Saya baru mendengar nama Al-Hurriyyah pertama kali sejak menginjakkan kaki di tanah Institut Pertanian Bogor, Darmaga. Pada saat penerimaan mahasiswa baru saya berkesempatan untuk menunaikan sholat zuhur di sana. Merasakan lembutnya lantai marmer masjid untuk yang pertama kali. Di sela-sela perasaan yang membuncah, terselip haru dalam tanya. Di tempat ini kah akan saya miliki cerita...?
Awalnya saya mengisi beberapa kolom UKM di form pendaftaran. Nyatanya tak satu pun UKM tersebut saya ikuti. Terbiasa mengikuti organisasi di sekolah menengah, rasanya pasti akan berbeda bila di kampus saya hanya kuliah tanpa beraktifitas di luar itu. Suatu ketika saya berbincang dengan seorang senior, kakak pendamping saya saat ospek. Beliau berkisah tentang kegiatan yang diikutinya di kampus. Sebuah lembaga semi otonom DKM Al-Hurriyyah bernama Birena, bimbingan remaja dan anak-anak. Mendengar ceritanya, saya teringat TPA yang dulu ada di rumah. Selama tiga tahun saya mengajar anak-anak sekitar komplek perumahan di rumah saya setiap ba’da maghrib. Dan sumringah lah wajah saya saat mendengar kegiatan yang diceritakan senior saya tersebut. Esoknya saya mendaftar, wawancara, kemudian dipersilakan untuk magang di sana. Maka setiap hari Ahad pagi langkah kaki saya tegap menuju Aula Masjid Al-Hurriyyah di mana kegiatan itu berlangsung.
Beberapa saat kemudian, dibuka pendaftaran pengurus BEM TPB. Barangkali memang sudah di-renstra olehNya sehingga saya tergerak untuk mendaftar. Dan masuklah saya dalam kepengurusan menjadi sekretaris 1 BEM TPB angkatan 43. Aktifitas saya di lembaga ini, ternyata tak menghalangi saya untuk rajin mampir di Al-Hurriyyah. Beberapa pelatihan keorganisasian saya ikuti di Al-Hurriyyah. Melepas penat karena banyaknya rapat, saya ke Al-Hurriyyah. Berjumpa kawan seperjuangan, seringkali di Al-Hurriyyah.
Selepas tingkat satu, saya mulai fokus di Birena. Saya tidak banyak mengenal pengurus Al-Hurriyyah. Birena yang saat itu menjadi lembaga semi otonom praktis tidak bergabung secara langsung dengan kepengurusan LDK Al-Hurriyyah. Baru tahun 2009 Birena dijadikan departemen di bawah LDK Al-Hurriyyah, tidak lagi menjadi LSO. Dan pada tahun 2010 saya diminta untuk membantu mengkoordinasikan Departemen Birena dengan LDK Al-Hurriyyah.
Al-Hurriyyah mengikat saya tak hanya dengan struktur keorganisasian, namun lebih dari itu. Ia benar-benar mengikat saya dengan banyak ikatan yang lembut. Secara fisik, Al-Hurriyyah membuat saya betah berlama-lama di sana. Kesejukannya, kenyamanannya, serta ketenangannya membuat saya tak jarang terlelap di sana (hehe..). Apalagi semenjak tingkat dua saya tinggal di rumah tante yang rumahnya jauh dari kampus. Maka Al-Hurriyyah menjadi tempat persinggahan di saat waktu kosong saya, selain pada jam-jam sholat fardhu. Ruang-ruang di balik mihrabnya menjadi tempat kami memusyawarahkan berbagai persoalan. Sudut-sudutnya menjadi tempat bagi saya menimba ilmu dalam sebuah halaqah. Hamparan sajadahnya menjadi tempat bagi saya untuk bermunajat padaNya, menumpahkan air mata kegalauan hati saya, dan menggumamkan doa-doa untuk banyak hal dalam hidup saya. Tembok-temboknya menjadi tempat saya bersandar sambil membaca diktat atau hand out kuliah. Bahkan jalan setapaknya membuat saya banyak berdzikir karena seringnya saya terjatuh dari motor di sana. Ah, Al-Hurriyyah mengikat saya dengan saudara-saudara saya dalam iman, dalam ikatan bernama ukhuwah islamiyah. Ikatan yang membuat saya selalu terpesona.
Hingga akhirnya, Al-Hurriyyah pun menjadi sarana tak langsung bertemunya saya dengannya, seorang pemuda yang akhirnya menjadi teman hidup saya. Seorang pemuda sederhana yang bersamanya saya percayakan masa depan saya. Saya tidak terlalu mengenal pemuda itu sebelumnya. Saya hanya tahu bahwa beliau merupakan ketua DPQ (Departemen Pengajaran Qur’an) LDK Al-Hurriyyah pada tahun 2009 serta koordinator asisten PAI (Pendidikan Agama Islam) IPB dan staff PSDM LDK Al-Hurriyyah pada tahun 2010. Saya hanya tahu beliau satu angkatan dengan saya dan memiliki kemampuan yang sangat baik dalam membaca dan melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Saya hanya tahu beliau tinggal di asrama Al-Hurriyyah sebagai marboth dan kerap menjadi muadzin atau imam shalat tarawih. Saya hanya tahu beliau membuka sebuah usaha kuliner, martabak mini, bersama tiga sahabat saya. Ya, saya mengenalnya selama ini sebagai saudara seperjuangan di kampus, yang walaupun tidak pernah bersama dalam satu tim, tetapi kami memperjuangkan hal yang sama. Kampus madani.
Pada Februari 2011, pemuda itu meminang saya. Selang tiga bulan setelah khitbah, 2 pekan setelah ia pulang dari PKL di Kalimantan, kami melangsungkan akad pernikahan pada tanggal 1 Mei 2011. Dan masya Allah, setelah itu pun, hari-hari kami dipenuhi banyak cerita, dari Al-Hurriyyah. Ya, ternyata kami belum bisa lepas dari Al-Hurriyyah. Tak ingin lepas, tepatnya. Hati kami, terpaut di Al-Hurriyyah.
Ah...sekiranya saya tak ‘terikat’ dengan Al-Hurriyyah, kira-kira di mana Allah pertemukan saya dengan jodoh saya...? J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar