sebuah resume dari buku "Dialog Peradaban" M.Anis Matta dan Ary Ginanjar
---
Pikiran merupakan ruang pertama dari semua kenyataan hidup yang kita saksikan. Lintasan pikiran adalah akar dari semua tindakan, perilaku, kebiasaan, dan karakter. Dari lintasan pikiran itu kemudian berkembang menjadi memori, lalu ide atau gagasan, atau pikiran. Pikiran menukik jauh ke dalam wilayah emosi kemudian membentuk keyakinan. Keyakinan berlanjut menjadi kemauan kemudian berkembang menjadi tekad. Seketika itu pula pikiran memperoleh energi agar tekad tersebut terwujud dalam kenyataan. Tekad menjalar ke seluruh tubuh dan melahirkan tindakan. Bila tindakan dilakukan berulang-ulang, maka terbentuklah kebiaasaan. Dan bilakebiasaan itu berlangsung lama, jadilah karakter.
Anis Matta berkata bahwa kualitas pikiran akan membentuk kualitas kepribadian kita dan kualitas kepribadian akan membentuk kualitas hidup kita. Jadi, perbaikan kualitas kepribadian harus dimulai dengan menata ulang atau merekonstruksi pemikiran. Pertama, mendeteksi pikiran kita. Yang kita lakukan adalah mengalihkan dan menggantikan lintasan pikiran yang buruk dan menggantinya dengan yang baik. Kita harus dapat menjamin bahwa semua yang kita pikirkan dapat dipertanggungjawabkan, yaitu dengan mengontrol semua informasi melalui pancaindera, khususnya penglihatan dan pendengaran.
Langkah kedua ialah menjadikan diri kita manusia berpengetahuan. Pengetahuan kita harus disusun dalam struktur yang benar. Tingkat pertama adalah pengetahuan identitas, untuk membentuk dan membangun identitas kepribadian. Tingkat kedua adalah pengetahuan kemanusiaan, untuk membangun hubungan sosial kemanusiaan. Tingkat terakhir adalah pengetahuan spesialisasi, untuk mengembangkan basis profesi kita atau mata pencaharian kita.
Kita harus mengembangkan kemampuan berpikir. Yang kita butuhkan adalah kemampuan berpikir hirarkis. Empat pikiran hirarkis itu adalah daya serap (memahami dan mencerna sesuatu), daya analisis (mengurai sesuatu menjadi satuan kecil serta maemahami detilnya), daya konstruksi (membangun, mengintegrasi, menyatukan, dan menghubungkan bagian-bagian yang terpisah menjadi satu terkorelasi secara utuh), dan daya cipta (melahirkan pikiran-pikiran baru yang murni atau disebut pula genuine).
Selain berpikir hirarkis, terdapat pula kemampuan berpikir dimensional, yaitu kemampuan berpikir pada dua dimensi secara simetris. Pertama, kemampuan berpikir makro-mikro, yaitu kemampuan berpikir pada skala yang berbedam yang lebih luas bersifat makro dan yang lebih spesifik bersifat mikro. Kedua, berpikir strategis-taktis, yaitu kemampuan berpikir dalam dua kualitas yang berbeda.
Terdapat dua cara untuk melakukan proses penataan ulang cara kita berpikir secara lebih sistematis dan efisien. Pertama, menjaga kejernihan langit pikiran kita. Kita harus membiasakan diri untuk memikirkan apa yang yang kita pikirkan, mengapa kita memikirkannya, dan bagaimana seharusnya kita memikirkannya. Dengan tidak menoleransi semua pikiran yang melintas untuk singgah ke dalam pikiran, maka kita akan memperoleh kekuatan kepribadian yang sangat dahsyat. Dan kekuatan kepribadian pertama kali bersal dari sana: pengendalian diri.
Kedua, membangun tradisi ilmiah. Tradisi ilmiah yang kokoh ditandai oleh banyak ciri. Pertama, berbicara atau bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan. Kedua, tidak bersikap apriori dan tidak memberikan penilaian terhadap segala sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik dan akurat. Ketiga, selalu membandingkan pendapatnya dengan pendapat kedua dan ketiga sebelum menyimpulkan atau mengambil keputusan. Keempat, mendengar lebih banyak daripada berbicara. Kelima, gemar membaca dan secara sadar menyediakan waktu khusus untuk itu. Keenam, lebih banyak diam dan menikmati saat-saat perenungan dalam kesendirian. Ketujuh, selalau mendekati permasalahan secara komprehensif, integral, objektif, dan proporsional. Kedelapan, gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana dan ide-ide, tapi tidak suka berdebat kusir. Kesembilan, berorientasi pada kebenaran dalam diskusi dan bukan pada kemenangan. Kesepuluh, berusaha mempertahankan sikap dingin dalam bereaksi terhadap sesuatu dan tidak bersikap emosional dan meledak-ledak. Kesebelas, berpikir secara sistematis dan berbicara secara teratur. Keduabelas, tidak pernah merasa berilmu secara permanen dan karenanya selalu ingin belajar. Ketigabelas, menyenangi hal-hal baru dan menikmati tantangan serta perubahan. Keempatbelas, Rendah hati dan bersedia menerima kesalahan. Kelimabelas, lapang dada dan toleran dalam perbedaan. Keenambelas, memikirkan ulang gagasannya sendiri atau gagasan orang lain dan senantiasa menguji kebenaran. Ketujuhbelas, selalu melahirkan gagasan-gagasan baru secara produktif.
Tradisi ilmiah selanjutnya dibentuk oleh susunan pengetahuan yang benar. Kemudian dibentuk pula oleh sistematika pembelajaran yang benar. Dan membaca adalah instrumen utamanya.
Ary Ginanjar Agustian menuturkan hal yang terkait dengan membaca ini. Adalah Archimedes. Seorang ilmuwan terdahulu yang namanya kerap terpampang pada buku-buku pelajaran ilmu pengetahuan alam di sekolah-sekolah. Seorang raja Sisilia memerintahkannya untuk mengukur volume dari mahkota emas milik Sang Raja. Archimedes berusaha mencari jawabannya dengan segala upaya namun tak jua ia dapatkan jawabannya.
Ketika ia sedang berendam sambil merenungi tugasnya, air di dalam bath tub-nya tumpah ketika ia bergerak. Setelah mengamati kembali dengan lebih seksama, dapatlah jawaban dari tugas yang diberikan Sang Raja. Kemudian munculah sebuah hukum yang masyarakat menyebutnya ‘Hukum Archimedes’.
Kisah di atas merupakan salah satu contoh asal-muasal ilmu pengetahuan dan peradaban manusia yang dimulai dengan kata “Iqra’” atau bacalah. Archimedes telah “membaca” air yang tumpah kemudian ia menelaah, meneliti, dan mempelajari dengan sungguh-sungguh. Akhirnya ia berhasil “melihat” salah satu “ketentuan Tuhan” yaitu “Hukum Archimedes”.
Maka apa yang terjadi pada Rasulullah saw. pun bukan sekadar kisah pengantar mengaji saja. Ketika uzlahnya di Gua Hira, turunlah wahyu Allah untuk pertama kalinya. Jibril berkata, “Iqra’” (bacalah). “Ma aqra’?” tanya Nabi. Tapi Jibril tidak menjawab. Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut “Bismi Rabbika”, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.
Perintah untuk “membaca” adalah langsung diturunkan Tuhan. Membaca adalah awal mula suatu ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan keberhasilan manusia. Namun, setelah membaca kita diminta untuk kembali dan menyadari semua itu sebagai ciptaan Tuhan. Bahwa segala sesuatu atau kebenaran semuanya milik Allah. Ketika kita berdecak-decak kagum dan mengangguk-angguk, seyogyanya kita mengangguk kepada Allah SWT, bukan kepada sang penulis itu. Maka bacaan itu pun akan memperkokoh keimanan kita.
Keinginan untuk belajar akan menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan. Keinginan untuk menguasai ilmu pengetahuan tanpa berpegang kepada Allah hanya menghasilkan sebuah kesia-siaan. Akan tetapi, IQ dan EQ tidak cukup untuk mengantarkan manusia pada kebahagiaan hakiki. Harus ada dalam kepribadian manusia nilai spiritual atau apa yang disebut kecerdasan spiritual (SQ). IQ penting agar manusia dapat memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi efisiensi dan efektivitas. EQ juga penting dalam membangun hubungan antarmanusia dan juga berperan dalam meningkatkan kinerja. Namun, tanpa SQ yang mengandung nilai-nilai kebenaran, maka keberhasilan itu hanyalah keberhasilan semu.
Sinergi kecerdasan. Begitulah Anis Matta menyebut IQ, EQ, dan SQ. Pekerjaan-pekerjaan besar yang mempertemukan seorang pahlawan mukmin sejati dengan takdir kepahlawanannya selalu melibatkan seluruh instrumen kepribadian sang pahlawan ketika ia sedang melakoni pekerjaan tersebut. Keseluruhan instrumen kepribadian sang pahlawan adalah sebuah sinergi kecerdasan. Sumber kecerdasan itu –akal, jiwa, dan ruh– memberinya energi untuk bekerja. Sinergi kecerdasan itu juga yang memberikan kekuatan lain kepada para pahlawan mukmin sejati , kekuatan keseimbangan.
Para pahlawan mukmin sejati mempunyai tingkat keseimbangan optimum, dimana kekuatan fisik, akal, emosi, dan ruh sama mencapai tingkat tertinggi, dan pada ketinggian itulah mereka mengalami sinergi.
Itulah yang membuat efeknya merupakan ledakan yang dahsyat; ledakan kecerdasan, ledakan karya. Ledakan itu hanya terjadi pada potongan-potongan masa tertentu dari usia kita. Itulah yang disebut momentum, dimana kecerdasan kita mengalami saat-saat sinergi yang optimum dan ledakannya mengeluarkan muntahan karya yang genuine. Maka saat itulah kisah kepahlawanan ditorehkan dalam sejarah keabadian.
Bogor, 3 April 2008
Sumber:
Matta, M. Anis dan Ary Ginanjar. 2006. Dialog Peradaban. Jakarta: Fitrah Rabbani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar