Jumat, 13 Agustus 2010

punya siapa?

bismillaahirrahmaanirrahiim..


Kami biasa memanggilnya “Mang Aep…”. Mang Aep –semoga Allah melimpahkan hidayah dan karunia kepadanya– merupakan salah seorang pegawai Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Seluruh civitas akademika FKH IPB mengenalnya. Bagaimana tidak, Mang Aep adalah ‘kuncen’, atau juru kunci FKH IPB. Mau pake ruang kelas, pinjem peralatan, meja, kursi, dan sebagainya, pasti harus menghubungi beliau.

Oke, kita tidak akan membicarakan biografi Mang Aep, sebenarnya. Tapi kita akan menjadikan Mang Aep sebuah analogi terhadap hidup kita. Hmm…

Mang Aep seorang yang sederhana. Loyal pada pekerjaannya. Sebagai juru kunci, ‘kekuasaan’ terhadap kepemilikan ruang kuliah ada padanya. Mang Aep punya ruangan tersendiri di salah satu ruang kuliah. Mang Aep dapat menggunakan fasilitas apapun di kelas. Ada piano, maka Mang Aep bebas memainkannya. Ada komputer, maka Mang Aep bebas bermain game yang terdapat di sana. Ada AC, Mang Aep bebas ‘ngademin’ diri dengannya. Tapi ia menyadari bahwa semua yang ia ‘genggam’ bukan miliknya. Ia memahami, bahwa tugas dan tanggung jawabnya di sana adalah memastikan bahwa semua berada dalam kondisi yang baik, rapi, bersih, dan berfungsi. Kalo nggak, wah…Mang Aep pasti bisa kena tegur sama yang punya. Kalau ada penambahan fasilitas, CPU dan LCD misalnya, Mang Aep akan merawatnya karena itu artinya amanahnya bertambah. Dan kalaupun ada yang diambil, AC misalnya, Mang Aep tidak akan menolak kemudian bermuram durja. Ia tidak akan khawatir kalau-kalau fasilitas yang selama ini dinikmatinya akan diambil (kecuali ‘terambil’ kali ya…alias kemalingan…). Wong semua bukan miliknya.

Ya…semua bukan miliknya. Mang Aep hanya dititipin sama Pak Dekan, untuk merawat dan menjaga sarana dan prasarana dengan baik. Dan ia menjalankannya dengan penuh tanggung jawab. Mang Aep senantiasa menempatkan dirinya sebagai orang yang bermanfaat untuk sesama (aamiin…)

Aah…itulah miniatur hidup kita. Tidak ada satu pun di dunia ini yang menjadi milik kita. Semua punya Allah! Jangankan rumah, motor, atau laptop. Bahkan hidung, mulut, jantung, dan paru-paru kita. Jangankan teman, istri, atau suami. Bahkan bapak, ibu, anak, dan saudara-saudara kita. Bukan milik kita!

Semua…hanya…titipan…

Boleh saja kita menikmati itu semua. Tapi bersyukur adalah peraturannya. Qona’ah adalah adabnya. Bahwa kesemuanya memiliki hak atas diri kita. Tuntutan dari Sang Pemilik. Contoh kecil, mulut kita punya hak untuk selalu berkata baik (QS.Al-Hujurat: 11), mata kita punya hak untuk gadhul bashar (QS.An-Nuur: 31), terlebih lagi terhadap sesama manusia.

Sebagai Sang Pemilik, tentu mudah saja bagiNya mengambil apa yang menjadi milikNya. Dan kita jangan coba-coba menahannya. Wew…bukan apa-apa. Kita nggak punya daya dan kekuatan sama sekali!

Karena…bukan…kita…pemiliknya…

Semua milik Allah dan akan kembali pada Allah… Innaalillaahi wa innaailaihi raaji’uun

So, sepertinya kita nggak punya alasan untuk sombong. Betul apa benar? (^_^) Yang jadi masalah adalah apakah kita menjaga segala titipanNya itu dengan baik atau tidak. Memanfaatkannya sesuai keinginanNya atau tidak. Mengoperasikannya dengan cara yang ditunjukkanNya atau tidak. Mengelolanya dengan SOP dariNya atau tidak. Karena bisa saja, kita ‘dipecat’ secara tidak hormat oleh Sang Pemilik karena lalai dalam menjaga titipanNya. Na’udzubillaah…tsumma na’udzubillaah

Okelah kalau begitu…Mari kita berusaha kembali merapikan niat. Bersiap-siap. Bahwa yang selama ini kita pikir adalah milik kita, ternyata hanya titipan. Sehingga ketika sudah waktunya untuk diambil, semoga senyum tetap terukir, “Innaalillaahi wa innaailaihi raaji’uun…Udah diambil sama yang punya…”. Belajar sholih. Bahwa kita sedang mengelola segala titipanNya sesuai aturanNya. Sehingga ketika evaluasi tiba, semoga tidak terlontar dari mulut kita, “Kalau saja kami dulu begini…kalau saja kami dulu tidak begitu…” sambil menyesal dan meratap. Karena ternyata, ruh dan jiwa ini juga titipanNya…

Allaahummaghfirlii

Then, it’s all about keeping His own…about our responsibilities…about our rights and duties…



Penulis mengucakan terima kasih kepada Mang Aep atas dedikasinya untuk FKH IPB dan telah menjadi sumber inspirasi penulis dalam tulisan ini. Viva Mang Aep! (Lho…?!) hehehehe… ^^

Wallaahua’lam bishshawaab

-bogor, 20 januari 2010-

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS.At-Taubah: 24)

namanya Akutsu Maya

Namanya Akutsu Maya. Garis wajahnya keras. Dingin. Matanya tajam. Pakaiannya selalu hitam dengan kerah tinggi. Langkahnya lurus. Tak..tok..tak..tok..begitu kalau ia sudah berjalan di koridor sekolah. Tiba-tiba suasana menjadi suram. Mencekam.

Hampir seluruh siswa kelas 6 sekolah dasar itu tidak menyukainya. Metode mengajarnya tak serupa dengan guru yang lain. Ia akan memisahkan siswa yang nilai ujiannya tidak baik dengan menempatkannya di tengah ruangan; memimpin ketika pelajaran akan dimulai, kemudian membersihkan kamar mandi atau merapikan kelas saat jam pelajaran usai. Hampir tak tampak senyum pada wajahnya. Kalaupun ada, senyum dengan penuh kesinisan.

Ia tahu di mana muridnya berada, apa yang mereka lakukan, bahkan yang mereka pikirkan. Latar belakang, karakter, psikologi setiap murid di kelas itu ia pahami dengan sangat baik. Rapi dalam file pribadi yang disimpannya. Segala gerak, ucapan, dan caranya berbuat mengaduk-aduk emosi anak didiknya. Tak ada yang menyukainya. Dari murid yang paling bodoh hingga sang juara, rekan guru, bahkan sang pemimpin sekolah. Tak ada yang memahami jalan pikiran Maya serta caranya mendidik siswa kelas 6 tersebut. Dan Maya bertahan dengan caranya.

Queen’s Classroom. Sebuah dorama Jepang. Tentang Akutsu Maya, seorang guru. Tentang siswa-siswi kelas 6 yang akan melanjutkan episode kehidupan mereka di sekolah menengah. Tentang sebuah kelas. Tentang proses belajar mengajar. Tentang transfer of value, tak hanya knowledge. Tentang kehidupan. Tentang cinta.

Akutsu Maya bukan hanya sekedar menjadi seorang wali kelas. Ia tahu murid-muridnya berada di tingkat terakhir pendidikan pertama. Murid-muridnya sedang berada dalam fase peralihan seorang murid sekolah dasar menjadi sekolah menengah, peralihan dari seorang anak menjadi ‘sedikit’ dewasa, ABG. Dan yang ia lakukan adalah ‘menyiapkan’ kematangan emosional mereka, bukan hanya kesempurnaan nilai demi kelulusan semata. Maka ia ciptakan berbagai situasi yang melibatkan segala emosi dan pikiran murid-murid tanpa mereka sadari bahwa sebenarnya mereka sedang belajar. Ia skenariokan semuanya, tentu dengan segala pertimbangan, dengan fakta, dengan data. Sampai akhirnya terbentuklah kekuatan mental dalam diri para murid. Mereka semua lulus dengan sempurna, menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan Akutsu Maya tetap menjadi seorang guru. Selamanya begitu.

Penulis merekomendasikan ‘sinetron’ ini untuk ditonton. Apa yang dilakukan Akutsu Maya tak hanya ‘merepotkan’ komponen sekolah dalam cerita itu, tetapi juga mengusik emosi dan pikiran kita sebagai penonton. Metode pendidikan yang Maya lakukan bisa saja menginspirasi rekan-rekan yang bergelut dalam bidang yang sama dengannya walaupun tak mutlak sama seperti itu. Hanya saja, tujuan serta perencanaan matang yang dilakukannya patut diteladani. Karena mendidik anak-anak, dalam hal ini murid-murid, tidak bisa improvisasi, harus ada perencanaan serta target yang jelas. By data, by fact. Maya memiliki seluruh berkas murid-muridnya; biodata, latar belakang, karakter, permasalahan, dan sebagainya. Ia bahkan mengetahui asal-usul seorang murid yang ditinggal oleh ibu kandungnya dan akhirnya berhasil mempertemukan murid itu dengan ibunya saat acara wisuda dilaksanakan. Maya tak peduli semua orang membencinya. Karena ia tahu apa yang dilakukan adalah yang terbaik untuk murid-muridnya. Ketulusan dan rasa cinta terhadap murid-muridnya ia tunjukkan dengan ‘kebengisannya’. Ini menarik. Sosok Akutsu Maya diceritakan dengan kesan penuh misterius dalam drama ini.

Hmm…nggak kebayang, ya…? Penasaran…? Ahhh…tinggal ditonton aja… ^_^

komunikasi..penting..!!

Komunikasi Pasangan Suami Istri


( Yunita Sari.,M.Psi. )


Permulaan

Kita (suami-istri) pada awalnya saling berjauhan dan tak mengenal satu sama lain. Kemudian muncul kedekatan antara diri kita dengan pasangan. Ta’aruf (pacaran) merupakan salah satu proses yang menjembatani kedekatan kita tersebut. Selama ber-ta’aruf muncullah pemikiran bahwa antara kita sudah cocok; saya kenal dia, diapun kenal saya. Atas dasar pemikiran tersebut kita sama-sama sepakat memutuskan untuk menikah.

Perkenalan yang kita lakukan selama ta’aruf sebetulnya dapat dikatakan “percuma”. Kok percuma ? Ya, sebab perkenalan yang sesungguhnya baru terjadi setelah kita sah menikah. Saat menikah suami-istri dihadapkan pada sebuah kenyataan; ternyata saya tak mengenal dia dan diapun rupanya tak mengenal saya. Banyak orang menyangka pacaran dan menikah itu suatu garis kontinum yang berkelanjutan. Padahal antara pacaran dan menikah ialah suatu dikotomi yang terpisah. Pacaran ya pacaran, menikah ya menikah. Pernikahan ialah suatu dunia baru. Kita harus beradaptasi lagi, benar-benar beradaptasi lagi dengan pasangan. Semua berawal lagi dari nol; saya adalah orang asing bagi pasangan dan pasangan ialah orang asing bagi saya. Oleh karenanya kita sangat butuh untuk saling mengenal pasangan.


Komunikasi

Komunikasi merupakan kuncinya. Hanya saja masalah komunikasi ini sering dianggap remeh oleh pasangan. Padahal soal komunikasi ini sangat krusial. Banyak rumah tangga yang cerai gara-gara soal komunikasi. Banyak pasangan yang merasa tidak puas akan pernikahannya gara-gara soal komunikasi. Semakin buruk kualitas komunikasi, semakin mudah pasangan saling mejauhi karena merasa diri berbeda dengan pasangan, semakin enggan untuk berinteraksi satu sama lain, semakin mudah untuk curhat ke orang lain bahkan selingkuh, serta semakin mudah untuk mengatakan bahwa “kami tidak cocok lagi” atau “kami sudah tidak satu visi”, dan pada akhirnya perceraianlah yang terjadi.

Komunikasi Dengan Pasangan

Komunikasi dalam rumah tangga itu tidak semudah yang dipikirkan. Meskipun komunikasi dilakukan sehari-hari oleh pasangan suami istri, sering kali kemampuan untuk melakukan komunikasi yang sifatnya mampu mengakomodasi kebutuhan masing-masing pasangan masih sulit untuk dilakukan. Karena berkomunikasi bukan urusan penyampaian informasi semata-mata. Dengan kata lain, komunikasi tidak hanya soal “apa” yang dikatakan, tetapi juga mencakup mengenai “bagaimana” dan “mengapa” sesuatu itu dikatakan. Panca indera, gerak tubuh, sikap badan, perasaan, pengalaman-pengalam an, pemikiran, semua ambil bagian dalam proses komunikasi. Memang, hubungan yang intens dalam jangka waktu lama dapat mendorong individu untuk mencapai pemahaman yang sama. Namun hal ini tetap tidak menjamin pasangan akan selalu saling memahami (Lasswell dan Lasswell, 1987). Artinya, walaupun telah lama hidup seatap dan seranjang, tidak menutup kemungkinan antara suami istri masih sulit mengerti satu sama lain.

Hambatan Dalam Komunikasi

Banyak hambatan yang muncul ketika kita akan membangun komunikasi yang baik dengan pasangan. Beberapa permasalahan yang paling sering muncul ialah sebagai berikut;

I. Dalam hal proses berkomunikasi

1. Pasangan terutama pihak istri merasa sulit untuk menahan diri agar tidak memotong perkataan suami yang belum selesai.

2. Suami atau istri mengalami kesulitan menyimak pembicaraan pasangannya.

3. Pasangan kerap kali tidak mengklarifikasi (menanyakan kembali) hal-hal yang belum dipahami.

4. Suami atau istri kurang memperhatikan kondisi fisik serta psikis pasangannya ketika akan mengutarakan sesuatu, akhirnya terjadilah perdebatan.

5. Hanya salah satu pihak, suami atau istri, yang aktif dalam memberikan respon seperti menyimak, memberikan perhatian penuh atau sampai mengelus bahu ketika pasangannya bicara.

6. Suami atau istri merasa kurang dihargai dengan cara berkomunikasi pasangannya, baik itu dari cara bicaranya, pilihan kata yang digunakan atau perkataannya lebih terkesan menyudutkan salah satu pihak.


II. Dalam hal niat/keinginan untuk berkomunikasi

1. Kurang memiliki kepercayaan terhadap pasangannya untuk terbuka yang disebabkan perasaan tidak mampu memberikan kebahagiaan pada pasangannya tersebut.

2. Adanya anggapan bahwa apa yang akan diutarakan ialah sesuatu yang kurang urgent untuk didiskusikan, sehingga menghambat suami atau istri untuk sharing pada pasangannya.

3. Ketakutan bahwa apa yang mau dibicarakan justru nantinya hanya akan menambah berat beban pasangan, sehingga lebih baik untuk menundanya dulu.

4. Kekhawatiran akan memunculkan pertengkaran, tidak didengar pendapatnya, dimarahi, tidak dihargai, ujung-ujungnya akan disalahkan jika mengungkapkan sesuatu pada pasangan.

5. Berharap pasangan akan tahu dengan sendirinya keinginan masing-masing tanpa harus berkomunikasi secara terbuka.


III. Dalam hal keterbukaan masalah seksual

1. Baru mengutarakan sesuatu jika merasa aktivitas seksualnya terganggu dan hal ini pun jarang terjadi.

2. Pasangan sama-sama kurang memiliki pengetahuan atau informasi yang memadai mengenai persoalan seksual, sehingga aktivitas seksual dilakukan “ala kadarnya” saja.

3. Suami atau istri khawatir akan mengecewakan pasangannya bila mengungkapkan permasalahan seksual, yang akhirnya membuat suami atau istri lebih senang membicarakan hal ini dengan sahabatnya ataupun memendamnya sendiri.


Komunikasi Intim

Suami dan istri wajib mencapai tingkatan komunikasi yang intim. Komunikasi intim adalah kemampuan pasangan suami istri untuk melakukan penyampaian dan penerimaan pesan (proses komunikasi) yang penuh penghargaan, serta ditunjukkan secara verbal (kata-kata) maupun non verbal (bahasa tubuh), di dalamnya melibatkan penerimaan pada pasangan sebagai suatu bentuk komitmen terhadap pernikahan (Galvin dan Brommell, 1982). Terdapat tiga bentuk komunikasi intim :

1. Konfirmasi atau mengecek persamaan persepsi terhadap suatu pesan (Confirmation)

2. Adanya keterbukaan dalam berkomunikasi mengenai permasalahan- permasalahan yang terjadi di dalam relasi dengan pasangan (Self-disclosure) .

3. Mengkomunikasikan kebutuhan serta permasalahan seksual dengan terbuka pada pasangan (Sexual communication) .


Apa yang dibutuhkan ?

Confirmation -> Emphatic Listener

Di dalam confirmation, terdapat dua elemen penting yang terlibat, yakni kemampuan menjadi pendengar yang baik dan kemampuan empati. Kedua hal ini mesti terpenuhi guna tercapainya confirming yang baik.

Mendengarkan bukan kegiatan yang pasif, tetapi ia adalah suatu proses aktif. Untuk menjadi pendengar “yang benar-benar mendengarkan” pesan pembicara, seseorang membutuhkan konsentrasi. Sebagai bukti bila kita benar-benar mendengar (konsentrasi) , maka sepatutnya kita juga memberikan feedback atas apa yang dibicarakan. Entah itu dengan menyetujui pandangan si pembicara, mengoreksi yang kita rasakan salah, menanyakan kembali apa yang kita rasa kurang jelas atau memberikan pandangan balik menurut diri kita sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa masalah komunikasi yang paling sering ditemukan pada pasangan ialah keraguan apakah pasangan kita benar-benar mendengarkan ?

Hasil dari mendengar secara aktif dan penuh perhatian adalah kemampuan ber-empati. Empati merupakan kemampuan untuk merasakan kondisi emosional orang lain, bahkan ketika orang tersebut tidak mengatakan apa yang ia rasakan. Emosi terhadap orang lain terlibat dalam empati. Setiap pasangan pasti ingin partner-nya dapat menunjukkan kalau ia memahami perasaan mereka, merasakan apa yang ia rasa. Permasalahannya ialah pasangan kerap kali tidak mengerti bahwa perbedaan gender berpengaruh terhadap pengungkapan emosi.

Self-disclosure -> Trust

Munculnya rasa keprecayaan (trust) dari pasangan itu tergantung kepada respon yang kita tunjukkan padanya saat dia berbicara kepada kita. Agar pasangan percaya dan mau bercerita apa adanya kepada kita, kita mesti menunjukkan padanya sebuah respon yang positif, yakni respon yang menunjukkan “tidak ada yang perlu dikhawatirkan sayang, coba ceritakan masalahmu”. Respon penerimaan ini diperlukan karena sering kali keterusterangan dari pasangan dihambat oleh perasaan insecurity (tidak aman). Perasaan yang timbul dari rasa takut akan membuat pasangan tidak senang atas informasi yang disampaikan.

Seseorang wajar takut ketika akan membuka rahasia tentang dirinya, karena tidak selalu rahasia yang akan dibeberkan itu bernada positif. Informasi negatif yang diberitahukan pasangan secara buka-bukaan, memang kerap kali malah mengundang prahara rumah tangga. Di sinilah, selain suami atau istri harus menunjukkan respon penerimaan agar pasangan tidak ragu-ragu untuk jujur, pasangan juga mesti menyiapkan mental dan lebih mengedepankan komitmen. Pada saat suami atau istri lebih mementingkan komitmen pernikahan, dia akan lebih mudah menerima pasangannya dan bangunan rumah tangga senantiasa selamat.

Faktor lain yang menghambat individu mau berterus terang ialah adanya pengalaman penolakan dari pasangannya.

Sexual communication -> Open Mind

Sexual communication mengacu pada bagaimana mengkomunikasikan kebutuhan serta permasalahan seksual dengan terbuka pada pasangan. Pasangan nikah hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai tentang permasalahan seksual. Seperti pemahaman bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan masalah seksual[1] dan hubungan seksual bukan hanya sebatas urusan fisik semata.

Ada dua faktor yang menghambat pasangan untuk bisa terbuka mengenai permasalahan seksual. Pertama, adanya rasa risih (embarrassment) dalam membicarakan soal seksual. Sesuatu yang tidak masuk akal sebetulnya ketika suami atau istri merasa terganggu saat membicarakan masalah seksual dengan pasangannya, namun fenomena ini kerap kali ditemukan pada pasangan pernikahan.

Kedua, adanya ketakutan untuk terbuka. Pasangan sering menganggap bahwa keterbukaan itu sama saja dengan menyampaikan kritik. Dan hal ini ditakutkan akan mengecewakan pasangan. Akhirnya, saat pasangan merasa tidak puas dengan kehidupan seksualnya, ia lebih memilih untuk tetap tidak puas dan berdiam diri dari pada harus berterus terang.

Esensi dari komunikasi seksual ialah membuat masing-masing pasangan senyaman mungkin di dalam memperbincangkan masalah seksual, sehingga mendorong tercapainya kenyamanan dalam melakukan aktivitas seksual. Komunikasi seksual yang intim akan tercipta ketika suami-istri saling terbuka dalam mengekspresikan kebutuhan, aspirasi dan permasalahan yang terkait kehidupan seksual.


Komunikasi Dengan Sang Khaliq

Saat sulit berkomunikasi dengan pasangan coba tingkatkan komunikasi kepada Allah SWT untuk membukakan hati dan pikiran pasangan, karena Allah juga yang maha membolak-balik hati.

Belajar Dari Rasulullah

Bagaimana cara berkomunikasi yang intim di dalam sebuah keluarga, telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw berabad-abad yang lalu melalui bagaimana Rasulullah memperlakukan keluarganya. Berikut beberapa contoh cara rasul Saw Berkomunikasi dengan istri :

- Memanggil nama anggota keluarganya atau isterinya dengan panggilan yang menyenangkan seperti ketika Rasulullah memanggil Aisyah dengan sebutan “Ya Humairo’ atau Ya Aalsy (orang-orang yang hidup).

- Berkomunikasi dengan tenang sehingga dapat menyampaikan pesan sesuai dengan misinya, penuh makna dan mengandung nilai kebaikan dan penuh kelembutan. Sekalipun ketika beliau menegur Aisyah di saat Aisyah membuang makanan yang dikirim oleh Ummu Salamah.

- Rasulullah mengiringi bahasa lisannya dengan bahasa tubuhnya. Dari Aisyah: “bahwa Rasulullah, biasa mencium istrinya setelah wudhu, kemudian beliau sholat dan tidak mengulangi wudhunya.”

- Beliau menyampaikan pesan dengan kalimat yang sederhana (tidak bertele-tele) . Pada saat Aisyah marah, Rasulullah bersabda kepadanya: “Hai Aisyah, berlaku lembutlah, sesungguhnya apabila Allah menghendaki kebaikan kepada sebuah keluarga maka Allah akan memberikan kelembutan kepada mereka.

- Berlapang dada. Berlapang dada dengan kelemahan yang ada dalam anggota keluarga, sehingga komunikasi dimulai dengan memaafkan kesalahan mereka terlebih dahulu. Anas berkata: “saya tidak pernah mendengar Rasulullah SAW berkata, mengapa kamu tidak melaksanakan ini, mengapa kamu tidak melaksanakan itu, mengapa kamu tidak begini dan mengapa kamu tidak begitu. Padahal dia tinggal bersama Rasulullah selama sepuluh tahun.

***

[1] Menyangkut segi identitas seksual masing-masing pasangan, latar belakang pengalaman seksual, persepsi mengenai peran pasangan dalam kehidupan seksual sampai pandangan bagaimana seharusnya kebutuhan seksual diekspresikan.

bermula dari visi

bismillaahirrahmaanirrahiim..

tulisan dari seorang teman..semoga bermanfaat.. ^^

---

Bermula dari Visi



Kalau setelah menikah silaturahim dengan teman, saudara menjadi renggang, maka harus di evaluasi kembali visi pernikahannya apakah untuk umat ia menikah.

Kalau setelah menikah kualitas dan kuantitas ibadah menurun, maka harus di evaluasi apakah memang karena dakwah ia menikah.

Kalau setelah menikah amanah menjadi biasa-biasa saja , atau berkurang, atau malah mundur teratur menghindari amanah yang sejak semula telah kita pegang, maka harus di evaluasi apakah karena jamaah ia menikah.

Bahwa sesungguhnya pernikahan itu harus menjadikan diri kita menjadi lebih baik. Baik dalam segi muamalah dan baik dari segi muabadah.

Setiap rumah tangga yang telah terbentuk harus bercita-cita menjadi keluarga teladan umat dan masyarakat. Atau menjadi keluarga percontohan bagi keluarga yang lainnya.

Menikah tidak hanya menyatukan dua insan, tapi harus lebih dari itu. Dari dua insan itu lah batu bata peradaban itu dibangun.


(Renungan untuk yang belum menikah, yang sedang proses untuk menikah, dan yang telah menikah).

inginku

Aku ingin mencintainya setelah mencintai-Mu

Agar dekapku padanya tak melukai-Mu
Agar sandaranku padanya tak melepaskan-Mu
Agar kebersamaanku dengannya tak merampas hak-Mu
Agar Kau tersenyum saat kami tersenyum
Agar Kau mendelik saat kami membalik

Maka jauh sebelum aku mencintainya
Aku akan mencintai-Mu
Dalam penantianku
Sampai terlabuh cintaku
Tanpa mengkhianati-Mu

-bogor, 7 November 2008-

bukankah

Bukankah Ia ciptakan angin untuk jadikan gelombang

Timbulkan arus agar tak tergenang

Semburatkan cahaya agar benderang

Bukankah Ia telah pastikan detak dalam dinding jiwa

Nafas untuk setiap hela

Air mata sebab sesak yang mendesak

Lantas mengapa kau ragu

Bahwa tak ada lagi mampu

Kendalikan gemuruh yang mengusik langkahmu

Padahal Ia tak pernah lelap

Meski kau lelah menatap



-bogor, 21 Desember 2008-

harap

Harapku bertemu pada sebuah titik


Akumulasi dari segala lembar dan langkah

Tatap dan dengar untuk sebuah gerak

Agar ucap miliki dasar

Berlabuh pada apa yang seharusnya

Menjadi tempat berlabuh

Bersama pualam yang menjelma menjadi permata

Setelah gelombangnya diarungi

Saat kapalnya menepi

Tak ada detik untuk kembali



-bogor, 7 November 2008-