Saya lagi baca-baca majalah Ummi, trus ngeliat sebuah puisi di rubrik ‘Permata’. Bagi saya, puisi yang ditulis oleh anak kelas dua madrasah ibtidaiyah (setara dengan es-de) ini hebat sekali. Menceritakan proses terjadinya hujan secara sederhana dengan indah, dan tentu saja puitis. Ini puisinya:
Kisahku
Aku
Setetes air
Samudra rumahku
Bersama ayah, ibu, dan adik
Di suatu senja kutinggal mereka
Karena diajak panas matahari
Kini aku di langit bersama teman-teman
Bingung kemana hendak dituju
Setetes air
Samudra rumahku
Bersama ayah, ibu, dan adik
Di suatu senja kutinggal mereka
Karena diajak panas matahari
Kini aku di langit bersama teman-teman
Bingung kemana hendak dituju
Oh ibu...
Aku rindu
Sedih, andai tiada perpisahan
Aku pun menangis lalu jatuh ke bumi
Mereka panggil aku
Hujaan! Hujaaan! Datang
Berhari-hari aku berjalan bersama sungai
Aku rindu
Sedih, andai tiada perpisahan
Aku pun menangis lalu jatuh ke bumi
Mereka panggil aku
Hujaan! Hujaaan! Datang
Berhari-hari aku berjalan bersama sungai
Kini...
Aku bertemu ibu, ayah
Dan kakak adikku di samudra
Bahagia...
Aku bertemu ibu, ayah
Dan kakak adikku di samudra
Bahagia...
Karya: Zoelva Nadia; kelas II MI Al-Wathoniyah; Mojoanyar Bareng Jombang Jawa Timur 61474
Nice.. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar