Suatu hari saya mengirimkan sms kepada suami saya: “Dulu kita pernah meminta padaNya pasangan untuk menjadi pendamping hidup kita, lalu Dia memberikannya pada kita. Kita bersyukur kepadaNya, dan kita bahagia. Kemudian Allah berikan ujian pada kita, Dia ingin agar kita tetap mengingatNya dan tidak melupakanNya. Maka bersyukurlah, cinta..Dan marilah kita memilih untuk bahagia...”
Setiap kita pasti pernah memohon padaNya untuk diberikan pasangan yang sholih. Doa yang kerap dibaca barangkali seperti ini: ‘rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa’. Suami saya berdoa pada Ramadhan tahun lalu agar Ramadhan berikutnya beliau telah memiliki pendamping. Bila kami disampaikan pada Ramadhan tahun ini, maka terkabul-lah doa suami saya tersebut. Saya berdoa pada awal masa kuliah, agar wisuda nanti saya didampingi oleh ibu dan suami saya. Bila kami disampaikan pada momen tersebut, maka di sanalah saya dan suami saya berada. Dalam pembicaraan bersama sepasang pengantin baru dan seorang pemuda single, saya berujar, “Subhanalloh, udah mau Ramadhan aja ya.. Ramadhan taun lalu beliau berdoa supaya Ramadhan taun depan udah punya istri..” saya menunjuk suami. “Dia juga nih..” kata teman saya menunjuk istrinya. “Ente berdoa juga nggak?” tanya saya kepadanya. “Beuh..saya berdoa dari Ramadhan empat tahun yang lalu..” jawab teman saya itu. Kami tertawa puas. Dan sang pemuda single cengar-cengir tidak berkomentar.
Dari buku-buku dan pengalaman banyak orang, saya mengenal hal-hal yang mungkin terjadi dalam rumah tangga. Riak-riak dan duri-duri yang akan muncul. Dan ketika tawaran menikah itu datang, saya memutuskan siap menerima segala konsekuensinya. Lalu Allah berikan jalan kepada kami hingga akad nikah itu pun terjadi.
Kini, setelah berumah tangga, dan menemukan beberapa hal kurang enak yang telah saya bayangkan sebelumnya, saya hanya tersenyum. Berkomentar dalam hati, “Eh..kejadian juga..”. Rasanya malu sama Allah kalo saya sampai mengeluh apa lagi kecewa. Nanti kata Allah, “Lho..’kan dulu kamu minta, sekarang sudah Aku berikan. Kamu juga sudah tahu sendiri konsekuensinya, dan kamu siap menjalaninya..” Duh, malu saya. Maka saya berupaya untuk mengelola perasaan saya, ketika mengenal sifat dan karakter suami saya. Ketika kami dihadapkan dengan beberapa masalah. Ketika kami berbeda pendapat. Ketika kami merencanakan sesuatu. Ketika kami bersama dalam kehidupan kami.
Suatu hari saya pernah merasakan mood saya sangat tidak baik. Saya menunggu suami saya pulang mengajar, berpikir beliau masih membawa motor yang semalam dipinjam dari sahabat suami saya. Saya mau ke kampus, dan malas naik angkot. Ternyata suami saya pulang tanpa motor. Saya semakin bete. Melihat sikap saya yang tidak seperti biasanya, beliau berujar lembut, “Kenapa, Nong..? Biasanya kau menyejukkan hatiku..” Saya tersentak. Astaghfirullah. Iya, kenapa saya ini..? Saya teringat nasihat seorang ummahat kepada saya, “Kalau nanti terjadi sesuatu dalam rumah tanggamu, cepat-cepat evaluasi dirimu. Evaluasi konektivitasmu dengan Allah...” Akhirnya saya kembali mendapat pelajaran untuk senantiasa mengelola perasaan saya agar dapat menjadi penyejuk mata dan hati suami saya. Agar Dia ridha. Agar Dia berkenan memberikan rahmat dan berkahNya kepada kami. Dan untuk itu, saya harus berhubungan baik denganNya. Tenang saja, ‘makan hati’ dalam membina rumah tangga itu nggak rugi koq, insya Allah. Justru akan terjadi KDRT, kemesraan dalam rumah tangga.. hehe..
“Afwan ya..tadi Aa bermuka masam..” Suatu hari, sebuah pesan masuk ke inbox hape saya, dari suami saya. Sebelumnya kami sempat dibuat repot oleh mogoknya kendaraan roda dua kami, padahal baru saja itu motor keluar dari bengkel. Karena saya harus menghadiri suatu agenda, saya meninggalkannya terlebih dahulu. Wajahnya keruh. Sebelum saya pergi, beliau meminta saya untuk mengirimkan sms tausyah. Saya tersenyum membaca sms darinya. Kemudian saya ketik sebuah pesan untuk suami saya, pesan yang saya tulis di awal tulisan ini. Oke, send.
Tiba-tiba sebuah pesan kembali masuk. “Mba, salah kirim ya? Isinya koq tentang pasangan pasangan gitu? Ehm...beda yang udah nikah mah... :D” Hah...??? -________-“
[150611]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar