Selasa, 14 Juni 2011

part 3


Sejak awal sudah terpatri dalam diri saya bahwa pernikahan itu tidak hanya mawar yang bertebaran, tetapi juga duri yang menusuk-nusuk. Bahwa bahtera ini tidak melulu berlayar di air yang tenang, tapi juga di lautan yang bergelombang. Itu juga merupakan salah satu cara saya mempersiapkan diri. 

Maka setelah darmaga itu saya datangi dan bahtera itu saya layari, tak hentinya saya bersyukur padaNya. Saya pernah membaca sebuah majalah tarbawi edisi yang keberapa saya lupa, yang jelas judulnya: terkadang bukan keadaan yang perlu kita ubah, tapi suasana hati yang perlu kita perbaiki. Yah, kira-kira begitulah judulnya. Dan itu menjadi salah satu cara saya berpartner dengan pasangan  saya dalam sebuah pernikahan. Menikah membuat saya belajar semakin dalam, bagaimana mengelola perasaan. 

“Semuanya telah tertulis dalam lauh mahfuz, tidak akan bergeser waktunya, tidak akan berganti orangnya. Dan yang terpenting adalah, siap dengan segala risiko yang akan terjadi setelah menikah...” itu pesan murobbi saya yang saya camkan betul dalam diri saya. Ya, kesiapan menerima segala risiko. Bahagianya maupun dukanya. Mudahnya maupun susahnya. Risiko-risiko tersebut telah saya ketahui sedikit banyak dari buku-buku yang saya baca serta dari pengalaman banyak keluarga. 

Pemuda yang telah membuat perjanjian agung itu hidup bersama saya dengan segenap cintanya. Sebelum menikah, saya memang berusaha mengenalnya. Tetapi sesungguhnya, pengenalan lebih dalam itu terjadi setelah kami berumah tangga. Hari-hari awal setelah menikah diliputi oleh banyak kejutan. Setiap satu hal dari dirinya yang saya ketahui, maka tertanam pula satu perasaan cinta dalam hati saya. Ya, saya belajar mencintai pasangan saya lewat pengenalan terhadapnya. 

Kemudian saya jadi menyadari bahwa ada mindset yang barangkali perlu dievaluasi. Dalam sebuah pembicaraan parasingle-wati, dan mungkin juga single-wan, muncul komentar “Ah, nggak mau nikah sama temen seangkatan yang kita kenal, apalagi ketua sendiri, atau partner seorganisasi..udah ketauan ‘belangnya’..”maksudnya, sudah tahu gerak-geriknya. Hmm..saya kualat ‘kali ya, karena pernah termasuk menjadi single-wati yang berkomentar seperti itu. Eh, ternyata pemuda yang menjadi suami saya sekarang adalah teman seangkatan yang saya kenal, satu organisasi pula meskipun belum pernah satu tim. Sebenarnya pertimbangan dahulu kenapa tidak mau yang seangkatan adalah karena mereka sudah saya anggap sebagai saudara sendiri (Suami saya komentar setelah membaca paragraf ini, “Ooh..jadi kualat menikah sama saya..? Hmm..” -___-“). Tapi sekali lagi, barangkali takdir memang tengah bicara. Beliau lah yang telah dipersiapkan olehNya untuk saya. Oke, saya nggak kualat. Alhamdulillah.

Nah, evaluasinya adalah, sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar tahu siapa orang yang ada di dekat kita. Teman-teman pria kita, atau teman-teman perempuan kita (bagi anda para pria). Kita baru benar-benar akan mengetahuinya ya setelah bersama-sama dengannya dalam sebuah rumah tangga. Saya jadi teringat sebuah quote dari novel yang pernah saya baca: “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Jadi, bagi rekan-rekan yang baru saja menikah, seperti saya, selamat menikmati kejutan-kejutan dariNya lewat pasangan anda. Kemudian tersenyumlah, dan berbahagialah. Kejutan-kejutan itu akan menyehatkan hati anda, juga hubungan anda, insya Allah. 

Kemudian, tentang mengelola perasaan, saya menikmatinya sebagai tarbiyah dariNya. Mengapa begitu? Mari kita baca kisah selanjutnya.

[150611]

part 2


Anggap saja takdir tengah bicara..dia datang dari langit buatmu..dan pandangan matanya khusus buatmu.. (lagu kasmaran - ebit gad)
Hari-hari ‘manten anyar’ memang luar biasa. Tiba-tiba saja bunga-bunga bermekaran di sekitar saya (lebay..). Sampai hari ke-40 pernikahan saya (tepat pada saat saya menulis tulisan ini), hati ini masih cenat-cenut saat berdekatan dengan suami saya. Seperti ada kupu-kupu menari dalam perut saya. Setiap hari. 

Pelajaran selanjutnya adalah pada saat kami berada di rumah Bekasi, pada suatu siang. Saat suami saya berkata, “Nong...laper...” dengan wajah memelas (oiya, ‘nong’ adalah panggilan saya dari beliau. Artinya: sayang). Saat suami saya berkata begitu, kontan saya langsung histeris (lebay lagi...). “Hah...?? Ya ampuuuunnn... Iya, iya... Afwan yaaa...”
Setelah itu saya tertawa. Ampun dah... dulu waktu masih sendiri memang sudah biasa nggak makan kalo nggak ada makanan. Jadi saya cuek aja. Eh, lupa..ternyata saya sudah bukan single lagi. Ada sesosok pria yang musti saya perhatikan. Sambil nyengir saya bilang ke suami saya, “Sabar ya...kita nunggu abang tukang bakso lewat ya...” Hzzz...kasihan sekali suami saya. Maklum, sepekan setelah menikah kehidupannya masih belum stabil, jadi saya belum sempat masak (alesan..). Sampai pukul lima sore, tidak ada tukang jualan makanan yang lewat. Aneh. Tapi akhirnya lewat lah tukang somay. “Beli somay aja ya...” kata saya. Alhamdulillah, bahagia sekali membuat suami saya terlepas dari penderitaan. Setelah kejadian itu, terpatri dalam diri saya: saya tidak akan pernah lagi membuat suami saya kelaparan! *mengepalkan tangan*

Hari berikutnya kami berazzam untuk tidak beli makanan berat kalau nggak kepepet. Kami harus masak sendiri. Maka pergilah kami belanja. Sayur bayam dan jagung, menu yang akan dibuat. Ini adalah kali pertama saya memasak. Sendiri. Tanpa seorang pun mendampingi. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang amat sangat minim. Jadilah saya sibuk sore itu. Setelah konsultasi dengan ibu saya di telepon, saya memulai momen hebat dalam hidup saya: memasak! Dan jadilah itu sayur bayam, tepat saat suami saya pulang. Sambil mesem-mesem beliau bertanya, “Gimana...? Udah masaknya...?” Saya mengangguk. Lalu beliau mengambil sendok dan mencicip kuahnya. “Kurang ini sedikit. Tambahin ini sedikit...” katanya. Saya nyengir. Siang itu kami makan bersama. Semangkok berdua (soalnya mangkoknya emang cuma punya satu). Melihat saya yang hanya menatapnya makan, beliau berkata, “Kenapa? Ayo makan...enak kok...” Fiuuuhh... Itu adalah sayur bayam terlezat yang pernah saya makan (lagi, lebay...). Bukan lidah saya yang merasakan kelezatannya, tapi hati saya.. :)

Beberapa kali masak duet, saya jadi asisten suami saya. Tapi itu cukup menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri saya. Sampai kemudian saya masak sendiri lagi. Kali ini oreg tempe. Seperti biasa, konsultasi dulu dengan ibunda. Kemudian mulai lah saya masak dengan khusyu’ sambil deg-degan. Terlebih saat masakan jadi, saya masih deg-degan sambil menanti suami saya pulang. Saya buka kulkas. Di dalamnya ada susu beruang. Saya sedikit tenang. Kalo terjadi sesuatu pada suami saya, saya sudah siap dengan sekaleng susu tersebut. Akhirnya suami saya pulang. Saya menatapnya cemas sambil berkata, “Makan...?” Ia tersenyum. “Masak apa hari ini...?” katanya. Saya mendorongnya ke dapur. “Cicip dulu deh...kayaknya rasanya aneh...”. Kemudian ia berkata, “Subhanallah...enak.” Lalu meluncurlah sms dari seorang menantu kepada mertuanya: “Alhamdulillah...istriku pintar masak.” 

Jadi, wahai para pemuda yang sedang mencari pendamping hidup, jangan khawatir bila calon istrimu berujar, “Saya nggak bisa masak.” Karena barangkali ia bukan tidak bisa, tapi tidak biasa. Buktinya, saya yang selama ini nggak pernah masak, ternyata bisa. Karena dipaksa. Yakinlah. Terkadang kita memang perlu memaksa diri kita untuk bisa melakukan suatu hal. Bisa karena biasa, biasa karena dipaksa. Itu adalah mantra sakti.

Melalui tulisan ini, saya juga ingin menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada para sahabat yang telah menghadiahkan kami seperangkat alat masak. Jazakumullah ahsanul jaza. Mampir-mampir lah ke rumah... ;)

[090611]

part 1


bismillaahirrahmaanirrahiim

Tarbiyah madal hayah. Belajar sepanjang hidup. Saat saya menerima pengajuan ‘proposal perjuangan’ dari seorang pemuda dan menyatakan siap untuk berproses dengannya, bukan karena merasa bahwa saya telah expert dan mumpuni dalam hal yang nanti akan saya tuju. Membangun rumah tangga.

Sejak awal kuliah, saya kerap membaca buku-buku bertemakan nikah. Memang pada dasarnya saya senang membaca. Ketika SMA, saya membaca sebuah novel berjudul Diorama Sepasang Albanna. Tidak kurang dari satu bulan buku saya sudah beredar seantero sekolah. Pembahasan kisahnya terdengar dari mulut ke mulut. Jadilah buku saya itu menjadi satu-satunya buku yang paling lecek di antara buku-buku saya yang lain. Sampai di-hecter segala. Novel berisi kisah kehidupan rumah tangga sepasang aktivis dakwah itu cukup fenomenal, terutama di kalangan anak rohis. Sebagai ABG (baca: anak baru ghiroh), saya pun cukup terkesan dengan buku tersebut. Membayangkan sebuah pernikahan yang nanti akan saya jalani. Rumah tangga macam apa yang akan saya arungi. Seperti apa pemuda yang akan mendampingi. 

Kemudian saya pinjamkan buku itu kepada murobbi saya. “Kak, baca deh..Subhanalloh, bukunya bagus!” Teman-teman satu halaqoh pun meng-amini ucapan saya. Pekan berikutnya beliau mengembalikan buku itu. Serentak kami bertanya, “Gimana, mba...???” Lalu beliau menjawab polos, “Menurut saya, biasa aja...” Baiklah, kami hanya bisa mingkem. Selanjutnya saya meminta ibu saya untuk membacanya. Berharap mendapat respon sesuai dengan kesan saya terhadap buku itu. Tapi ternyata Ibu juga menjawab, “Hmm...gimana ya...? Hmm...bagus sih...tapi ada beberapa hal yang seharusnya bukan seperti itu...” Yah...walau bagaimana pun, buku itu tetap fenomenal. Dan memberi saya banyak pelajaran.

Saat kuliah, saya mengurangi membeli novel. Mulai merasa butuh membaca buku-buku non-fiksi, demi menunjang karir saya (halah..). Dan buku-buku bertema pernikahan tidak luput dari sasaran saya. Bukan karena saya berencana menikah saat itu, tapi justru karena saya tidak tahu kapan saya menikah maka saya mulai mempelajari banyak hal sebelumnya. Saya pikir, menikah itu adalah ibadah. Ibadah butuh ilmu. Belajar tentang pernikahan sama seperti mempelajari shalat, puasa, zakat. Dan bicara pernikahan juga sama seperti membicarakan haji, dakwah, atau harokah. Lalu saya heran dengan para sahabat yang risih memperbincangkan masalah pernikahan. Yang enggan berdiskusi masalah pernikahan. Yang tersenyum menggoda ketika melihat saudaranya membaca buku bertema pernikahan. Tanya kenapa...?

Keterlibatan saya dalam sebuah lembaga dakwah kampus memberi saya kesempatan untuk banyak belajar. Saya termasuk ke dalam departemen Bimbingan Remaja dan Anak-anak (saat itu masih berupa BSO, badan semi otonom). Aktivitas saya di sana akhirmya membuat saya membaca buku-buku parenting. Karena menjadi ibu juga butuh ilmu. Dan karena saya tidak tahu kapan saya akan menjadi seorang ibu, maka saya berupaya untuk mempelajari banyak hal sebelumnya. 

Jadi, apakah karena saya telah membaca banyak buku tentang pernikahan dan cara mendidik anak, kemudian saya dikategorikan siap membangun rumah tangga? Tidak juga. Kesiapan saya, adalah kesiapan menerima risiko apapun yang akan terjadi dalam pernikahan. Kesiapan saya, adalah kesiapan belajar lewat peran yang akan saya mainkan selanjutnya. Kesiapan saya, adalah kepasrahan saya dalam doa kepadaNya, memohon petunjuk. 

Namun begitu, ilmu yang saya dapatkan dari buku-buku yang saya baca tersebut secara tak langsung menjadi faktor penting penambah kesiapan dalam diri saya. Dan terbukti bermanfaat ketika bahtera rumah tangga telah saya jalani.

Selanjutnya, apakah mulus-mulus saja? Nantikan kisah selanjutnya.. :)

[080611]

Kamis, 17 Februari 2011

..romantis dalam diam-nya. sederhana dalam keramahan-nya. pengasih dalam ketegasan raut wajah-nya..



















...cinta pertama si gadis kecil...

Selasa, 08 Februari 2011

tentang kimia jiwa

bismillaahirrahmaanirrahiim...
tulisan ini saya ambil dari sebuah blog Bersama Dakwah.. hmm.. menarik..
---
Bukan Pernikahan Tanpa Cinta
Hari itu, kira-kira pertengahan antara khitbah dan walimah. Seorang ikhwah menemui saya dan mengatakan: "Akhi, perasaan ana berubah." Sepintas saya agak khawatir. Saya sudah menebak kalau ini berkaitan erat dengan rencana pernikahannya. Namun saya tidak mau larut dalam detik-detik ketidakjelasan. "Berubah bagaimana maksud antum?"

Ikhwah ini menghela nafas. Sepertinya akan ada jawaban hebat yang akan keluar dari lisannya dan dipersaksikan kepada dunia. "Ana mulai mencintainya" Alhamdulillah... Plong! Betapa bahagianya mendengar penuturan itu.

Pernikahan Islami memang unik. Ada tantangan tersendiri bersamaan dengan kesucian jalannya. Islam tidak memperbolehkan pacaran. Sementara menurut penganutnya, pacaran dianggap sebagai jalan untuk menjalin kedekatan dan penjajakan hingga kecocokan tercipta sebelum pernikahan. Logikanya, jika kecocokan telah terjalin dan kepastian cinta didapatkan, keduanya bisa mengarungi bahtera rumah tangga dengan lebih mudah dan harmonis. Pernikahan, dengan demikian, bukan lagi upaya coba-coba karena hanya melanjutkan proses yang telah dijalani sebelumnya.

Namun, argumen ini semakin terbantahkan. Lihatlah, betapa banyaknya suami istri yang bercerai bahkan di usia muda pernikahan mereka padahal mereka telah lama berpacaran. Usia pernikahan tidak lebih lama dari usia pacarannya. Apalagi para artis, masya Allah banyaknya kasus mereka! Mengapa? Karena pacaran tidak sama dengan pernikahan. Pacaran tidak bisa diidentikkan seperti on the job training pada pekerjaan sebenarnya bernama keluarga.

Sebab lainnya terletak pada motif. Mengapa pernikahan Islami yang tanpa pacaran justru bertahan lama. Pun dengan pernikahan orangtua-orangtua kita yang tanpa pacaran? Motif mereka –insya Allah- adalah motif yang suci, bukan motif fisikal atau seksual semata. Motif terakhir ini yang sering mendominasi saat pacaran dan pernikahan yang mengakhirinya.

Tanpa pacaran, bukan berarti Islam mengabaikan cinta saat pernikahan. Ketiadaan cinta bisa menjadi sebab perceraian. Lihatlah misalnya pengaduan istri Qais bin Tsabit yang diriwayatkan Imam Bukhari berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتِ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتُبُ عَلَيْهِ فِى خُلُقٍ وَلاَ دِينٍ ، وَلَكِنِّى أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِى الإِسْلاَمِ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ . قَالَتْ نَعَمْ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - اقْبَلِ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً

Dari Ibnu Abbas RA, bahwasannya istri Qais bin Tsabit datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Ya Rasulullah, Tsabit bin Qais, aku tidak mencela agama dan akhlaknya, akan tetapi aku tidak ingin kafir (karena durhaka pada suami) setelah aku masuk Islam.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu bersedia mengembalikan kebunnya (yang ia berikan sebagai mahar)?.” Dia menjawab: “Ya”. Maka Nabi bersabda (kepada Qais): “Terimalah kebun itu dan ceraikanlah ia dengan thalaq satu”. (HR. Bukhari)

Rumah tangga Qais tidak bertahan lama karena istrinya tidak mencintainya. Sebelumnya, si istri memang belum pernah bertemu dengan Qais. Begitu menikah dan mengetahui suaminya –yang digambarkan hitam dan jelek- Qais tidak bisa menerima. Maka, hadits di atas menjadi akhir perjalanan rumah tangga mereka.

Sekali lagi, Islam tidak mengabaikan cinta. Namun... jangan salah paham di sini. Cinta yang dimaksud sebagai bekal pernikahan bukanlah cinta yang mengurat nadi seperti dua insan yang berpacaran. Apalagi seperti Qais dan Laila atau Romeo dan Juliet. Cukuplah jika ada chemistry (kimia jiwa) saat melihat calon suami atau calon istri. Itu semacam getar-getar jiwa ketika melihatnya. Dalam Islam, ini difasilitasi oleh forum yang disebut nadhar. Yakni saat calon suami dan calon istri dipertemukan terlebih dahulu agar bisa saling melihat dan menemukan "kecocokan" di sana. Tentu yang boleh dilihat saat itu adalah bukan aurat: hanya wajah dan telapak tangan. Kata Imam Syafi'i, "Dari wajah engkau bisa melihat seseorang itu cantik atau tidak, dari telapak tangan engkau bisa melihat gemuk atau kurusnya." Jika sekarang ada istilah ta'aruf, barangkali itu adalah bentuk lain nadhar yang ada dalam hadits Nabi.

Keterpautan jiwa seperti itu perlu dimiliki oleh kedua insan yang akan melangsungkan pernikahan. Adapun cinta yang lebih dalam, ia akan berkembang sejalan dengan hari-hari yang dilalui bersama oleh keduanya kelak. Jika hadits Istri Qais mengajarkan ketiadaan rasa suka bisa menyiksa jiwa dan mengakhiri ikatan rumah tangga, sesungguhnya pernikahan memerlukan modal awal kimia jiwa itu; sebagai tunas cinta yang akan menjulang mengangkasa. "Jauh sebelum cinta menjelma menjadi pertemuan dua fisik," kata Anis Matta dalam
Serial Cinta, "ia terlebih dahulu bertaut di alam jiwa. Jika ada pertemuan fisik yang tidak didahului oleh pertemuan jiwa itu bukanlah cinta."

Lalu bagaimana dengan suami istri yang ketika menikah dulu jiwanya begitu datar kecuali karena adanya dorongan suci mengikuti sunnah Nabi? Tenang. Sebab cinta merupakan kata kerja, maka ia bisa dibangun pada ruang datar jiwa sekalipun. Asalkan tidak seekstrim Istri Qais, ketidaksukannya. "Bahwa cinta bukanlah gejolak hati yang datang sendiri melihat paras ayu atau jenggot rapi," kata Salim A. Fillah dalam
Jalan Cinta para Pejuang. "Bahwa, sebagaimana cinta kepada Allah yang tak serta merta mengisi hati kita, setiap cinta memang harus diupayakan. Dengan kerja, dengan pengorbanan, dengan air mata, dan bahkan darah."

Saya tidak tahu bagaimana upaya ikhwah yang saya ceritakan di awal tulisan ini untuk mengubah hatinya menjadi cinta. Satu yang pasti, cinta yang tumbuh tepat pada waktunya adalah karunia Ilahi yang patut disyukuri. Mungkin ada kimia jiwa saat keduanya dipertemukan dalam ta'aruf. Apapun, pada ikhwah itu yang kini telah merasakan bahagianya merayakan cinta –dan juga bagi Anda semua yang menapaki jalan sama- terlantun sebuah doa: Baarakallaahu laka, wa baaraka 'alaika, wa jama'a bainakumaa fii khair. [Muchlisin]
---
saya jadi teringat kata-kata ibu saya, "Ya Allah, Engkau tahu kemana getar hati ini mengarah..dan rahmatMu lah yang menetapkannya..." :)

Senin, 27 Desember 2010

spirit bismillah..!

sumber: buku "New Quantum Tarbiyah" yang ditulis oleh Solikhin Abu 'Izzuddin

saya percaya, semua bermula dari membaca. iqra' bismirabbikalladzii khalaq..bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. membaca dengan kesadaran. membaca tanpa menyebut nama Allah: sekuler. menyebut nama Tuhan tanpa membaca: apatis.

bismillah adalah spirit. pintu segala kebaikan. jendela keberkahan. gerbang kesuksesan. jalan kebahagiaan. gapura hidayah. spirit penggugah agar jiwa terus melangkah.

bismillah adalah visi. bersih dalam pengawasan Allah. peduli terhadap sesama. profesional dalam kinerja.

bismillah adalah mu'aahadah, agar janji terpatri di hati setiap detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, tahun, dan abad.

bismillah adalah murooqobah, merasakan kehadiran Allah begitu dekat, mengawasi, mengiringi, mendampingi, menunjuki, dan meneguhkan pijakan kaki. "jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal." (ali imraan: 160).

bismillah adalah mujaahadah. bersungguh-sungguh, tanpa mengeluh, pantang berkesah, dan senang berjuang. "barangsiapa yang bersungguh-sungguh di jalan Kami sungguh benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami." (al ankabuut: 69).

bismillah adalah musyaarathah. syarat diterima sebuah amal, kinerja, perbuatan kalau dipenuhi rukunnya. pertama, bismillah niat karena Allah, ikhlas mengharap ridhaNya. kedua, benar caranya, sesuai tuntunan, prosedur, aturan, syariat, dan manhaj.

bismillah adalah doa. doa adalah cita-cita. doa adalah harapan. doa adalah kekuatan. doa adalah pengarah langkah. doa adalah keyakinan yang menggerakkan. doa adalah kepasrahan atas ketakberdayaan. doa adalah pengakuan kelemahan di depan Allah Pemilik segala kesempurnaan. bismillah adalah doa bukan sekedar doa. bismillah adalah kekuatan. bertumpu pada tauhid, keyakinan, ats-tsiqoh billah. keyakinan ini membuat jiwa orang beriman selalu optimis menapaki kehidupan, istiqomah. laa yukallifullahu nafsan illaa wus'ahaa...

Rabu, 22 Desember 2010

penuturan seorang istri

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah; Tuhan yang memiliki segala keindahan dan kesempuranaan hakiki, yang telah menghamparkan cinta dan kasih sayang di antara para kekasih.
Menikah... Sepertinya indah dan penuh bunga-bunga harapan. Memulai hidup berdua dengan seseorang yang (akan) kita cintai sepenuh hati, membingkai ibadah dalam sebuah rumah tangga... Ah, betapa keindahan yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. Siapapun akan segera membayangkan kebahagiaan begitu berpikir tentang pernikahan dan rumah tangga. Demikian pula saya.
Tetapi, menikah juga menyiratkan segurat kekhawatiran. Mungkinkah ada seseorang yang ‘tepat’ bagi saya? Bukan hanya tepat dalam pandangan fisik dan duniawi, tetapi tepat dalam semangat dan cita-cita untuk senantiasa produktif berkarya bagi umat. Meski samar dan tersembunyi, dalam lubuk hati tetaplah ada kegelisahan dan pergolakan.
Perasaan demikian tentulah menghinggapi setiap gadis, sebelum akhirnya ia ‘sekadar’ menganggukkan kepala atas proposal pembentukan organisasi kecil bernama rumah tangga. Mengingat separuh agama akan dipertaruhkan dalam ikatan itu, menikah benar-benar keputusan besar yang akan mengubah hidup seseorang. Jika Anda seorang perempuan, Anda harus rela membuka ruang intervensi yang mengganggu ‘kemerdekaan’ Anda selama ini. Sebab, tiba-tiba ada seseorang yang berhak untuk menanyakan ke mana Anda akan pergi. Bahkan, ia bukan saja bertanya, tapi juga menyuruh atau melarang. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang berhak tahu tentang segala sesuatu tentang diri Anda; luar dalam, hingga ke emosi dan perasaan Anda. Sepertinya agak seram, ya...
Oleh karena itu, saya serius menimbang-nimbang, saat merasa telah siap menikah. Siapakah lelaki calon suami saya kelak? Dari kalangan manakah saya akan memberikan hak dan kepercayaan itu? Dunia macam apa yang telah, sedang, dan akan dilalui calon suami saya? Sebenarnya, saya belum memiliki ‘daftar’ calon suami, kendati usia telah mencapai angka 23 waktu itu.
Sungguh, saya menginginkan, bertemu calon suami dalam rentang sajadah yang indah; di jalan dakwah...
Malam demi malam saya bermunajat kepada Allah, sekiranya Ia menakdirkan harapan-harapan menjadi kenyataan. Berpuasa Senin Kamis, juga puasa Daud biasa saya lakukan sejak masa sekolah menengah sampai kuliah untuk menjernihkan bashirah mata hati dari kilau dunia dan bujuk rayunya. Semoga saja Allah mengabulkannya berupa kemantapan hati pada saat bersua dengan seorang yang tepat bagi saya. Alhamdulillah, jawaban itu datang juga. Ketika itu, setengah tidak percaya saya mengiyakan untuk menerima seorang pemuda sederhana dengan mimpi-mimpi ‘besarnya’ (yang belum diceritakan pada saya waktu itu).
Sungguh, ketika datang ke rumah orang tua saya pertama kali pada tahun 1991 untuk melamar saya, beliau hanyalah seorang pemuda bertubuh kurus dan belum menyelesaikan kuliah. Beliau hanya mengenakan kaus T-shirt dan bersandal jepit. Ia datang seorang diri menemui orang tua saya dan sangat percaya diri meminang saya. Beliau tampak polos sekali. Hal yang kelihatan darinya hanyalah semangat juang yang tinggi, keikhlasan untuk melakukan kebaikan, dan kesederhanaan dalam penampilan.
Saya bisa memberikan kepercayaan kepada beliau untuk menjadi pemimpin dalam hidup saya, karena saya meyakini keikhlasan dan kesungguhannya. Bukan karena kekayaan, harta, atau kedudukan duniawi yang beliau bawa, tetapi semangat memperbaiki diri dan umat, juga keyakinan diri yang terpancar kuat dari berbagai kegiatan yang dilakukannya. Saya pun merasa tenang dengan kebaikan dirinya.
Pembaca terhormat, pernikahan adalah sebuah fase dalam kehidupan manusia. Pernikahan bukanlah terminal akhir, bahkan ia menjadi awal bagi sebuah proses perubahan. Artinya, janganlah Anda berharap akan menemukan seseorang dengan segala sifat kesempurnaan sesuai idealitas yang Anda bangun. Bahkan, jika Anda agak lambat mendapat pencerahan, proses inqilab (perubahan, pembalikan) menuju kebaikan, bisa saja dimulai setelah beberapa waktu pernikahan berjalan. Tak ada kata terlambat. Hanya saja jika salah pilih, proses itu akan berjalan lambat, stagnan, atau bahkan bergeser dari arah kebaikan.
Saya ingin menegaskan ini untuk mengingatkan Anda yang bersikap perfect dan menginginkan kesempurnaan calon pasangan. Seorang gadis (akhawat) Muslimah datang berkonsultasi kepada saya, setelah belasan lelaki melamarnya, dan tak satu pun yang sesuai kriteria harapannya. Saya pun memberikan nasihat dengan cerita masa lalu saya.
“Jangan bayangkan Pak Cah (panggilan akrab suami saya, Cahyadi Takariawan) tahun 1991 ketika melamar saya, adalah Pak Cah yang Anda lihat sekarang ini, dengan segala kelebihan dan kematangannya. Dulu, beliau hanyalah seorang pemuda yang bersemangat untuk berbuat kebaikan dengan segala kesederhanaan dan keluguannya. Kemudian kami bersama-sama saling membangun dan mengisi, membentuk sifat kesuamian atau keistrian dan kebapakan atau keibuan, mematangkan konsep dan pemikiran, mengasah ketrampilan dan mencoba mengaplikasikannya, serta bereksperimen tentang pola yang tepat dalam saling memotivasi dan seterusnya, dan seterusnya... Hingga kini, kami masih saja saling belajar, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan.”
Anda jangan hanya ingin ‘terima jadi’ bahwa seorang ikhwan yang ideal atau akhawat yang sempurna akan datang kepada Anda dan memenuhi segala kriteria yang Anda harapkan. Tetapi, Anda harus rela dan berani untuk bersama-sama membangun pribadi yang diharapkan. Selain itu, tidak hanya menerima kelebihannya, tapi juga kekurangan yang pasti ada padanya, sebagaimana juga ada pada Anda. Hal yang penting, Anda harus mantap bahwa ia yang terpilih adalah seseorang yang memiliki visi dan misi yang sama. Kalau toh belum, minimal memiliki itikad baik untuk membangun visi tersebut. Ummu Salamah adalah contoh perempuan unggul yang membuka ruang pencerahan bagi calon suaminya, Abu Thalhah. Sejarah pun mencatat bahwa Abu Thalhah yang tadinya belum Islam akhirnya menjadi seorang mujahid dakwah.
Modal utama untuk menjadi dinamisator perubahan pada pasangan adalah keyakinan diri, kesiapan untuk berubah, karakter yang kuat, dan keteladanan. Selain itu, ditambah dengan keterampilan mengomunikasikan ide (yang ini pun bisa saling dilatihkan kemudian). Apabila ada kesiapan dalam diri Anda untuk memberi dan menerima, saling berlomba dalam menunaikan kebajikan, dan siap berubah menuju tuntutan ideal maka Anda telah memiliki semua persyaratan untuk membangun rumah tangga yang harmonis.
Tentang penulis, alhamdulillah, Allah mengirimnya untuk saya. Saya tak ingin berlebihan mengungkapkan, hanya saja beliau memang menjadi inspirasi dan motivasi untuk berlomba dalam kebaikan dan membuat saya merasa menjadi istri yang istimewa di sisinya dari waktu ke waktu. Saya ingin senantiasa menemani beliau dalam langkah perjuangan yang tengah beliau tempuh, sejak mengenalnya hingga sekarang ini. Beliau adalah suami yang istimewa di mata saya. []

Sebuah pengantar yang ditulis oleh Ida Nur Laila, istri penulis (Cahyadi Takariawan) dalam buku Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah. Ia lahir di Yogyakarta, 19 Desember 1967. Menyelesaikan kuliah di Fakultas Farmasi UGM dan kini menjadi apoteker. Dalam kegiatan dakwah, ia mengelola beberapa Majelis Taklim. Bersama suami, sekarang mengelola Jogja Family Center (JFC).