Senin, 08 November 2010

Allaahu ghayyatunaa

bismillaahirrahmaanirrahiim...

When you give with your right hand don’t let even your left hand know the good thing that you did (Snada: Just Giving Once)

Teringat akan sebuah nasyid yang dibawakan oleh Snada. Syairnya berisi tentang sebuah keikhlasan dalam beramal. Ikhlas. Butuh enam huruf saja untuk menjadi sebuah kata sakti landasan seorang hamba dalam beraktivitas. Haruskah kita melakukan hal-hal yang diusahakan oleh seorang pemuda dalam film Kiamat Sudah Dekat untuk mendapatkan ilmu ikhlas demi mendapatkan pujaan hatinya? Mungkin saja. Kalau pemuda ‘rocker’ dalam film itu saja mau berusaha mendapatkan ilmu ikhlas, apatah lagi kita sebagai da’i, yang tentu saja melakukannya demi ‘mengambil hati’ Sang Penguasa Alam.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162)

Adalah ikrar yang kerap kita lafalkan dalam -minimal- 5 waktu shalat kita. Maka segala yang kita lakukan tentulah harus berujung pada Allah SWT. Bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya lurus kepada Allah saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, “Bismillahirrahmanirrahiim, ya Allah semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan”. Lisannya yang bening senantiasa memuji Allah atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada Allah.

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal. Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak. Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna berkata, bagi seorang da’i makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian si da’i menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan.(www.dakwatuna.com)

Bila seorang hamba menginginkan sesuatu yang lain melalui ibadahnya, maka disini perlu dirinci lagi berdasarkan klasifikasi-klasifikasi berikut :

1. Dia memang ingin bertaqarrub kepada selain Allah di dalam ibadahnya ini dan mendapatkan pujian semua makhluk atas perbuatannya tersebut. Maka, ini menggugurkan amalan dan termasuk syirik.

2. Dia bermaksud melalui ibadahnya untuk meraih tujuan duaniawi seperti kepemimpinan, kehormatan dan harta, bukan untuk tujuan bertaqarrub kepada Allah ; maka amalan orang seperti ini akan gugur dan tidak dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Perbedaan antara klasifikasi kedua ini dan pertama ; Bahwa dalam klasifikasi pertama, orang tadi bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah. Sedangkan pada klasifikasi ini, dia tidak bermaksud agar dirinya di puji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah bahkan dia malah tidak peduli atas pujian orang terhadapn dirinya.

3. Dia bermaksud untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, disamping tujuan duniawi yang merupakan konsekuensi logis dari adanya ibadah tersebut, seperti dia memiliki niat dari thaharah yang dilakukannya –disamping niat beribadah kepada Allah- untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran yang menempel padanya ; dia berhaji –disamping niat beibadah kepada Allah- untuk menyaksikan lokasi-lokasi syi’ar haji (Al-Masya’ir) dan bertemu para jama’ah haji ; maka hal ini akan mengurangi pahala ikhlas akan tetapi jika yang lebih dominan adalah niat beribadahnya, berarti pahala lengkap yang seharusnya diraih akan terlewatkan. Meskipun demikian, hal ini tidak berpengaruh bila pada akhirnya melakukan dosa.
[www.almanhaj.or.id]

Dari Amirul mukminin, Umar bin khathab “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yangditujunya”. (Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits.)

Bicara ikhlas, maka kita akan menemukan empat huruf lagi. Niat. Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Maka ketahuilah ikhwah, bahwa syarat utama diterimanya ibadah ada 2: Niat yang ikhlas dan pelaksanaannya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi SAW. (www.mii.fmipa.ugm.ac.id)

Hadits ini memang muncul karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais. Padahal hijrah pada masa itu adalah ibadah yang sangat besar pahalanya. Maka hadist ini menunjukkan orang yang tidak ikhlas dalam ibadahnya, dalam perbuatan baiknya, dalam amal-amalnya maka ia tidak akan mendapatkan pahala darinya. Maka hendaknya setiap orang memperhatikan kembali hatinya, dan mempertanyakan kembali keikhlasannya dalam beribadah.
Bila ikhlas memiliki kedekatan dengan niat, maka ada pula yang ‘bermusuhan’ dengan ikhlas, yaitu riya.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisaa: 142)

Riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad). (www.dakwatuna.com)

Keikhlasan pun memiliki beberapa indikasi dan tanda-tanda yang nampak dalam kehidupan dan perilaku pemiliknya. Juga nampak dalam pandangannya terhadap dirinya dan pandangannya terhadap orang lain. Indikasi-indikasi tersebut antara lain:

1. Khawatir terhadap ketenaran serta keharuman nama atas dirinya dan agamanya, terutama bila ia termasuk orang-orang yang berprestasi. Ia meyakini bahwa Allah menerima amal berdasarkan niat yang tersimpan dalam batin, tidak dengan penampilan. Ia juga meyakini, bahwa meskipun ketenaran seseorang telah tersebar ke seluruh penjuru, namun tiada seorang pun yang dapat menolongnya dari siksa Allah, bila ia tidak mengikhlaskan niat untuk-Nya.

2. Orang yang ikhlas selalu menuduh dirinya teledor dalam menunaikan hak-hak Allah, dan teledor dalam melaksanakan berbagai kewa-jiban. Hatinya tidak dirasuki oleh perasaan ghurur (tertipu) dan terkagum dengan diri sendiri, bahkan ia selalu takut kalau kesalahan-kesalahannya tidak diampuni, dan kebajikan-kebajikannya tidak diterima oleh Allah swt.

3. Orang ikhlas lebih mencintai amal yang tersembunyi daripada amal yang diliputi oleh hiruk pikuk publikasi dan gaung ketenaran.

4. Amalnya saat menjadi pemimpin dan saat menjadi anggota tidak berbeda, selama keduanya masih dalam rangka memberikan pelayanan pada dakwah. Hatinya tidak dirasuki penyakit suka tampil, selalu ingin di depan, dan ambisi kepemimpinan, bahkan orang yang ikhlas lebih mengutamakan menjadi anggota biasa, karena khawatir tidak dapat menunaikan kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab kepemimpinannya. Dengan kata lain, orang ikhlas tidak menginginkan dan tidak meminta jabatan untuk dirinya, tetapi bila diberi amanah, ia menerimanya dengan penuh tanggungjawab dan memohon pertolongan kepada Allah untuk melaksanakan sebagaimana mestinya.

5. Tidak menggubris keridhaan manusia, bila di balik itu terdapat kemurkaan Allah swt. Sebab tabiat manusia sangat berbeda-beda. Demikian juga cara berpikirnya, kecenderungannya, dan tujuan-tujuannya. Karena itu, upaya untuk mendapat keridhaan mereka semua, adalah batas yang tidak mungkin dapat dicapai, dan keinginan yang tidak mungkin dapat diraih. Orang yang ikhlas tidak akan disibukkan dengan hal-hal seperti itu, karenanya ia tenang dan tenteram.

6. Kecintaan dan kemarahannya, pemberian dan keengganannya untuk memberi serta keridhaan dan kemurkaannya adalah karena Allah dan agamanya, bukan karena kepentingan pribadi atau
kemaslahatan diri sendiri.

7. Orang yang ikhlas tidak akan menjadi malas, jenuh, atau berputus asa karena panjangnya jalan yang akan dilalui, lamanya waktu memanen buah dari amal, terlambatnya keberhasilan, banyaknya beban amal, dan sulitnya berinteraksi dengan manusia yang beragam cita rasa dan kecenderungan. Sebab ia beramal tidak hanya untuk mencari keberhasilan, atau mencari kemenangan saja. Akan tetapi, ia beramal untuk mendapatkan keridhaan Allah dan karena menjalankan perintah-Nya.

8. Bergembira dengan munculnya orang-orang yang berprestasi di dalam barisan dakwah, yang dapat mengibarkan bendera dakwah serta berpartisipasi dalam perjuangan.
(www.pks-anz.org)


Maka, bergeraklah! Dan teriakkan: Allahu ghayyatuna…!!!

Wallahu a’lam bishshawwab

Sumber:
http://www.mii.fmipa.ugm.ac.id/new/?p=227
http://www.dakwatuna.com/2008/tiga-ciri-orang-ikhlas/
http://kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=128
http://www.dakwatuna.com/2007/berjuang-dengan-ikhlas/
http://www.almanhaj.or.id/content/2158/slash/0
http://www.pks-anz.org/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=931&mode=thread&order=0&thold=0

Bogor, 9 Mei 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar