Senin, 08 November 2010

Allaahu ghayyatunaa

bismillaahirrahmaanirrahiim...

When you give with your right hand don’t let even your left hand know the good thing that you did (Snada: Just Giving Once)

Teringat akan sebuah nasyid yang dibawakan oleh Snada. Syairnya berisi tentang sebuah keikhlasan dalam beramal. Ikhlas. Butuh enam huruf saja untuk menjadi sebuah kata sakti landasan seorang hamba dalam beraktivitas. Haruskah kita melakukan hal-hal yang diusahakan oleh seorang pemuda dalam film Kiamat Sudah Dekat untuk mendapatkan ilmu ikhlas demi mendapatkan pujaan hatinya? Mungkin saja. Kalau pemuda ‘rocker’ dalam film itu saja mau berusaha mendapatkan ilmu ikhlas, apatah lagi kita sebagai da’i, yang tentu saja melakukannya demi ‘mengambil hati’ Sang Penguasa Alam.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162)

Adalah ikrar yang kerap kita lafalkan dalam -minimal- 5 waktu shalat kita. Maka segala yang kita lakukan tentulah harus berujung pada Allah SWT. Bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya lurus kepada Allah saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, “Bismillahirrahmanirrahiim, ya Allah semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan”. Lisannya yang bening senantiasa memuji Allah atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada Allah.

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal. Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak. Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna berkata, bagi seorang da’i makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian si da’i menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan.(www.dakwatuna.com)

Bila seorang hamba menginginkan sesuatu yang lain melalui ibadahnya, maka disini perlu dirinci lagi berdasarkan klasifikasi-klasifikasi berikut :

1. Dia memang ingin bertaqarrub kepada selain Allah di dalam ibadahnya ini dan mendapatkan pujian semua makhluk atas perbuatannya tersebut. Maka, ini menggugurkan amalan dan termasuk syirik.

2. Dia bermaksud melalui ibadahnya untuk meraih tujuan duaniawi seperti kepemimpinan, kehormatan dan harta, bukan untuk tujuan bertaqarrub kepada Allah ; maka amalan orang seperti ini akan gugur dan tidak dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Perbedaan antara klasifikasi kedua ini dan pertama ; Bahwa dalam klasifikasi pertama, orang tadi bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah. Sedangkan pada klasifikasi ini, dia tidak bermaksud agar dirinya di puji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah bahkan dia malah tidak peduli atas pujian orang terhadapn dirinya.

3. Dia bermaksud untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, disamping tujuan duniawi yang merupakan konsekuensi logis dari adanya ibadah tersebut, seperti dia memiliki niat dari thaharah yang dilakukannya –disamping niat beribadah kepada Allah- untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran yang menempel padanya ; dia berhaji –disamping niat beibadah kepada Allah- untuk menyaksikan lokasi-lokasi syi’ar haji (Al-Masya’ir) dan bertemu para jama’ah haji ; maka hal ini akan mengurangi pahala ikhlas akan tetapi jika yang lebih dominan adalah niat beribadahnya, berarti pahala lengkap yang seharusnya diraih akan terlewatkan. Meskipun demikian, hal ini tidak berpengaruh bila pada akhirnya melakukan dosa.
[www.almanhaj.or.id]

Dari Amirul mukminin, Umar bin khathab “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yangditujunya”. (Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits.)

Bicara ikhlas, maka kita akan menemukan empat huruf lagi. Niat. Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Maka ketahuilah ikhwah, bahwa syarat utama diterimanya ibadah ada 2: Niat yang ikhlas dan pelaksanaannya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi SAW. (www.mii.fmipa.ugm.ac.id)

Hadits ini memang muncul karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais. Padahal hijrah pada masa itu adalah ibadah yang sangat besar pahalanya. Maka hadist ini menunjukkan orang yang tidak ikhlas dalam ibadahnya, dalam perbuatan baiknya, dalam amal-amalnya maka ia tidak akan mendapatkan pahala darinya. Maka hendaknya setiap orang memperhatikan kembali hatinya, dan mempertanyakan kembali keikhlasannya dalam beribadah.
Bila ikhlas memiliki kedekatan dengan niat, maka ada pula yang ‘bermusuhan’ dengan ikhlas, yaitu riya.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisaa: 142)

Riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad). (www.dakwatuna.com)

Keikhlasan pun memiliki beberapa indikasi dan tanda-tanda yang nampak dalam kehidupan dan perilaku pemiliknya. Juga nampak dalam pandangannya terhadap dirinya dan pandangannya terhadap orang lain. Indikasi-indikasi tersebut antara lain:

1. Khawatir terhadap ketenaran serta keharuman nama atas dirinya dan agamanya, terutama bila ia termasuk orang-orang yang berprestasi. Ia meyakini bahwa Allah menerima amal berdasarkan niat yang tersimpan dalam batin, tidak dengan penampilan. Ia juga meyakini, bahwa meskipun ketenaran seseorang telah tersebar ke seluruh penjuru, namun tiada seorang pun yang dapat menolongnya dari siksa Allah, bila ia tidak mengikhlaskan niat untuk-Nya.

2. Orang yang ikhlas selalu menuduh dirinya teledor dalam menunaikan hak-hak Allah, dan teledor dalam melaksanakan berbagai kewa-jiban. Hatinya tidak dirasuki oleh perasaan ghurur (tertipu) dan terkagum dengan diri sendiri, bahkan ia selalu takut kalau kesalahan-kesalahannya tidak diampuni, dan kebajikan-kebajikannya tidak diterima oleh Allah swt.

3. Orang ikhlas lebih mencintai amal yang tersembunyi daripada amal yang diliputi oleh hiruk pikuk publikasi dan gaung ketenaran.

4. Amalnya saat menjadi pemimpin dan saat menjadi anggota tidak berbeda, selama keduanya masih dalam rangka memberikan pelayanan pada dakwah. Hatinya tidak dirasuki penyakit suka tampil, selalu ingin di depan, dan ambisi kepemimpinan, bahkan orang yang ikhlas lebih mengutamakan menjadi anggota biasa, karena khawatir tidak dapat menunaikan kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab kepemimpinannya. Dengan kata lain, orang ikhlas tidak menginginkan dan tidak meminta jabatan untuk dirinya, tetapi bila diberi amanah, ia menerimanya dengan penuh tanggungjawab dan memohon pertolongan kepada Allah untuk melaksanakan sebagaimana mestinya.

5. Tidak menggubris keridhaan manusia, bila di balik itu terdapat kemurkaan Allah swt. Sebab tabiat manusia sangat berbeda-beda. Demikian juga cara berpikirnya, kecenderungannya, dan tujuan-tujuannya. Karena itu, upaya untuk mendapat keridhaan mereka semua, adalah batas yang tidak mungkin dapat dicapai, dan keinginan yang tidak mungkin dapat diraih. Orang yang ikhlas tidak akan disibukkan dengan hal-hal seperti itu, karenanya ia tenang dan tenteram.

6. Kecintaan dan kemarahannya, pemberian dan keengganannya untuk memberi serta keridhaan dan kemurkaannya adalah karena Allah dan agamanya, bukan karena kepentingan pribadi atau
kemaslahatan diri sendiri.

7. Orang yang ikhlas tidak akan menjadi malas, jenuh, atau berputus asa karena panjangnya jalan yang akan dilalui, lamanya waktu memanen buah dari amal, terlambatnya keberhasilan, banyaknya beban amal, dan sulitnya berinteraksi dengan manusia yang beragam cita rasa dan kecenderungan. Sebab ia beramal tidak hanya untuk mencari keberhasilan, atau mencari kemenangan saja. Akan tetapi, ia beramal untuk mendapatkan keridhaan Allah dan karena menjalankan perintah-Nya.

8. Bergembira dengan munculnya orang-orang yang berprestasi di dalam barisan dakwah, yang dapat mengibarkan bendera dakwah serta berpartisipasi dalam perjuangan.
(www.pks-anz.org)


Maka, bergeraklah! Dan teriakkan: Allahu ghayyatuna…!!!

Wallahu a’lam bishshawwab

Sumber:
http://www.mii.fmipa.ugm.ac.id/new/?p=227
http://www.dakwatuna.com/2008/tiga-ciri-orang-ikhlas/
http://kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=128
http://www.dakwatuna.com/2007/berjuang-dengan-ikhlas/
http://www.almanhaj.or.id/content/2158/slash/0
http://www.pks-anz.org/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=931&mode=thread&order=0&thold=0

Bogor, 9 Mei 2008

karena setiap nada dan baitnya penuh kenangan

bismillaahirrahmaanirrahiim

masih lekat dalam ingatan penulis...beberapa tahun yang lalu. saat menjejak langkah pada sebuah ruang kompleks bernama KAMPUS. saat tulisan besar yang terpampang di depan sebuah bangunan "ASRAMA PUTRI MAHASISWA TPB IPB" (bener nggak ya, tulisannya begitu..? hhe..) terbaca oleh penulis dengan degup yang tak terkendali. kemudian mengalunlah lagu di bawah ini..

masih lekat dalam ingatan penulis...beberapa tahun yang lalu. saat warna perjuangan mulai terpoles dalam hidupnya. saat HEKSAGONAL menjadi bentuk bagi BEM TPB 43. saat AGRARIS menjadi wadah bagi penerimaan mahasiswa baru angkatan 44. kemudian mengalunlah lagu di bawah ini..

---

bila engkau bercita-cita
meraih masa depan gemilang
tempa diri dengan seksama
kerja keras sangat dipentingkan

bila tubuh bersimbah keringat
hati harus tegar dan lapang
pantang lelah dan keluh kesah
gunakan tekad terus berjuang

bila kesulitan menghadang
hadapai dengan senyuman
ibadah dan doa dimantapkan
hanya Allah tumpuan harapan

bila sukses telah diraih
jaga diri tetap rendah hati
sujudlah untuk mensyukuri
karena semua nikmat illahi

harus tegar...! harus kuat...! insya Allah...!

---

lalu. kemudian. akhirnya..setelah semua yang telah terjadi pada setiap episode hidup penulis, dan pada bagian yang akan datang, lagu ini..tentu akan tetap mengalun..

wallaahua'lam bishshawwab

:: bogor, 14 februari 2010 ::

Jumat, 29 Oktober 2010

Allah tahu kita sibuk

bismillaahirrahmaanirrahiim..

subhanallah...memang, kita ini kerap kali merasa diri kita sibuk (atau mungkin saya doang 'kali ya..) sehingga sepertinya tak ada banyak waktu untuk kita bercengkrama denganNya... astaghfirullah...betapa tak bersyukurnya diri ini... faghfirlii ya Allah...

berikut adalah nasihat yang mudah-mudahan memotivasi kita untuk terus belajar taat...

Allah SWT Mengetahui Bahwa Kita Sibuk
Ust. Musyaffa Abdurrahim
Sebagai seorang da'i, sudah seharusnyalah kita mempunyai hubungan yang kokoh kuat (quwwatush-shilah) dengan Allah SWT. Ada banyak sarana yang bisa kita jadikan sebagai pilihan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hubungan tersebut.
Di dalam al-mustakhlash fi tazkiyatil anfus, Sa’id Hawa rahimahullah menyebutkan tiga belas sarana yang bisa kita jadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, mulai dari shalat, zakat-infaq-sedekah, puasa, haji, tilawatul qur’an, zikrullah, tafakur alam, dan seterusnya.
Meskipun begitu, kita masih sering merasakan kekeringan rohani. Ini karena kita sangat jarang mengalirinya dengan siraman-siraman rohani berupa sarana-sarana tersebut, atau dalam istilah tekniknya, kita jarang men-charge aki dan baterai ruhani yang kita miliki dengan sarana-sarana islamiyah tadi.
Alasan yang kita kemukakan selalu sama dan klasik, yaitu: sibuk dan repot. Hal ini terjadi karena kita susah mengatur dan mendapatkan waktu senggang untuk menyiram dan mengisi rohani.
Terkadang, ketika sedang berkumpul dengan sesama kader, kita ingat bahwa ruhani kita sedang sangat kekeringan. Namun begitu keluar dari majelis ikhwah, kita kembali lagi menjadi manusia-manusia yang sibuk.
Namun, perlu diingat bahwa dengan adanya kesibukan tidak berarti kita dapat meninggalkan langkah-langkah untuk melakukan siraman dan charge ruhani kita. Mari kita renungkan bersama firman Allah SWT berikut ini:
“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya, dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil: 20)
Ayat ini menjelaskan bahwa:
1.       Allah SWT mengetahui bahwa kemampuan kita dalam ber-qiyamullail berbeda-beda. Ada yang hampir mampu mencapai dua per tiga malam, ada yang mampu setengah malam, ada yang sepertiga malam.
2.       Allah SWT lah yang membuat ukuran-ukuran siang dan malam.
3.       Allah SWT mengetahui bahwa kita ini lemah dan tidak akan mampu memenuhi kewajiban itu (waktu itu qiyamullail setengah malam adalah kewajiban kaum muslimin)
4.       Allah SWT mengetahui bahwa di antara kita ada yang sakit, ada yang sibuk mencari ma’isyah, ada yang sibuk berperang fi sabilillah.
Meskipun mengetahui kesibukan kita, Dia tetap memerintahkan kita untuk:
1.       Membaca Al-Qur’an (bahkan diulang dua kali) sesuai dengan kemudahan kita.
2.       Menegakkan shalat.
3.       Membayar zakat.
4.       Memberikan pinjaman yang baik kepada Allah SWT (sedekah dan semacamnya).
5.       Banyak beristighfar.
Artinya, betapapun kesibukan melanda kita, kita tidak boleh melupakan tugas menyirami ruhani kita dan men-charge-nya dengan berbagai sarana yang ada.
Ada banyak cara yang ditawarkan oleh Islam agar kita tetap bisa mendapatkan kesempatan melakukan siraman dan charge ruhani kita. Di antaranya adalah:
1.       Kita harus men-split waktu-waktu yang kita miliki agar menjadi berbagai macam saat, sehingga di hadapan kita akan muncul sederet waktu yang bisa kita daya gunakan.
Pada suatu hari, seorang sahabat yang bernama Hanzhalah bertemu Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.. Begitu bertemu Hanzhalah berkata, “Nafaqa Hanzhalah” (Hanzhalah menjadi munafik). Mendengar pernyataan seperti itu Abu Bakar kaget, lalu berkata, “Mengapa?” Hanzhalah berkata, “Kalau kita berada di majelis Nabi SAW seakan kita melihat dengan kepala kita sendiri suasana surga dan neraka, akan tetapi begitu bertemu anak-anak, kita lupa semua yang kita rasakan tadi.” Mendengar penjelasan itu Abu Bakar menjawab, “Kalau begitu sama dengan saya.” Singkat cerita, keduanya mendatangi Nabi SAW. Setelah keduanya menceritakan apa yang dirasakannya, Nabi SAW menjawab, Akan tetapi, wahai Hanzhalah, sa-‘ah wa sa-‘ah.” Maksudnya, “Bagilah (split-lah) waktumu agar ada saat untuk ini dan ada saat untuk itu.” (HR. Muslim)

2.       Kita harus pandai memanfaatkan serpihan-serpihan waktu yang kita miliki dan mendayagunakannya untuk penyiraman dan charge ruhani kita.
Pada suatu hari Rasulullah SAW memperingatkan bahaya memaksakan diri untuk memperbanyak ibadah. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya agama ini mudah dan tidak ada yang memberat diri sendiri kecuali agama itu akan mengalahkannya. Karenanya, luruskan langkah dan kokohkan, berusahalah untuk selalu mendekati (target ideal), bergembiralah (jangan pesimis), dan meminta tolonglah dengan waktu pagi, waktu sore, dan sedikit malam.” (HR. Bukhari)

3.       Terakhir, kita harus pandai-pandai membuat diversifikasi acara (keragaman acara) agar tidak cepat bosan. Ingatlah bahwa Rasulullah telah bersabda:
“Jangan begitu, laksakanlah pekerjaan sesuai dengan kemampuan kalian! Maka demi Allah, Allah SWT tidak bosan sehingga kalian bosan, dan agama yang paling Allah SWT sukai adalah agama yang pemeluknya kontinu dalam melaksanakannya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)
Semoga Allah SWT memberikan taufik, bimbingan, dan kekuatan kepada kita untuk istiqamah di atas jalan agamaNya. Aamiin!

Minggu, 19 September 2010

resep ibu

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Beberapa waktu yang lalu penulis melakukan ‘cooking class’ dengan kawannya. Dengan semangat yang membara, mereka berdua belanja di sebuah warung dekat kampus. Selain terdorong oleh semangat belajar (menjadi ibu yang baik…^^), ‘cooking class’ ini terinspirasi oleh resep yang diberikan ibu sang kawan.

Sederhana saja… Yang akan dimasak adalah: Bacem.

Resep ini dapat dijadikan bacem ayam maupun bacem tempe. Karena dua mahasiswi ini adalah orang yang sederhana (baca: ngirit), mereka memutuskan untuk membuat BACEM TEMPE.

MATERI DAN METODE:
Bahan-bahan yang diperlukan antara lain:
½ sdm ketumbar
½ sdt jinten
4 buah kemiri
1 ruas jahe dan kunyit [ini hanya digunakan untuk olahan ayam; karena 2 mahasiswi ini belum tahu, mereka juga memasukkannya dalam pengolahan bacem tempe, alhasil kepanikan terjadi ketika masakan hampir matang, “waduuhh…gimana nih?! perasaan tempe bacem warnanya gak kuning dan gak bau jahe begini…???”]
10 siung bawang putih
10 siung bawang merah
3 lembar daun salam
1 ruas lengkuas/ laos (digeprek)
Air kelapa secukupnya (optional)
2 ons gula merah
2 bungkus/ 2 sdm asam jawa
½ kg ayam atau 2 bungkus tempe

Alat-alat yang diperlukan antara lain: wajan, sodet, alat pengukus, mortar batu (baca: ulekan), pisau, dan yang paling penting: kompor! (atau yang sejenisnya).

Metode pengolahan ini adalah:
Tempe (atau ayam) dikukus terlebih dahulu agar memudahkan bumbu meresap. Sementara itu, semua bumbu kecuali daun salam, asam, dan laos dihaluskan. Kemudian bumbu yang telah dihaluskan ini dimasak dalam wajan, ditambahkan gula dan garam secukupnya (dengan perasaan fitrah seorang wanita, katanya…), air, gula merah (secukupnya saja, jangan banyak-banyak..nanti terlalu manis, apalagi kalo yang masaknya udah manis…), laos, dan daun salam. Tempe yang sudah empuk lalu dimasukkan dalam wajan berisi olahan bumbu. Masak hingga air meresap. Setelah itu, tempe dapat digoreng dan siap disajikan…!

Insyaallah, atas berkat rahmat Allah dan disertai dengan keinginan yang luhur, Bacem Tempe ini akan terasa sangat enak…! ^^
Poin penting yang dapat diambil sebenarnya adalah MASAKAN IBU yang menginspirasi putrinya. Karena berulang kali sang kawan mengatakan, “Kalo ibuku yang masak, rasanya lebih ueeenaaaakkkk, rek…”.

Hmm…ya…masakan ibu; tak ada yang dapat menandinginya. Semoga kelak putra-putri 2 mahasiswi ini berujar, “Masakan Ibu lebih enak dari masakan Nenek lho…!” Hihi… Maksudnya, kita harus senantiasa memperbaiki diri dan tidak henti mempelajari sesuatu yang baik; minimal untuk putra-putri kita… ^^

…kami mencintaimu, Bu…kemarin, hari ini, esok, selamanya…tanpa syarat…

Wallaahua’lam bishshawwab

nb: note ini ditulis oleh ‘siswa cooking class’ yang masih awam dan terbiasa nulis laporan praktikum…mohon maaf atas segala khilaf…semoga bermanfaat...

Sabtu, 04 September 2010

belajar dari Nabi Ibrahim

bismillaahirrahmaanirrahiim...

saya suka sejarah. terutama shiroh nabi dan rosul serta para sahabat (karena sumbernya jelas dan otentik dari Al-Qur'an dan Sunnah). dan saya kagum dengan para penulis yang dapat membahasakan serta mengambil hikmah dari shiroh dengan sangat indah. misalnya ust. Salim A.Fillah, ust. Anis Matta, ust. Hepi Andi Bastoni, Syaikh Munir Muhammad Al-Ghadban, dll.


tulisan ini saya ambil dari sebuah buku karya ust. Anis Matta, judul bukunya "Demi Hidup Lebih Baik".



Perjalanan Sejarah Tauhid dan Pengorbanan

Bumi yang sekarang dihuni oleh sekitar enam miliar manusia, pada awalnya hanya dihuni oleh dua orang manusia saja. Adam dan Hawa. Kemudian Hawa melahirkan sebanyak 40 pasang. Lalu jumlah manusia terus bertambah. Dari awalnya sepasang, lalu terbentuk keluarga dan terbangun suku, lalu kabilah dan bangsa. Pada setiap tahapan pertumbuhan tersebut, selalu ada nabi.

Pada masa pertumbuhan selanjutnya, setelah Nabi Adam adalah Nabi Idris, dan banyak lagi nabi-nabi yang tidak disebutkan. Sampailah kita pada periode Nabi Nuh yang berdakwah selama 950 tahun. Dan hasil dari dakwah selama itu adalah, bumi ini ditenggelamkan oleh Allah SWT. Lalu muncullah keluarga-keluarga baru dan nabi-nabi baru pula. Seluruh peristiwa ini, terjadi di daerah yang kini kita menyebutnya sebagai Timur Tengah. Dan inilah wilayah tertua di dunia.

Lalu sampailah peradaban manusia pada masa Nabi Ibrahim. Beliau lahir di sebuah kampung bernama Azan di dekat sungai Tigris di wilayah Irak, sekarang. Dan kita mengetahui bagaimana cerita pencarian kebenaran Nabi Ibrahim tentang Tuhan dan Pencipta Alam. Sampai ia berhadapan dengan Raja Namrud dan juga ayahnya yang mengantarkan Nabi Ibrahim terusir dari Irak.

Syam adalah tujuan perjalanan Nabi Ibrahim. Wilayah yang bernama Syam, kini terbagi setidaknya menjadi empat negara; Syiria, Jordan, Palestina, dan Lebanon. Dan di sana Ibrahim bertemu dan menikah dengan Sarah. Seorang perempuan paling cantik yang pernah turun ke bumi. Tapi, pernikahan ini tak kunjung dikaruniai seorang anak, bahkan sampai Nabi Ibrahim berumur 80 tahun.

Ibrahim kembali melakukan perjalanan dakwahnya hingga ke Mesir. Di negeri ini, Nabi Ibrahim berdakwah pada kerajaan yang ada di sana. Mulanya, karena kecantikannya, sang raja hendak mengganggu Sarah. Tapi karena kewibawaan sang nabi, sang raja pun segan bahkan menjadi sangat patuh kepada Nabi Ibrahim. Karena kecintaannya pada Nabi Ibrahim, kemudian sang raja menghadiahkan salah seorang putrinya bernama Hajar.

Karenanya, sama sekali tak benar bila ada yang menyebut Hajar adalah seorang budak perempuan hitam. Karena tidak boleh ada nabi yang lahir dari seorang perempuan atau ibu seorang budak. Lalu ketiganya kembali ke Syam, dan lahirlah seorang anak dari rahim Hajar, yakni Ismail. Ketika baru usai persalinan, Nabi Ibrahim dan Hajar diperintahkan Allah untuk melakukan perjalanan ke Jazirah yang sekarang kita mengenalnya sebagai kota Mekah. Dalam Al-Qur’an, lembah ini disebut sebagai lembah yang tak ada tumbuhannya.

Mari bersama kita bayangkan, sebuah keluarga yang istrinya baru melahirkan anak, diperintahkan untuk pergi ke sebuah lembah yang tak satupun tumbuhan hidup di atasnya. Dan bukan hal yang ringan pula bagi Nabi Ibrahim. Ia menunggu anak selama 80 tahun, setelah mendapatkannya, kemudian ia diperintahkan untuk ke sebuah lembah nan asing. Dan setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan anak dan istrinya seorang diri. Di sebuah lembah yang tak ada tumbuhan, tak pula manusia.

Ketika Nabi Ibrahim mengatakan akan pergi, istrinya Hajar bertanya padanya. “Hendak ke mana engkau wahai suamiku?” Tapi Nabi Ibrahim tidak menjawab pertanyaan itu. Ini sebuah pertanyaan yang pasti tidak bisa terjawab oleh Nabi Ibrahim, karena semua alasan takkan bisa diterima oleh akal dan bisa dipersalahkan. Menyadari hal ini, Hajar yang memiliki kualitas sebagai istri seorang nabi cepat menyadari, bahwa pertanyaannya salah.

Kemudian ia mengubah pertanyaannya, “Apakah kepergianmu adalah perintah dari Allah?” Dan Nabi Ibrahim pun menjawabnya, “Ya.” Maka Hajar pun kembali menunjukkan kualitasnya sebagai istri seorang nabi. Dengan yakin dan mantap, Hajar mengatakan, “Jika begitu Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami di sini.” Dan lalu bermulalah sejarah ditemukannya air zam-zam, sa’i, dan ritual ibadah haji.

Singkat cerita, baru setelah 13 tahun kemudian, Nabi Ibrahim kembali ke Mekah. Tapi ujian yang sesungguhnyam rupanya baru dimulai. Ketika baru saja sampai, ia diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Mari kita kembali membayangkan. Umurnya lebih 80 tahun ketika mendapat bayi Ismail. Tapi, sebelum sampai menikmati kebahagiaannya, ia sudah diperintahkan untuk pergi berdakwah. Setelah 13 tahun terpisah, dengan anak dan istrinya di Mekah, saat ia kembali di usianya yang ke-93, tiba-tiba Allah memerintahkannya untuk menyembelih sang anak.

Ini belum lagi ditambah variabel wahyu yang disampaikan hanya lewat mimpi saja. Dalam struktur turunnya wahyu, cara melalui mimpi adalah cara dengan level yang lebih rendah di antara cara-cara yang lain, seperti disampaikan langsung oleh Allah seperti yang terjadi pada Musa, atau melalui Jibril dan yang lainnya.

Setelah membayangkan diri berada pada posisi Nabi Ibrahim, kini mari kita menempati posisi sebaliknya, sebagai Ismail. Ia kini telah beranjak remaja, besar di lembah gersang dan asing, tanpa asuhan seorang ayah. Tapi kini, ketika ia sudah besar, tiba-tiba datang seorang lelaki mengatakan diri sebagai ayahnya, dan hendak menyembelihnya. Jika kita menjadi Ismail, tentu bukan kesediaan seperti yang tercatat dalam sejarah yang akan terjadi. Tapi beribu penyangkalan dan perlawanan.

Tapi semua berjalan seperti yang sudah digariskan. Inilah sejarah tauhid. Bukan sejarah logika, apalagi sejarah nafsu kuasa. Sejarah tauhid memilih sendiri bahasa yang akan digunakannya. Karena itu, bukan sebuah kebetulan jika Nabi Ibrahim mendapat julukan Bapak Para Nabi, karena ujian dan cobaannya yang ia terima memang melebihi nabi-nabi lainnya.

Setelah peristiwa sejarah tauhid tersebut, Nabi Ibrahim, Ismail, dan Hajar diperintahkan untuk membangun Ka’bah, sebagai monumen tauhid. Dan dalam proses pembangunan itu, Nabi Ibrahim berdoa. “Ya Allah, jadikan hati-hati umat manusia seluruhnya memiliki kecenderungan yang kuat ke tempat ini. Ya Allah, jadikan negeri ini aman dan berikanlah rezeki kepadaku dari langit.”

Dan kini kita mengetahui, bagaimana setiap tahun, Allah menjawab dan menjadikan do’a Nabi Ibrahim sebagai abadi. Setiap tahun, berjuta-juta manusia berduyun-duyun memenuhi panggilan untuk berhaji.

Dari Nabi Ismail, turun sebelas orang anak. Dan dari sebelas orang anak, turun 21 generasi sampai pada generasi yang disebut dengan Generasi Adnan. Dan dari Generasi Adnan, turun lagi 21 generasi sampai pada Rasulullah Muhammad saw. Jadi, jarak antara Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad adalah 42 generasi. Tapi setiap generasi tidak bisa kita hitung dengan hitungan umur generasi saat ini.

Sedangkan garis keturunan Sarah melahirkan Ishaq yang menurunkan Ya’kub, Yusuf, dan seterusnya sampai berhenti pada Nabi Isa as. Jarak antara Nabi Isa sampai pada Nabi Muhammad, lama tak kurang dari hitungan 600 tahun. Dan selama itu tidak ada masa kenabian, masa kekosongan yang disebut masa fatrah. Dan sesudah Nabi Muhammad, tidak akan pernah ada lagi seorang nabi.

Ketika Rasulullah Muhammad dilantik sebagai seorang rasul, kira-kira bumi ini telah dihuni oleh sekitar 100 juta manusia yang tersebar baru di tiga benua, Asia, Afrika, dan Eropa. Sejak diangkat hingga mangkat, Rasulullah bekerja sebagai seorang nabi dan rasul selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari. Dan sepanjang masa itu, hasilnya, umat manusia yang memeluk Islam sebanyak 100 ribu sampai 125 ribu manusia. Jumlah inilah yang berhaji dengan Rasulullahdalam Hajatul Wada (haji perpisahan). Coba bandingkan jumlah manusia yang memeluk Islam dengan jumlah manusia seluruhnya pada masa itu.

Dari jumlah muslim di atas, yang dianggap sebagai ulama, tak kurang dari 100 sampai 110 orang saja. Dan dari 100 orang itu, yang dianggap sebagai ulama besar hanya tujuh orang saja. Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Tiga orang Abdullah; Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, dan Abdullah bin Mas’ud. Serta Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Kaab. Dari tujuh orang inilah semua mazhab fiqih bermula dan berujung.

Ketika Utsman bin Affan menjadi khalifah, sudah ada beberapa sahabat yang telah sampai di tanah Cina. Dan jika kini kita berislam, itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena para pengorbanan para sahabat-sahabat nabi dan para ulama. Saat ini, jumlah penduduk bumi kurang lebih ada enam miliar, dan jumlah umat Islam tak kurang dari 1,3 miliar manusia. Artinya sekitar 20% dari jumlah penduduk dunia.

Artinya, jika pada masa akhir Rasulullah, jumlah muslim sekitar 125 ribu di antara 100 juta manusia, dan kini 1,3 miliar di antara 6 miliar manusia. Artinya, ada grafik yang terus meningkat di kalangan muslim.

Jadi ketika dulu Nabi Ibrahim berkata, “Ya Allah, jadikan hati manusia rasa suka atau hasrat berkunjung ke tempat ini,” berapa jarak antara doa ini diucapkan dan dikabulkan? Berapa jarak antara do’a Nabi Ibrahim yang meminta rezeki untuk negeri itu dengan masa terkabulnya? Memang lama, tapi terlepas dari itu, garis grafik terus meningkat. Jumlah manusia yang mengikuti jalannya, terus bertambah dari waktu ke waktu. Doa ini menembus waktu, dikabulkan sepanjang waktu.

Apa yang menjelaskan itu semua? Yang menjelaskan itu semua adalah pengorbanan. Pengorbananlah yang menjadikan jawaban. Sebesar apa pengorbanan yang kita keluarkan untuk sesuatu yang kita yakini, maka semakin besar pula jawaban yang akan kita terima nanti. Semakin besar kita berkorban, maka semakin besar nampak yang akan kita terima nanti. Kunci pertumbuhan yang berkesinambungan adalah pengorbanan dalam amal usaha yang dilakukan.

Pengorbananlah yang menentukan umur dari amal usaha yang kita lakukan. Pengorbanan, itulah yang dilakukan oleh orang-orang besar dalam sejarah-sejarah besar, yang hidup bahkan hingga sekarang. Ingat itu!

wallaahua’lam bishshawwab...

'siap jadi istri aktivis dakwah..!' atau 'siap jadi istri aktivis dakwah..?'

bismillaahirrahmaanirrahiim...
beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan artikel ini dari sebuah milis. sumber utamanya sih dari dakwatuna.com. artikel ini ditulis oleh dra. anis byarwati, m.si. judulnya "5 bekal istri aktivis dakwah". hmm...
karena waktu itu musim nikah di kampus (?), maksudnya banyak aktivis dakwah di kampus yang menikah, makanya saya copy paste dan saya tulis di note facebook. sekarang saya posting lagi karena bulan syawal ini udah ada waiting list yang harus dipenuhi undangan walimahannya (kapan giliran saya..? hohoho..).

let's see...

"dakwatuna.com – Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing."

nah lho...'bekalan standar' itu aja belom sepenuhnya saya kuasai...oke lah, bu..learning by doing 'kan..? hehe..

"Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:"

siiiaaapp...! mari kita pelajari...

"1. Bekalan yang Bersifat Pemahaman (fikrah)

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!"

hmm...ya, ya. saya teringat dengan kisah yang dipaparkan oleh ust. rahmat abdullah -semoga Allah merahmatinya-. tentang suami-istri aktivis dakwah yang baru menikah. ketika sang suami akan berangkat mengisi kajian keislaman, sang istri merajuk. bukannya tidak paham dengan tugas sang suami, tapi dorongan jiwa untuk terus bersama seakan menggerus kesadaran yang selama ini dimilikinya. tapi kemudian sang suami tersenyum dan bertutur pelan, "kita ini dipertemukan oleh Allah SWT dan kita menemukan cinta dalam dakwah. apakah pantas sesudah dakwah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan dakwah. saya cinta kamu dan kamu cinta saya, tapi kita pun cinta Allah." begitu kisah yang ditulis ust. rahmat. oke, siiipp...kata-kata sang suami tersebut akan saya pegang! ^^

"2. Bekalan yang Bersifat Ruhiyah

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita."

benar...bahkan sejak sebelum pernikahan itu terjadi, konektivitas kita denganNya harus terbangun. saya juga teringat akan diskusi (atau konsultasi?) masalah rumah tangga islami dengan seorang ustadzah. kata beliau, "dalam sebuah proses menuju ke sana (pernikahan-red.), semuanya memang tergantung kedekatan kita denganNya, urusannya hanya urusan kita dengan Dia. bahkan ukh, setelah berkeluarga pun, kalo ada masalah terjadi dalam rumah tangga, sebenarnya kita yang sedang bermasalah. pasti saat itu kita sedang jauh denganNya, amalan yaumiah kita sedang menurun, dan sebagainya. maka sebaiknya, kalo sedang ada masalah, curhat itu hanya dengan Allah! bener deh..." yah..begitulah kira-kira redaksi kalimatnya...

"3. Bekalan yang Bersifat Ma’nawiyah (mentalitas)

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu), dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!"

wooowww...mental saya harus belajar bela diri nih, berarti... ("_ _)

"4. Bekalan yang Bersifat Aqliyah (intelektualitas)

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!"

intelektual tidak hanya dilihat dari IPK 'kan, bu...? hihi.. yap, semangat..!

"5. Bekalan yang Bersifat Jasadiyah (fisik)

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga, dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’."

naahh...ini yang rada sulit (disulit-sulitkan sih sebenarnya...). olahraga! ya, qowiyyul jism itu penting! hmm..untung udah punya channel salom muslimah... hehe..

"Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?"

jaazakillah, bu...


yap...jadi begitulah, sodara-sodara...tidak mudah memang. tapi bukan berarti tidak bisa 'kan?
waktu saya posting di facebook, yang komentar macem-macem. ada yang bilang, "wow..berat juga, ya.." atau, "kalo nikahnya sama yang biasa-biasa aja gimana?", ada juga, "ayoo..semangat!", bahkan, "jadi, kapan nih undangannya?" halah..

saya pikir, tergantung bagaimana niat kita. misalnya nih, ternyata kita menikah bukan dengan aktivis dakwah. atau, kita menikah dengan aktivis dakwah tetapi ternyata pada saat berkeluarga, bertepuk sebelah tangan (kita udah banting tulang mempersiapkan diri, eh ternyata dia nggak mempelajari bagaimana menjadi suami aktivis dakwah). kalo kita meniatkan segala sesuatunya dari awal karena Allah, insyaallah tidak akan terlalu menjadi beban. sehingga tidak perlu ada kecewa. 'kan sudah diatur semuanya oleh Dia. apapun yang terjadi, itu menjadi tarbiyah bagi kita.

"percaya, ukh...Allah itu sayang sama kita..." begitu kata ustadzah yang saya ajak sharing. ya, bu...saya percaya. 'kan Allah bilang, "barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya..." sekarang, yang menjadi pertanyaan, benarkah atau sudahkah selama ini kita menolong agamaNya...????

wallaahua'lam bishshawwab...

Jumat, 03 September 2010

'siap nikah..!' atau 'siap nikah..?'

bismillaahirrahmaanirrahiim...

sudah dua pekan ini (dan hari ini adalah hari terakhir) ada bazaar buku di kampus. hmm..surga dunia..hehe. akhirnya dengan segala semangat yang membuncah, walaupun harus mengorbankan beberapa hal, saya membeli beberapa buku di sana. diskon 20%, lumayan..

dari empat buku yang saya beli, ada satu buku yang langsung khatam dalam waktu kurang dari setengah hari. judulnya 'tarbiyah madal hayah', semacam chicken soup gitu. karena sedang berhalangan (fitrah wanita) dan karena tulisannya dalam bentuk cerita, maka lembar demi lembar terselesaikan dalam waktu singkat (ahh..andai diktat kuliah bernasib sama seperti itu..). alhamdulillah, banyak hikmah dari setiap cerita yang ada dalam buku tersebut. bahwa skenario Allah begitu hebat dan luar biasa dalam men-tarbiyah hambaNya.

beberapa kisah bertutur tentang pernikahan, masalah rumah tangga, juga perselingkuhan (wew..). seorang kawan saya yang meminjam buku tersebut berkomentar, "bagus...tapi, bikin gw jadi takut nikah..hehe..". ya, sekilas memang perasaan yang sama terjadi pada saya setelah membacanya. tapi, alhamdulillah-nya lagi, saya membeli buku lain, yaitu 'rumah kita penuh berkah: peran keluarga dakwah di mihwar daulah' karya dwi budiyanto. dan, great...! kekhawatiran untuk menikah lenyap digantikan dengan semangat yang membara (haha..lebay dah..).

dari beberapa buku tentang keluarga dan pernikahan yang pernah saya baca, buku ini (rumah kita penuh berkah-red.) memberikan 'kekuatan' tersendiri. bukan perasaan 'mellow' yang hadir setelah membacanya, melainkan semangat mengevaluasi dan memperbaiki diri. bagi setiap aktivis da'wah, buku ini saya rekomendasikan, untuk 'meluruskan niat' dalam membangun sebuah rumah tangga.

"keluarga akan tetap memerankan peran yang sangat signifikan. itulah sebabnya, keluarga dakwah semestinya terus memberikan tambahan kebaikan bagi banyak hal. ini artinya, masing-masing keluarga dakwah terus mengupayakan terwujudnya kebarakahan di dalam keluarga. menciptakan keluarga yang sejahtera, berkualitas, dan berdaya..." tulis pak dwi.

bagaimanakah itu? "sejahtera memberikan makna bahwa keluarga dakwah terpenuhi seluruh kebutuhan anggotanya, baik secara lahir maupun batin. keluarga dakwah dikatakan berkualitas karena memiliki ciri-ciri keluarga yang kuat dan kokoh, baik dari sisi keimanan, dan ketakwaan, maupun moralitas serta intelektual, dan sebagainya sehingga mampu melahirkan generasi yang sanggup memberikan pencerahan pada masyarakat. keluarga dakwah dapat dikatakan berdaya ketika mampu mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki untuk memenuhi seluruh kebutuhan anggota keluarga, memiliki daya tahan terhadap tantangan, serta dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya." begitulah yang pak dwi tulis dalam mukadimah-nya. luar biasa...

sebelum saya kutip lagi tulisan dalam buku tersebut, saya coba menyampaikan apa yang ditulis oleh bu yoyoh yusroh, wakil ketua Komisi VIII DPR RI (menangani bidang agama, sosial, perempuan dan anak, badan penanggulangan bencana), "dalam menganjurkan ummatnya untuk melakukan pernikahan, Islam tidak semata-mata beranggapan bahwa pernikahan merupakan sarana yang sah dalam pembentukan keluarga, bahwa pernikahan bukanlah semata sarana terhormat untuk mendapatkan anak yang sholeh, bukan semata cara untuk mengekang penglihatan, memelihara fajar atau hendak menyalurkan biologis, atau semata menyalurkan naluri saja. sekali lagi bukan alasan tersebut di atas. akan tetapi lebih dari itu Islam memandang bahwa pernikahan sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemayarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi ummat Islam."

ya, keluarga sebagai unit terkecil dalam sebuah masyarakat memiliki peran yang tidak biasa. untuk menuju ustadziyatul 'alam, keluarga dakwah merupakan bagian dari perjuangan. oke, mari kita lihat, sejumlah peran yang dikerjakan oleh keluarga aktivis dakwah yang dipaparkan oleh pak dwi budiyanto.

yang pertama adalah sebagai pendukung utama dakwah. ketika para aktivis dakwah telah memasuki orbit kelembagaan negara, peran dukungan keluarga tentu lebih besar lagi. kisah mohammad natsir yang dipaparkan oleh penulis mengingatkan kita tentang cita-cita dakwah untuk menyiapkan pribadi-pribadi muslim yang siap disatukan dalam dakwah. sebuah keinginan yang didasari dari pandangan bahwa keluarga memiliki pengaruh besar bagi kesuksesan dakwahdan perubahan masyarakat. "ummie melihat," tutur mohammad natsir, "bahwa dalam pendirian Pendidikan Islam ini ada satu cita-cita. ummie dengan rela menyumbangkan tenaganya kepada Pendidikan Islam." dukungan keluarga menjadi sumber energi cinta yang meneguhkan cita-cita perjuangannya.

kedua, keluarga bagi dakwah memiliki peranan kuat untuk membangun basis sosial, karena keluargalah basis perubahan di masyarakat. ia berperan dalam melakukan rekrutmen yang tidak sekadar bermakna bergabungnya seseorang ke dalam barisan dakwah, tetapi termasuk di dalamnya mengarahkan masyarakat untuk lebih dekat kepada kultur keislaman. (pemaparannya cukup panjang..mungkin akan di-share pada kesempatan yang lain..atau, lebih oke kalo sodara2 membeli bukunya..heuheu..)

selanjutnya, yang ketiga, keluarga dakwah berperan dalam pendidikan politik dakwah. pendidikan politik diartikan sebagai usaha terus-menerus untuk membangun kesadaran masyarakat akan posisi, hak, dan kewajibannya. selain itu, ia juga berupaya membangun pemahaman tentang apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan seluruh kepentingan dan tujuan kehidupannya. pendidikan politik menghajatkan setiap anggota masyarakat tidak apatis terhadap kondisi masyarakat, bahkan diharapkan mereka akan berubah menjadi masyarakat yang aktif dalam menyikapi situasi dan kondisi di tengah masyarakat dan negara. bagi keluarga dakwah, pendidikan politik ini memiliki dua arah, yaitu yang diarahkan untuk anggota keluarga dan yang diarahkan untuk masyarakat.

keempat, menyiapkan pelaku mihwar. keluarga memiliki andil besar menyiapkan pelaku-pelaku dakwah untuk menjadi muslim-negarawan yang siap menanggung tugas-tugas dakwah di mihwar daulah. penulis mengutip perkataan husein muhammad yusuf dalam ahdhaful usrah fil islam, "sejauh mana keluarga dalam suatu negara memiliki kekuatan dan ditegakkan pada landasan nilai maka sejauh itu pulalah negara tersebut memiliki kemuliaan dan gambaran moralitas dalam masyarakat."

kelima, menggiatkan kerja-kerja pelayanan dan advokasi. keluarga muslim beserta anggota-anggotanya adalah pribadi yang memiliki perhatian terhadap persoalan masyarakat. mereka tidak teralienasi dari lingkungannya, bahkan sebaliknya, mereka memberi manfaat lebih bagi lingkungan dan masyarakat. ismail r. al-faruqi dan istrinya, lamya al-faruqi, menjelaskan dalam the cultural atlas of islam bahwa keluarga muslim secara individu dan bersama bertanggung jawab pada umat. tugas keluarga adalah menjadi warga negara, mempersiapkan generasi untuk menjunjung tinggi sistem sosial, budaya, politik, dan ekonomi umat, ikut serta menyejahterakan masyarakat, dan membela umat bila dibutuhkan.

terakhir, yang keenam, keluarga dakwah berperan sebagai penjaga moralitas. gerakan dakwah, sebagai institusi yang mengaryakan kader-kadernya untuk berkiprah di lembaga-lembaga publik, tentu saja berkewajiban menjaga mereka agar tetap berada pada ashaalah dakwah, sekaligus terus bergerak berdasar nilai-nilai keislaman. namun, dukungan dan penjagaan paling besar tentu saja berasal dari keluarga.



naaahh..bagaimana..? masyaallah dan subhanallah sekali, bukan? ternyata..bicara tentang menikah, menggenapkan separuh agama, membangun keluarga, atau apapun namanya itu, tidak hanya tentang sebuah penyatuan dua insan dan bagaimana mereka melayari bahtera rumah tangga dengan sejuknya angin, riak, maupun gelombangnya. bagi seorang muslim, terlebih seorang aktivis dakwah, ada sebuah visi, misi, dan peranan yang luar biasa besar serta mulia, insyaallah.

so, termotivasi atau malah semakin takut dan khawatir untuk menikah...? hoho..

nahnu du'at qobla kulli syai-in...kita adalah da'i sebelum menjadi apapun. maka pembicaraan tentang sebuah pernikahan yang kerap kali dibahas dengan nuansa merah jambu, barangkali perlu diganti dengan ghirah perjuangan dan harokiyah. maaf, saya merasa perlu mengatakan ini karena beberapa aktivis dakwah enggan membicarakan pernikahan karena khawatir akan menurunkan militansi, merasa belum waktunya, dll. atau, menanggapi pembicaraan tersebut dengan tatapan dan senyum menggoda (?), "ehm..ehm..", "cieee..", "wah..ada apa ini?", "duuhh..saya mah masih jauh..", dsb. tidak, tidak salah. semua orang berhak memiliki opininya masing-masing.

saya, sebagai orang yang belum menikah, mendapatkan 'pencerahan' setelah membaca buku ini. meluruskan niat. "masalah jodoh, sudah tertulis dalam lauh mahfuz..tidak akan berganti orangnya, tidak akan bergeser waktunya.." kata guru spiritual saya (baca: murobbi). dalam sebuah penantian itu (bila boleh mengatakannya demikian), bukan masalah siapa dan kapan, tetapi bagaimana kita mengisinya. bagaimana kita mengokohkan tarbiyah kita, membangun keimanan serta ketaqwaan kita. karena ternyata, membangun sebuah keluarga muslim, keluarga dakwah, butuh 'amunisi' pribadi yang buaaaaaaanyak dan besaaaaaarrrr...karena seperti yang disampaikan bu yoyoh tadi, pernikahan punya tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemayarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi ummat Islam. eksistensi ummat Islam! ustadziyatul 'alam! allaahuakbar...allaahu ghayyatunaa... selain itu, barangkali, yang sebaiknya dipikirkan seorang muslim dan atau da'i tentang pernikahan bukan hanya masalah pribadi (nanti ngasih makan apa sama anak istri, gimana kalo kita berbeda karakter, apakah saya akan terkekang setelah menikah nanti, dan lain sebagainya) melainkan juga masalah dakwah, sosial, ummat.

yah..seperti buku-buku pernikahan lainnya, dalam buku ini pun dipaparkan berbagai masalah yang mungkin terjadi dalam rumah tangga beserta solusinya. dalam hal ini, pembahasan lebih mengarah pada kondisi dakwah yang memasuki mihwar daulah. (ya jelas, ini 'kan emang buku spesial dipersembahkan dalam upaya mengokohkan ruh serta semangat tarbiyah di kalangan kader dakwah dalam menyongsong mihwar daulah, insyaallah).

terakhir, saya berdoa dengan tulus, "baarakallaahulaka wabaraka 'alaika wajama'a bainakumaa fii khaiir...semoga Allah karuniakan barakah kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barakah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan..." untuk saudara-saudariku, mba-mbaku, mas-masku, kakak-kakakku yang telah melanjutkan dakwah ke fase berikutnya, membentuk keluarga muslim. selamat berjuang, ikhwahfillah...! saluuutt saya..hehe.. juga kepada para ustadz dan ustadzah, para assabiqunal awwaluun, yang telah berjuang di setiap mihwar, dengan segala perannya, kekohan tarbiyah dalam rumah tangganya, semoga saya dapat belajar banyak ya pak, bu.. dan kepada saudara-saudariku, mba-mbaku, mas-masku, kakak-kakakku yang masih dalam fase pertama, tarbiyah individu muslim, hayuk lah..jangan cuma mupeng aja..mari kita kerenkan imtaq kita, menguatkan konektivitas kita denganNya..kalo nggak dapet di dunia, ya..mudah-mudahan berkesempatan di surgaNya..aamiin, ya Allah... :)

mohon maaf apabila terdapat hal-hal yang kurang berkenan..mari saling mengingatkan (masih harus banyak belajar, euy..)..jaazakumullaah ahsanul jazaa.. ^^

wallaahua'alam bishshawwab...

nb: judul sama isinya, nyambung nggak ya...? hmmm... (-________-)"