Selasa, 09 November 2010

merengkuh yang diberikanNya..apapun..

tak ada yang dapat bumi lakukan
bila langit jalankan kehendaknya
mengelak tak ada gunanya
menjauh percuma saja
ia tahu yang bumi butuhkan
maka rengkuhlah apa yang diberikan
kelak langit akan hadiahkan pelangi
untuk bumi setelah deras berhenti

-bogor, 2 april 2009-

menegur hati

mengapa mengharap permakluman mereka
sedang belum tentu kau dimaklumi-Nya
atas dasar apa kau pinta perhatian mereka
padahal hanya kepada Tuhanmulah segala urusan
mungkinkah bias niatmu?
adakah ikhlas mengalir dalam pembuluh darahmu?
beribu langkahmu hanya menjadi setapak di hadapan Tuhanmu
kumpulan peluh yang menetes darimu hanya berupa buih tak berarti di mata Tuhanmu
dan kau masih meminta dispensasi
dan kau masih mengajukan surat cuti
dan kau masih pertanyakan kompensasi
kemudian berencana pergi dan lari
merasa hanya dirimu seorang yang miliki derita
padahal gerakmu belumlah apa-apa
duhai hati,
kembalilah dari pengembaraanmu mengharap dunia
untuk beralih pada ridha-Nya

-bogor,3 april 2009-

bila...mungkin...

bila hanya hitam dan gelap dalam pandangmu
mungkin memang karena tak ada cahaya memantul di sana
atau mungkin...
syaraf optikmu yang bermasalah

bila kuyub tubuhmu oleh hujan
mungkin memang karena ia turun begitu lebatnya
atau mungkin...
tak kau gunakan jas hujan untuk lindungi diri

bila jatuh dirimu terantuk batu
mungkin memang karena batu itu berada pada tempat yang tidak semestinya
atau mungkin...
terlalu sibuk kau berjalan hingga tak perhatikan bagaimana kaki melangkah

dan bila dakwah ini terasa begitu merepotkan
mungkin memang ada kekhilafan dalam lisan dan tulisan
atau mungkin...
ada yang luruh dalam dirimu
hingga ternyata
kaulah andil dalam kerepotan itu...
 

bogor, 15 mei 2009
 
bila respon-Nya tak terasa olehmu, barangkali Ia sedang menunda sampai pada saat dimana hanya Ia yang tahu…atau…mungkin karena imanmu yang tak lebih dari sebutir debu, bahkan kurang dari itu…hingga sesak tetap mendesak, gelisah makin tak terarah, dan pilu bertambah haru…

dalam pelayaran ini

perahunya belum juga merapat pada darmaga
layarnya belum juga menutup
masih terkembang
tetap berkibar
sauhnya belum juga dilempar
belum tertambat
belum menahan
buih pun belum menghilang
riak belum juga tenang
dan ombak belum juga berhenti menghentak

kita masih berlayar, saudaraku...
belum saatnya berlabuh
belum waktunya menepi
walau terguncang oleh badai
meski terhempas karena gelombang
ada saat di mana burung melintas berkicau
terbit cahaya berkilau
dan semilir yang mendesau

bila koyak sang layar
mari kita perbaiki bersama
bila lubang mengizinkan air penuhi kapal
mari kita sumbat bersama
bila tanda-tanda mercusuar tak terperhatikan oleh sang kapten
mari kita ingatkan ia bersama

jangan lemparkan sekoci untuk tinggalkan kami
kita akan menepi bersama
pada darmaga yang telah kita azzamkan di awal perjalanan kita

-bogor, 16 mei 2009-

Senin, 08 November 2010

menjadi shodiq setiap saat

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang benar, menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)

Dalam buku Tazkiyatun Nafs, Ustadz Sa’id Hawa menggambarkan pada kita proses untuk menjadi orang yang shodiq, orang yang benar. Prosesnya ada empat:

1. Shidqun Niyah
Artinya benar dalam niat. Benar dalam semburat pertama hasrat hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menepis syak dan riya’. Benar dalam menghapus sum’ah dan ‘ujub. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.

2. Shidqul ‘Azm
Artinya benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya. Benar dalam memancang target-target diri. Benar dalam pekik semangat. Benar dalam menemukan motivasi setiap kali. Benar dalam mengaktivasi potensi diri. Benar dalam memikirkan langkah-langkah pasti. Benar dalam memantapkan jiwa.

3. Shidqul Iltizam
Artinya benar dalam komitmen. Benar dalam menetapi rencana-rencana. Benar dalam melanggengkan semangat dan tekad. Benar dalam memegang teguh nilai-nilai. Benar dalam memaksa diri. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam menghadapi tantangan dan ancaman. Benar dalam mengistiqomahkan dzikir, fikir, dan ikhtiyar.

4. Shidqul ‘Amaal
Artinya benar dalam proses kerja. Benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak pagar-pagar Ilahi. Benar dalam cara. Benar dalam metode. Benar dalam langkah-langkah yang ditempuh. Benar dalam profesionalisme dan ihsannya amal. Benar dalam tiap gerak anggota badan.


Jikalau Ash Shidq berarti kebenaran, kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia.

[dikutip dari buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim karya Salim A. Fillah -- kalo kata beliau sih, "Nah, mari kita coba refleksikan proses menjadi orang benar ini dalam proses menuju pernikahan. Insyaallah dengan demikian keberkahan itu semakin mendekat." ^^]

watawaashowbil haq watawaashowbish shobr...semoga bermanfaat..

you are what you think

sebuah resume dari buku "Dialog Peradaban" M.Anis Matta dan Ary Ginanjar

---

Pikiran merupakan ruang pertama dari semua kenyataan hidup yang kita saksikan. Lintasan pikiran adalah akar dari semua tindakan, perilaku, kebiasaan, dan karakter. Dari lintasan pikiran itu kemudian berkembang menjadi memori, lalu ide atau gagasan, atau pikiran. Pikiran menukik jauh ke dalam wilayah emosi kemudian membentuk keyakinan. Keyakinan berlanjut menjadi kemauan kemudian berkembang menjadi tekad. Seketika itu pula pikiran memperoleh energi agar tekad tersebut terwujud dalam kenyataan. Tekad menjalar ke seluruh tubuh dan melahirkan tindakan. Bila tindakan dilakukan berulang-ulang, maka terbentuklah kebiaasaan. Dan bilakebiasaan itu berlangsung lama, jadilah karakter.

Anis Matta berkata bahwa kualitas pikiran akan membentuk kualitas kepribadian kita dan kualitas kepribadian akan membentuk kualitas hidup kita. Jadi, perbaikan kualitas kepribadian harus dimulai dengan menata ulang atau merekonstruksi pemikiran. Pertama, mendeteksi pikiran kita. Yang kita lakukan adalah mengalihkan dan menggantikan lintasan pikiran yang buruk dan menggantinya dengan yang baik. Kita harus dapat menjamin bahwa semua yang kita pikirkan dapat dipertanggungjawabkan, yaitu dengan mengontrol semua informasi melalui pancaindera, khususnya penglihatan dan pendengaran.

Langkah kedua ialah menjadikan diri kita manusia berpengetahuan. Pengetahuan kita harus disusun dalam struktur yang benar. Tingkat pertama adalah pengetahuan identitas, untuk membentuk dan membangun identitas kepribadian. Tingkat kedua adalah pengetahuan kemanusiaan, untuk membangun hubungan sosial kemanusiaan. Tingkat terakhir adalah pengetahuan spesialisasi, untuk mengembangkan basis profesi kita atau mata pencaharian kita.

Kita harus mengembangkan kemampuan berpikir. Yang kita butuhkan adalah kemampuan berpikir hirarkis. Empat pikiran hirarkis itu adalah daya serap (memahami dan mencerna sesuatu), daya analisis (mengurai sesuatu menjadi satuan kecil serta maemahami detilnya), daya konstruksi (membangun, mengintegrasi, menyatukan, dan menghubungkan bagian-bagian yang terpisah menjadi satu terkorelasi secara utuh), dan daya cipta (melahirkan pikiran-pikiran baru yang murni atau disebut pula genuine).

Selain berpikir hirarkis, terdapat pula kemampuan berpikir dimensional, yaitu kemampuan berpikir pada dua dimensi secara simetris. Pertama, kemampuan berpikir makro-mikro, yaitu kemampuan berpikir pada skala yang berbedam yang lebih luas bersifat makro dan yang lebih spesifik bersifat mikro. Kedua, berpikir strategis-taktis, yaitu kemampuan berpikir dalam dua kualitas yang berbeda.

Terdapat dua cara untuk melakukan proses penataan ulang cara kita berpikir secara lebih sistematis dan efisien. Pertama, menjaga kejernihan langit pikiran kita. Kita harus membiasakan diri untuk memikirkan apa yang yang kita pikirkan, mengapa kita memikirkannya, dan bagaimana seharusnya kita memikirkannya. Dengan tidak menoleransi semua pikiran yang melintas untuk singgah ke dalam pikiran, maka kita akan memperoleh kekuatan kepribadian yang sangat dahsyat. Dan kekuatan kepribadian pertama kali bersal dari sana: pengendalian diri.

Kedua, membangun tradisi ilmiah. Tradisi ilmiah yang kokoh ditandai oleh banyak ciri. Pertama, berbicara atau bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan. Kedua, tidak bersikap apriori dan tidak memberikan penilaian terhadap segala sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik dan akurat. Ketiga, selalu membandingkan pendapatnya dengan pendapat kedua dan ketiga sebelum menyimpulkan atau mengambil keputusan. Keempat, mendengar lebih banyak daripada berbicara. Kelima, gemar membaca dan secara sadar menyediakan waktu khusus untuk itu. Keenam, lebih banyak diam dan menikmati saat-saat perenungan dalam kesendirian. Ketujuh, selalau mendekati permasalahan secara komprehensif, integral, objektif, dan proporsional. Kedelapan, gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana dan ide-ide, tapi tidak suka berdebat kusir. Kesembilan, berorientasi pada kebenaran dalam diskusi dan bukan pada kemenangan. Kesepuluh, berusaha mempertahankan sikap dingin dalam bereaksi terhadap sesuatu dan tidak bersikap emosional dan meledak-ledak. Kesebelas, berpikir secara sistematis dan berbicara secara teratur. Keduabelas, tidak pernah merasa berilmu secara permanen dan karenanya selalu ingin belajar. Ketigabelas, menyenangi hal-hal baru dan menikmati tantangan serta perubahan. Keempatbelas, Rendah hati dan bersedia menerima kesalahan. Kelimabelas, lapang dada dan toleran dalam perbedaan. Keenambelas, memikirkan ulang gagasannya sendiri atau gagasan orang lain dan senantiasa menguji kebenaran. Ketujuhbelas, selalu melahirkan gagasan-gagasan baru secara produktif.

Tradisi ilmiah selanjutnya dibentuk oleh susunan pengetahuan yang benar. Kemudian dibentuk pula oleh sistematika pembelajaran yang benar. Dan membaca adalah instrumen utamanya.

Ary Ginanjar Agustian menuturkan hal yang terkait dengan membaca ini. Adalah Archimedes. Seorang ilmuwan terdahulu yang namanya kerap terpampang pada buku-buku pelajaran ilmu pengetahuan alam di sekolah-sekolah. Seorang raja Sisilia memerintahkannya untuk mengukur volume dari mahkota emas milik Sang Raja. Archimedes berusaha mencari jawabannya dengan segala upaya namun tak jua ia dapatkan jawabannya.

Ketika ia sedang berendam sambil merenungi tugasnya, air di dalam bath tub-nya tumpah ketika ia bergerak. Setelah mengamati kembali dengan lebih seksama, dapatlah jawaban dari tugas yang diberikan Sang Raja. Kemudian munculah sebuah hukum yang masyarakat menyebutnya ‘Hukum Archimedes’.

Kisah di atas merupakan salah satu contoh asal-muasal ilmu pengetahuan dan peradaban manusia yang dimulai dengan kata “Iqra’” atau bacalah. Archimedes telah “membaca” air yang tumpah kemudian ia menelaah, meneliti, dan mempelajari dengan sungguh-sungguh. Akhirnya ia berhasil “melihat” salah satu “ketentuan Tuhan” yaitu “Hukum Archimedes”.

Maka apa yang terjadi pada Rasulullah saw. pun bukan sekadar kisah pengantar mengaji saja. Ketika uzlahnya di Gua Hira, turunlah wahyu Allah untuk pertama kalinya. Jibril berkata, “Iqra’” (bacalah). “Ma aqra’?” tanya Nabi. Tapi Jibril tidak menjawab. Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut “Bismi Rabbika”, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.

Perintah untuk “membaca” adalah langsung diturunkan Tuhan. Membaca adalah awal mula suatu ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan keberhasilan manusia. Namun, setelah membaca kita diminta untuk kembali dan menyadari semua itu sebagai ciptaan Tuhan. Bahwa segala sesuatu atau kebenaran semuanya milik Allah. Ketika kita berdecak-decak kagum dan mengangguk-angguk, seyogyanya kita mengangguk kepada Allah SWT, bukan kepada sang penulis itu. Maka bacaan itu pun akan memperkokoh keimanan kita.

Keinginan untuk belajar akan menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan. Keinginan untuk menguasai ilmu pengetahuan tanpa berpegang kepada Allah hanya menghasilkan sebuah kesia-siaan. Akan tetapi, IQ dan EQ tidak cukup untuk mengantarkan manusia pada kebahagiaan hakiki. Harus ada dalam kepribadian manusia nilai spiritual atau apa yang disebut kecerdasan spiritual (SQ). IQ penting agar manusia dapat memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi efisiensi dan efektivitas. EQ juga penting dalam membangun hubungan antarmanusia dan juga berperan dalam meningkatkan kinerja. Namun, tanpa SQ yang mengandung nilai-nilai kebenaran, maka keberhasilan itu hanyalah keberhasilan semu.

Sinergi kecerdasan. Begitulah Anis Matta menyebut IQ, EQ, dan SQ. Pekerjaan-pekerjaan besar yang mempertemukan seorang pahlawan mukmin sejati dengan takdir kepahlawanannya selalu melibatkan seluruh instrumen kepribadian sang pahlawan ketika ia sedang melakoni pekerjaan tersebut. Keseluruhan instrumen kepribadian sang pahlawan adalah sebuah sinergi kecerdasan. Sumber kecerdasan itu –akal, jiwa, dan ruh– memberinya energi untuk bekerja. Sinergi kecerdasan itu juga yang memberikan kekuatan lain kepada para pahlawan mukmin sejati , kekuatan keseimbangan.

Para pahlawan mukmin sejati mempunyai tingkat keseimbangan optimum, dimana kekuatan fisik, akal, emosi, dan ruh sama mencapai tingkat tertinggi, dan pada ketinggian itulah mereka mengalami sinergi.

Itulah yang membuat efeknya merupakan ledakan yang dahsyat; ledakan kecerdasan, ledakan karya. Ledakan itu hanya terjadi pada potongan-potongan masa tertentu dari usia kita. Itulah yang disebut momentum, dimana kecerdasan kita mengalami saat-saat sinergi yang optimum dan ledakannya mengeluarkan muntahan karya yang genuine. Maka saat itulah kisah kepahlawanan ditorehkan dalam sejarah keabadian.

Bogor, 3 April 2008

Sumber:
Matta, M. Anis dan Ary Ginanjar. 2006. Dialog Peradaban. Jakarta: Fitrah Rabbani.

rindu kami


“Philosopher, orator, apostle, legislator, warrior, conqueror of ideas, restorer of rational dogmas, of a cult without images, the founder of twenty terrestrial empires and of one spiritual empire, that is Muhammad. As regards all the standards by which Human Greatness may be measured, we may well ask, Is There Any Man Greater Than He?” (Lamartine, Histoire De La Turquie, Paris, 1854, Vol. II, pp 276-277)

Hari itu seorang hamba dengan segala kekuatannya berdiri di tengah-tengah kesuaraman Madinah seraya berkata, “Sesungguhnya, ada beberapa orang munafik yang mengira Rosulullah saw. telah wafat, padahal sesungguhnya Rosulullah saw. itu tidak akan mati. Dia hanya pergi kepada Tuhannya, seperti yang pernah dilakukan Musa bin Imran. Musa meninggalkan kaumnya selama empat puluh malam, kemudian kembali lagi kepada mereka setelah dikatakan orang bahwa ia telah mati. Demi Allah, Rosulullah saw. pasti akan kembali lagi seperti yang dilakukan Musa, lalu dia pasti akan memotong kedua tangan dan kaki orang-orang yang telah mengira bahwa Rosulullah saw. telah mati.” Ada amarah dalam intonasinya, ada sesak di setiap nafasnya, ada kesedihan yang tak terungkap jauh di kedalaman hatinya. Umar Ibnul Khaththab tak kuasa kendalikan dirinya. Bahkan ketika Abu Bakar menghampirinya dan berkata, “Tenanglah kamu, hai Umar, diamlah.” Namun, Umar tidak peduli.

Abu Bakar pun meninggalkannya dan menghadapkan wajahnya di depan orang banyak. Ia lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata, “Barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah tetap hidup, takkan pernah mati.” Ia pun membacakan ayat (QS. Ali Imran: 144), “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rosul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rosul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Maka tersungkurlah Umar pada kedua kakinya. Kembali menjejak bumi dan tersadar bahwa kekasih Allah yang juga dicintainya itu telah kembali pada-Nya dan tak akan pernah kembali padanya.

Dan kini telah berabad lamanya Sang Rosul menghadap-Nya. Namun, namanya hampir memenuhi isi bumi, shalawat kepadanya dikumandangkan dari waktu ke waktu, riwayat hidupnya ditulis dan dibahas sepanjang sejarah. Muslim maupun non-Muslim.

Rindu sekali kami denganmu, ya Rosul…

bogor, 14 oktober 2008