bismillaahirrahmaanirrahiim
Tarbiyah madal hayah. Belajar sepanjang hidup. Saat saya menerima pengajuan ‘proposal perjuangan’ dari seorang pemuda dan menyatakan siap untuk berproses dengannya, bukan karena merasa bahwa saya telah expert dan mumpuni dalam hal yang nanti akan saya tuju. Membangun rumah tangga.
Sejak awal kuliah, saya kerap membaca buku-buku bertemakan nikah. Memang pada dasarnya saya senang membaca. Ketika SMA, saya membaca sebuah novel berjudul Diorama Sepasang Albanna. Tidak kurang dari satu bulan buku saya sudah beredar seantero sekolah. Pembahasan kisahnya terdengar dari mulut ke mulut. Jadilah buku saya itu menjadi satu-satunya buku yang paling lecek di antara buku-buku saya yang lain. Sampai di-hecter segala. Novel berisi kisah kehidupan rumah tangga sepasang aktivis dakwah itu cukup fenomenal, terutama di kalangan anak rohis. Sebagai ABG (baca: anak baru ghiroh), saya pun cukup terkesan dengan buku tersebut. Membayangkan sebuah pernikahan yang nanti akan saya jalani. Rumah tangga macam apa yang akan saya arungi. Seperti apa pemuda yang akan mendampingi.
Kemudian saya pinjamkan buku itu kepada murobbi saya. “Kak, baca deh..Subhanalloh, bukunya bagus!” Teman-teman satu halaqoh pun meng-amini ucapan saya. Pekan berikutnya beliau mengembalikan buku itu. Serentak kami bertanya, “Gimana, mba...???” Lalu beliau menjawab polos, “Menurut saya, biasa aja...” Baiklah, kami hanya bisa mingkem. Selanjutnya saya meminta ibu saya untuk membacanya. Berharap mendapat respon sesuai dengan kesan saya terhadap buku itu. Tapi ternyata Ibu juga menjawab, “Hmm...gimana ya...? Hmm...bagus sih...tapi ada beberapa hal yang seharusnya bukan seperti itu...” Yah...walau bagaimana pun, buku itu tetap fenomenal. Dan memberi saya banyak pelajaran.
Saat kuliah, saya mengurangi membeli novel. Mulai merasa butuh membaca buku-buku non-fiksi, demi menunjang karir saya (halah..). Dan buku-buku bertema pernikahan tidak luput dari sasaran saya. Bukan karena saya berencana menikah saat itu, tapi justru karena saya tidak tahu kapan saya menikah maka saya mulai mempelajari banyak hal sebelumnya. Saya pikir, menikah itu adalah ibadah. Ibadah butuh ilmu. Belajar tentang pernikahan sama seperti mempelajari shalat, puasa, zakat. Dan bicara pernikahan juga sama seperti membicarakan haji, dakwah, atau harokah. Lalu saya heran dengan para sahabat yang risih memperbincangkan masalah pernikahan. Yang enggan berdiskusi masalah pernikahan. Yang tersenyum menggoda ketika melihat saudaranya membaca buku bertema pernikahan. Tanya kenapa...?
Keterlibatan saya dalam sebuah lembaga dakwah kampus memberi saya kesempatan untuk banyak belajar. Saya termasuk ke dalam departemen Bimbingan Remaja dan Anak-anak (saat itu masih berupa BSO, badan semi otonom). Aktivitas saya di sana akhirmya membuat saya membaca buku-buku parenting. Karena menjadi ibu juga butuh ilmu. Dan karena saya tidak tahu kapan saya akan menjadi seorang ibu, maka saya berupaya untuk mempelajari banyak hal sebelumnya.
Jadi, apakah karena saya telah membaca banyak buku tentang pernikahan dan cara mendidik anak, kemudian saya dikategorikan siap membangun rumah tangga? Tidak juga. Kesiapan saya, adalah kesiapan menerima risiko apapun yang akan terjadi dalam pernikahan. Kesiapan saya, adalah kesiapan belajar lewat peran yang akan saya mainkan selanjutnya. Kesiapan saya, adalah kepasrahan saya dalam doa kepadaNya, memohon petunjuk.
Namun begitu, ilmu yang saya dapatkan dari buku-buku yang saya baca tersebut secara tak langsung menjadi faktor penting penambah kesiapan dalam diri saya. Dan terbukti bermanfaat ketika bahtera rumah tangga telah saya jalani.
Selanjutnya, apakah mulus-mulus saja? Nantikan kisah selanjutnya.. :)
[080611]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar