Kamis, 17 Februari 2011

..romantis dalam diam-nya. sederhana dalam keramahan-nya. pengasih dalam ketegasan raut wajah-nya..



















...cinta pertama si gadis kecil...

Selasa, 08 Februari 2011

tentang kimia jiwa

bismillaahirrahmaanirrahiim...
tulisan ini saya ambil dari sebuah blog Bersama Dakwah.. hmm.. menarik..
---
Bukan Pernikahan Tanpa Cinta
Hari itu, kira-kira pertengahan antara khitbah dan walimah. Seorang ikhwah menemui saya dan mengatakan: "Akhi, perasaan ana berubah." Sepintas saya agak khawatir. Saya sudah menebak kalau ini berkaitan erat dengan rencana pernikahannya. Namun saya tidak mau larut dalam detik-detik ketidakjelasan. "Berubah bagaimana maksud antum?"

Ikhwah ini menghela nafas. Sepertinya akan ada jawaban hebat yang akan keluar dari lisannya dan dipersaksikan kepada dunia. "Ana mulai mencintainya" Alhamdulillah... Plong! Betapa bahagianya mendengar penuturan itu.

Pernikahan Islami memang unik. Ada tantangan tersendiri bersamaan dengan kesucian jalannya. Islam tidak memperbolehkan pacaran. Sementara menurut penganutnya, pacaran dianggap sebagai jalan untuk menjalin kedekatan dan penjajakan hingga kecocokan tercipta sebelum pernikahan. Logikanya, jika kecocokan telah terjalin dan kepastian cinta didapatkan, keduanya bisa mengarungi bahtera rumah tangga dengan lebih mudah dan harmonis. Pernikahan, dengan demikian, bukan lagi upaya coba-coba karena hanya melanjutkan proses yang telah dijalani sebelumnya.

Namun, argumen ini semakin terbantahkan. Lihatlah, betapa banyaknya suami istri yang bercerai bahkan di usia muda pernikahan mereka padahal mereka telah lama berpacaran. Usia pernikahan tidak lebih lama dari usia pacarannya. Apalagi para artis, masya Allah banyaknya kasus mereka! Mengapa? Karena pacaran tidak sama dengan pernikahan. Pacaran tidak bisa diidentikkan seperti on the job training pada pekerjaan sebenarnya bernama keluarga.

Sebab lainnya terletak pada motif. Mengapa pernikahan Islami yang tanpa pacaran justru bertahan lama. Pun dengan pernikahan orangtua-orangtua kita yang tanpa pacaran? Motif mereka –insya Allah- adalah motif yang suci, bukan motif fisikal atau seksual semata. Motif terakhir ini yang sering mendominasi saat pacaran dan pernikahan yang mengakhirinya.

Tanpa pacaran, bukan berarti Islam mengabaikan cinta saat pernikahan. Ketiadaan cinta bisa menjadi sebab perceraian. Lihatlah misalnya pengaduan istri Qais bin Tsabit yang diriwayatkan Imam Bukhari berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتِ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتُبُ عَلَيْهِ فِى خُلُقٍ وَلاَ دِينٍ ، وَلَكِنِّى أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِى الإِسْلاَمِ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ . قَالَتْ نَعَمْ . قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - اقْبَلِ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً

Dari Ibnu Abbas RA, bahwasannya istri Qais bin Tsabit datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Ya Rasulullah, Tsabit bin Qais, aku tidak mencela agama dan akhlaknya, akan tetapi aku tidak ingin kafir (karena durhaka pada suami) setelah aku masuk Islam.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu bersedia mengembalikan kebunnya (yang ia berikan sebagai mahar)?.” Dia menjawab: “Ya”. Maka Nabi bersabda (kepada Qais): “Terimalah kebun itu dan ceraikanlah ia dengan thalaq satu”. (HR. Bukhari)

Rumah tangga Qais tidak bertahan lama karena istrinya tidak mencintainya. Sebelumnya, si istri memang belum pernah bertemu dengan Qais. Begitu menikah dan mengetahui suaminya –yang digambarkan hitam dan jelek- Qais tidak bisa menerima. Maka, hadits di atas menjadi akhir perjalanan rumah tangga mereka.

Sekali lagi, Islam tidak mengabaikan cinta. Namun... jangan salah paham di sini. Cinta yang dimaksud sebagai bekal pernikahan bukanlah cinta yang mengurat nadi seperti dua insan yang berpacaran. Apalagi seperti Qais dan Laila atau Romeo dan Juliet. Cukuplah jika ada chemistry (kimia jiwa) saat melihat calon suami atau calon istri. Itu semacam getar-getar jiwa ketika melihatnya. Dalam Islam, ini difasilitasi oleh forum yang disebut nadhar. Yakni saat calon suami dan calon istri dipertemukan terlebih dahulu agar bisa saling melihat dan menemukan "kecocokan" di sana. Tentu yang boleh dilihat saat itu adalah bukan aurat: hanya wajah dan telapak tangan. Kata Imam Syafi'i, "Dari wajah engkau bisa melihat seseorang itu cantik atau tidak, dari telapak tangan engkau bisa melihat gemuk atau kurusnya." Jika sekarang ada istilah ta'aruf, barangkali itu adalah bentuk lain nadhar yang ada dalam hadits Nabi.

Keterpautan jiwa seperti itu perlu dimiliki oleh kedua insan yang akan melangsungkan pernikahan. Adapun cinta yang lebih dalam, ia akan berkembang sejalan dengan hari-hari yang dilalui bersama oleh keduanya kelak. Jika hadits Istri Qais mengajarkan ketiadaan rasa suka bisa menyiksa jiwa dan mengakhiri ikatan rumah tangga, sesungguhnya pernikahan memerlukan modal awal kimia jiwa itu; sebagai tunas cinta yang akan menjulang mengangkasa. "Jauh sebelum cinta menjelma menjadi pertemuan dua fisik," kata Anis Matta dalam
Serial Cinta, "ia terlebih dahulu bertaut di alam jiwa. Jika ada pertemuan fisik yang tidak didahului oleh pertemuan jiwa itu bukanlah cinta."

Lalu bagaimana dengan suami istri yang ketika menikah dulu jiwanya begitu datar kecuali karena adanya dorongan suci mengikuti sunnah Nabi? Tenang. Sebab cinta merupakan kata kerja, maka ia bisa dibangun pada ruang datar jiwa sekalipun. Asalkan tidak seekstrim Istri Qais, ketidaksukannya. "Bahwa cinta bukanlah gejolak hati yang datang sendiri melihat paras ayu atau jenggot rapi," kata Salim A. Fillah dalam
Jalan Cinta para Pejuang. "Bahwa, sebagaimana cinta kepada Allah yang tak serta merta mengisi hati kita, setiap cinta memang harus diupayakan. Dengan kerja, dengan pengorbanan, dengan air mata, dan bahkan darah."

Saya tidak tahu bagaimana upaya ikhwah yang saya ceritakan di awal tulisan ini untuk mengubah hatinya menjadi cinta. Satu yang pasti, cinta yang tumbuh tepat pada waktunya adalah karunia Ilahi yang patut disyukuri. Mungkin ada kimia jiwa saat keduanya dipertemukan dalam ta'aruf. Apapun, pada ikhwah itu yang kini telah merasakan bahagianya merayakan cinta –dan juga bagi Anda semua yang menapaki jalan sama- terlantun sebuah doa: Baarakallaahu laka, wa baaraka 'alaika, wa jama'a bainakumaa fii khair. [Muchlisin]
---
saya jadi teringat kata-kata ibu saya, "Ya Allah, Engkau tahu kemana getar hati ini mengarah..dan rahmatMu lah yang menetapkannya..." :)

Senin, 27 Desember 2010

spirit bismillah..!

sumber: buku "New Quantum Tarbiyah" yang ditulis oleh Solikhin Abu 'Izzuddin

saya percaya, semua bermula dari membaca. iqra' bismirabbikalladzii khalaq..bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. membaca dengan kesadaran. membaca tanpa menyebut nama Allah: sekuler. menyebut nama Tuhan tanpa membaca: apatis.

bismillah adalah spirit. pintu segala kebaikan. jendela keberkahan. gerbang kesuksesan. jalan kebahagiaan. gapura hidayah. spirit penggugah agar jiwa terus melangkah.

bismillah adalah visi. bersih dalam pengawasan Allah. peduli terhadap sesama. profesional dalam kinerja.

bismillah adalah mu'aahadah, agar janji terpatri di hati setiap detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, tahun, dan abad.

bismillah adalah murooqobah, merasakan kehadiran Allah begitu dekat, mengawasi, mengiringi, mendampingi, menunjuki, dan meneguhkan pijakan kaki. "jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal." (ali imraan: 160).

bismillah adalah mujaahadah. bersungguh-sungguh, tanpa mengeluh, pantang berkesah, dan senang berjuang. "barangsiapa yang bersungguh-sungguh di jalan Kami sungguh benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami." (al ankabuut: 69).

bismillah adalah musyaarathah. syarat diterima sebuah amal, kinerja, perbuatan kalau dipenuhi rukunnya. pertama, bismillah niat karena Allah, ikhlas mengharap ridhaNya. kedua, benar caranya, sesuai tuntunan, prosedur, aturan, syariat, dan manhaj.

bismillah adalah doa. doa adalah cita-cita. doa adalah harapan. doa adalah kekuatan. doa adalah pengarah langkah. doa adalah keyakinan yang menggerakkan. doa adalah kepasrahan atas ketakberdayaan. doa adalah pengakuan kelemahan di depan Allah Pemilik segala kesempurnaan. bismillah adalah doa bukan sekedar doa. bismillah adalah kekuatan. bertumpu pada tauhid, keyakinan, ats-tsiqoh billah. keyakinan ini membuat jiwa orang beriman selalu optimis menapaki kehidupan, istiqomah. laa yukallifullahu nafsan illaa wus'ahaa...

Rabu, 22 Desember 2010

penuturan seorang istri

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah; Tuhan yang memiliki segala keindahan dan kesempuranaan hakiki, yang telah menghamparkan cinta dan kasih sayang di antara para kekasih.
Menikah... Sepertinya indah dan penuh bunga-bunga harapan. Memulai hidup berdua dengan seseorang yang (akan) kita cintai sepenuh hati, membingkai ibadah dalam sebuah rumah tangga... Ah, betapa keindahan yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. Siapapun akan segera membayangkan kebahagiaan begitu berpikir tentang pernikahan dan rumah tangga. Demikian pula saya.
Tetapi, menikah juga menyiratkan segurat kekhawatiran. Mungkinkah ada seseorang yang ‘tepat’ bagi saya? Bukan hanya tepat dalam pandangan fisik dan duniawi, tetapi tepat dalam semangat dan cita-cita untuk senantiasa produktif berkarya bagi umat. Meski samar dan tersembunyi, dalam lubuk hati tetaplah ada kegelisahan dan pergolakan.
Perasaan demikian tentulah menghinggapi setiap gadis, sebelum akhirnya ia ‘sekadar’ menganggukkan kepala atas proposal pembentukan organisasi kecil bernama rumah tangga. Mengingat separuh agama akan dipertaruhkan dalam ikatan itu, menikah benar-benar keputusan besar yang akan mengubah hidup seseorang. Jika Anda seorang perempuan, Anda harus rela membuka ruang intervensi yang mengganggu ‘kemerdekaan’ Anda selama ini. Sebab, tiba-tiba ada seseorang yang berhak untuk menanyakan ke mana Anda akan pergi. Bahkan, ia bukan saja bertanya, tapi juga menyuruh atau melarang. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang berhak tahu tentang segala sesuatu tentang diri Anda; luar dalam, hingga ke emosi dan perasaan Anda. Sepertinya agak seram, ya...
Oleh karena itu, saya serius menimbang-nimbang, saat merasa telah siap menikah. Siapakah lelaki calon suami saya kelak? Dari kalangan manakah saya akan memberikan hak dan kepercayaan itu? Dunia macam apa yang telah, sedang, dan akan dilalui calon suami saya? Sebenarnya, saya belum memiliki ‘daftar’ calon suami, kendati usia telah mencapai angka 23 waktu itu.
Sungguh, saya menginginkan, bertemu calon suami dalam rentang sajadah yang indah; di jalan dakwah...
Malam demi malam saya bermunajat kepada Allah, sekiranya Ia menakdirkan harapan-harapan menjadi kenyataan. Berpuasa Senin Kamis, juga puasa Daud biasa saya lakukan sejak masa sekolah menengah sampai kuliah untuk menjernihkan bashirah mata hati dari kilau dunia dan bujuk rayunya. Semoga saja Allah mengabulkannya berupa kemantapan hati pada saat bersua dengan seorang yang tepat bagi saya. Alhamdulillah, jawaban itu datang juga. Ketika itu, setengah tidak percaya saya mengiyakan untuk menerima seorang pemuda sederhana dengan mimpi-mimpi ‘besarnya’ (yang belum diceritakan pada saya waktu itu).
Sungguh, ketika datang ke rumah orang tua saya pertama kali pada tahun 1991 untuk melamar saya, beliau hanyalah seorang pemuda bertubuh kurus dan belum menyelesaikan kuliah. Beliau hanya mengenakan kaus T-shirt dan bersandal jepit. Ia datang seorang diri menemui orang tua saya dan sangat percaya diri meminang saya. Beliau tampak polos sekali. Hal yang kelihatan darinya hanyalah semangat juang yang tinggi, keikhlasan untuk melakukan kebaikan, dan kesederhanaan dalam penampilan.
Saya bisa memberikan kepercayaan kepada beliau untuk menjadi pemimpin dalam hidup saya, karena saya meyakini keikhlasan dan kesungguhannya. Bukan karena kekayaan, harta, atau kedudukan duniawi yang beliau bawa, tetapi semangat memperbaiki diri dan umat, juga keyakinan diri yang terpancar kuat dari berbagai kegiatan yang dilakukannya. Saya pun merasa tenang dengan kebaikan dirinya.
Pembaca terhormat, pernikahan adalah sebuah fase dalam kehidupan manusia. Pernikahan bukanlah terminal akhir, bahkan ia menjadi awal bagi sebuah proses perubahan. Artinya, janganlah Anda berharap akan menemukan seseorang dengan segala sifat kesempurnaan sesuai idealitas yang Anda bangun. Bahkan, jika Anda agak lambat mendapat pencerahan, proses inqilab (perubahan, pembalikan) menuju kebaikan, bisa saja dimulai setelah beberapa waktu pernikahan berjalan. Tak ada kata terlambat. Hanya saja jika salah pilih, proses itu akan berjalan lambat, stagnan, atau bahkan bergeser dari arah kebaikan.
Saya ingin menegaskan ini untuk mengingatkan Anda yang bersikap perfect dan menginginkan kesempurnaan calon pasangan. Seorang gadis (akhawat) Muslimah datang berkonsultasi kepada saya, setelah belasan lelaki melamarnya, dan tak satu pun yang sesuai kriteria harapannya. Saya pun memberikan nasihat dengan cerita masa lalu saya.
“Jangan bayangkan Pak Cah (panggilan akrab suami saya, Cahyadi Takariawan) tahun 1991 ketika melamar saya, adalah Pak Cah yang Anda lihat sekarang ini, dengan segala kelebihan dan kematangannya. Dulu, beliau hanyalah seorang pemuda yang bersemangat untuk berbuat kebaikan dengan segala kesederhanaan dan keluguannya. Kemudian kami bersama-sama saling membangun dan mengisi, membentuk sifat kesuamian atau keistrian dan kebapakan atau keibuan, mematangkan konsep dan pemikiran, mengasah ketrampilan dan mencoba mengaplikasikannya, serta bereksperimen tentang pola yang tepat dalam saling memotivasi dan seterusnya, dan seterusnya... Hingga kini, kami masih saja saling belajar, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan.”
Anda jangan hanya ingin ‘terima jadi’ bahwa seorang ikhwan yang ideal atau akhawat yang sempurna akan datang kepada Anda dan memenuhi segala kriteria yang Anda harapkan. Tetapi, Anda harus rela dan berani untuk bersama-sama membangun pribadi yang diharapkan. Selain itu, tidak hanya menerima kelebihannya, tapi juga kekurangan yang pasti ada padanya, sebagaimana juga ada pada Anda. Hal yang penting, Anda harus mantap bahwa ia yang terpilih adalah seseorang yang memiliki visi dan misi yang sama. Kalau toh belum, minimal memiliki itikad baik untuk membangun visi tersebut. Ummu Salamah adalah contoh perempuan unggul yang membuka ruang pencerahan bagi calon suaminya, Abu Thalhah. Sejarah pun mencatat bahwa Abu Thalhah yang tadinya belum Islam akhirnya menjadi seorang mujahid dakwah.
Modal utama untuk menjadi dinamisator perubahan pada pasangan adalah keyakinan diri, kesiapan untuk berubah, karakter yang kuat, dan keteladanan. Selain itu, ditambah dengan keterampilan mengomunikasikan ide (yang ini pun bisa saling dilatihkan kemudian). Apabila ada kesiapan dalam diri Anda untuk memberi dan menerima, saling berlomba dalam menunaikan kebajikan, dan siap berubah menuju tuntutan ideal maka Anda telah memiliki semua persyaratan untuk membangun rumah tangga yang harmonis.
Tentang penulis, alhamdulillah, Allah mengirimnya untuk saya. Saya tak ingin berlebihan mengungkapkan, hanya saja beliau memang menjadi inspirasi dan motivasi untuk berlomba dalam kebaikan dan membuat saya merasa menjadi istri yang istimewa di sisinya dari waktu ke waktu. Saya ingin senantiasa menemani beliau dalam langkah perjuangan yang tengah beliau tempuh, sejak mengenalnya hingga sekarang ini. Beliau adalah suami yang istimewa di mata saya. []

Sebuah pengantar yang ditulis oleh Ida Nur Laila, istri penulis (Cahyadi Takariawan) dalam buku Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah. Ia lahir di Yogyakarta, 19 Desember 1967. Menyelesaikan kuliah di Fakultas Farmasi UGM dan kini menjadi apoteker. Dalam kegiatan dakwah, ia mengelola beberapa Majelis Taklim. Bersama suami, sekarang mengelola Jogja Family Center (JFC).

Selasa, 21 Desember 2010

golden standard

bismillaahirrahmaanirrahiim...
Hari ini saya mengikuti sebuah seminar yang diadakan oleh Agrianita IPB (ibu-ibu dharma wanita-nya IPB). Seminar dalam rangka menyambut hari ibu ini bertajuk “Golden Standard of Infant Feeding” atau bahasa keren-nya “Makanan Bayi Berstandar Emas”. Langkah awal membangun generasi bangsa sehat, cerdas, dan berkarakter. Hmmm...
Nah, saya coba sedikit bagi-bagi ilmu yang saya dapatkan dari dr. Utami Roesli, Sp.A., MBA.CIMI, IBCLC. ini ya...Beliau adalah ketua umum Sentra Laktasi Indonesia sekaligus ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI. Ilmu yang luar biasa bermanfaat untuk saya (dan mudah-mudahan untuk anda juga).
Oiya, seminar ini diawali oleh penampilan anak-anak playgroup dan TK Agriananda. Terharu rasanya melihat mereka bernyanyi (lipsing) ‘Lagu untuk Mama’. Terharu...dan membuat saya ingin sekali menjadi seorang ibu...! >_<
Baiklah..mari kita mulai dari slide pertama yang menjelaskan apa saja standar emas makanan bayi itu. Menurut WHA No. 55.25 thn 2002 yaitu: 1. Inisiasi Menyusu Dini (IMD), 2. ASI eksklusif selama 6 bulan, 3. Makanan Pendamping ASI (MPASI) setelah 6 bulan, 4. ASI diteruskan sampai 2 tahun atau lebih.
Sampai sini ada pertanyaan...? (lho...belom ya...?) hehe...
 Standar emas makanan bayi ini akan tercapai bila pemberian ASI dan MPASI dilakukan dengan benar. Proses menyusui harus dimulai secepatnya segera lahir, kemudian selama 6 bulan diberikan kepada bayi secara eksklusif tanpa makanan pendamping. Ternyata, ASI ini diminumkan kepada bayi sesuai keinginan sang bayi, bukan pada jam yang kita jadwalkan. Tepat pada usia 6 bulan, mulai diberikan makanan pendamping. Ingat! Makanan yang diberikan bukan makanan pabrik. Makanan ini adalah makanan keluarga, atau dibuat sendiri, namanya bubur ASI. Sedikit beras ditumbuk kemudian diberi ASI.
Nah...bagian ini yang menarik: Inisiasi Menyusu Dini. Segera setelah lahir, bayi ditengkurapkan di dada ibu. Kulit bayi melekat pada kulit ibu minimal 1 jam atau sampai menyusu awal selesai. Subhanalloh...ternyata, kulit ibu memiliki kemampuan sebagai thermoregulator-thermosynchrony atau dapat menyesuaikan suhunya dengan suhu yang dibutuhkan bayi. Jadi jangan khawatir sang bayi kedinginan selama 1 jam itu, karena setiap penurunan beberapa derajat suhu bayi akan diikuti dengan kenaikan beberapa derajat suhu tubuh ibu. “Tubuh ibu merupakan ‘inkubator’ utama bagi sang bayi.” Begitu kurang lebih kata dr. Utami (wiiihh..namanya kayak nama saya..hhe..).
Bayi yang diletakkan segera di dada ibu akan merayap sendiri mencari payudara sang ibu. Kakinya akan menekan-nekan perut ibu untuk bergerak maju, tepat di atas rahim. Hal ini akan mencegah perdarahan pada sang ibu. Kemudian sang bayi akan menjilat-jilat kulit ibunya. Hal ini menyebabkan bayi akan menelan bakteri ‘baik’ dari kulit ibu lalu akan berkoloni dalam usus bayi menjadi probiotik! Subhanalloh...
Jangan tunggu lama untuk meletakkan bayi di atas dada sang ibu. Karena yang akan terjadi adalah, bayi akan kesulitan merayap menemukan payudara, aktivitasnya menurun, ia tidak akan bergerak menghampiri payudara ibunya. Ini terjadi pada bayi yang ketika baru lahir ditimbang terlebih dahulu baru diletakkan di dada sang ibu. Jadi, harus segera!
Sang bayi juga seolah-olah tahu kapan ASI akan siap dikeluarkan dari payudara sang ibu sehingga ia akan sedikit menghentak-hentakan kepalanya di dada sang ibu kemudian mengulum puting payudara ibu untuk merangsang hormong oksitosin dikeluarkan. Hormon oksitosin inilah yang akan menginisiasi dikeluarkannya susu. Menurut Pak Edmond dan kawan-kawan dari Department for International Evelopment UK Pediatrics tahun 2006, memberi kesempatan bayi menyusu segera setelah lahir dapat menurunkan 22% mortalitas atau tingkat kematian bayi.
Detik-detik keberadaan bayi di dada ibu juga dapat memperkuat jalinan kasih sayang antara ibu, bayi, dan ayah sebab bayi dalam keadaan siaga pada 1-2 jam pertama. Ayah dapat meng-adzan-kan dan mendoakan sang bayi pada momen tersebut. Membisikan kalamullah di telinga sang bayi. Penanaman spiritual quotion sejak dini.
Awas aja nih kalo suami saya nanti gak mau nemenin saat saya melahirkan... >_<
Selain itu, ibu dan bayi harus dirawat dalam satu kamar dan selalu dalam jangkauan ibu. Kalo dipisahkan selama katakanlah 6 jam saja, hormon stress pada bayi akan meningkat 2 kali lipat. Jadi kalo ada orang pilek yang menjenguk, ibu tinggal bilang aja ke orang tersebut untuk menjaga jarak dengan bayinya. Kalo tempatnya dipisah ‘kan ibu jadi nggak bisa mantau bayinya, benar..?
Oiya, peran ayah dalam keberhasilan menyusui sangat besar. Penelitian pada 115 ribu ibu yang tahu tentang ASI dan menyusui menyebutkan bahwa keberhasilan menyusui  sebanyak 98,1 % pada kelompok ayah yang tahu ASI dan 26,9 % pada ayah yang tak mengerti. Michigan States University juga merekomendasikan pendidikan ASI bagi ayah dan keluarga di antenatal care (perawatan setelah melahirkan). Soo..let’s prepare to become a breastfeeding father, bro..!
Tak hanya baik untuk bayi, ibu yang memberi makanan bayi berstandar emas pun akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Perdarahan pasca melahirkan dan anemia akan berkurang, juga angka kematian, kanker payudara, kanker indung telur (ovarium) dan rahim, serta risiko maternal diabetes. Selain itu, akan mengurangi osteoporosis, risiko Rheumatoid Arthritis, risiko overweight, serta mempercepat bentuk rahim kembali ke keadaan sebelum hamil juga mempercepat kembalinya hubungan suami istri seperti sebelum hamil.
Satu hal lagi, komposisi ASI akan berbeda pada setiap wanita meski mereka melahirkan pada detik yang bersamaan. Mengapa? Karena komposisi ASI tergantung pada kemampuan usus sang bayi untuk menyerap. Maka dari itu, ASI bersifat spesifik spesies. “Coba bayangkan, energi yang dibutuhkan bayi kalo kita memberinya susu bukan dari ibunya karena ususnya tak dapat menerima. Kasihan ‘kan..?!” begitulah kira-kira kata dr. Utami. (bukan saya lho..hehe..)
Allaahuakbar...Allah-lah Yang Mahakuasa atas semua hal itu...
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (Ar-Rahmaan: 13)
“...dari payudaranya dihisap oleh bayinya, setiap tegukan dan hisapan mendapat satu pahala.” (HR. Thabrani dan Ibnu Asakir)
“Jika berjaga sepanjang malam karena melayani bayinya, ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang memerdekakan tujuh puluh budak di jalan Allah.” (HR. Thabrani dan Ibnu Asakir)
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Maka hendaknya mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An-Nisaa: 9)
“Anak itu titipan Alloh...titipan Alloh...! Jangan sampai kita menzholiminya... Jangan sia-siakan 1 jam itu...” (dr. Utami Roesli)
Jadi, pastikanlah bahwa rumah sakit atau tempat para calon ibu melahirkan memiliki prosedur golden standard of infant feeding tersebut...
Semoga kita dapat lebih banyak belajar untuk generasi yang lebih baik... :)
wallaahua’lam bishshawwab...

*Selamat Hari Ibu... :)  

Sabtu, 18 Desember 2010

#3

..Kalau dalam pendidikan anak, ketika anak menjelang hampir tidur..maka disarankan untuk membisikkan kalimat-kalimat untuk mengisi memori alam bawah sadar.. “mas izza, besok sholih ya, rajin sekolah, ngaji, dll..” Dan yang dicontohkan Rasul pun bahwa waktu-waktu menjelang tidur direkomendasikan untuk banyak berdzikir, mengisi rencana-rencana baik untuk esok hari..makanya isi waktu menjelang tidur dengan ritual-ritual yang baik..rencana-rencana besar amal sholih untuk esok hari..selamat istirahat..

#2

..sahabat, mungkin tidak semua orang bisa melakukan kebaikan-kebaikan yang lingkupnya besar..tapi semua orang bisa melakukan kebaikan-kebaikan kecil dengan bingkai kecintaan yang besar terhadap kebaikan tersebut sehingga akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang besar.. sahabat, mari isi tiap detik hidup kita dengan kebaikan walau sekecil apapun agar bisa berubah menjadi kebaikan yang besar..