Tampilkan postingan dengan label pernikahan dalam wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pernikahan dalam wacana. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Februari 2011

tentang kimia jiwa

bismillaahirrahmaanirrahiim...
tulisan ini saya ambil dari sebuah blog Bersama Dakwah.. hmm.. menarik..
---
Bukan Pernikahan Tanpa Cinta
Hari itu, kira-kira pertengahan antara khitbah dan walimah. Seorang ikhwah menemui saya dan mengatakan: "Akhi, perasaan ana berubah." Sepintas saya agak khawatir. Saya sudah menebak kalau ini berkaitan erat dengan rencana pernikahannya. Namun saya tidak mau larut dalam detik-detik ketidakjelasan. "Berubah bagaimana maksud antum?"

Ikhwah ini menghela nafas. Sepertinya akan ada jawaban hebat yang akan keluar dari lisannya dan dipersaksikan kepada dunia. "Ana mulai mencintainya" Alhamdulillah... Plong! Betapa bahagianya mendengar penuturan itu.

Pernikahan Islami memang unik. Ada tantangan tersendiri bersamaan dengan kesucian jalannya. Islam tidak memperbolehkan pacaran. Sementara menurut penganutnya, pacaran dianggap sebagai jalan untuk menjalin kedekatan dan penjajakan hingga kecocokan tercipta sebelum pernikahan. Logikanya, jika kecocokan telah terjalin dan kepastian cinta didapatkan, keduanya bisa mengarungi bahtera rumah tangga dengan lebih mudah dan harmonis. Pernikahan, dengan demikian, bukan lagi upaya coba-coba karena hanya melanjutkan proses yang telah dijalani sebelumnya.

Namun, argumen ini semakin terbantahkan. Lihatlah, betapa banyaknya suami istri yang bercerai bahkan di usia muda pernikahan mereka padahal mereka telah lama berpacaran. Usia pernikahan tidak lebih lama dari usia pacarannya. Apalagi para artis, masya Allah banyaknya kasus mereka! Mengapa? Karena pacaran tidak sama dengan pernikahan. Pacaran tidak bisa diidentikkan seperti on the job training pada pekerjaan sebenarnya bernama keluarga.

Sebab lainnya terletak pada motif. Mengapa pernikahan Islami yang tanpa pacaran justru bertahan lama. Pun dengan pernikahan orangtua-orangtua kita yang tanpa pacaran? Motif mereka –insya Allah- adalah motif yang suci, bukan motif fisikal atau seksual semata. Motif terakhir ini yang sering mendominasi saat pacaran dan pernikahan yang mengakhirinya.

Tanpa pacaran, bukan berarti Islam mengabaikan cinta saat pernikahan. Ketiadaan cinta bisa menjadi sebab perceraian. Lihatlah misalnya pengaduan istri Qais bin Tsabit yang diriwayatkan Imam Bukhari berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتِ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتُبُ عَلَيْهِ فِى خُلُقٍ وَلاَ دِينٍ ، وَلَكِنِّى أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِى الإِسْلاَمِ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ . قَالَتْ نَعَمْ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - اقْبَلِ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً

Dari Ibnu Abbas RA, bahwasannya istri Qais bin Tsabit datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Ya Rasulullah, Tsabit bin Qais, aku tidak mencela agama dan akhlaknya, akan tetapi aku tidak ingin kafir (karena durhaka pada suami) setelah aku masuk Islam.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu bersedia mengembalikan kebunnya (yang ia berikan sebagai mahar)?.” Dia menjawab: “Ya”. Maka Nabi bersabda (kepada Qais): “Terimalah kebun itu dan ceraikanlah ia dengan thalaq satu”. (HR. Bukhari)

Rumah tangga Qais tidak bertahan lama karena istrinya tidak mencintainya. Sebelumnya, si istri memang belum pernah bertemu dengan Qais. Begitu menikah dan mengetahui suaminya –yang digambarkan hitam dan jelek- Qais tidak bisa menerima. Maka, hadits di atas menjadi akhir perjalanan rumah tangga mereka.

Sekali lagi, Islam tidak mengabaikan cinta. Namun... jangan salah paham di sini. Cinta yang dimaksud sebagai bekal pernikahan bukanlah cinta yang mengurat nadi seperti dua insan yang berpacaran. Apalagi seperti Qais dan Laila atau Romeo dan Juliet. Cukuplah jika ada chemistry (kimia jiwa) saat melihat calon suami atau calon istri. Itu semacam getar-getar jiwa ketika melihatnya. Dalam Islam, ini difasilitasi oleh forum yang disebut nadhar. Yakni saat calon suami dan calon istri dipertemukan terlebih dahulu agar bisa saling melihat dan menemukan "kecocokan" di sana. Tentu yang boleh dilihat saat itu adalah bukan aurat: hanya wajah dan telapak tangan. Kata Imam Syafi'i, "Dari wajah engkau bisa melihat seseorang itu cantik atau tidak, dari telapak tangan engkau bisa melihat gemuk atau kurusnya." Jika sekarang ada istilah ta'aruf, barangkali itu adalah bentuk lain nadhar yang ada dalam hadits Nabi.

Keterpautan jiwa seperti itu perlu dimiliki oleh kedua insan yang akan melangsungkan pernikahan. Adapun cinta yang lebih dalam, ia akan berkembang sejalan dengan hari-hari yang dilalui bersama oleh keduanya kelak. Jika hadits Istri Qais mengajarkan ketiadaan rasa suka bisa menyiksa jiwa dan mengakhiri ikatan rumah tangga, sesungguhnya pernikahan memerlukan modal awal kimia jiwa itu; sebagai tunas cinta yang akan menjulang mengangkasa. "Jauh sebelum cinta menjelma menjadi pertemuan dua fisik," kata Anis Matta dalam
Serial Cinta, "ia terlebih dahulu bertaut di alam jiwa. Jika ada pertemuan fisik yang tidak didahului oleh pertemuan jiwa itu bukanlah cinta."

Lalu bagaimana dengan suami istri yang ketika menikah dulu jiwanya begitu datar kecuali karena adanya dorongan suci mengikuti sunnah Nabi? Tenang. Sebab cinta merupakan kata kerja, maka ia bisa dibangun pada ruang datar jiwa sekalipun. Asalkan tidak seekstrim Istri Qais, ketidaksukannya. "Bahwa cinta bukanlah gejolak hati yang datang sendiri melihat paras ayu atau jenggot rapi," kata Salim A. Fillah dalam
Jalan Cinta para Pejuang. "Bahwa, sebagaimana cinta kepada Allah yang tak serta merta mengisi hati kita, setiap cinta memang harus diupayakan. Dengan kerja, dengan pengorbanan, dengan air mata, dan bahkan darah."

Saya tidak tahu bagaimana upaya ikhwah yang saya ceritakan di awal tulisan ini untuk mengubah hatinya menjadi cinta. Satu yang pasti, cinta yang tumbuh tepat pada waktunya adalah karunia Ilahi yang patut disyukuri. Mungkin ada kimia jiwa saat keduanya dipertemukan dalam ta'aruf. Apapun, pada ikhwah itu yang kini telah merasakan bahagianya merayakan cinta –dan juga bagi Anda semua yang menapaki jalan sama- terlantun sebuah doa: Baarakallaahu laka, wa baaraka 'alaika, wa jama'a bainakumaa fii khair. [Muchlisin]
---
saya jadi teringat kata-kata ibu saya, "Ya Allah, Engkau tahu kemana getar hati ini mengarah..dan rahmatMu lah yang menetapkannya..." :)

Rabu, 22 Desember 2010

penuturan seorang istri

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah; Tuhan yang memiliki segala keindahan dan kesempuranaan hakiki, yang telah menghamparkan cinta dan kasih sayang di antara para kekasih.
Menikah... Sepertinya indah dan penuh bunga-bunga harapan. Memulai hidup berdua dengan seseorang yang (akan) kita cintai sepenuh hati, membingkai ibadah dalam sebuah rumah tangga... Ah, betapa keindahan yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. Siapapun akan segera membayangkan kebahagiaan begitu berpikir tentang pernikahan dan rumah tangga. Demikian pula saya.
Tetapi, menikah juga menyiratkan segurat kekhawatiran. Mungkinkah ada seseorang yang ‘tepat’ bagi saya? Bukan hanya tepat dalam pandangan fisik dan duniawi, tetapi tepat dalam semangat dan cita-cita untuk senantiasa produktif berkarya bagi umat. Meski samar dan tersembunyi, dalam lubuk hati tetaplah ada kegelisahan dan pergolakan.
Perasaan demikian tentulah menghinggapi setiap gadis, sebelum akhirnya ia ‘sekadar’ menganggukkan kepala atas proposal pembentukan organisasi kecil bernama rumah tangga. Mengingat separuh agama akan dipertaruhkan dalam ikatan itu, menikah benar-benar keputusan besar yang akan mengubah hidup seseorang. Jika Anda seorang perempuan, Anda harus rela membuka ruang intervensi yang mengganggu ‘kemerdekaan’ Anda selama ini. Sebab, tiba-tiba ada seseorang yang berhak untuk menanyakan ke mana Anda akan pergi. Bahkan, ia bukan saja bertanya, tapi juga menyuruh atau melarang. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang berhak tahu tentang segala sesuatu tentang diri Anda; luar dalam, hingga ke emosi dan perasaan Anda. Sepertinya agak seram, ya...
Oleh karena itu, saya serius menimbang-nimbang, saat merasa telah siap menikah. Siapakah lelaki calon suami saya kelak? Dari kalangan manakah saya akan memberikan hak dan kepercayaan itu? Dunia macam apa yang telah, sedang, dan akan dilalui calon suami saya? Sebenarnya, saya belum memiliki ‘daftar’ calon suami, kendati usia telah mencapai angka 23 waktu itu.
Sungguh, saya menginginkan, bertemu calon suami dalam rentang sajadah yang indah; di jalan dakwah...
Malam demi malam saya bermunajat kepada Allah, sekiranya Ia menakdirkan harapan-harapan menjadi kenyataan. Berpuasa Senin Kamis, juga puasa Daud biasa saya lakukan sejak masa sekolah menengah sampai kuliah untuk menjernihkan bashirah mata hati dari kilau dunia dan bujuk rayunya. Semoga saja Allah mengabulkannya berupa kemantapan hati pada saat bersua dengan seorang yang tepat bagi saya. Alhamdulillah, jawaban itu datang juga. Ketika itu, setengah tidak percaya saya mengiyakan untuk menerima seorang pemuda sederhana dengan mimpi-mimpi ‘besarnya’ (yang belum diceritakan pada saya waktu itu).
Sungguh, ketika datang ke rumah orang tua saya pertama kali pada tahun 1991 untuk melamar saya, beliau hanyalah seorang pemuda bertubuh kurus dan belum menyelesaikan kuliah. Beliau hanya mengenakan kaus T-shirt dan bersandal jepit. Ia datang seorang diri menemui orang tua saya dan sangat percaya diri meminang saya. Beliau tampak polos sekali. Hal yang kelihatan darinya hanyalah semangat juang yang tinggi, keikhlasan untuk melakukan kebaikan, dan kesederhanaan dalam penampilan.
Saya bisa memberikan kepercayaan kepada beliau untuk menjadi pemimpin dalam hidup saya, karena saya meyakini keikhlasan dan kesungguhannya. Bukan karena kekayaan, harta, atau kedudukan duniawi yang beliau bawa, tetapi semangat memperbaiki diri dan umat, juga keyakinan diri yang terpancar kuat dari berbagai kegiatan yang dilakukannya. Saya pun merasa tenang dengan kebaikan dirinya.
Pembaca terhormat, pernikahan adalah sebuah fase dalam kehidupan manusia. Pernikahan bukanlah terminal akhir, bahkan ia menjadi awal bagi sebuah proses perubahan. Artinya, janganlah Anda berharap akan menemukan seseorang dengan segala sifat kesempurnaan sesuai idealitas yang Anda bangun. Bahkan, jika Anda agak lambat mendapat pencerahan, proses inqilab (perubahan, pembalikan) menuju kebaikan, bisa saja dimulai setelah beberapa waktu pernikahan berjalan. Tak ada kata terlambat. Hanya saja jika salah pilih, proses itu akan berjalan lambat, stagnan, atau bahkan bergeser dari arah kebaikan.
Saya ingin menegaskan ini untuk mengingatkan Anda yang bersikap perfect dan menginginkan kesempurnaan calon pasangan. Seorang gadis (akhawat) Muslimah datang berkonsultasi kepada saya, setelah belasan lelaki melamarnya, dan tak satu pun yang sesuai kriteria harapannya. Saya pun memberikan nasihat dengan cerita masa lalu saya.
“Jangan bayangkan Pak Cah (panggilan akrab suami saya, Cahyadi Takariawan) tahun 1991 ketika melamar saya, adalah Pak Cah yang Anda lihat sekarang ini, dengan segala kelebihan dan kematangannya. Dulu, beliau hanyalah seorang pemuda yang bersemangat untuk berbuat kebaikan dengan segala kesederhanaan dan keluguannya. Kemudian kami bersama-sama saling membangun dan mengisi, membentuk sifat kesuamian atau keistrian dan kebapakan atau keibuan, mematangkan konsep dan pemikiran, mengasah ketrampilan dan mencoba mengaplikasikannya, serta bereksperimen tentang pola yang tepat dalam saling memotivasi dan seterusnya, dan seterusnya... Hingga kini, kami masih saja saling belajar, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan.”
Anda jangan hanya ingin ‘terima jadi’ bahwa seorang ikhwan yang ideal atau akhawat yang sempurna akan datang kepada Anda dan memenuhi segala kriteria yang Anda harapkan. Tetapi, Anda harus rela dan berani untuk bersama-sama membangun pribadi yang diharapkan. Selain itu, tidak hanya menerima kelebihannya, tapi juga kekurangan yang pasti ada padanya, sebagaimana juga ada pada Anda. Hal yang penting, Anda harus mantap bahwa ia yang terpilih adalah seseorang yang memiliki visi dan misi yang sama. Kalau toh belum, minimal memiliki itikad baik untuk membangun visi tersebut. Ummu Salamah adalah contoh perempuan unggul yang membuka ruang pencerahan bagi calon suaminya, Abu Thalhah. Sejarah pun mencatat bahwa Abu Thalhah yang tadinya belum Islam akhirnya menjadi seorang mujahid dakwah.
Modal utama untuk menjadi dinamisator perubahan pada pasangan adalah keyakinan diri, kesiapan untuk berubah, karakter yang kuat, dan keteladanan. Selain itu, ditambah dengan keterampilan mengomunikasikan ide (yang ini pun bisa saling dilatihkan kemudian). Apabila ada kesiapan dalam diri Anda untuk memberi dan menerima, saling berlomba dalam menunaikan kebajikan, dan siap berubah menuju tuntutan ideal maka Anda telah memiliki semua persyaratan untuk membangun rumah tangga yang harmonis.
Tentang penulis, alhamdulillah, Allah mengirimnya untuk saya. Saya tak ingin berlebihan mengungkapkan, hanya saja beliau memang menjadi inspirasi dan motivasi untuk berlomba dalam kebaikan dan membuat saya merasa menjadi istri yang istimewa di sisinya dari waktu ke waktu. Saya ingin senantiasa menemani beliau dalam langkah perjuangan yang tengah beliau tempuh, sejak mengenalnya hingga sekarang ini. Beliau adalah suami yang istimewa di mata saya. []

Sebuah pengantar yang ditulis oleh Ida Nur Laila, istri penulis (Cahyadi Takariawan) dalam buku Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah. Ia lahir di Yogyakarta, 19 Desember 1967. Menyelesaikan kuliah di Fakultas Farmasi UGM dan kini menjadi apoteker. Dalam kegiatan dakwah, ia mengelola beberapa Majelis Taklim. Bersama suami, sekarang mengelola Jogja Family Center (JFC).

Senin, 08 November 2010

menjadi shodiq setiap saat

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang benar, menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)

Dalam buku Tazkiyatun Nafs, Ustadz Sa’id Hawa menggambarkan pada kita proses untuk menjadi orang yang shodiq, orang yang benar. Prosesnya ada empat:

1. Shidqun Niyah
Artinya benar dalam niat. Benar dalam semburat pertama hasrat hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menepis syak dan riya’. Benar dalam menghapus sum’ah dan ‘ujub. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.

2. Shidqul ‘Azm
Artinya benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya. Benar dalam memancang target-target diri. Benar dalam pekik semangat. Benar dalam menemukan motivasi setiap kali. Benar dalam mengaktivasi potensi diri. Benar dalam memikirkan langkah-langkah pasti. Benar dalam memantapkan jiwa.

3. Shidqul Iltizam
Artinya benar dalam komitmen. Benar dalam menetapi rencana-rencana. Benar dalam melanggengkan semangat dan tekad. Benar dalam memegang teguh nilai-nilai. Benar dalam memaksa diri. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam menghadapi tantangan dan ancaman. Benar dalam mengistiqomahkan dzikir, fikir, dan ikhtiyar.

4. Shidqul ‘Amaal
Artinya benar dalam proses kerja. Benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak pagar-pagar Ilahi. Benar dalam cara. Benar dalam metode. Benar dalam langkah-langkah yang ditempuh. Benar dalam profesionalisme dan ihsannya amal. Benar dalam tiap gerak anggota badan.


Jikalau Ash Shidq berarti kebenaran, kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia.

[dikutip dari buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim karya Salim A. Fillah -- kalo kata beliau sih, "Nah, mari kita coba refleksikan proses menjadi orang benar ini dalam proses menuju pernikahan. Insyaallah dengan demikian keberkahan itu semakin mendekat." ^^]

watawaashowbil haq watawaashowbish shobr...semoga bermanfaat..

Sabtu, 04 September 2010

'siap jadi istri aktivis dakwah..!' atau 'siap jadi istri aktivis dakwah..?'

bismillaahirrahmaanirrahiim...
beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan artikel ini dari sebuah milis. sumber utamanya sih dari dakwatuna.com. artikel ini ditulis oleh dra. anis byarwati, m.si. judulnya "5 bekal istri aktivis dakwah". hmm...
karena waktu itu musim nikah di kampus (?), maksudnya banyak aktivis dakwah di kampus yang menikah, makanya saya copy paste dan saya tulis di note facebook. sekarang saya posting lagi karena bulan syawal ini udah ada waiting list yang harus dipenuhi undangan walimahannya (kapan giliran saya..? hohoho..).

let's see...

"dakwatuna.com – Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing."

nah lho...'bekalan standar' itu aja belom sepenuhnya saya kuasai...oke lah, bu..learning by doing 'kan..? hehe..

"Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:"

siiiaaapp...! mari kita pelajari...

"1. Bekalan yang Bersifat Pemahaman (fikrah)

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!"

hmm...ya, ya. saya teringat dengan kisah yang dipaparkan oleh ust. rahmat abdullah -semoga Allah merahmatinya-. tentang suami-istri aktivis dakwah yang baru menikah. ketika sang suami akan berangkat mengisi kajian keislaman, sang istri merajuk. bukannya tidak paham dengan tugas sang suami, tapi dorongan jiwa untuk terus bersama seakan menggerus kesadaran yang selama ini dimilikinya. tapi kemudian sang suami tersenyum dan bertutur pelan, "kita ini dipertemukan oleh Allah SWT dan kita menemukan cinta dalam dakwah. apakah pantas sesudah dakwah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan dakwah. saya cinta kamu dan kamu cinta saya, tapi kita pun cinta Allah." begitu kisah yang ditulis ust. rahmat. oke, siiipp...kata-kata sang suami tersebut akan saya pegang! ^^

"2. Bekalan yang Bersifat Ruhiyah

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita."

benar...bahkan sejak sebelum pernikahan itu terjadi, konektivitas kita denganNya harus terbangun. saya juga teringat akan diskusi (atau konsultasi?) masalah rumah tangga islami dengan seorang ustadzah. kata beliau, "dalam sebuah proses menuju ke sana (pernikahan-red.), semuanya memang tergantung kedekatan kita denganNya, urusannya hanya urusan kita dengan Dia. bahkan ukh, setelah berkeluarga pun, kalo ada masalah terjadi dalam rumah tangga, sebenarnya kita yang sedang bermasalah. pasti saat itu kita sedang jauh denganNya, amalan yaumiah kita sedang menurun, dan sebagainya. maka sebaiknya, kalo sedang ada masalah, curhat itu hanya dengan Allah! bener deh..." yah..begitulah kira-kira redaksi kalimatnya...

"3. Bekalan yang Bersifat Ma’nawiyah (mentalitas)

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu), dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!"

wooowww...mental saya harus belajar bela diri nih, berarti... ("_ _)

"4. Bekalan yang Bersifat Aqliyah (intelektualitas)

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!"

intelektual tidak hanya dilihat dari IPK 'kan, bu...? hihi.. yap, semangat..!

"5. Bekalan yang Bersifat Jasadiyah (fisik)

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga, dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’."

naahh...ini yang rada sulit (disulit-sulitkan sih sebenarnya...). olahraga! ya, qowiyyul jism itu penting! hmm..untung udah punya channel salom muslimah... hehe..

"Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?"

jaazakillah, bu...


yap...jadi begitulah, sodara-sodara...tidak mudah memang. tapi bukan berarti tidak bisa 'kan?
waktu saya posting di facebook, yang komentar macem-macem. ada yang bilang, "wow..berat juga, ya.." atau, "kalo nikahnya sama yang biasa-biasa aja gimana?", ada juga, "ayoo..semangat!", bahkan, "jadi, kapan nih undangannya?" halah..

saya pikir, tergantung bagaimana niat kita. misalnya nih, ternyata kita menikah bukan dengan aktivis dakwah. atau, kita menikah dengan aktivis dakwah tetapi ternyata pada saat berkeluarga, bertepuk sebelah tangan (kita udah banting tulang mempersiapkan diri, eh ternyata dia nggak mempelajari bagaimana menjadi suami aktivis dakwah). kalo kita meniatkan segala sesuatunya dari awal karena Allah, insyaallah tidak akan terlalu menjadi beban. sehingga tidak perlu ada kecewa. 'kan sudah diatur semuanya oleh Dia. apapun yang terjadi, itu menjadi tarbiyah bagi kita.

"percaya, ukh...Allah itu sayang sama kita..." begitu kata ustadzah yang saya ajak sharing. ya, bu...saya percaya. 'kan Allah bilang, "barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya..." sekarang, yang menjadi pertanyaan, benarkah atau sudahkah selama ini kita menolong agamaNya...????

wallaahua'lam bishshawwab...

Jumat, 03 September 2010

'siap nikah..!' atau 'siap nikah..?'

bismillaahirrahmaanirrahiim...

sudah dua pekan ini (dan hari ini adalah hari terakhir) ada bazaar buku di kampus. hmm..surga dunia..hehe. akhirnya dengan segala semangat yang membuncah, walaupun harus mengorbankan beberapa hal, saya membeli beberapa buku di sana. diskon 20%, lumayan..

dari empat buku yang saya beli, ada satu buku yang langsung khatam dalam waktu kurang dari setengah hari. judulnya 'tarbiyah madal hayah', semacam chicken soup gitu. karena sedang berhalangan (fitrah wanita) dan karena tulisannya dalam bentuk cerita, maka lembar demi lembar terselesaikan dalam waktu singkat (ahh..andai diktat kuliah bernasib sama seperti itu..). alhamdulillah, banyak hikmah dari setiap cerita yang ada dalam buku tersebut. bahwa skenario Allah begitu hebat dan luar biasa dalam men-tarbiyah hambaNya.

beberapa kisah bertutur tentang pernikahan, masalah rumah tangga, juga perselingkuhan (wew..). seorang kawan saya yang meminjam buku tersebut berkomentar, "bagus...tapi, bikin gw jadi takut nikah..hehe..". ya, sekilas memang perasaan yang sama terjadi pada saya setelah membacanya. tapi, alhamdulillah-nya lagi, saya membeli buku lain, yaitu 'rumah kita penuh berkah: peran keluarga dakwah di mihwar daulah' karya dwi budiyanto. dan, great...! kekhawatiran untuk menikah lenyap digantikan dengan semangat yang membara (haha..lebay dah..).

dari beberapa buku tentang keluarga dan pernikahan yang pernah saya baca, buku ini (rumah kita penuh berkah-red.) memberikan 'kekuatan' tersendiri. bukan perasaan 'mellow' yang hadir setelah membacanya, melainkan semangat mengevaluasi dan memperbaiki diri. bagi setiap aktivis da'wah, buku ini saya rekomendasikan, untuk 'meluruskan niat' dalam membangun sebuah rumah tangga.

"keluarga akan tetap memerankan peran yang sangat signifikan. itulah sebabnya, keluarga dakwah semestinya terus memberikan tambahan kebaikan bagi banyak hal. ini artinya, masing-masing keluarga dakwah terus mengupayakan terwujudnya kebarakahan di dalam keluarga. menciptakan keluarga yang sejahtera, berkualitas, dan berdaya..." tulis pak dwi.

bagaimanakah itu? "sejahtera memberikan makna bahwa keluarga dakwah terpenuhi seluruh kebutuhan anggotanya, baik secara lahir maupun batin. keluarga dakwah dikatakan berkualitas karena memiliki ciri-ciri keluarga yang kuat dan kokoh, baik dari sisi keimanan, dan ketakwaan, maupun moralitas serta intelektual, dan sebagainya sehingga mampu melahirkan generasi yang sanggup memberikan pencerahan pada masyarakat. keluarga dakwah dapat dikatakan berdaya ketika mampu mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki untuk memenuhi seluruh kebutuhan anggota keluarga, memiliki daya tahan terhadap tantangan, serta dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya." begitulah yang pak dwi tulis dalam mukadimah-nya. luar biasa...

sebelum saya kutip lagi tulisan dalam buku tersebut, saya coba menyampaikan apa yang ditulis oleh bu yoyoh yusroh, wakil ketua Komisi VIII DPR RI (menangani bidang agama, sosial, perempuan dan anak, badan penanggulangan bencana), "dalam menganjurkan ummatnya untuk melakukan pernikahan, Islam tidak semata-mata beranggapan bahwa pernikahan merupakan sarana yang sah dalam pembentukan keluarga, bahwa pernikahan bukanlah semata sarana terhormat untuk mendapatkan anak yang sholeh, bukan semata cara untuk mengekang penglihatan, memelihara fajar atau hendak menyalurkan biologis, atau semata menyalurkan naluri saja. sekali lagi bukan alasan tersebut di atas. akan tetapi lebih dari itu Islam memandang bahwa pernikahan sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemayarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi ummat Islam."

ya, keluarga sebagai unit terkecil dalam sebuah masyarakat memiliki peran yang tidak biasa. untuk menuju ustadziyatul 'alam, keluarga dakwah merupakan bagian dari perjuangan. oke, mari kita lihat, sejumlah peran yang dikerjakan oleh keluarga aktivis dakwah yang dipaparkan oleh pak dwi budiyanto.

yang pertama adalah sebagai pendukung utama dakwah. ketika para aktivis dakwah telah memasuki orbit kelembagaan negara, peran dukungan keluarga tentu lebih besar lagi. kisah mohammad natsir yang dipaparkan oleh penulis mengingatkan kita tentang cita-cita dakwah untuk menyiapkan pribadi-pribadi muslim yang siap disatukan dalam dakwah. sebuah keinginan yang didasari dari pandangan bahwa keluarga memiliki pengaruh besar bagi kesuksesan dakwahdan perubahan masyarakat. "ummie melihat," tutur mohammad natsir, "bahwa dalam pendirian Pendidikan Islam ini ada satu cita-cita. ummie dengan rela menyumbangkan tenaganya kepada Pendidikan Islam." dukungan keluarga menjadi sumber energi cinta yang meneguhkan cita-cita perjuangannya.

kedua, keluarga bagi dakwah memiliki peranan kuat untuk membangun basis sosial, karena keluargalah basis perubahan di masyarakat. ia berperan dalam melakukan rekrutmen yang tidak sekadar bermakna bergabungnya seseorang ke dalam barisan dakwah, tetapi termasuk di dalamnya mengarahkan masyarakat untuk lebih dekat kepada kultur keislaman. (pemaparannya cukup panjang..mungkin akan di-share pada kesempatan yang lain..atau, lebih oke kalo sodara2 membeli bukunya..heuheu..)

selanjutnya, yang ketiga, keluarga dakwah berperan dalam pendidikan politik dakwah. pendidikan politik diartikan sebagai usaha terus-menerus untuk membangun kesadaran masyarakat akan posisi, hak, dan kewajibannya. selain itu, ia juga berupaya membangun pemahaman tentang apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan seluruh kepentingan dan tujuan kehidupannya. pendidikan politik menghajatkan setiap anggota masyarakat tidak apatis terhadap kondisi masyarakat, bahkan diharapkan mereka akan berubah menjadi masyarakat yang aktif dalam menyikapi situasi dan kondisi di tengah masyarakat dan negara. bagi keluarga dakwah, pendidikan politik ini memiliki dua arah, yaitu yang diarahkan untuk anggota keluarga dan yang diarahkan untuk masyarakat.

keempat, menyiapkan pelaku mihwar. keluarga memiliki andil besar menyiapkan pelaku-pelaku dakwah untuk menjadi muslim-negarawan yang siap menanggung tugas-tugas dakwah di mihwar daulah. penulis mengutip perkataan husein muhammad yusuf dalam ahdhaful usrah fil islam, "sejauh mana keluarga dalam suatu negara memiliki kekuatan dan ditegakkan pada landasan nilai maka sejauh itu pulalah negara tersebut memiliki kemuliaan dan gambaran moralitas dalam masyarakat."

kelima, menggiatkan kerja-kerja pelayanan dan advokasi. keluarga muslim beserta anggota-anggotanya adalah pribadi yang memiliki perhatian terhadap persoalan masyarakat. mereka tidak teralienasi dari lingkungannya, bahkan sebaliknya, mereka memberi manfaat lebih bagi lingkungan dan masyarakat. ismail r. al-faruqi dan istrinya, lamya al-faruqi, menjelaskan dalam the cultural atlas of islam bahwa keluarga muslim secara individu dan bersama bertanggung jawab pada umat. tugas keluarga adalah menjadi warga negara, mempersiapkan generasi untuk menjunjung tinggi sistem sosial, budaya, politik, dan ekonomi umat, ikut serta menyejahterakan masyarakat, dan membela umat bila dibutuhkan.

terakhir, yang keenam, keluarga dakwah berperan sebagai penjaga moralitas. gerakan dakwah, sebagai institusi yang mengaryakan kader-kadernya untuk berkiprah di lembaga-lembaga publik, tentu saja berkewajiban menjaga mereka agar tetap berada pada ashaalah dakwah, sekaligus terus bergerak berdasar nilai-nilai keislaman. namun, dukungan dan penjagaan paling besar tentu saja berasal dari keluarga.



naaahh..bagaimana..? masyaallah dan subhanallah sekali, bukan? ternyata..bicara tentang menikah, menggenapkan separuh agama, membangun keluarga, atau apapun namanya itu, tidak hanya tentang sebuah penyatuan dua insan dan bagaimana mereka melayari bahtera rumah tangga dengan sejuknya angin, riak, maupun gelombangnya. bagi seorang muslim, terlebih seorang aktivis dakwah, ada sebuah visi, misi, dan peranan yang luar biasa besar serta mulia, insyaallah.

so, termotivasi atau malah semakin takut dan khawatir untuk menikah...? hoho..

nahnu du'at qobla kulli syai-in...kita adalah da'i sebelum menjadi apapun. maka pembicaraan tentang sebuah pernikahan yang kerap kali dibahas dengan nuansa merah jambu, barangkali perlu diganti dengan ghirah perjuangan dan harokiyah. maaf, saya merasa perlu mengatakan ini karena beberapa aktivis dakwah enggan membicarakan pernikahan karena khawatir akan menurunkan militansi, merasa belum waktunya, dll. atau, menanggapi pembicaraan tersebut dengan tatapan dan senyum menggoda (?), "ehm..ehm..", "cieee..", "wah..ada apa ini?", "duuhh..saya mah masih jauh..", dsb. tidak, tidak salah. semua orang berhak memiliki opininya masing-masing.

saya, sebagai orang yang belum menikah, mendapatkan 'pencerahan' setelah membaca buku ini. meluruskan niat. "masalah jodoh, sudah tertulis dalam lauh mahfuz..tidak akan berganti orangnya, tidak akan bergeser waktunya.." kata guru spiritual saya (baca: murobbi). dalam sebuah penantian itu (bila boleh mengatakannya demikian), bukan masalah siapa dan kapan, tetapi bagaimana kita mengisinya. bagaimana kita mengokohkan tarbiyah kita, membangun keimanan serta ketaqwaan kita. karena ternyata, membangun sebuah keluarga muslim, keluarga dakwah, butuh 'amunisi' pribadi yang buaaaaaaanyak dan besaaaaaarrrr...karena seperti yang disampaikan bu yoyoh tadi, pernikahan punya tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemayarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi ummat Islam. eksistensi ummat Islam! ustadziyatul 'alam! allaahuakbar...allaahu ghayyatunaa... selain itu, barangkali, yang sebaiknya dipikirkan seorang muslim dan atau da'i tentang pernikahan bukan hanya masalah pribadi (nanti ngasih makan apa sama anak istri, gimana kalo kita berbeda karakter, apakah saya akan terkekang setelah menikah nanti, dan lain sebagainya) melainkan juga masalah dakwah, sosial, ummat.

yah..seperti buku-buku pernikahan lainnya, dalam buku ini pun dipaparkan berbagai masalah yang mungkin terjadi dalam rumah tangga beserta solusinya. dalam hal ini, pembahasan lebih mengarah pada kondisi dakwah yang memasuki mihwar daulah. (ya jelas, ini 'kan emang buku spesial dipersembahkan dalam upaya mengokohkan ruh serta semangat tarbiyah di kalangan kader dakwah dalam menyongsong mihwar daulah, insyaallah).

terakhir, saya berdoa dengan tulus, "baarakallaahulaka wabaraka 'alaika wajama'a bainakumaa fii khaiir...semoga Allah karuniakan barakah kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barakah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan..." untuk saudara-saudariku, mba-mbaku, mas-masku, kakak-kakakku yang telah melanjutkan dakwah ke fase berikutnya, membentuk keluarga muslim. selamat berjuang, ikhwahfillah...! saluuutt saya..hehe.. juga kepada para ustadz dan ustadzah, para assabiqunal awwaluun, yang telah berjuang di setiap mihwar, dengan segala perannya, kekohan tarbiyah dalam rumah tangganya, semoga saya dapat belajar banyak ya pak, bu.. dan kepada saudara-saudariku, mba-mbaku, mas-masku, kakak-kakakku yang masih dalam fase pertama, tarbiyah individu muslim, hayuk lah..jangan cuma mupeng aja..mari kita kerenkan imtaq kita, menguatkan konektivitas kita denganNya..kalo nggak dapet di dunia, ya..mudah-mudahan berkesempatan di surgaNya..aamiin, ya Allah... :)

mohon maaf apabila terdapat hal-hal yang kurang berkenan..mari saling mengingatkan (masih harus banyak belajar, euy..)..jaazakumullaah ahsanul jazaa.. ^^

wallaahua'alam bishshawwab...

nb: judul sama isinya, nyambung nggak ya...? hmmm... (-________-)"

Jumat, 13 Agustus 2010

bermula dari visi

bismillaahirrahmaanirrahiim..

tulisan dari seorang teman..semoga bermanfaat.. ^^

---

Bermula dari Visi



Kalau setelah menikah silaturahim dengan teman, saudara menjadi renggang, maka harus di evaluasi kembali visi pernikahannya apakah untuk umat ia menikah.

Kalau setelah menikah kualitas dan kuantitas ibadah menurun, maka harus di evaluasi apakah memang karena dakwah ia menikah.

Kalau setelah menikah amanah menjadi biasa-biasa saja , atau berkurang, atau malah mundur teratur menghindari amanah yang sejak semula telah kita pegang, maka harus di evaluasi apakah karena jamaah ia menikah.

Bahwa sesungguhnya pernikahan itu harus menjadikan diri kita menjadi lebih baik. Baik dalam segi muamalah dan baik dari segi muabadah.

Setiap rumah tangga yang telah terbentuk harus bercita-cita menjadi keluarga teladan umat dan masyarakat. Atau menjadi keluarga percontohan bagi keluarga yang lainnya.

Menikah tidak hanya menyatukan dua insan, tapi harus lebih dari itu. Dari dua insan itu lah batu bata peradaban itu dibangun.


(Renungan untuk yang belum menikah, yang sedang proses untuk menikah, dan yang telah menikah).

keep positive

catatan ini saya tulis ketika mendengarkan sebuah taujih dari Ust. Latif Khan. hanya sebagian (terakhir) saja. yaa..anggap saja sebagai conclusion-nya..

semoga bermanfaat.. ^^

Keterlibatan jama’ah dalam memfasilitasi pernikahan a’dho-nya atau anggotanya adalah bagian dari konsen jama’ah untuk kembali menghidupkan sunnah Rosul yang hilang. Bukankah kita bersaudara? Dan tugas saudaralah yang menjaga dan menyelamatkan saudaranya dari murka Allah. Untuk itulah jama’ah tidak membiarkan a’dho-nya terlibat dalam sebuah pernikahan yang di dalamnya syari’at Allah tidak dimuliakan, sunnah Rosul diabaikan dan direndahkan. Untuk itulah jama’ah peduli. Sehingga ia memintakan para aktivisnya untuk membantu ikhwahnya yang menikah, mendorongnya untuk istiqomah, dan mengingatkan bahwa ini rumah tangganya yang harus dibangun dengan semangat pemenuhan tujuan ibadah dan da’wah juga, bukan sekedar pemenuhan tujuan kepentingan syahwat. Jama’ah juga ingin agar semua aktivisnya tetap ingat bahwa mereka adalah da’i dalam semua aktivitas mereka. Dengan demikian, semua aktivitas mereka harus menjadi bagian dari da’wah mereka, dan menjadi contoh bagi semuanya. Dengan demikian, ia harus menempatkan kepentingan syari’at di atas segala-galanya. Lantas, adalah wajar jika kita membuat mekanisme. [Ust.Latif Khan, Pernikahan dalam Wacana].