Rasanya baru dua bulan yang lalu beliau mengucapkan perjanjian agung itu. Emang baru dua bulan sih. Hampir tiga bulan tepatnya. Pada suatu waktu saya bertemu seorang kawan. “Weeesss...penganten baru...gimana rasanya, Dil?” katanya. Saya jawab, “Wahhh...bahagia sekali, Mas...”. Trus dia bilang lagi, “Paling cuma tiga bulan...hahahaha...”. Dasar! Kawan saya melanjutkan lagi, “Kata temen-temenku yang udah nikah, nikah itu enaknya cuma tiga bulan. Setelah itu, akan ada banyak masalah... Siap-siap aja...” Saya manyun. Nggak mau disamain sama temen-temennya kawan saya itu. Saya paham betul, akan selalu ada masalah selama mengarungi bahtera rumah tangga. Tapi saya nggak mau, kebahagiaan itu cuma mampir tiga bulan. “Liatin aja...akan kubuktikan setelah tiga bulan nanti.. :P” kata saya kepada kawan saya akhirnya.
Dua bulan 19 hari. Suatu ketika kami berbeda pendapat. Lebih lama dari yang sudah-sudah, sehari semalam. Plegmatisnya saya umpetin dan saya sematkan melankolis pada diri saya saat itu. Ketika malamnya suami saya membawa makanan, saya pura-pura tidur. Selain karena lagi sebel, saya pengen sekali-kali tidur lebih dulu dari suami saya. Hasilnya? Saya kelaparan! Nah, rugi banget ‘kan..? Akhirnya saya menyesal. Mulai belajar kembali untuk mendamaikan perasaan. Alhamdulillah, masalah selesai. Tapi saya tetap bilang sama suami saya, “Pokoknya, suatu saat aku harus tidur lebih dulu daripada Aa. Cepat atau lambat, aku akan melakukannya! :P”
Subhanallah. Konflik (yang terselesaikan) ternyata salah satu seni menumbuhkan cinta. Asal jangan dibuat-buat aja. Minimal itulah hikmahnya. Guru kami, Ust. Asep pun berkata saat memberi taujih pada hari pernikahan kami, “Karena menikah itu ibadah, ya pasti ada aja masalah. Tapi di situlah tarbiyahnya..”. Ahh..usia pelayaran kami masih sangat muda. Jarak tempuhnya pun masih pendek. Masih perlu banyak belajar pada orang tua-orang tua kami. Satu hal yang pasti, cinta memang kata kerja, kata Ust. Anis Matta. Memang perlu diupayakan. Kalaupun tiba-tiba ia tumbuh sendiri tanpa kerja keras, itu anugerah. Wajib disyukuri.
Suatu hari suami saya berkata, “Nong, besok-besok kalo Aa pulang, disambut yang baik, ya.. Pake jilbab dan baju yang rapi. Mau pergi ngaji aja rapi, masa ketemu suaminya nggak...”. Saya nyengir sambil ngangguk. Ini gara-gara saya ketiduran abis maghrib, trus pas beliau pulang ke rumah saya sambut dengan mukena lengkap masih saya kenakan. Mata sipit karena bangun tidur (itu juga bangun karena denger suara klakson motor). Untung nggak ada bercak-bercak di wajah.
Kemarin suami saya berpesan kembali saat bertemu di kampus, “Jangan lupa, nanti malem yang rapi ya..” Saya berpikir keras. Kira-kira saya musti berpenampilan kayak gimana? Pake batik? Aduh. “Yaudah, aku pulangnya bareng Aa aja...” Suami saya manyun. Sepanjang jalan pulang, saya berpikir. Trus ketawa-ketawa sendiri, setelah memikirkan rencana kostum yang akan saya kenakan. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengenakan daster yang biasa saya pakai (dasternya layak kok, kayak gamis), tapi berjilbab rapi layaknya hendak keluar rumah. Cengar-cengir sendiri. Sambil berandai setelah itu beliau mengajak makan kepiting di warung seafood (ngarep..). Kemudian beliau pulang. Lalu terpesona (‘kaliii...). Backsoundnya lagu Rhoma Irama, ‘diii balik kerudung...’ (:P) “Subhanallah..alhamdulillah..meskipun pake daster..” Saya mingkem denger statement terakhirnya. Tapi saya bahagia. Apalagi setelah melihat bungkusan plastik yang dibawanya. Kepiting asam manis! “Enaknya kalo makan kepiting begini rame-rame...” kata beliau dengan kaki kepiting di tangannya. “Iya...biar seru ya, A...” kata saya sambil nyongkel daging dalam cangkang. “Iya...biar bisa patungan juga bayarnya...” Dasar! :))
Ahh...ya. Memang perlu diupayakan. Menyemai benihnya. Memberi nutrisinya. Menyiraminya. Memang tidak mudah. Tapi tetap saja, indah. Sebulan. Tiga bulan. Setahun. Selamanya. Insyaallah.
[190711]
Setulus hati menyampaikan kepada para 'assabiqunal awwalun' dalam pelayaran bahtera rumah tangga: baarakallaahulakum.. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar