Tampilkan postingan dengan label rumah nyonya zaki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah nyonya zaki. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2011

part 7

sebuah percakapan di sore hari:

mr. zaki: mirip Jang Geum..
ny. zaki: siapa? aku?
mz: iya..
nz: lebih cantik siapa?
mz: hmm..cantik itu mutlak..
nz: iya, jadi siapa yang lebih cantik, aku apa Jang Geum?
mz: Jang Geum laaahhh..
nz: *manyun*
mz: tapi kalo cinta, udah pasti buat kamu..
nz: *mesem-mesem*

pujian itu memang penting dalam sebuah bahtera rumah tangga. konon, hal tersebut adalah salah satu cara mempertahankan keharmonisan. tapi kemudian saya jadi belajar dengan komentar jujur suami saya. pasti seneng dong, dibilang cantik atau tampan oleh pasangan. tapi bukan itu yang paling penting. mempercayainya bahwa ia mencintai kita, menurut saya itu lebih penting. karena cinta suami mutlak diberikan kepada istrinya, pun sebaliknya. masalah fisik, cantik atau tampan, itu anugerah bagi setiap orang. pun pujian untuk itu, berhak ia terima. jadi, jangan marah ketika pasangan kita memuji orang lain. asal jangan keseringan aja..! dan sepertinya juga kurang baik kalau ditampakkan secara terang-terangan dan terus menerus.

mz: Jang Geum memang lebih cantik, tapi cinta saya belum tentu buat dia..
nz: (dalem hati) aahh..itu mah karna ga kenal aja.. :P

jangan langsung pundung kalau pasangan kita mengatakan orang lain lebih cantik atau tampan dari kita. percayalah, bahwa ia mencintai kita lebih dari sekedar mengagumi pesona fisik kita. jangan lupa, penampilan fisik itu 'kan nggak abadi. dan bersyukurlah akan hal itu.

yaaahh.. Ayu Tingting juga bilang Rafi Ahmad itu ganteng. tapi cintanya Ayu Tingting 'kan belom tentu untuk Rafi Ahmad.. :P

wallaahua'alam bishshawwab

Selasa, 19 Juli 2011

part 6

Rasanya baru dua bulan yang lalu beliau mengucapkan perjanjian agung itu. Emang baru dua bulan sih. Hampir tiga bulan tepatnya. Pada suatu waktu saya bertemu seorang kawan. “Weeesss...penganten baru...gimana rasanya, Dil?” katanya. Saya jawab, “Wahhh...bahagia sekali, Mas...”. Trus dia bilang lagi, “Paling cuma tiga bulan...hahahaha...”. Dasar! Kawan saya melanjutkan lagi, “Kata temen-temenku yang udah nikah, nikah itu enaknya cuma tiga bulan. Setelah itu, akan ada banyak masalah... Siap-siap aja...” Saya manyun. Nggak mau disamain sama temen-temennya kawan saya itu. Saya paham betul, akan selalu ada masalah selama mengarungi bahtera rumah tangga. Tapi saya nggak mau, kebahagiaan itu cuma mampir tiga bulan. “Liatin aja...akan kubuktikan setelah tiga bulan nanti.. :P” kata saya kepada kawan saya akhirnya.

Dua bulan 19 hari. Suatu ketika kami berbeda pendapat. Lebih lama dari yang sudah-sudah, sehari semalam. Plegmatisnya saya umpetin dan saya sematkan melankolis pada diri saya saat itu. Ketika malamnya suami saya membawa makanan, saya pura-pura tidur. Selain karena lagi sebel, saya pengen sekali-kali tidur lebih dulu dari suami saya. Hasilnya? Saya kelaparan! Nah, rugi banget ‘kan..? Akhirnya saya menyesal. Mulai belajar kembali untuk mendamaikan perasaan. Alhamdulillah, masalah selesai. Tapi saya tetap bilang sama suami saya, “Pokoknya, suatu saat aku harus tidur lebih dulu daripada Aa. Cepat atau lambat, aku akan melakukannya! :P”

Subhanallah. Konflik (yang terselesaikan) ternyata salah satu seni menumbuhkan cinta. Asal jangan dibuat-buat aja. Minimal itulah hikmahnya. Guru kami, Ust. Asep pun berkata saat memberi taujih pada hari pernikahan kami, “Karena menikah itu ibadah, ya pasti ada aja masalah. Tapi di situlah tarbiyahnya..”. Ahh..usia pelayaran kami masih sangat muda. Jarak tempuhnya pun masih pendek. Masih perlu banyak belajar pada orang tua-orang tua kami. Satu hal yang pasti, cinta memang kata kerja, kata Ust. Anis Matta. Memang perlu diupayakan. Kalaupun tiba-tiba ia tumbuh sendiri tanpa kerja keras, itu anugerah. Wajib disyukuri.

Suatu hari suami saya berkata, “Nong, besok-besok kalo Aa pulang, disambut yang baik, ya.. Pake jilbab dan baju yang rapi. Mau pergi ngaji aja rapi, masa ketemu suaminya nggak...”. Saya nyengir sambil ngangguk. Ini gara-gara saya ketiduran abis maghrib, trus pas beliau pulang ke rumah saya sambut dengan mukena lengkap masih saya kenakan. Mata sipit karena bangun tidur (itu juga bangun karena denger suara klakson motor). Untung nggak ada bercak-bercak di wajah.

Kemarin suami saya berpesan kembali saat bertemu di kampus, “Jangan lupa, nanti malem yang rapi ya..” Saya berpikir keras. Kira-kira saya musti berpenampilan kayak gimana? Pake batik? Aduh. “Yaudah, aku pulangnya bareng Aa aja...” Suami saya manyun. Sepanjang jalan pulang, saya berpikir. Trus ketawa-ketawa sendiri, setelah memikirkan rencana kostum yang akan saya kenakan. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengenakan daster yang biasa saya pakai (dasternya layak kok, kayak gamis), tapi berjilbab rapi layaknya hendak keluar rumah. Cengar-cengir sendiri. Sambil berandai setelah itu beliau mengajak makan kepiting di warung seafood (ngarep..). Kemudian beliau pulang. Lalu terpesona (‘kaliii...). Backsoundnya lagu Rhoma Irama, ‘diii balik kerudung...’ (:P) “Subhanallah..alhamdulillah..meskipun pake daster..” Saya mingkem denger statement terakhirnya. Tapi saya bahagia. Apalagi setelah melihat bungkusan plastik yang dibawanya. Kepiting asam manis! “Enaknya kalo makan kepiting begini rame-rame...” kata beliau dengan kaki kepiting di tangannya. “Iya...biar seru ya, A...” kata saya sambil nyongkel daging dalam cangkang. “Iya...biar bisa patungan juga bayarnya...” Dasar! :))

Ahh...ya. Memang perlu diupayakan. Menyemai benihnya. Memberi nutrisinya. Menyiraminya. Memang tidak mudah. Tapi tetap saja, indah. Sebulan. Tiga bulan. Setahun. Selamanya. Insyaallah.
[190711]

Setulus hati menyampaikan kepada para 'assabiqunal awwalun' dalam pelayaran bahtera rumah tangga: baarakallaahulakum.. :)

part 5

Suatu hari, ba’da shubuh, kami kembali diingatkan oleh sebuah taujih dari sebuah buku taujihat pekanan kader PKS. Temanya mengenai Fiqih Zuhud dan Qana’ah. Saya akan membaginya untuk rekan-rekan semua. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah untuk mengamalkannya.
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Akhi wa ukhti fillah...
Kehidupan dunia itu bersifat sementara. Dunia bukan tempat tinggal yang abadi. Allah SWT dan Rasul-Nya telah banyak memberikan informasi kepada kita tentang hakikat dunia. Allah SWT berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadiid: 20)
Akhi wa ukhti fillah...
Kehidupan dunia yang sementara ini, harus kita jadikan sebagai bekal untuk menuju kehidupan yang kekal nan abadi, yaitu kehidupan akhirat. Karena dunia adalah jembatan menuju akhirat. Allah SWT berfirman, “Dan carilah dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu kebahagiaan akhirat, namun jangan kamu lupakan bagianmu di dunia...” (Al-Qashash: 77). Dunia adalah mazra’ah (lahan amal) yang kita akan temukan hasilnya kelak. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az-Zalzalah: 7-8).
Oleh karenanya, kita sebagai kader partai dakwah harus mampu membangun amal unggulan dan amal kebaikan di dunia sebagai bekal untuk akhirat kita. Membangun citra diri seorang kader dakwah dengan meningkatkan kekuatan spiritual pada semua marhalah “amal” yang telah dijabarkan Asy-Syahid dalam Majmuu’ah Rasaa’il. Salah satu kekuatan spiritual yang harus dimiliki seorang qiyadah (pemimpin) dan kader dakwah ini, khususnya di mihwar mu’assasi adalah sifat zuhud dan qana’ah.
Akhi wa ukhti fillah...
Rasulullah saw. telah bersabda: Dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idy, ia berkata, “Seseorang telah mendatangi Nabi saw. seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amalan yang sekiranya aku mengerjakannya, maka Allah dan manusia mencintaiku.’ Lalu Rasulullah saw. bersabda, ‘Zuhudlah kamu pada dunia, niscaya Allah akan mencintaimu; dan zuhudlah pada apa yang dimiliki manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)
Akhi wa ukhti fillah...
Kenapa akhlak zuhud dan qana’ah harus difokuskan dan ditekankan pada mihwar mu’assasi ini? Karena kita sadar betul bahwa di saat dakwah memasuki mihwar ini, peluang-peluang kebaikan dan kemudahan sangat terbuka bagi kita. Pintu-pintu dunia terbuka luas di depan kita. Dan di sisi lain, gesekan-gesekan kepentingan antarkader mulai terasa. Syahwat duniawi mulai tak terbendung merasuki jiwa kita. Hal ini belum pernah kita temukan dan kita rasakan pada mihwar-mihwar sebelumnya. Karena memang sebelumnya belum pernah ada jabatan publik dan jabatan politik yang sangat menggiurkan semua manusia. Sebelumnya rahim dakwah memang belum pernah melahirkan mujahid siyasi (dai politikus) yang sekaligus menjadi entrepreneur muda.
Akhi fillah...
Coba kita renungkan sejenak kondisi saudara-saudara kita yang berebut dan bermusuhan di partai-partai mereka. Tidakkah semua disebabkan faktor dunia ini?
Akhi wa ukhti fillah...
Rasulullah saw. sejak awal mengingatkan para sahabatnya –di mana mereka adalah generasi terbaik umat ini– tentang fitnah kenikmatan dan kelapangan dunia. Tentunya, agar jiwa para sahabat tidak terfitnah dengan dunia dan mampu mengendalikannya sebagai sarana meraih kehidupan akhirat. Beliau saw. bersabda: Dari Atha’ bin Yasar, dia mendengar Abu Said Al-Khudri r.a. bercerita bahwa Nabi saw. pada suatu hari duduk di atas mimbar dan kami duduk di sekelilingnya. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya di antara yang paling aku takutkan atas kalian sepeninggalku adalah terbukanya kenikmatan dunia dan perhiasannya atas kalian...” (HR. Bukhari)
“Maka demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian tetapi dihamparkannya dunia sebagaimana yang dialami orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba meraihnya sebagaimana mereka dan juga akan dihancurkannya sebagaimana mereka.” (HR. Bukhari)
Akhi wa ukhti fillah...
Zuhud bukan berarti harus meninggalkan dunia. Zuhud juga bukan berarti kita tidak diperbolehkan ikut serta dalam panggung politik, meraih jabatan, dan jauh dari dunia usaha. Akan tetapi, yang dimaksud dengan hakikat zuhud adalah penguasaan dunia tanpa harus mengganggu jiwa. Dunia boleh di genggaman kita, tapi tidak boleh melekat dalam hati kita.
Akhi fillah...
Apapun yang kita miliki dari kekayaan yang diberikan Allah, bila kita gunakan dan kita belanjakan untuk membangun amal kebaikan dan amal unggulan dalam bingkai ukhrawi kita, maka hal ini juga termasuk zuhud.
Akhi wa ukhti fillah...
Banyak sahabat dan tabiin yang memiliki harta dan kekayaan yang melimpah ruah. Akan tetapi, mereka termasuk orang-orang yang paling zuhud pada masanya. Dari kalangan sahabat lahir tokoh zuhud seperti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, dan Sa’ad bin Abi Waqash. Dari kalangan tabiin muncul tokoh yang paling zuhud seperti Abdullah bin Mubarak, Sufyan Ats-Tsauri, dan Al-Laits bin Said, bahkan beliau berkata, “Sekiranya kita tidak memiliki harta, maka mereka akan menjadikan kita seperti telapak meja.”
Akhi wa ukhti fillah...
Tidak masalah bila di kalangan kader dakwah pada mihwar muassasi dan mihwar-mihwar selanjutnya banyak yang memiliki harta dan kekayaan yang dihasilkan dari jabatan-jabatan publik, partnership strategic (Rabthul ‘Aam), dan amal usaha halal yang lain. Hanya saja, mereka harus lebih semangat memberikan kontribusi maaliyah-nya kepada dakwah, selain memenuhi kewajiban yang telah disepakati.
Zuhudnya seorang kader adalah apabila ia senantiasa berlomba-lomba dalam jihad siyasi dengan segala yang dimiliki. Apalagi rezeki dan kekayaan yang diberikan Allah SWT kepada kita, salah satu pintunya adalah dakwah ini.
Allah SWT berfirman:
“Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah: 41)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujuraat: 15)
Rasulullah saw. bersabda:
“Sebaik-baik harta adalah harta yang baik di tangan orang yang saleh.” (HR. Imam Ahmad dari sahabat Amr bin Al-Ash)
Akhi wa ukhti fillah...
Coba kita renungkan pernyataan para salafusaleh tentang zuhud yang dikutip Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziah berikut ini: Aku mendengar Syaikhul Islam, Ibnu Taimiah, semoga Allah menyucikan ruhnya, berkata, “Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat.”
Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Zuhud pada dunia adalah pendek angan-angan, bukan memakan makanan biasa dan memakai pakaian kasar.”
Imam Al-Junaid Al-Baghdadi berkata, “Zuhud itu seperti yang dijelaskan dalam firman Allah, ‘Kami jelaskan yang demikian itu supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Al-Hadiid: 23)’. Maka, orang yang zuhud adalah orang yang tidak terlalu gembira terhadap dunia yang ada dan tidak bersedih terhadap yang hilang.”
Akhi wa ukhti fillah...
Dengan semangat zuhud yang kita lakukan, akan melahirkan soliditas internal yang kuat, harmonisasi sosial, keterpautan hati masyarakat dengan kita, selain terbentuknya kekuatan spritual di sisi Allah.
Akhi wa ukhti fillah...
Selain sifat zuhud ini, setiap kita juga harus memiliki sifat qana’ah. Qana’ah berarti ridha dengan jatah atau bagian, menerima sesuatu yang terjadi dan yang telah ditetapkan Allah, baik yang berkaitan dengan rezeki, jabatan, dan musibah. Qana’ah sangat urgen dimiliki oleh kader pada era mihwar muassasi dan mihwar selanjutnya. Karena qana’ah merupakan benteng jiwa yang mampu menahan arus dan gelombang frustasi, futur, lemah, dan tak berdaya di saat harapan dan keinginan jiwa tak tercapai. Seperti harapan besar kita dalam memenangkan Pemilu.
Akhi wa ukhti fillah...
Manifestasi sifat qana’ah dalam diri kader adalah penerimaan dan keridhaan atas kekalahan dan kemenangan setelah melakukan seluruh usaha dan perjuangan. Inilah yang dimaksud dengan qana’ah rabbaniah yang termaktub dalam hadits “radhiitu billaahi rabban” (aku ridha Allah sebagai Rabb). Menerima dengan penuh keikhlasan atas semua yang terjadi. Allah SWT berfirman:
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Al-Hadiid: 22-23)
Akhi wa ukhti fillah...
Qana’ah dalam bingkai gerakan dakwah kita juga berarti penerimaan atas keputusan dan kebijakan yang telah diambil dan ditetapkan oleh Qiyadah Tandzimiah kita. Inilah yang disebut dengan qana’ah fikriyah. Qana’ah ini sangat penting dalam menguatkan soliditas kader, menjaga amal jama’i, dan mengokohkan barisan dakwah.
Dan qana’ah juga berarti hilangnya rasa iri dan dengki terhadap kondisi saudara kita yang lain. Mungkin ada saudara kita yang telah mendapatkan amanah jabatan, baik yang di legislatif maupun di eksekutif. Ada yang memiliki kekayaan yang melimpah dari hasil kemitraan, partnership, dan pengembangan usaha halal lainnya. Maka sebagai kader, kita perlu membersihkan hati dari sifat ghill (iri/ dengki). Tidak usah berkomentar dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, seperti, “Sama-sama anggota DPR kok beda-beda rezekinya.” Bahkan yang urgen, kita melakukan autokritik terhadap diri kita tentang kelemahan dan ketidakberdayaan diri. Inilah inti doa yang diajarkan Allah kepada kita:
“Dan orang-orang yang datang sesuadah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (Al-Hasyr: 10)
Akhi wa ukhti fillah...
Semoga sifat zuhud dan qana’ah ini senantiasa inheren dan mengkristal dalam jiwa kita sebagai kader partai dakwah. Agar kita bisa istiqamah dalam berdakwah, bersatu di bawah panji-panji harakah, dan bersama merealisasikan cita-cita besar kita, yaitu ustaadziyatul ‘aalam.
Wallaahu a’lam bish-shawaab.
Begitulah isi taujih yang dibacakan oleh suami saya. Saya termenung. Menatap wajahnya. Ada sebening air menetes dari matanya.
[240611]

Selasa, 14 Juni 2011

part 4

Suatu hari saya mengirimkan sms kepada suami saya: “Dulu kita pernah meminta padaNya pasangan untuk menjadi pendamping hidup kita, lalu Dia memberikannya pada kita. Kita bersyukur kepadaNya, dan kita bahagia. Kemudian Allah berikan ujian pada kita, Dia ingin agar kita tetap mengingatNya dan tidak melupakanNya. Maka bersyukurlah, cinta..Dan marilah kita memilih untuk bahagia...” 

Setiap kita pasti pernah memohon padaNya untuk diberikan pasangan yang sholih. Doa yang kerap dibaca barangkali seperti ini: ‘rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa’. Suami saya berdoa pada Ramadhan tahun lalu agar Ramadhan berikutnya beliau telah memiliki pendamping. Bila kami disampaikan pada Ramadhan tahun ini, maka terkabul-lah doa suami saya tersebut. Saya berdoa pada awal masa kuliah, agar wisuda nanti saya didampingi oleh ibu dan suami saya. Bila kami disampaikan pada momen tersebut, maka di sanalah saya dan suami saya berada. Dalam pembicaraan bersama sepasang pengantin baru dan seorang pemuda single, saya berujar, “Subhanalloh, udah mau Ramadhan aja ya.. Ramadhan taun lalu beliau berdoa supaya Ramadhan taun depan udah punya istri..” saya menunjuk suami. “Dia juga nih..” kata teman saya menunjuk istrinya. “Ente berdoa juga nggak?” tanya saya kepadanya. “Beuh..saya berdoa dari Ramadhan empat tahun yang lalu..” jawab teman saya itu. Kami tertawa puas. Dan sang pemuda single cengar-cengir tidak berkomentar.

Dari buku-buku dan pengalaman banyak orang, saya mengenal hal-hal yang mungkin terjadi dalam rumah tangga. Riak-riak dan duri-duri yang akan muncul. Dan ketika tawaran menikah itu datang, saya memutuskan siap menerima segala konsekuensinya. Lalu Allah berikan jalan kepada kami hingga akad nikah itu pun terjadi.
Kini, setelah berumah tangga, dan menemukan beberapa hal kurang enak yang telah saya bayangkan sebelumnya, saya hanya tersenyum. Berkomentar dalam hati, “Eh..kejadian juga..”. Rasanya malu sama Allah kalo saya sampai mengeluh apa lagi kecewa. Nanti kata Allah, “Lho..’kan dulu kamu minta, sekarang sudah Aku berikan. Kamu juga sudah tahu sendiri konsekuensinya, dan kamu siap menjalaninya..” Duh, malu saya. Maka saya berupaya untuk mengelola perasaan saya, ketika mengenal sifat dan karakter suami saya. Ketika kami dihadapkan dengan beberapa masalah. Ketika kami berbeda pendapat. Ketika kami merencanakan sesuatu. Ketika kami bersama dalam kehidupan kami.

Suatu hari saya pernah merasakan mood saya sangat tidak baik. Saya menunggu suami saya pulang mengajar, berpikir beliau masih membawa motor yang semalam dipinjam dari sahabat suami saya. Saya mau ke kampus, dan malas naik angkot. Ternyata suami saya pulang tanpa motor. Saya semakin bete. Melihat sikap saya yang tidak seperti biasanya, beliau berujar lembut, “Kenapa, Nong..? Biasanya kau menyejukkan hatiku..” Saya tersentak. Astaghfirullah. Iya, kenapa saya ini..? Saya teringat nasihat seorang ummahat kepada saya, “Kalau nanti terjadi sesuatu dalam rumah tanggamu, cepat-cepat evaluasi dirimu. Evaluasi konektivitasmu dengan Allah...” Akhirnya saya kembali mendapat pelajaran untuk senantiasa mengelola perasaan saya agar dapat menjadi penyejuk mata dan hati suami saya. Agar Dia ridha. Agar Dia berkenan memberikan rahmat dan berkahNya kepada kami. Dan untuk itu, saya harus berhubungan baik denganNya. Tenang saja, ‘makan hati’ dalam membina rumah tangga itu nggak rugi koq, insya Allah. Justru akan terjadi KDRT, kemesraan dalam rumah tangga.. hehe..

“Afwan ya..tadi Aa bermuka masam..” Suatu hari, sebuah pesan masuk ke inbox hape saya, dari suami saya. Sebelumnya kami sempat dibuat repot oleh mogoknya kendaraan roda dua kami, padahal baru saja itu motor keluar dari bengkel. Karena saya harus menghadiri suatu agenda, saya meninggalkannya terlebih dahulu. Wajahnya keruh. Sebelum saya pergi, beliau meminta saya untuk mengirimkan sms tausyah. Saya tersenyum membaca sms darinya. Kemudian saya ketik sebuah pesan untuk suami saya, pesan yang saya tulis di awal tulisan ini. Oke, send.

Tiba-tiba sebuah pesan kembali masuk. “Mba, salah kirim ya? Isinya koq tentang pasangan pasangan gitu? Ehm...beda yang udah nikah mah... :D” Hah...??? -________-“

[150611]

part 3


Sejak awal sudah terpatri dalam diri saya bahwa pernikahan itu tidak hanya mawar yang bertebaran, tetapi juga duri yang menusuk-nusuk. Bahwa bahtera ini tidak melulu berlayar di air yang tenang, tapi juga di lautan yang bergelombang. Itu juga merupakan salah satu cara saya mempersiapkan diri. 

Maka setelah darmaga itu saya datangi dan bahtera itu saya layari, tak hentinya saya bersyukur padaNya. Saya pernah membaca sebuah majalah tarbawi edisi yang keberapa saya lupa, yang jelas judulnya: terkadang bukan keadaan yang perlu kita ubah, tapi suasana hati yang perlu kita perbaiki. Yah, kira-kira begitulah judulnya. Dan itu menjadi salah satu cara saya berpartner dengan pasangan  saya dalam sebuah pernikahan. Menikah membuat saya belajar semakin dalam, bagaimana mengelola perasaan. 

“Semuanya telah tertulis dalam lauh mahfuz, tidak akan bergeser waktunya, tidak akan berganti orangnya. Dan yang terpenting adalah, siap dengan segala risiko yang akan terjadi setelah menikah...” itu pesan murobbi saya yang saya camkan betul dalam diri saya. Ya, kesiapan menerima segala risiko. Bahagianya maupun dukanya. Mudahnya maupun susahnya. Risiko-risiko tersebut telah saya ketahui sedikit banyak dari buku-buku yang saya baca serta dari pengalaman banyak keluarga. 

Pemuda yang telah membuat perjanjian agung itu hidup bersama saya dengan segenap cintanya. Sebelum menikah, saya memang berusaha mengenalnya. Tetapi sesungguhnya, pengenalan lebih dalam itu terjadi setelah kami berumah tangga. Hari-hari awal setelah menikah diliputi oleh banyak kejutan. Setiap satu hal dari dirinya yang saya ketahui, maka tertanam pula satu perasaan cinta dalam hati saya. Ya, saya belajar mencintai pasangan saya lewat pengenalan terhadapnya. 

Kemudian saya jadi menyadari bahwa ada mindset yang barangkali perlu dievaluasi. Dalam sebuah pembicaraan parasingle-wati, dan mungkin juga single-wan, muncul komentar “Ah, nggak mau nikah sama temen seangkatan yang kita kenal, apalagi ketua sendiri, atau partner seorganisasi..udah ketauan ‘belangnya’..”maksudnya, sudah tahu gerak-geriknya. Hmm..saya kualat ‘kali ya, karena pernah termasuk menjadi single-wati yang berkomentar seperti itu. Eh, ternyata pemuda yang menjadi suami saya sekarang adalah teman seangkatan yang saya kenal, satu organisasi pula meskipun belum pernah satu tim. Sebenarnya pertimbangan dahulu kenapa tidak mau yang seangkatan adalah karena mereka sudah saya anggap sebagai saudara sendiri (Suami saya komentar setelah membaca paragraf ini, “Ooh..jadi kualat menikah sama saya..? Hmm..” -___-“). Tapi sekali lagi, barangkali takdir memang tengah bicara. Beliau lah yang telah dipersiapkan olehNya untuk saya. Oke, saya nggak kualat. Alhamdulillah.

Nah, evaluasinya adalah, sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar tahu siapa orang yang ada di dekat kita. Teman-teman pria kita, atau teman-teman perempuan kita (bagi anda para pria). Kita baru benar-benar akan mengetahuinya ya setelah bersama-sama dengannya dalam sebuah rumah tangga. Saya jadi teringat sebuah quote dari novel yang pernah saya baca: “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Jadi, bagi rekan-rekan yang baru saja menikah, seperti saya, selamat menikmati kejutan-kejutan dariNya lewat pasangan anda. Kemudian tersenyumlah, dan berbahagialah. Kejutan-kejutan itu akan menyehatkan hati anda, juga hubungan anda, insya Allah. 

Kemudian, tentang mengelola perasaan, saya menikmatinya sebagai tarbiyah dariNya. Mengapa begitu? Mari kita baca kisah selanjutnya.

[150611]

part 2


Anggap saja takdir tengah bicara..dia datang dari langit buatmu..dan pandangan matanya khusus buatmu.. (lagu kasmaran - ebit gad)
Hari-hari ‘manten anyar’ memang luar biasa. Tiba-tiba saja bunga-bunga bermekaran di sekitar saya (lebay..). Sampai hari ke-40 pernikahan saya (tepat pada saat saya menulis tulisan ini), hati ini masih cenat-cenut saat berdekatan dengan suami saya. Seperti ada kupu-kupu menari dalam perut saya. Setiap hari. 

Pelajaran selanjutnya adalah pada saat kami berada di rumah Bekasi, pada suatu siang. Saat suami saya berkata, “Nong...laper...” dengan wajah memelas (oiya, ‘nong’ adalah panggilan saya dari beliau. Artinya: sayang). Saat suami saya berkata begitu, kontan saya langsung histeris (lebay lagi...). “Hah...?? Ya ampuuuunnn... Iya, iya... Afwan yaaa...”
Setelah itu saya tertawa. Ampun dah... dulu waktu masih sendiri memang sudah biasa nggak makan kalo nggak ada makanan. Jadi saya cuek aja. Eh, lupa..ternyata saya sudah bukan single lagi. Ada sesosok pria yang musti saya perhatikan. Sambil nyengir saya bilang ke suami saya, “Sabar ya...kita nunggu abang tukang bakso lewat ya...” Hzzz...kasihan sekali suami saya. Maklum, sepekan setelah menikah kehidupannya masih belum stabil, jadi saya belum sempat masak (alesan..). Sampai pukul lima sore, tidak ada tukang jualan makanan yang lewat. Aneh. Tapi akhirnya lewat lah tukang somay. “Beli somay aja ya...” kata saya. Alhamdulillah, bahagia sekali membuat suami saya terlepas dari penderitaan. Setelah kejadian itu, terpatri dalam diri saya: saya tidak akan pernah lagi membuat suami saya kelaparan! *mengepalkan tangan*

Hari berikutnya kami berazzam untuk tidak beli makanan berat kalau nggak kepepet. Kami harus masak sendiri. Maka pergilah kami belanja. Sayur bayam dan jagung, menu yang akan dibuat. Ini adalah kali pertama saya memasak. Sendiri. Tanpa seorang pun mendampingi. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang amat sangat minim. Jadilah saya sibuk sore itu. Setelah konsultasi dengan ibu saya di telepon, saya memulai momen hebat dalam hidup saya: memasak! Dan jadilah itu sayur bayam, tepat saat suami saya pulang. Sambil mesem-mesem beliau bertanya, “Gimana...? Udah masaknya...?” Saya mengangguk. Lalu beliau mengambil sendok dan mencicip kuahnya. “Kurang ini sedikit. Tambahin ini sedikit...” katanya. Saya nyengir. Siang itu kami makan bersama. Semangkok berdua (soalnya mangkoknya emang cuma punya satu). Melihat saya yang hanya menatapnya makan, beliau berkata, “Kenapa? Ayo makan...enak kok...” Fiuuuhh... Itu adalah sayur bayam terlezat yang pernah saya makan (lagi, lebay...). Bukan lidah saya yang merasakan kelezatannya, tapi hati saya.. :)

Beberapa kali masak duet, saya jadi asisten suami saya. Tapi itu cukup menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri saya. Sampai kemudian saya masak sendiri lagi. Kali ini oreg tempe. Seperti biasa, konsultasi dulu dengan ibunda. Kemudian mulai lah saya masak dengan khusyu’ sambil deg-degan. Terlebih saat masakan jadi, saya masih deg-degan sambil menanti suami saya pulang. Saya buka kulkas. Di dalamnya ada susu beruang. Saya sedikit tenang. Kalo terjadi sesuatu pada suami saya, saya sudah siap dengan sekaleng susu tersebut. Akhirnya suami saya pulang. Saya menatapnya cemas sambil berkata, “Makan...?” Ia tersenyum. “Masak apa hari ini...?” katanya. Saya mendorongnya ke dapur. “Cicip dulu deh...kayaknya rasanya aneh...”. Kemudian ia berkata, “Subhanallah...enak.” Lalu meluncurlah sms dari seorang menantu kepada mertuanya: “Alhamdulillah...istriku pintar masak.” 

Jadi, wahai para pemuda yang sedang mencari pendamping hidup, jangan khawatir bila calon istrimu berujar, “Saya nggak bisa masak.” Karena barangkali ia bukan tidak bisa, tapi tidak biasa. Buktinya, saya yang selama ini nggak pernah masak, ternyata bisa. Karena dipaksa. Yakinlah. Terkadang kita memang perlu memaksa diri kita untuk bisa melakukan suatu hal. Bisa karena biasa, biasa karena dipaksa. Itu adalah mantra sakti.

Melalui tulisan ini, saya juga ingin menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada para sahabat yang telah menghadiahkan kami seperangkat alat masak. Jazakumullah ahsanul jaza. Mampir-mampir lah ke rumah... ;)

[090611]

part 1


bismillaahirrahmaanirrahiim

Tarbiyah madal hayah. Belajar sepanjang hidup. Saat saya menerima pengajuan ‘proposal perjuangan’ dari seorang pemuda dan menyatakan siap untuk berproses dengannya, bukan karena merasa bahwa saya telah expert dan mumpuni dalam hal yang nanti akan saya tuju. Membangun rumah tangga.

Sejak awal kuliah, saya kerap membaca buku-buku bertemakan nikah. Memang pada dasarnya saya senang membaca. Ketika SMA, saya membaca sebuah novel berjudul Diorama Sepasang Albanna. Tidak kurang dari satu bulan buku saya sudah beredar seantero sekolah. Pembahasan kisahnya terdengar dari mulut ke mulut. Jadilah buku saya itu menjadi satu-satunya buku yang paling lecek di antara buku-buku saya yang lain. Sampai di-hecter segala. Novel berisi kisah kehidupan rumah tangga sepasang aktivis dakwah itu cukup fenomenal, terutama di kalangan anak rohis. Sebagai ABG (baca: anak baru ghiroh), saya pun cukup terkesan dengan buku tersebut. Membayangkan sebuah pernikahan yang nanti akan saya jalani. Rumah tangga macam apa yang akan saya arungi. Seperti apa pemuda yang akan mendampingi. 

Kemudian saya pinjamkan buku itu kepada murobbi saya. “Kak, baca deh..Subhanalloh, bukunya bagus!” Teman-teman satu halaqoh pun meng-amini ucapan saya. Pekan berikutnya beliau mengembalikan buku itu. Serentak kami bertanya, “Gimana, mba...???” Lalu beliau menjawab polos, “Menurut saya, biasa aja...” Baiklah, kami hanya bisa mingkem. Selanjutnya saya meminta ibu saya untuk membacanya. Berharap mendapat respon sesuai dengan kesan saya terhadap buku itu. Tapi ternyata Ibu juga menjawab, “Hmm...gimana ya...? Hmm...bagus sih...tapi ada beberapa hal yang seharusnya bukan seperti itu...” Yah...walau bagaimana pun, buku itu tetap fenomenal. Dan memberi saya banyak pelajaran.

Saat kuliah, saya mengurangi membeli novel. Mulai merasa butuh membaca buku-buku non-fiksi, demi menunjang karir saya (halah..). Dan buku-buku bertema pernikahan tidak luput dari sasaran saya. Bukan karena saya berencana menikah saat itu, tapi justru karena saya tidak tahu kapan saya menikah maka saya mulai mempelajari banyak hal sebelumnya. Saya pikir, menikah itu adalah ibadah. Ibadah butuh ilmu. Belajar tentang pernikahan sama seperti mempelajari shalat, puasa, zakat. Dan bicara pernikahan juga sama seperti membicarakan haji, dakwah, atau harokah. Lalu saya heran dengan para sahabat yang risih memperbincangkan masalah pernikahan. Yang enggan berdiskusi masalah pernikahan. Yang tersenyum menggoda ketika melihat saudaranya membaca buku bertema pernikahan. Tanya kenapa...?

Keterlibatan saya dalam sebuah lembaga dakwah kampus memberi saya kesempatan untuk banyak belajar. Saya termasuk ke dalam departemen Bimbingan Remaja dan Anak-anak (saat itu masih berupa BSO, badan semi otonom). Aktivitas saya di sana akhirmya membuat saya membaca buku-buku parenting. Karena menjadi ibu juga butuh ilmu. Dan karena saya tidak tahu kapan saya akan menjadi seorang ibu, maka saya berupaya untuk mempelajari banyak hal sebelumnya. 

Jadi, apakah karena saya telah membaca banyak buku tentang pernikahan dan cara mendidik anak, kemudian saya dikategorikan siap membangun rumah tangga? Tidak juga. Kesiapan saya, adalah kesiapan menerima risiko apapun yang akan terjadi dalam pernikahan. Kesiapan saya, adalah kesiapan belajar lewat peran yang akan saya mainkan selanjutnya. Kesiapan saya, adalah kepasrahan saya dalam doa kepadaNya, memohon petunjuk. 

Namun begitu, ilmu yang saya dapatkan dari buku-buku yang saya baca tersebut secara tak langsung menjadi faktor penting penambah kesiapan dalam diri saya. Dan terbukti bermanfaat ketika bahtera rumah tangga telah saya jalani.

Selanjutnya, apakah mulus-mulus saja? Nantikan kisah selanjutnya.. :)

[080611]