Jumat, 13 Agustus 2010

saat ia mengeong

SMA Afteresempe. Aku menginjakkan kakiku di kelas tercinta. Wuah…masih sepi… Kulirik tangan kiriku. Ya ampun…! Aku nggak pake jam tangan! Lalu lirikan mata aku arahkan ke jam dinding. Masya Allah…nggak ada juga! Bodo ah, mau jam berapa kek sekarang, yang jelas sekarang tuh udah lumayan siang. Aku pikir aku terlambat, taunya di kelas baru ada lima kepala (plus badan tentunya…).
Aku berjalan menuju tempat duduk. Di sana udah ada Isya. Aku terkikik melihatnya sedang menghafal sosiologi. Abis cara ngafalinnya lucu. Matanya merem melek, trus tangannya goyang-goyang, untung kepalanya nggak ikutan geleng-geleng, hi..hi..

“Assalamualaikum, Isya…” sapaku.

“Waalaikumsalam…” jawabnya. Lalu kembali menekuni hafalannya. Aku pun membuka catatan sosiologi dan mulai menghafal.

Teng…! Suara lonceng, klasik terdengar. Jam 06.45. Waktunya imtaq sampe jam 07.00. Petugas imtaq masuk. Kak Faldi.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh…” sapanya. Anak-anak koor menjawab.

“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan berjuta nikmat kepada kita semua, sehingga kita masih bisa merasakan sinar matahari pagi ini dan bisa bertemu, berkumpul, saling menyapa dengan teman-teman. Shalawat serta salam juga sudah seharusnya kita sampaikan kepada Rasulullah saw. karena telah mengenalkan Allah kepada dunia. Imtaq kali ini saya mau ngomongin tentang seekor hewan. Mmm…antum tau kucing?” tanyanya retoris. Bisik-bisik di belakangku terdengar.

“Kucing itu yang buat ngedenger ‘kan?” Kuping kali…

“Bukan, kucing itu kalo sakit kepala.” Itu pusing.

“Ngaco lo…kucing itu nama warna.” Ih, itu mah kuning…

“Eh, gue kasih tau, ya, kucing itu yang bulet-bulet yang ada di baju.” Grrh…

“Heh, bisa diem nggak sih lo berdua? Gue bilangin ya, kucing itu yang mengembik…! Puas lo?!” Isya menegur Ahmad dan Faris yang dari tadi bisik-bisik. Tentunya teguran Isya dengan bisik-bisik juga.

“Nah…itu dia jawabannya… Tuh, denger, Ris, Isya aja tau…” kata Ahmad. Aku terkikik. Isya menggeram kesal.

Kak Faldi meneruskan imtaqnya. Aku tidak begitu jelas mendengarkan. Sibuk ngapalin sosiologi. Abis, dua kali ulangan kena her terus. Sedikit yang aku tangkap, bahwa kucing adalah hewan kesayangan Rasul. Bahkan ada sahabat yang dipanggil Abu Hurairah oleh Rasul, yang artinya Bapak Kucing Kecil. Selebihnya, yang aku ingat adalah faktor-faktor yang menentukan kepribadian, pengertian pembentukan kepribadian menurut Theodore M. Newcomb, contoh pembentukan kepribadian, dan doa supaya ulangan sosiologiku berjalan dengan lancar…

* * *

“Kucingku sakit nih, Fa.” kata Isya. Isya itu suka sama kucing. Ia memelihara 6 ekor kucing di rumahnya. Nggak repot apa, ya?

“Sakit apa?”

“Nggak tau, kemaren dia batuk-batuk sama bersin-bersin gitu deh…”

“Di bawa ke dokter nggak?”

“Nggak ada dokter hewan di deket rumah.”

“Dokter biasa aja…”

“Ih…ngaco!”

“He..he.. Trus gimana dong?”

“Aku kasih Biogesic…”

“Hah…?! Astaghfirullah…kucing kamu kasih Biogesic? Nggak keracunan tuh kucing?”

“Ngg…nggak juga sih…udah biasa kok. Biogesicnya diancurin dulu, dijadiin puyer, baru diminumin…”

“Ya ampun…Isya…”

* * *

Sebelumnya aku tidak begitu peduli dengan hewan yang satu ini. Tapi sekarang aku mulai memikirkan hal-hal tentang hewan ini.

Kemarin aku shalat Ashar di masjid sekolah. Biasalah…ada rapat. Jadi pulangnya sore.

Hijab hijau yang membatasi ikhwan-akhwat terbuka sedikit. Memperlihatkan sesuatu yang agak membuatku berdebar. Wah…jangan mikir yang macem-macem dulu… Bukan ikhwan kok yang aku liat, tapi seekor kucing yang lagi pe-we (posisi wenak) tidur di bawah kursi yang biasa diduduki oleh Pak Burhan kalo lagi ngajar TPA.

Hm…sebenarnya tidak terlalu istimewa, mungkin. Tapi itu membuat aku sedikit tersentak. Subhanallah…apakah kucing itu hewan yang paling diistimewakan? Di samping predikatnya sebagai hewan kesayangan Rasul. Hewan mana yang boleh atau tepatnya dibiarkan untuk memasuki masjid, selain cicak, kecoa, nyamuk, dkk tentunya.

Nggak bermaksud untuk menjelek-jelekkan atau pilih kasih terhadap hewan lain nih… Coba kalau ayam, pasti langsung diusir. Anjing, uh…innalillahi deh… Macan (yang mirip-mirip sama kucing), pasti kitanya yang lari duluan sebelum sempat untuk ngusir.

Bahkan menurut cerita yang pernah aku dengar, Rasul membiarkan seekor kucing yang sedang tidur di atas sajadahnya. Wah…enak banget… Jadi ngiri deh sama tuh kucing…

Itulah…seakan-akan kucing seperti hewan yang terhormat kedudukannya di antara hewan lain.

Beberapa hari ini ada tamu tak diundang masuk ke kelasku. Si ‘Slonong-boy’ itu (eh, boy apa girl, ya…?) suka masuk ke kelas tanpa permisi bahkan assalamualaikum sekalipun. Ya…nggak papa sih, dimaklumin. Kalo dia ngucapin salam mungkin malah justru suasananya jadi horror. Lha wong dia itu kucing!

Masih kecil. Lucu. Bulunya coklat kekuningan. Sedikit kurus, tapi. Dan yang pasti, nggak jelas asal usulnya. Nggak punya KTP sih…jadi susah deh mengidentifikasinya. Pertama kali kelas dikejutkan oleh teriakan histeris Anggi saat pelajaran Geografi. Lagi ulangan pula. So pasti anak-anak pada kaget. Konsentarasinya buyar. Iya lah, pas lagi asyik-asyiknya nyontek and ngebet…

“Ada apa, Anggi? Ada masalah?” tanya Bu Rifa. Anggi menggeleng. Telunjuknya mengarah pada makhluk Allah yang berbulu itu.

Anak-anak memaklumi. Anggi emang phobia sama kucing. Membuat pencinta kucing terheran-heran. Hewan imut gitu kok ditakutin…?

“Lucu, ya, kucingnya…” kataku sambil mengelus-elus kucing itu.

“Nggak ah…jelek. Kurus begitu…” kata Isya. Wah…tumben dia ngejek kucing. Ternyata biarpun pencinta kucing, Isya ini tetep milih-milih juga…

“Awas, Tifa… kucing membawa sporozoa di tubuhnya. Namanya Toksoplasma gondii. Penyakitnya namanya toksoplasmosis. Bisa ngegugurin janin yang dikandung ibu hamil…” kata Anggi sambil bisik-bisik. Mungkin takut kedengeran sama KFC (Kucing Fans Club).

“Tapi aku ‘kan nggak lagi hamil, Nggi…” kataku sambil tersenyum.

“Cuma ngingetin…” kata Anggi masih sambil bisik-bisik.

Lambat laun kami membiarkan anak kucing itu keluar masuk kelas sesukanya. Asal nggak pada jam istirahat aja. Soalnya kita semua lagi pada makan. Apalagi kalo makannya sama ayam, eh, maksudnya lauknya dengan ayam. Wah…bisa saingan sama kucing. Kayak tadi, Halim sama Faris lagi makan. Dengan sigap kucing itu melompat ke kursi, lalu ke atas meja mendekati mereka. Berkali-kali Irfan mencoba mengeluarkan kucing itu, tapi dia balik lagi. Dan dengan tega Halim menunjukkan dasar sepatunya tepat di depan wajah kucing itu. Untung tuh kucing nggak pingsan nyium sepatunya Halim. Tapi akhirnya ia memberikan sepotong daging ayam bagian sayap kepada kucing itu. Faris ngedumel.

“Pilih kasih lo! Tadi gua minta tuh ayam nggak dikasih. Sekarang malah lo kasih sama kucing dengan cuma-cuma…”

“Kalo mau, rebutan gih sana sama tuh kucing. Kalo lo jantan, hadepin sendiri… Sama anak kucing aja ngiri…”

Ngeliat kucing itu, aku jadi inget Sruntul. Dulu, waktu rumahku belum direnovasi, ada seekor kucing yang suka keluar masuk rumah. Masuk lewat pintu depan, keluar lewat halaman belakang. Lucunya, kucing itu ‘cuek beybeh’ kalo masuk rumahku. Karena nggak ngegratak, jadi kami biarin aja. Dikasih nama Sruntul oleh ayah, ya, itu tadi. Ceuk urang Sunda mah, suka nyruntul…

Sekarang udah nggak keliatan lagi. Kata ibu, mungkin akibat rumah direnovasi. Jadi Sruntul keder mau lewat mana dia keluar.

* * *

Hari Rabu. Habis istirahat pertama.

Lonceng tanda istirahat selesai berbunyi 10 second yang lalu. Tapi anak-anak di kelasku sudah siap di tempatnya masing-masing. Buku fisika yang tebelnya 419 halaman ready di atas meja. Menunggu empunya membuka.

Sekarang pelajaran fisika. Pelajaran anggota mafia (Tau ‘kan…? Matematika, fisika, kimia…) ini emang bagaikan hantu. Menakutkan. Ditambah lagi gurunya yang sama sekali nggak mendukung. Maksudnya, udah pelajarannya syerem, yang ngajarinnya juga syerem. Aku sempat berpikir, kayaknya cuma pada saat pelajaran fisika aja deh kelasku bisa menjadi hening. Bahkan, mau menggerakkan badan sedikiiit…aja, nggak berani. Wah…hiperbol, ya?

Pak Wira masuk ke kelas. Anak-anak lebih suka memanggilnya Pe-We (singkatan dari Pak Wira). Beberapa orang menahan napas. Sebenarnya Pak Wira ini baik. Kalau di luar kelas enak diajak ngobrol. Lucu dan santai. Tapi kalau udah masuk kelas, wuih…jangan coba-coba.

Pelajaran berlangsung seperti biasa. Pak Wira berdiri di pintu menunggu muridnya mencatat. Tiba-tiba terdengar sedikit gaduh di belakang. Aku menoleh. Oh…ternyata cuma kucing. Anak-anak kembali tenang. Dengan santai kucing itu melenggok menuju depan kelas. Lalu berjalan menuju pintu. Tanpa disangka tanpa diduga, Pak Wira mengambil kucing itu dan…tuiing…kucing itu mendarat dengan –tidak- selamat di atas rumput. Terdengar pekikan kecil. Ada beberapa juga yang menutup wajahnya.

Aku bengong. Sadis. Pak Wira menendang kucing itu dengan sangat sempurna…! Aku terus beristighfar dalam hati. Sungguh teganya…

Besoknya ada tebak-tebakkan di kelasku.

“Kucing apa yang bisa terbang…?”

“Kucing yang ditendang Pe-We…!!!”

Aku geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Hi..hi..ada-ada aja…

* * *

Ada satu hal yang berhubungan dengan kucing dan mungkin nggak akan pernah aku lupakan.

Kisah ini dimulai saat aku SMP. Kamarku terletak di atas. Di sebelahnya tempat jemuran dan atap rumah tetangga. Aku tahu, di atap rumah tetanggaku itu ada sebuah keluarga bahagia yang terdiri dari seekor ibu kucing dan lima anaknya yang manis-manis dan lucu-lucu. Kalo aku pikir, kayaknya sih ibu kucing itu nggak KB. Soalnya aku perhatiin, tiap bulan pasti ngelahirin anak.

Nah, ceritanya…aku mau mengabadikan keluarga bahagia itu dengan kamera yang aku punya. Pas aku mengendap-endap bak paparazzi, kebetulan banget ibu kucing itu lagi ngasih ASIK (Air Susu Ibu Kucing) sama anak-anaknya. Nggak semuanya sih, soalnya ada beberapa yang main-main.

Aku sempat terkesima juga. Keluarga yang harmonis…

Aku membidikkan kamera dan…JEPRET! Ibu kucing itu nengok, dan…menyeringai! Padahal aku yakin blitznya nggak dinyalain. Ngeliat itu, jantungku berdetak delapan belas kali lebih cepat. Aku segera masuk kamar. Kukunci pintu dan jendela seolah aku adalah buronan yang sedang dikejar dua ratus polisi. Aku beristghfar dalam hati. Kakiku lemas. Kuintip jendela, masya Allah…ibu kucing itu mencariku! Ia celingak-celinguk dengan wajahnya yang penuh amarah dan suara mengeong yang terdengar begitu menyeramkan di telingaku.

Aku menenangkan diri dengan menonton TV. Aku nggak tau, kok ibu kucing itu sebegitu marahnya, ya? Aku salah apa…?

Aku masih mendengar ia mengeong. Kok kayaknya begitu dekat, ya? Aku menajamkan telingaku. Iya, kayaknya ibu kucing itu masih mencariku. Kalo nyari aku buat minta klise fotonya sih nggak papa (siapa tau buat dipajang di rumahnya…), tapi kalo buat menerkamku? Hi…nggak banget deh…

Aduh, gimana nih, suara itu semakin dekat. Aku mengalihkan pandanganku ke teralis jendela dekat kamar mandi. Innalillahi…kepala ibu kucing itu nongol di antara teralis sambil menyeringai! Aku langsung menutup pintu yang membatasi kamarku dengan kamar mandi. Allah…aku benar-benar takut pada saat itu. Aku takut kucing itu melompat dan menerkamku. Kalo kucing marah ‘kan nggak bisa diajak kompromi…

Kubuka pintu itu sedikit. Ia masih di sana…!

“Ibu kucing…maap deh… Tifa ‘kan nggak bermaksud mencelakakan ibu dan anak ibu… Tifa cuma ngambil foto kalian. Tifa nggak bermaksud ngagetin kalian…sungguh! Ibu kucing jangan marah, ya… Tifa minta maaf… Allah…tolong Tifa dong… Ibu kucing jangan nyakar Tifa… Maaf, ya…” aku menatap ibu kucing itu sambil memelas minta dikasihani. Nggak peduli dia ngerti apa nggak. Kemudian aku lari ke bawah. Kututup pintu depan. Takut kalo kucing itu masuk lewat sana.

“Ada apa, sih, De…?” Tanya Tante Ella. Mungkin bingung ngeliat sikapku seperti orang ketakutan. Aku menceritakan kejadiannya kepada Tante Ella. Eh, bukannya kasihan, malah tertawa.

“Makanya…jangan iseng sama kucing…”

“Tifa nggak iseng kok. Cuma ada misunderstanding aja antara aku sama ibu kucing itu…” kataku masih dengan lutut yang gemetar. Tante Ella tertawa. Huh…coba kalo ngalamin sendiri. Dan ketakutan itu berlangsung selama…dua minggu!

Hii…serem nggak sih? Seolah bayangan ibu kucing yang marah itu selalu menghantuiku.

“Udah…kirimin aja pengalaman kamu itu ke produser film. Biar dijadiin film horror. Ceritanya tentang orang yang selalu dikejar-kejar kucing yang menyeramkan, trus kucing itu menemukannya dan menjadikannya korban…” kata ibu sambil tertawa. Ih…nggak lucu deh… Tapi boljug tuh…siapa tau diterima trus dapet honor, he..he.. Sukur-sukur ditawarin jadi pemain. Tapi, uh…no way…!

Satu yang dapat aku ambil dari kejadian itu. Bahwa sosok ibu, entah manusia entah hewan, adalah sama: melindungi buah hatinya. Ibu kucing itu begitu marah melihatku ‘melakukan sesuatu’ kepada mereka. Ia pikir, perbuatanku itu menganggunya dan membahayakan anaknya. Tidak salah memang. Karena itulah ibu. Rasa sayang kepada anaknya membuat ia rela melakukan apa saja dan berkorban demi buah hatinya.

Aku ingat pepatah: sebuas-buasnya harimau, tidak akan memakan anaknya sendiri. Lalu aku pun memikirkan ‘para ibu’ yang tega menggugurkan anaknya, atau lebih parahnya, membunuh. Tidakkah mereka memiliki perasaan? Dapatkah aku menyamainya dengan seekor kucing? Bahkan seharusnya tidak. Karena seekor ibu kucing pun memiliki nurani. Lalu, salahkah aku bila menganggap mereka lebih rendah dari kucing?

Entahlah…yang jelas, sosok kucing sedang menyita perhatianku. Kucing yang selalu merasa bersalah bila dimarahi gara-gara mencuri ikan. Kucing yang selalu manja minta dielus. Kucing yang tidak pernah cidera walau ia melompat dari tingkat tiga. Kucing yang kadang-kadang suka bandel mencuri makanan. Kucing yang suka usil sekaligus bodoh kayak Tom di film khayal Tom & Jerry. Kucing yang nggak pernah muda karena sejak lahir udah tumbuh kumis di hidungnya, he..he..

Dan aku penasaran dengan kisah Abu Hurairah itu. Aku juga penasaran, kenapa kucing mengeong dan takut air, ya…?

* * * *
3 Mei ‘04

Jazakillah bwt irman smansasi, kansas, heavener’s. Tetap semangat…!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar