Senin, 08 November 2010

rindu kami


“Philosopher, orator, apostle, legislator, warrior, conqueror of ideas, restorer of rational dogmas, of a cult without images, the founder of twenty terrestrial empires and of one spiritual empire, that is Muhammad. As regards all the standards by which Human Greatness may be measured, we may well ask, Is There Any Man Greater Than He?” (Lamartine, Histoire De La Turquie, Paris, 1854, Vol. II, pp 276-277)

Hari itu seorang hamba dengan segala kekuatannya berdiri di tengah-tengah kesuaraman Madinah seraya berkata, “Sesungguhnya, ada beberapa orang munafik yang mengira Rosulullah saw. telah wafat, padahal sesungguhnya Rosulullah saw. itu tidak akan mati. Dia hanya pergi kepada Tuhannya, seperti yang pernah dilakukan Musa bin Imran. Musa meninggalkan kaumnya selama empat puluh malam, kemudian kembali lagi kepada mereka setelah dikatakan orang bahwa ia telah mati. Demi Allah, Rosulullah saw. pasti akan kembali lagi seperti yang dilakukan Musa, lalu dia pasti akan memotong kedua tangan dan kaki orang-orang yang telah mengira bahwa Rosulullah saw. telah mati.” Ada amarah dalam intonasinya, ada sesak di setiap nafasnya, ada kesedihan yang tak terungkap jauh di kedalaman hatinya. Umar Ibnul Khaththab tak kuasa kendalikan dirinya. Bahkan ketika Abu Bakar menghampirinya dan berkata, “Tenanglah kamu, hai Umar, diamlah.” Namun, Umar tidak peduli.

Abu Bakar pun meninggalkannya dan menghadapkan wajahnya di depan orang banyak. Ia lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata, “Barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah tetap hidup, takkan pernah mati.” Ia pun membacakan ayat (QS. Ali Imran: 144), “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rosul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rosul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Maka tersungkurlah Umar pada kedua kakinya. Kembali menjejak bumi dan tersadar bahwa kekasih Allah yang juga dicintainya itu telah kembali pada-Nya dan tak akan pernah kembali padanya.

Dan kini telah berabad lamanya Sang Rosul menghadap-Nya. Namun, namanya hampir memenuhi isi bumi, shalawat kepadanya dikumandangkan dari waktu ke waktu, riwayat hidupnya ditulis dan dibahas sepanjang sejarah. Muslim maupun non-Muslim.

Rindu sekali kami denganmu, ya Rosul…

bogor, 14 oktober 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar