Selasa, 09 November 2010

karena kau tidak harus mengatakan semuanya

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Tulisan di bawah ini merupakan salah satu tulisan M.Anis Matta dalam bukunya ‘Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga’, kumpulan tulisan Kolom Ayah di majalah Ummi. Isinya memang berkisah masalah rumah tangga, tapi saya rasa ini cukup penting dan relevan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari (bagi yang belum berumah tangga); dalam berorganisasi, dalam berukhuwah, dalam berda’wah.

Semoga bermanfaat… ^^

Karena Kau Tidak Harus Mengatakan Semuanya
Oleh: M. Anis Matta

Pria itu mungkin tidak pernah menyangka bahwa gangguan dalam hubungan keluarganya justru akan datang dari keterusterangannya. Tapi seorang konsultan keluarga di New York, DR.Norma Lankstar, menceritakan pengalamannya menghadapi berbagai macam klien selama lebih dari sepuluh tahun.

Pria yang ia ceritakan itu adalah seorang akademisi yang menduduki posisi sangat prestisius di sebuah perguruan tinggi Amerika. Cerita kasusnya seperti ini; Ia menikah dengan teman kuliahnya yang cerdas, dewasa, dan penuh pengertian. Untuk alasan-alasan inilah mereka Bergua bersepakat untuk saling berterus terang dan tidak boleh menyembunyikan secuil pun dari rahasia dan masalah pribadi mereka. Dengan sikap proaktif ia mulai menceritakan masa lalunya. Misalnya, cerita tentang masa-masa pertumbuhnnya di tengah keluarga yang kurang harmonis. Ayahnya adalah seorang suami yang dominan dan cenderung otoriter. Sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang lemah.

Cerita itu rupanya terekam dengan baik dalam benak istrinya. Beberapa waktu setelah perkawinan berlalu, mulailah pertengkaran-pertengkaran kecil meriak dalam hubungan mereka. Hanya inilah masalahnya. Setiap kali mereka konflik, istrinya selalu mengatakan begini; “Kamu persis sama dengan ayahmu, kamu benar-benar mewarisi sifatnya yang suka menguasai orang lain.”

Perlahan-lahan kalimat itu mulai melukai perasaannya. Setiap kali istrinya mengucapkan kalimat itu, setiap itu ia selalu merasa terluka dan tertohok. Ia hanya bisa menyadari pada akhirnya; “Semestinya ia tidak perlu berterus terang sampai sejauh itu.”

Agaknya ini memang bukan sekedar kasus perseorangan. DR.Kinneth dari Pusat Seni dan Ilmu Komunikasi Kemanusiaan di Amerika Serikat juga memperkuat hal itu dari hasil penelitiannya. Penelitian yang dilakukan atas 184 pasangan suami istri dan berlangsung selama setahun penuh menunjukkan bahwa keterusterangan mutlak itu tidak sesuai dengan hampir semua pasangan suami istri itu.

DR.Kinneth juga mengingatkan bahwa semua keterusterangan yang terkait dengan perasaan-perasaan yang temporal dan cenderung berubah-ubah akan sangat berbahaya. Karena perasaan-perasaan itu cepat berubah sehingga keterusterangan tentang itu juga akan merugikan. Pernyataan ini tidak bermaksud menjadikan masing-masing pasangan itu menjadi introvert dan tiba-tiba diam membisu. Yang dimaksud adalah bahwa masing-masing harus realistis melihat situasi. Sebab, sekarang rasanya tidak mungkin membebankan semua perasaan kita kepada pasangan kita. Untuk itu kita perlu membedakan antara amarah dan keterusterangan.

Mengatakan sesuatu yang bukan perasaan Anda, itulah kebohongan. Tapi inilah jenis kebohongan yang dibolehkan dalam Islam sejak lebih dari 14 abad yang lalu. Simaklah sabda Rasulullah saw. berikut ini:
“Dari Ummu Kaltsum binti Uqbah, ia berkata; “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah saw. membolehkan kebohongan sedikitpun juga, melainkan hanya dalam tiga perlara; seseorang berbohong untuk tujuan melakukan ishlah (perbaikan atau perdamaian), seseorang yang berbohong dalam peperangan, dan seorang pria yang berbohong pada istrinya dan seorang wanita yang berbohong pada suaminya.” (HR.Muslim)

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab juga pernah terjadi kasus yang unik. Seorang lelaki pada masa itu sering memaksa istri-istrinya untuk meminta cerai karena permintaan istri itu mengharuskan mereka membayar kembali mahar yang pernah diberikan suami. Dan ini jelas suatu kezhaliman. Lelaki itu bernama Ibnu Abi Zur’ah Al-Duali.

Cerita itu segera saja berkembang jadi gosip besar di kalangan wanita. Tapi, ternyata Ibnu Abi Zur’ah tidak suka dengan konsep itu. Akhirnya suatu saat ia mengajak Abdullah bin Al-Arqam ke rumahnya. Kemudian ia memanggil istrinya dan bertanya kepadanya; “Atas nama Allah aku bertanya kepadamu, apakah engkau membenciku?” Istrinya menjawab; “Jangan memaksaku bersumpah atas nama Allah.” Tapi Ibnu Abi Zur’ah tetap memaksa istrinya untuk menjawab dengan sumpah. Akhirnya istrinya menjawab juga; “Ya, benar. Aku membencimu.”

Kemudian Ibnu Abi Zur’ah datang menghadap Umar bin Khattab dan mengatakan; “Kalian para wanita memperbincangkan diriku yang suka menzhalimi wanita. Maka tanyakanlah hal itu kepada Abdullah bin Al-Arqam.” Ketika Ibnul Arqam ditanya tentang hal itu, ia pun menceritakan masalah yang sebenarnya. Maka Umar pun memanggil istri Abu Zur’ah yang kemudian benar-benar datang bersama pamannya.

Kepada istri Ibnu Abi Zur’ah, Umar bertanya; “Apakah benar engkau mengatakan bahwa engkau membenci suamimu?” Wanita itu menjawab, “Akulah orang pertama yang bertaubat dan kembali lepada perintah Allah. Tapi dia yang memaksaku bersumpah atas nama Allah hingga aku jadi riskan berbohong. Apakah aku boleh berbohong wahai Amirul Mukminin?” Maka Umar menjawab, “Ya, berbohonglah! Dan jika seseorang di antara kalian (para istri) tidak menyukai salah seorang dari kami (para suami), janganlah ia mengatakan itu (terus terang) kepadanya. Sebab, keluarga yang paling minimum adalah yang dibangun di atas dasar cinta, akan tetapi manusia tetap saling berhubungan dengan dasar Islam dan hubungan kekeluargaan.”

Persoalan ini memang jadi sedikit rumit. Bayangkan bahwa Anda harus mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak Anda rasakan. Tapi sesungguhnya Islam ingin mengajarkan lepada kita tentang prioritas-prioritas kehidupan. Bahwa keutuhan keluarga tetaplah lebih utama dan lebih penting dari sekedar melegakan hati dengan melepas semua perasaannya jadi kata.

Maka ketika kita merasakan sesuatu yang rasanya kurang enak untuk diperdengarkan, seperti rasa jengkel, mangkel dan semacamnya, itulah saatnya kita perlu belajar basa-basi. Yaitu belajar tersenyum ria saat marah, belajar bermesraan saat dongkol, belajar menyatakan cinta saat benci, belajar memeluk saat kita ingin memukul, belajar mencium saat kita ingin membentak.

Kelihatannya itu merupakan pelajaran yang agak sulit. Karena yang kita pelajari sesungguhnya adalah bagaimana memutar balik perasaan, mencegahnya di tenggorokan agar ia tidak sampai jadi kata, atau merubah rona wajah, atau merubah warna mata. Tapi, hasilnya jelas akan lebih enak. Dan enaknya biasanya berjangka panjang.

Kalau ada seni bergaul yang paling rumit dalam kehidupan keluarga, mungkin inilah babnya. Tapi, bab ini dalam buku kehidupan adalah juga yang paling penting. Karena langit kehidupan tak selalu cerah. Karena kenyataan hidup tak selalu manis. Tapi, kita tetap punya peluang untuk memanipulasinya; kalau bukan dalam kenyataan yang sebenarnya, minimal dalam situasi jiwa kita. Dan ini akan membantu kita meringankan beban hidup. Sebab, tentulah sayang dalam basa-basi masih lebih baik dari cerai beneran.

Wallaahua’lam bishshawwab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar