Selasa, 21 Desember 2010

golden standard

bismillaahirrahmaanirrahiim...
Hari ini saya mengikuti sebuah seminar yang diadakan oleh Agrianita IPB (ibu-ibu dharma wanita-nya IPB). Seminar dalam rangka menyambut hari ibu ini bertajuk “Golden Standard of Infant Feeding” atau bahasa keren-nya “Makanan Bayi Berstandar Emas”. Langkah awal membangun generasi bangsa sehat, cerdas, dan berkarakter. Hmmm...
Nah, saya coba sedikit bagi-bagi ilmu yang saya dapatkan dari dr. Utami Roesli, Sp.A., MBA.CIMI, IBCLC. ini ya...Beliau adalah ketua umum Sentra Laktasi Indonesia sekaligus ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI. Ilmu yang luar biasa bermanfaat untuk saya (dan mudah-mudahan untuk anda juga).
Oiya, seminar ini diawali oleh penampilan anak-anak playgroup dan TK Agriananda. Terharu rasanya melihat mereka bernyanyi (lipsing) ‘Lagu untuk Mama’. Terharu...dan membuat saya ingin sekali menjadi seorang ibu...! >_<
Baiklah..mari kita mulai dari slide pertama yang menjelaskan apa saja standar emas makanan bayi itu. Menurut WHA No. 55.25 thn 2002 yaitu: 1. Inisiasi Menyusu Dini (IMD), 2. ASI eksklusif selama 6 bulan, 3. Makanan Pendamping ASI (MPASI) setelah 6 bulan, 4. ASI diteruskan sampai 2 tahun atau lebih.
Sampai sini ada pertanyaan...? (lho...belom ya...?) hehe...
 Standar emas makanan bayi ini akan tercapai bila pemberian ASI dan MPASI dilakukan dengan benar. Proses menyusui harus dimulai secepatnya segera lahir, kemudian selama 6 bulan diberikan kepada bayi secara eksklusif tanpa makanan pendamping. Ternyata, ASI ini diminumkan kepada bayi sesuai keinginan sang bayi, bukan pada jam yang kita jadwalkan. Tepat pada usia 6 bulan, mulai diberikan makanan pendamping. Ingat! Makanan yang diberikan bukan makanan pabrik. Makanan ini adalah makanan keluarga, atau dibuat sendiri, namanya bubur ASI. Sedikit beras ditumbuk kemudian diberi ASI.
Nah...bagian ini yang menarik: Inisiasi Menyusu Dini. Segera setelah lahir, bayi ditengkurapkan di dada ibu. Kulit bayi melekat pada kulit ibu minimal 1 jam atau sampai menyusu awal selesai. Subhanalloh...ternyata, kulit ibu memiliki kemampuan sebagai thermoregulator-thermosynchrony atau dapat menyesuaikan suhunya dengan suhu yang dibutuhkan bayi. Jadi jangan khawatir sang bayi kedinginan selama 1 jam itu, karena setiap penurunan beberapa derajat suhu bayi akan diikuti dengan kenaikan beberapa derajat suhu tubuh ibu. “Tubuh ibu merupakan ‘inkubator’ utama bagi sang bayi.” Begitu kurang lebih kata dr. Utami (wiiihh..namanya kayak nama saya..hhe..).
Bayi yang diletakkan segera di dada ibu akan merayap sendiri mencari payudara sang ibu. Kakinya akan menekan-nekan perut ibu untuk bergerak maju, tepat di atas rahim. Hal ini akan mencegah perdarahan pada sang ibu. Kemudian sang bayi akan menjilat-jilat kulit ibunya. Hal ini menyebabkan bayi akan menelan bakteri ‘baik’ dari kulit ibu lalu akan berkoloni dalam usus bayi menjadi probiotik! Subhanalloh...
Jangan tunggu lama untuk meletakkan bayi di atas dada sang ibu. Karena yang akan terjadi adalah, bayi akan kesulitan merayap menemukan payudara, aktivitasnya menurun, ia tidak akan bergerak menghampiri payudara ibunya. Ini terjadi pada bayi yang ketika baru lahir ditimbang terlebih dahulu baru diletakkan di dada sang ibu. Jadi, harus segera!
Sang bayi juga seolah-olah tahu kapan ASI akan siap dikeluarkan dari payudara sang ibu sehingga ia akan sedikit menghentak-hentakan kepalanya di dada sang ibu kemudian mengulum puting payudara ibu untuk merangsang hormong oksitosin dikeluarkan. Hormon oksitosin inilah yang akan menginisiasi dikeluarkannya susu. Menurut Pak Edmond dan kawan-kawan dari Department for International Evelopment UK Pediatrics tahun 2006, memberi kesempatan bayi menyusu segera setelah lahir dapat menurunkan 22% mortalitas atau tingkat kematian bayi.
Detik-detik keberadaan bayi di dada ibu juga dapat memperkuat jalinan kasih sayang antara ibu, bayi, dan ayah sebab bayi dalam keadaan siaga pada 1-2 jam pertama. Ayah dapat meng-adzan-kan dan mendoakan sang bayi pada momen tersebut. Membisikan kalamullah di telinga sang bayi. Penanaman spiritual quotion sejak dini.
Awas aja nih kalo suami saya nanti gak mau nemenin saat saya melahirkan... >_<
Selain itu, ibu dan bayi harus dirawat dalam satu kamar dan selalu dalam jangkauan ibu. Kalo dipisahkan selama katakanlah 6 jam saja, hormon stress pada bayi akan meningkat 2 kali lipat. Jadi kalo ada orang pilek yang menjenguk, ibu tinggal bilang aja ke orang tersebut untuk menjaga jarak dengan bayinya. Kalo tempatnya dipisah ‘kan ibu jadi nggak bisa mantau bayinya, benar..?
Oiya, peran ayah dalam keberhasilan menyusui sangat besar. Penelitian pada 115 ribu ibu yang tahu tentang ASI dan menyusui menyebutkan bahwa keberhasilan menyusui  sebanyak 98,1 % pada kelompok ayah yang tahu ASI dan 26,9 % pada ayah yang tak mengerti. Michigan States University juga merekomendasikan pendidikan ASI bagi ayah dan keluarga di antenatal care (perawatan setelah melahirkan). Soo..let’s prepare to become a breastfeeding father, bro..!
Tak hanya baik untuk bayi, ibu yang memberi makanan bayi berstandar emas pun akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Perdarahan pasca melahirkan dan anemia akan berkurang, juga angka kematian, kanker payudara, kanker indung telur (ovarium) dan rahim, serta risiko maternal diabetes. Selain itu, akan mengurangi osteoporosis, risiko Rheumatoid Arthritis, risiko overweight, serta mempercepat bentuk rahim kembali ke keadaan sebelum hamil juga mempercepat kembalinya hubungan suami istri seperti sebelum hamil.
Satu hal lagi, komposisi ASI akan berbeda pada setiap wanita meski mereka melahirkan pada detik yang bersamaan. Mengapa? Karena komposisi ASI tergantung pada kemampuan usus sang bayi untuk menyerap. Maka dari itu, ASI bersifat spesifik spesies. “Coba bayangkan, energi yang dibutuhkan bayi kalo kita memberinya susu bukan dari ibunya karena ususnya tak dapat menerima. Kasihan ‘kan..?!” begitulah kira-kira kata dr. Utami. (bukan saya lho..hehe..)
Allaahuakbar...Allah-lah Yang Mahakuasa atas semua hal itu...
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (Ar-Rahmaan: 13)
“...dari payudaranya dihisap oleh bayinya, setiap tegukan dan hisapan mendapat satu pahala.” (HR. Thabrani dan Ibnu Asakir)
“Jika berjaga sepanjang malam karena melayani bayinya, ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang memerdekakan tujuh puluh budak di jalan Allah.” (HR. Thabrani dan Ibnu Asakir)
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Maka hendaknya mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An-Nisaa: 9)
“Anak itu titipan Alloh...titipan Alloh...! Jangan sampai kita menzholiminya... Jangan sia-siakan 1 jam itu...” (dr. Utami Roesli)
Jadi, pastikanlah bahwa rumah sakit atau tempat para calon ibu melahirkan memiliki prosedur golden standard of infant feeding tersebut...
Semoga kita dapat lebih banyak belajar untuk generasi yang lebih baik... :)
wallaahua’lam bishshawwab...

*Selamat Hari Ibu... :)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar