diambil dari buku "Dalam Dekapan Ukhuwah", Salim A.Fillah
bismillaahirrahmaanirrahiim..
Dia seorang dokter. Myriam Horsten namanya. Bertahun-tahun dia tekuni bidang khusus kesehatan jantung. Dan bertahun-tahun pula dia harus sering berduka menyaksikan pasiennya kehilangan nyawa. Tapi ada yang menarik perhatiannya di situ; daya tahan terhadap serangan jantung ternyata tidak berhubungan langsung dengan pola makan, gaya hidup, dan bahkan tingkat tekanan ketika mereka menghadapi persoalan dalam kehidupan bermasyarakat.
Aneh. Justru orang-orang yang lebih lemah daya tahan jantungnya ini adalah orang-orang yang tinggal menyendiri dengan tenteram, jarang menghadapi persoalan pelik kehidupan, dan mereka menjalani hari-harinya dalam kemapanan, nyaris tanpa gejolak dan tantangan. Ritme kehidupan mereka linear datar.
Rasa penasarannya dia kejar dengan sebuah penelitian. Bersama para koleganya dari Karolinska Institute,
Stockholm, Swedia, dia mengukur dan merekam detak jantung 300 orang wanita sehat selama 24 jam. Demikian dilakukan berulang-ulang secara periodik, selama bertahun-tahun. Penelitian juga dilakukan terhadap teman-teman para wanita ini, sekaligus diusahakan untuk memperoleh gambaran tentang seberapa tinggi tingkat kemarahan dan depresi mereka.
Horsten dan timnya tertarik pada apa yang disebutnya sebagai 'variabilitas detak jantung'. Ini adalah suatu tolak ukur untuk mengetahui perubahan detak jantung yang terjadi selama periode seharian penuh. Hasil penelitian bertahun-tahun itu awalnya mengejutkan; orang yang sehat dan berjantung kuat justru adalah mereka yang memiliki rentang variabilitas detak jantung yang tinggi. Bankan rentang itu sangat lebar. Artinya, detak jantung mereka sangat variatif.
Sangat jelas tergambar, bahwa orang-orang yang aktif dan banyak terhubung dengan sesama manusia dalam sehari mengalami berbagai macam guncangan emosi; mereka tertawa, bersemangat, bergairah, tapi juga marah. Mereka frustasi, berelaksasi, bersedih, tegang, tersenyum, takut, cemas, optimis, tercerahkan. Kesemua hal yang sangat emosional dan dipicu dari hubungan-hubungan dengan sesama ini mempengaruhi berbagai hormon, utamanya adrenalin yang turut serta mengatur ritme kerja jantung.
Bukankah dengan demikian justru jantung bekerja keras? Ya. Dan jika ia bekerja keras, maka jadilah ia mudah sakit?
Justru sebaliknya.
"Jantung dalam kondisi semacam itu," kata Myriam Horsten, "Adalah jantung yang berolahraga. Jantung ini menjadi terlatih dan kuat. Jantung ini adalah jantung yang sangat sehat." Dan sebaliknya, jantung orang yang kehidupannya datar-datar saja, tenteram-tenteram, dan lebih-lebih sangat kurang interaksi sosialnya memiliki variabilitas detak yang sangan kecil. Akibatnya, jantung mereka menjadi jantung yang lemah terhadap suatu serangan.
Jadi bagaimana caranya menguatkan jantung kita? "Gampang," kata Myriam Horsten. "Perbanyaklah hubungan dengan sesama, perkaya getar-getar emosi bersama mereka, lakukan hal-hal yang variatif dalam kehidupan, dan cobalah tantangan-tantangan baru!" Jadi benar, selain meluaskan rizki, silaturahim memanjangkan umur bahkan dalam maknanya yang paling lugas.
---
subhaanalloh sekali, bukan...??
jadi, sekali lagi, adhil sampaikan kepada ikhwahfillah rahimakumullah...kawan-kawan semua...jaazakumullaah ahsanul jazaa...haturnuhun, terima kasiiiihhh...karena telah berkontribusi dalam menyehatkan jantung saya, insyaallaah.. ^_______^
Sabtu, 28 Agustus 2010
Rabu, 18 Agustus 2010
"semoga selalu dalam dekapan ukhuwah, ukh!"
alhamdulillaah..akhirnya..setelah penantian cukup panjang..sampai juga kirimannya..
sebuah buku: Dalam Dekapan Ukhuwah, karya ust. Salim A. Fillah..
"Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya di sini, dalam dekapan ukhuwah"
ya, ukhuwah itu..masyaallah..sampai speechless saya, bagaimana mengungkapkannya..
seperti yang ust. Salim tuliskan di buku: "semoga selalu dalam dekapan ukhuwah, ukh.." aamiin..semoga ya Alloh..
betapa tak ingin terlepas dari lingkaran cahaya ini... ^_^
sebuah buku: Dalam Dekapan Ukhuwah, karya ust. Salim A. Fillah..
"Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya di sini, dalam dekapan ukhuwah"
ya, ukhuwah itu..masyaallah..sampai speechless saya, bagaimana mengungkapkannya..
seperti yang ust. Salim tuliskan di buku: "semoga selalu dalam dekapan ukhuwah, ukh.." aamiin..semoga ya Alloh..
betapa tak ingin terlepas dari lingkaran cahaya ini... ^_^
Senin, 16 Agustus 2010
do'a Pemuda Kahfi
sebagaimana Pemuda Kahfi itu berdo'a: "Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (Al-Kahfi: 10); maka begitu pulalah do'a saya kepadaNya...
ya, dalam sebuah urusan yang menghampiri saya beberapa hari terakhir ini, betapa saya sangat mengharapkan petunjukNya. dan malam ini, membaca terjemah surat Al-Kahfi...subhanalloh...
"...sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri..." (Al-Kahfi: 13-14)
terngiang seorang ustadzah berkata, "urusan ini memang hanya urusan anti denganNya...semuanya tergantung anti, tergantung konektivitas anti denganNya..." ya, sedekat apakah saya denganNya...???
ya Rabb...dengan iman yang barangkali tak seberapa ini, hamba mohonkan petunjukMu dan keteguhan hati dariMu...sebagaimana Kau berikan pada para Pemuda Kahfi itu...
ya, dalam sebuah urusan yang menghampiri saya beberapa hari terakhir ini, betapa saya sangat mengharapkan petunjukNya. dan malam ini, membaca terjemah surat Al-Kahfi...subhanalloh...
"...sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri..." (Al-Kahfi: 13-14)
terngiang seorang ustadzah berkata, "urusan ini memang hanya urusan anti denganNya...semuanya tergantung anti, tergantung konektivitas anti denganNya..." ya, sedekat apakah saya denganNya...???
ya Rabb...dengan iman yang barangkali tak seberapa ini, hamba mohonkan petunjukMu dan keteguhan hati dariMu...sebagaimana Kau berikan pada para Pemuda Kahfi itu...
Minggu, 15 Agustus 2010
ngabuburit ala gue
kalo orang mah ngabuburit ke mesjid (hmm..berapa persen nih yang kayak gini..?), kalo saya ke kandang mencit... ngambil satu tube kecil hormon gonadotropin (PMSG atau hCG) di lab >> pergi ke lab hewan coba >> ambil kandang mencit >> masukin hormon ke spoit >> buka tutup kandang >> nyomot ekor mencit >> handling mencit >> akhirnya, njussssss...sebanyak 0,1 ml hormon masuk secara intraperitoneal ke dalam tubuh mencit (biasanya ada 4 ekor mencit yang diperlakukan seperti demikian dalam satu hari)...
abis itu, tujuh puluh dua jam kemudian, mencit-mencit itu akan sukses di-dislokasi dan dibedah untuk kemudian diambil uterus-oviduk-ovarium nya...
ya Alloh...terimalah amal ibadah Romadhon hamba...aamiin... (-_____-)"
abis itu, tujuh puluh dua jam kemudian, mencit-mencit itu akan sukses di-dislokasi dan dibedah untuk kemudian diambil uterus-oviduk-ovarium nya...
ya Alloh...terimalah amal ibadah Romadhon hamba...aamiin... (-_____-)"
Sabtu, 14 Agustus 2010
lir ilir
bismillaahirrahmaanirrahiim..
masyaallah..saya baru tahu lho..
[tulisan ini diambil dari tulisan seorang sahabat]
--
Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Bocah angon-bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro...
Dodot iro-dodot iro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo
Ayo bangun (dari tidur), tanam-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau terlihat bagaikan pengantin baru
Wahai penggembala, ambillah buah blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang telah koyak sisihkanlah
Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung sedang terang bulan, mumpung sedang banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
---
Saudaraku,
Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Ayo bangun (dari tidur), tanam-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau terlihat bagaikan pengantin baru
Hijau adalah warna perlambang agama Islam yang saat itu kemunculannya bagaikan pengantin baru dan sangat menarik hati. Hijau juga berarti pertumbuhan dan kemudaan.
Bocah angon-bocah angon
Wahai penggembala
Sya'ir ini ditujukan kepada kita, manusia. Penggambaran di sana diwakili oleh bocah angon (penggembala) . Mengapa penggembala? Mereka menggembalakan binatang ternak (yang umumnya bukan milik sendiri, kepunyaan majikannya) dari pagi sampai sore. Ya, waktu yang hanya sebentar tak sampai larut malam. Mereka menjaga benar milik majikannya, jangan sampai hilang atau berkurang.
Begitu pula kita, hidup di dunia ini hanya sebentar dan ibarat mampir bersinggah untuk sebuah perjalanan panjang ke alam akhirat sebagaimana Rasulullah telah sabdakan: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” [HR. Bukhari, shahih]. Yang kita lakukan di dunia ini hanyalah mencari bekal untuk hidup di masa yang kekal nanti. Laksana penggembala, alangkah baiknya bila kita menjaga hak-hak pemilik kita (yakni Alloh Subhaanahu wa ta'ala) dengan sebaik-baiknya. Bila mereka (penggembala) dengan matanya mengawasi tindak tanduk binatang gembalaan agar tidak hilang, tidak makan rumput yang bukan hak miliknya; demikian juga sebaiknya kita. Hendaknya kita berhati-hati dari segala yang dilarang Alloh sehingga tak terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan.
“Sesungguhnya perkara yang halal telah jelas, dan perkara yang haram pun telah jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang meragukan, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari perkara yang syubhat, maka ia telah menjaga keselamatan agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti ia telah terjerumus dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat daerah terlarang sehingga hewan-hewan itu nyaris merumput di dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja memilliki daerah terlarang. Ketahuilah, bahwa daerah terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. [HR. Bukhari dan Muslim, shahih]
penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
ambillah buah blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah
Manusia diminta mengambil buah blimbing. Bila kita perhatikan, buah blimbing umumnya memiliki sisi buah sebanyak lima. Lima menandakan rukun Islam (syahadat, sholat, zakat, shaum (puasa), dan haji). Meskipun licin, terasa berat untuk melaksanakan rukun Islam tersebut tetaplah jalani dengan keikhlasan dan kesungguhan.
kanggo mbasuh dodot iro
untuk mencuci pakaian
Air perasan blimbing jaman dahulu biasa digunakan ibu-ibu untuk mencuci pakaian yang kotornya berlebihan. Dalam ilmu kimia, kita mengetahui bahwa blimbing mengandung asam. Asam adalah pelarut yang baik untuk menghilangkan kotoran (subhaanaLlah, sebuah kearifan lokal yang cerdas).
Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa. Bagi masyarakat Jawa, agama ibarat pakaian atau perhiasan.
Bila direnungkan lebih dalam, iman adalah tubuh manusia sendiri. Tubuh akan terlindungi manakala ada pakaian yang menyelimuti. Pakaian iman yang dimaksud adalah ketakwaan. “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang baik” [QS.An Nisa' :26]. Ketakwaan lah yang menghantarkan manusia ikhlas mengerjakan yang diperintah Alloh sekaligus berusaha meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh-Nya. Selain itu, kita juga perlu berhias diri dengan akhlak dan kepribadian yang bagus (Islami) sehingga sempurnalah tubuh ini.
Dodot iro-dodot iro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Pakaian-pakaian yang telah koyak sisihkanlah
Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
Bila akhlak kita belum sempurna, sholat kita masih kurang khusyu', maka cukupkanlah dengan melakukan hal-hal yang sunah. Kita perlu menjahit (memperbaiki) akhlak, mendirikan sholat sunnah untuk menambal kekhusyuan sholat fardhu. Dalam ber-Islam, hendaknya kita menyeluruh. Jika ada yang belum dilaksanakan, usahakan untuk ditunaikan. Menambal (menjahit) dengan amal-amal shalih (shodaqoh, infak), maupun membenahi diri dengan ilmu-ilmu dinul Islam lurus.
Semua yang diuraikan di atas, merupakan bekal untuk sebo (menghadap) saat kematian menjemput (sore).
Sungguh, tiadalah yang kita siapkan, pertaruhkan, dan perjuangkan di dunia ini selain menjadi bekal untuk menghadap Ilahi Robbi. Bila kita kembali dengan bekal sedikit, niscaya kerugian yang akan didapat. Lalu, dipenghujung tulisan ini mari renungkan keberadaan kita, diri kita, dan amal-amal kita. Sudah cukupkah sebagai bekal menghadap-Nya nanti? Sudah siapkah dengan amal yang terkumpul saat ini?
Bila belum, ayo bersegera menunaikan perintah Alloh dan hiasi dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Persempitlah jalan syetan mengganggu diri kita dengan berbuat sekehendak yang menciptakan manusia, yakni Alloh. Jangan sampai, diri kita menyesal dengan sedikitnya ibadah dan amal kebaikan seraya berkata: “Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.” [Qs. Al Fajr: 24]
wallaahua'lam bishshawwab
masyaallah..saya baru tahu lho..
[tulisan ini diambil dari tulisan seorang sahabat]
--
Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Bocah angon-bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro...
Dodot iro-dodot iro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo
Ayo bangun (dari tidur), tanam-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau terlihat bagaikan pengantin baru
Wahai penggembala, ambillah buah blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang telah koyak sisihkanlah
Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung sedang terang bulan, mumpung sedang banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
---
Saudaraku,
Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Ayo bangun (dari tidur), tanam-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau terlihat bagaikan pengantin baru
Hijau adalah warna perlambang agama Islam yang saat itu kemunculannya bagaikan pengantin baru dan sangat menarik hati. Hijau juga berarti pertumbuhan dan kemudaan.
Bocah angon-bocah angon
Wahai penggembala
Sya'ir ini ditujukan kepada kita, manusia. Penggambaran di sana diwakili oleh bocah angon (penggembala) . Mengapa penggembala? Mereka menggembalakan binatang ternak (yang umumnya bukan milik sendiri, kepunyaan majikannya) dari pagi sampai sore. Ya, waktu yang hanya sebentar tak sampai larut malam. Mereka menjaga benar milik majikannya, jangan sampai hilang atau berkurang.
Begitu pula kita, hidup di dunia ini hanya sebentar dan ibarat mampir bersinggah untuk sebuah perjalanan panjang ke alam akhirat sebagaimana Rasulullah telah sabdakan: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” [HR. Bukhari, shahih]. Yang kita lakukan di dunia ini hanyalah mencari bekal untuk hidup di masa yang kekal nanti. Laksana penggembala, alangkah baiknya bila kita menjaga hak-hak pemilik kita (yakni Alloh Subhaanahu wa ta'ala) dengan sebaik-baiknya. Bila mereka (penggembala) dengan matanya mengawasi tindak tanduk binatang gembalaan agar tidak hilang, tidak makan rumput yang bukan hak miliknya; demikian juga sebaiknya kita. Hendaknya kita berhati-hati dari segala yang dilarang Alloh sehingga tak terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan.
“Sesungguhnya perkara yang halal telah jelas, dan perkara yang haram pun telah jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang meragukan, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa menjaga dirinya dari perkara yang syubhat, maka ia telah menjaga keselamatan agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti ia telah terjerumus dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat daerah terlarang sehingga hewan-hewan itu nyaris merumput di dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja memilliki daerah terlarang. Ketahuilah, bahwa daerah terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. [HR. Bukhari dan Muslim, shahih]
penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
ambillah buah blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah
Manusia diminta mengambil buah blimbing. Bila kita perhatikan, buah blimbing umumnya memiliki sisi buah sebanyak lima. Lima menandakan rukun Islam (syahadat, sholat, zakat, shaum (puasa), dan haji). Meskipun licin, terasa berat untuk melaksanakan rukun Islam tersebut tetaplah jalani dengan keikhlasan dan kesungguhan.
kanggo mbasuh dodot iro
untuk mencuci pakaian
Air perasan blimbing jaman dahulu biasa digunakan ibu-ibu untuk mencuci pakaian yang kotornya berlebihan. Dalam ilmu kimia, kita mengetahui bahwa blimbing mengandung asam. Asam adalah pelarut yang baik untuk menghilangkan kotoran (subhaanaLlah, sebuah kearifan lokal yang cerdas).
Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa. Bagi masyarakat Jawa, agama ibarat pakaian atau perhiasan.
Bila direnungkan lebih dalam, iman adalah tubuh manusia sendiri. Tubuh akan terlindungi manakala ada pakaian yang menyelimuti. Pakaian iman yang dimaksud adalah ketakwaan. “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang baik” [QS.An Nisa' :26]. Ketakwaan lah yang menghantarkan manusia ikhlas mengerjakan yang diperintah Alloh sekaligus berusaha meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh-Nya. Selain itu, kita juga perlu berhias diri dengan akhlak dan kepribadian yang bagus (Islami) sehingga sempurnalah tubuh ini.
Dodot iro-dodot iro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Pakaian-pakaian yang telah koyak sisihkanlah
Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
Bila akhlak kita belum sempurna, sholat kita masih kurang khusyu', maka cukupkanlah dengan melakukan hal-hal yang sunah. Kita perlu menjahit (memperbaiki) akhlak, mendirikan sholat sunnah untuk menambal kekhusyuan sholat fardhu. Dalam ber-Islam, hendaknya kita menyeluruh. Jika ada yang belum dilaksanakan, usahakan untuk ditunaikan. Menambal (menjahit) dengan amal-amal shalih (shodaqoh, infak), maupun membenahi diri dengan ilmu-ilmu dinul Islam lurus.
Semua yang diuraikan di atas, merupakan bekal untuk sebo (menghadap) saat kematian menjemput (sore).
Sungguh, tiadalah yang kita siapkan, pertaruhkan, dan perjuangkan di dunia ini selain menjadi bekal untuk menghadap Ilahi Robbi. Bila kita kembali dengan bekal sedikit, niscaya kerugian yang akan didapat. Lalu, dipenghujung tulisan ini mari renungkan keberadaan kita, diri kita, dan amal-amal kita. Sudah cukupkah sebagai bekal menghadap-Nya nanti? Sudah siapkah dengan amal yang terkumpul saat ini?
Bila belum, ayo bersegera menunaikan perintah Alloh dan hiasi dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Persempitlah jalan syetan mengganggu diri kita dengan berbuat sekehendak yang menciptakan manusia, yakni Alloh. Jangan sampai, diri kita menyesal dengan sedikitnya ibadah dan amal kebaikan seraya berkata: “Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.” [Qs. Al Fajr: 24]
wallaahua'lam bishshawwab
episode mimpi-2
Agustus 2006. Institut Pertanian Bogor. Di sanalah episode kembali bermula. Babak lain dalam pentas kehidupanku. Belum juga kukenal jauh amal jama’i, qiyadah dan jundi, apalagi intima’ jama’i. Sebelum para perantara pemberi amanah itu datang mengampiri, kutemukan kembali dunia itu.
Bimbingan Remaja dan Anak-Anak LDK DKM Al-Hurriyyah. Ke sanalah langkah kaki berjalan. Wawancara. Diterima magang. Menyepakati surat perjanjian. Ahad tak pulang? Bismillah…tawakal saja.
Rabbii…anak-anak ini sangat banyak dibanding waktu itu…!
Biru, bi’ah, outbond, rihlah, dauroh, pesantren kilat, farming, fun cooking, Islamic Youth Camp…
Setahun…dua tahun…tiga tahun…
Apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Aku bukan pembina yang rajin. Ahadku tidak selalu berada di sana. Surat peringatan pernah terlayangkan untukku. Adik-adik kerap bertanya padaku, “Ke mana aja, Mbak…? Koq baru keliatan lagi…?” Ingin menangis rasanya.
“Beruntunglah teman-teman karena masih memiliki pilihan. Banyak orang tidak tahu apa yang harus dikerjakannya, sementara teman-teman pusing memilih agenda-agenda amal sholih yang harus dihadiri. Dan kalian adalah pejuang tangguh! Mengorbankan segala sesuatunya untuk berada di sini setiap pekan…”
Ah…aku tidak setangguh itu, Kak…Bagaimana aku harus memilih datang pada agenda tarbawi dan datang ke aula Al-Hurriyyah, yang keduanya sama-sama hanya sepekan sekali…Bagaimana menahan diri untuk tidak mengikuti seminar-seminar menggiurkan dengan segala fasilitasnya…Bagaimana mengomunikasikan pada ibunda saat rindu memuncak namun hanya dapat tersalurkan lewat suara pada alat komunikasi saja…
Tapi inilah pilihan. Secara sadar. Ada konsekuensi. Ada resiko. Dan tarbiyah dari-Nya mengalir deras dalam setiap pilihan. Hulu ke hilir...
Bimbingan Remaja dan Anak-Anak LDK DKM Al-Hurriyyah. Ke sanalah langkah kaki berjalan. Wawancara. Diterima magang. Menyepakati surat perjanjian. Ahad tak pulang? Bismillah…tawakal saja.
Rabbii…anak-anak ini sangat banyak dibanding waktu itu…!
Biru, bi’ah, outbond, rihlah, dauroh, pesantren kilat, farming, fun cooking, Islamic Youth Camp…
Setahun…dua tahun…tiga tahun…
Apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Aku bukan pembina yang rajin. Ahadku tidak selalu berada di sana. Surat peringatan pernah terlayangkan untukku. Adik-adik kerap bertanya padaku, “Ke mana aja, Mbak…? Koq baru keliatan lagi…?” Ingin menangis rasanya.
“Beruntunglah teman-teman karena masih memiliki pilihan. Banyak orang tidak tahu apa yang harus dikerjakannya, sementara teman-teman pusing memilih agenda-agenda amal sholih yang harus dihadiri. Dan kalian adalah pejuang tangguh! Mengorbankan segala sesuatunya untuk berada di sini setiap pekan…”
Ah…aku tidak setangguh itu, Kak…Bagaimana aku harus memilih datang pada agenda tarbawi dan datang ke aula Al-Hurriyyah, yang keduanya sama-sama hanya sepekan sekali…Bagaimana menahan diri untuk tidak mengikuti seminar-seminar menggiurkan dengan segala fasilitasnya…Bagaimana mengomunikasikan pada ibunda saat rindu memuncak namun hanya dapat tersalurkan lewat suara pada alat komunikasi saja…
Tapi inilah pilihan. Secara sadar. Ada konsekuensi. Ada resiko. Dan tarbiyah dari-Nya mengalir deras dalam setiap pilihan. Hulu ke hilir...
episode mimpi-1
Dari mana harus memulai mimpi itu…meletakkan batu pertama di pundak…akankah menjadi bagian dari perjuangan yang sarat akan pengorbanan itu… -al akh-
Bermula dari kepindahan seorang tetangga depan rumah. Penawaran akan sebuah tugas menggantikan perannya sebagai guru TPA. Tak butuh menit-menit panjang untuk mengangguk setuju. Kalimat “Ya, saya bersedia.” terlontar segera. Dan jadilah hari-hari senja dipenuhi oleh suara, tawa, tangis, tingkah, dan polah bocah-bocah berbagai usia.
Tak banyak ilmu yang dimiliki saat itu. Hanya bermodal a-ba-ta-tsa serta dasar-dasar tajwid semata. Jangankan psikologi anak, microteaching saja buta. Tapi apa mau dikata. Rasakan sendiri cinta yang telah disemai! Dari tangis dan tawa sang anak hingga tangis dan tawa sang kakak memenuhi setiap sudut petak rumah sederhana selama kurang lebih 3 kali lamanya bumi berevolusi.
Tak lupa tugasku setiap hari
Sholat yang wajib ada lima waktu
Shubuh, zhuhur, ashar, maghrib dan isya
Tak mungkin aku lupa slama-lamanya
Aku anak muslim anak didik yang sholeh
Ikhlas menerima didikan bertuhan
Budi luhur, sopan, anak didik yang sholeh
Bakti pada Allah dan ibu bapakku…
Apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Adakah bakti pada Allah, Rasul, dan ibu bapak terpatri di hati mereka? Al-Qur’an sempurna sebagai panduan mereka? Berbuat baik pada saudara dan teman-teman menjadi keseharian mereka?
Ra’sun kepala, sya’run rambut, jabhatun dahi, hajibun alis, ‘ainun mata…
Lembar-lembar ribuan yang orang tua mereka keluarkan terganti sudah dengan buku-buku cerita dan kisah, film berwarna, serta buku dan pena. Ah, apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Kosakata arab sederhana pun belum tuntas tersampaikan. Shirah nabi, shahabat, thabi’in, dan thabi’at belum selesai dikisahkan.
“Teteeehhhh…!!!”
Malam itu mereka berlari menghampiri siswi SMA yang masih berjalan di ujung gang, masih lengkap dengan seragam putih-abu nya dan ransel di gendongannya. Tangan-tangan kecil itu berebut mencium tangannya. Mereka tak pernah tahu, sejumput demi sejumput harapan tertanam di hati gadis itu. Harapan akan sebuah generasi yang mencintai-Nya dan Ia mencintai mereka.
Apa yang bisa aku lakukan, ketika episode berlanjut dan drama kehidupan selama tiga tahun itu harus ditinggalkan.
“Teteh ke mana, Bu?”
“Teteh lagi sekolah…di Bogor.”
“Jauh amat sekolahnya, Bu…”
“Iya…”
Senja itu masih ramai. Dalam kelelahannya, Ibu menggantikan posisiku.
“Diah pinter…ngajinya udah mau Al-Qur’an…Indri juga makin lancar baca Al-Qur’an nya. Kalo Jaya masih suka nggak mau denger kalo Ibu bilangin…”
Bagaimana bicaranya, Bu? Akhlaknya? Shalatnya?
“Jaya kabur…habis dimarahin di rumahnya setelah ketauan nonton film gak bener. Katanya sih ke tempat ibunya di Pelabuhan Ratu. Tapi sampe sekarang belum ketemu…”
Rabbana…apa dayaku akan hal itu…? Anak itu memang berbeda sejak semula. Usianya melebihi anak lainnya. Akhlaknya membuat pusing kepala. Khas anak yang miskin kasih sayang orang tua. Tinggal bersama saudara, sementara ibu pergi bersama adik-adiknya. Ayah, meninggal dunia.
Suatu hari Ibu berkata padanya, “Jay, di surga nanti, Rasulullah dan anak yatim jaraknya seperti telunjuk dan jari tengah ini…Jaya harus jadi anak sholeh kalau mau seperti itu…” Dan anak itu mengangguk. Tangan ini terulur membelai kepalanya.
Rabbana…kutinggalkan ia sebelum kokoh jiwanya…
Ampuni hamba, Rabb…
Bogor, 4 September 2009/ 14 Ramadhan 1430 H
Bermula dari kepindahan seorang tetangga depan rumah. Penawaran akan sebuah tugas menggantikan perannya sebagai guru TPA. Tak butuh menit-menit panjang untuk mengangguk setuju. Kalimat “Ya, saya bersedia.” terlontar segera. Dan jadilah hari-hari senja dipenuhi oleh suara, tawa, tangis, tingkah, dan polah bocah-bocah berbagai usia.
Tak banyak ilmu yang dimiliki saat itu. Hanya bermodal a-ba-ta-tsa serta dasar-dasar tajwid semata. Jangankan psikologi anak, microteaching saja buta. Tapi apa mau dikata. Rasakan sendiri cinta yang telah disemai! Dari tangis dan tawa sang anak hingga tangis dan tawa sang kakak memenuhi setiap sudut petak rumah sederhana selama kurang lebih 3 kali lamanya bumi berevolusi.
Tak lupa tugasku setiap hari
Sholat yang wajib ada lima waktu
Shubuh, zhuhur, ashar, maghrib dan isya
Tak mungkin aku lupa slama-lamanya
Aku anak muslim anak didik yang sholeh
Ikhlas menerima didikan bertuhan
Budi luhur, sopan, anak didik yang sholeh
Bakti pada Allah dan ibu bapakku…
Apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Adakah bakti pada Allah, Rasul, dan ibu bapak terpatri di hati mereka? Al-Qur’an sempurna sebagai panduan mereka? Berbuat baik pada saudara dan teman-teman menjadi keseharian mereka?
Ra’sun kepala, sya’run rambut, jabhatun dahi, hajibun alis, ‘ainun mata…
Lembar-lembar ribuan yang orang tua mereka keluarkan terganti sudah dengan buku-buku cerita dan kisah, film berwarna, serta buku dan pena. Ah, apa yang mereka dapatkan selama itu dariku? Kosakata arab sederhana pun belum tuntas tersampaikan. Shirah nabi, shahabat, thabi’in, dan thabi’at belum selesai dikisahkan.
“Teteeehhhh…!!!”
Malam itu mereka berlari menghampiri siswi SMA yang masih berjalan di ujung gang, masih lengkap dengan seragam putih-abu nya dan ransel di gendongannya. Tangan-tangan kecil itu berebut mencium tangannya. Mereka tak pernah tahu, sejumput demi sejumput harapan tertanam di hati gadis itu. Harapan akan sebuah generasi yang mencintai-Nya dan Ia mencintai mereka.
Apa yang bisa aku lakukan, ketika episode berlanjut dan drama kehidupan selama tiga tahun itu harus ditinggalkan.
“Teteh ke mana, Bu?”
“Teteh lagi sekolah…di Bogor.”
“Jauh amat sekolahnya, Bu…”
“Iya…”
Senja itu masih ramai. Dalam kelelahannya, Ibu menggantikan posisiku.
“Diah pinter…ngajinya udah mau Al-Qur’an…Indri juga makin lancar baca Al-Qur’an nya. Kalo Jaya masih suka nggak mau denger kalo Ibu bilangin…”
Bagaimana bicaranya, Bu? Akhlaknya? Shalatnya?
“Jaya kabur…habis dimarahin di rumahnya setelah ketauan nonton film gak bener. Katanya sih ke tempat ibunya di Pelabuhan Ratu. Tapi sampe sekarang belum ketemu…”
Rabbana…apa dayaku akan hal itu…? Anak itu memang berbeda sejak semula. Usianya melebihi anak lainnya. Akhlaknya membuat pusing kepala. Khas anak yang miskin kasih sayang orang tua. Tinggal bersama saudara, sementara ibu pergi bersama adik-adiknya. Ayah, meninggal dunia.
Suatu hari Ibu berkata padanya, “Jay, di surga nanti, Rasulullah dan anak yatim jaraknya seperti telunjuk dan jari tengah ini…Jaya harus jadi anak sholeh kalau mau seperti itu…” Dan anak itu mengangguk. Tangan ini terulur membelai kepalanya.
Rabbana…kutinggalkan ia sebelum kokoh jiwanya…
Ampuni hamba, Rabb…
Bogor, 4 September 2009/ 14 Ramadhan 1430 H
Langganan:
Postingan (Atom)
