Alhamdulillah, segala puji bagi Allah; Tuhan yang memiliki segala keindahan dan kesempuranaan hakiki, yang telah menghamparkan cinta dan kasih sayang di antara para kekasih.
Menikah... Sepertinya indah dan penuh bunga-bunga harapan. Memulai hidup berdua dengan seseorang yang (akan) kita cintai sepenuh hati, membingkai ibadah dalam sebuah rumah tangga... Ah, betapa keindahan yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. Siapapun akan segera membayangkan kebahagiaan begitu berpikir tentang pernikahan dan rumah tangga. Demikian pula saya.
Tetapi, menikah juga menyiratkan segurat kekhawatiran. Mungkinkah ada seseorang yang ‘tepat’ bagi saya? Bukan hanya tepat dalam pandangan fisik dan duniawi, tetapi tepat dalam semangat dan cita-cita untuk senantiasa produktif berkarya bagi umat. Meski samar dan tersembunyi, dalam lubuk hati tetaplah ada kegelisahan dan pergolakan.
Perasaan demikian tentulah menghinggapi setiap gadis, sebelum akhirnya ia ‘sekadar’ menganggukkan kepala atas proposal pembentukan organisasi kecil bernama rumah tangga. Mengingat separuh agama akan dipertaruhkan dalam ikatan itu, menikah benar-benar keputusan besar yang akan mengubah hidup seseorang. Jika Anda seorang perempuan, Anda harus rela membuka ruang intervensi yang mengganggu ‘kemerdekaan’ Anda selama ini. Sebab, tiba-tiba ada seseorang yang berhak untuk menanyakan ke mana Anda akan pergi. Bahkan, ia bukan saja bertanya, tapi juga menyuruh atau melarang. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang berhak tahu tentang segala sesuatu tentang diri Anda; luar dalam, hingga ke emosi dan perasaan Anda. Sepertinya agak seram, ya...
Oleh karena itu, saya serius menimbang-nimbang, saat merasa telah siap menikah. Siapakah lelaki calon suami saya kelak? Dari kalangan manakah saya akan memberikan hak dan kepercayaan itu? Dunia macam apa yang telah, sedang, dan akan dilalui calon suami saya? Sebenarnya, saya belum memiliki ‘daftar’ calon suami, kendati usia telah mencapai angka 23 waktu itu.
Sungguh, saya menginginkan, bertemu calon suami dalam rentang sajadah yang indah; di jalan dakwah...
Malam demi malam saya bermunajat kepada Allah, sekiranya Ia menakdirkan harapan-harapan menjadi kenyataan. Berpuasa Senin Kamis, juga puasa Daud biasa saya lakukan sejak masa sekolah menengah sampai kuliah untuk menjernihkan bashirah mata hati dari kilau dunia dan bujuk rayunya. Semoga saja Allah mengabulkannya berupa kemantapan hati pada saat bersua dengan seorang yang tepat bagi saya. Alhamdulillah, jawaban itu datang juga. Ketika itu, setengah tidak percaya saya mengiyakan untuk menerima seorang pemuda sederhana dengan mimpi-mimpi ‘besarnya’ (yang belum diceritakan pada saya waktu itu).
Sungguh, ketika datang ke rumah orang tua saya pertama kali pada tahun 1991 untuk melamar saya, beliau hanyalah seorang pemuda bertubuh kurus dan belum menyelesaikan kuliah. Beliau hanya mengenakan kaus T-shirt dan bersandal jepit. Ia datang seorang diri menemui orang tua saya dan sangat percaya diri meminang saya. Beliau tampak polos sekali. Hal yang kelihatan darinya hanyalah semangat juang yang tinggi, keikhlasan untuk melakukan kebaikan, dan kesederhanaan dalam penampilan.
Saya bisa memberikan kepercayaan kepada beliau untuk menjadi pemimpin dalam hidup saya, karena saya meyakini keikhlasan dan kesungguhannya. Bukan karena kekayaan, harta, atau kedudukan duniawi yang beliau bawa, tetapi semangat memperbaiki diri dan umat, juga keyakinan diri yang terpancar kuat dari berbagai kegiatan yang dilakukannya. Saya pun merasa tenang dengan kebaikan dirinya.
Pembaca terhormat, pernikahan adalah sebuah fase dalam kehidupan manusia. Pernikahan bukanlah terminal akhir, bahkan ia menjadi awal bagi sebuah proses perubahan. Artinya, janganlah Anda berharap akan menemukan seseorang dengan segala sifat kesempurnaan sesuai idealitas yang Anda bangun. Bahkan, jika Anda agak lambat mendapat pencerahan, proses inqilab (perubahan, pembalikan) menuju kebaikan, bisa saja dimulai setelah beberapa waktu pernikahan berjalan. Tak ada kata terlambat. Hanya saja jika salah pilih, proses itu akan berjalan lambat, stagnan, atau bahkan bergeser dari arah kebaikan.
Saya ingin menegaskan ini untuk mengingatkan Anda yang bersikap perfect dan menginginkan kesempurnaan calon pasangan. Seorang gadis (akhawat) Muslimah datang berkonsultasi kepada saya, setelah belasan lelaki melamarnya, dan tak satu pun yang sesuai kriteria harapannya. Saya pun memberikan nasihat dengan cerita masa lalu saya.
“Jangan bayangkan Pak Cah (panggilan akrab suami saya, Cahyadi Takariawan) tahun 1991 ketika melamar saya, adalah Pak Cah yang Anda lihat sekarang ini, dengan segala kelebihan dan kematangannya. Dulu, beliau hanyalah seorang pemuda yang bersemangat untuk berbuat kebaikan dengan segala kesederhanaan dan keluguannya. Kemudian kami bersama-sama saling membangun dan mengisi, membentuk sifat kesuamian atau keistrian dan kebapakan atau keibuan, mematangkan konsep dan pemikiran, mengasah ketrampilan dan mencoba mengaplikasikannya, serta bereksperimen tentang pola yang tepat dalam saling memotivasi dan seterusnya, dan seterusnya... Hingga kini, kami masih saja saling belajar, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan.”
Anda jangan hanya ingin ‘terima jadi’ bahwa seorang ikhwan yang ideal atau akhawat yang sempurna akan datang kepada Anda dan memenuhi segala kriteria yang Anda harapkan. Tetapi, Anda harus rela dan berani untuk bersama-sama membangun pribadi yang diharapkan. Selain itu, tidak hanya menerima kelebihannya, tapi juga kekurangan yang pasti ada padanya, sebagaimana juga ada pada Anda. Hal yang penting, Anda harus mantap bahwa ia yang terpilih adalah seseorang yang memiliki visi dan misi yang sama. Kalau toh belum, minimal memiliki itikad baik untuk membangun visi tersebut. Ummu Salamah adalah contoh perempuan unggul yang membuka ruang pencerahan bagi calon suaminya, Abu Thalhah. Sejarah pun mencatat bahwa Abu Thalhah yang tadinya belum Islam akhirnya menjadi seorang mujahid dakwah.
Modal utama untuk menjadi dinamisator perubahan pada pasangan adalah keyakinan diri, kesiapan untuk berubah, karakter yang kuat, dan keteladanan. Selain itu, ditambah dengan keterampilan mengomunikasikan ide (yang ini pun bisa saling dilatihkan kemudian). Apabila ada kesiapan dalam diri Anda untuk memberi dan menerima, saling berlomba dalam menunaikan kebajikan, dan siap berubah menuju tuntutan ideal maka Anda telah memiliki semua persyaratan untuk membangun rumah tangga yang harmonis.
Tentang penulis, alhamdulillah, Allah mengirimnya untuk saya. Saya tak ingin berlebihan mengungkapkan, hanya saja beliau memang menjadi inspirasi dan motivasi untuk berlomba dalam kebaikan dan membuat saya merasa menjadi istri yang istimewa di sisinya dari waktu ke waktu. Saya ingin senantiasa menemani beliau dalam langkah perjuangan yang tengah beliau tempuh, sejak mengenalnya hingga sekarang ini. Beliau adalah suami yang istimewa di mata saya. []
Sebuah pengantar yang ditulis oleh Ida Nur Laila, istri penulis (Cahyadi Takariawan) dalam buku Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah. Ia lahir di Yogyakarta, 19 Desember 1967. Menyelesaikan kuliah di Fakultas Farmasi UGM dan kini menjadi apoteker. Dalam kegiatan dakwah, ia mengelola beberapa Majelis Taklim. Bersama suami, sekarang mengelola Jogja Family Center (JFC).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar