehidupan sosial politik lainnya yang lebih mungkin.
2. Tidak melupakan tugas asasinya sebagai istri dari suaminya, dan ibu bagi anak-anaknya
3. Tetap teguh memegang prinsip-prinsip akhlak Islam: menutup aurat secara sempurna, tidak bersolek seperti wanita jahiliyah, tidak mendayu-dayu dalam bicara, tidak berduaan dengan laki-laki bukan mahram, dan menjauhi ikhtilat (campur baur) dengan laki-laki yang tidak diperlukan
4. Meluruskan niat, bahwa yang dilakukan adalah untuk mencari ridha Allah ta’ala, dakwah Ilallah dan amar ma’ruf nahi munkar. Bukan karena kekayaan dan popularitas.
Wallaahu a’lam. [Farid Nu'man. SS, Majalah Mimbar Tatsqif edisi 36 Th.V]

kami malu..

bismillaahirrahmaanirrahiim...
Allah...kami lihat dan dengar kabar saudara kami dalam televisi, dalam setiap menitnya, berhari-hari lamanya. Debu-debu itu, ya Rabb...debu-debu yang kata mereka berasal dari lubang menganga di puncak Merapi, meliputi wajah mereka, menempeli kendaraan mereka, menyelimuti kota mereka. Air mata itu, Rabbii...mengalir dari mata mereka, bahkan dari mata ini.
Duh, Allah...kami malu...rasanya diri ini jauh lebih berdebu dari mereka. Debu-debu itu, rasanya begitu pekat menutupi wajah ini, menutupi hati ini... Allaahummaghfirlii...faghfirlii...ya Allah...faghfirlii...
Allah...kami malu...koq ya rasanya kami itu sibuk sekali. Dengan kuliah kami. Dengan tugas dan laporan kami. Dengan rapat-rapat kami. Dengan perasaan kami. Rasa sakit hati karena ucapan saudara kami. Rasa menderita karena sepertinya masa depan kami tak ada. Rasa mendayu karena melihat ikhwan itu tersenyum menatap kami. Rasa cemburu karena kebahagiaan, kenyamanan, kemapanan menghampiri saudari kami...Astaghfirullaahal’azhim...
Ya Rahman...kami malu...sedang tilawah kami, selembar pun rasanya berat sekali. Al-Qur’an kami, hanya sebagai penghias tas-tas kami. Agar terlihat sholih. Agar terlihat aktivis. Agar terlihat da’i. Kami malu, sedang sholat kami tak kami lengkapi dengan raka’at-raka’at sunnah RosulMu. Lima waktu itu sudah cukup rasanya untuk kami menjastifikasi bahwa kami sudah baik. Bahwa kami sudah muslim. Bahwa kami sudah penuhi hakMu. Kami malu, sedang dzikir kami tak penuhi lisan-lisan kami. Pembicaraan dorama dari vcd, film terbaru, berita dan kabar selentingan dari artis bahkan rekan kerja kami, kerap terlontar dari mulut ini. Dan ini pun seperti tak jadi masalah untuk kami. Kami tetap dikatakan anak rohis yang gaul. Dianggap pandai berbaur. Dilihat menarik dalam berkomunikasi. Kami malu, sedang qiyamullail yang menghidupi malam-malam kami, kami lewatkan begitu saja. Kami mengeluh, duh Allah...kami capek, kami ngantuk, kami ini kan sudah sibuk seharian dengan amanah-amanah kami. Dan hal ini, melegalkan kami untuk nyenyak di atas kasur empuk kami, hingga pagi menjelang, tak merasa bahwa amanah telah menanti untuk diselesaikan. Faghfirlii ya Allah...
Ya Ghofur...betapa sombongnya kami. Merasa miliki banyak ilmu. Ilmu da’wah. Ilmu ukhuwah. Tapi panggilanMu lewat koordinator-koordinator kami, kami jalani dengan pikir-pikir dulu. Senyum kami untuk saudara-saudara kami, kami anggap lintas lalu. Lalu kemudian, kami merasa sebaiknya kami sholih sendiri. Surga untuk kami sendiri.
Ya Quddus...kami menutup mata. Saat saudara kami mondar-mandir, berkoar-koar, berpeluh-peluh, berkerit dahinya, untuk amalan-amalan di kelas kami, di fakultas kami, di kampus kami. Ahh...kami kerap melegalkan: yaa...setiap orang kan punya pilihan...hargai dan hormati dong pilihan saya... Kemudian kami kembali berkutat dengan urusan kami.
Padahal ya Rabb...bukankah Engkau membeli dari kami, harta dan jiwa kami, untuk berjuang menegakkan dien ini...? Lantas sekarang, apa yang dapat kami tawarkan padaMu, Rabbanaa...

Jumat, 17 Desember 2010

perjuangan angkasa*

bermula dari sebuah obrolan malam di sebuah cafe oleh tiga orang wanita. dua wanita tersebut adalah pengelola cafe sekaligus juru masaknya. sementara wanita yang satunya lagi ahli dalam icip-icip (gratis) makanan buatan mereka, dengan dalih "saya 'kan lagi magang di sini.." hehe.. :p
singkat cerita, ternyata, mereka memiliki obsesi yang sama dan harus dilakukan sebelum hengkang dari kampus tercintanya. ya, mereka bersobsesi untuk naik menara..! menara apakah itu..??

menara al-hurriyyah

ini dia.. menara masjid al-hurriyyah. berlokasi di dalam kampus ipb darmaga. menurut sumber yang -cukup- dapat dipercaya (secara beliau marboth mesjid), tinggi menara tersebut kurang lebih 35 meter. untung saya baru mengetahuinya setelah turun. padahal sih gak ngaruh juga. wong saya itu kurang pandai dalam menakar sebuah ukuran.. cukup tinggi gak sih 35 meter itu..?? dibandingkan tinggi saya yang cuma 156 cm, hmm.. lumayan tinggi lah ya...
lho... kok kata gantinya jadi 'saya'..? yaaa.. baiklah... wanita (yang ahli icip-icip) itu adalah saya sendiri.
akhirnya, dengan semangat yang menggelora, kami bertanya pada kuncen menara tersebut (baca: kepala marboth). apakah kami diizinkan untuk naik menara. setelah negosiasi yang cukup alot, kami diperbolehkan. "asal bisa jaga keselamatan diri aja.." kata beliau.
kemudian disepakatilah waktu eksekusinya. 21 november 2009. niatnya sih pagi-pagi banget. tapi, yahh.. in fact, kita pada kesiangan. kelamaan persiapan. hehe..
oke.. setelah sebelumnya mempersiapkan mental, spiritual, fisik, finansial (kayak mau nikah aje.. :p) kami berempat standby di halaman menara masjid al-hurriyyah. berempat? ya, mba nelly (sebut saja begitu) mengajak salah seorang temannya...sebagai...juru potret! hehehe...
kunci telah di tangan (sang pemberi kunci memberikannya sambil geleng-geleng kepala.. "hati-hati, mba!"), kami masuk, dan... woooooww.. subhanalloh..!! macam di dalam sebuah menara..!! (ya iyalah..)

warming up-time

perhatian.. ini bukan sedang ditangkep polisi, ya... kami sedang pemanasan.. hoop..hooppp..hooooppp...
setelah cukup memanaskan diri, membaca basmalah, dan bertakbir, mulailah kami langkahkan kaki di tangga. mba nelly mulai memanjat terlebih dahulu, diikuti saya, kemudian mba retno, dan terakhir mba yuni.
meminjam deskripsi dari sahabat saya -yang juga pernah mendaki menara tersebut-, begini kondisi di dalam menara alhur: "terdiri dari beberapa lantai dengan 12 tangga yang tegak lurus 90 derajat dengan lantai tersebut. masing-masing tangga terdiri dari 10 anak tangga (eh, apa kebalik ya? ya..pokoknya begitu lah). karena lantai tersebut serem buat istirahat (selapis tipis lantai besi yg udah bolong2 dan karatan), kita harus terus naik. dan akibatnya, cuapeeeekk banget..." mudah-mudahan bisa dibayangkan.. hehe..
ya.. luar biasa capek dan sedikit scary.. setiap beberapa lantai, kami saling mengecek kondisi. absen. takbir. sampai akhirnya... "subhanallah...!!" terdengar suara mba nelly dari atas. membuat senyum saya merekah di tengah nafas yang mulai 'senin-kamis'. sebentar lagi...sebentar lagiiii...
speechless... takjub dengan pemandangan yang kami lihat... kalimat tasbih, tahmid, dan takbir tak lepas dari lisan kami. pun senyum yang mengembang... dan atas kehendakNya-lah kami berada di atas sana...

rektorat ipb dan gunung salak

al-hurriyyah kami

apa yang kami lakukan di sana...? tentu saja poto-poto...kemudian makan...
beberapa hari sebelumnya, mba nelly milad. jadi, malam sebelum pendakian ini, saya beli sebuah kue tart kecil. hmmm... saya khilaf, tidak memasukkannya ke dalam kulkas. sehingga...kue tersebut disemutin! tapi, yaaahh..walau dengan rasa yang rada bercampur bau semut, bentuk yang nyaris nggak karuan karena dimasukin ke dalam tas ransel, kami tetap menikmati kue tart tersebut... ^^v


tak lupa pula, kami menulis 'prasasti' di atas sebuah pintu seng bekas yang kami temukan di sana. wow..ternyata sudah cukup penuh dengan nama. tapi, belum ada nama perempuan di sana...






Allah... betapa kami tak miliki daya dan upaya... betapa lemah dan kecilnya diri ini... betapa Engkau Maha segala... seringkali kami merasa lelah dan jenuh dalam usaha taat kepadaMu... seringkali bias niat kami dalam melangkah menujuMu... padahal kau janjikan tempat terindah pada hambaMu yang mengimaniMu...
akhirnya, kami menyadari...bahwa perjuangan kami mendaki, tak hanya sekedar obsesi...kami belajar, bahwa hidup kami sudah selayaknya bagai mendaki menara itu. bukan pekerjaan yang mudah. bergeser sedikit saja langkah kami, sudah pasti tergelincir dan jatuh. bahkan tempat untuk beristirahat pun, sangat tidak nyaman sehingga nafas harus kami atur untuk kembali melanjutkan pendakian. ingatan bahwa kami tak sendiri mendaki. ada saudara kami, yang harus senantiasa kami pastikan keberadaannya, kondisinya yang baik-baik saja, juga kata-kata penyemangat agar tak surut semangat. mengingatkan bahwa kita harapkan tujuan akhir yang luar biasa indah dan menakjubkan. membuat kami urun untuk kembali turun.
"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung." (At-Taubah: 71-72)

faghfirlii...ya, Allah...faghfirlii... bila kami masih sering lalai, lupa, sombong, dan tak sejalan dengan aturanMu... meminta surgaMu, tapi tak berusaha merebut perhatianMu... bangga diri atas capaian-capaian kami dan lupa bahwa Engkau-lah Yang Kuasa memberi kekuatan pada kami... allaahummaghfirlii...

maka dalam setiap langkah yang kami ayunkan, nafas yang kami hembuskan, kata yang kami lontarkan, mohon iringilah kesemua itu dengan rahmat dan ampunanMu... aamiin...


para pemain

si bocah nekat

begini lho..tangganya..


kalo gak inget ada kehidupan lain di bawah (menara), tentu kami masih akan berlama-lama di atas sana. oke, cukuplah kami menikmati pemandangan yang disuguhkan. kembali berkemas, dan melangkah turun. ternyata, turun itu lebih menyeramkan.. heuheu..


kami mengevaluasi: waktu pendakian harus lebih pagi, karena suasanya akan lebih teduh. selain itu, jangan hanya bawa kue (apalagi kue yang abis disemutin), bawalah nasi padang! karena pendakian itu cukup membuat lapaaaaaarrrr...
unforgettable moment...cukup sekian dan terima kasih... (^__________^)v
*anggun dan perkasa.. ;) 


Kamis, 16 Desember 2010

al-hurriyyah.. sebuah lembaga dakwah kampus..

untaian kata di bawah ini ditampilkan oleh sang ketua pada saat muspim (musyawarah pimpinan) terakhir, tanggal 11 desember 2010.. hmm..nggak tau juga deh siapa yang nulis.. hehe.. tapi sungguh, kata-kata itu cukup membuat saya merenung..
---

LDK AL-HURRIYYAH

tempat untuk:
menggemukan sabar, menemukan ikhlas, menelaah syukur, merendahkan hati
membesarkan jiwa, mengolah peka, menyusun asa, merangkai hikmah,
membangun kedewasaan, mencari kebijaksanaan

walaupun kadang:
ada luka  tergores, ada amarah tersulut, ada iri menggoda
ada kesal merasuk, ada sikap tak berkenan, ada visi tak sejalan
ada kata yang mengganggu, ada ingin yang tak sampai,
ada rasa yang tak terdefinisi

ada rangkaian episode panjang:
syuro yang tak kunjung usai, laporan yang menumpuk
konflik yang tak kunjung reda, program yang melelahkan
koordinasi yang memusingkan, keputusan yang membingungkan
kebersamaan yang membahagiakan, lelah yang menyejukkan
sahabat yang begini dan begitu
dan perpisahan

tapi, bukankah perpisahan hanyalah jebakan waktu?
ada misi yang tak mengenal dimensi
untuk bermanfat bagi orang lain
untuk menebar kebaikan sebanyak-banyaknya

karena sejatinya
telah disiapkan tempat terbaik
yang tak mengenal perpisahan
untuk orang-orang yang lulus menjalankan amanah hidupnya:
SYURGA 

---
semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunanNya pada kami.. aamiin..

Kamis, 09 Desember 2010

surat untuk ibu

berikut ini adalah note yang ditulis oleh ibunda sang penulis.. semoga dapat diambil hikmahnya.. ^^


Surat untuk Ibu....

Ibu kenapa Tami ga diajak sih...
Tami kan ga mau...
Tami kan ga suka...
Kalau Tami ga diajak...
Nanti Tami nangis deh...


***

Membuka lembaran lama..., sekedar ingin berceritera..., ingin bernostalgia..., dan ingin berbagi kepada para generasi penerus al-ummahat hususnya, dan calon2 orang tua umumnya...

Seorang gadis kecil yg sdg duduk di TK, dengan tulisan tangan yg tertatih tatih, belum beraturan, huruf besar dan kecil bercampur aduk, tanpa spasi, menulis di secarik kertas... kala hatinya tidak menerima sebuah 'perlakuan' ibu bapaknya... (walau mungkin orang tuanya sudah mempertimbangkan kenapa sebuah sikap/ keputusan harus diambil...)

Ayah ibunya tersenyum haru... saat membacanya...
Ada rasa bersalah..., namun ada kebahagian tersendiri...
Putri kecilnya... sudah bisa merangkai kata... menggabungkan beberapa huruf dalam ketidak teraturannya..., namun sudah sempurna membentuk sebuah ungkapan hati...
Hohoho... putri kecilku..., yg sering kami tinggal2 untuk sebuah pertarungan...

Putri kecilku... yg sering tidak sempat bertatap wajah ayah bundanya sebelum tidur dikala kantuk sudah tak terelakkan...

Putri kecilku..., yg terus tumbuh... dan terus melanjutkan surat menyurat dg ayah bundanya walau tidur dalam satu atap...

Dan kau selalu menuliskan surat itu kepada 'bagian siapa' yang bertanggung jawab untuk mendampingi dirimu dalam mengerjakan PR...

Entah bagaimana mulanya kami mempunyai 'jatah' husus dlm mendampingi putri kami untuk mengerjakan PR...

Masih ingat sampai sekarang .... kalau pelajaran ini... ini... dan ini... bagian ibu..., kalau pelajaran itu... itu... dan itu... bagian bapak..., ada juga mata pelajaran yg 'bisa ibu bisa bapak' ha ha ha...
Dalam pesan surat itu kau tuliskan "pak/ bu... pelajaran ini... halaman segini... nomor segini belum diisi..." dan bukunyapun kau tandai...

Walau lelah... kami tetap berusaha untuk mempelajari apa yg dipesan putri kami..., dan subuh2nya sambil 'paciweuh' ini dan itu, mempersiapkan ini dan itu... wah pokoknya rame deh..., sebelum jemputan sekolah datang... kami memberikan penjelasan ttg PR-nya, jangan sampai di sekolah nanti PR-nya betul tapi tidak mengerti dan tidak bisa menjelaskannya...

Dikala pendidikannya semakin meningkat, ibunya mulai 'roaming' hahaha..., (dan ayahnya hrs 'istirahat' total...) Namun seiring dengan pertumbuhan kemandiriannya, sang ibu cukup membantu dlm segi yg lainnya agar dia tetap semangat belajar..., dg membuatkan milo hangat..., menemaninya begadang walau seringnya tertidur di dpn TV hahaha...., atau membangunkannya jam 2 jam 3 jam 4 dini hari, jika dia sdh tak tahan kantuk...

***

Ya Allah maafkan aku..., jika aku bukanlah seorang ibu yg sempurna... yg tidak terlalu amanah... dan tidak sesuai persis dg predikat ibu yang seharusnya dan sesungguhnya...


Wassalam...
bumi Allah... 21/02/10
b'L