Sabtu, 04 September 2010

'siap jadi istri aktivis dakwah..!' atau 'siap jadi istri aktivis dakwah..?'

bismillaahirrahmaanirrahiim...
beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan artikel ini dari sebuah milis. sumber utamanya sih dari dakwatuna.com. artikel ini ditulis oleh dra. anis byarwati, m.si. judulnya "5 bekal istri aktivis dakwah". hmm...
karena waktu itu musim nikah di kampus (?), maksudnya banyak aktivis dakwah di kampus yang menikah, makanya saya copy paste dan saya tulis di note facebook. sekarang saya posting lagi karena bulan syawal ini udah ada waiting list yang harus dipenuhi undangan walimahannya (kapan giliran saya..? hohoho..).

let's see...

"dakwatuna.com – Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing."

nah lho...'bekalan standar' itu aja belom sepenuhnya saya kuasai...oke lah, bu..learning by doing 'kan..? hehe..

"Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:"

siiiaaapp...! mari kita pelajari...

"1. Bekalan yang Bersifat Pemahaman (fikrah)

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!"

hmm...ya, ya. saya teringat dengan kisah yang dipaparkan oleh ust. rahmat abdullah -semoga Allah merahmatinya-. tentang suami-istri aktivis dakwah yang baru menikah. ketika sang suami akan berangkat mengisi kajian keislaman, sang istri merajuk. bukannya tidak paham dengan tugas sang suami, tapi dorongan jiwa untuk terus bersama seakan menggerus kesadaran yang selama ini dimilikinya. tapi kemudian sang suami tersenyum dan bertutur pelan, "kita ini dipertemukan oleh Allah SWT dan kita menemukan cinta dalam dakwah. apakah pantas sesudah dakwah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan dakwah. saya cinta kamu dan kamu cinta saya, tapi kita pun cinta Allah." begitu kisah yang ditulis ust. rahmat. oke, siiipp...kata-kata sang suami tersebut akan saya pegang! ^^

"2. Bekalan yang Bersifat Ruhiyah

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita."

benar...bahkan sejak sebelum pernikahan itu terjadi, konektivitas kita denganNya harus terbangun. saya juga teringat akan diskusi (atau konsultasi?) masalah rumah tangga islami dengan seorang ustadzah. kata beliau, "dalam sebuah proses menuju ke sana (pernikahan-red.), semuanya memang tergantung kedekatan kita denganNya, urusannya hanya urusan kita dengan Dia. bahkan ukh, setelah berkeluarga pun, kalo ada masalah terjadi dalam rumah tangga, sebenarnya kita yang sedang bermasalah. pasti saat itu kita sedang jauh denganNya, amalan yaumiah kita sedang menurun, dan sebagainya. maka sebaiknya, kalo sedang ada masalah, curhat itu hanya dengan Allah! bener deh..." yah..begitulah kira-kira redaksi kalimatnya...

"3. Bekalan yang Bersifat Ma’nawiyah (mentalitas)

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu), dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!"

wooowww...mental saya harus belajar bela diri nih, berarti... ("_ _)

"4. Bekalan yang Bersifat Aqliyah (intelektualitas)

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!"

intelektual tidak hanya dilihat dari IPK 'kan, bu...? hihi.. yap, semangat..!

"5. Bekalan yang Bersifat Jasadiyah (fisik)

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga, dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’."

naahh...ini yang rada sulit (disulit-sulitkan sih sebenarnya...). olahraga! ya, qowiyyul jism itu penting! hmm..untung udah punya channel salom muslimah... hehe..

"Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?"

jaazakillah, bu...


yap...jadi begitulah, sodara-sodara...tidak mudah memang. tapi bukan berarti tidak bisa 'kan?
waktu saya posting di facebook, yang komentar macem-macem. ada yang bilang, "wow..berat juga, ya.." atau, "kalo nikahnya sama yang biasa-biasa aja gimana?", ada juga, "ayoo..semangat!", bahkan, "jadi, kapan nih undangannya?" halah..

saya pikir, tergantung bagaimana niat kita. misalnya nih, ternyata kita menikah bukan dengan aktivis dakwah. atau, kita menikah dengan aktivis dakwah tetapi ternyata pada saat berkeluarga, bertepuk sebelah tangan (kita udah banting tulang mempersiapkan diri, eh ternyata dia nggak mempelajari bagaimana menjadi suami aktivis dakwah). kalo kita meniatkan segala sesuatunya dari awal karena Allah, insyaallah tidak akan terlalu menjadi beban. sehingga tidak perlu ada kecewa. 'kan sudah diatur semuanya oleh Dia. apapun yang terjadi, itu menjadi tarbiyah bagi kita.

"percaya, ukh...Allah itu sayang sama kita..." begitu kata ustadzah yang saya ajak sharing. ya, bu...saya percaya. 'kan Allah bilang, "barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya..." sekarang, yang menjadi pertanyaan, benarkah atau sudahkah selama ini kita menolong agamaNya...????

wallaahua'lam bishshawwab...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar