Sabtu, 18 Desember 2010

kami malu..

bismillaahirrahmaanirrahiim...
Allah...kami lihat dan dengar kabar saudara kami dalam televisi, dalam setiap menitnya, berhari-hari lamanya. Debu-debu itu, ya Rabb...debu-debu yang kata mereka berasal dari lubang menganga di puncak Merapi, meliputi wajah mereka, menempeli kendaraan mereka, menyelimuti kota mereka. Air mata itu, Rabbii...mengalir dari mata mereka, bahkan dari mata ini.
Duh, Allah...kami malu...rasanya diri ini jauh lebih berdebu dari mereka. Debu-debu itu, rasanya begitu pekat menutupi wajah ini, menutupi hati ini... Allaahummaghfirlii...faghfirlii...ya Allah...faghfirlii...
Allah...kami malu...koq ya rasanya kami itu sibuk sekali. Dengan kuliah kami. Dengan tugas dan laporan kami. Dengan rapat-rapat kami. Dengan perasaan kami. Rasa sakit hati karena ucapan saudara kami. Rasa menderita karena sepertinya masa depan kami tak ada. Rasa mendayu karena melihat ikhwan itu tersenyum menatap kami. Rasa cemburu karena kebahagiaan, kenyamanan, kemapanan menghampiri saudari kami...Astaghfirullaahal’azhim...
Ya Rahman...kami malu...sedang tilawah kami, selembar pun rasanya berat sekali. Al-Qur’an kami, hanya sebagai penghias tas-tas kami. Agar terlihat sholih. Agar terlihat aktivis. Agar terlihat da’i. Kami malu, sedang sholat kami tak kami lengkapi dengan raka’at-raka’at sunnah RosulMu. Lima waktu itu sudah cukup rasanya untuk kami menjastifikasi bahwa kami sudah baik. Bahwa kami sudah muslim. Bahwa kami sudah penuhi hakMu. Kami malu, sedang dzikir kami tak penuhi lisan-lisan kami. Pembicaraan dorama dari vcd, film terbaru, berita dan kabar selentingan dari artis bahkan rekan kerja kami, kerap terlontar dari mulut ini. Dan ini pun seperti tak jadi masalah untuk kami. Kami tetap dikatakan anak rohis yang gaul. Dianggap pandai berbaur. Dilihat menarik dalam berkomunikasi. Kami malu, sedang qiyamullail yang menghidupi malam-malam kami, kami lewatkan begitu saja. Kami mengeluh, duh Allah...kami capek, kami ngantuk, kami ini kan sudah sibuk seharian dengan amanah-amanah kami. Dan hal ini, melegalkan kami untuk nyenyak di atas kasur empuk kami, hingga pagi menjelang, tak merasa bahwa amanah telah menanti untuk diselesaikan. Faghfirlii ya Allah...
Ya Ghofur...betapa sombongnya kami. Merasa miliki banyak ilmu. Ilmu da’wah. Ilmu ukhuwah. Tapi panggilanMu lewat koordinator-koordinator kami, kami jalani dengan pikir-pikir dulu. Senyum kami untuk saudara-saudara kami, kami anggap lintas lalu. Lalu kemudian, kami merasa sebaiknya kami sholih sendiri. Surga untuk kami sendiri.
Ya Quddus...kami menutup mata. Saat saudara kami mondar-mandir, berkoar-koar, berpeluh-peluh, berkerit dahinya, untuk amalan-amalan di kelas kami, di fakultas kami, di kampus kami. Ahh...kami kerap melegalkan: yaa...setiap orang kan punya pilihan...hargai dan hormati dong pilihan saya... Kemudian kami kembali berkutat dengan urusan kami.
Padahal ya Rabb...bukankah Engkau membeli dari kami, harta dan jiwa kami, untuk berjuang menegakkan dien ini...? Lantas sekarang, apa yang dapat kami tawarkan padaMu, Rabbanaa...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar