Bismillaahirrahmaanirrahiim
Beberapa waktu yang lalu penulis melakukan ‘cooking class’ dengan kawannya. Dengan semangat yang membara, mereka berdua belanja di sebuah warung dekat kampus. Selain terdorong oleh semangat belajar (menjadi ibu yang baik…^^), ‘cooking class’ ini terinspirasi oleh resep yang diberikan ibu sang kawan.
Sederhana saja… Yang akan dimasak adalah: Bacem.
Resep ini dapat dijadikan bacem ayam maupun bacem tempe. Karena dua mahasiswi ini adalah orang yang sederhana (baca: ngirit), mereka memutuskan untuk membuat BACEM TEMPE.
MATERI DAN METODE:
Bahan-bahan yang diperlukan antara lain:
½ sdm ketumbar
½ sdt jinten
4 buah kemiri
1 ruas jahe dan kunyit [ini hanya digunakan untuk olahan ayam; karena 2 mahasiswi ini belum tahu, mereka juga memasukkannya dalam pengolahan bacem tempe, alhasil kepanikan terjadi ketika masakan hampir matang, “waduuhh…gimana nih?! perasaan tempe bacem warnanya gak kuning dan gak bau jahe begini…???”]
10 siung bawang putih
10 siung bawang merah
3 lembar daun salam
1 ruas lengkuas/ laos (digeprek)
Air kelapa secukupnya (optional)
2 ons gula merah
2 bungkus/ 2 sdm asam jawa
½ kg ayam atau 2 bungkus tempe
Alat-alat yang diperlukan antara lain: wajan, sodet, alat pengukus, mortar batu (baca: ulekan), pisau, dan yang paling penting: kompor! (atau yang sejenisnya).
Metode pengolahan ini adalah:
Tempe (atau ayam) dikukus terlebih dahulu agar memudahkan bumbu meresap. Sementara itu, semua bumbu kecuali daun salam, asam, dan laos dihaluskan. Kemudian bumbu yang telah dihaluskan ini dimasak dalam wajan, ditambahkan gula dan garam secukupnya (dengan perasaan fitrah seorang wanita, katanya…), air, gula merah (secukupnya saja, jangan banyak-banyak..nanti terlalu manis, apalagi kalo yang masaknya udah manis…), laos, dan daun salam. Tempe yang sudah empuk lalu dimasukkan dalam wajan berisi olahan bumbu. Masak hingga air meresap. Setelah itu, tempe dapat digoreng dan siap disajikan…!
Insyaallah, atas berkat rahmat Allah dan disertai dengan keinginan yang luhur, Bacem Tempe ini akan terasa sangat enak…! ^^
Poin penting yang dapat diambil sebenarnya adalah MASAKAN IBU yang menginspirasi putrinya. Karena berulang kali sang kawan mengatakan, “Kalo ibuku yang masak, rasanya lebih ueeenaaaakkkk, rek…”.
Hmm…ya…masakan ibu; tak ada yang dapat menandinginya. Semoga kelak putra-putri 2 mahasiswi ini berujar, “Masakan Ibu lebih enak dari masakan Nenek lho…!” Hihi… Maksudnya, kita harus senantiasa memperbaiki diri dan tidak henti mempelajari sesuatu yang baik; minimal untuk putra-putri kita… ^^
…kami mencintaimu, Bu…kemarin, hari ini, esok, selamanya…tanpa syarat…
Wallaahua’lam bishshawwab
nb: note ini ditulis oleh ‘siswa cooking class’ yang masih awam dan terbiasa nulis laporan praktikum…mohon maaf atas segala khilaf…semoga bermanfaat...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar