bismillaahirrahmaanirrahiim...
sudah dua pekan ini (dan hari ini adalah hari terakhir) ada bazaar buku di kampus. hmm..surga dunia..hehe. akhirnya dengan segala semangat yang membuncah, walaupun harus mengorbankan beberapa hal, saya membeli beberapa buku di sana. diskon 20%, lumayan..
dari empat buku yang saya beli, ada satu buku yang langsung khatam dalam waktu kurang dari setengah hari. judulnya 'tarbiyah madal hayah', semacam chicken soup gitu. karena sedang berhalangan (fitrah wanita) dan karena tulisannya dalam bentuk cerita, maka lembar demi lembar terselesaikan dalam waktu singkat (ahh..andai diktat kuliah bernasib sama seperti itu..). alhamdulillah, banyak hikmah dari setiap cerita yang ada dalam buku tersebut. bahwa skenario Allah begitu hebat dan luar biasa dalam men-tarbiyah hambaNya.
beberapa kisah bertutur tentang pernikahan, masalah rumah tangga, juga perselingkuhan (wew..). seorang kawan saya yang meminjam buku tersebut berkomentar, "bagus...tapi, bikin gw jadi takut nikah..hehe..". ya, sekilas memang perasaan yang sama terjadi pada saya setelah membacanya. tapi, alhamdulillah-nya lagi, saya membeli buku lain, yaitu 'rumah kita penuh berkah: peran keluarga dakwah di mihwar daulah' karya dwi budiyanto. dan, great...! kekhawatiran untuk menikah lenyap digantikan dengan semangat yang membara (haha..lebay dah..).
dari beberapa buku tentang keluarga dan pernikahan yang pernah saya baca, buku ini (rumah kita penuh berkah-red.) memberikan 'kekuatan' tersendiri. bukan perasaan 'mellow' yang hadir setelah membacanya, melainkan semangat mengevaluasi dan memperbaiki diri. bagi setiap aktivis da'wah, buku ini saya rekomendasikan, untuk 'meluruskan niat' dalam membangun sebuah rumah tangga.
"keluarga akan tetap memerankan peran yang sangat signifikan. itulah sebabnya, keluarga dakwah semestinya terus memberikan tambahan kebaikan bagi banyak hal. ini artinya, masing-masing keluarga dakwah terus mengupayakan terwujudnya kebarakahan di dalam keluarga. menciptakan keluarga yang sejahtera, berkualitas, dan berdaya..." tulis pak dwi.
bagaimanakah itu? "sejahtera memberikan makna bahwa keluarga dakwah terpenuhi seluruh kebutuhan anggotanya, baik secara lahir maupun batin. keluarga dakwah dikatakan berkualitas karena memiliki ciri-ciri keluarga yang kuat dan kokoh, baik dari sisi keimanan, dan ketakwaan, maupun moralitas serta intelektual, dan sebagainya sehingga mampu melahirkan generasi yang sanggup memberikan pencerahan pada masyarakat. keluarga dakwah dapat dikatakan berdaya ketika mampu mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki untuk memenuhi seluruh kebutuhan anggota keluarga, memiliki daya tahan terhadap tantangan, serta dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya." begitulah yang pak dwi tulis dalam mukadimah-nya. luar biasa...
sebelum saya kutip lagi tulisan dalam buku tersebut, saya coba menyampaikan apa yang ditulis oleh bu yoyoh yusroh, wakil ketua Komisi VIII DPR RI (menangani bidang agama, sosial, perempuan dan anak, badan penanggulangan bencana), "dalam menganjurkan ummatnya untuk melakukan pernikahan, Islam tidak semata-mata beranggapan bahwa pernikahan merupakan sarana yang sah dalam pembentukan keluarga, bahwa pernikahan bukanlah semata sarana terhormat untuk mendapatkan anak yang sholeh, bukan semata cara untuk mengekang penglihatan, memelihara fajar atau hendak menyalurkan biologis, atau semata menyalurkan naluri saja. sekali lagi bukan alasan tersebut di atas. akan tetapi lebih dari itu Islam memandang bahwa pernikahan sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemayarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi ummat Islam."
ya, keluarga sebagai unit terkecil dalam sebuah masyarakat memiliki peran yang tidak biasa. untuk menuju ustadziyatul 'alam, keluarga dakwah merupakan bagian dari perjuangan. oke, mari kita lihat, sejumlah peran yang dikerjakan oleh keluarga aktivis dakwah yang dipaparkan oleh pak dwi budiyanto.
yang pertama adalah sebagai pendukung utama dakwah. ketika para aktivis dakwah telah memasuki orbit kelembagaan negara, peran dukungan keluarga tentu lebih besar lagi. kisah mohammad natsir yang dipaparkan oleh penulis mengingatkan kita tentang cita-cita dakwah untuk menyiapkan pribadi-pribadi muslim yang siap disatukan dalam dakwah. sebuah keinginan yang didasari dari pandangan bahwa keluarga memiliki pengaruh besar bagi kesuksesan dakwahdan perubahan masyarakat. "ummie melihat," tutur mohammad natsir, "bahwa dalam pendirian Pendidikan Islam ini ada satu cita-cita. ummie dengan rela menyumbangkan tenaganya kepada Pendidikan Islam." dukungan keluarga menjadi sumber energi cinta yang meneguhkan cita-cita perjuangannya.
kedua, keluarga bagi dakwah memiliki peranan kuat untuk membangun basis sosial, karena keluargalah basis perubahan di masyarakat. ia berperan dalam melakukan rekrutmen yang tidak sekadar bermakna bergabungnya seseorang ke dalam barisan dakwah, tetapi termasuk di dalamnya mengarahkan masyarakat untuk lebih dekat kepada kultur keislaman. (pemaparannya cukup panjang..mungkin akan di-share pada kesempatan yang lain..atau, lebih oke kalo sodara2 membeli bukunya..heuheu..)
selanjutnya, yang ketiga, keluarga dakwah berperan dalam pendidikan politik dakwah. pendidikan politik diartikan sebagai usaha terus-menerus untuk membangun kesadaran masyarakat akan posisi, hak, dan kewajibannya. selain itu, ia juga berupaya membangun pemahaman tentang apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan seluruh kepentingan dan tujuan kehidupannya. pendidikan politik menghajatkan setiap anggota masyarakat tidak apatis terhadap kondisi masyarakat, bahkan diharapkan mereka akan berubah menjadi masyarakat yang aktif dalam menyikapi situasi dan kondisi di tengah masyarakat dan negara. bagi keluarga dakwah, pendidikan politik ini memiliki dua arah, yaitu yang diarahkan untuk anggota keluarga dan yang diarahkan untuk masyarakat.
keempat, menyiapkan pelaku mihwar. keluarga memiliki andil besar menyiapkan pelaku-pelaku dakwah untuk menjadi muslim-negarawan yang siap menanggung tugas-tugas dakwah di mihwar daulah. penulis mengutip perkataan husein muhammad yusuf dalam ahdhaful usrah fil islam, "sejauh mana keluarga dalam suatu negara memiliki kekuatan dan ditegakkan pada landasan nilai maka sejauh itu pulalah negara tersebut memiliki kemuliaan dan gambaran moralitas dalam masyarakat."
kelima, menggiatkan kerja-kerja pelayanan dan advokasi. keluarga muslim beserta anggota-anggotanya adalah pribadi yang memiliki perhatian terhadap persoalan masyarakat. mereka tidak teralienasi dari lingkungannya, bahkan sebaliknya, mereka memberi manfaat lebih bagi lingkungan dan masyarakat. ismail r. al-faruqi dan istrinya, lamya al-faruqi, menjelaskan dalam the cultural atlas of islam bahwa keluarga muslim secara individu dan bersama bertanggung jawab pada umat. tugas keluarga adalah menjadi warga negara, mempersiapkan generasi untuk menjunjung tinggi sistem sosial, budaya, politik, dan ekonomi umat, ikut serta menyejahterakan masyarakat, dan membela umat bila dibutuhkan.
terakhir, yang keenam, keluarga dakwah berperan sebagai penjaga moralitas. gerakan dakwah, sebagai institusi yang mengaryakan kader-kadernya untuk berkiprah di lembaga-lembaga publik, tentu saja berkewajiban menjaga mereka agar tetap berada pada ashaalah dakwah, sekaligus terus bergerak berdasar nilai-nilai keislaman. namun, dukungan dan penjagaan paling besar tentu saja berasal dari keluarga.
naaahh..bagaimana..? masyaallah dan subhanallah sekali, bukan? ternyata..bicara tentang menikah, menggenapkan separuh agama, membangun keluarga, atau apapun namanya itu, tidak hanya tentang sebuah penyatuan dua insan dan bagaimana mereka melayari bahtera rumah tangga dengan sejuknya angin, riak, maupun gelombangnya. bagi seorang muslim, terlebih seorang aktivis dakwah, ada sebuah visi, misi, dan peranan yang luar biasa besar serta mulia, insyaallah.
so, termotivasi atau malah semakin takut dan khawatir untuk menikah...? hoho..
nahnu du'at qobla kulli syai-in...kita adalah da'i sebelum menjadi apapun. maka pembicaraan tentang sebuah pernikahan yang kerap kali dibahas dengan nuansa merah jambu, barangkali perlu diganti dengan ghirah perjuangan dan harokiyah. maaf, saya merasa perlu mengatakan ini karena beberapa aktivis dakwah enggan membicarakan pernikahan karena khawatir akan menurunkan militansi, merasa belum waktunya, dll. atau, menanggapi pembicaraan tersebut dengan tatapan dan senyum menggoda (?), "ehm..ehm..", "cieee..", "wah..ada apa ini?", "duuhh..saya mah masih jauh..", dsb. tidak, tidak salah. semua orang berhak memiliki opininya masing-masing.
saya, sebagai orang yang belum menikah, mendapatkan 'pencerahan' setelah membaca buku ini. meluruskan niat. "masalah jodoh, sudah tertulis dalam lauh mahfuz..tidak akan berganti orangnya, tidak akan bergeser waktunya.." kata guru spiritual saya (baca: murobbi). dalam sebuah penantian itu (bila boleh mengatakannya demikian), bukan masalah siapa dan kapan, tetapi bagaimana kita mengisinya. bagaimana kita mengokohkan tarbiyah kita, membangun keimanan serta ketaqwaan kita. karena ternyata, membangun sebuah keluarga muslim, keluarga dakwah, butuh 'amunisi' pribadi yang buaaaaaaanyak dan besaaaaaarrrr...karena seperti yang disampaikan bu yoyoh tadi, pernikahan punya tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemayarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi ummat Islam. eksistensi ummat Islam! ustadziyatul 'alam! allaahuakbar...allaahu ghayyatunaa... selain itu, barangkali, yang sebaiknya dipikirkan seorang muslim dan atau da'i tentang pernikahan bukan hanya masalah pribadi (nanti ngasih makan apa sama anak istri, gimana kalo kita berbeda karakter, apakah saya akan terkekang setelah menikah nanti, dan lain sebagainya) melainkan juga masalah dakwah, sosial, ummat.
yah..seperti buku-buku pernikahan lainnya, dalam buku ini pun dipaparkan berbagai masalah yang mungkin terjadi dalam rumah tangga beserta solusinya. dalam hal ini, pembahasan lebih mengarah pada kondisi dakwah yang memasuki mihwar daulah. (ya jelas, ini 'kan emang buku spesial dipersembahkan dalam upaya mengokohkan ruh serta semangat tarbiyah di kalangan kader dakwah dalam menyongsong mihwar daulah, insyaallah).
terakhir, saya berdoa dengan tulus, "baarakallaahulaka wabaraka 'alaika wajama'a bainakumaa fii khaiir...semoga Allah karuniakan barakah kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barakah atasmu, dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan..." untuk saudara-saudariku, mba-mbaku, mas-masku, kakak-kakakku yang telah melanjutkan dakwah ke fase berikutnya, membentuk keluarga muslim. selamat berjuang, ikhwahfillah...! saluuutt saya..hehe.. juga kepada para ustadz dan ustadzah, para assabiqunal awwaluun, yang telah berjuang di setiap mihwar, dengan segala perannya, kekohan tarbiyah dalam rumah tangganya, semoga saya dapat belajar banyak ya pak, bu.. dan kepada saudara-saudariku, mba-mbaku, mas-masku, kakak-kakakku yang masih dalam fase pertama, tarbiyah individu muslim, hayuk lah..jangan cuma mupeng aja..mari kita kerenkan imtaq kita, menguatkan konektivitas kita denganNya..kalo nggak dapet di dunia, ya..mudah-mudahan berkesempatan di surgaNya..aamiin, ya Allah... :)
mohon maaf apabila terdapat hal-hal yang kurang berkenan..mari saling mengingatkan (masih harus banyak belajar, euy..)..jaazakumullaah ahsanul jazaa.. ^^
wallaahua'alam bishshawwab...
nb: judul sama isinya, nyambung nggak ya...? hmmm... (-________-)"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar