Anggap saja takdir tengah bicara..dia datang dari langit buatmu..dan pandangan matanya khusus buatmu.. (lagu kasmaran - ebit gad)
Hari-hari ‘manten anyar’ memang luar biasa. Tiba-tiba saja bunga-bunga bermekaran di sekitar saya (lebay..). Sampai hari ke-40 pernikahan saya (tepat pada saat saya menulis tulisan ini), hati ini masih cenat-cenut saat berdekatan dengan suami saya. Seperti ada kupu-kupu menari dalam perut saya. Setiap hari.
Pelajaran selanjutnya adalah pada saat kami berada di rumah Bekasi, pada suatu siang. Saat suami saya berkata, “Nong...laper...” dengan wajah memelas (oiya, ‘nong’ adalah panggilan saya dari beliau. Artinya: sayang). Saat suami saya berkata begitu, kontan saya langsung histeris (lebay lagi...). “Hah...?? Ya ampuuuunnn... Iya, iya... Afwan yaaa...”
Setelah itu saya tertawa. Ampun dah... dulu waktu masih sendiri memang sudah biasa nggak makan kalo nggak ada makanan. Jadi saya cuek aja. Eh, lupa..ternyata saya sudah bukan single lagi. Ada sesosok pria yang musti saya perhatikan. Sambil nyengir saya bilang ke suami saya, “Sabar ya...kita nunggu abang tukang bakso lewat ya...” Hzzz...kasihan sekali suami saya. Maklum, sepekan setelah menikah kehidupannya masih belum stabil, jadi saya belum sempat masak (alesan..). Sampai pukul lima sore, tidak ada tukang jualan makanan yang lewat. Aneh. Tapi akhirnya lewat lah tukang somay. “Beli somay aja ya...” kata saya. Alhamdulillah, bahagia sekali membuat suami saya terlepas dari penderitaan. Setelah kejadian itu, terpatri dalam diri saya: saya tidak akan pernah lagi membuat suami saya kelaparan! *mengepalkan tangan*
Hari berikutnya kami berazzam untuk tidak beli makanan berat kalau nggak kepepet. Kami harus masak sendiri. Maka pergilah kami belanja. Sayur bayam dan jagung, menu yang akan dibuat. Ini adalah kali pertama saya memasak. Sendiri. Tanpa seorang pun mendampingi. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang amat sangat minim. Jadilah saya sibuk sore itu. Setelah konsultasi dengan ibu saya di telepon, saya memulai momen hebat dalam hidup saya: memasak! Dan jadilah itu sayur bayam, tepat saat suami saya pulang. Sambil mesem-mesem beliau bertanya, “Gimana...? Udah masaknya...?” Saya mengangguk. Lalu beliau mengambil sendok dan mencicip kuahnya. “Kurang ini sedikit. Tambahin ini sedikit...” katanya. Saya nyengir. Siang itu kami makan bersama. Semangkok berdua (soalnya mangkoknya emang cuma punya satu). Melihat saya yang hanya menatapnya makan, beliau berkata, “Kenapa? Ayo makan...enak kok...” Fiuuuhh... Itu adalah sayur bayam terlezat yang pernah saya makan (lagi, lebay...). Bukan lidah saya yang merasakan kelezatannya, tapi hati saya.. :)
Beberapa kali masak duet, saya jadi asisten suami saya. Tapi itu cukup menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri saya. Sampai kemudian saya masak sendiri lagi. Kali ini oreg tempe. Seperti biasa, konsultasi dulu dengan ibunda. Kemudian mulai lah saya masak dengan khusyu’ sambil deg-degan. Terlebih saat masakan jadi, saya masih deg-degan sambil menanti suami saya pulang. Saya buka kulkas. Di dalamnya ada susu beruang. Saya sedikit tenang. Kalo terjadi sesuatu pada suami saya, saya sudah siap dengan sekaleng susu tersebut. Akhirnya suami saya pulang. Saya menatapnya cemas sambil berkata, “Makan...?” Ia tersenyum. “Masak apa hari ini...?” katanya. Saya mendorongnya ke dapur. “Cicip dulu deh...kayaknya rasanya aneh...”. Kemudian ia berkata, “Subhanallah...enak.” Lalu meluncurlah sms dari seorang menantu kepada mertuanya: “Alhamdulillah...istriku pintar masak.”
Jadi, wahai para pemuda yang sedang mencari pendamping hidup, jangan khawatir bila calon istrimu berujar, “Saya nggak bisa masak.” Karena barangkali ia bukan tidak bisa, tapi tidak biasa. Buktinya, saya yang selama ini nggak pernah masak, ternyata bisa. Karena dipaksa. Yakinlah. Terkadang kita memang perlu memaksa diri kita untuk bisa melakukan suatu hal. Bisa karena biasa, biasa karena dipaksa. Itu adalah mantra sakti.
Melalui tulisan ini, saya juga ingin menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada para sahabat yang telah menghadiahkan kami seperangkat alat masak. Jazakumullah ahsanul jaza. Mampir-mampir lah ke rumah... ;)
[090611]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar