Selasa, 14 Juni 2011

part 3


Sejak awal sudah terpatri dalam diri saya bahwa pernikahan itu tidak hanya mawar yang bertebaran, tetapi juga duri yang menusuk-nusuk. Bahwa bahtera ini tidak melulu berlayar di air yang tenang, tapi juga di lautan yang bergelombang. Itu juga merupakan salah satu cara saya mempersiapkan diri. 

Maka setelah darmaga itu saya datangi dan bahtera itu saya layari, tak hentinya saya bersyukur padaNya. Saya pernah membaca sebuah majalah tarbawi edisi yang keberapa saya lupa, yang jelas judulnya: terkadang bukan keadaan yang perlu kita ubah, tapi suasana hati yang perlu kita perbaiki. Yah, kira-kira begitulah judulnya. Dan itu menjadi salah satu cara saya berpartner dengan pasangan  saya dalam sebuah pernikahan. Menikah membuat saya belajar semakin dalam, bagaimana mengelola perasaan. 

“Semuanya telah tertulis dalam lauh mahfuz, tidak akan bergeser waktunya, tidak akan berganti orangnya. Dan yang terpenting adalah, siap dengan segala risiko yang akan terjadi setelah menikah...” itu pesan murobbi saya yang saya camkan betul dalam diri saya. Ya, kesiapan menerima segala risiko. Bahagianya maupun dukanya. Mudahnya maupun susahnya. Risiko-risiko tersebut telah saya ketahui sedikit banyak dari buku-buku yang saya baca serta dari pengalaman banyak keluarga. 

Pemuda yang telah membuat perjanjian agung itu hidup bersama saya dengan segenap cintanya. Sebelum menikah, saya memang berusaha mengenalnya. Tetapi sesungguhnya, pengenalan lebih dalam itu terjadi setelah kami berumah tangga. Hari-hari awal setelah menikah diliputi oleh banyak kejutan. Setiap satu hal dari dirinya yang saya ketahui, maka tertanam pula satu perasaan cinta dalam hati saya. Ya, saya belajar mencintai pasangan saya lewat pengenalan terhadapnya. 

Kemudian saya jadi menyadari bahwa ada mindset yang barangkali perlu dievaluasi. Dalam sebuah pembicaraan parasingle-wati, dan mungkin juga single-wan, muncul komentar “Ah, nggak mau nikah sama temen seangkatan yang kita kenal, apalagi ketua sendiri, atau partner seorganisasi..udah ketauan ‘belangnya’..”maksudnya, sudah tahu gerak-geriknya. Hmm..saya kualat ‘kali ya, karena pernah termasuk menjadi single-wati yang berkomentar seperti itu. Eh, ternyata pemuda yang menjadi suami saya sekarang adalah teman seangkatan yang saya kenal, satu organisasi pula meskipun belum pernah satu tim. Sebenarnya pertimbangan dahulu kenapa tidak mau yang seangkatan adalah karena mereka sudah saya anggap sebagai saudara sendiri (Suami saya komentar setelah membaca paragraf ini, “Ooh..jadi kualat menikah sama saya..? Hmm..” -___-“). Tapi sekali lagi, barangkali takdir memang tengah bicara. Beliau lah yang telah dipersiapkan olehNya untuk saya. Oke, saya nggak kualat. Alhamdulillah.

Nah, evaluasinya adalah, sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar tahu siapa orang yang ada di dekat kita. Teman-teman pria kita, atau teman-teman perempuan kita (bagi anda para pria). Kita baru benar-benar akan mengetahuinya ya setelah bersama-sama dengannya dalam sebuah rumah tangga. Saya jadi teringat sebuah quote dari novel yang pernah saya baca: “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Jadi, bagi rekan-rekan yang baru saja menikah, seperti saya, selamat menikmati kejutan-kejutan dariNya lewat pasangan anda. Kemudian tersenyumlah, dan berbahagialah. Kejutan-kejutan itu akan menyehatkan hati anda, juga hubungan anda, insya Allah. 

Kemudian, tentang mengelola perasaan, saya menikmatinya sebagai tarbiyah dariNya. Mengapa begitu? Mari kita baca kisah selanjutnya.

[150611]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar